QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 1 [QS. 16:1]

اَتٰۤی اَمۡرُ اللّٰہِ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُوۡہُ ؕ سُبۡحٰنَہٗ وَ تَعٰلٰی عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ
Ata amrullahi falaa tasta’jiluuhu subhaanahu wata’aala ‘ammaa yusyrikuun(a);

Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya.
Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.
―QS. 16:1
Topik ▪ Perbedaan derajat di surga
16:1, 16 1, 16-1, An Nahl 1, AnNahl 1, An-Nahl 1

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 1

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa ketetapan Allah pasti datang.
Dimaksud dengan ketetapan Allah di dalam ayat ini ialah hari kiamat yang telah diancamkan kepada orang-orang musyrikin.
Orang-orang musyrik secara berolok-olok meminta kepada Nabi agar siksaan hari kiamat itu segera di datangkan.
Itulah sebabnya maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mengatakan bahwa siksaan Allah yang akan diancamkan kepada mereka itu pasti terjadi.

Maka dari itu Allah subhanahu wa ta’ala melarang agar mereka tidak minta siksaan itu disegerakan datangnya, karena munculnya siksaan hari kiamat itu tergantung kepada siksaan Allah yang berlaku pada segala sesuatu.
Siksaan hari kiamat itu akan datang pada waktu yang telan ditentukan dan diputuskan oleh Nya.

Di dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan datangnya hari kiamat dengan menggunakan kata kerja bentuk lampau pada hal siksaan itu belum terjadi.
Hal ini memberikan pengertian bahwa siksaan itu betul-betul akan terjadi.
Oleh sebab itu maka Allah subhanahu wa ta’ala melarang agar supaya orang-orang musyrik tidak meminta siksaan hari kiamat itu disegerakan kedatangannya, karena baik diminta ataupun tidak siksaan itu tetap akan terjadi sesuai dengan kehendak Allah dan keputusan-Nya.
Ayat ini mengandung ancaman bagi orang-orang kafir dan sekaligus mengandung pemberitahuan kepada mereka akan datangnya ancaman itu bahwa siksaan yang akan ditimpakan kepada mereka dan kehancuran mereka telah dekat dan pasti datang.

Kemudian dari pada itu Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala Maha Suci dari apa yang mereka persekutukan, Dia tidak memerlukan serikat dan tidak memerlukan pembantu untuk melaksanakan siksaan yang akan ditimpakan kepada mereka itu.
Bantahan ini sebagai jawaban terhadap pernyataan mereka, baik siksaan itu di dunia ataupun di akhirat mereka akan meminta bantuan (syafaat) kepada patung-patung yang mereka sembah.

Patung itu adalah benda benda mati yang tidak ada artinya.
Patung patung itu tidak pantas dipersekutukan kepada Allah, karena patung itu adalah makhluk-makhluk yang diciptakan menurut kehendak-Nya, maka tidak mungkin apabila mereka itu menjadikan barang yang diciptakan sebagai sekutu dari yang menciptakan.

Untuk lebih jelas dapatlah diikuti sebab turunnya ayat ini.
Diriwayatkan bahwa setelah firman Allah Taala turun: telah dekat (datangnya) saat itu dan telah berbelah bulan 192).
Orang-orang kafir setelah kembali kepada setan setan, mereka berkata: “Sesungguhnya orang ini mengira bahwa hari kiamat telah dekat, maka hentikanlah sebagian perbuatan yang kamu lakukan sehingga kami melihat apa yang terjadi”.
Kemudian setelah hari kiamat itu tidak kunjung datang mereka pun berkata: “Kami sedikitpun tidak melihat apa yang kamu ancamkan kepada kami.
Kemudian turunlah firman Allah: Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari pada Nya).

Kemudian merekapun berkata: “Berhati hatilah kamu sekalian dan tunggulah kemudian setelah berlangsung beberapa hari, merekapun berkata : “Hai Muhammad, kami tidak melihat sedikitpun dari apa yang kamu ancamkan kepada kami”.
Kemudian turunlah firman Allah : Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu minta disegerakan (datangnya).
Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.
194).
Kemudian Rasulullah ﷺ, bangkit dan manusiapun mengangkat kepalanya.
Kemudian turunlah firman Allah tersebut.

Dari sebab nuzul itu dapatlah dipahami bahwa orang orang Quraisy sering sekali mengejek Rasulullah ﷺ yang memberitakan tentang terjadinya hari kiamat.
Merekapun secara berolok-olok meminta kepada Nabi Muhammad agar hari kiamat itu segera dipercepat datangnya Hal ini menunjukkan bahwa mereka betul-betul tidak mempercayai akan terjadinya hari kiamat itu, dan tidak percaya pula adanya hari pembalasan.

Sikap mereka nampak pada ketika terjadinya perang Badar.
Pada saat itu mereka minta kepada Nabi Muhammad agar siksaan Allah dipercepat datangnya.
Itulah sebabnya Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pengawasan tentang terjadinya kiamat itu dan kepastian datangnya sebagai pernyataan bahwa pendirian mereka itu tidak benar dan janji Allah pasti akan terjadi.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Yakinilah, hai orang-orang musyrik, bahwa ancaman Allah kepada kalian pada hari kiamat tidak diragukan lagi pasti akan tiba saatnya.
Maka janganlah kalian mengolok-olok dengan meminta agar kedatangan itu dipercepat.
Mahasuci Allah dari sekutu yang berhak disembah dan dari segala sesuatu yang kalian sekutukan, yaitu tuhan-tuhan yang tidak memiliki kemampuan apa-apa.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ketika orang-orang musyrik merasa lambat akan datangnya azab yang diancamkan kepada mereka, lalu turunlah firman-Nya:

(Telah pasti datangnya ketetapan Allah) yakni hari kiamat.

Lafal ataa diungkapkan dalam bentuk fi`il madhi untuk menunjukkan kepastian kejadiannya, artinya telah dekat (maka janganlah kalian meminta disegerakan datangnya) artinya janganlah kalian meminta disegerakan sebelum saatnya karena sesungguhnya hari kiamat itu pasti akan terjadi (Maha Suci Allah) kalimat ini mengandung makna memahasucikan Dia (dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan) di samping-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sudah dekat datangnya Kiamat dan ketetapan Allah untuk mengadzab kalian, wahai kaum kafir, maka janganlah kalian meminta disegerakan adzab karena melecehkan ancaman Rasul terhadap kalian.
Mahasuci Allah dari syirik dan sekutu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan tentang dekat masa datangnya hari kiamat, yang hal ini diungkapkan dalam bentuk madi, menunjukkan bahwa hal itu pasti terjadi.
Sama halnya dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).
(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 1)

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.
(Q.S. Al-Qamar [54]: 1)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya.

Yakni telah dekat hal yang dianggap jauh itu, maka janganlah kalian meminta agar disegerakan datangnya.
Damir yang ada pada tastajiluhu dapat diinterpretasikan bahwa ia merujuk kepada Allah.
Dapat pula diinterpretasikan bahwa ia kembali kepada azab (siksa), keduanya saling menguatkan.
Perihalnya sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab.
Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadarinya.
Mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab.
Dan sesungguhnya Jahanam benar-benar meliputi orang-orang kafir.
(Q.S. Al-‘Ankabut [29]: 53-54)

Sehubungan dengan tafsir ayat ini, yaitu firman-Nya: Telah pasti datangnya ketetapan Allah.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 1) Ad-Dahhak mengemukakan suatu pendapat yang aneh.
Ia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan amrullah ialah hal-hal yang difardukan oleh-Nya dan batasan-batasan larangan-Nya.
Akan tetapi, Ibnu Jarir menyanggahnya.
Untuk itu ia mengatakan, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorang yang meminta agar hal-hal yang fardu dan hukum-hukum syariat disegerakan pelaksanaannya sebelum waktu keberadaannya.
Lain halnya dengan azab, mereka meminta agar azab disegerakan sebelum tiba masa turunnya, sebagai ungkapan rasa tidak percaya dan anggapan mustahil akan terjadi.”

Menurut kami, pendapat ini sama dengan yang disebutkan dalam firman-Nya:

Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan, dan orang-orang yang ber­iman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi).
Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang- orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.
(Q.S. Asy Shyuura [42]: 18)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Yahya ibnu Adam, dari Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Muhammad ibnu Abdullah maula Al-Mugirah ibnu Syu’bah, dari Ka’b ibnu Alqamah, dari Abdur Rahman ibnu Hujairah, dari Uqbah ibnu Amir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kelak di dekat hari kiamat akan muncul kepada kalian awan hitam dari ufuk barat seperti tameng.
Awan itu terus meninggi di langit.
Kemudian dari dalamnya terdengar suara yang menyerukan, “Hai manusia!” Maka semua manusia terpusatkan perhatiannya kepada suara itu dan berkata, “Apakah kalian mendengar suara itu?” Maka sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Ya, ” dan sebagian yang lain meragukan.
Kemudian berserulah suara itu untuk kedua kalinya, “Hai manusia!” Maka sebagian dari mereka menanyakan kepada sebagian yang lain, “Apakah kalian mendengarnya?” Maka mereka mengatakan, “Ya.” Kemudian suara itu berseru lagi untuk ketiga kalinya, “Hai manusia, telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kalian meminta agar disegerakan (datang)nya.” Selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan­Nya, sesungguhnya dua orang lelaki benar-benar -menggelarkan pakaian, maka keduanya tidak sempat melipatnya kembali selama-lamanya (karena hari kiamat terjadi).
Dan sesungguhnya seorang lelaki benar-benar sedang membedah saluran airnya, maka ternyata dia tidak sempat mengalirkannya barang sedikit pun untuk selama-lamanya.
Dan sesungguhnya seorang lelaki benar-benar sedang memerah susu untanya, tetapi ia tidak dapat meminumnya untuk selama-lamanya.

Perawi mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan semua orang sibuk dengan keadaan dirinya sendiri dan lupa kepada yang lainnya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menyucikan diri-Nya dari kemusyrikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap-Nya dengan yang lain dan penyembahan mereka terhadap tuhan yang lain di samping Allah, yaitu berupa berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang mereka jadikan sebagai sekutu Allah.
Mahasuci dan Mahatinggi Allah dengan ketinggian yang setinggi-tingginya dari apa yang mereka lakukan, mereka adalah orang-orang yang mendustakan adanya hari kiamat.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka perse­kutukan.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nahl (16) Ayat 1

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun ayat, ataa amrullaah… (telah pasti datangnya ketetapan Allah…) (an-Nahl: 1), gelisahlah hati para shahabat Rasulullah ﷺ maka turunlah kelanjutan ayat tersebut yaitu,… falaa tasta’jiluuh..(..
maka janganlah kamu meminta agar disegerakan [datang]nya…), sehingga merekapun merasa tenteram kembali.

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Imam Ahmad di dalam kitab Zawaa-iduz Zuhd, Ibnu Jarir, serta Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Abu Bakr bin Abi ‘Hafsh.
Bahwa ketika turun ayat, ataa amrullaah..
(telah pasti datangnya ketetapan Allah..) (an-Nahl: 1), para shahabat berdiri.
Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut, ….falaa tasta’jiluuh..
(maka janganlah kamu meminta agar disegerakan [datang]-nya…).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 1 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 1 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 1 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:1
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.9
Ratingmu: 4.7 (29 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/16-1









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim