QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 25 [QS. 16:25]

لِیَحۡمِلُوۡۤا اَوۡزَارَہُمۡ کَامِلَۃً یَّوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ۙ وَ مِنۡ اَوۡزَارِ الَّذِیۡنَ یُضِلُّوۡنَہُمۡ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ ؕ اَلَا سَآءَ مَا یَزِرُوۡنَ
Liyahmiluu auzaarahum kaamilatan yaumal qiyaamati wamin auzaaril-ladziina yudhilluunahum bighairi ‘ilmin alaa saa-a maa yaziruun(a);

(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan).
Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.
―QS. 16:25
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
16:25, 16 25, 16-25, An Nahl 25, AnNahl 25, An-Nahl 25

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 25

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 25. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan akibat dari perbuatan mereka itu yaitu bahwa ucapan mereka yang congkak itu menyebabkan mereka memikul dosa-dosa dengan sepenuhnya dan memikul dosa orang-orang yang secara membabi buta mengikuti ucapan itu.
Orang-orang yang mengikuti disamakan hukumnya dengan orang-orang yang diikuti karena mereka itu telah diberi akal yang sudah tentu mereka dapat menilai ucapan orang-orang yang diikuti dengan menggunakan pikirannya.
Itulah sebabnya maka di dalam ayat ini Allah melukiskan bahwa mereka ini mengikutinya tanpa ilmu pengetahuan sedikitpun.
Sedangkan orang-orang yang diikuti di samping menanggung dosa mereka sendiri juga menanggung pula dosa orang-orang yang disesatkan.
Karena mereka ini dianggap sebagai penyesat orang-orang yang lain dan penyebab orang-orang yang lain dan penyebab orang-orang yang lain itu berkeyakinan seperti keyakinan mereka.

Sabda Rasulullah ﷺ:

Barangsiapa yang mengajak orang-orang kepada petunjuk (agama Islam), maka ia memperoleh pahala orang-orang yang mengikutinya, yang tidak berkurang pahalanya itu dari pahala-pahala mereka sedikitpun.
Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan ia memperoleh dosanya seperti dosa-dosa yang mengikuti, yang tidak berkurang dosanya dari dosa-dosa mereka sedikitpun.

Dan seperti firman Allah:

Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan”.
(Q.S Al Ankabut: 13)

Mereka itu diancam dengan ancaman yang berat karena mereka menilai firman Allah yang disampaikan kepada Rasulullah itu dengan penilaian yang tidak Sewajarnya.
Mereka itu telah mengotori pikiran yang diberikan oleh Allah pada diri mereka dan mengotori jiwa mereka sendiri sehingga mereka berani berbuat dengan berbagai macam tipu daya untuk menjatuhkan pribadi Rasul di hadapan kaum Muslimin dan di hadapan pengikut-pengikut mereka.
Itulah sebabnya maka mereka itu diberi ancaman keras dengan dosa yang mereka lakukan bahkan memikul dosa-dosa yang pengikutnya pada hari akhir.

Di akhir ayat Allah subhanahu wa ta’ala mengancam bahwa dosa yang mereka pikul itu adalah dosa yang paling berat.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka mengatakan hal itu dengan maksud untuk merintangi orang lain supaya tidak mengikuti Rasulullah.
Sebagai akibatnya, mereka disiksa pada hari kiamat karena kezaliman mereka sepenuhnya.
Mereka juga menerima siksa sebagian manusia yang telah tertipu dan terpedaya oleh mereka sehingga tersesat tanpa sadar.
Perhatikanlah, hai orang yang mendengar, keburukan dosa-dosa yang mereka perbuat.
Alangkah pedihnya hukuman mereka itu!

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Ucapan mereka, menyebabkan mereka memikul) akibatnya mereka akan memikul (dosa-dosanya) kesalahan-kesalahannya (dengan sepenuhnya) artinya tidak ada sesuatu pun yang dapat dijadikan sebagai tebusan daripadanya (pada hari kiamat, dan sebagian) ditimpakan pula kepada mereka sebagian (dosa-dosa orang-orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun) bahwa mereka disesatkan, karena mereka mengajak orang-orang yang diserunya ke jalan yang sesat, kemudian orang-orang yang diserunya itu mengikuti langkah mereka.

Dengan demikian maka orang-orang yang menyeru mereka ikut andil dalam dosanya.

(Ingatlah, amat buruklah) amat jeleklah (apa yang mereka pikul itu) yakni, dosa-dosa yang mereka pikul itu adalah seburuk-buruk dosa.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kelak kesudahan mereka adalah memikul dosa-dosa mereka sendiri dengan sempurna pada Hari Kiamat (tidak diampuni sedikit pun dosa mereka) dan mereka juga memikul dosa-dosa orang-orang yang mereka bohingi untuk menjauhkan mereka dari Islam, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.
Betapa buruknya dosa-dosa yang mereka pikul itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Mengenai mereka, Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

…(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan).

Yaitu sesungguhnya Kami menetapkan atas mereka untuk mengatakan hal tersebut yang menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya berikut dosa-dosa orang-orang yang mengikuti dan menyetujui mereka.
Dengan kata lain, mereka beroleh dosa-dosa diri mereka dan dosa menyesatkan orang lain yang mengikuti jejak mereka.
Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Barang siapa yang menyeru kepada hidayah (petunjuk), dia akan beroleh pahalanya semisal dengan pahala orang-orang yang mengikuti jejaknya, tanpa mengurangi pahala mereka barang sedikit pun.
Dan barang siapa yang menyeru kepada kesesatan, dia akan mendapatkan dosanya semisal dengan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya, tanpa mengurangi dosa mereka barang sedikit pun.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:

Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.
(Al-‘Ankabut: 13)

Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan makna firman-Nya: (ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan).
(An Nahl:25) Ayat ini semakna dengan firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu: Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban-beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri.
(Al-‘Ankabut: 13)

Mujahid mengatakan bahwa mereka memikul beban dosa-dosa mereka berikut dosa orang-orang yang mengikuti jejak mereka, tanpa mengurangi azab yang diterima oleh orang-orang yang taat kepada mereka barang sedikit pun.


Kata Pilihan Dalam Surah An Nahl (16) Ayat 25

AWZAAR
أَوْزَار

Lafaz awzaar adalah jamak dari al wizr, artinya dosa, muatan yang berat, senjata, profesi, salah, beban. Awzaar al ­harb maknanya barangan-barangan perang dan alat-alatnya.

Ungkapan Wadaat al harb awzarha bermakna peperangan berakhir disebabkan kedua belah pihak yang berperang meletakkan senjata pada masa itu.

Kata awzaar disebut lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 31;
-An Nahl (16), ayat 25;
-Tha Ha (20), ayat 87;
-Muhammad (47), ayat 4.

Makna lafaz awzaar dalam ayat Al Qur’an dapat diklasifikasikan kepada tiga makna.

Pertama, senjata atau beban-beban peperangan sebagaimana dalam surah Muhammad.

Mujahid berkata,
“Peperangan tetap berlanjut sehingga ‘Isa bin Maryam turun, seakan-akan ia mengambil kata-kata Rasulullah. “Satu golongan dari umatku tetap berada dalam kebenaran sehingga yang akhir dari mereka memerangi Dajjal.”

Qatadah berkata,
“Sehingga tidak ada lagi kesyirikan.”

Ulama lain berpendapat, “Sehingga orang yang memerangi umat Islam meletakkan beban dan senjata mereka supaya bertaubat kepada Allah.”

Asy Syawkani berkata,
Awzaar dalam ayat ini bermaksud beban-beban peperangan yang tidak berlaku perang kecuali dengannya, dari senjata dan kuda. Al wad’ disandarkan kepada orangnya adalah majaz atau kinayah.”

Diriwayatkan dari Al Hasan dan Ata’ keduanya berkata,
“Dalam ayat itu wujud taqdim dan ta’khir, maksudnya, “Maka pukullah leher-leher mereka sehingga orangnya meletakkan senjatanya.”

Kedua, bermakna beban dosa. Pengertian ini terdapat dalam surah Al An’aam dan An Nahl.

Asy Sabuni menafsirkan lafaz awzaar pada ayat ini, “mereka membawa beban dosa mereka di atas belakang mereka.”

Al Baidawi berkata,
“Ini adalah contoh bagi bentuk dosa yang mereka lakukan. Sebagaimana yang dijelaskan Ibn Katsir, mereka membawanya ke dalam neraka, seperti yang difahami dari riwayat yang lebih sahih dari Al Suddi’

Ketiga, bermakna perhiasan karena ia dikaitkan dengan min zinah. Makna ini terdapat dalam surah Tha Ha.

Al Qurtubi menafsirkannya dengan atsqaal (beban dan muatan) dari perhiasan dan mereka meminjamnya dari Fir’aun ketika keluar bersama Musa dan menggunakannya ketika hari perayaan atau perkawinan.

Ibn Qutaibah berkata,
“Ia bermakna ahmal (beban) dari perhiasan mereka.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:90-91

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 25 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 25 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 25 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:25
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.9
Ratingmu: 4.7 (15 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/16-25







Pembahasan ▪ arti surah 16 ayat 25-28 ▪ kandungan surat 16:25 ▪ surah an nahl ayat 25

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta