Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nahl

An Nahl (Lebah) surah 16 ayat 14


وَ ہُوَ الَّذِیۡ سَخَّرَ الۡبَحۡرَ لِتَاۡکُلُوۡا مِنۡہُ لَحۡمًا طَرِیًّا وَّ تَسۡتَخۡرِجُوۡا مِنۡہُ حِلۡیَۃً تَلۡبَسُوۡنَہَا ۚ وَ تَرَی الۡفُلۡکَ مَوَاخِرَ فِیۡہِ وَ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ وَ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ
Wahuwal-ladzii sakh-kharal bahra lita’kuluu minhu lahman tharii-yan watastakhrijuu minhu hilyatan talbasuunahaa wataral fulka maw-aakhira fiihi walitabtaghuu min fadhlihi wala’allakum tasykuruun(a);

Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
―QS. 16:14
Topik ▪ Penciptaan ▪ Penciptaan laut dan sungai ▪ Menyempurnakan takaran dan timbangan
16:14, 16 14, 16-14, An Nahl 14, AnNahl 14, An-Nahl 14
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 14. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan nikmat-nikmat Nya yang diberikan kepada hamba-Nya, yang terdapat di lautan.
Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa Dia yang telah mengendalikan lautan untuk manusia yaitu mengendalikan segala macam nikmat Nya, yang terdapat di lautan agar supaya manusia dapat memperoleh makanan dari lautan itu, yaitu daging yang segar.
Dimaksud dengan daging yang segar di sini ialah segala macam jenis ikan yang diperoleh manusia dengan jalan menangkapnya.
Bukan ikan yang telah mati dan membusuk di lautan.
Disebutkan ikan itu dengan daging yang segar agar supaya dapat memahami bahwa yang boleh dimakan dari segala jenis ikan yang terdapat di dalam lautan itu ialah yang ditangkap dalam keadaan hidup, meskipun binatang itu mati tanpa disembelih.
Akan tetapi apabila segala jenis ikan itu diperoleh telah menjadi bangkai apalagi telah membusuk, maka tidak boleh dimakan karena dikhawatirkan membahayakan kesehatan orang-orang yang memakannya.
Dimaksud dengan binatang yang mati di lautan ialah binatang yang mati dengan sendirinya atau karena sebab-sebab yang lain sehingga binatang itu mati mengambang di dalam air, bukan binatang yang mati karena ditangkap oleh manusia.
Rasulullah bersabda:

Semua binatang laut yang mati karena kehabisan air makanlah dan semua binatang laut yang terdampar ke daratan dan lautan makanlah.
Tetapi binatang yang terapung di lautan janganlah dimakan.
(H.R Jabir).

Demikian sabda Nabi Muhammad ﷺ:

Air laut itu suci airnya dan halal bangkainya".
(H.R Arba'ah dari Abu Hurairah dari Ibnu Syaibah).

Hendaklah dipahami bahwa bangkai binatang air laut yang halal dimakan ialah binatang yang ditangkap oleh manusia, yang terlempar ke daratan, yang mati kerana kehabisan air, yang masih segar bukan binatang yang mati terapung di lautan yang sudah membusuk.

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan nikmat-Nya yang lain yang didapat manusia dan lautan yang mereka pergunakan sebagai perhiasan.
Perhiasan yang didapat orang dan lautan ialah sebangsa mutiara dan marjan.
Mutiara adalah sebangsa lokan yang diproses kejadiannya sebagai berikut:

Ada semacam benda keras, pasir atau benda lainnya yang memasuki lokan itu.
Karena benda itu begitu mengganggu pada organ-organ tubuhnya dibungkuslah benda keras itu oleh semacam cairan yang dapat mengeras.
Proses itu berlaku terus sehingga lama kelamaan terjadilah benda yang bulat dan mengkilat yang warnanya putih kebiru-biruan atau kemerah-merahan atau kekuning-kuningan yang sangat indah dipandang mata.
Benda itu dikeluarkan oleh manusia dari sebangsa lokan tadi ada yang kecil dan ada yang besar sesuai dengan lamanya benda itu di dalam tubuh lokan itu dan besarnya lokan itu sendiri, dan itulah yang dimaksud dengan mutiara.

Perhiasan yang lain adalah marjan sebangsa tumbuh-tumbuhan yang hidup di dasar laut yang mirip dengan sebangsa karang.
Marjan itu diambil oleh manusia dari lautan dan dapat dibuat kalung atau gelang dan perhiasan lain yang sangat indah.
Kesemuanya itu berupa nikmat Allah yang diberikan kepada manusia yang tiada bernilai harganya.

Dan di antara nikmat yang diberikan kepada manusia yang didapat dari lautan itu ialah bahwa dapat dijadikan lalu lintas pelayaran, baik oleh kapal-kapal layar ataupun kapal-kapal api yang hilir mudik dari suatu negara ke negara lain untuk mengangkut segala macam barang perdagangan sehingga mempermudah perdagangan dari suatu negara ke negara lain.
Dari perdagangan itulah orang-orang mendapat rezeki karena untung yang diperoleh dari padanya.
Nikmat-nikmat Allah itu disebutkan dengan maksud agar supaya manusia dapat mensyukuri semua nikmat Allah yang diberikan kepada mereka itu dan agar manusia dapat memahami betapa besarnya nikmat Allah yang telah diberikan pada mereka dan memanfaatkan nikmat yang tiada taranya itu untuk kesejahteraan mereka.

An Nahl (16) ayat 14 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nahl (16) ayat 14 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nahl (16) ayat 14 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dialah yang menundukkan lautan untuk melayani kepentingan kalian.
Kalian dapat menangkap ikan-ikan dan menyantap dagingnya yang segar.
Dari situ kalian juga dapat mengeluarkan permata dan merjan sebagai perhiasan yang kalian pakai.
Kamu lihat, hai orang yang menalar dan merenung, bahtera berlayar mengarungi lautan dengan membawa barang-barang dan bahan makanan.
Allah menundukkan itu agar kalian memanfaatkannya untuk mencari rezeki yang dikaruniakan-Nya dengan cara berniaga dan cara-cara lainnya.
Dan juga agar kalian bersyukur atas apa yang Allah sediakan dan tundukkan untuk melayani kepentingan kalian.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Dialah yang menundukkan lautan) Dia telah membuatnya jinak sehingga dapat dinaiki dan diselami (agar kalian dapat memakan daripadanya daging yang segar) yaitu ikan (dan kalian mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kalian pakai) yaitu berupa mutiara dan marjan (dan kamu melihat) menyaksikan (bahtera) perahu-perahu (berlayar padanya) dapat melaju di atas air, artinya dapat membelah ombak melaju ke depan atau ke belakang hanya ditiup oleh satu arah angin (dan supaya kalian mencari) lafal ini diathafkan kepada lafal lita'kuluu, artinya supaya kalian mencari keuntungan (dari karunia-Nya) karunia Allah subhanahu wa ta'ala lewat berniaga (dan supaya kalian bersyukur) kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas karunia itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dialah yang menundukkan lautan untuk kalian, agar kalian makan dari tangkapan kalian berupa ikan-ikannya sebagai daging yang segar, dan kalian mengeluarkan darinya perhiasan yang kalian pakai, seperti mutiara dan permata.
Kamu melihat bahtera besar memecah permukaan air pulang dan pergi.
Dan, kalian menaikinya; untuk mencari rizki Allah dengan berdagang dan mendapatkan keuntungan darinya, dan mudah-mudahan kalian bersyukur kepada Allah atas besarnya pemberian nikmat-Nya kepada kalian, lalu kalian tidak menyembah selain-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
menyebutkan tentang laut yang luas dengan ombaknya yang gemuruh, Dia telah menundukkannya.
Allah menyebutkan pula karunia­Nya kepada hamba-hamba-Nya, bahwa Dia telah menundukkan laut untuk mereka sehingga mereka dapat mengarunginya, Dia telah menciptakan padanya ikan-ikan kecil dan ikan-ikan besar, lalu menghalalkannya bagi hamba-hamba-Nya untuk dimakan dagingnya, baik dalam keadaan hidup maupun telah mati, baik mereka dalam keadaan tidak ihram maupun sedang ihram.

Allah telah menciptakan padanya mutiara-mutiara dan berbagai macam perhiasan yang berharga, serta memudahkan bagi hamba-hamba-Nya dalam mengeluarkannya dari tempatnya untuk perhiasan yang mereka pakai.

Allah telah menundukkan laut untuk mengangkut kapal-kapal yang membelah jalan melaluinya.

Menurut pendapat lain, makna mawakhira ialah membelakangi arah angin, kedua makna ini benar.
Menurut pendapat lainnya lagi, laut dengan anjungannya, yaitu bagian depan perahu (kapal) yang bangunannya agak tinggi.
Itulah cara membuat perahu yang telah ditunjukkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya melalui kakek moyang mereka, Nabi Nuh 'alaihis salam, lalu diterima oleh mereka secara turun-temurun.

Nabi Nuh 'alaihis salam adalah orang pertama yang membuat kapal dan yang menaikinya, kemudian manusia menerima keahlian ini dari suatu generasi ke generasi lainnya secara turun-temurun.
Mereka menaiki perahu dari satu kawasan ke kawasan yang lain melalui jalan laut, dan dari suatu kota ke kota yang lain serta dari suatu pulau ke pulau yang lain.
Dengan menaiki perahu, mereka melakukan kegiatan ekspor impor.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

dan supaya kalian mencari (keuntungan) dari karunia-Nya dan supaya kalian bersyukur.

Yakni mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dan kebajikan yangdiberikan-Nya.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya mengatakan bahwa dalam kitabnya ia menjumpai sebuah riwayat dari Muhammad ibnu Mu'awiyah Al-Bagdadi yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Amr, dari Sahl Ibnu Abu Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Allah berfirman kepada Laut Barat dan Laut Timur.
Kepada Laut Barat dikatakan, "Sesungguhnya Aku akan membawa sebagian dari hamba-hamba-Ku berlayar melaluimu, maka apakah yang akan engkau lakukan terhadap mereka?"
Laut Barat menjawab, "Saya akan menenggelamkan mereka." Maka dikatakan kepadanya, "Bahayamu berada di sekitarmu, tetapi Aku membawa mereka dengan kekuasaan-Ku, dan Aku haramkan perhiasan dan berburu (padamu)." Lalu Allah berfirman kepada Laut Timur, "Sesungguhnya Aku akan membawa sebagian dari hamba-hamba-Ku dengan melaluimu, maka apakah yang akan engkau lakukan terhadap mereka?"
Laut Timur menjawab, "Aku akan membawa mereka di atas permukaanku, dan aku akan menjadi seperti seorang ibu kepada anaknya terhadap mereka." Maka Allah memberinya balasan berupa perhiasan dan hewan buruan laut.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan, "Kami belum pernah mengetahui ada yang meriwayatkannya dari Sahl selain Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Amr, sedangkan hadisnya berpredikat munkar." Riwayat ini telah dikemukakan pula oleh Sahl, dari An-Nu'man ibnu Abu Ayyasy, dari Abdullah ibnu Amr secara mauquf.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
menyebutkan tentang bumi dan gunung-gunung yang menjulang tinggi lagi kokoh, semuanya Dia" tancapkan di bumi agar bumi stabil, tidak guncang, yakni tidak mengguncangkan semua makhluk hidup yang ada di permukaannya.
Karena bila bumi terus berguncang, hidup mereka tidak akan tenang.
Disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh.
(An-Nazi'at: 32)

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah, ia pernah mendengar Al-Hasan mengatakan bahwa setelah Allah menciptakan bumi, bumi terus berguncang, maka mereka (para malaikat) berkata, "Bumi ini tidak layak menjadi tempat bagi seorang manusia pun." Kemudian pada keesokan harinya gunung-gunung telah diciptakan padanya, dan para malaikat tidak mengetahui mengapa gunung-gunung itu diciptakan.

Sa'id telah meriwayatkan dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Qais ibnu Ubadah, bahwa setelah Allah menciptakan bumi, maka bumi terus berguncang, lalu para malaikat berkata, "Ini tidak layak bagi seorang pun yang bertempat tinggal di permukaannya." Kemudian pada keesokan harinya ternyata telah ada gunung-gunung (yang menstabilkannya).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepadaku Hajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Ata ibnus Sa-ib, dari Abdullah ibnu Habib, dari Ali bin Abu Thalib RA yang mengatakan bahwa setelah Allah menciptakan bumi, Dia membiarkannya, kemudian bumi berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau akan menciptakan di atasku Bani Adam yang gemar mengerjakan dosa-dosa dan menimbulkan kekotoran di atasku?"
Maka Allah menancapkan padanya gunung-gunung yang dapat kalian lihat dan yang tidak terlihat oleh kalian.
Sebelum itu bumi tidak tetap, selalu berguncang seperti daging yang hidup (berdenyut).

Kata Pilihan Dalam Surah An Nahl (16) Ayat 14

THARIYY
طَرِيًّا

Lafaz ini dalam bentuk mufrad, jamaknya ialah thiraa'.

Ibn Faris berkata,
"Lafaz ini menunjukkan lunak dan tepi sungai, oleh karena itu ath thariyy bermakna sesuatu yang lunak atau lembut." Ia juga bermakna lunak lagi baru dan bersih lagi suci.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-An­ Nahl (16), ayat 14;
-Faathir (35), ayat 12.

Lafaz thariyya dikaitkan dan disandarkan kepada lafaz al lahm yaitu daging. Tafsirannya ialah kamu memakan dari laut berbagai macam jenis ikan yang lunak lagi lembut.

Begitu juga pendapat Ibn Jarir, di mana ia bermakna ikan yang lembut yang kamu pancing atau kail.

Sedangkan Qatadah memberikan maksudnya dengan ikan paus.

Kesimpulannya, lafaz thariyya bermakna yang lunak lagi enak dan lafaz lahman thariyya bermakna ikan yang lunak, lembut lagi lezat.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:346

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah",
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni'matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur'anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur'an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra' ayat 82).

Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya ni'mat-ni'mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni'mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti'aadzah (a'Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da'wah dalam Islam.


Gambar Kutipan Surah An Nahl Ayat 14 *beta

Surah An Nahl Ayat 14



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nahl

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (28 votes)
Sending







✔ isi kandungan surah an-nahl ayat 14, kandungan surah an nahl ayat 14, makna surat an nahl ayat 14, Munasabah surah an-nahl ayat 14 dan al-fathir ayat 12, penjelasan ayat surah an nahl ayat 14, surat an nah 16 14

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku