Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 14 [QS. 16:14]

وَ ہُوَ الَّذِیۡ سَخَّرَ الۡبَحۡرَ لِتَاۡکُلُوۡا مِنۡہُ لَحۡمًا طَرِیًّا وَّ تَسۡتَخۡرِجُوۡا مِنۡہُ حِلۡیَۃً تَلۡبَسُوۡنَہَا ۚ وَ تَرَی الۡفُلۡکَ مَوَاخِرَ فِیۡہِ وَ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ وَ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ
Wahuwal-ladzii sakh-kharal bahra lita’kuluu minhu lahman tharii-yan watastakhrijuu minhu hilyatan talbasuunahaa wataral fulka maw-aakhira fiihi walitabtaghuu min fadhlihi wala’allakum tasykuruun(a);
Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai.
Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.
―QS. An Nahl [16]: 14

And it is He who subjected the sea for you to eat from it tender meat and to extract from it ornaments which you wear.
And you see the ships plowing through it, and (He subjected it) that you may seek of His bounty;
and perhaps you will be grateful.
― Chapter 16. Surah An Nahl [verse 14]

وَهُوَ dan Dia

And He
ٱلَّذِى yang

(is) the One Who
سَخَّرَ menundukkan

subjected
ٱلْبَحْرَ lautan

the sea
لِتَأْكُلُوا۟ agar kamu makan

for you to eat
مِنْهُ daripadanya

from it
لَحْمًا daging

meat
طَرِيًّا lembut/segar

fresh
وَتَسْتَخْرِجُوا۟ dan kamu mengeluarkan

and that you bring forth
مِنْهُ daripadanya

from it,
حِلْيَةً perhiasan

ornaments
تَلْبَسُونَهَا kamu memakainya

(that) you wear them.
وَتَرَى dan kamu melihat

And you see
ٱلْفُلْكَ bahtera

the ships
مَوَاخِرَ berlayar

ploughing
فِيهِ padanya

through it,
وَلِتَبْتَغُوا۟ dan agar kamu mencari

and that you may seek
مِن dari

of
فَضْلِهِۦ karunianya

His Bounty,
وَلَعَلَّكُمْ dan agar kamu

and that you may
تَشْكُرُونَ kalian bersyukur

(be) grateful.

Tafsir

Alquran

Surah An Nahl
16:14

Tafsir QS. An Nahl (16) : 14. Oleh Kementrian Agama RI


Selanjutnya, Allah ﷻ menyebutkan nikmat-nikmat yang terdapat di lautan yang diberikan kepada hamba-Nya.
Dijelaskan bahwa Dia yang telah mengendalikan lautan untuk manusia.

Maksudnya ialah mengendalikan segala macam nikmat-Nya yang terdapat di lautan agar manusia dapat memperoleh makanan dari lautan itu berupa daging yang segar, yaitu segala macam jenis ikan yang diperoleh manusia dengan jalan menangkapnya.


Penyerupaan ikan dengan daging yang segar agar dipahami bahwa yang boleh dimakan dari segala jenis ikan yang terdapat di dalam lautan itu ialah yang ditangkap dalam keadaan segar, meskipun binatang itu mati tanpa disembelih.

Akan tetapi, apabila segala jenis ikan yang diperoleh itu dalam keadaan tidak segar, mati, apalagi telah membusuk, maka tidak boleh dimakan karena dikhawatirkan membahayakan kesehatan.
Yang dimaksud dengan binatang yang mati di lautan ialah binatang yang mati dengan sendirinya atau karena sebab-sebab yang lain sehingga mengambang di permukaan air, bukan yang mati karena ditangkap oleh manusia.

Rasulullah bersabda:


Semua binatang laut yang mati karena kehabisan air makanlah dan semua binatang laut yang terdampar ke daratan dari lautan makanlah, tetapi binatang yang terapung di lautan janganlah dimakan.
(Hadis dhaif riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Jabir)


Ikan yang mati di laut boleh dimakan sebab Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.

(Riwayat Imam Empat dari Abu Hurairah)


Hendaklah dipahami sekali lagi bahwa bangkai binatang air laut yang halal dimakan ialah binatang yang ditangkap oleh manusia, yang terlempar ke daratan, yang mati karena kehabisan air, dan yang masih segar, bukan binatang yang mati terapung di lautan dan sudah membusuk.


Selanjutnya Allah ﷻ menyebutkan nikmat lain yang dapat diperoleh manusia dari lautan, yaitu berupa perhiasan.

Di antaranya adalah mutiara dan marjan
.


Mutiara adalah perhiasan yang diperoleh dari dalam tubuh sejenis lokan yang proses kejadiannya dimulai dengan masuknya semacam benda keras, pasir, atau benda asing lainnya ke dalam tubuh lokan.

Karena sangat mengganggu bagi organ-organ tubuhnya, lokan mengeluarkan semacam cairan yang dapat mengeras untuk membungkus benda keras itu.
Proses itu berlanjut terus-menerus sehingga lama-kelamaan terbentuk semacam benda bulat dan mengkilat, warnanya putih kebiru-biruan, kemerah-merahan, atau kekuning-kuningan yang sangat indah dipandang mata.
Benda itu dikeluarkan oleh manusia dari lokan tadi, ada yang kecil dan ada yang besar sesuai dengan lamanya benda tersebut dalam tubuh lokan itu.
Itulah yang dimaksud dengan mutiara.



Perhiasan yang lain adalah marjan, sebangsa tumbuh-tumbuhan yang hidup di dasar laut dan mirip dengan karang.
Marjan itu diambil oleh manusia dari lautan dan dibuat menjadi kalung, gelang, atau perhiasan lain yang sangat indah.
Semua itu berupa nikmat Allah yang diberikan kepada manusia yang tiada ternilai harganya.


Nikmat lain yang diberikan kepada manusia dari lautan ialah mereka dapat menjadikannya sebagai sarana lalu lintas pelayaran, baik oleh kapal layar ataupun kapal mesin.
Kapal-kapal itu hilir mudik dari suatu negara ke negara lain untuk mengangkut segala macam barang perdagangan sehingga mempermudah perdagangan antar negara tersebut.
Dari perdagangan itu, manusia mendapat rezeki karena keuntungan yang diperolehnya.



Nikmat-nikmat Allah itu disebutkan agar manusia mensyukuri semua nikmat yang diberikan-Nya kepada mereka.
Juga dimaksudkan agar manusia dapat memahami betapa besar nikmat Allah yang telah diberikan pada mereka dan memanfaatkan nikmat yang tiada tara itu untuk beribadah kepada-Nya dan kesejahteraan mereka sendiri.

Tafsir QS. An Nahl (16) : 14. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Dialah yang menundukkan lautan untuk melayani kepentingan kalian.
Kalian dapat menangkap ikan-ikan dan menyantap dagingnya yang segar.


Dari situ kalian juga dapat mengeluarkan permata dan merjan sebagai perhiasan yang kalian pakai.
Kamu lihat, hai orang yang menalar dan merenung, bahtera berlayar mengarungi lautan dengan membawa barang-barang dan bahan makanan.


Allah menundukkan itu agar kalian memanfaatkannya untuk mencari rezeki yang dikaruniakan-Nya dengan cara berniaga dan cara-cara lainnya.
Dan juga agar kalian bersyukur atas apa yang Allah sediakan dan tundukkan untuk melayani kepentingan kalian.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dialah yang menundukkan lautan untuk kalian, agar kalian makan dari tangkapan kalian berupa ikan-ikannya sebagai daging yang segar, dan kalian mengeluarkan darinya perhiasan yang kalian pakai, seperti mutiara dan permata.
Kamu melihat bahtera besar memecah permukaan air pulang dan pergi.


Dan, kalian menaikinya;
untuk mencari rizki Allah dengan berdagang dan mendapatkan keuntungan darinya, dan mudah-mudahan kalian bersyukur kepada Allah atas besarnya pemberian nikmat-Nya kepada kalian, lalu kalian tidak menyembah selain-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan Dialah yang menundukkan lautan) Dia telah membuatnya jinak sehingga dapat dinaiki dan diselami


(agar kalian dapat memakan daripadanya daging yang segar) yaitu ikan


(dan kalian mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kalian pakai) yaitu berupa mutiara dan marjan


(dan kamu melihat) menyaksikan


(bahtera) perahu-perahu


(berlayar padanya) dapat melaju di atas air, artinya dapat membelah ombak melaju ke depan atau ke belakang hanya ditiup oleh satu arah angin


(dan supaya kalian mencari) lafal ini diathafkan kepada lafal lita’kuluu, artinya supaya kalian mencari keuntungan


(dari karunia-Nya) karunia Allah subhanahu wa ta’ala lewat berniaga


(dan supaya kalian bersyukur) kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas karunia itu.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, menyebutkan tentang laut yang luas dengan ombaknya yang gemuruh, Dia telah menundukkannya.
Allah menyebutkan pula karunia­Nya kepada hamba-hamba-Nya, bahwa Dia telah menundukkan laut untuk mereka sehingga mereka dapat mengarunginya, Dia telah menciptakan padanya ikan-ikan kecil dan ikan-ikan besar, lalu menghalalkannya bagi hamba-hamba-Nya untuk dimakan dagingnya, baik dalam keadaan hidup maupun telah mati, baik mereka dalam keadaan tidak ihram maupun sedang ihram.

Allah telah menciptakan padanya mutiara-mutiara dan berbagai macam perhiasan yang berharga, serta memudahkan bagi hamba-hamba-Nya dalam mengeluarkannya dari tempatnya untuk perhiasan yang mereka pakai.

Allah telah menundukkan laut untuk mengangkut kapal-kapal yang membelah jalan melaluinya.


Menurut pendapat lain, makna mawakhira ialah membelakangi arah angin, kedua makna ini benar.
Menurut pendapat lainnya lagi, laut dengan anjungannya, yaitu bagian depan perahu (kapal) yang bangunannya agak tinggi.
Itulah cara membuat perahu yang telah ditunjukkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya melalui kakek moyang mereka, Nabi Nuhalaihis salam, lalu diterima oleh mereka secara turun-temurun.

Nabi Nuhalaihis salam adalah orang pertama yang membuat kapal dan yang menaikinya, kemudian manusia menerima keahlian ini dari suatu generasi ke generasi lainnya secara turun-temurun.
Mereka menaiki perahu dari satu kawasan ke kawasan yang lain melalui jalan laut, dan dari suatu kota ke kota yang lain serta dari suatu pulau ke pulau yang lain.
Dengan menaiki perahu, mereka melakukan kegiatan ekspor impor.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

dan supaya kalian mencari (keuntungan) dari karunia-Nya dan supaya kalian bersyukur.


Yakni mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dan kebajikan yangdiberikan-Nya.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya mengatakan bahwa dalam kitabnya ia menjumpai sebuah riwayat dari Muhammad ibnu Mu’awiyah Al-Bagdadi yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Amr, dari Sahl Ibnu Abu Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Allah berfirman kepada Laut Barat dan Laut Timur.
Kepada Laut Barat dikatakan,
"Sesungguhnya Aku akan membawa sebagian dari hamba-hamba-Ku berlayar melaluimu, maka apakah yang akan engkau lakukan terhadap mereka?"
Laut Barat menjawab,
"Saya akan menenggelamkan mereka."
Maka dikatakan kepadanya,
"Bahayamu berada di sekitarmu, tetapi Aku membawa mereka dengan kekuasaan-Ku, dan Aku haramkan perhiasan dan berburu (padamu)."
Lalu Allah berfirman kepada Laut Timur,
"Sesungguhnya Aku akan membawa sebagian dari hamba-hamba-Ku dengan melaluimu, maka apakah yang akan engkau lakukan terhadap mereka?"
Laut Timur menjawab,
"Aku akan membawa mereka di atas permukaanku, dan aku akan menjadi seperti seorang ibu kepada anaknya terhadap mereka."
Maka Allah memberinya balasan berupa perhiasan dan hewan buruan laut.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan,
"Kami belum pernah mengetahui ada yang meriwayatkannya dari Sahl selain Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Amr, sedangkan hadisnya berpredikat munkar."
Riwayat ini telah dikemukakan pula oleh Sahl, dari An-Nu’man ibnu Abu Ayyasy, dari Abdullah ibnu Amr secara mauquf.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala, menyebutkan tentang bumi dan gunung-gunung yang menjulang tinggi lagi kokoh, semuanya Dia"
tancapkan di bumi agar bumi stabil, tidak guncang, yakni tidak mengguncangkan semua makhluk hidup yang ada di permukaannya.
Karena bila bumi terus berguncang, hidup mereka tidak akan tenang.
Disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh.
(QS. An-Nazi’at [79]: 32)

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, ia pernah mendengar Al-Hasan mengatakan bahwa setelah Allah menciptakan bumi, bumi terus berguncang, maka mereka (para malaikat) berkata,
"Bumi ini tidak layak menjadi tempat bagi seorang manusia pun."
Kemudian pada keesokan harinya gunung-gunung telah diciptakan padanya, dan para malaikat tidak mengetahui mengapa gunung-gunung itu diciptakan.

Sa’id telah meriwayatkan dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Qais ibnu Ubadah, bahwa setelah Allah menciptakan bumi, maka bumi terus berguncang, lalu para malaikat berkata,
"Ini tidak layak bagi seorang pun yang bertempat tinggal di permukaannya."
Kemudian pada keesokan harinya ternyata telah ada gunung-gunung (yang menstabilkannya).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepadaku Hajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Ata ibnus Sa-ib, dari Abdullah ibnu Habib, dari Ali bin Abu Thalib RA yang mengatakan bahwa setelah Allah menciptakan bumi, Dia membiarkannya, kemudian bumi berkata,
"Wahai Tuhanku, Engkau akan menciptakan di atasku Bani Adam yang gemar mengerjakan dosa-dosa dan menimbulkan kekotoran di atasku?"
Maka Allah menancapkan padanya gunung-gunung yang dapat kalian lihat dan yang tidak terlihat oleh kalian.
Sebelum itu bumi tidak tetap, selalu berguncang seperti daging yang hidup (berdenyut).

Kata Pilihan Dalam Surah An Nahl (16) Ayat 14

THARIYY
طَرِيًّا

Lafaz ini dalam bentuk mufrad, jamaknya ialah thiraa’.

Ibn Faris berkata,
"Lafaz ini menunjukkan lunak dan tepi sungai, oleh karena itu ath thariyy bermakna sesuatu yang lunak atau lembut." Ia juga bermakna lunak lagi baru dan bersih lagi suci.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
An Nahl (16), ayat 14;
Faathir (35), ayat 12.

Lafaz thariyya dikaitkan dan disandarkan kepada lafaz al lahm yaitu daging.
Tafsirannya ialah kamu memakan dari laut berbagai macam jenis ikan yang lunak lagi lembut.

Begitu juga pendapat Ibn Jarir, di mana ia bermakna ikan yang lembut yang kamu pancing atau kail.

Sedangkan Qatadah memberikan maksudnya dengan ikan paus.

Kesimpulannya, lafaz thariyya bermakna yang lunak lagi enak dan lafaz lahman thariyya bermakna ikan yang lunak, lembut lagi lezat.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 346

Unsur Pokok Surah An Nahl (النحل)

Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah",
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Alquranul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Alquran mengandung inti sari dari kitabkitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu, ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula "An Ni’am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Keimanan:

▪ Kepastian adanya hari kiamat.
▪ Ke-Esaan Allah.
▪ Kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya.
▪ Pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

▪ Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang dihalalkan.
▪ Kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut seperti marjan dan mutiara.
▪ Dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa.
▪ Kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan.
▪ Kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah.
▪ Larangan membuat buat hukum yang tak ada dasarnya.
▪ Perintah membaca isti’aadzah (a’uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk).
▪ Larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Asal kejadian manusia.
▪ Madu adalah untuk kesehatan manusia.
▪ Nasib pemimpin-pemimpin palsu di hari kiamat.
▪ Pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan.
▪ Ajaran moral di dalam Islam.
▪ Pedoman dakwah dalam Islam.

Audio

QS. An-Nahl (16) : 1-128 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 128 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nahl (16) : 1-128 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 128

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nahl ayat 14 - Gambar 1 Surah An Nahl ayat 14 - Gambar 2
Statistik QS. 16:14
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, “Lebah”) adalah surah ke-16 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya : “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”.
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Alquranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Alquran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra’ ayat 82).
Surah ini dinamakan pula “An-Ni’am” artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni’am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra’
Sending
User Review
4.4 (28 votes)
Tags:

16:14, 16 14, 16-14, Surah An Nahl 14, Tafsir surat AnNahl 14, Quran An-Nahl 14, Surah An Nahl ayat 14

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Qalam (Pena) – surah 68 ayat 16 [QS. 68:16]

14-16. Di antara faktor yang menyebabkan orang tersebut berperangai buruk adalah karena dia merasa diri sebagai pemilik harta yang banyak, kaya dan juga memiliki banyak anak. Namun dia mengingkari aja … 68:16, 68 16, 68-16, Surah Al Qalam 16, Tafsir surat AlQalam 16, Quran Al-Qalam 16, Surah Al Qolam ayat 16

QS. Ibrahim (Nabi Ibrahim) – surah 14 ayat 32 [QS. 14:32]

Wahai manusia, perhatikan dan renungkanlah bahwa Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan dan tanpa model yang mendahuluinya. Dan Dia pula yang telah menurunkan air hujan dari a … 14:32, 14 32, 14-32, Surah Ibrahim 32, Tafsir surat Ibrahim 32, Quran Ibrahim 32, Surah Ibrahim ayat 32

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali ...

Benar! Kurang tepat!

وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ,

potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
--QS. Al Mujadalah [58] : 11

+

Array

Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta?

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #29
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #29 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #29 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #5

Lawan kata dari jujur ​​adalah … ajur takwa kebohongan riya’ muslihat Benar! Kurang tepat! Bekerja tepat waktu adalah salah satu

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … takamul wasatiyyah harakah khalbu

Pendidikan Agama Islam #28

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? Tiga Dua Lima Tujuh Enam Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina

Instagram