Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 97


فِیۡہِ اٰیٰتٌۢ بَیِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبۡرٰہِیۡمَ ۬ۚ وَ مَنۡ دَخَلَہٗ کَانَ اٰمِنًا ؕ وَ لِلّٰہِ عَلَی النَّاسِ حِجُّ الۡبَیۡتِ مَنِ اسۡتَطَاعَ اِلَیۡہِ سَبِیۡلًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاِنَّ اللّٰہَ غَنِیٌّ عَنِ الۡعٰلَمِیۡنَ
Fiihi aayaatun bai-yinaatun maqaamu ibraahiima waman dakhalahu kaana aaminan walillahi ‘alannaasi hijjul baiti maniistathaa’a ilaihi sabiilaa waman kafara fa-innallaha ghanii-yun ‘anil ‘aalamiin(a);

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim, barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia, mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
―QS. 3:97
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Ayat yang berhubungan dengan Asad bin Abaid
3:97, 3 97, 3-97, Ali Imran 97, AliImran 97, Al Imran 97
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 97. Oleh Kementrian Agama RI

Suatu bukti lagi bahwa Nabi Ibrahim lah yang mendirikan Kakbah, adanya makam Ibrahim di samping Baitullah, yaitu sebuah batu yang dipergunakan sebagai tempat berdiri oleh Nabi Ibrahim as.
ketika mendirikan Kakbah bersama-sama dengan putranya Ismail as.
Bekas telapak kakinya itu tetap ada dan dapat disaksikan oleh siapa yang ingin melihatnya sampai sekarang.

Dan barang siapa masuk ke tanah Mekah (daerah haram) terjamin keamanan dirinya dari bahaya musuh dan keamanan itu tidak bagi manusia saja, tetapi sampai pula kepada binatang-binatangnya, tidak boleh diganggu dan pohon-pohonnya tidak boleh ditebang.

Setelah Nabi Ibrahim as.
mendirikan Kakbah lalu beliau disuruh oleh Allah menyeru seluruh umat manusia agar mereka berziarah ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji.
Ibadah haji ini dianjurkan oleh Nabi Ibrahim as, dan tetap dilaksanakan umat Islam sampai sekarang sebagai rukun Islam yang kelima.
Setiap orang Islam yang mampu diwajibkan.
menunaikan ibadah haji sekurang-kurangnya sekali seumur hidup.
Barang siapa yang mengingkari kewajiban ibadah haji ini, maka ia termasuk golongan orang-orang kafir.

Ali Imran (3) ayat 97 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 97 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 97 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di dalamnya terdapat petunjuk yang jelas mengenai kesucian dan keutamaannya.
Di antaranya adalah maqam (tempat berdiri) Ibrahim ketika mengerjakan salat.
Barangsiapa yang memasukinya akan merasa aman dan tidak akan terkena kehinaan.
Mendatangi rumah ini untuk tujuan ibadah haji adalah suatu kewajiban bagi orang yang mampu melaksanakannya.
Sedangkan orang yang enggan, melawan dan menentang perintah Allah, akan merasakan kerugian diri sendiri.
Allah Mahakaya, yang tidak pernah merasa butuh kepada seluruh manusia.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata) di antaranya (makam Ibrahim) yakni batu tempat berpijaknya Ibrahim sewaktu mendirikan Baitullah itu.
Kedua telapak kakinya meninggalkan bekas padanya sampai sekarang dan tetap sepanjang zaman walaupun pemerintahan yang berkuasa sudah silih berganti.
Di antaranya pula dilipatgandakannya pahala kebaikan bagi yang salat di dalamnya dan burung tidak dapat terbang di atas Kakbah (dan barang siapa memasukinya menjadi amanlah dia) artinya bebas dari ancaman pembunuhan, keaniayaan dan lain-lain.
(Mengerjakan haji di Baitullah itu menjadi kewajiban manusia terhadap Allah) Ada yang membaca hajja dengan makna menyengaja.
Lalu sebagai badal dari ‘manusia’ ialah (yakni orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya) yang oleh Nabi ﷺ ditafsirkan dengan adanya perbekalan dan kendaraan, menurut riwayat Hakim dan lain-lain.
(Barang siapa yang kafir) terhadap Allah atau terhadap kewajiban haji (maka sesungguhnya Allah Maha Kaya terhadap seluruh alam) artinya tidak memerlukan manusia, jin dan malaikat serta amal ibadah mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Pada rumah tersebut terdapat petunjuk-petunjuk yang nyata bahwa ia didirikan oleh Ibrahim dan bahwa Allah mengagungkan dan memuliakannya, di antaranya adalah maqam Ibrahim, yaitu sebuah batu tempat berdirinya Ibrahim saat dia dan anaknya Ismail membangun Ka bah.
Siapa yang masuk ke dalam rumah ini maka dia akan merasa aman sehingga tidak seorang pun yang bisa menimpakan keburukan kepadanya.
Allah telah mewajibkan kepada manusia yang mampu di mana pun mereka berada agar mendatangi rumah ini untuk melaksanakan manasik haji.
Barangsiapa yang mengingkari kewajiban ibadah haji, maka dia telah kafir.
Allah tidak memerlukan hajinya dan amal perbuatannya, dan Allah juga tidak membutuhkan makhluk-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata.

Yaitu tanda-tanda yang jelas menunjukkan bahwa bangunan tersebut dibangun oleh Nabi Ibrahim, dan Allah memuliakan serta menghormatinya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…maqam Ibrahim.

Yaitu sarana yang dipakai oleh Nabi Ibrahim ketika bangunan Ka’bah mulai meninggi untuk meninggikan fondasi dan temboknya.
Sarana ini dipakai untuk tangga tempat berdiri, sedangkan anaknya (yaitu Nabi Ismail) menyuplai bebatuan.

Pada mulanya maqam Ibrahim ini menempel pada dinding Ka’bah, kemudian pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibnul Khattab r.a.
maqam tersebut dipindahkan ke sebelah timur Ka’bah hingga memudahkan bagi orang-orang yang bertawaf dan tidak berdesak-desakan dengan orang-orang yang salat di dekatnya sesudah melakukan tawaf.
Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar melakukan salat di dekat maqam Ibrahim, yaitu melalui firman-Nya:

Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat.
(Al Baqarah:125)

Dalam pembahasan terdahulu telah kami kemukakan hadis-hadis mengenai hal ini, maka tidak perlu diulangi lagi dalam bab ini.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim.
Yakni antara lain ialah maqam Ibrahim dan tanda-tanda lainnya.

Menurut Mujahid, bekas kedua telapak kaki Nabi Ibrahim di maqamnya mempakan tanda yang nyata.
Hal yang sama dikatakan pula dalam riwayat lain dari Umar ibnu Abdul Aziz, Al-Hasan, Qatadah, As-Saddi, Muqatil ibnu Hayyan, dan lain-lainnya.

Abu Talib mengatakan dalam salah satu bait syair dari qasidah Lamiyah yang terkenal, yaitu:

Pijakan kaki Nabi Ibrahim pada batu itu tampak nyata bekas

kedua telapak kakinya yang telanjang tanpa memakai terompah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id dan Amr Al-Audi, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari Ata, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: maqam Ibrahim.Bahwa yang dimaksud dengan maqam Ibrahim ialah tanah suci seluruhnya.
Sedangkan menurut lafaz Amr disebutkan bahwa Al-Hijir seluruhnya adalah maqam Ibrahim.

Telah diriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair bahwa dia pernah mengatakan, “Haji itu maqam Ibrahim.” Demikianlah yang aku lihat di dalam kitab salinannya, barangkali yang dimaksud ialah Al-Hijir seluruhnya adalah maqam Ibrahim.
Hal ini telah diterangkan pula oleh Mujahid.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia.

Yaitu memasuki lingkungan Mekah yang diharamkan (disucikan).
Apabila orang yang dalam ketakutan memasukinya, menjadi amanlah dia dari semua kejahatan.
Hal yang sama terjadi pula di masa Jahiliah, seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dan lain-lain-nya.
Disebutkan bahwa pernah ada seorang lelaki melakukan pembunuhan, lalu ia memakai kain wol pada lehernya dan memasuki Masjidil Haram.
Ketika anak laki-laki si terbunuh menjumpainya, ia tidak menyerangnya sebelum keluar dari lingkungan Masjidil Haram.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya At-Tamimi, dari Ata, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

…barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia.
Bahwa barang siapa yang berlindung di Baitullah, maka Baitullah melindunginya.
Tetapi Baitullah tidak memberikan naungan, tidak juga makanan dan minuman, dan bila ia keluar darinya, maka ia pasti dihukum karena dosanya.
Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedangkan manusia sekitarnya rampok-merampok.
(Al ‘Ankabut:67), hingga akhir ayat.

