Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 64


قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ
Qul yaa ahlal kitaabi ta’aalau ila kalimatin sawaa-in bainanaa wabainakum alaa na’buda ilaallaha walaa nusyrika bihi syai-an walaa yattakhidza ba’dhunaa ba’dhan arbaaban min duunillahi fa-in tawallau faquuluuusyhaduu biannaa muslimuun(a);

Katakanlah:
“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”.
Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:
“Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
―QS. 3:64
Topik ▪ Ancaman bagi orang yang membantah Al Qur’an
3:64, 3 64, 3-64, Ali Imran 64, AliImran 64, Al Imran 64
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 64. Oleh Kementrian Agama RI

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, agar mengajak ahli kitab Yahudi dan Nasrani untuk berdialog secara adil dalam mencari asas-asas persamaan dari ajaran yang dibawa oleh rasul-rasul dan kitab-kitab yang diturrunkan kepada mereka, yaitu Taurat, Injil dan Alquran.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan maksud ajakan itu yaitu agar mereka tidak menyembah selain Allah yang mempunyai kekuasaan yang mutlak yang berhak menetapkan syari'at dan yang berhak menghalalkan dan mengharamkan, serta tidak mempersekutukan Nya.

Ayat ini mengandung: Sifat wahdaniah uluhiyah bagi Allah subhanahu wa ta'ala, yaitu ke Esaan Allah seperti tersebut dalam firman Nya:

"Bahwa kami tidak akan menyembah kecuali kepada Allah".
(Q.S Ali Imran: 64)

Dan sifat Wahdaniyah Rububiyah dalam firman Nya yaitu ke Esaan dalam mengatur makhluk Nya:

Dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah".
(Q.S Ali Imran: 64)

Ketentuan ini disepakati oleh semua orang, dan dapat dibuktikan, Ibrahim as diutus Allah untuk membawa agama Tauhid sebagaimana dibawa oleh Nabi Musa as seperti terdapat dalam kitab Taurat: Allah berfirman kepada Nabi Musa' "Sesungguhnya Tuhan ialah sesembahanmu, kamu tidak mempunyai sesembahan lain di sisi Ku, jangan kamu membuat pahatan patung, dun jangan membuat gambaran apapun juga dari apa saja yang terdapat di langit dan di bumi, maupun yang terdapat di dalam air.
Jangan kamu bersujud kepada patung-patung dan gambar-gambar serta jangan menghambakan diri kepadanya.

Demikian juga Nabi Isa as diutus Allah dengan membawa ajaran seperti itu.
Kemudian Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi penutup, beliau diutus dengan membawa ajaran seperti ini.

Di dalam Alquran terdapat firman Allah:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur.
(Q.S Al Baqarah: 255)

Kesimpulan dari ajakan tersebut ialah: orang-orang Islam dan Ahli Kitab sama-sama meyakini, bahwa alam itu termasuk ciptaan Allah Yang Maha Esa.
Dialah yang menciptakan dan mengurusnya dun Dialah Yang mengutus para nabi kepada mereka untuk menyampaikan keterangan-keterangan tentang peruatan yang diridai dan yang tidak diridai Nya.

Kemudian Nabi Muhammad ﷺ, mengajak orang-orang AhIi Kitab agar bersepakat untuk menegakkan prinsip-prinsip agama itu, menolak hal yang meragukan, yang bertentangan dengan prinsip agama.
Maka apabila orang-orang Nasrani mendapatkan keterangan-keterangan dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa seperti kata-kata "Putera Tuhan" hendaklah ditakwilkan dengan takwilan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang disepakati oleh para nabi, karena kita semua tidak akan mendapatkan di antara perkataan nabi yang bisa di artikan bahwa sesungguhnya Nabi Isa itu tuhan yang disembah.
Dan kita juga tidak akan mendapatkan keterangan yang mengatakan bahwa Isa mengajak manusia untuk menyembah dirinya dan ibunya, melainkan Nabi Isa mengajak manusia untuk menyembah Allah satu-satunya dan dengan ikhlas beribadah kepada Nya.

Pada mulanya, orang-orang Yahudi beragama tauhid, kemudian terjadilah malapetaka bagi mereka yaitu waktu mereka mengakui hukum apa saja yang ditetapkan pemimpin-pemimpin agama adalah sama kedudukannya dengan hukum yang datang dari Allah.
Demikian juga orang-orang Nasrani menempuh jalan seperti orang-orang Yahudi itu.
Mereka menambahkan peleburan dosa dalam agamanya.
Dan inilah yang menjadi problematik yang sangat membahayakan dalam masyarakat orang-orang Nasrani sehingga timbullah penjualan surah aflat (surah penebusan dosa) dari gereja-gereja dengan jalan itu mereka dapat mengumpulkan uang yang banyak.
Oleh sebab itu timbullah gerakan yang menuntut perbaikan.
Kelompok ini terkenal dengan istilah protestan.

Diriwayatkan dari `Ady bin Hatim bahwa ia berkata: "Saya datang kepada Rasulullah ﷺ, sedangkan dileherku terdapat kalung salib yang terbuat dari emas.
Kemudian Rasulullah bersabda: "Hai `Ady buanglah berhala itu dari Iehermu".
Sayapun mendengar Nabi Muhammad membaca surah Bara'ah:

"Mereka menjadikan orang-orang `aIimnya dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah".
(Q.S At Taubah: 31)

Kemudian saya berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mereka itu tidak menyembah pendeta-pendeta".
Kemudian Nabi Muhammad ﷺ bersabda: "Bukankah mereka menghalalkan dan mengharamkan bagi kamu lalu kamu berpegang saja pada peikataan mereka?".
Kemudian saya berkata: "Betul".
Lalu Nabi Muhammad bersabda: "Itulah artinya menganggap pendeta-pendeta itu sebagai tuhan".

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta'ala memberikan penegasan, hahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani menolak dun membangkang, dan mereka tetap pada pendiriannya, yaitu menyembah selain Allah dan mempercayai adanya tuhan-tuhan di samping Allah, yang dijadikan perantara kepada Allah dan mereka tuat pada ketentuan-ketentuan mereka, baik mengenai yang dihalalkan maupun yang diharamkan oleh pendeta-pendeta itu.
Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan agar orang-orang muslim mengatakan kepada mereka, bahwa kaum muslimin hanya menyembah Allah dan memurnikan ketaatan kepada Nya semata-mata.

Dalam ayat ini terdapat sebuah ketentuan bahwa semua masalah yang berhubungan dengan ibadah atau dengan halal dan haram hanya Alquran dan hadis, yang dijadikan pokok pegangan dalam menetapkannya, bukan pendeta pemimpin dan bukan pula pendapat ahli hukum yang kenamaan sekalipun, sebab kalau demikian, tentulah hal itu akan menyebabkan adanya persekutuan dalam keesaan rububiyah dan penyimpangan dari petunnjuk Alquran seperti tersebut dalam firman Allah:

"Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?
Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan.
Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperolch azab yang pedih".

(As Syura: 21)

Tersebut pula dalam firman Allah:

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ini halal dan ini haram"
(Q.S An Naba': 116)

Adapun masalah keduniaan, seperti urusan peradilan, dan urusan politik, Allah subhanahu wa ta'ala telah melimpahkan kekuasaan Nya kepada ahlul Halli wal `Aqdi yaitu para ahli berbagai bidang dalam masyarakat.
Maka apa yang ditetapkan mereka hendaklah ditaati selama tidak bertentangan dengan pokok-pokok agama.
Ayat ini menjadi dasar dan pokok pegangan bagi dakwah Nabi ﷺ untuk mengajak ahIi kitab mempraktekkannya.
Pada waktu Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam, seperti terdapat dalam surah beliau yang ditujukan kepada Heraclius dan Muqauqis dan Kisra Persia.

Ali Imran (3) ayat 64 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 64 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 64 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan, wahai Nabi, "Hai Ahl al-Kitab, mari kita berpegang kepada kalimah sawa' (titik temu) yang selalu kita ingat bersama-sama.
Yaitu, bahwa masing-masing kita hanya menyembah kepada Allah, tidak mengakui adanya sekutu bagi-Nya, dan tidak tunduk dan taat kepada pihak lain demi menghalalkan atau mengharamkan sesuatu dengan meninggalkan hukum Allah yang telah ditetapkan." Kalau mereka menolak ajakanmu yang benar itu, katakan kepada mereka, "Persaksikanlah bahwa kami patuh dan tunduk kepada hukum dan ketentuan Allah.
Kami tidak berdoa selain kepada-Nya."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah, "Hai Ahli Kitab!) yakni Yahudi dan Nasrani (Marilah kita menuju suatu kalimat yang sama) mashdar dengan makna sifat, artinya yang serupa (di antara kami dan kamu) yakni (bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun juga dan bahwa sebagian kita tidak mengambil lainnya sebagai Tuhan selain daripada Allah) sebagaimana halnya kamu mengambil para rahib dan pendeta.
(Jika mereka berpaling) jika menyeleweng dari ketauhidan (maka katakanlah olehmu) kepada mereka ('Saksikanlah bahwa kami ini beragama Islam.'") yang bertauhid.
Ayat berikut diturunkan ketika orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Ibrahim itu seorang Yahudi dan kita adalah penganut agamanya demikian pula orang-orang Nasrani mengklaim seperti itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah wahai Rasul kepada ahli kitab dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani :
Marilah kita semuanya berpegang kepada kalimat yang adil lagi haq, yaitu hendaknya kita mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya dan tidak mengangkat sekutu apapun bersama-Nya, baik berupa patung, berhala, salib, thaghut atau selainnya, dan hendaknya sebagian dari kita tidak memberikan ketaatan kepada sebagian yang lain selain Allah.
Bila mereka berpaling dari seruan yang baik ini, maka katakanlah kepada mereka wahai orang-orang yang beriman :
Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang mukmin yang tunduk kepada Tuhan kami dengan ibadah dan keikhlasan… Kalimat haq ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana ia juga ditujukan kepada orang-orang yang seperti mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Khitab (perintah) ini bersifat umum mencakup semua Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta orang-orang yang sealiran dengan mereka.

Katakanlah, "Hat Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat."

Definisi kalimat ialah sebuah jumlah (kalimat) yang memberikan suatu faedah (pengertian).
Demikian pula yang dimaksud dengan kalimat dalam ayat ini.
Kemudian kalimat tersebut diperjelas pengertiannya oleh firman selanjutnya, yaitu:

...yang tidak ada perselisihan di antara kami dan kalian.

Yakni kalimat yang adil, pertengahan, dan tidak ada perselisihan di antara kami dan kalian mengenainya.
Kemudian diperjelas lagi oleh firman selanjutnya:

...bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun.

Yaitu baik dengan berhala, salib, wasan, tagut, api atau sesuatu yang selain-Nya, melainkan kita Esakan Allah dengan menyembah-Nya semata, tanpa sekutu bagi-Nya.
Hal ini merupakan seruan yang dilakukan oleh semua rasul.
Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami mewahyukan kepadanya, "Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku." (Al Anbiyaa:25)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu.” (An Nahl:36)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah.

Ibnu Juraij mengatakan, makna yang dimaksud ialah sebagian kita menaati sebagian yang lain dalam bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta'ala Sedangkan menurut Ikrimah, makna yang dimaksud ialah sebagian kita bersujud kepada sebagian yang lain.

Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan did (kepada Allah)."

Yakni jika mereka berpaling dari keadilan ini dan seruan ini, hendaklah mereka mempersaksikan kalian bahwa kalian tetap berada dalam agama Islam yang telah disyariatkan oleh Allah untuk kalian.

Kami menyebutkan di dalam syarah Bukhari pada riwayatnya yang ia ketengahkan melalui jalur Az-Zuhri, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas'ud, dari Ibnu Abbas, dari Abu Sufyan tentang kisahnya ketika masuk menemui kaisar, lalu kaisar menanyakan kepadanya tentang nasab Rasulullah ﷺ, sifat-sifatnya, dan sepak terjangnya, serta apa yang diserukan olehnya.
Lalu Abu Sufyan menceritakan hal tersebut secara keseluruhan dengan jelas dan apa adanya.
Padahal ketika itu Abu Sufyan masih musyrik dan belum masuk Islam, hal ini terjadi sesudah adanya Perjanjian Hudaibiyyah dan sebelum penaklukan kota Mekah, seperti yang dijelaskan oleh hadis yang dimaksud.
Juga ketika ditanyakan kepadanya, apakah Nabi ﷺ pernah berbuat khianat?
Maka Abu Sufyan menjawab, "Tidak.
Dan kami berpisah dengannya selama suatu masa, dalam masa itu kami tidak mengetahui apa yang dilakukannya." Kemudian Abu Sufyan mengatakan, "Aku tidak dapat menambahkan suatu berita pun selain dari itu."

Tujuan utama dari pengetengahan kisah ini ialah bahwa surat Rasulullah ﷺ disampaikan kepada kaisar yang isinya adalah seperti berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasulullah, ditujukan kepada Heraklius, pembesar kerajaan Romawi, semoga keselamatan terlimpah kepada orang yang mengikuti petunjuk.
Amma Ba'du: Maka masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat, dan masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali.
Tetapi jika engkau berpaling, maka sesungguhnya engkau menanggung dosa kaum arisin (para petani).
Dan di dalamnya disebutkan pula firman-Nya:

Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah.
Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah)."

Muhammad ibnu Ishaq dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang saja telah menyebutkan bahwa permulaan surat Ali Imran sampai dengan ayat delapan puluh lebih sedikit diturunkan berkenaan dengan delegasi Najran.

Az-Zuhri mengatakan bahwa mereka adalah orang yang mula-mula membayar jizyah.

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang ayat jizyah ini, bahwa ia diturunkan sesudah penaklukan kota Mekah.
Maka timbul pertanyaan, bagaimanakah dapat digabungkan antara peristiwa penulisan ayat ini —yang terjadi sebelum peristiwa kemenangan atas kota Mekah dalam surat yang ditujukan kepada Heraklius, sebagai bagian dari surat tersebut— dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Ishaq dan Az-Zuhri?

Sebagai jawabannya dapat dikemukakan alasan-alasan berikut, yaitu:

Pertama.
Dapat dihipotesiskan bahwa adakalanya ayat ini diturunkan dua kali, sekali sebelum Perjanjian Hudaibiyyah, dan yang lainnya sesudah peristiwa kemenangan atas kota Mekah.

Kedua.
Adakalanya permulaan surat Ali Imran diturunkan berkenaan dengan delegasi Najran sampai dengan ayat ini, yang berarti ayat ini diturunkan sebelum peristiwa itu.
Dengan demikian, berarti pendapat Ibnu Ishaq yang mengatakan sampai ayat delapan puluh lebih beberapa ayat kurang dihafal, mengingat pengertian yang ditunjukkan oleh hadis Abu Sufyan di atas tadi.

Ketiga.
Adakalanya kedatangan delegasi Najran terjadi sebelum Perjanjian Hudaibiyyah, dan orang-orang yang memberikan bayaran kepada Nabi ﷺ sebagai ganti dari mubahalah bukan dianggap sebagai jizyah, melainkan sebagari gencatan senjata dan perdamaian.
Sesudah itu turunlah ayat mengenai jizyah yang sesuai dengan peristiwa tersebut.
Perihalnya sama dengan peristiwa difardukannya seper-lima dan empat perlima yang bersesuaian dengan apa yang dilakukan oleh Abdullah ibnu Jahsy terhadap sariyyah (pasukan) yang bersangkutan sebelum Perang Badar.
Kemudian diturunkanlah hukum fardu pembagian ganimah yang sesuai dengan kebijakan tersebut.

Keempat.
Adakalanya ketika Rasulullah ﷺ Memerintahkan untuk menulis surat tersebut kepada Herakklius, ayat Itu masih belum diturunkan.
Sesudah itu baru Al-Qur'an mengenai masalah ini diturunkan bersesuaian dengan apa yang dilakukan oleh Nabi ﷺ Sebagaimana diturunkan ayat mengenai hijab dan tawanan perang yang isinya bersesuaian dengan kebijakan yang diputuskan oleh Umar ibnul Khattab, begitu pula ayat yang melarang menyalatkan jenazah orang-orang munafik.
Juga dalam firman-Nya:

Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat.
(Al Baqarah:125)

Peristiwa yang menyangkut firman-Nya:

Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian.
(At Tahriim:5), hingga akhir ayat.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Ali Imran (3) ayat 64
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar dari Utsman bin Hakimdari Said bin Yasar dari Ibnu Abbas katanya, Dalam dua raka'at fajarnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa membaca Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami. QS. Al Baqarah: 136, dan yang terdapat dalam surat Ali Imran Marilah kita menuju kalimat yang sama antara kami dan kalian. QS. Ali Imran: 64. Dan telah menceritakan kepadaku Ali bin Khasyram telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus dari Utsman bin Hakim dalam sanad ini seperti haditsnya Marwan Al Fazari.

Shahih Muslim, Kitab Shalatnya Musafir dan Penjelasan Tentang Qashar - Nomor Hadits: 1197

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 64

ARBAAB
أَرْبَاب

Lafaz ini adalah jamak dari kata rabb yang mengandung makna tuan, raja, pemilik setiap sesuatu. Ar rabb bermakna nama dari nama Allah, tidak dikatakan kepada yang lain kecuali dengan idafah (disandarkan pada kalimat lain). Pada masa jahiliah, orang Arab menamakan raja dengan menggunakan lafaz rabb.

Lafaz arbaab disebut sebanyak empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 64, 80;
-At Taubah (9), ayat 31;
-Yusuf (12), ayat 39.

Al Qasiml berkata,
''Ayat dalam surah Yusuf ini mengisyaratkan mengenai keadaan masyarakat Mesir yang menyembah banyak tuhan. Sebagaimana Mesir hebat dalam bidang keilmuan dan kekuasaan, begitu juga dalam penyembahan tuhan-tuhan, masyarakatnya juga mencapai kemuncak dalam kesesatan, yang mana mereka menyembah matahari, bulan, bintang, individu-individu di kalangan manusia dan hewan sehingga kepada serangga-serangga yang ada di bumi."

Asy Syawkani berkata,
"Maksud ayat 64 surah Ali Imran dan At Taubah adalah celaan bagi orang yang meyakini ketuhanan Al­ Masih dan 'Uzayr serta isyarat mereka adalah dari jenis manusia seperti mereka sendiri, dan kehinaan bagi orang yang mengikuti rijal (pemuka) agama sehingga menghalalkan apa yang mereka halalkan dan mengharamkan apa yang mereka haramkan. Sekiranya mereka berbuat dernikian, berarti orang yang mengikutinya mengambilnya sebagai tuhan."

At Tabari berkata,
"Ia bermaksud ketaatan pengikut kepada pembesar-pembesar mereka, mengikuti segala yang disuruh dari berbuat kejahatan dan meninggalkan ketaatan kepada Allah seperti dalam surah At Taubah ayat 31. Sebagaimana pendapat Ibn Juraij maksud tuhan itu ialah ketaatan manusia kepada tuan dan pembesar mereka, walau bukan dari aspek ibadah. Pendapat 'Ikrimah menyatakan, sesetengah mereka bersujud kepada setengah yang lain.

Kesimpulannya, lafaz arbaab mengandung dua makna.

Pertama, bermakna tuhan-tuhan.

Kedua, bermakna pendidik selain Allah sebagaimana pada surah At Taubah, ayat 31.

Walau bagaimanapun, maksud umum bagi lafaz ini adalah tuhan -tuhan yang disembah dari benda, hewan dan manusia.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:62

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat "Ali 'lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali 'lmran karena memuat kisah keluarga 'lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam 'alaihis salam, kenabian dan beberapa mu'jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'lmran, ibu dari Nabi 'Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali 'lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga 'lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 64 *beta

Surah Ali Imran Ayat 64



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.6
Rating Pembaca: 4.6 (14 votes)
Sending







✔ surat ali imran ayat 64, terjemahan tafsir al maraghi surat ali imran 64