An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 109 [QS. 16:109]

لَاجَرَمَ اَنَّہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ ہُمُ الۡخٰسِرُوۡنَ
Laa jarama annahum fii-aakhirati humul khaasiruun(a);

Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.
―QS. 16:109
Topik ▪ Ayat yang berhubungan dengan Sa’ad bin Abi Waqqas
16:109, 16 109, 16-109, An Nahl 109, AnNahl 109, An-Nahl 109

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 109

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 109. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa benar dan sungguh benarlah mereka yang murtad itu orang yang merugi di akhirat karena mereka telah menodai jiwa mereka sendiri dan mereka telah membuang umur mereka dengan sia-sia dalam jurang api neraka.
Amatlah jelas bahwa masing-masing dari kelima ancaman hukuman di atas kutukan Ilahi, azab akhirat, kehilangan hidayah Allah, sikap lalai /pasif, jiwa dan indera yang tertutup, adalah merupakan penghambat mencapai kebaikan dan kebahagiaan.

Berkata Ar Razi: “Sudah sama dimaklumi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan manusia ke dunia ini supaya berlaku sebagai pendatang yang membeli kebahagiaan akhirat dengan ketaatan kepada Nya.
Tetapi apabila terjadi kelima penghambatnya ini kerugiannya akan besar.
Karena demikian Allah berfirman:

Dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi.
(Q.S An Naml: 5)

Mereka kehilangan dunia yang mereka kejar dengan mencurahkan tenaga mereka, beserta menghabiskan umur mereka.
Sedang di akhirat mereka tidak dapat apa-apa kecuali duka nestapa, mereka tidak menyadari bahwa modal untuk hidup di dunia adalah umur.
Jika modal itu tidak dipergunakan untuk keperluan yang utama tentulah modal itu akan habis dengan percuma.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tidak diragukan lagi bahwa mereka itulah orang-orang yang tidak akan memperoleh keberuntungan yang baik di akhirat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tidak diragukan lagi) pastilah (bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi) karena tempat kembali mereka adalah neraka dan mereka kekal di dalamnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sudah pasti bahwa mereka di akhirat adalah orang-orang yang merugi lagi binasa, yaitu orang-orang yang telah memalingkan kehidupan mereka kepada perkara yang berisikan adzab dan kebinasaan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.
(An Nahl:109)

Yakni sudah pasti dan tidak mengherankan, begitulah sifatnya, mereka adalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya kelak di hari kiamat.

Adapun mengenai makna firman-Nya:

…kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).

Hal ini merupakan pengecualian, ditujukan kepada orang yang kafir hanya dengan lisannya saja, dan kata-katanya menuruti orang-orang musyrik, sebab ia dipaksa dan dalam keadaan tekanan, pukulan, dan penindasan, sedangkan hatinya menolak apa yang diucapkannya, serta dalam keadaan tetap tenang dalam beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang dialami oleh Ammar ibnu Yasir di saat ia disiksa oleh orang-orang musyrik sehingga ia kafir kepada Nabi Muhammad ﷺ Ia mau menuruti kemauan mereka dalam hal tersebut karena terpaksa.
Setelah itu Ammar datang menghadap kepada Nabi ﷺ seraya meminta maaf, maka Allah menurunkan ayat ini.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi, Qatadah, dan Abu Malik.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Abdul Karim Al-Jazari, dari Abu Ubaidah Muhammad ibnu Ammar ibnu Yasir yang mengatakan bahwa orang-orang musyrik menangkap Ammar, lalu mereka menyiksanya sehingga Ammar terpaksa mau mendekati sebagian dari apa yang dikehendaki oleh mereka karena dalam tekanan siksaan.
Setelah itu Ammar mengadukan perkaranya kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ bersabda, “Bagaimanakah kamu jumpai hatimu?”
Ammar menjawab, “Tetap tenang dalam keadaan beriman.” Nabi ﷺ bersabda: Jika mereka kembali menyiksamu, maka lakukanlah pula hal itu.

Imam Baihaqi telah meriwayatkan hadis ini secara panjang lebar, lebih panjang daripada hadis ini, antara lain disebutkan di dalamnya:

bahwa Ammar terpaksa mencaci Nabi ﷺ dan menyebut tuhan-tuhan mereka dengan sebutan yang baik.
Sesudah itu Ammar datang menghadap kepada Nabi ﷺ dan mengadukan perihal apa yang telah dilakukannya, “Wahai Rasulullah, saya terus-menerus disiksa hingga saya terpaksa mencacimu dan menyebutkan tuhan-tuhan mereka dengan sebutan yang baik.” Nabi ﷺ bertanya, “Bagaimanakah dengan hatimu?”
Ammar menjawab bahwa hatinya tetap tenang dalam beriman.
Maka Nabi ﷺ bersabda: Jika mereka (orang-orang musyrik) kembali menyiksamu, maka lakukan pula hal itu.
Sehubungan dengan peristiwa ini Allah menurunkan firman-Nya:

…kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman

Karena itulah para ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa untuk melakukan kekufuran diperbolehkan berpura-pura menuruti kemauan si pemaksa demi menjaga keselamatan jiwanya.
Ia diperbolehkan pula tetap menolak, seperti apa yang pernah dilakukan oleh sahabat Bilal r.a., dia menolak keinginan mereka yang memaksanya untuk kafir.
Karena itulah mereka menyiksanya dengan berbagai macam siksaan, sehingga mereka meletakkan batu besar di atas dadanya di hari yang sangat panas.

Mereka memerintahkan Bilal untuk musyrik (mempersekutukan Allah), tetapi Bilal menolak seraya mengucapkan, “Esa, Esa (yakni Allah Maha Esa).”

Bilal r.a.
mengatakan, “Demi Allah, seandainya saya mengetahui ada kalimat yang lebih membuat kalian marah, tentulah aku akan mengatakannya.” Semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada Bilal dan memberinya pahala yang memuaskannya.

Hal yang sama dilakukan oleh Habib ibnu Zaid Al-Ansari.
Ketika Musailamah berkata kepadanya, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?”
Habib menjawab, “Ya.” Musailamah bertanya, “Apakah kamu bersaksi bahwa diriku adalah utusan Allah?”
Habib menjawab, “Saya tidak mendengar.” Lalu Musailamah memotongi anggota tubuh Habib sedikit demi sedikit, sedangkan Habib tetap pada pendirian imannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Ikrimah, bahwa Ali r.a.
pernah membakar hidup-hidup sejumlah orang yang murtad dari agama Islam.
Ketika berita itu sampai kepada Ibnu Abbas, maka Ibnu Abbas mengatakan, “Jika aku, maka sesungguhnya aku tidak akan menghukum mereka dengan membakar mereka, karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah bersabda: ‘Janganlah kalian menyiksa dengan memakai siksaan Allah (yakni memakai api).’ Sedangkan engkau perangi mereka atas dasar sabda Rasulullah ﷺ pula yang mengatakan: ‘Barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia’.” Ketika berita ucapan Ibnu Abbas sampai kepada Ali, maka ia berkata, “Beruntunglah ibu Ibnu Abbas!”

Imam Bukhari telah meriwayatkan hadis ini pula.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ayyub, dari Humaid ibnu Hilal Al-Adawi, dari Abu Burdah yang menceritakan bahwa Mu’az ibnu Jabal datang kepada Abu Musa di negeri Yaman, tiba-tiba ia menjumpai seorang lelaki sedang bersama Abu Musa.
Maka Mu’az bertanya, “Apakah yang telah terjadi dengan orang ini?”
Abu Musa menjawab, “Dia adalah seorang Yahudi dan masuk Islam, kemudian kembali memeluk agama Yahudi, sedangkan kami menginginkan agar dia tetap Islam sejak dia mengatakannya dua bulan yang silam.” Maka sahabat Anas berkata, “Demi Allah, aku tidak akan duduk sebelum kamu penggal lehernya.” Maka lelaki itu dipenggal lehernya.
Setelah itu Mu’az ibnu Jabal mengatakan bahwa Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan bahwa barang siapa yang murtad dari agamanya, maka kalian harus membunuhnya.
Atau Mu’az mengatakan: Barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia oleh kalian.

Kisah ini yang terdapat di dalam kitab Sahihain disebutkan dengan lafaz yang lain.

Tetapi yang lebih afdal dan paling utama hendaknya seorang muslim tetap pada agamanya, sekalipun sikap ini akan membuatnya mati terbunuh.

Al-Hafiz ibnu Asakir dalam biografi Abdullah ibnu Huzafah As-Sahmi —salah seorang sahabat— menceritakan bahwa Ibnu Huzafah ditawan oleh orang-orang (pasukan) Romawi, lalu mereka menghadap­kannya kepada raja mereka.
Raja mereka berkata, “‘Masuk Nasranilah kamu, maka aku akan menjadikanmu sekutuku dalam kerajaanku.
dan aku akan mengawinkanmu dengan anak perempuanku.” Ibnu Huzafah menjawab, “Seandainya engkau berikan kepadaku semua yang engkau miliki dan semua apa yang dimiliki oleh bangsa Arab agar aku murtad dari agama Muhammad ﷺ, barang sekejap saja saya tetap menolak.” Raja Romawi berkata, “Kalau begitu, saya akan membunuhmu.” Ibnu Huzafah menjawab, “Itu terserah kamu.” Maka Raja Romawi memerintahkan agar Ibnu Huzafah disalib, dan memerintahkan para juru pemanah agar memanahinya pada sasaran yang berdekatan dengan kedua tangan dan kedua kakinya, sedangkan si Raja Romawi itu sendiri terus menawarkan, kepadanya untuk menjadi seorang Nasrani.
Tetapi Ibnu Huzafah tetap menolak.
Kemudian Raja Romawi memerintahkan agar Ibnu Huzafah diturunkan dari penyalibannya, dan ia memerintahkan agar disediakan sebuah ketel besar—menurut riwayat lain panci tembaga yang besar— lalu dipanaskan.
Dan didatangkanlah seorang tawanan dari pasukan kaum muslim, kemudian dilemparkan ke dalam panci panas itu, sedangkan Ibnu Huzafah melihat kejadian itu.
Tiba-tiba orang yang dimasukkan ke dalamnya itu tulang-tulangnya kelihatan dalam waktu tidak lama.
Raja Romawi menawarkan kepada Ibnu Huzafah untuk masuk Nasrani, tetapi Ibnu Huzafah tetap menolak, maka Raja Romawi memerintahkan agar Ibnu Huzafah dicampakkan ke dalam panci tersebut.
Lalu tubuhnya diangkat memakai pelontar untuk dimasukkan ke dalam panci yang mendidih itu.
Maka menangislah Ibnu Huzafah, hal ini membuat Raja Romawi ingin tahu penyebabnya, lalu dia memanggilnya (memerintahkan agar dia diturunkan dan menghadap kepadanya).
Maka Ibnu Huzafah berkata, “Sesungguhnya saya menangis tiada lain karena jiwaku hanya satu yang akan dilemparkan ke dalam panci panas ini demi membela agama Allah.
Padahal aku menginginkan bila setiap helai rambut dari tubuhku memiliki jiwa yang disiksa dengan siksaan ini demi membela agama Allah.”

Menurut riwayat yang lainnya, Raja Romawi memenjarakannya dan tidak memberinya makan dan minum selama beberapa hari.
Kemudian dikirimkan kepadanya khamr dan daging babi, tetapi Ibnu Huzafah jangankan menjamah, mendekatinya pun tidak.
Lalu Raja Romawi memanggilnya dan berkata, “Apakah gerangan yang menghalang-halangi dirimu untuk makan?”
Ibnu Huzafah menjawab, “Ingatlah, sesungguhnya makanan tersebut sebenarnya boleh kumakan (karena keadaan darurat), tetapi aku tidak ingin menjadi penyebab kamu menertawakan diriku.” Maka Raja Romawi mencium kepalanya dan berkata kepadanya, “Aku akan melepaskanmu menjadi bebas.” Ibnu Huzafah berkata, “Apa kamu bebaskan pula bersamaku semua tawanan kaum muslim?”
Raja Romawi menjawab, “Ya.” Lalu Raja Romawi mencium kepala Ibnu Huzafah dan membebaskannya bersama-sama dengan semua tawanan kaum muslim yang ada padanya.
Ketika Ibnu Huzafah kembali, maka Khalifah Umar ibnul Khattab r.a.
berkata kepadanya, “Sudah sepantasnya bagi setiap muslim mencium kepala Abdullah ibnu Huzafah.
dan sayalah orang yang memulainya.” Umar r.a.
berdiri, lalu mencium kepala Ibnu Huzafah r.a.


Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

An Nahl (16) ayat 109 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
An Nahl (16) ayat 109 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
An Nahl (16) ayat 109 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 128 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.9
Ratingmu: 4.3 (15 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/16-109









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta