Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 77


اِنَّ الَّذِیۡنَ یَشۡتَرُوۡنَ بِعَہۡدِ اللّٰہِ وَ اَیۡمَانِہِمۡ ثَمَنًا قَلِیۡلًا اُولٰٓئِکَ لَا خَلَاقَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ وَ لَا یُکَلِّمُہُمُ اللّٰہُ وَ لَا یَنۡظُرُ اِلَیۡہِمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ وَ لَا یُزَکِّیۡہِمۡ ۪ وَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ
Innal-ladziina yasytaruuna bi’ahdillahi wa-aimaanihim tsamanan qaliilaa uula-ika laa khalaaqa lahum fii-aakhirati walaa yukallimuhumullahu walaa yanzhuru ilaihim yaumal qiyaamati walaa yuzakkiihim walahum ‘adzaabun aliimun;

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka.
Bagi mereka azab yang pedih.
―QS. 3:77
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat
3:77, 3 77, 3-77, Ali Imran 77, AliImran 77, Al Imran 77
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 77. Oleh Kementrian Agama RI

Mengenai sebab nuzul ayat ini dijelaskan dalam hadis diriwayatkan oleh al-Bukhari dan ahli-ahli hadis yang lain bahwa al-Asy’ats bin Qais berkata, “Aku mempunyai perjanjian sewa tanah dengan seorang Yahudi lalu dia mengingkarinya.
Sebab itu aku mengajukannya kepada Rasulullah ﷺ” Kemudian Rasulullah bersabda, “Apakah engkau mempunyai bukti?”
Aku berkata, “Tidak.” Sesudah itu Rasulullah berkata kepada Yahudi itu, “Bersumpahlah.” Lalu aku berkata, “Hai Rasulullah! Kalau begitu, ia akan bersumpah.
(Dan kalau bersumpah) maka akan lenyaplah hartaku.” Maka Allah menurunkan ayat ini.

Dalam ayat ini dijelaskan berbagai akibat yang akan diderita oleh orang yang mengingkari janji Allah dan melanggar sumpah dengan harga atau imbalan yang murah.
Yang dimaksud dengan “janji Allah” dalam ayat ini ialah perintah Allah dan larangan-Nya yang disampaikan dengan perantaraan rasul yang disebutkan dalam kitab-kitab-Nya.
Seperti berlaku benar, memenuhi janji yang telah dibuat, menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, menyembah Allah dengan tidak mempersekutukan-Nya, dan bertakwa kepada-Nya dalam semua urusan.
Yang dimaksud dengan sumpah mereka ialah ikrar yang telah mereka ucapkan bahwa mereka akan selalu mengikuti kebenaran.

Yang dimaksud dengan “menukar janji Allah dengan harga yang sedikit” (murah) ialah mengingkari janji Allah dengan perbuatan duniawi yang dipandang lebih baik.
Segala macam pengingkaran ini dipandang rendah atau tak bernilai sama sekali dibandingkan dengan nikmat yang akan diperoleh bila memenuhi janji Allah.
Adapun akibat yang akan diderita oleh mereka yang berani menukar janji Allah dengan nikmat dunia, ialah mereka tidak akan mendapat balasan sedikit pun berupa nikmat di akhirat yang berlimpah-limpah.
Mereka tidak akan mendapat perhatian dari Allah pada hari kiamat, juga mereka tidak akan mendapat pengampunan dosa sedikit pun.

Menurut keterangan al-Qaffal bahwa yang dimaksud dengan firman Allah, “Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka”,
ialah gambaran dari kemarahan Allah yang memuncak terhadap mereka.
Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa Allah mengancam dengan keras orang yang merusak perjanjian dan mengingkari janji.
Mereka tidak akan memperoleh pahala di akhirat, mereka akan menderita siksaan yang pedih, mereka dibenci Allah dan tidak mendapat belas kasih-Nya lagi.

Ali Imran (3) ayat 77 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 77 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 77 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya orang-orang yang tidak menepati perjanjian yang telah ditetapkan Allah, seperti melaksanakan hak-hak orang lain dan melaksanakan kewajiban, serta tidak menepati sumpah yang mereka buat sendiri dan mereka janjikan untuk menepatinya, demi mengejar kenikmatan dunia–meskipun tampak besar di mata mereka–tidak akan mendapat bagian apa-apa dari kenikmatan akhirat.
Mereka akan ditolak oleh Allah dan tidak akan dilihat dengan kasih di hari kiamat.
Dosa mereka tidak akan diampuni, dan mereka memperoleh siksa yang memilukan dan abadi selamanya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ayat ini diturunkan kepada orang-orang Yahudi setelah mereka mengganti sifat-sifat Nabi dan janji-janji Allah atas mereka di dalam Taurat dan Kitab yang sebelumnya.
Dan mereka mengganti pula hukum orang yang bersumpah dusta dalam hal tuntutan atas jual beli barang dagangan.
(Sesungguhnya orang-orang yang membeli) menukar (janji Allah) untuk beriman kepada Nabi dan menepati amanat (dan sumpah-sumpah mereka) terhadap Allah dengan berhohong (dengan harga yang sedikit) berupa harta dunia (mereka itu tidak beroleh bagian) pahala (di akhirat dan Allah tidak akan berbicara dengan mereka) disebabkan murka kepada mereka (dan tidak akan melihat kepada mereka) artinya tidak akan mengasihi mereka (pada hari kiamat dan tidak akan membersihkan) menyucikan mereka (dan bagi mereka siksa yang pedih) yang menyakitkan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji dan wasiat Allah yang Dia wasiatkan di dalam kitab-kitab yang Dia turunkan kepada nabi-nabi mereka dengan pengganti yang rendah berupa harta dunia dan kekayaannya, mereka tidak mendapatkan bagian dari pahala akhirat, Allah tidak mau berbicara kepada mereka dengan sesuatu yang membahagiakan mereka, tidak mau memandang kepada mereka dengan mata kasih sayang, tidak mau menyucikan mereka dari kotoran dosa dan kekufuran, dan bagi mereka siksa yang menyakitkan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa sesungguhnya orang-orang yang menukar apa yang telah mereka janjikan kepada Allah yaitu akan mengikuti Nabi Muhammad ﷺ dan menceritakan sifat-sifatnya kepada orang-orang banyak serta menjelaskan perkaranya, dan menukar sumpah-sumpah mereka (yang pada hakikatnya adalah sumpah dusta lagi berdosa) dengan harga yang sedikit tak ada artinya.
Yang dimaksud dengan harta yang sedikit ialah harta benda dalam kehidupan dunia yang fana ini lagi pasti akan lenyap.

…mereka itu tidak mendapat bagian (pahala) di akhirat.

Maksudnya, tiada suatu pahala pun yang mereka peroleh kelak di akhirat, dan akhirat adalah bukan milik mereka, mereka tidak mendapat bagian sama sekali.

dan Allah tidak akan berkata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat.

Yakni tidak mau melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.
Dengan kata lain, Allah tidak akan berbicara dengan mereka secara lemah-lembut dan tidak akan memandang mereka dengan pandangan yang mengandung rahmat.

…dan tidak (pula) akan menyucikan mereka.

Yaitu dari dosa-dosa dan kotoran-kotoran mereka, bahkan Allah memerintahkan agar mereka dicampakkan ke dalam neraka.

Bagi mereka azab yang pedih.

Sehubungan dengan hal ini, banyak hadis yang berkaitan dengan ayat ini akan kami kemukakan sebagian darinya yang mudah didapat.

Hadis pertama, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, bahwa Ali ibnu Mudrik pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar hadis berikut dari Abu Zur’ah, dari Kharsyah ibnul Hur, dari Abu Zar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Ada tiga macam orang yang Allah tidak akan berbicara dengan mereka, tidak akan melihat kepada mereka, dan tidak pula akan menyucikan mereka, serta bagi mereka azab yang pedih.” Aku (Abu Zar) bertanya, “Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah?
Alangkah kecewa dan meruginya mereka.” Rasulullah ﷺ mengulangi sabdanya itu sebanyak tiga kali, lalu bersabda, “Yaitu orang yang memanjangkan kainnya (hingga ke tanah), orang yang melakukan dagangannya dengan sumpah dusta, dan orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya.”

Imam Muslim dan ahlus sunan meriwayatkannya pula melalui hadis Syu’bah dengan lafaz yang sama.

Hadis kedua, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Jarir ibnu Hazim, telah menceritakan kepada kami Addi ibnu Addi, telah menceritakan kepadaku Raja ibnu Haiwah dan Al-Urs ibnu Umairah, dari ayahnya (yaitu Addi alias Ibnu Umairah Al-Kindi) yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki dari Kindah yang dikenal dengan nama Umru-ul Qais ibnu Amir bersengketa dengan seorang lelaki dari Hadramaut di hadapan Rasulullah ﷺ mengenai sebidang tanah.
Akhirnya Rasulullah ﷺ memutuskan terhadap orang Hadramaut itu untuk mengemukakan bukti, padahal ia tidak mempunyai bukti, dan beliau ﷺ memutuskan terhadap Umru-ul Qais untuk bersumpah.
Maka orang Hadramaut itu berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah memberinya kesempatan kepadanya dengan melalui sumpah.
Demi Tuhan Ka’bah, lenyaplah tanahku.” Maka Nabi ﷺ bersabda: Barang siapa yang bersumpah dengan sumpah dusta untuk mengambil harta orang lain dengan melalui sumpahnya itu, niscaya dia akan bersua dengan Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan Allah dalam keadaan murka terhadapnya.
Raja mengatakan bahwa setelah itu Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit.
Maka Umru-ul Qais bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang akan diperoleh bagi orang yang membiarkannya (merelakan tanah itu)!” Rasulullah ﷺ menjawab, “Surga.” Lalu Umru-ul Qais berkata, “Maka saksikanlah bahwa aku membiarkan tanah itu untuk dia semua.”

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Nasai melalui hadis Addi ibnu Addi dengan lafaz yang sama.

Hadis ketiga, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Syaqiq, dari Abdullah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang melakukan suatu sumpah, sedangkan dalam sumpahnya itu ia berdusta demi mengambil (merampas) sejumlah harta milik orang muslim, niscaya ia bersua dengan Allah subhanahu wa ta’ala nanti, sedangkan Allah dalam keadaan murka terhadapnya.
Kemudian Al-Asy’as berkata bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi berkenaan dengan dirinya.
Dahulu pernah antara dia dan seorang Yahudi suatu persengketaan mengenai sebidang tanah, lalu orang Yahudi itu mengklaim tanahnya, lalu ia ajukan perkaranya kepada Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ bertanya (kepada Asy’as), “Apakah engkau mempunyai bukti?”
Aku (Asy’as) menjawab, “Tidak.” Kemudian beliau ﷺ bersabda kepada orang Yahudi, “Bersumpahlah kamu.” Maka aku (Asy’as) berkata, “Kalau demikian dia pasti bersumpah dan lenyaplah hartaku.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit., hingga akhir ayat.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan melalui hadis Al-A’masy.

Jalur lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Asim ibnu Abun Nujud, dari Syaqiq ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang merampas harta seorang muslim tanpa alasan yang dibenarkan, maka dia akan menjumpai Allah nanti, sedangkan Allah dalam keadaan murka terhadapnya.
Imam Ahmad melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu datanglah Al-Asy’as ibnu Qais, lalu berkata, “Apakah yang telah diceritakan Abu Abdur Rahman kepada kalian?”
Maka kami menceritakan hadis ini kepadanya, lalu ia berkata, “Sesungguhnya hadis ini berkenaan dengan peristiwa yang ku alami.” Al-Asy’as menceritakan bahwa ia pernah bersengketa dengan anak lelaki pamannya mengenai sebuah sumur di hadapan Rasulullah ﷺ Sumur itu adalah miliknya, tetapi anak pamannya mengklaimnya.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Tunjukkanlah buktimu bahwa itu adalah sumurmu.
Jika tidak, maka yang didengar adalah sumpahnya.” Al-Asy’as melanjutkan kisahnya, bahwa maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai bukti, jika engkau jadikan sumurku ini bergantung kepada sumpahnya, niscaya akan lenyaplah sumurku.
Sesungguhnya lawanku ini adalah seorang yang dusta.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa yang merampas harta seorang muslim tanpa alasan yang dibenarkan, niscaya ia akan menjumpai Allah subhanahu wa ta’ala nanti, sedangkan Allah dalam keadaan murka terhadapnya.
Al-Asy’as melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Rasulullah ﷺ membacakan ayat berikut, yaitu firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit., hingga akhir ayat.

Hadis keempat, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Gailan, telah menceritakan kepada kami Rasyidin, dari Zaban, dari Sahl ibnu Mu’az ibnu Anas, dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang Dia tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat nanti, dan tidak akan menyucikan mereka serta tidak akan melihat kepada mereka.
Ketika ditanyakan kepada beliau, “Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah?”
Maka beliau ﷺ menjawab melalui sabdanya: “Orang yang berlepas diri (melalui sumpahnya) dari kedua orang tuanya karena benci terhadap keduanya, orang yang berlepas diri dari anaknya, dan seorang lelaki yang pernah diberi kenikmatan oleh suatu kaum, lalu ia mengingkari nikmat mereka dan berlepas diri dari mereka.

Hadis kelima, diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Al-Awwam (yakni Ibnu Hausyab), dari Ibrahim ibnu Abdur Rahman (yakni As-Saksiki), dari Abdullah ibnu Abu Aufa, bahwa ada seorang lelaki menggelarkan barang dagangannya di pasar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa dirinya belum pernah menjual barangnya semurah ini, dengan tujuan untuk menjebak seorang lelaki dari kalangan kaum muslim agar membelinya.
Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit., hingga akhir ayat.

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dari Al-Awwam.

Hadis keenam, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ada tiga macam orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka di hari kiamat, dan tidak akan melihat kepada mereka serta tidak akan menyucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih.
(Yaitu) seorang lelaki yang melarang ibnu sabil lebihin air yang ada padanya, seorang lelaki yang bersumpah atas jualannya sesudah Asar, yakni dengan sumpah dusta, dan seorang lelaki yang mengucapkan baiat (janji setia) kepada seorang imam, tetapi jika imam memberinya, maka ia menunaikan kesetiaannya, dan jika imam tidak memberinya, maka ia tidak menunaikan kesetiaannya.

Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi meriwayatkan melalui hadis Waki’, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Ali Imran (3) ayat 77
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal Telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Al A’masy dari Abu Wa’il dari Abdullah bin Mas’ud ra. dia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa bersumpah palsu atas sesuatu, yang dengannya ingin merampas harta seorang muslim, maka ia akan berjumpa dengan Allah sementara Ia murka kepadanya. Sebagai pembenaran hal itu Allah telah menurunkan ayat: Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. (Ali Imran: 77). Maka Asy’ats bin Qais masuk seraya bertanya,
“Apa yang dikatakan Abdurrahman kepada kalian?” Kami menjawab,
begini dan begitu. Dia berkata,
“Ayat itu berkenaan denganku, aku mempunyai sebuah sumur disebidang tanah milik sepupuku. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Yang menjadi keputusan sekarang adalah pengakuanmu atau sumpahnya.” Aku berkata,
“Kalau begitu dia yang bersumpah ya Rasulullah!” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa bersumpah palsu atas sesuatu, yang dengannya ingin merampas harta seorang muslim, dan dia menjadi pelaku kejahatan karenanya, maka ia akan berjumpa dengan Allah sementara Ia murka kepadanya.”

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4185

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 77

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Aufa bahwa ada seseorang yang berdagang di pasar.
Ia menjual barang dagangannya, kemudian bersumpah atas nama Allah bahwa barangnya telah diserahkan, padahal ia belum memberikannya.
Perbuatan itu dilakukannya kepada orang-orang Islam.
Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imraan: 77) sebagai peringatan kepada orang yang mau bersumpah palsu.

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar dalam syarah al-Bukhari, kedua hadits tersebut tidaklah bertentangan, bahkan bisa jadi turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 77) berkenaan dengan kedua peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini (Ali ‘Imraan: 77) turun berkenaan dengan kaum Yahudi yang bernama Hayy bin Akhthab, Ka’b bin al-Asyraf, dan lain-lain, yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah di dalam Taurat dan menggantinya, kemudian bersumpah bahwa apa yang mereka kemukakan itu dari Allah.

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, ayat ini (Ali ‘Imraan: 77) mungkin diturunkan karena beberapa sebab.
Akan tetapi yang sebaiknya diikuti, ialah apa yang tercantum di dalam kitab Shahih.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.

QS 3 Ali-Imran (76-77) - Indonesian - Julio Kresna
QS 3 Ali-Imran (76-77) - Arabic - Julio Kresna


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 77 *beta

Surah Ali Imran Ayat 77



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.7
Rating Pembaca: 5 (1 vote)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku