QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 28 [QS. 16:28]

الَّذِیۡنَ تَتَوَفّٰىہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ظَالِمِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ فَاَلۡقَوُا السَّلَمَ مَا کُنَّا نَعۡمَلُ مِنۡ سُوۡٓءٍ ؕ بَلٰۤی اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
Al-ladziina tatawaffaahumul malaa-ikatu zhaalimii anfusihim fa-alqawuussalama maa kunnaa na’malu min suu-in bala innallaha ‘aliimun bimaa kuntum ta’maluun(a);

(yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), “Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun”.
(Malaikat menjawab):
“Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”.
―QS. 16:28
Topik ▪ Malaikat ▪ Tugas-tugas malaikat ▪ Kekuasaan Allah
16:28, 16 28, 16-28, An Nahl 28, AnNahl 28, An-Nahl 28

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 28

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 28. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian pada hari itu Allah subhanahu wa ta’ala melukiskan keadaan orang-orang musyrikin pada akhir hayat mereka.
Yaitu pada saat malaikat maut telah merenggut nyawa mereka sedangkan mereka masih tetap dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri.
Mereka tidak dapat mengelakkan diri dari kematian terkecuali hanya menyerahkan diri kepada malaikat itu sedangkan dalam hati mereka sendiri telah mengingkari pencipta Alam Semesta, dan kesudahan dari ciptaan Nya itu.

Pada saat itu mereka telah menyampaikan atau membayangkan siksaan yang akan mereka terima karena keingkaran mereka kepada Allah Yang Maha Esa dan menganiaya diri mereka sendiri.
Pada ketika itu nurani merekalah yang berbicara, mereka menyerah dan mengakui kepada kebenarannya, seraya mengatakan kami tidaklah menyekutukan tuhan-tuhan yang lain kepada Allah Yang Maha Esa.
Tetapi pengakuan serupa itu telah terlambat, karena mereka pada saat keadaan segar bugar baik secara iktikad ataupun dart segi kenyataan, mereka telah benar-benar mendustakan keesaan Allah dan bergelimang dalam kebatilan, maka tidak benarlah apabila mereka mengharapkan kebahagiaan, karena mereka telah diberi akal yang dapat menilai baik dan buruk.
Mereka telah mengetahui betapa besarnya dosa mendustakan keesaan Allah dan mendustakan wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Itulah sebabnya maka hukuman yang pantas bagi mereka itu ialah menerima siksaan yang sesuai dengan amal perbuatan mereka.
Mereka tidak dapat lagi menutup nutupi kejahatan yang mereka lakukan, betapa juapun mahirnya mereka membuat muslihat karena sesungguhnya mereka sendiri telah menyadari dan mengakui terhadap kejahatan mereka itu dan karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Selidik terhadap apa yang mereka kerjakan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kenistaan itu diperuntukkan bagi orang-orang kafir yang mempertahankan kekafiran hingga datangnya malaikat pencabut nyawa, sementara mereka dalam keadaan menzalimi diri sendiri dengan melakukan kemusyirikan dan kejahatan.
Setelah lama membangkang, mereka menyerah karena mengetahui hakikat kejahatan mereka.
Karena terkejut, dengan berbohong mereka mengatakan, “Kami tidak pernah berbuat maksiat sedikit pun di dunia!” Lalu malaikat dan para nabi menjawab, “Tidak! Kalian bohong! Kalian telah melakukan kemaksiatan yang terburuk.
Allah mengetahui apa yang kalian perbuat di dunia, baik yang kecil maupun yang besar.
Keingkaran kalian tidaklah mendatangkan manfaat!”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Orang-orang yang dimatikan) dapat dibaca tatawaffaahum dan yatawaffaahum (oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri) karena melakukan kekufuran (lalu mereka menyerahkan diri) mereka tunduk dan berserah diri ketika maut menjelang mereka seraya berkata (“Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan suatu kejahatan pun.”) yaitu perbuatan musyrik.

Maka para malaikat berkata kepada mereka (“Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kalian kerjakan.”) oleh sebab itu Dia membalaskannya kepada diri kalian.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Yaitu orang-orang yang nyawa mereka dicabut malaikat dalam keadaan mereka menzhalimi diri mereka dengan kekafiran.
Mereka berserah diri terhadap putusan Allah, ketika mereka melihat kematian, dan mereka mengingkari sembahan-sembahan yang dulu mereka sembah selain Allah, serta mereka mengatakan :
Kami tidak melakukan sedikit pun kemaksiatan.
Dikatakan kepada mereka :
Kalian berdusta, sungguh kalian dulu melakukannya.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui semua perbuatan kalian, dan Dia akan membalas kalian atas perbuatan tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan keadaan orang-orang musyrik yang menganiaya diri mereka sendiri di saat mereka menghadapi kematiannya dan para malaikat datang kepada mereka untuk mencabut nyawa mereka yang buruk.

…lalu mereka berserah diri.

Yakni mereka menampakkan, rasa tunduk, patuh, dan menurut seraya berkata:

Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun

Perihalnya sama dengan apa yang dikatakan oleh mereka nanti pada hari mereka dibangkitkan (di hari kiamat), seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.
(Al-An’am: 23)

(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik), sebagaimana mereka bersumpah kepadamu.
(Al Mujaadalah:18)


Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 28 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 28 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 28 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:28
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.6
Ratingmu: 4.2 (28 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs an nahl 16:28 dan arti

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta