An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 38 [QS. 16:38]

وَ اَقۡسَمُوۡا بِاللّٰہِ جَہۡدَ اَیۡمَانِہِمۡ ۙ لَا یَبۡعَثُ اللّٰہُ مَنۡ یَّمُوۡتُ ؕ بَلٰی وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا وَّ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ
Wa-aqsamuu billahi jahda aimaanihim laa yab’atsullahu man yamuutu bala wa’dan ‘alaihi haqqan walakinna aktsarannaasi laa ya’lamuun(a);

Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh:
“Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”.
(Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui,
―QS. 16:38
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Manusia dibangkitkan dari kubur ▪ Keluasan ilmu Allah
16:38, 16 38, 16-38, An Nahl 38, AnNahl 38, An-Nahl 38

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 38

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 38. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan keingkaran mereka yang lain, yaitu keingkaran mereka kepada hari berbangkit.
Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa mereka itu bersumpah dengan nama Allah dengan sikap yang bersungguh-sungguh bahwa mereka itu tetap berkeras hati tidak mau percaya akan terjadinya hari berbangkit, yaitu adanya hari berbangkit di akhirat setelah kehidupan dunia ini.
Pembangkangan mereka terhadap hari berbangkit adalah akibat selanjutnya dari keingkaran mereka terhadap seruan Rasul.
Mereka berpendapat bahwa kematian itu tiada lain hanyalah kehancuran dan kemusnahan, maka bagaimana mungkin terjadinya kebangkitan setelah badan itu musnah.
Mengembalikan barang yang musnah kepada bentuknya semula adalah mustahil.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala membatalkan keyakinan mereka yang salah itu dan menegaskan bahwa yang benar tidaklah demikian.
Tetapi keyakinan yang benar ialah bahwa Allah akan membangkitkan seluruh manusia yang telah mati sebagai suatu janji yang telah ditetapkan, dan tidak boleh tidak pasti terjadi.
Akan tetapi karena kebanyakan dari mereka itu tidak mengerti sifat-sifat Allah itu mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas maka mereka tidak mengetahui janji Allah tentang terjadinya hari berbangkit harus terjadi dan pada saat itu semua makhluk yang telah mengalami kemusnahan dan kehancuran akan dibangkitkan kembali dari alam kuburnya dan akan dihidupkan kembali sebagai makhluk yang harus bertanggung jawab atas amal perbuatan diri mereka di dunia.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Selain menyekutukan Allah, orang-orang musyrik pun mengingkari hari kiamat.
Mereka bersumpah sepenuh hati, dengan mengatasnamakan Allah, bahwa Allah tidak akan membangkitkan seseorang yang telah mati.
Sebenarnya mereka telah berbohong dalam sumpah itu.
Allah akan membangkitkan mereka semuanya.
Sebab Dia telah berjanji pada diri-Nya untuk itu.
Dan sekali-kali Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.
Akan tetapi kebanyakan orang-orang kafir tidak mengetahui hikmah Allah dalam penciptaan alam ini.
Allah tidak menciptakan itu semua dengan sia-sia.
Kebanyakan mereka juga tidak mengetahui perhitungan dan pembalasan-Nya di akhirat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh) artinya mereka bersumpah dengan sungguh-sungguh (“Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.”) maka Allah berfirman menyanggah mereka (Tidak demikian, bahkan) Allah pasti akan membangkitkan mereka (sebagai suatu janji yang benar dari Allah) lafal wa`dan dan haqqan kedua-duanya adalah bentuk mashdar yang fungsinya mengukuhkan makna fi`ilnya dan dinashabkan oleh fi`ilnya yang keberadaannya diperkirakan, artinya Allah sungguh telah menjanjikan hal tersebut dan Allah akan membuktikannya dengan benar (akan tetapi kebanyakan manusia) penduduk Mekah (tiada mengetahui) hal tersebut.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang menyekutukan Allah itu bersumpah dengan sumpah yang berat (sungguh-sungguh) bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati setelah tubuhnya hancur dan bercerai berai.
Bahkan, Allah pasti akan membangkitkan mereka sebagai janji yang benar dari-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui kekuasaan Allah untuk membangkitkan, lalu mereka mengingkarinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman menceritakan perihal orang-orang musyrik, mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh, yakni dengan sumpah yang berat, bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang yang telah mati.
Dengan kata lain, mereka menganggap hal tersebut mustahil, mereka mendustakan para rasul yang menyampaikan berita itu, dan mereka bersumpah menentang hal itu.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, mendustakan mereka dan membantahnya:

(Tidak demikian) bahkan.

Yakni tidaklah seperti yang mereka duga, bahkan kebangkitan itu pasti terjadi.

sebagai suatu janji yang benar dari Allah.
(An Nahl:38)

Yaitu sebagai suatu hal yang pasti terjadi.

…tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Karena ketidaktahuan mereka, maka mereka menentang rasul-rasul dan terjerumus ke dalam kekafiran.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nahl (16) Ayat 38

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul ‘Aliyah bahwa ada seorang Mukmin yang berhutang kepada seorang Musyrik.
Ketika ditagih, di antara ucapan orang Mukmin itu ialah mendoakan sesuatu bagi kehidupan si musyrik di akhirat.
Si musyrik berkata: “Apakah engkau beranggapan bahwa engkau akan dibangkitkan sesudah mati?
Demi Allah, aku yakin bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang yang sudah mati.” Ayat ini (an-Nahl: 38) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai bantahan atas ucapan si musyrik tadi.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

An Nahl (16) ayat 38 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
An Nahl (16) ayat 38 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
An Nahl (16) ayat 38 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 128 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.4
Ratingmu: 4.4 (14 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/16-38









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta