QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 21 [QS. 16:21]

اَمۡوَاتٌ غَیۡرُ اَحۡیَآءٍ ۚ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ۙ اَیَّانَ یُبۡعَثُوۡنَ
Amwaatun ghairu ahyaa-in wamaa yasy’uruuna ai-yaana yub’atsuun(a);

(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.
―QS. 16:21
Topik ▪ Kesucian Allah dari sekutu dan anak
16:21, 16 21, 16-21, An Nahl 21, AnNahl 21, An-Nahl 21

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 21

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 21. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan kejadian patung sebagai kelanjutan dan pada ayat itu, bahwa berhala-berhala itu adalah benda mati.
Berhala itu tidaklah dapat memikirkan bagaimana seharusnya mengabulkan doa-doa yang mereka minta.
Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa patung-patung itu bukanlah benda-benda hidup yang dapat memberikan pengaruh apa-apa, meskipun di antara benda, ada yang memberi pengaruh kepada benda hidup.
Namun baik berhala itu disembah ataupun tidak disembah tidak akan memberikan faedah apapun juga dan tidak akan pula menyebabkan kemudaratan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Berhala-berhala itu adalah benda-benda mati yang tidak memiliki indera perasa, tidak dapat bergerak dan tidak mengetahui kapan hari kiamat dan kebangkitan para pemujanya terjadi.
Maka tidaklah pantas bagi kalian setelah ini, hai orang-orang yang berakal, kalau kalian mengira bahwa patung-patung itu akan membawa manfaat bagi kalian, lalu kalian menyekutukan Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Berhala-berhala itu benda mati) tidak ada rohnya, lafal ini menjadi khabar yang kedua (tidak hidup) berkedudukan menjadi taukid atau pengukuh (dan mereka tidak mengetahui) berhala-berhala tersebut tidak mengetahui (bilakah) menunjukkan makna waktu (mereka akan dibangkitkan) yang dimaksud adalah makhluk semuanya, maka jika keadaannya demikian mengapa berhala-berhala itu mereka sembah?
Kalau demikian berarti tiada tuhan melainkan hanya Yang Maha Pencipta, Yang Maha Hidup dan Yang Maha Mengetahui semua yang gaib.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mereka semua (berhala-berhala itu) adalah benda mati yang tidak memiliki kehidupan dan tidak mengetahui kapan para penyembahnya akan dibangkitkan oleh Allah.
Berhala-berhala itu akan dilemparkan bersama mereka semuanya ke dalam neraka pada Hari Kiamat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan bahwa Dia mengetahui semua yang terkandung di dalam hati dan semua rahasia, sebagaimana Dia mengetahui hal-hal yang lahir (nyata).
Di hari kiamat kelak Dia akan memberikan balasan­Nya kepada setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya.
Jika amal perbuatannya baik, maka balasannya baik, tetapi jika amal perbuatannya buruk, maka balasannya buruk pula.

Selanjutnya Dia menyebutkan bahwa berhala-berhala yang mereka seru selain Allah tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedangkan mereka sendiri dibuat oleh manusia, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam firman-Nya menyitir kata-kata kekasih-Nya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yaitu:

Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat itu?
Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu?
(Ash Shaaffat:95-96)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

(Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup.

Artinya, benda-benda mati tidak bernyawa, maka tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, dan tidak berakal.

…dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.

Berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah hari kiamat terjadi.
Maka bagaimanakah dapat diharapkan darinya manfaat atau pahala atau balasan?
Sesungguhnya yang dapat diharapkan manfaat, pahala, dan balasannya hanyalah Tuhan yang mengetahui segala sesuatu, Dialah Yang mencipta­kan segala sesuatu.


Kata Pilihan Dalam Surah An Nahl (16) Ayat 21

AHYAA
أَحْيَآء

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya adalah al hayy yang berarti “yang hidup,” lawan yang mati. Ia juga bermakna setiap yang berbicara.

Apabila ia disandarkan kepada tumbuh-tumbuhan seperti al hayy minan nabat berarti yang segar lagi basah dan bergerak.

Ungkapan laa ya’riful hayyi minal layy bermakna dia adalah orarig yang bodoh yaitu kiasan kepada orang yang tidak tahu yang hak (benar) dan yang batil.

Al hayaah berarti kehidupan yaitu ungkapan tentang kekuatan yang bercampur mengisyaratkan perasaan dan gerakan.

Apabila disandarkan kepada Allah bermakna al baqa’ yaitu berkekalan.

Al Fayruz Abadi mengatakan, al haya (kehidupan) digunakan pada beberapa keadaan dan perkara yaitu :

– Untuk kekuatan yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan hewan.

– Untuk kekuatan yang sensitif dan karenanya binatang dinamakan hewan. Allah menyatakan, inna ladzii ahyaahaa adalah isyarat kepada adanya kekuatan yang tumbuh (al quwwah an namiyah), dan Allah rnenyatakan, adalah isyarat kepada adanya kekuatan sensitif (al-quwwah al hassasah).

– Untuk kekuatan yang berilmu dan berakal.

– Ungkapan berkenaan dengan menghapuskan kesamaran. Dalam hal ini, penyair ‘Udai bin Ar Ra’la’ berkata,
“Bukanlah orang yang mati itu akan beristirahat dengan kematiannya, tetapi kematian adalah kehidupan bagi yang mati.”

– Kehidupan akhirat yang kekal sebagaimana Allah berfirman,

yaa laitanii qaddamtu li hayatii
(Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu beramal untuk kehidupanku ini), berarti kehidupan akhirat yang kekal.

– Kehidupan yang bermaksud sifat bagi Allah yang berarti dia tidak akan mati dan hal itu tidak berlaku kecuali hanya Allah saja,

Lafaz ahyaa disebut lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 154;
-Ali Imran (3), ayat 169;
-An Nahl (16), ayat 21;
-Faathir (35), ayat 22;
-Al Mursalat (77), ayat 26.

Menurut Ibn Katsir, pengertian ayat 154 dalam surah Al Baqarah adalah Allah mengabarkan, para syuhada di alam barzakh tetap hidup dan diberi karunia.

Al Qurtubi berkata tentang pentafsiran ayat 169 dalam surah Ali Imran, para syuhada tetap hidup di dalam syurga sebagai kurniaan. Jasad mereka mati, namun hati mereka hidup sebagaimana roh-roh mukmin. Mereka diberi rezeki di dalam syurga semenjak mereka syahid sehingga seakan-akan kehidupan dunia kekal buat mereka.

Dalam surah An Nahl, lafaz ahyaa digabungkan dengan kata ghair untuk menerangkan sifat berhala yang memiliki maksud yang tidak hidup atau mati. Jadi mengapa (kamu) menyembah berhala yang mati, padahal kamu lebih mulia daripadanya karena ada kehidupan pada diri kamu.

Berkenaan ayat dalam surah Faathir, Ats Tsa’labi berkata,
al hayy adalah muslim dan al mayyit adalah orang kafir.

Az Zujjaj berpendapat, al ahyaa’ ialah orang mukmin dan al ­amwaat adalah orang kafir. Dalilnya adalah sebagaimana Allah menyatakan pada surah An-Nahl.

Lafaz ahyaa’ dalam Al Qur’an mengandung dua makna.

Pertama, ia bermaksud yang hidup, sebagaimana pada surah An Nahl dan Al Mursalat.

Kedua, ia bermaksud kiasan bagi para syuhada dan lain-lain sebagaimana dalam surah Al Baqarah, Ali Imran dan Faathir.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:34-35

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 21 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 21 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 21 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.5
Ratingmu: 4.3 (11 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/16-21









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta