Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 75


وَ مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ مَنۡ اِنۡ تَاۡمَنۡہُ بِقِنۡطَارٍ یُّؤَدِّہٖۤ اِلَیۡکَ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ اِنۡ تَاۡمَنۡہُ بِدِیۡنَارٍ لَّا یُؤَدِّہٖۤ اِلَیۡکَ اِلَّا مَادُمۡتَ عَلَیۡہِ قَآئِمًا ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡا لَیۡسَ عَلَیۡنَا فِی الۡاُمِّیّٖنَ سَبِیۡلٌ ۚ وَ یَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ الۡکَذِبَ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ
Wamin ahlil kitaabi man in ta’manhu biqinthaarin yu’addihi ilaika waminhum man in ta’manhu bidiinaarin laa yu’addihi ilaika ilaa maa dumta ‘alaihi qaa-iman dzalika biannahum qaaluuu laisa ‘alainaa fiil ammii-yiina sabiilun wayaquuluuna ‘alallahil kadziba wahum ya’lamuun(a);

Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu, dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya.
Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan:
“tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.
Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.
―QS. 3:75
Topik ▪ Pelebur dosa besar
3:75, 3 75, 3-75, Ali Imran 75, AliImran 75, Al Imran 75
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 75. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini diterangkan, bahwa di antara Ahli Kitab itu ada sekelompok manusia yang apabila mendapat kepercayaan diserahi harta yang banyak atau pun sedikit, mereka mengembalikannya sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Tetapi ada pula di antara mereka yang apabila mendapat kepercayaan diserahi sejumlah harta sedikit saja mereka tidak mau mengembalikan kecuali apabila ditagih, baru mereka mau menyerahkannya setelah melalui proses pembuktian.
Hal ini menunjukkan bahwa di antara Ahli Kitab itu ada sekelompok orang yang pekerjaannya mempersulit Muslimin dan membuat tipu daya agar orang Islam tidak senang memeluk agamanya dan berbalik untuk mengikuti agama mereka.
Di antara mereka ada pula sekelompok orang yang pekerjaannya memutarbalikkan hukum.
Mereka menghalalkan memakan harta orang lain dengan alasan bahwa: “Kitab Taurat melarang mengkhianati amanat terhadap saudara-saudara mereka seagama.
Kalau pengkhianatan itu dilakukan terhadap bangsa lain mereka membolehkannya.

Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa Ahli Kitab dapat dibagi menjadi dua golongan:

1.
Ahli Kitab yang betul-betul berpegang pada kitab Taurat yang betul-betul bisa dipercaya.
Sebagai contoh misalnya Abdullah bin Salam yang dititipi harta oleh Quraisy dalam jumlah besar kemudian harta itu dikembalikannya.

2.
Ahli Kitab yang tidak dapat dipercaya karena apabila mereka dititipi harta walaupun sedikit, mereka mengingkari dan tidak mau mengembalikannya lagi kecuali apabila dibuktikan dengan keterangan yang masuk akal atau apabila melalui proses pembuktian di muka pengadilan.
Sebagai contoh ialah Ka’ab bin al-Asyraf yang dititipi uang satu dinar oleh Quraisy kemudian dia mengingkari titipan itu.

Sebab-sebab mereka melakukan demikian, ialah karena mereka beranggapan tidak berdosa apabila mereka tidak menunaikan amanat terhadap seorang Muslim, karena mereka beranggapan bahwa tidak ada ancaman dan tidak ada dosa apabila mereka makan harta seorang Muslim dengan jalan yang batil.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa menurut pendapat mereka setiap orang selain bangsa Yahudi tidak akan diperhatikan Allah, bahkan mereka mendapat murka dari Allah.
Oleh sebab itu harta mereka tidak akan mendapat perlindungan, dan mengambil harta mereka tidak dianggap sebagai dosa.

Tidak diragukan lagi bahwa anggapan serupa ini termasuk pengingkaran, penipuan dan penghinaan terhadap agama.
Maksudnya mereka mengetahui dan menyadari bahwa mereka sengaja berdusta dalam hal itu, padahal mereka telah mengetahui bahwa dalam kitab Taurat tidak ada ketentuan sedikit pun yang membolehkan untuk menghianati orang Arab, dan memakan harta orang Islam secara tidak sah.
Sebenarnya mereka telah mengetahui hal itu, tetapi mereka tidak berpegang kepada kitab Taurat.
Mereka lebih cenderung bertaklid kepada perkataan pemimpin agama mereka, dan menganggapnya sebagai ketentuan yang wajib mereka ikuti.
Padahal pemimpin-pemimpin mereka itu mengemukakan pendapatnya mengenai hal-hal yang bersangkut paut dengan agama dengan menggunakan penakwilan dengan akal dan selera.
Mereka tidak segan-segan mengubah susunan kalimat asli Taurat untuk memperkuat pendapat mereka.
Mereka mempertahankan pendapat itu dengan mencari-cari alasan yang dapat menguatkannya.

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Munzir dari Sa’id bin Jubair ia berkata: Setelah turun ayat 75 ini Rasulullah bersabda: Musuh-musuh Allah (orang-orang Yahudi) telah berdusta.
Tidak ada suatu ketentuan di zaman jahiliah melainkan telah berada di bawah kedua telapak kakiku ini (telah dibatalkan) terkecuali amanat.
Amanat ini diwajibkan kepada orang yang baik dan orang yang jahat.
(Riwayat Ibnu Mundzir dari Sa’id bin Jubair)

Ali Imran (3) ayat 75 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 75 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 75 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Itu adalah perilaku mereka dalam masalah ketuhanan.
Sedang dalam urusan harta, lain lagi.
Di antara mereka ada yang, jika kau amanatkan dengan satu qinthar[1] emas atau perak, melaksanakannya tanpa berkurang sedikit pun.
Ada juga yang, jika kau amanatkan satu dinar saja, tidak melaksanakannya kecuali kalau selalu kau kontrol dan kau desak.
Hal itu disebabkan karena orang semacam ini beranggapan bahwa orang selain mereka buta huruf, dan bahwa hak-hak mereka tidak terpelihara.
Mereka beranggapan bahwa itu adalah ketentuan Allah, padahal mereka tahu bahwa anggapan itu hanyalah dusta belaka terhadap Allah subhanahu wa ta’ala

[1] Qinthar adalah satuan ukuran berat yang kurang lebih sama dengan 44.
928 kg.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Di antara Ahli Kitab ada orang yang apabila kamu percayakan kepadanya harta yang banyak) atau berharga (maka dikembalikan kepadamu) disebabkan sifat amanatnya.
Misalnya Abdullah bin Salam yang mendapat amanat atau titipan dari seorang laki-laki sebanyak 1200 ukiah emas, maka dipenuhinya amanat itu dengan sebaik-baiknya.
(Dan di antara mereka ada pula yang jika kamu percayai dengan satu dinar, maka tidak dikembalikannya) karena sifat ikhlasnya (kecuali jika kamu selalu menagihnya) tidak meninggalkannya.
Apabila kamu meninggalkannya, maka titipan tadi tidak diakuinya, misalnya Kaab bin Asyraf yang diberi amanat oleh seorang Quraisy sebanyak satu dinar, maka tidak diakuinya.
(Yang demikian itu) artinya sikap tak mau membayar itu (bahwa mereka berkata) artinya disebabkan perkataan mereka (“Tidak ada terhadap kami mengenai orang-orang buta huruf) maksudnya orang Arab (tuntutan) atau dosa.” Sebabnya karena mereka menghalalkan menganiaya orang-orang yang berlainan agama dengan mereka dan pengakuan itu mereka nisbatkan pula kepada Allah subhanahu wa ta’ala Firman Allah:
(“Mereka berkata dusta terhadap Allah”) maksudnya dalam menisbatkan penghalalan itu kepada-Nya (padahal mereka mengetahui) bahwa mereka berdusta.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di antara Ahli Kitab dari orang-orang Yahudi ada orang yang bila kamu beri amanat dalam bentuk harta dengan jumlah yang sangat banyak, dia menunaikannya kepadamu tanpa berkhianat.
Namun di antara mereka ada yang bila kamu beri amanat satu dinar saja tidak menunaiikannya kepadamu kecuali bila kalian berusaha mati-matian untuk menagihnya.
Sebab dari hal itu adalah keyakinan mereka yang rusak yang membuat mereka meyakini kehalalan harta orang-orang Arab dengan cara yang batil, mereka berkata :
Kami tidak berdosa dan bersalah dalam memakan harta mereka, karena Allah telah menghalalkannya untuk kami.
Mereka mengucapkan hal itu dengan lisan mereka dan mereka mengetahui bahwa mereka adalah berdusta

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan perihal orang-orang Yahudi, bahwa di antara mereka ada orang-orang yang khianat, dan Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan kaum mukmin agar bersikap waspada terhadap mereka, jangan sampai mereka teperdaya, karena sesungguhnya di antara mereka terdapat orang-orang yang disebutkan oleh firman-Nya:

…ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya senilai satu qintar.

Yakni sejumlah harta yang banyak.

…dia mengembalikannya kepadamu.

Yaitu barang yang nilainya kurang dari satu qintar jelas lebih ditunaikannya kepadamu.

…dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, dia tidak mengembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya,

Maksudnya, terus-menerus menagih dan mendesaknya agar melunasi hakmu.
Apabila demikian sikapnya terhadap satu dinar, maka terlebih lagi jika menyangkut yang lebih banyak, maka ia tidak akan mengembalikannya kepadamu.

Dalam pembahasan yang lalu pada permulaan surat ini telah diterangkan makna qintar.
Adapun mengenai satu dinar, hal ini sudah dimaklumi kadarnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Amr As-Sukuti, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Ziad ibnul Haisam, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Dinar yang telah mengatakan bahwa sesungguhnya dinar disebut demikian karena merupakan gabungan dari dua kata, yaitu din (agama) dan nar (yakni api).

Menurut pendapat yang lain, makna dinar ialah ‘barang siapa yang mengambilnya dengan jalan yang benar, maka ia adalah agamanya, dan barang siapa yang mengambilnya bukan dengan jalan yang dibenarkan baginya, maka baginya neraka’.

Sehubungan dengan masalah ini selayaknya disebutkan hadis-hadis yang di-ta’liq oleh Imam Bukhari dalam berbagai tempat dari kitab sahihnya.
Yang paling baik konteksnya ialah yang ada di dalam Kitabul Kafalah.

Imam Bukhari mengatakan:

bahwa Al-Lais mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ja’far ibnu Rabi’ah, dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz Al-A’raj, dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah ﷺ yang pernah menceritakan: bahwa di zaman dahulu ada seorang lelaki dari kalangan umat Bani Israil berutang sejumlah seribu dinar kepada seorang lelaki lain yang juga dari Bani Israil.
Lelaki yang diminta berkata, “Datangkanlah orang-orang yang aku akan jadikan mereka sebagai saksi.” Lelaki yang mengajukan utang berkata, “Cukuplah Allah sebagai saksinya.” Lelaki yang diminta berkata, “Datangkanlah kepadaku seorang penjamin.” Lelaki yang meminta menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penjaminnya.” Lelaki yang diminta berkata, “Engkau benar,” lalu ia memberikan utang itu kepadanya sampai waktu yang telah ditentukan.
Lelaki yang berutang itu berangkat melakukan suatu perjalanan menempuh jalan laut.
Setelah menyelesaikan urusan dan keperluannya, maka ia mencari perahu yang akan ditumpanginya menuju tempat lelaki pemiutang karena saat pembayarannya telah tiba, tetapi ia tidak menemukan sebuah perahu pun.
Lalu ia mengambil sebatang kayu dan kayu itu dilubanginya, kemudian memasukkan ke dalamnya uang seribu dinar berikut sepucuk surat yang ditujukan kepada pemiliknya, lalu lubang itu ia tutup kembali dengan rapat.
Ia datang ke tepi laut, lalu berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah berutang kepada si Fulan sebanyak seribu dinar.
Lalu ia meminta saksi kepadaku, maka kujawab bahwa cukuplah Allah sebagai saksinya.
Ia meminta kepadaku seorang penjamin, lalu kujawab bahwa cukuplah Allah sebagai penjaminnya.
Ternyata dia rida dengan-Mu.
Sesungguhnya aku telah berupaya keras untuk menemukan sebuah perahu untuk mengirimkan pembayaran ini kepadanya, tetapi aku tidak mampu menemukannya.
Sesungguhnya sekarang aku titipkan pembayaran ini kepada-Mu.” Kemudian ia melemparkan kayu itu ke laut hingga kayu itu terapung-apung di atasnya.
Setelah itu ia pergi seraya mencari perahu untuk menuju tempat pemiutang.
Lalu lelaki yang memiliki piutang itu keluar melihat-lihat, barangkali ada perahu yang datang membawa hartanya.
Ternyata ia menemukan sebatang kayu, yaitu kayu tersebut yang di dalamnya terdapat hartanya.
Lalu ia mengambil kayu itu dengan maksud untuk dijadikan sebagai kayu bakar bagi keluarganya.
Tetapi ketika ia membelah kayu itu, tiba-tiba ia menjumpai sejumlah uang dan sepucuk surat.
Ketika lelaki yang berutang kepadanya tiba seraya membawa seribu dinar lagi dan berkata, “Demi Allah, aku terus berusaha keras mencari kendaraan yang dapat mengantarkan diriku kepadamu guna membayar utangku kepadamu, ternyata aku tidak menemukannya sebelum perahu yang membawaku sekarang ini.” Lelaki yang memiliki piutang bertanya, “Apakah engkau telah mengirimkan sesuatu kepadaku?”
Ia menjawab, “Bukankah aku telah ceritakan kepadamu bahwa aku tidak menemui suatu perahu pun sebelum perahu yang membawaku sekarang.” Lelaki yang memiliki piutang berkata, “Sesungguhnya Allah telah menunaikan (melunaskan) utangmu melalui apa yang engkau kirimkan di dalam kayu itu.” Maka si lelaki yang berutang itu pergi membawa seribu dinarnya dengan hati lega.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di salah satu tempat dari kitabnya dengan sigat jazm, sedangkan di lain tempat dari kitab sahihnya ia sandarkan hadis ini dari Abdullah ibnu Saleh, juru tulis Al-Lais, dari Lais sendiri.

Imam Ahmad meriwayatkannya di dalam kitab musnadnya seperti ini dengan kisah yang panjang lebar dari Yunus ibnu Muhammad Al-Muaddib, dari Lais dengan lafaz yang sama.

Al-Bazzar meriwayatkannya di dalam kitab musnadnya dari Al-Hasan ibnu Mudrik, dari Yahya ibnu Hammad, dari Abu Uwwanah, dari Umar ibnu Abu Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ dengan lafaz yang semisal.
Kemudian ia mengatakan bahwa tidak diriwayatkan dari Nabi ﷺ kecuali dari segi dan sanad ini.
Demikianlah menurutnya, tetapi ia keliru, karena adanya keterangan di atas tadi.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.”

Yakni sesungguhnya yang mendorong mereka mengingkari perkara yang hak tiada lain karena mereka berkeyakinan bahwa tiada dosa dalam agama kami memakan harta orang-orang ummi —yaitu orang-orang Arab— karena sesungguhnya Allah telah menghalalkannya bagi kami.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.

Yaitu mereka telah membuat-buat perkataan ini dan bersandar kepada kesesatan ini, karena sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas mereka memakan harta benda kecuali dengan cara yang dihalalkan.
Sesungguhnya mereka adalah kaum yang suka berbuat kedustaan.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Abu Ishaq Al-Hamdani, dari Abu Sa’sa’ah ibnu Yazid, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya kami dalam perang memperoleh sejumlah barang milik ahli zimmah, yaitu berupa ayam dan kambing.” Ibnu Abbas balik bertanya, “Lalu apakah yang akan kamu lakukan?”
Ia menjawab, “Kami memandang tidak ada dosa bagi kami untuk memilikinya.” Ibnu Abbas berkata, “Ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Ahli Kitab, ‘Bahwasanya tidak ada dosa bagi kami terhadap harta orang-orang ummi.’ Sesungguhnya mereka apabila telah membayar jizyah, maka tidak dihalalkan bagi kalian harta benda mereka kecuali dengan suka rela mereka’.”

Hal yang sama diriwayatkan oleh As-Sauri, dari Abu Ishaq.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abur Rabi’ Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ja’far, dari Sa’id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa ketika Ahli Kitab mengatakan, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi” maka Nabi Allah ﷺ bersabda: Dustalah musuh-musuh Allah itu.
Tiada sesuatu pun yang terjadi di masa Jahiliah, melainkan ia berada di kedua telapak kakiku ini, kecuali amanat.
Maka sesungguhnya amanat harus disampaikan, baik kepada orang yang bertakwa maupun kepada orang yang durhaka.

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 75

DIINAAR
دِينَار

Lafaz ini berasal dari kata dannara, jamaknya danaaniir maksudnya salah satu mata uang dahulu yang dibuat dari emas yang nilainya sekarang di negara-negara Islam 50 sen dan ia menjadi salah satu mata uang di negara Arab yang setara dengan satu Poundsterling (mata uang Inggeris).

Lafaz ini hanya disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Ali Imran (3), ayat 75. Ayat ini berkenaan dengan Ahli Kitab yang mengkhianati amanah yang dititipkan walaupun satu dinar.

Malik bin Dinar berkata,
“Dinamakan ad dinar karena ia bermakna din (hutang) dan nar (api) maksudnya siapa yang mengambilnya dengan hak maka ia adalah hutangnya dan siapa yang mengambilnya tidak dengan hak maka baginya api neraka.”

Ibnu Katsir berkata,
“Dari kalangan orang Yahudi, ada yang apabila diamanahkan kepadanya satu dinar, maka yang menitipkan kepadanya perlu berulang kali dan terus menerus menuntut haknya daripadanya, apatah lagi jumlahnya lebih banyak daripada itu.

Al Qurtubi berkata,
“Yang dimaksudkan orang yang tidak menunaikan amanah yang dititipkan adalah Fanhaas bin ‘Aazuura’ Al­ Yahudi yang diamanahkan seorang Arab satu dinar tetapi mengkhianatinya. Ada yang berpendapat, orang itu adalah Ka’ab bin Al­ Asyraf dan sahabat-sahabatnya.

Kesimpulannya ad diinaar bermakna satu dinar yaitu mata uang emas pada zaman dahulu dan sebahagian negara Arab masih menggunakannya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:229

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 75 *beta

Surah Ali Imran Ayat 75



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.5
Rating Pembaca: 4.9 (11 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku