QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 118 [QS. 16:118]

وَ عَلَی الَّذِیۡنَ ہَادُوۡا حَرَّمۡنَا مَا قَصَصۡنَا عَلَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ ۚ وَ مَا ظَلَمۡنٰہُمۡ وَ لٰکِنۡ کَانُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ
Wa’alaal-ladziina haaduu harramnaa maa qashashnaa ‘alaika min qablu wamaa zhalamnaahum walakin kaanuu anfusahum yazhlimuun(a);

Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu, dan Kami tiada menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
―QS. 16:118
Topik ▪ Hisab ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi ▪ Allah memiliki Sifat Masyi’ah (berkehendak)
16:118, 16 118, 16-118, An Nahl 118, AnNahl 118, An-Nahl 118

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 118

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 118. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kembali apa-apa yang diharamkan kepada orang Yahudi.
Apa-apa yang halal dan haram dari agama Yahudi sebenarnya tidaklah sama dengan apa yang di haramkan atau di halalkan oleh kaum musyrik.
Hal ini menunjukkan bahwa penentuan halal dan haram oleh kaum musyrik akan hewan ternak mereka, tidaklah bersumber dari syariat agama-agama yang dahulu.
Beberapa makanan yang telah diharamkan Allah kepada orang Yahudi seperti yang telah diterangkan dalam surah Al An’am.

Firman Allah:

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku, dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang.
Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka, dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.

(Q.S. Al-An’am [6]: 146)

Allah mengharamkan makanan-makanan yang sehat dan bersih itu daging dan lemak binatang-binatang, khusus kepada orang Yahudi sebagai hukuman atas perbuatan mereka yang aniaya seperti membunuh Nabi-nabi, memakan riba, makan harta dengan cara yang batal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 160)

Dari ayat ini dapat dipahami perbedaan yang jelas antara alasan Allah mengharamkan beberapa jenis makanan kepada orang Yahudi dengan alasan kepada orang Islam.
Kepada orang Islam Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengharamkan makanan-makanan kecuali karena pada makanan itu terdapat suatu kemudaratan dan mencelakakan dirinya, tetapi Allah mengharamkan makanan-makanan yang baik-baik itu kepada orang Yahudi adalah sebagai hukuman kepada mereka.

Maka tidaklah benar pendapat bahwa orang Bani Israil sendiri yang mengharamkan makanan itu kepada diri mereka sendiri.
Semua makanan sebelum Taurat diturunkan kepada mereka adalah halal, kecuali ada makanan yang diharamkan sendiri oleh Nabi Yakub (Israil) untuk dirinya sendiri.
Menurut riwayat makanan yang dipantangkan oleh Yakub itu ialah daging unta dan susu Unta.
Beliau berbuat demikian untuk mengekang nafsu dalam usaha membersihkan jiwa dan untuk bertaqarrub kepada Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Yakub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan.
(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 93)

Adapun makanan seperti daging binatang berkuku, lemak sapi dan kambing, diharamkan kepada seluruh Bani Israil pada waktu Taurat sudah diturunkan kepada mereka dan sebagai hukuman atas mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Nabi, Kami tidak mengharamkan jenis-jenis makanan melalui kisah yang Kami paparkan kepadamu sebelum turunnya ayat-ayat di atas kecuali bagi orang-orang Yahudi saja.
Yaitu, semua binatang yang berkuku, lemak sapi dan kambing selain lemak yang melekat di punggung kedua binatang itu atau yang berada dalam perut besar dan usus, atau yang bercampur dengan tulang.
Dengan mengharamkan itu semua, Kami tidak berbuat zalim atas mereka.
Akan tetapi merekalah yang menzalimi diri sendiri karena larut dalam keburukan dan tidak mengindahkan hal-hal yang dihalalkan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan terhadap orang-orang Yahudi) dimaksud para pemeluk agama Yahudi
(Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu) di dalam firman-Nya yang lain, yaitu, “Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku…”
(Q.S. Al-An’am 146)

(dan Kami tiada menganiaya mereka) dengan mengharamkan hal tersebut kepada mereka
(akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri) dengan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat yang menyebabkan diharamkannya hal-hal tersebut.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Terhadap kaum Yahudi Kami telah mengharamkan apa yang telah Kami sampaikan kepadamu sebelumnya, wahai Rasul, yaitu setiap binatang yang memiliki kutu, dan lemak sapi dan kambing, selain lemak yang melekat di punggungnya, ususnya, atau yang bercampur dengan tulang.
Kami tidak menzhalimi mereka dengan mengharamkan hal itu atas mereka, tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan kekafiran dan melampaui batas, sehingga mereka pantas mendapatkan pengharaman itu sebagai hukuman bagi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan bahwa Dia mengharamkan atas kita bangkai, darah, daging babi, dan hewan ternak yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, sesungguhnya Allah memberikan rukhsah padanya hanya bagi orang yang dalam keadaan darurat.
Di dalam hal ini terkandung keluasan bagi umat ini yang Allah,menghendaki untuk mereka kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan bagi mereka.
Setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan apa yang dahulu pernah Dia haramkan atas orang-orang Yahudi dalam syariat mereka, sebelum di-mansukh.
Di dalamnya terdapat belenggu-belenggu, kesempitan, dan beban-beban yang memberatkan.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu.

Dan dalam surat Al-An’am disebutkan oleh firman-Nya:

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku: dan dari sapi dan domba.
Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya.
(Q.S. Al-An’am [6]: 146)

sampai dengan firman-Nya:

benar-benar Mahabenar.
(Q.S. Al-An’am [6]: 146)

Karena itulah dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:

…dan Kami tiada menganiaya mereka.

Yakni melalui apa yang Kami sempitkan atas diri mereka.

…tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa mereka berhak untuk mendapatkan perlakuan itu.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 160)


Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 118 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 118 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 118 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:118
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.6
Ratingmu: 4.4 (10 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta