Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nahl

An Nahl (Lebah) surah 16 ayat 112


وَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا قَرۡیَۃً کَانَتۡ اٰمِنَۃً مُّطۡمَئِنَّۃً یَّاۡتِیۡہَا رِزۡقُہَا رَغَدًا مِّنۡ کُلِّ مَکَانٍ فَکَفَرَتۡ بِاَنۡعُمِ اللّٰہِ فَاَذَاقَہَا اللّٰہُ لِبَاسَ الۡجُوۡعِ وَ الۡخَوۡفِ بِمَا کَانُوۡا یَصۡنَعُوۡنَ
Wadharaballahu matsalaa qaryatan kaanat aaminatan muthma-innatan ya’tiihaa rizquhaa raghadan min kulli makaanin fakafarat bian’umillahi fa-adzaaqahaallahu libaasal juu’i wal khaufi bimaa kaanuu yashna’uun(a);

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.
―QS. 16:112
Topik ▪ Zuhud ▪ Dunia merupakan tempat ujian ▪ Pahala Iman
16:112, 16 112, 16-112, An Nahl 112, AnNahl 112, An-Nahl 112
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 112. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah menjalankan ancaman azab ini di akhirat bagi orang kafir, dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan hukuman dunia terhadap mereka dengan kelaparan dan ketakutan.

Dalam sejarah riwayat umat di masa lampau banyak contoh-contoh yang seharusnya menjadi pelajaran bagi umat manusia sesudahnya.
Satu kaum yang tinggal pada negeri semula hidup bahagia lahir dan batin, aman dan tenteram.
Mereka terpelihara dan ancaman perang musuh, jauh dari bencana kelaparan dan kesengsaraan.
Allah melimpahkan rezeki kepada mereka, baik rezeki yang terdapat dalam negeri mereka sendiri, maupun rezeki yang dapat dari luar.
Semuanya itu membuat mereka hidup makmur dan damai.
Tetapi kemudian segala nikmat Tuhan yang melimpah itu tidaklah mereka syukuri bahkan mereka menjadi kafir dan ingkar kepada Tuhan.
Hidup mereka tidak lagi terikat kepada norma susila dan keagamaan, mereka mabuk dengan kekayaan dan kemewahan sehingga lupa tanggung jawab mereka terhadap bangsa dan negara.
Karena itu Allah menurunkan hukuman kepada mereka berupa bencana kelaparan dan kecemasan yang meliputi kehidupan mereka.
Mereka telah membawa umat dan negara ke lembah kesengsaraan dunia dan akhirat.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan yaitu neraka Jahanam, mereka masuk ke dalamnya dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.
(Q.S Ibrahim: 28-29)

Seharusnya mereka bersyukur atas segala nikmat yang besar itu, dan tidaklah berbuat sebaliknya.
Karena kekafiran mereka demikian itu, Allah subhanahu wa ta'ala mengganti keadaan mereka dari suasana aman dan tenteram lagi penuh kemakmuran, menjadi suasana kelaparan dan ketakutan.
Mekah dan penduduknya serupa itu keadaan mereka.
Kota Mekah karena letaknya yang baik, di tengah-tengah Jazirah Arabia, telah menjadi kota lintas perdagangan antara bagian utara dan selatan.
Tiga pasar yang termasyhur terdapat di sekitarnya.
Pasar Ukaz dekat pasar Taif, Majannah dekat Mekah, dan Zulmajaz dekat Arafah.
Pasar-pasar itu ramai dikunjungi pada bulan Zulkaidah dan Zulhijah oleh bangsa Arab dari segala kabilah.
Di samping bulan itu untuk melakukan ibadah haji di Kakbah mereka mengadakan pula bermacam-macam kegiatan, seperti dagang dan membaca syair-syair yang indah.
Demikianlah kota Mekah sejak sebelum Islam, sudah merupakan kota ramai.
Banyak orang berkunjung ke kota Mekah itu membawa rezeki dan kemakmuran.
Alquran menceritakan letak kota Mekah yang berada di antara dua negeri yang besar yaitu Syam dan Yaman.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan.
Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.

(Q.S Saba': 18)

Bahwa kota Mekah itu negeri yang aman dan damai, dinyatakan Allah dalam Alquran dengan firman Nya:

Dan mereka berkata: "Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami".
Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?
Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

(Q.S Al Qasas: 57)

An Nahl (16) ayat 112 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nahl (16) ayat 112 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nahl (16) ayat 112 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah telah membuat sebuah perumpaan agar dapat direnungkan oleh masyarakat Mekah.
Yaitu suatu negeri yang penduduknya berada dalam kedamaian, aman dari rongrongan dan ancaman musuh, penuh kesenangan dan kemudahan hidup.
Rezeki mereka selalu datang dari segala penjuru.
Lantas mereka mengingkari nikmat dan karunia Tuhan.
Mereka tidak mensyukurinya dengan taat kepada-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Akibatnya, Allah menghancurkan penduduk negeri itu dengan mendatangkan bencana yang mengepung mereka dari setiap sudut.
Ketenteraman hidup dan kemakmuran mereka berubah menjadi bencana kelaparan dan rasa takut yang mencekam.
Semua itu akibat larutnya diri mereka dalam kedurhakaan dan kemaksiatan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan) kata perumpamaan ini dijelaskan oleh badalnya, yaitu (dengan sebuah negeri) yaitu Mekah, yang dimaksud adalah penduduknya (dahulunya aman) dari serbuan musuh dan tidak pernah ada kerusuhan (lagi tenteram) tidak perlu pindah karena alasan sempit atau takut (rezekinya datang kepadanya melimpah-ruah) dengan luas (dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah) disebabkan mereka mendustakan Nabi ﷺ (karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan) sehingga mereka mengalami paceklik selama tujuh tahun (dan ketakutan) terhadap pasukan-pasukan tentara Nabi ﷺ (disebabkan apa yang selalu mereka perbuat).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah membuat perumpamaan dengan negeri Makkah yang dahulunya aman dari kezhaliman, dan tenteram dari kesempitan hidup.
Rizkinya datang kepadanya dengan mudah dari segala arah, lalu penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada mereka, mempersekutukan yang lain dengan-Nya, dan tidak bersyukur kepada-Nya.
Karena itu, Allah mengadzab mereka dengan kelaparan, dan takut terhadap pasukan gerilya dan tentara Rasulullah yang selalu menggentarkan mereka.
Hal itu disebabkan kekafiran mereka dan perbuatan mereka yang batil.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Apa yang disebutkan oleh kedua ayat di atas merupakan suatu perumpamaan yang menggambarkan keadaan penduduk Mekah.
Karena sesungguhnya Mekah adalah kota yang aman, tenteram, dan tenang, sedangkan orang-orang yang tinggal di sekitarnya tinggal dalam keadaan tidak aman.
Barang siapa yang memasuki kota Mekah, amanlah dia dan tidak takut lagi, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan mereka berkata, "Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (Tanah Suci) yang aman.
yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagi kalian) dari Kami?
(Al Qashash:57)

Hal yang sama disebutkan pula dalam ayat berikut ini melalui firman-Nya:

...rezekinya datang kepadanya melimpah ruah.

Yakni enak dan mudah.

...dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah.

Artinya, mereka mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada padanya, dan yang paling besar ialah diutus-NyaNabi Muhammad ﷺ kepada mereka.

Di dalam ayat lain disebutkan:

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?
Yaitu neraka Jahanam, mereka masuk ke dalamnya, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.
(Ibrahim:28-29)

Karena itulah maka Allah mengganti kedua keadaan yang mereka peroleh itu dengan dua keadaan yang kebalikannya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

...karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan.

Yakni merasakan dan menimpakan secara menyeluruh kepada mereka kelaparan, padahal sebelumnya didatangkan kepada mereka segala macam buah-buahan, dan rezekinya datang kepadanya dengan melimpah ruah dari segenap tempat.

Demikian itu karena mereka durhaka kepada Rasulullah ﷺ dan selalu menentangnya.
Maka Rasulullah ﷺ berdoa memohon kepada Allah semoga Dia menimpakan musim paceklik kepada mereka, seperti musim paceklik yang dialami oleh Nabi Yusuf.
Maka mereka tertimpa paceklik yang menghabiskan segala sesuatu milik mefeka, sehingga mereka terpaksa memakan bulu unta yang dicampur dengan darahnya bilamana mereka menyembelihnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan ketakutan.

Demikian itu karena mereka mengganti keamanan mereka dengan rasa takut kepada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya setelah beliau dan para sahabatnya hijrah ke Madinah.
Yakni orang-orang kafir Mekah selalu dicekam oleh rasa takut terhadap, pembalasan Nabi ﷺ dan pasukan kaum muslim.
Dan mereka membuat semua yang merekamiliki menjadi hancur dan rendah, sehingga Allah memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya atas kota Mekah.

Demikian itu terjadi disebabkan perbuatan mereka (orang-orang kafir Mekah) sendiri, kelaliman serta kedustaan mereka terhadap Rasulullah ﷺ yang diutus oleh Allah kepada mereka dari kalangan mereka sendiri.
Padahal kerasulan Nabi Muhammad ﷺ yang diangkat dari kalangan mereka merupakan suatu anugerah yang diberikan kepada mereka, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri.
(Ali Imran:164), hingga akhir ayat.

maka bertakwalah kepada Allah, hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang yang beriman.
Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepada kalian, (dan mengutus) seorang rasul.
(Ath Thalaaq:10-11), hingga akhir ayat.

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala.

Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian Rasul di antara kalian yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian dan menyucikan kalian dan mengajarkan kepada kalian Al-Kitab dan hikmah.
(Al Baqarah:151)

sampai dengan firman-Nya:

dan janganlah kalian mengingkari (nikmat).
(Al Baqarah:152)

Sebagaimana keadaan orang-orang kafir terbalik, dari aman menjadi takut, dan dari hidup makmur menjadi kelaparan, maka Allah mengganti keadaan orang-orang mukmin sesudah mereka hidup dalam ketakutan, kini mereka hidup aman.
Allah memberi mereka rezeki yang berlimpah sesudah mereka hidup miskin.
Allah juga menjadikan mereka para raja, para penguasa, para pemimpin, para panglima, dan para imam.

Apa yang kami katakan, bahwa makna ayat ini adalah perumpamaan yang menggambarkan tentang penduduk Mekah, menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas.
Pendapat yang sama dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.
Malik meriwayatkannya dari Az-Zuhri.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abdur Rahim Al-Barqi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Nafi' ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Syuraih, bahwa Abdul Karim ibnul Haris Al-Hadrami pernah bercerita kepadanya bahwa ia pernah mendengar Masyrah ibnu Ha'an mengatakan, "Aku pernah mendengar Sulaim ibnu Namir mengatakan bahwa kami pulang dari melakukan ibadah haji bersama Siti Hafsah, istri Nabi ﷺ, sedangkan Khalifah Usman dalam keadaan terkepung di Madinah." Siti Hafsah selalu menanyakan tentang apa yang dilakukan oleh Usman r.a.
hingga ia bersua dengan dua orang pengendara (musafir yang berlawanan arah dengannya).
Maka ia mengutus kurirnya untuk menanyakan perihal Usman kepada kedua musafir tersebut Kedua orang pengendara itu menjawab bahwa khalifah Usman telah gugur.
Siti Hafsah berkata, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya yang dimaksud dengan kampung itu adalah Madinah." Yakni kampung yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)-nya mengingkari nikmat-nikmat Allah.

Ibnu Syuraih mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ubaidillah ibnul Mugirah, dari seseorang yang menceritakan kepadanya bahwa orang tersebut mengatakan, "Yang dimaksud dengan kampung dalam ayat ini ialah Madinah."

Kata Pilihan Dalam Surah An Nahl (16) Ayat 112

JUU'
جُوع

Arti lafaz juu' ialah lapar lawan bagi kenyang.

Lafaz juu' ini diulang empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah
-Al­ Baqarah (2), ayat 155;
-An Nahl (16), ayat 112;
-Al Ghaasyiyah (88), ayat 7;
-Al Quraisy (106), ayat 4.

Dalam surah Al Baqarah (2), ayat 155 di­ sebutkan beberapa ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepada manusia yaitu sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Ujian dan cobaan ini adalah untuk menguji manusia yang sabar diantara mereka.

Dalam surah An Nahl (16), ayat 112 di­ sebutkan kelaparan juga kadang-kadang men­jadi azab yaitu bagi orang yang durhaka pada ajaran yang dibawa oleh nabi seperti yang dialami oleh Makkah, negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezeki yang datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh sebab itu, Allah membiarkan mereka merasai kelaparan dan ketakutan.

Dalam surah Al Quraisy (106), ayat 4 di­tegaskan, Allah yang menghilangkan rasa lapar dan memberi makan kepada manusia. Oleh karena itu, hendaklah manusia menyembah-Nya. Dalam surah Al Ghaasyiah (88), ayat 7 diterangkan, makanan penghuni neraka ada­lah pohon-pohon berduri yang tidak dapat menggemukkan badan dan tidak pula menghilangkan lapar.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:162

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah",
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni'matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur'anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur'an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra' ayat 82).

Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya ni'mat-ni'mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni'mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti'aadzah (a'Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da'wah dalam Islam.


Gambar Kutipan Surah An Nahl Ayat 112 *beta

Surah An Nahl Ayat 112



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nahl

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.6
Rating Pembaca: 4.6 (28 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku