QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 120 [QS. 16:120]

اِنَّ اِبۡرٰہِیۡمَ کَانَ اُمَّۃً قَانِتًا لِّلّٰہِ حَنِیۡفًا ؕ وَ لَمۡ یَکُ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ
Inna ibraahiima kaana ummatan qaanital(n)-lillahi haniifan walam yaku minal musyrikiin(a);

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif.
Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),
―QS. 16:120
Topik ▪ Kelemahan manusia
16:120, 16 120, 16-120, An Nahl 120, AnNahl 120, An-Nahl 120

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 120

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 120. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala memuji hamba Nya Ibrahim as Rasul Nya dan Khalil Nya (kawan Allah).
Beliau adalah imam kaum Hunafa atau pemimpin dari orang yang mencari kebenaran.
Bapak dari pada Nabi.
Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan dalam ayat ini, ummatan yang berarti pemimpin yang menjadi teladan.
Menurut Abdullah Ibnu Mas’ud ummatan berarti guru kebijaksanaan.
Menurut Ibnu Umar Ummatan berarti yang mengajar manusia, tentang agama mereka.

Gelar-gelar demikian menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim memiliki sifat-sifat yang mulia.
Menurut ayat ini sifat-sifat beliau sebagai berikut:

1.
Dialah sebenarnya satu-satunya Imam.
Berkata Ibnu Abbas ra: “Sesungguhnya beliau memiliki kebaikan sama dengan kebaikan yang dimiliki oleh satu umat”.
Dia kepala dari orang-orang yang mengesakan Tuhan.
Dia yang menghancurkan patung-patung, dia yang menentang orang-orang kafir, dia yang memandang cakrawala, dan mempelajarinya untuk kemantapan hatinya terhadap Islam.
2.
Dia adalah seorang yang patuh lagi tunduk kepada Allah dan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhkan diri dari larangannya.
3.
Dia adalah orang yang jauh dari kebatilan, yang mengikuti kebenaran, tidak terpisah dari padanya dan tidak pula menyimpang dari kebenaran itu.
4.
Dia sesungguhnya tidaklah ikut musyrik dalam urusan agama kaumnya, tetapi dia seorang yang mengesakan Allah sejak kecil sampai tuanya.
Dialah orang yang berani berkata lantang di muka raja yang beragama syirik tepat pada saatnya, sebagaimana diceritakan Allah dalam Alquran:

Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 258)

Dia pula yang menyatakan kebatilan penyembahan patung-patung dan bintang-bintang dengan kata-katanya yang dikutip dalam Alquran.

Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.
(Q.S. Al-An’am [6]: 76)

Demikianlah pribadi Nabi Ibrahim.
Dia telah tenggelam dalam samudera tauhid, hanyut ke dalam arus cinta kepada zat yang disembah.
Dengan penjelasan pribadi Nabi Ibrahim demikian, maka kaum musyrikin Quraisy terdesak karena mereka menyatakan bahwa mereka menganut agama Nabi Ibrahim, padahal kenyataan mereka jauh dari agama Nabi Ibrahim.
Demikian pula orang Yahudi dan Nasrani yang memuliakan Nabi Ibrahim: Mereka banyak menyimpang dari ajaran tauhid.

Penjelasan Allah tentang Ibrahim, membuka kebatilan dan kekeliruan kepercayaan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termaksud golongan orang-orang musyrik.
(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 67)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang musyrik, sesungguhnya Ibrahim yang menjadi kebanggaan kalian dan kebanggaan orang-orang Yahudi adalah sosok yang penuh keutamaan, jauh dari kepalsuan kalian, tunduk pada perintah Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain seperti kalian.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam) seorang penghulu yang menjadi panutan dan di dalam dirinya terkandung semua akhlak yang baik (lagi patuh) sangat taat (kepada Allah dan hanif) cenderung kepada agama yang lurus.

(Dan sekali-kali dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam dalam kebajikan.
Dia adalah seorang yang taat lagi tunduk kepada Allah.
Dia tidak menyimpang dari agama Islam, bertauhid kepada Allah dan tidak musyrik,

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
memuji hamba, rasul, dan kekasih-Nya—yaitu Nabi Ibrahim, imam orang-orang yang hanif dan orang tua para nabi— bahwa dia bersih dari kemusyrikan, juga dari Yahudi dan Nasrani.
Untuk itulah Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman.

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif.

Makna al-ummah dalam ayat ini ialah imam yang dijadikan panutan.
Al-qanit artinya patuh dan taat, al-hanif artinya menyimpang dari kemusyrikan dan menempuh jalan tauhid.
Karena itulah disebutkan dalam akhir ayat.

Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Salamah ibnu Kahil, dari Mus­lim Al-Batin, dari Abul Abidin, bahwa ia pernah bertanya kepada Abdullah ibnu Mas’ud tentang makna al-ummatul adnitu.
Maka Ibnu Mas’ud menjawab, “Ummah artinya mu’allim (guru) kebaikan, sedangkan al-qanit artinya taat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Dari Malik, disebutkan bahwa Ibnu Umar mengatakan bahwa al-ummah ialah orang yang mengajar manusia akan agama mereka.

Al-A’masy mengatakan dari Yahya ibnul Jazzar, dari Abul Abidin, bahwa ia datang kepada Abdullah ibnu Mas’ud, lalu ia berkata, “Kepada siapa lagi kami bertanya kalau bukan kepada engkau?”
Maka Ibnu Mas’ud kelihatan seakan-akan kasihan kepadanya, lalu Abul Abidin bertanya, “Ceritakanlah kepadaku apakah makna al-ummah itu!” Abdullah ibnu Mas’ud menjawab bahwa al-ummah ialah orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.

Asy-Sya’bi mengatakan, telah menceritakan kepadaku Farwah ibnu Naufal Al-Asyja’i yang mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud pernah mengatakan bahwa sesungguhnya Mu’az adalah seorang yang mengajarkan kebaikan lagi taat kepada Allah dan hanif.
Maka aku berkata dalam hatiku bahwa Abu Abdur Rahman keliru.
Lalu Mu’az berkata bahwa sesungguhnya Allah Swi.
berfirman:

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan.
Lalu Mu’az berkata, “Tahukah kamu apakah makna ummah dan qanit!” Saya menjawab, “Allah lebih mengetahui.” Mu’az berkata, “Ummah ialah orang yang mengajarkan kebaikan, dan qanit ialah orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.” Demikian pula keadaan Mu’az.
Asar ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ibnu Mas’ud, diketengahkan oieh Ibnu Jarir.

Mujahid mengatakan bahwa al-ummah artinya suatu umat, dan al-qanit ialah orang yang taat.

Mujahid mengatakan pula bahwa Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang ummah, yakni orang yang beriman sendirian, sedangkan manusia semuanya di masa itu kafir.

Qatadah mengatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang imam yang memberi petunjuk, sedangkan al-qanit artinya orang yang taat kepada Allah.


Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 120 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 120 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 120 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:120
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.8
Ratingmu: 4.6 (12 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!