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah).
Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.
(Quraisy: 3-4)

Sehingga disebutkan bahwa termasuk hal yang diharamkan di dalam kota Mekah ialah dilarang memburu binatang buruannya dan menghardiknya dari sarangnya, dilarang pula memotong pepohonannya serta mencabut rerumputannya.
Seperti yang dinyatakan di dalam banyak hadis dan asar mengenainya dari sejumlah sahabat secara marfu’ dan mauquf.

Di dalam kitab Sahihain menurut lafaz Imam Muslim dari Ibnu Abbas r.a.
disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda pada hari kemenangan atas kota Mekah:

Tidak ada hijrah lagi, tetapi yang ada adalah jihad dan niat, dan apabila kalian diseru untuk berjihad, maka berangkatlah.

Pada hari kemenangan atas kota Mekah Nabi ﷺ bersabda pula:

Sesungguhnya negeri (kota) ini diharamkan oleh Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, maka ia haram karena diharamkan oleh Allah sampai hari kiamat.
Dan sesungguhnya tidak dihalalkan melakukan peperangan di dalamnya sebelumku, dan tidaklah dihalalkan bagiku kecuali hanya sesaat dari siang hari.
Maka ia kembali menjadi haram karena diharamkan oleh Allah hingga hari kiamat, pepohonannya tidak boleh ditebang, binatang buruannya tidak boleh diburu, barang temuannya tidak boleh dipungut kecuali bagi orang yang hendak mempermaklumatkannya, dan rerumputannya tidak boleh dicabut.
Lalu Al Abbas berkata mengajukan usulnya, “Wahai Rasulullah, kecuali izkhir, karena sesungguhnya izkhir digunakan oleh mereka untuk atap rumah mereka.” Maka Nabi ﷺ bersabda: Terkecuali izkhir (sejenis rumput ilalang).

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan pula hal yang semisal atau yang sama melalui sahabat Abu Hurairah r.a.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan pula dari Abu Syuraih Al-Adawi —menurut lafaz yang ada pada Imam Muslim—

bahwa ia pernah berkata kepada Amr ibnu Sa’id yang sedang melantik delegasi-delegasinya yang akan berangkat ke Mekah, “Izinkanlah kepadaku, wahai Amirui Muminin.
Aku akan menceritakan kepadamu sebuah hadis yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ pada keesokan harinya setelah kemenangan atas kota Mekah, aku mendengarnya dengan kedua telingaku ini dan kuhafalkan dalam kalbuku serta aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri ketika beliau ﷺ mengucapkannya.
Sesungguhnya pada mulanya beliau memanjatkan puja dan puji kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian bersabda: Sesungguhnya Mekah ini diharamkan oleh Allah dan bukan diharamkan oleh manusia.
Karena itu, tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian mengalirkan darah di dalamnya, atau menebang suatu pohon padanya.
Apabila ada seseorang menghalalkannya dengan alasan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melakukan peperangan di dalamnya, maka katakanlah oleh kalian kepadanya, ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan izin kepada Nabi-Nya, tetapi Dia tidak mengizinkan bagi kalian, dan sesungguhnya Allah hanya memberikan izin kepadaku melakukan peperangan di dalamnya sesaat dari siang hari.
Dan sekarang keharaman kota Mekah telah kembali seperti semula, sama dengan keharaman yang sebelumnya.
Maka hendaklah orang yang hadir menyampaikan berita ini kepada yang gaib (tidak hadir)’.” Ketika ditanyakan kepada Abu Syuraih, “Apa yang dikatakan oleh Amr kepadamu?”
Abu Syuraih menjawab bahwa Amr berkata, “Aku lebih mengetahui hal tersebut daripada kamu, hai Abu Syuraih.
Sesungguhnya Kota Suci Mekah ini tidak memberikan perlindungan kepada orang yang maksiat, tidak bagi orang yang lari setelah membunuh, tidak pula orang yang lari karena menimbulkan kerusakan.”

Telah diriwayatkan dari Jabir r.a.
bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak dihalalkan bagi seorang pun membawa senjata di Mekah.

Hadis riwayat Imam Muslim.

Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Addi ibnul Hamra Az-Zuhri, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda kepada kota kelahirannya seraya berdiri di Harurah, pasar Mekah: Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi Allah yang paling dicintai oleh-Nya.
Seandainya aku tidak dikeluarkan darimu, niscaya aku tidak akan keluar.

Hadis riwayat Imam Ahmad —lafaz ini menurutnya—, Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan sahih, demikian pula telah disahihkan yang semisalnya dari hadis Ibnu Abbas.

Imam Ahmad telah meriwayatkan pula hadis yang sama dari Abu Hurairah.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Adam ibnu binti Azar As-Saman, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Asim, dari Zuraiq ibnu Muslim Al-A’ma maula Bani Makhzum, telah menceritakan kepadaku Ziyad ibnu Abu Iyasy, dari Yahya ibnu Ja’dah ibnu Hubairah sehubungan dengan Firman-Nya: Barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia.
(Ali Imran:97) Yang dimaksud ialah aman dari api neraka.

Semakna dengan pendapat ini hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Ali ibnu Ahmad ibnu Abdan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sulaiman ibnul Wasiti, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnul Muammal, dari Ibnu Muhaisin, dari Atha,dari Abdullah ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa memasuki Baitullah, berarti dia masuk ke dalam kebaikan dan keluar dari keburukan, serta ia keluar dalam keadaan diampuni baginya.

Kemudian Imam Baihaqi mengatakan bahwa hadis ini hanya diriwayatkan oleh Abdullah ibnul Muammal sendiri, sedangkan dia orangnya tidak kuat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah.
yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

Ayat ini mewajibkan ibadah haji, menurut pendapat jumhur ulama.
Sedangkan menurut yang lainnya, ayat yang mewajibkan ibadah haji ialah firman-Nya:

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.
(Al Baqarah:196)

Akan tetapi, pendapat yang pertama lebih kuat.

Banyak hadis yang beraneka ragam menyatakan bahwa ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam dan merupakan pilar serta fondasinya.
Kaum muslim telah sepakat akan hal tersebut dengan kesepakatan yang tidak dapat diganggu gugat lagi.
Sesungguhnya melakukan ibadah haji itu hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup berdasarkan keterangan dari nas dan ijma’.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi’ ibnu Muslim Al-Qurasyi, dari Muhammad ibnu Ziyad, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkhotbah kepada kami (para sahabat) yang isinya mengatakan: “Hai manusia, telah difardukan atas kalian melakukan ibadah haji.
Karena itu, berhajilah kalian.” Ketika ada seorang lelaki bertanya, “Apakah untuk setiap tahun, wahai Rasulullah?”
Nabi ﷺ diam hingga lelaki itu mengulangi pertanyaannya tiga kali.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya aku katakan, ‘Ya,’ niscaya diwajibkan (setiap tahunnya), tetapi niscaya kalian tidak akan mampu.” Kemudian Nabi ﷺ bersabda, “Terimalah dariku apa yang aku tinggaikan buat kalian, karena sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian (umat-umat terdahulu) karena mereka banyak bertanya dan menentang nabi-nabi mereka.
Apabila aku perintahkan kepada kalian sesuatu hal, maka kerjakanlah sebagian darinya semampu kalian, dan apabila aku larang kalian terhadap sesuatu, maka tinggalkanlah ia oleh kalian.”

Sufyan ibnu Husain, Sulaiman ibnu Kasir, Abdul Jalil ibnu Humaid, dan Muhammad ibnu Abu Hafsah meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Abu Sinan Ad-Duali (yang namanya adalah Yazid ibnu Umayyah), dari Ibnu Abbas r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ berkhotbah kepada kami yang isinya mengatakan:

“Hai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian ibadah haji.” Maka berdirilah Al-Aqra’ ibnu Habis, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah untuk setiap tahun?”
Nabi ﷺ bersabda, “Seandainya aku mengatakannya, niscaya akan diwajibkan, dan seandainya diwajibkan, niscaya kalian tidak dapat mengerjakannya dan kalian tidak akan dapat melakukannya.
Ibadah haji adalah sekali, maka barang siapa yang lebih dari sekali, maka hal itu haji sunat.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Wardan, dari Abdul A’la ibnu Abdul A’la, dari ayahnya, dari Al-Bukhturi, dari Ali r.a.
yang mengatakan bahwa ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
(Ali Imran:97) Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah untuk setiap tahun?”
Rasulullah ﷺ diam.
Mereka bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apakah untuk setiap tahun?”
Nabi ﷺ menjawab: “Tidak, seandainya aku katakan, ‘Ya,’ niscaya diwajibkan (setiap tahunnya).” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan (kepada Nabi kalian) hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian niscaya menyusahkan kalian.
(Al Maidah:101 )

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, Ibnu Majah, dan Imam Hakim melalui hadis Mansur ibnu Wardan.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.
Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Imam Turmuzi itu masih perlu dipertimbangkan, mengingat Imam Bukhari mengatakan bahwa Abul Bukhturi belum pernah mendengar dari sahabat Ali r.a.

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Ubaidah, dari ayahnya, dari Al-A’masy ibnu Abu Sufyan, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan: Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ibadah haji itu setiap tahun?”
Nabi ﷺ menjawab, “Seandainya aku kalakan, ‘Ya,’ niscaya diwajibkan.
Dan seandainya diwajibkan, niscaya kalian tidak dapat melakukannya, dan seandainya kalian tidak dapat melakukannya, niscaya kalian akan tersiksa.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui Ibnu Juraij, dari Ata, dari Jabir, dari Suraqah ibnu Malik yang mengatakan:

“Wahai Rasulullah, apakah engkau mengajak kami ber-tamattu’ hanya untuk tahun kita sekarang ini, ataukah untuk selama-lamanya?”
Nabi ﷺ menjawab, “Tidak, bahkan untuk selamanya.” Menurut riwayat yang lain disebutkan, “Bahkan untuk selama-lamanya.”

Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan kitab Sunan Abu Daud dinyatakan melalui hadis Waqid ibnu Abu Waqid Al-Laisi, dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ dalam hajinya itu berkata kepada istri-istrinya,

“Kemudian mereka (kaum wanita) menetapi tikar hamparannya,”

maksudnya tetaplah kalian pada tikar kalian dan janganlah kalian keluar dari rumah.

Adapun mengenai istita’ah (yakni berkemampuan), hal ini terdiri atas berbagai macam, adakalanya seseorang mempunyai kemampuan pada dirinya, dan adakalanya pada yang lainnya, seperti yang ditetapkan di dalam kitab yang membahas masalah hukum.

Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Muhammad ibnu Abbad ibnu Ja’far menceritakan sebuah hadis dari Ibnu Umar r.a.: Seorang lelaki menghadap kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhaji sesungguhnya?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Orang yang rambutnya awut-awutan dan kusut pakaiannya (karena lama dalam perjalanannya).” Lalu ada lelaki lain menghadap dan bertanya, “Wahai Rasulullah, haji apakah yang lebih utama?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Mengeraskan bacaan talbiyah dan berkelompok-kelompok.” Lalu datang lagi lelaki yang lainnya dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan as-sabil itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Bekal dan kendaraan.”

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui hadis Ibrahim ibnu Yazid (yaitu Al-Jauzi).
Imam Turmuzi mengatakan, tiada yang me-rafa’-kan hadis ini kecuali hanya melalui hadisnya (Ibrahim ibnu Yazid).
Akan tetapi, sebagian dari ahlul ‘ilmi meragukan perihal kekuatan hafalannya.

Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Imam Turmuzi dalam bab ini.
Di dalam Kitabul Haj ia mengatakan bahwa hadis ini hasan, tidak diragukan bahwa sanad ini para perawinya semua terdiri atas orang-orang yang Siqah selain Al-Jauzi.
Mereka membicarakan perihalnya demi hadis ini, tetapi ternyata jejaknya itu diikuti oleh orang lain.

Untuk itu Ibnu Abu Hatim mengatakan:

telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abdullah Al-Amiri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair Al-Laisi, dari Muhammad ibnu Abbad ibnu Ja’far yang menceritakan bahwa ia duduk di majelis Abdullah Ibnu Umar, lalu Ibnu Umar menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya kepadanya, “Apakah arti sabil itu?”
Nabi ﷺ menjawab: Bekal dan kendaraan.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui riwayat Muhammad ibnu Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair dengan lafaz yang sama.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Anas, Al-Hasan, Mujahid, Ata, Sa’id ibnu Jubair, Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan Qatadah hal yang semisal dengan hadis di atas.

Hadis ini diriwayatkan melalui berbagai jalur lain dari hadis Anas, Abdullah ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan Siti Aisyah yang semuanya berpredikat marfu’.
Akan tetapi, di dalam sanadnya terdapat perbedaan pendapat, seperti yang ditetapkan di dalam Kitabul Ahkam.
Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih mempunyai perhatian khusus terhadap hadis ini dengan mengumpulkan semua jalur periwayatannya.

Imam Hakim meriwayatkan melalui hadis Qatadah, dari Hammad ibnu Salamah, dari Qatadah, dari Anas r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
(Ali Imran:97)

Lalu ditanyakan, “Apakah makna sabil itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab:

Bekal dan kendaraan.

Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa predikat hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Yunus, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya:

…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Lalu mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan sabil itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Bekal dan kendaraan.

Waki’ meriwayatkan hadis ini di dalam kitab tafsirnya melalui Sufyan dan Yunus dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Ismail (yaitu Abu Israil Al-Mala-i), dari Fudail (yakni Ibnu Amr), dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Bersegeralah kalian mengerjakan haji —yakni haji fardu— karena sesungguhnya seseorang di antara kalian tidak mengetahui aral yang akan menghalang-halanginya (di masa mendatang).

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Amr Al-Faqimi, dari Mahran ibnu Abu Safwan, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang niat hendak melakukan haji, maka kerjakanlah dengan segera.

Waki’ meriwayatkan —begitu pula Ibnu Jarir— dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Ibnu Abbas mengatakan, “Barang siapa yang memiliki harta sejumlah tiga ratus dirham, berarti dia sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”

Telah diriwayatkan dari maulanya (yaitu Ikrimah) bahwa ia pernah mengatakan, “Yang dimaksud dengan sabil ialah sehat.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari semesta alam.

Ibnu Abbas mengatakan —begitu pula Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang— bahwa barang siapa yang ingkar terhadap kefarduan ibadah haji, maka sesungguhnya ia telah kafir, dan Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) darinya.

Sa’id ibnu Mansur meriwayatkan dari Sufyan, dari Ibnu Abu Nujaih, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa ketika firman Allah subhanahu wa ta’ala ini diturunkan, yaitu: Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya.
(Ali Imran:85), Maka orang-orang Yahudi berkata, “Kami adalah orang-orang muslim.” Tetapi Allah membantah pengakuan mereka dan mematahkan alasan mereka, yakni melalui sabda Nabi ﷺ kepada mereka: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kaum muslim berhaji ke Baitullah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
Orang-orang Yahudi menjawab, “Belum pernah diwajibkan atas kami,” dan mereka menolak, tidak mau melakukan haji.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abdullah ibnu Mas’ud, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim dan Syaz ibnu Fayyad, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hilal Abu Hasyim Al-Khurrasani, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al-Hamdani, dari Al-Haris, dari Ali r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang memiliki bekal dan kendaraan, lalu tidak juga melakukan haji ke Baitullah, maka haji tidak dirugikan olehnya bilamana ia mati sebagai seorang Yahudi atau Nasrani.
Demikian itu karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 97

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ketika turun surah Ali ‘Imran ayat 85, berkatalah kaum Yahudi: “Sebenarnya kami ini muslim.” Bersabdalah Nabi ﷺ kepada mereka: “Allah telah mewajibkan atas kaum Muslimin naik haji ke Baitullah.” Mereka berkata: “(ibadah haji) tidak diwajibkan kepada kami.” Mereka menolak menjalankan ibadah haji.
Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imraan: 97) yang menegaskan kewajiban haji bagi seorang Muslim, sedang yang menolak melaksanakannya adalah kafir.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 97 *beta

Surah Ali Imran Ayat 97



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.9
Rating Pembaca: 4.7 (29 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku