Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nahl

An Nahl (Lebah) surah 16 ayat 36


وَ لَقَدۡ بَعَثۡنَا فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ رَّسُوۡلًا اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ وَ اجۡتَنِبُوا الطَّاغُوۡتَ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ ہَدَی اللّٰہُ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَیۡہِ الضَّلٰلَۃُ ؕ فَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الۡمُکَذِّبِیۡنَ
Walaqad ba’atsnaa fii kulli ummatin rasuulaa anii’buduullaha waajtanibuuth-thaaghuuta faminhum man hadallahu waminhum man haqqat ‘alaihidh-dhalaalatu fasiiruu fiil ardhi faanzhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul mukadz-dzibiin(a);

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
“Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,
maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
―QS. 16:36
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Kebenaran dan hakikat takdir
16:36, 16 36, 16-36, An Nahl 36, AnNahl 36, An-Nahl 36
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 36. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian daripada itu Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa para Rasul itu diutus sesuai dengan Sunatullah, yang berlaku pada umat sebelumnya.
Mereka itu adalah pembimbing manusia ke jalan yang lurus.
Bimbingan Rasul-rasul itu diterima oleh orang-orang yang dikehendaki oleh Allah dan menyampaikan mereka kepada kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat, akan tetapi orang-orang yang bergelimang dalam kemusyrikan dan jiwanya dikotori oleh noda noda kemaksiatan tidaklah mau menerima bimbingan Rasul itu.

Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa Dia telah mengutus beberapa ulusan kepada tiap-tiap umat yang terdahulu, seperti halnya Dia mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada umat manusia seluruhnya.
Oleh sebab itu manusia hendaklah mengikuti seruannya, yaitu beribadat hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala yang tidak mempunyai serikat dan larangan mengingkari seruannya, yaitu tidak boleh mengikuti tipu daya setan yang selalu-menghalang-halangi manusia mengikuti jalan yang benar.
Setan-setan itu selalu mencari-cari kesempatan untuk menyesatkan manusia.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.
(Q.S Al Anbiya': 25)

Dan firman Nya lagi:

Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukun Tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?".
(Q.S Az Zukhruf: 45)

Dari uraian tersebut dapatlah dipahami bahwa secara yuridis Allah tidak menghendaki hamba Nya menjadi kafir, karena Allah subhanahu wa ta'ala telah melarang mereka itu mengingkari Allah.
Larangan itu telah disampaikan melalui Rasul-Nya.
Akan tetapi apabila ditinjau dari tabiatnya, maka di antara hamba Nya mungkin saja mengingkari Allah, karena manusia telah diberi pikiran dan diberi kebebasan memilih sesuai dengan kehendaknya.
Maka takdir Allah berlaku menurut pilihan mereka itu.
Maka apabila ada di antara hamba Nya yang tetap bergelimang dalam kekafiran dan dimasukkan ke neraka Jahanam bersama sama dengan setan-setan mereka, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah, karena Allah telah cukup memberikan akal pikiran serta memberikan pula kebebasan untuk memilih dan menentukan sikap jalan mana yang harus mereka tempuh.
Sedang Allah sendiri tidak menghendaki apabila hamba Nya itu menjadi orang-orang yang kafir.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa Allah telah memperingatkan sikap hamba Nya yang mendustakan kebenaran Rasul.
Dengan mengancam mereka akan memberikan hukuman di dunia apabila setelah datang peringatan dari Rasul, mereka tidak mau mengubah pendiriannya.
Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa setelah mereka kedatangan Rasul ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan diberi taufik karena mereka telah mempercayai Rasul, menerima petunjuk-petunjuk yang dibawanya serta suka mengamalkan petunjuk-petunjuk itu.
Mereka inilah orang-orang yang berbahagia dan selamat dari siksaan Allah.
Akan tetapi di antara mereka ada pula yang benar-benar menyimpang tidak mau mengikuti petunjuk Rasul Nya, dan mengikuti tipu daya setan-setan, maka Allah membinasakan mereka dengan hukuman Nya yang sangat pedih.
Dan Allah menurunkan pula berbagai macam bencana yang tidak dapat mereka hindari lagi.

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada mereka agar berkelana di muka bumi serta menyaksikan negeri-negeri yang didiami oleh orang-orang zalim.
Kemudian mereka disuruh melihat bagaimana akhir kehidupan orang-orang yang mendustakan agama Allah.
Di dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh manusia agar mengadakan penelitian terhadap sejarah bangsa yang lain dan membandingkan di antara bangsa-bangsa yang menaati Rasul dengan bangsa-bangsa yang mengingkari seruan Rasul agar mereka dapat membuktikan bagaimana akibat dari bangsa-bangsa itu.
Hal ini tiada lain hanyalah karena Allah menginginkan agar mereka itu mau mengikuti seruan Rasul dan melaksanakan seruannya.

An Nahl (16) ayat 36 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nahl (16) ayat 36 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nahl (16) ayat 36 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang mengatakan kepada umatnya, "Sembahlah Allah semata dan jauhilah seluruh tiran yang merusak." Rasul tersebut telah menyampaikan risalah dan membimbing mereka.
Lalu segolongan dari mereka ada yang sudi mendengar bimbingan itu dan menerimanya.
Maka Allah memberinya petunjuk berupa kesiapan yang baik untuk mengikuti jalan yang lurus.
Sementara segolongan lain dari mereka berpaling dari kebenaran sehingga berjalan pada jalan yang tidak benar.
Maka Allah pun menurunkan siksa-Nya kepada golongan tersebut.
Jika kalian meragukan hal ini, hai orang-orang musyrik Mekah, maka berjalanlah di muka bumi yang dekat dari kalian.
Lihat dan perhatikanlah bagaimana azab Allah menimpa orang-orang yang mendustakan para rasul seperti kaum 'Ad, Tsamud dan kaum Nabi Luth, dan bagaimana kesudahan nasib mereka yang binasa dan merugi.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat) seperti Aku mengutus kamu kepada mereka (untuk) artinya untuk menyerukan ('Sembahlah Allah) esakanlah Dia (dan jauhilah thaghut,') berhala-berhala itu janganlah kalian sembah (maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah) lalu ia beriman (dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti) telah ditentukan (kesesatan baginya) menurut ilmu Allah, sehingga ia tidak beriman.
(Maka berjalanlah kalian) hai orang-orang kafir Mekah (di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan) rasul-rasul mereka, yakni kebinasaan yang akan mereka alami nanti.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat yang telah lalu seorang Rasul, yang memerintahkan kepada mereka supaya menyembah Allah dan menaati-Nya semata, serta meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya berupa setan, berhala, orang yang sudah mati, dan selainnya yang dijadikan sebagai penolong selain Allah.
Maka, di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah lalu mengikuti para Rasul, dan ada pula penentang yang mengikuti jalan kesesatan, lalu kesesatan menjadi kepastian baginya dan Allah tidak memberi taufik kepadanya.
Karena itu, berjalanlah kalian di muka bumi, dan lihatlah dengan mata kalian bagaimana akhir kesudahan dari orang-orang yang mendustakan itu dan kebinasaan apakah yang telah menimpa mereka, agar kalian dapat mengambil pelajaran darinya??

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Tagut.

Allah subhanahu wa ta'ala.
terus-menerus mengutus rasul-rasul-Nya kepada manusia dengan membawa risalah (tauhid) itu sejak terjadinya kemusyrikan di kalangan Bani Adam, yaitu sejak kaumnya Nabi Nuh, Allah mengutus Nabi Nuh kepada mereka.
Nuh 'alaihis salam adalah.rasul yang mula-mula diutus oleh Allah kepada penduduk bumi, lalu diakhiri oleh Nabi Muhammad ﷺ yang seruannya mencakup semua lapisan manusia dan jin, di belahan timur dan belahan barat bumi

Semua rasul Allah menyerukan hal yang sama, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
melalui firman-Nya dalam ayat yang lain:

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku.” (Al Anbiyaa:25)

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu, "Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk di­sembah selain Allah Yang Maha Pemurah?” (Az Zukhruf:45)

Dan dalam ayat berikut ini Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Tagut itu."

Maka sesudah adanya keterangan ini, bagaimanakah seorang musyrik dapat diperkenankan mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia.

Kehendak Allah secara syar'i tentang mereka tidak ada, karena Allah subhanahu wa ta'ala.
telah melarang mereka berbuat hal itu melalui lisan rasul-rasul-Nya.
Adapun mengenai kehendak Allah yang bersifat kauni (kenyataan) yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut secara takdir, maka tidak ada hujah (alasan) bagi mereka dalam hal ini.
Karena Allah telah menciptakan neraka dan para penduduknya dari kalangan setan dan orang-orang kafir.
Dia tidak rela hamba-hamba-Nya berlaku kafir.
Dalam menentukan hal tersebut Allah mempunyai alasan yang kuat dan hikmah yang bijak.

Kemudian sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala.
telah memberitakan bahwa Dia mengingkari parbuatan mereka dengan menimpakan siksaan kepada mereka di dunia sesudah para rasul memberikan peringatan kepada mereka.
Untuk itulah Allah subhanahu wa ta'ala.
menyebutkan dalam firman-Nya:

Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Dengan kata lain, tanyakanlah nasib yang dialami oleh orang-orang yang mendustakan perkara yang hak dan menentang rasul-rasul Allah, bagaimanakah:

Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.
(Muhammad:10)

Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman pula:

Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya).
Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.
(Al Mulk:18)

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
memberitahukan kepada Rasul-Nya bahwa keinginannya yang mendambakan agar mereka (orang-orang kafir) mendapat petunjuk tidak ada manfaatnya bagi mereka bilamana Allah telah menghendaki kesesatan mereka.
Sama halnya dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah.
(Al Maidah:41)

Nuh 'alaihis salam berkata kepada kaumnya yang disitir oleh firman-Nya:

Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian, sekiranya Allah hendak menye­satkan kalian.
(Huud:34)

Kata Pilihan Dalam Surah An Nahl (16) Ayat 36

THAAGHUT
لطَّٰغُوت

Lafaz ini boleh digunakan bagi mufrad dan jamak, mudzakkar dan mu'annats. Asal lafaz ini sudah dijelaskan sebelum ini dan di dalam Al Qur'an ia mengandung dua makna yaitu Al hissi, yaitu thughyaanal ma' yang berarti banjir; dan Al maknawi yaitu tughyaanal thughaah yang berarti orang kafir.

Ia mengandung makna setiap sembahan selain Allah, syaitan, ahli sihir atau seseorang yang menjadi kepala dalam kesesatan.

Lafaz ini disebut delapan kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 256, 257;
-An Nisaa (4), ayat 51, 60, 76;
-Al Maa'idah (5), ayat 60;
-An Nahl (16), ayat 36;
-Az Zumar (39), ayat 17.

Al Jauhari berkata,
"Ia adalah seorang kahin dan syaitan." Al Isfahani berkata,
thaaghuut ialah ungkapan bagi setiap yang disembah selain Allah."

Mr. Lane membuat kajian dalam Layal Al 'Arab atau Kehidupan Malam Orang Arab (Arabian Nights), nama ini digunakan untuk mengungkapkan kejahatan, terutamanya berhala dan pujaan yang terlampau disanjung."

Dalam Ensiklopedia Islam dijelaskan thaaghuut ialah syaitan, atau apa saja yang disembah selain Allah. Perkataan ini diletakkan bersama perkataan al jibt yang berarti objek yang disembah selain Allah, atau syaitan yang menghasut manusia supaya melakukan kejahatan.

Seorang sarjana Muslim zaman moden, Abu Al A'laa Al Mawdudi, menerusi Tafsir Al Qur'an menyatakan thaaghuut merupakan makhluk yang melampaui batas dan menganggap dirinya sebagai tuan atau tuhan; makhluk begini bukan saja menentang kekuasaan Allah, tetapi juga menggunakan kekuasaan dirinya ke atas orang lain tanpa menghiraukan kekuasaan Allah.

Dalam ajaran Syi'ah, thaaghuut merujuk kepada mereka yang menentang imam yang sah, seperti Husain 'Ali Muntaziri, dan mereka ini biasanya ditujukan kepada pihak berkuasa Sunni.

Cendekiawan Syi'ah moden, Muhammad Husain Tabataba'i misalnya, dalam tafsir Al Qur'an hasil tulisan beliau yang diberi judul Mizan Al Haqq, bersama definisi biasa bagi berhala, syaitan dan jin, beliau mentakritkan thaaghuut sebagai pemimpin yang menyesatkan manusia dan dipatuhi walaupun Allah murka pada mereka.

Di Iran, perkataan ini banyak digunakan sewaktu dan setelah Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini menentang Shah Iran. Dalam fahaman Syi'ah siapa yang merampas hak imam digelar taghut.

Kesimpulannya, lafaz thaaghuut di dalam Al Qur'an berarti berhala, syaitan dan segala sesuatu yang membawa dan mengajak kepada kejahatan serta kekufuran.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:336-337

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah",
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni'matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur'anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur'an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra' ayat 82).

Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya ni'mat-ni'mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni'mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti'aadzah (a'Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da'wah dalam Islam.


Gambar Kutipan Surah An Nahl Ayat 36 *beta

Surah An Nahl Ayat 36



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nahl

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.8
Rating Pembaca: 4.2 (12 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ surat al nahl ayat 36 beserta kandungannya, qs annahl 36, Qs 16:36, q s al nahl ayat 36, qs:16:36 menjelaskan tentang apa, al quran 16 36, kandungan qs 16:36, asbabunnuzul surat annahl ayat 36, apakah qs an nahl ayat 36 termasuk ayat qasam jelaskan, tafsir qs an nahl ayat 36