Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 7


ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ؃ وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
Huwal-ladzii anzala ‘alaikal kitaaba minhu aayaatun muhkamaatun hunna ummul kitaabi wa-ukharu mutasyaabihaatun fa-ammaal-ladziina fii quluubihim zaighun fayattabi’uuna maa tasyaabaha minhuubtighaa-al fitnati waabtighaa-a ta’wiilihi wamaa ya’lamu ta’wiilahu ilaallahu warraasikhuuna fiil ‘ilmi yaquuluuna aamannaa bihi kullun min ‘indi rabbinaa wamaa yadz-dzakkaru ilaa uuluul albaab(i);

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu.
Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.
Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.
Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:
“Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”.
Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
―QS. 3:7
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah ▪ Istighfar orang-orang beriman
3:7, 3 7, 3-7, Ali Imran 7, AliImran 7, Al Imran 7
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Al Qur’an yang diturunkan-Nya itu di dalamnya ada ayat-ayat yang Muhkamat dan ada yang Mutasyabihat.
“Ayat yang Muhkamat” ialah ayat yang jelas artinya, seperti ayat-ayat hukum, dan sebagainya.
“Ayat Mutasyabihat” ialah ayat yang tidak jelas artinya, yang dapat ditafsirkan dengan bermacam-macam penafsiran seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan hal-hal yang gaib dan sebagainya.
Ayat-ayat Muhkamat dapat diketahui dengan mudah arti dan maksudnva sedang ayat-ayat yang Mutasyabihat itu ialah ayat-ayat yang sukar diketahui arti dan maksudnya yang sebenarnya hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahuinya tentang tujuan Allah menurunkan ayat-ayat Mutasyabihat itu.
Menurut sebagian para mufassir ialah:

1.Untuk menguji iman dan keteguhan hati seseorang muslim kepada Allah, iman yang benar hendaklah disertai dengan penyerahan diri dalam arti yang seluas-luasnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat-ayat yang dapat dipikirkan artinya dengan mudah dan Dia menurunkan ayat-ayat yang sukar diketahui makna dan maksud yang sebenarnya, yaitu ayat-ayat Mutasyabihat.
Dalam menghadapi ayat-ayat yang Mutasyabihat ini, manusia akan merasa bahwa dirinya bukanlah makhluk yang sempurna, ia hanya di beri Allah pengetahuan yang sedikit karena itu ia akan menyerahkan pengertian ayat-ayat itu kepada Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Mengetahui.

2.Dengan adanya ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat itu kaum muslimin akan berpikir sesuai dengan batas-batas yang diberikan Allah, ada yang dapat dipikirkan secara mendalam dan ada pula yang sukar dipikirkan, lalu diserahkan kepada Allah.

3.Para nabi dan para rasul diutus kepada seluruh manusia yang keadaannya berbeda-beda, misalnya berbeda kepandaiannya, kemampuannya dan kekayaannya, berbeda pula bangsa, bahasa dan daerahnya.
Karena itu cara penyampaian agama kepada mereka itu hendaklah disesuaikan dengan tingkatan keadaan mereka itu dan dengan tingkatan bahasa yang sesuai dengan kemampuan mereka, ada yang mudah dipahami dan ada yang sukar dipahami.
Yang mudah untuk orang yang kurang mempunyai ilmu, sedang yang sukar untuk orang yang dalam ilmunya.

Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan sikap manusia dalam memahami dan menghadapi ayat-ayat yang mutasyabihat, yaitu:

1.Orang-orang yang hatinya tidak menginginkan kebenaran, mereka jadikan ayat-ayat itu untuk bahan fitnah yang mereka sebarkan di kalangan manusia dan mereka mencari-cari artinya yang dapat dijadikan alasan untuk menguatkan pendapat din keinginan mereka.

2.Orang-orang yang mempunyai pengetahuan yang mendalam dan ingin mencari kebenaran, mereka haruslah mencari pengertian yang benar, dari ayat itu.
Bila mereka belum atau tidak sanggup mengetahuinya, mereka berserah diri kepada Allah sambil berdoa din mohon petunjuk.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan sifat-sifat orang-orang yang dalam ilmunya, yaitu orang-orang yang suka memperhatikan makhluk Allah, suka memikirkan dan merenungkannya.
Ia berpikir semata-mata karena Allah dan untuk mencari kebenaran.

Ali Imran (3) ayat 7 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 7 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 7 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dialah yang telah menurunkan Al Quran kepadamu.
Di antara hikmah-Nya, sebagian ayat Al Quran muhkamat:
jelas arti dan maksudnya, dan yang lain mutasyabihat:
sulit ditangkap maknanya oleh kebanyakan orang, samar bagi orang-orang yang belum mendalam ilmunya.
Ayat-ayat mutasyabihat itu diturunkan untuk memotivasi para ulama agar giat melakukan studi, menalar, berpikir, teliti dalam berijtihad dan menangkap pesan-pesan agama.
Orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menebar fitnah dan untuk menakwilkan sesuka hati mereka.
Takwil yang benar dari ayat-ayat tersebut tak dapat diketahui kecuali oleh Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.
Mereka berkata, “Kami meyakini itu datangnya dari Allah.
Kami tidak membedakan keyakinan kepada Al Quran antara yang muhkam dan yang mutasyabih.” Tidak ada yang mengerti itu semua kecuali orang-orang yang memiliki akal sehat yang tidak mengikuti keinginan hawa nafsu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dialah yang menurunkan kepadamu Alquran, di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat) jelas maksud dan tujuannya (itulah dia pokok-pokok Alquran) yakni yang menjadi pegangan dalam menetapkan (sedangkan yang lainnya mutasyabihat) tidak dimengerti secara jelas maksudnya, misalnya permulaan-permulaan surah.
Semuanya disebut sebagai ‘muhkam’ seperti dalam firman-Nya ‘uhkimat aayaatuh’ dengan arti tak ada cacat atau celanya, dan ‘mutasyaabiha’ pada firman-Nya, ‘Kitaaban mutasyaabiha,’ dengan makna bahwa sebagian menyamai lainnya dalam keindahan dan kebenaran.
(Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan) menyeleweng dari kebenaran, (maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk membangkitkan fitnah) di kalangan orang-orang bodoh dengan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang syubhat dan kabur pengertiannya (dan demi untuk mencari-cari takwilnya) tafsirnya (padahal tidak ada yang tahu takwil) tafsirnya (kecuali Allah) sendiri-Nya (dan orang-orang yang mendalam) luas lagi kokoh (ilmunya) menjadi mubtada, sedangkan khabarnya:
(Berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyaabihat) bahwa ia dari Allah, sedangkan kami tidak tahu akan maksudnya, (semuanya itu) baik yang muhkam maupun yang mutasyabih (dari sisi Tuhan kami,” dan tidak ada yang mengambil pelajaran) ‘Ta’ yang pada asalnya terdapat pada ‘dzal’ diidgamkan pada dzal itu hingga berbunyi ‘yadzdzakkaru’ (kecuali orang-orang yang berakal) yang mau berpikir.
Mereka juga mengucapkan hal berikut bila melihat orang-orang yang mengikuti mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dialah Allah semata yang menurunkan al-Qur an kepadamu; diantara al-Qur an ada ayat-ayat yang petunjuknya jelas, ayat-ayat tersebut merupakan induk al-Qur an yang menjadi rujukan saat terjadi kemusykilan, apa yang menyelisihinya dikembalikan kepadanya.
Di antara al-Qur an ada ayat-ayat yang mutasyabihat yang hanya mengandung sebagian makna-makna.
Maksudnya tidak bisa dipastikan kecuali bila ia dikembalikan kepada muhkam.
Orang-orang yang memiliki hati yang sakit lagi menyimpang, mereka hanya mengikuti ayat-ayat mutasyabihat semata untuk menimbulkan syubhat-syubhat di kalangan manusia, sehingga mereka menyesatkan manusia dan agar bisa menakwilkannya sesuai dengan madzhab rusak mereka.
Hakikat makna dari ayat-ayat mutasyabihat hanya diketahui oleh Allah, sedangkan orang-orang yang berilmu mendalam berkata:
Kami beriman kepada al-Qur an ini, seluruhnya datang dari sisi Tuhan kami melalui lisan Rasul-Nya Muhamnad, mereka mengembalikan ayat-ayat mutasyabihat kepada muhkamat.
Yang memahami, mengerti dan merenungkan ayat-ayat Allah dengan benar hanyalah orang-orang yang berakal lurus

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat muhkam, yang semuanya merupakan Ummul Kitab, yakni terang dan jelas pengertiannya, tiada seorang pun yang mempunyai pemahaman yang keliru tentangnya.
Bagian yang lain dari kandungan Al-Qur’an adalah ayat-ayat mutasyabih (yang samar) pengertiannya bagi kebanyakan orang atau sebagian dari mereka.
Barang siapa yang mengembalikan hal yang mutasyabih kepada dalil yang jelas dari Al-Qur’an, serta memutuskan dengan ayat yang muhkam atas ayat yang mutasyabih, maka sesungguhnya dia mendapat petunjuk.
Barang siapa yang terbalik, yakni memutuskan yang mutasyabih atas yang muhkam, maka terbaliklah dia.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an.

Yaitu pokok dari isi Al-Qur’an yang dijadikan aijukan di saat menjumpai yang mutasyabih.

…dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.

Yakni ayat-ayat yang pengertiannya terkadang mirip dengan ayat-ayat yang muhkam dan terkadang mirip dengan pengertian lainnya bila ditinjau dari segi lafaz dan susunannya, tetapi tidak dari segi makna yang dimaksud.
Mereka berselisih pendapat mengenai muhkam dan mutasyabih, berbagai pendapat banyak diriwayatkan dari kalangan ulama Salaf.
Untuk itu, Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
bahwa ayat-ayat yang muhkam adalah ayat-ayat yang me-nasakh (merevisi), ayat-ayat yang menerangkan tentang halal dan haram, batasan-batasan dari Allah, serta semua hal yang berpengaruh dan diamalkan.

Disebutkan pula dari Ibnu Abbas bahwa ayat-ayat muhkam (antara lain) ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian, yaitu janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia (Al An’am:151)

Dan ayat-ayat lain yang sesudahnya, juga firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia.
(Al Israa’:23)

Serta ketiga ayat sesudahnya.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula, dia meriwayatkannya dari Said ibnu Jubair dengan lafaz yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Ishaq ibnu Suwaid, bahwa Yahya ibnu Ya’mur dan Abu Fakhitah melakukan perdebatan sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya:

…itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.
Maka Abu Fakhitah berkata, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat mutasyabihat ialah pembukaan tiap-tiap surat (yang terdiri atas rangkaian huruf-huruf hijaiyah).” Sedangkan menurut Yahya ibnu Ya’mur, makna yang dimaksud dengan Ummul Kitab ialah yang menyangkut fardu-fardu, perintah, dan larangan, serta halal dan haram.

Ibnu Luhai’ah meriwayatkan dari Ata ibnu Dinar, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan firman-Nya:

…itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an.
Dinamakan Ummul Kitab karena ayat-ayat tersebut tertulis di dalam semua kitab.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa dikatakan demikian karena tiada seorang pemeluk agama pun melainkan ia rida dengannya.
Menurut pendapat yang lain sehubungan dengan ayat-ayat mutasyabihat, yang dimaksud adalah ayat yang di-mansukh, hal yang didahulukan dan hal yang diakhirkan, semua misal (perumpamaan) yang terdapat di dalam Al-Qur’an, semua qasam (sumpah) dan hal-hal yang hanya diimani tetapi tidak diamalkan.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah dari Ibnu Abbas.

Menurut pendapat yang lain, ayat-ayat mutasyabihat ialah huaif-huruf hijaiyah yang ada pada permulaan tiap-tiap surat.
Demikian menurut Muqatil ibnu Hayyan.

Telah diriwayatkan dari Mujahid, bahwa ayat-ayat mutasyabihat sebagian darinya membenarkan sebagian yang lain.
Hal ini hanyalah menyangkut tafsir firman-Nya:

yaitu sebuah kitab (Al-Qur’an) yang serupa lagi berulang-ulang.
(Az Zumar:23)

Dalam tafsir ayat ini mereka menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan mutasyabih ialah suatu kalam yang berada dalam konteks yang sama, sedangkan yang dimaksud dengan masani ialah kalam yang menggambarkan dua hal yang berlawanan, seperti gambaran surga dan gambaran neraka, dan keadaan orang-orang yang bertakwa dengan keadaan orang-orang yang durhaka, begitulah seterusnya.

Yang dimaksud dengan istilah mutasyabih dalam ayat ini ialah lawan kata dari muhkam.
Pendapat yang paling baik sehubungan dengan masalah ini ialah apa yang telah kami sebut di atas, yaitu yang dinaskan oleh Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar ketika ia mengatakan sehubungan dengan tafsir firman-Nya:
…Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat…

Ayat-ayat yang muhkam merupakan hujah Tuhan, dan pemeliharaan bagi hamba-hamba Allah, serta untuk mematahkan hujah lawan yang batil.
Ayat-ayat ini tidak dapat dibelokkan pengertiannya dan tidak dapat ditakwilkan dengan pengertian yang menyimpang dari apa adanya.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan bahwa mutasyabihat dalam hal kebenarannya tidak memerlukan adanya pengertian lain dan takwil yang terkandung di balik makna lahiriahnya, Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan ayat-ayat mutasyabihat ini, sebagaimana Dia menguji mereka dengan masalah halal dan haram.
Pada garis besarnya ayat-ayat mutasyabihat tidak boleh dibelokkan kepada pengertian yang batil dan tidak boleh diselewengkan dari perkara yang hak.

Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan.

Yakni kesesatan dan menyimpang dari perkara yang hak, menyukai perkara yang batil.

Maka mereka mengikuti ayat yang mutasyabihat darinya.

Yaitu sesungguhnya mereka hanya mau mengambil yang mutasyabihnya saja, karena dengan yang mutasyabih itu memungkinkan bagi mereka untuk membelokkannya sesuai dengan tujuan-tujuan mereka yang rusak, lalu mereka mengartikannya dengan pengertian tersebut, mengingat lafaznya mirip dengan pengertian mereka yang menyimpang.
Terhadap yang muhkam, maka tidak ada jalan bagi mereka untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan padanya, karena yang muhkam merupakan hujah yang mematahkan alasan mereka dan dapat membungkam mereka.

Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…untuk menimbulkan fitnah.

Yaitu untuk menyesatkan para pengikut mereka dengan cara memakai Al-Qur’an sebagai hujah mereka untuk mengelabui para pengikutnya terhadap bid’ah yang mereka lakukan.
Padahal kenyataannya hal tersebut merupakan hujah yang menghantam mereka dan sama sekali bukan hujah yang mereka peralat.
Perihalnya sama dengan masalah seandainya orang-orang Nasrani mengemukakan hujahnya ‘Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa Isa adalah roh (ciptaan) Allah dan kalimat (perintah)-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan roh dari Allah’, tetapi mereka mengesampingkan firman-Nya yang mengatakan:

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian).
(Az Zukhruf:59)

Sesungguhnya misal (penciptaan) isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.
(Ali Imran:59)

Dan ayat-ayat lainnya yang muhkam lagi jelas menunjukkan bahwa Isa adalah salah seorang dari makhluk Allah, dan merupakan seorang hamba serta seorang rasul di antara rasul-rasul Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan untuk mencari-cari takwilnya.

Yakni penyimpangannya menurut apa yang mereka kehendaki.
Muqatil ibnu Hayyan dan As-Saddi mengatakan bahwa mereka ingin mencari tahu apa yang bakal terjadi dan bagaimana akibat dari ber-bagai hal melalui Al-Qur’an.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, dari Abdullah ibnu Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya:

Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu.
Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.
sampai dengan firman-Nya: orang-orang yang berakal.
Lalu beliau ﷺ bersabda: Apabila kalian melihat orang-orang yang berbantah-bantahan mengenainya (mutasyabih), maka merekalah orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah.
Karena itu, hati-hatilah kalian terhadap mereka.

Demikianlah bunyi hadis ini menurut apa yang terdapat di dalam Musnad Imam Ahmad melalui riwayat Ibnu Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah r.a.
tanpa ada seorang perawi pun di antara keduanya (antara Ibnu Abu Mulaikah dengan Siti Aisyah).

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui jalur Ismail ibnu Ulayyah dan Abdul Wahhab As-Saqafi, keduanya dari Ayyub dengan lafaz yang sama.
Muhammad ibnu Yahya Al-Abdi meriwayatkan pula di dalam kitab musnadnya melalui Abdul Wahhab As-Saqafi dengan lafaz yang sama.
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Ayyub.
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh bukan hanya seorang, dari Ayyub.
Ibnu Hibban meriwayatkan pula di dalam kitab sahihnya melalui hadis Ayyub dengan lafaz yang sama.

Abu Bakar ibnul Munzir meriwayatkannya di dalam kitab tafsirnya melalui dua jalur, yaitu dari Abun Nu’man, Muhammad ibnul Fadl As-Sudusi yang laqab-nya (julukannya) adalah Arim, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah dengan lafaz yang sama.
Ayyub (yaitu Abu Amir Al-Kharraz) dan lain-lainnya mengikutinya, dari Ibnu Abu Mulaikah, lalu Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Bandar, dari Abu Daud At-Tayalisi, dari Abu Amir Al-Kharraz, kemudian ia menuturkan hadis ini.

Sa’id ibnu Mansur meriwayatkannya pula di dalam kitab sunnah-nya, dari Hammad ibnu Yahya, dari Abdullah ibnu Abu Mulaikah, dari Aisyah.
Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui hadis Rauh ibnul Qasim dan Nafi’ ibnu Umar Al-Jumahi, keduanya dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Aisyah.

Nafi’ mengatakan dalam riwayatnya dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwa Siti Aisyah pernah menceritakan kepadaku, lalu ia (Ibnu Abu Mulaikah) menuturkan hadis ini.

Imam Bukhari meriwayatkan pula hadis ini dalam tafsir ayat ini, sedangkan Imam Muslim meriwayatkannya di dalam Kitabul Qadar dari kitab sahihnya, dan Abu Daud di dalam kitab sunnahnya, ketiganya meriwayatkan hadis ini dari Al-Aqnabi, dari Yazid ibnu Ibrahim At-Tusturi dari Ibnu Abu Mulaikah dari Al-Qasim ibnu Muhammad dari Siti Aisyah r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya:

Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu.
Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat.
, sampai dengan firman-Nya: Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal.

Siti Aisyah r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda:

Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih darinya, maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan oleh Allah, maka hati-hatilah kalian terhadap mereka.

Demikianlah menurut lafaz Imam Bukhari.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi melalui Bandar, dari Abu Daud At-Tayalisi, dari Yazid ibnu Ibrahim dengan lafaz yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
Imam Turmuzi menuturkan bahwa Yazid ibnu Ibrahim At-Tusturi sendirilah yang menyebut Al-Qasim dalam sanad ini, sedangkan menurut yang lainnya yang bukan hanya seorang meriwayatkannya dari Ibnu Abu Mulaikah langsung dari Siti Aisyah, tanpa menyebut Al-Qasim.
Demikian komentar Imam Turmuzi.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Walid At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Ibrahim At-Tusturi dan Hammad ibnu Abu Mulaikah, dari Al-Qasim ibnu Muhammad, dari Siti Aisyah r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai makna firman-Nya:

Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya.
Maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih dari Al-Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan oleh Allah (dalam ayat ini), maka hati-hatilah (waspadalah) kalian terhadap mereka.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Hammad ibnu Salamah, dari Abdur Rahman ibnul Qasim, dari ayah-nya, dari Siti Aisyah r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai ayat ini, yaitu firman-Nya:

…maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah.

Kemudian beliau ﷺ bersabda:

Allah telah memperingatkan kalian.
Maka apabila kalian melihat mereka, waspadalah kalian terhadap mereka.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur yang lain, dari Al-Qasim, dari Siti Aisyah dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Abu Galib yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Umamah menceritakan hadis berikut dari Nabi ﷺ sehubungan dengan firman-Nya:

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya.
(Ali Imran:7) bahwa mereka adalah golongan Khawarij.
Juga firman-Nya:

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram.
(Ali Imran:106).
Mereka (yang mukanya menjadi hitam muram) adalah golongan Khawarij.

Minimal hadis ini berpredikat mauquf karena dikategorikan sebagai perkataan seorang sahabat, tetapi makna yang dikandungnya sahih (benar).

Karena sesungguhnya mula-mula bid’ah yang terjadi dalam permulaan masa Islam ialah fitnah Khawarij.
Pada mulanya mereka muncul disebabkan masalah duniawi, yaitu ketika Nabi ﷺ membagi-bagi hasil ganimah Perang Hunain.
Dalam akal mereka yang tidak sehat seakan-akan mereka melihat bahwa Nabi ﷺ tidak berlaku adil dalam pembagian ganimah.
Lalu mereka mengejutkan Nabi ﷺ dengan suatu ucapan yang tidak pantas.
Maka seseorang dari mereka (Khawarij) yang dikenal dengan julukan “Zul Khuwaisirah” (si pinggang kecil, semoga Allah merobek pinggangnya) berkata, “Berlaku adillah engkau, karena sesungguhnya engkau tidak adil.” Lalu Rasulullah ﷺ menjawab:

Sesungguhnya kecewa dan merugilah aku jika aku tidak adil.
Allah mempercayakan aku untuk penduduk bumi, maka mengapa engkau tidak percaya kepadaku?

Ketika lelaki itu pergi, Umar ibnul Khattab —menurut riwayat yang lain Khalid ibnul Walid— meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk membunuh lelaki yang mengatakan demikian itu.
Tetapi Nabi ﷺ bersabda:

Biarkanlah dia, sesungguhnya kelak akan muncul dari golongan lelaki ini suatu kaum yang seseorang di antara kalian memandang kecil salatnya bila dibandingkan dengan salat mereka, dan bacaannya dengan bacaan mereka.
Mereka menembus agama sebagaimana anak panah menembus sasarannya.
Maka dimana pun kalian jumpai mereka, perangilah mereka, karena sesungguhnya bagi orang yang membunuh mereka akan mendapat pahala.

Mereka baru muncul dalam masa Khalifah Ali ibnu Abu Talib r.a.: dan ia memerangi mereka di Nahrawan.
Kemudian bercabanglah dari mereka berbagai kabilah dan puak serta berbagai aliran dan sekte yang cukup banyak.
Lalu muncullah aliran Qadariyah, Mu’tazilah, Jahmiyah, dan aliran-aliran bid’ah lainnya yang jauh sebelum itu telah diberitakan oleh Nabi ﷺ dalam salah satu sabdanya:

Umat ini kelak akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.
Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah mereka yang satu golongan itu, ya Rasulullah?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Orang-orang yang berpegang kepada tuntunanku dan tuntunan para sahabatku.”

Hadis diketengahkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya dengan tambahan ini.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Musa, telah menceritakan kepada kami Amr Ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir, dari ayahnya, dari Qatadah, dari Al-Hasan ibnu Jundub ibnu Abdullah, telah disampaikan kepadanya sebuah hadis dari Huzaifah atau dia mendengarnya langsung dari Huzaifah, dari Rasulullah ﷺ Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menuturkan hal berikut: Sesungguhnya di dalam umatku terdapat suatu kaum, mereka membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang sangat lancar seperti menebar anak panah, mereka menakwilkannya bukan dengan takwil yang sebenarnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…pahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.

Para ahli qurra berselisih pendapat mengenai bacaan waqaf dalam ayat ini.
Menurut suatu pendapat, waqaf dilakukan pada lafzul Jalalah, seperti apa yang telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa ia pernah mengatakan, “Tafsir itu ada empat macam, yaitu tafsir yang tidak sulit bagi seseorang untuk memahaminya, tafsir yang diketahui oleh orang-orang Arab melalui bahasanya, tafsir yang hanya diketahui oleh orang-orang yang berilmu mendalam, dan tafsir yang tiada yang mengetahuinya selain Allah.”

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari Ibnul As, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya Al-Qur’an itu sebagian darinya tidaklah diturunkan untuk mendustakan sebagian yang lainnya.
Maka apa saja darinya yang kalian ketahui, amalkanlah, dan apa saja darinya yang mutasyabih, maka berimanlah kalian kepadanya.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Tawus, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas membaca ayat ini dengan bacaan seperti berikut: Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, melainkan Allah.
Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya (hanya) mengatakan, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat.”

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Umar ibnu Abdul Aziz dan Malik ibnu Anas, bahwa mereka (orang-orang yang mendalam ilmunya) hanya beriman kepadanya, sedangkan mereka tidak mengetahui takwilnya.

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa di dalam qiraat Abdullah ibnu Mas’ud disebutkan takwil ayat-ayat mutasyabihat hanya ada pada Allah, sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya hanya mengatakan, “Kami beriman kepada apa yang disebutkan oleh ayat-ayat mutasyabihat.”

Hal yang sama diriwayatkan dari Ubay ibnu Ka’b, dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Di antara mereka ada yang melakukan waqaf pada firman-Nya:

Dan orang-orang yang mendalam ilmunya.

Pendapat ini diikuti oleh banyak ahli tafsir dan ahli Usul, dan mereka mengatakan bahwa khitab dengan memakai ungkapan yang tidak dimengerti merupakan hal yang mustahil.

Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah mengatakan, “Aku termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya, yaitu mereka yang mengetahui takwilnya.”

Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan pula dari Mujahid, bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya mengetahui takwilnya dan mereka mengatakan, “Kami beriman kepadanya.” Hal yang sama dikatakan oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ja’far ibnuz Zubair, bahwa makna yang dimaksud ialah tidak ada seorang pun yang mengetahui makna yang dimaksud kecuali hanya Allah.
Orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan, “Kami beriman kepada mutasyabih.”

Kemudian mereka yang mendalam ilmunya dalam menakwilkan ayat-ayat yang mutasyabihat merujuk kepada apa yang telah mereka ketahui dari takwil ayat-ayat muhkamat yang semua orang mempunyai takwil yang sama mengenainya.
Dengan demikian, maka semua isi Al-Qur’an serasi berkat pendapat mereka, sebagian di antaranya membenarkan sebagian yang lain, sehingga hujah pun menembus sasarannya dan tiada suatu alasan pun untuk mengelak darinya, serta semua kebatilan tersisihkan dan semua kekufuran tertolak berkat Al-Qur’an.
Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mendoakan sahabat Ibnu Abbas dengan doa berikut:

Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam agama dan ajarkanlah kepadanya takwil (Al-Qur’an).

Di antara ulama ada yang merincikan masalah ini, dia mengatakan bahwa takwil Al-Qur’an dimaksudkan mempunyai dua pengertian.
Salah satunya ialah takwil dengan pengertian hakikat sesuatu dan merupakan kesimpulan darinya.
Termasuk ke dalam pengertian ini ialah firman-Nya:

Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku, inilah tabir mimpiku yang dahulu itu.” (Yusuf:100)

Dan firman-Nya:

Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur’an itu.
Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu.
(Al A’raf:53)

Yakni hakikat dari apa yang diberitakan kepada mereka menyangkut perkara akhirat, apabila yang dimaksud dengan takwil seperti di atas berarti waqaf-nya pada lafzul Jalalah.
Karena hakikat dan kenyataan segala sesuatu itu tidak ada seorang pun yang mengetahuinya dengan jelas kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala Dengan demikian, berarti firman-Nya: Dan orang-orang yang mendalam ilmunya.
(Ali Imran:7) berkedudukan sebagai mubtada.
Sedangkan firman-Nya: mengatakan, “Kami beriman kepadanya.” (Ali Imran:7) berkedudukan sebagai khabar-nya.

Adapun jika yang dimaksud dengan takwil ialah pengertian yang lain, yaitu seperti tafsir, penjelasan, dan keterangan mengenai sesuatu, seperti makna yang terdapat di dalam firman-Nya:

Berikanlah kepada kami takwilnya.
(Yusuf:36)

Yakni tafsir dari mimpinya itu.
Jika yang dimaksud adalah seperti ini, berarti waqaf-nya pada firman-Nya: dan orang-orang yang mendalam ilmunya.
(Ali Imran:7)

Karena mereka mengetahui dan memahami apa yang di-khitab-kan oleh Al-Qur’an dengan ungkapannya itu, sekalipun pengetahuan mereka tidak meliputi hakikat segala sesuatu seperti apa adanya.
Berdasarkan analisis ini, berarti firman-Nya:
mengatakan, “Kami beriman kepadanya.”
berkedudukan sebagai hal yang menggambarkan keadaan mereka.
Hal ini memang diperbolehkan, dan ia merupakan bagian dari ma’tuf, bukan ma’tuf ‘alaih, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka.
(Al Hasyr:8)

sampai dengan firman-Nya:

mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami.” (Al Hasyr:10), hingga akhir ayat.

Dan seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan datanglah Tuhanmu, dan (datang pula) malaikat dengan berbaris-baris.
(89:22)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala yang memberitakan perihal mereka yang mendalam ilmunya, bahwa mereka mengatakan, “Kami beriman kepadanya,” yakni kepada ayat-ayat mutasyabihat itu.
Semuanya —yakni yang muhkam dan yang mutasyabih— berasal dari sisi Tuhan kami dengan sebenarnya.
Masing-masing dari keduanya membenarkan yang lainnya dan mempersaksikannya, karena semuanya berasal dari sisi Allah, Tiada sesuatu pun dari sisi Allah yang berbeda dan tidak pula berlawanan, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an?
Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
(An Nisaa:82)

Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal.

Dengan kata lain, sesungguhnya orang yang mengerti dan dapat memahaminya dengan pemahaman yang sebenarnya hanyalah orang-orang yang berakal sehat dan berpemahaman yang lurus.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf Ahimsi, telah menceritakan kepada kami Nu’aim ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Fayyad Ar-Riqqi, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Yazid (seseorang yang pernah bersua dengan sahabat-sahabat Nabi ﷺ, yaitu Anas, Abu Umamah, dan Abu Darda), bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai pengertian orang-orang yang mendalam ilmunya.
Maka beliau ﷺ bersabda: Orang yang menunaikan sumpahnya, jujur lisannya dan hatinya lurus, serta orang yang memelihara kehormatan perut dan farjinya.
Maka yang bersifat demikian itu termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Amr ibnu Syu’ab, dari ayahnya, dari kakeknya yang pernah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mendengar suatu kaum yang sedang berbantah-bantahan.
Maka beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian karena hal ini, mereka mengadukan sebagian dari Kitabullah dengan sebagian yang lain.
Dan sesungguhnya Kitabullah itu diturunkan hanyalah untuk membenarkan sebagian darinya dengan sebagian yang lain.
Karena itu, janganlah kalian mendustakan sebagian darinya dengan sebagian yang lain.
Hal-hal yang kalian ketahui darinya, maka katakanlah ia, dan hal-hal yang kalian tidak mengetahuinya, maka serahkanlah hal itu kepada yang mengetahuinya.

Dalam pembahasan terdahulu hadis ini telah disebut oleh riwayat Ibnu Murdawaih melalui jalur Hisyam ibnu Ammar, dari Abu Hazim, dari Amr ibnu Syu’aib dengan lafaz yang sama.

Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Zuhair ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Iyad, dari Abu Hazim, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa ia tidak mengetahui hadis ini melainkan dari Abu Hurairah yang isinya menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Al-Qur’an diturunkan dengan memakai tujuh dialek, berdebat dalam masalah Al-Qur’an merupakan kekufuran —sebanyak tiga kali—.
Apa saja yang kalian ketahui darinya, maka amalkanlah hal itu, dan apa saja yang kalian tidak ketahui darinya, maka kembalikanlah hal itu kepada Yang Maha Mengetahuinya.

Sanad hadis ini sahih, tetapi di dalamnya terdapat illat (cela) disebabkan ucapan perawi yang mengatakan, “Aku tidak mengetahuinya kecuali dari Abu Hurairah.”

Ibnul Munzir di dalam kitab tafsirnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Abdul Hakam, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Nafi’ ibnu Yazid yang mengatakan bahwa menurut suatu pendapat, orang-orang yang mendalam ilmunya ialah orang-orang yang tawadu’ kepada Allah, lagi rendah diri kepada Allah demi memperoleh rida-Nya.
Mereka tidak berbesar diri terhadap orang yang berada di atas mereka, dan tidak menghina orang yang berada di bawah mereka.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Ali Imran (3) ayat 7
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Ibrahim At Tustari dari Ibnu Abu Mulaikah dari Al Qasim bin Muhammad dari Aisyah radliallahu anha dia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat ini, Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat darinya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata,
Kami beriman kepada Al Qur’an seluruhnya dari Rabb kami. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang memiliki akal pikiran.
(Ali Imran: 7). Aisyah berkata,
kemudian Rasulullah shallaallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat, maka mereka itulah adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah, Maka Waspadalah kalian terhadap mereka!”

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4183

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 7

ZAYGH
زَيْغ

Lafaz ini adalah mashdar dari lafaz zagna. Dalam ilmu rohani ia bermakna tidak waras.

Asy Syaukani berkata “Az zaygh adalah kecondongan atau kecenderungan. Darinya, kata zagna asy syams (matahari condong) dan zagna al absar (kabur penglihatan). Ia juga bermakna apabila meninggalkan maksud sebenarnya. Darinya ayat 5 surah Ash Shaff (64).

فَلَمَّا زَاغُوٓا۟ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْۚ

Al Isfahani dalam kitabnya me­ngatakan bahasa az zaygh bermakna al-mayl ‘an istiqamah maksudnya cenderung atau lari dari istiqamah yaitu pendirian ketika mereka memisahkan sebuah pendirian mereka dikatakan begitu.

Disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Ali Imran (3), ayat 7.

Al Yazidi berkata,
az zaygh ialah kekufuran karena cenderung lari dari jalan yang benar.

Az Zamakhsyari berkata,
mereka adalah ahli bid’ah.

Diriwatkan oleh Muslim dari Aisyah katanya, Rasulullah membaca ayat:

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنْهُ

Aisyah berkata,
Rasulullah bersabda yang artinya, ”Apabila kamu melihat orang yang mengikuti (dengan sungguh-sungguh) sebahagian ayat­-ayat mutasyaabihaat, mereka adalah orang yang disebut oleh Allah (di dalam ayat ini), maka berhati-hatilah terhadap mereka.”

Qatadah menyatakan tafsiran ayat ini, se­kiranya bukan Al Haruuriyah dan kelompok Khawaarij aku tidak tahu siapa mereka.

Al Qurtubi berkata,
”Ayat ini mencakup se­tiap kelompok dari orang kafir, Zindiq, orang jahil dan ahli bida’ah walaupun isyarat ayat ini pada masa itu kepada Nasrani Najran. Demikian halnya dengan delegasi Najran itu. Boleh jadi akal logis mereka membenarkan penjelasan dan dalil-dalil yang dikemukakan Rasulullah tetapi hati mereka enggan me­nerimanya.”

Dalam Tafsir Al Manar, mereka adalah ahlaz zaygh dari orang musyrik dan mujassamah yang mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat (diantaranya dalam firman Allah wa ruuhum minhu). Mereka mengambil pada zahirnya saja tanpa meneliti kepada hukum yang asal untuk membuat fitnah dengan meng­ajak mereka kepada hawa nafsu dan ber­kecimpung dalam permasalahan mereka, dan berkata,
“Sesungguhnya Allah adalah roh dan Al Masih. Roh adalah dari Nya dan ia sebahagian dari Nya yang tidak terpisah, oleh itu dia adalah Allah dan Allah adalah dia.

Kesimpulannya, az zaygh bermaksud cenderung dan condong kepada kekufuran.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:269

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 7 *beta

Surah Ali Imran Ayat 7



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.9
Rating Pembaca: 4.5 (13 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku