Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ali Imran (Keluarga ‘Imran) – surah 3 ayat 79 [QS. 3:79]

مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ
Maa kaana libasyarin an yu’tiyahullahul kitaaba wal hukma wannubuu-wata tsumma yaquula li-nnaasi kuunuu ‘ibaadan lii min duunillahi walakin kuunuu rabbaanii-yiina bimaa kuntum tu’allimuunal kitaaba wabimaa kuntum tadrusuun(a);
Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia,
“Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,”
tetapi (dia berkata),
“Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”
―QS. Ali Imran [3]: 79

It is not for a human (prophet) that Allah should give him the Scripture and authority and prophethood and then he would say to the people,
"Be servants to me rather than Allah,"
but (instead, he would say),
"Be pious scholars of the Lord because of what you have taught of the Scripture and because of what you have studied."
― Chapter 3. Surah Ali Imran [verse 79]

مَا tidak

Not
كَانَ ada/mungkin terjadi

is
لِبَشَرٍ bagi seorang manusia

for a human
أَن bahwa

that
يُؤْتِيَهُ memberikannya

gives him
ٱللَّهُ Allah

Allah
ٱلْكِتَٰبَ Al Kitab

the Book,
وَٱلْحُكْمَ dan hikmah

and the wisdom,
وَٱلنُّبُوَّةَ dan kenabian

and the Prophethood,
ثُمَّ kemudian

then
يَقُولَ ia berkata

he says
لِلنَّاسِ kepada manusia

to the people,
كُونُوا۟ adalah/jadilah kamu

"Be
عِبَادًا penyembah-penyembah

worshippers
لِّى bagiku

of me
مِن dari

from
دُونِ selain

besides
ٱللَّهِ Allah

Allah,
وَلَٰكِن akan tetapi

but (would say)
كُونُوا۟ kamu menjadi

"Be
رَبَّٰنِيِّۦنَ orang-orang rabbani

worshippers of the Lord
بِمَا dengan sebab

because
كُنتُمْ kalian adalah

you have been
تُعَلِّمُونَ (kalian) mengetahui

teaching
ٱلْكِتَٰبَ Al Kitab

the Book
وَبِمَا dan dengan sebab

and because
كُنتُمْ kalian adalah

you have been
تَدْرُسُونَ kamu mempelajari

studying (it)."

Tafsir

Alquran

Surah Ali Imran
3:79

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 79. Oleh Kementrian Agama RI


Tidak mungkin terjadi dan tidak pantas bagi seorang manusia yang diberi kitab oleh Allah dan diberi pelajaran tentang pengetahuan agama, serta diangkat menjadi nabi, kemudian dia mengajak manusia untuk menyembah dirinya sendiri bukan menyembah Allah.
Orang yang diberi keutamaan-keutamaan seperti itu tentunya akan mengajak manusia mempelajari sifat-sifat Allah serta mempelajari hukumhukum agama, dan memberikan contoh yang baik dalam hal menaati Allah dan beribadah kepada-Nya, serta mengajarkan Kitab kepada sekalian manusia.


Nabi sebagai seorang manusia yang telah diberi keutamaan yang telah disebutkan, tentu tidak mungkin dan tidak pantas menyuruh orang lain menyembah dirinya, sebab dia adalah makhluk Allah.
Maka penciptanya yaitu Allah yang harus disembah.

Ditegaskan kepadanya adalah menyuruh manusia agar bertakwa kepada Allah, mengajarkan Al-Kitab dan melaksanakannya, hal itu telah ditegaskan oleh firman Allah:

قُلِ اللّٰهَ اَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهٗ دِيْنِيْ

Katakanlah,
"Hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku."
(az-Zumar [39]: 14)


Barang siapa menyuruh manusia menyembah dirinya, berarti ia mengakui bahwa Allah mempunyai sekutu yaitu dirinya sendiri.

Barang siapa mempersekutukan Allah dengan lain-Nya, berarti ia telah menghilangkan kemurnian ibadah kepada Allah semata.
Dengan hilangnya kemurnian ibadah berarti hilang pulalah arti ibadah.

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik).
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata),
"Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.
"
Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan (az-Zumar [39]: 3)


Begitu juga firman Allah yang menceritakan seruan Nabi Hud kepada kaumnya:

اَنْ لَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّا اللّٰهَ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ اَلِيْمٍ

Agar kamu tidak menyembah selain Allah.
Aku benar-benar khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat pedih.
"
(Hud [11]: 26)


Semua nabi menyuruh manusia agar menyembah Allah:

وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ

Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh.
Dia berkata,
"Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia.
(Hud [11]: 61)

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 79. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Tidak dapat diterima akal dan tidak akan sampai hati, seorang nabi yang menerima wahyu dan ilmu pengetahuan dari Allah serta berbicara tentang Allah, untuk meminta orang lain menyembahnya, bukan menyembah Allah.
Yang dapat diterima akal dan sesuai dengan kenyataan adalah bahwa nabi meminta oang lain menyembah Allah subhanahu wa ta’ala, yang menciptakan mereka, dengan penuh ketulusan sesuai dengan ilmu yang telah diajarkan dan mereka pelajari dari kitab.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Tidak patut bagi siapapun dari manusia, Allah menurunkan kitab-Nya kepadanya dan menjadikannya sebagai hakim di antara makhluk-Nya dan memilihnya sebagai nabi, kemudian dia berkata kepada manusia:
"Sembahlah aku dan tinggalkan Allah."
Akan tetapi dia pasti berkata:
"Jadilah kalian fuqaha dan ulama dengan apa yang kalian ajarkan kepada orang lain dari wahyu Allah dan dengan apa yang kalian pelajari darinya dalam bentuk hafalan, ilmu dan pemahaman."

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Tidaklah pantas) atau layak


(bagi seorang manusia yang diberi Allah Alkitab dan hikmah) artinya pengertian terhadap syariat


(serta kenabian lalu katanya kepada manusia,
"Hendaklah kamu menjadi hamba-hambaku dan bukan hamba-hamba Allah!"
Tetapi) seharusnya ia berkata


("Hendaklah kamu menjadi rabbani) artinya ulamaulama yang beramal saleh, dinisbatkan kepada rab dengan tambahan alif dan nun sebagai penghormatan


(disebabkan kamu mengajarkan) dibaca pakai tasydid dan tanpa tasydid


(Alkitab dan disebabkan kamu selalu mempelajarinya.") Karena itu bila menghendaki faedahnya hendaklah kamu mengamalkannya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Abu Rail’ Al-Qurazi di saat para pendeta Yahudi dan orang-orang Nasrani Najran berkumpul di hadapan Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ mengajak mereka masuk Islam.
Maka ia (Abu Rafi’ Al-Qurazi) berkata,
"Hai Muhammad, apakah engkau menghendaki agar kami menyembahmu, sebagaimana orang-orang Nasrani menyembah Isa ibnu Maryam?"
Sedangkan seorang lelaki dari kalangan Nasrani Najran yang dikenal dengan nama Ar-Rais mengatakan,
"Apakah memang seperti itu yang engkau kehendaki dari kami, hai Muhammad, dan yang kamu serukan kepada kami?"
Atau perkataan seperti itu pengertiannya.
Maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Kami berlindung kepada Allah agar kami tidak menyembah kepada selain Allah, dan (kami berlindung kepada Allah) agar kami tidak memerintahkan penyembahan kepada selain Allah.
Bukan itu yang Allah utuskan kepadaku, dan bukan itu pula yang diperintahkan-Nya kepadaku.
Atau dengan kalimat yang semakna dengan pengertian di atas.
Maka Allah menurunkan berkenaan dengan ucapan kedua orang tersebut ayat berikut, yaitu firman-Nya:

Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah, dan kenabian.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 79)
sampai dengan firman-Nya:
di waktu kalian sudah (menganut agama) Islam.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 80).


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia,
"Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah."


Maksudnya, tidak layak bagi seorang manusia yang diberi Al-Kitab, hikmah dan kenabian, berkata kepada manusia,
"Sembahlah aku ber-sama Allah."

Apabila hal ini tidak layak bagi seorang nabi dan tidak pula bagi seorang rasul, terlebih lagi bagi seorang manusia selain dari kalangan para nabi dan para rasul.
Karena itulah Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa tidak layak bagi seorang mukmin memerintahkan kepada manusia untuk menyembah dirinya.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa dikatakan demikian karena umat terdahulu (yakni Ahli Kitab), sebagian dari mereka menyembah sebagian yang lain, mereka menyembah rahib-rahib dan pendeta-pendetanya.
Seperti yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:


Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.
(QS. At-Taubah [9]: 31), hingga akhir ayat.

Di dalam kitab Musnad —dan Imam Turmuzi seperti yang akan disebutkan kemudian— disebutkan bahwa Addi ibnu Hatim pernah berkata:


"Wahai Rasulullah, mereka sama sekali tidak menyembahnya (para rahib dan orang-orang alim mereka)."
Nabi ﷺ menyangkal,
"Tidak demikian, sesungguhnya mereka (para rahib dan orang-orang alim mereka) menghalalkan yang haram dan mengharamkan atas mereka yang halal, lalu mereka (para pengikutnya) mengikutinya.
Yang demikian itulah cara penyembahan mereka kepada orang-orang alim dan para rahib mereka."

Orang-orang yang tidak mengerti dari kalangan para rahib dan para pendeta serta pemimpin-pemimpin kesesatanlah yang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dicela dan dicemoohkan oleh ayat ini.
Lain halnya dengan para rasul dan para pengikut mereka dari kalangan ulama yang amilin (mengamalkan ilmunya).
Maka sesungguhnya yang mereka perintahkan hanyalah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, lalu disampaikan oleh para rasul kepada mereka.
Sesungguhnya yang mereka larang hanyalah apa-apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian disampaikan kepada mereka oleh rasulrasul Allah yang mulia.
Semua rasul merupakan delegasi yang menghubungkan antara Allah dan makhluk-Nya untuk menyampaikan risalah dan amanat yang diembankan kepada mereka oleh Allah subhanahu wa ta’ala, lalu mereka menunaikan tugas ini dengan sempurna, menasihati makhluk Allah, dan menyampaikan kebenaran kepada makhluk-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Akan tetapi (dia berkata),
"Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani, karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian telah mempelajarinya."


Yakni tetapi rasul itu mengatakan kepada manusia,
"Jadilah kalian orang-orang Rabbani."
Arti Rabbani, menurut Ibnu Abbas, Abu Razin serta ulama lainnya yang bukan hanya seorang disebut orang-orang yang bijaksana, orang-orang alim lagi orang-orang penyantun.
Sedangkan menurut Al-Hasan dan lain-lainnya disebut orang-orang ahli fiqih.
Hal yang sama diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, Sa’id ibnu Jubair, Qatadah, Ata Al-Khurrasani, Atiyyah Al-Aufi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Disebutkan pula dari Al-Hasan, bahwa yang dimaksud dengan Rabbani ialah ahli ibadah dan ahli takwa.

Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya. Bahwa makna yang dimaksud ialah sudah merupakan suatu keharusan bagi orang yang memahami Alquran menjadi orang yang ahli fiqih.


Tu’allimuna di sini menurutnya dibaca ta’lamuna, yang artinya memahami maknanya.
Menurut qiraat lain dibaca tu’allimuna yang artinya mempelajarinya, sedangkan makna tadrusuna ialah hafal lafaz-lafaznya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 79

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan al-Baihaqi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika pendeta-pendeta kaum Yahudi dan kaum Nasrani Najran berkumpul di hadapan Rasulullah ﷺ dan diajak masuk Islam, berkatalah Abu Rafi’ al-Qurazhi: “Apakah tuan menginginkan agar kami menyembah tuan seperti Nasrani menyembah ‘Isa?” Rasulullah menjawab:
“Ma’aadzallaah (aku berlindung kepada Allah dari hal itu).” Maka Allah menurunkan ayat ini (Ali ‘Imraan: 79-80) sebagai sanggahan bahwa tiada seorang nabi pun yang mengajak umatnya untuk menyembah dirinya sendiri.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq di dalam Tafsir-nya, yang bersumber dari al-Hasan bahwa seorang laki-laki menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ya Rasulallah, apakah mengucapkan salam kepada tuan itu sebagaimana memberi salam kepada teman kami?
Apakah tidak perlu sujud kepada tuan?” Nabi menjawab:
“Jangan, cukup kamu menghormati Nabi-mu, dan beritahukan yang hak kepada yang layak engkau beritahu, karena sesungguhnya tidak dibenarkan seseorang bersujud kepada selain Allah.” Maka Allah menurunkan ayat ini (Ali ‘Imraan: 79-80) sebagai penegasan atas ucapan Rasulullah.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Ali Imran (آل عمران)

Surat "Ali ‘lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isaalaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adamalaihis salam, kenabian dan beberapa mukjizat-nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isaalaihis salam.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isaalaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalildalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isaalaihis salam ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

Musyawarah.
Bermubahalah.
▪ Larangan melakukan riba.

Kisah:

▪ Kisah keluarga ‘lmran.
Perang Badar dan perang Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya.

Lain-lain:

▪ Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat.
▪ Sifat sifat Allah.
▪ Sifat orang-orang yang bertakwa.
Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah.
Kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan.
▪ Pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
▪ Peringatan-peringatan terhadap Ahli Kitab.
▪ Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya.
Faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.

Audio

QS. Ali-Imran (3) : 1-200 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 200 + Terjemahan Indonesia

QS. Ali-Imran (3) : 1-200 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 200

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ali Imran ayat 79 - Gambar 1 Surah Ali Imran ayat 79 - Gambar 2
Statistik QS. 3:79
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Ali Imran.

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl ‘Imrān berarti “Keluarga ‘Imran”) adalah surah ke-3 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-‘Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-‘Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Alquran disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang “Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab.”

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga ‘Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa’
Sending
User Review
4.5 (15 votes)
Tags:

3:79, 3 79, 3-79, Surah Ali Imran 79, Tafsir surat AliImran 79, Quran Al Imran 79, Surah Ali Imran ayat 79

▪ QS 3:79
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Ar Ra’d (Guruh (petir)) – surah 13 ayat 41 [QS. 13:41]

Di antara bukti-bukti Allah melaksanakan ancaman-Nya adalah peristiwa yang dialami oleh orang-orang kafir tersebut. Dan apakah mereka orang-orang kafir itu tidak melihat bahwa Kami melalui hambahamba … 13:41, 13 41, 13-41, Surah Ar Ra’d 41, Tafsir surat ArRad 41, Quran Ar Rad 41, Ar-Ra’d 41, Surah Ar Rad ayat 41

QS. Ar Rum (Bangsa Romawi) – surah 30 ayat 37 [QS. 30:37]

37. Allah memperingatkan mereka atas keputusasaan itu. Dan tidakkah mereka melihat dengan mata kepala beberapa fenomena yang terjadi, tidak terkecuali pada diri mereka sendiri, bahwa Allah yang melapa … 30:37, 30 37, 30-37, Surah Ar Rum 37, Tafsir surat ArRum 37, Quran Ar-Rum 37, Surah Ar Rum ayat 37

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Orang yang suka berbohong adalah orang ...

Benar! Kurang tepat!

Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang ...

Benar! Kurang tepat!

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan ...

Benar! Kurang tepat!

Lawan kata dari jujur ​​adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #5
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #5 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #5 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #23

Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui … ilmu pengetahuan

Pendidikan Agama Islam #24

Dalam surah Alquran, At-Tin artinya … buah tin buah zaitun buah anggur buah segar buah kurma Benar! Kurang tepat! Allah

Pendidikan Agama Islam #17

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah … Al Balad Annisa Al-Fajr Asy-Syams Al-Lail Benar! Kurang tepat! اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا

Instagram