QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 30 [QS. 16:30]

وَ قِیۡلَ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا مَاذَاۤ اَنۡزَلَ رَبُّکُمۡ ؕ قَالُوۡا خَیۡرًا ؕ لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا فِیۡ ہٰذِہِ الدُّنۡیَا حَسَنَۃٌ ؕ وَ لَدَارُ الۡاٰخِرَۃِ خَیۡرٌ ؕ وَ لَنِعۡمَ دَارُ الۡمُتَّقِیۡنَ
Waqiila lil-ladziina-attaqau maadzaa anzala rabbukum qaaluuu khairal(n)-lil-ladziina ahsanuu fii hadzihiddunyaa hasanatun waladaaru-aakhirati khairun walani’ma daarul muttaqiin(a);

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa:
“Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?”
Mereka menjawab:
“(Allah telah menurunkan) kebaikan”.
Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik.
Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,
―QS. 16:30
Topik ▪ Surga ▪ Nama-nama surga ▪ Singkatnya umur dunia
16:30, 16 30, 16-30, An Nahl 30, AnNahl 30, An-Nahl 30

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 30

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 30. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan keadaan orang-orang mukminin apabila ditanya kepada mereka bagaimana kesannya terhadap apa yang diturunkan oleh Allah, maka orang-orang yang mematuhi ayat-ayat Allah itu akan memberikan jawaban bahwa ayat-ayat Allah yang diturunkan itu adalah kebaikan dan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba Nya yang menaati agamanya dan mempercayai Rasul Nya, serta mengamalkan bimbingan ayat itu di tengah tengah masyarakat, sehingga mereka akan menjadi hamba Allah yang berbuat kebaikan dan menerima kebahagiaan hidup.
Sedangkan mereka di akhirat akan mendapat pahala yang lebih baik lagi dari pahala yang mereka terima di dunia.

Di akhir ayat Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa kampung akhirat adalah lebih baik dan sebagai tempat yang sebaik-baiknya bagi orang-orang yang bertakwa.
Kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat itu kekal sedang kebahagiaan di dunia hanya sementara.
Kebahagiaan di akhirat memberikan kepuasan dalam arti sebenar-benarnya sedang kebahagiaan di dunia merupakan kebahagiaan yang membosankan dan terbatas.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai keadaan orang-orang Quraisy Mekah pada saat menerima penjelasan-penjelasan dari Nabi Muhammad tentang agama Islam dapatlah diikuti sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Hatim As Suddy: Orang-orang Quraisy berkumpul, merekapun berkata: “Sesungguhnya Muhammad itu seorang yang manis tutur katanya.
Apabila ada orang yang berbicara dengan dia hilanglah akalnya.
Maka perhatikanlah olehmu beberapa orang yang mulia di antara kamu, yang termasyhur kebangsawanan mereka dan suruhlah mereka menelusuri jalan-jalan di kota Mekah pada permulaan malam barang satu atau dua malam.
Maka barangsiapa datang mencari dia (Muhammad), cegahlah mereka darinya.
Kemudian ada orang-orang keluar di jalan-jalan, dan ketika datang seorang utusan untuk kaum Quraisy yang memperhatikan apa yang dikatakan Muhammad, utusan itu menyampaikan kepada mereka, salah seorang di antara mereka berkata: “Saya Polan bin Polan sambil memperkenalkan nasabnya dan berkata kepada utusan itu “Saya akan menyampaikan berita tentang Muhammad”.
Sebenarnya ia itu seorang lelaki pendusta yang tidak diikuti segala ucapannya kecuali orang-orang bodoh, budak-budak dan orang-orang miskin yang tidak punya apa-apa.
Adapun orang yang sudah lanjut usianya ddan orang-orang yang terkemuka di antara mereka tentu saja mereka menjauhkan dari padanya kemudian utusan itu kembali.
Maka inilah penjelasan tentang keadaan orang-orang musyrik yang menolak keterangan-keterangan yang datang dari Muhammad seperti tersebut dalam ayat 24.
Dan kemudian apabila utusan itu termasuk di antara orang yang diberi petunjuk oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka merekapun juga berkata kepadanya seperti itu pula.
Ia (salah seorang di antara kaum itu) berkata: “Utusan yang paling celaka bagi kaumku apabila aku datang setelah aku mencapai perjalanan satu hari tetapi belum juga aku bertemu dengan lelaki itu (Muhammad) dan belum pula memperhatikan apa yang telah ia katakan.
Kemudian ia datang kepada kaumku dengan membawa keterangan tentang utusan itu.
Kemudian utusan itu memasuki kota Mekah lalu ia menemui orang-orang mukmin dan menanyakan kepada mereka apa yang dikatakan Muhammad kemudian orang orang mukmin itu berkata: “Bahwa apa yang dikatakan Muhammad itu adalah kebaikan kemudian mereka menjelaskan kebaikan ini”.
(ayat 30).

Adapun kebahagiaan yang akan diterima oleh orang-orang mukminin di kampung akhirat, dijelaskan di dalam ayat yang lain sebagai berikut:

Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat.
Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 148)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dikatakan kepada orang-orang yang beriman dan menjaga diri dari perkataan, perbuatan dan keyakinan yang mendatangkan murka Allah, “Apa yang telah diturunkan Tuhan kalian kepada rasul-Nya?”
Mereka menjawab, “Tuhan telah menurunkan Al Quran kepadanya.
Di dalamnya terdapat kebaikan di dunia dan di akhirat bagi seluruh manusia.” Dengan begitu mereka termasuk orang-orang yang berbuat baik.
Allah akan mengaruniai orang-orang yang berbuat baik kehidupan yang baik di dunia dan ganjaran yang lebih baik di akhirat jika dibandingkan dengan yang telah mereka terima di dunia.
Sungguh, sebaik-baik tempat di akhirat adalah tempat orang-orang yang bertakwa.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa) yang memelihara diri dari kemusyrikan (“Apakah yang telah diturunkan oleh Rabb kalian?”
Mereka menjawab, “Kebaikan.” Orang-orang yang telah berbuat baik) karena beriman (di dunia ini mendapat pembalasan yang baik) yakni kehidupan yang baik.

(Dan sesungguhnya kampung akhirat) yakni surga (lebih baik) daripada kehidupan dunia berikut semua isinya.

Lalu Allah berfirman di dalam kampung akhirat itu.

(Dan sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa) adalah surga itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ketika ditanyakan kepada orang-orang beriman lagi takut kepada Allah :
Apakah yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad??
Mereka menjawab :
Allah telah menurunkan kebaikan dan petunjuk kepadanya.
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya di dunia ini dan mengajak para hamba Allah supaya beriman dan beramal shalih, mendapatkan anugerah yang besar berupa pertolongan di dunia dan keluasan rizki.
Sementara di negeri akhirat kelak, sungguh mereka mendapatkan kebaikan yang lebih besar daripada kebaikan yang mereka peroleh di dunia.
Sungguh sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang takut kepada Allah di dunia, lalu mereka takut terhadap siksa-Nya dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, ialah negeri akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Apa yang disebutkan dalam ayat-ayat ini menceritakan perihal orang-orang yang berbahagia, berbeda dengan apa yang diceritakan-Nya tentang orang-orang yang celaka.
Karena sesungguhnya orang-orang yang celaka itu ketika dikatakan kepada mereka:

Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?
(Q.S. Al-Hijr [15]: 24)

Mereka menjawab dengan jawaban yang menyimpang, “yaitu: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun yang berarti, sesungguhnya apa yang diturunkan­Nya hanyalah dongengan-dongengan orang-orang dahulu.” Sedangkan orang-orang yang berbahagia menjawab, “Allah telah menurunkan kebaikan,” yakni rahmat dan berkah bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya dan beriman kepada-Nya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan tentang janji-Nya kepada hamba-hamba-Nya melalui apa yang diturunkan-Nya melalui rasul-rasul-Nya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik, hingga akhir ayat.

Semisal dengan makna yang terkandung dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 97)

Dengan kata lain, barang siapa yang berbuat baik dalam dunia ini, pastilah Allah akan membalas amalnya dengan balasan yang lebih baik di dunia dan di akhirat.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan bahwa kehidupan di akhirat adalah lebih baik daripada kehidupan di dunia, karena balasan di akhirat jauh lebih sempurna daripada balasan di dunia, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik.
(Q.S. Al-Qashash [28]: 80), hingga akhir ayat.

Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.
(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 198)

Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
(Q.S. Al-A’la [87]: 17)

Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan.
(Q.S. Adh-Dhuhaaa [93]: 4)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menggambarkan tentang kampung akhirat.
Untuk itu Dia berfirman:

…dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa.


Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 30 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 30 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 30 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:30
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.8
Ratingmu: 4.4 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim