Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 37


فَتَقَبَّلَہَا رَبُّہَا بِقَبُوۡلٍ حَسَنٍ وَّ اَنۡۢبَتَہَا نَبَاتًا حَسَنًا ۙ وَّ کَفَّلَہَا زَکَرِیَّا ۚؕ کُلَّمَا دَخَلَ عَلَیۡہَا زَکَرِیَّا الۡمِحۡرَابَ ۙ وَجَدَ عِنۡدَہَا رِزۡقًا ۚ قَالَ یٰمَرۡیَمُ اَنّٰی لَکِ ہٰذَا ؕ قَالَتۡ ہُوَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ بِغَیۡرِ حِسَابٍ
Fataqabbalahaa rabbuhaa biqabuulin hasanin wa-anbatahaa nabaatan hasanan wakaffalahaa zakarii-yaa kullamaa dakhala ‘alaihaa zakarii-yaal mihraaba wajada ‘indahaa rizqan qaala yaa maryamu anna laki hadzaa qaalat huwa min ‘indillahi innallaha yarzuqu man yasyaa-u bighairi hisaabin;

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.
Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya.
Zakariya berkata:
“Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?”
Maryam menjawab:
“Makanan itu dari sisi Allah”.
Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
―QS. 3:37
Topik ▪ Takdir ▪ Usia dan rezeki sesuai dengan takdir ▪ Membaca Al Qur’an di malam hari
3:37, 3 37, 3-37, Ali Imran 37, AliImran 37, Al Imran 37
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 37. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menerima Maryam sebagai nazar disebabkan permohonan ibunya.
Allah meridainya untuk menjadi orang yang semata-mata beribadat dan berkhidmat pada Baitulmakdis walaupun Maryam itu masih kecil dan seorang perempuan.
Padahal orang yang dikhususkan untuk berkhidmat dalam Baitulmakdis itu biasanya hanyalah laki-laki yang akil balig dan sanggup melaksanakan pengkhidmatan.

Allah juga memelihara dun mendidik-Nya serta membesarkannya dengan sebaik-baiknya.
Pendidikan yang diberikan Allah kepada diri Maryam ini meliputi pendidikan rohaniah dan jasmaniah.
Maka dia menjadi seorang yang berbadan sehat dan kuat serta berbudi baik, dan bersih rohani dan jasmaninya.
Allah subhanahu wa ta'ala telah pula menjadikan Nabi Zakaria sebagai pengasuh dan pelindungnya.

Diriwayatkan bahwa ibunya menjemput dan membawanya ke mesjid, lalu meletakkannya di depan pendeta-pendeta yang ada di sana.
Dia berkata: "Ambillah olehmu anak yang kunazarkan ini".
Maka mereka saling memperebutkan bayi itu, karena dia adalah putri dari pemimpin mereka.
Masing-masing mereka ingin menjadi pengasuhnya.
Nabi Zakaria kemudian berkata: "Aku lebih berhak mengasuhnya, karena bibinya itu adalah isteriku".
Akan tetapi para hadirin ada yang menolak kecuali jika ditentukan dengan undian.
Maka pergilah mereka semua ke sungai Yordan, melepaskan anak panah mereka masing-masing ke sungai itu, dengan maksud barang siapa yang anak panahnya dapat bertahan terhadap arus air sungai itu, dapat cepat naik.
maka dialah yang berhak mengasuh anak bayi Maryam itu.
Ternyata kemudian anak panah Nabi Zakarialah yang dapat bertahan dan timbul meluncur di permukaan air, sedang anak panah yang lainnya hanyut tenggelam di bawa arus.
Maka dalam undian itu Zakaria lab yang menang dan Maryam segera diserahkan kepadanya untuk dipelihara dan dididik di bawah asuhan bibinya sendiri.
Manakala Maryam sudah mulai dewasa, diapun telah mulai beribadat di mihrab.

Tiap kali Nabi Zakaria masuk ke dalam mihrab, ia dapati di sana makanan dan bermacam buah-buahan yang tidak ada pada waktu itu karena belum datang musimnya.

Zakaria pada suatu waktu menanyakan kepada Maryam tentang buah-buahan itu dari mana dia memperolehnya padahal saat itu musim kemarau.
Maka Maryam menjawab : "Makanan itu dari sisi Allah.
Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki Nya tanpa batas.

Allah menerangkan kisah tersebut untuk meneguhkan kenabian Muhammad ﷺ, dan mengalihkan pikiran ahli kitab yang membatasi karunia kenabian itu pada orang Israil saja.
Juga untuk menyalahkan pikiran orang musyrikin `Arab yang menolak kenabian Muhammad ﷺ, karena menganggap dia hanya manusia seperti mereka saja.

Allah menjelaskan bahwa Dia telah menjadikan Adam sebagai orang pilihan dan khalifah di atas bumi, serta menjadikan Nuh sebagai orang pilihan dan bapak yang kedua dari umat manusia dan kemudian memilih Ibrahim serta keluarganya untuk menjadi manusia pilihan dan pembimbing manusia.
Orang Arab dan para ahli Kitab mengetahui hal itu.
Tetapi orang musyrik Arab menyombongkan diri sebagai keturunan Ismail dan pemeluk agama Ibrahim dan ahil Kitab menyombongkan diri atas terpilihnya keluarga 'lmran dari keturunan Bani Israil cucu Nabi Ibrahim.
Baik orang Arab maupun ahli Kitab mengetahui bahwa Allah telah memilih mereka itu semata-mata hanyalah atas kehendak-Nya sebagai karunia dan kemurahan-Nya.
Maka apakah yang menghalangi Allah untuk menjadikan Muhammad ﷺ seorang pilihan di atas bumi ini.
sebagaimana Allah memilih mereka juga?
Allah memilih siapapun yang Dia kehendaki di antara makhluknya.
Allah telah memilih Muhammad ﷺ.
serta menjadikan sebagai pimpinan bagi umat manusia dan mengeluarkan dari kegelapan syirik dan kebodohan.
kepada cahaya kebenaran dan keyakinan.
Tidak seorangpun dari keluarga Ibrahim dan Imran yang lebih besar pengaruhnya daripada Muhammad ﷺ.

Ali Imran (3) ayat 37 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah menerima Maryam sebagai persembahan dan mengabulkan doa ibunya.
Maryam diberi pertumbuhan yang baik, penuh keberkahan, pengawasan dan pendidikan yang membentuk pertumbuhan tubuhnya.
Kemudian Allah menjadikan Zakariyya a.
s.
sebagai pengasuhnya.
Setiap kali memasuki tempat ibadah Maryam, Zakariyya mendapatkan rezeki yang tidak biasa pada waktunya."Dari mana ini semua, Maryam?"
tanya Zakariyya heran.
"Ini semua rezeki dari Allah.
Allah memberi rezeki tanpa perhitungan dan tanpa batas kepada hamba yang dikehendaki-Nya."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka Tuhannya menerimanya) menerima Maryam sebagai nazar dari ibunya (dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik pula) Di samping pendidikan akhlaknya, Allah memperhatikan pula pertumbuhan jasmaninya, hingga dalam sehari besarnya bertambah seakan-akan dalam satu tahun.
Ibunya membawanya kepada para pendeta penjaga Baitulmakdis, lalu katanya, "Terimalah oleh tuan-tuan anak yang dinazarkan ini." Berlomba-lombalah mereka untuk menerimanya sebagai anak asuhan, karena ia adalah putri dari imam mereka.
Kata Zakaria, "Aku lebih berhak kepadanya, karena bibinya tinggal bersamaku." "Tidak," kata mereka, "sebelum kita mengadakan undian lebih dulu." Mereka yang banyaknya 29 orang itu pergi ke sungai Yordan dan melemparkan qalam atau anak panah mereka masing-masing ke dalamnya.
Barang siapa yang qalamnya tidak hanyut dan timbul ke permukaan air, dialah yang lebih berhak menjadi pengasuhnya.
Ternyata qalam Zakaria tidak hanyut dan timbul ke permukaan, hingga Maryam pun menjadi anak asuhannya, diambilnya dan dibuatkan untuknya sebuah bilik dalam mesjid dengan mempunyai tangga yang tak boleh dinaiki kecuali olehnya sendiri.
Zakaria membawakannya makanan dan minuman serta alat-alat hiasannya, maka di musim dingin dijumpai padanya buah-buahan musim panas, dan di musim panas dijumpainya buah-buahan musim dingin, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala (dan dijadikan-Nya ia di bawah asuhan Zakaria).
Menurut satu qiraat memakai tasydid sehingga berbunyi 'wakaffalahaa' sedangkan dinashabkannya 'Zakariya' itu ada yang panjang ada pula yang pendek.
Yang mendatangkan buah-buahan tersebut adalah Allah subhanahu wa ta'ala (Setiap Zakaria masuk untuk menemuinya di mihrab) yakni ruangan yang paling mulia di suatu mesjid (didapatinya makanan di sisinya, katanya, "Hai Maryam! Dari mana kamu peroleh makanan ini?"
Jawabnya) sedangkan ia masih kecil ("Makanan itu dari Allah) yang didatangkan-Nya bagiku dari surga." (Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang disukai-Nya tanpa batas) yakni rezeki yang berlimpah yang diperoleh tanpa risiko dan jerih payah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Maka Allah menjawab doanya, menerima nadzarnya dengan penerimaan terbaik, memayungi Maryam putrinya dengan penjagaan, menyampaikan berita gembira kepadanya bahwa pengasuhnya adalah Zakariya.
Maka Zakariya mengizinkan Maryam untuk tinggal di tempat ibadahnya.
Setiap kali Zakariya masuk ke tempat tersebut, dia melihat rizki di sisi Maryam dalam keadaaan siap dan nikmat, maka dia berkata :
Wahai Maryam, dari mana kamu mendapatakan rizki yang baik ini?
Dia menjawab :
Dari sisi Allah.
Sesungguhnya Allah dengan karunia-Nya memberikan rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya tanpa perhitungan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala memberitakan bahwa Dia menerima nazar yang telah diucapkan oleh ibu Maryam, dan bahwa Dia menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik, yakni menjadikan rupanya cantik dengan penampilan yang bercahaya serta memberinya rahasia untuk doa yang dikabulkan, dan menitipkannya kepada orang-orang yang saleh dari hamba-hamba-Nya, dia belajar dari mereka ilmu, kebaikan, dan agama.
Disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya.

Dengan huruf fa yang di-tasydid-kan dan lafaz Zakaria di-nasab-kan karena menjadi maful, yakni Allah menjadikannya sebagai pemelihara Maryam.

Ibnu Ishaq mengatakan, hal tersebut tidak sekali-kali terjadi melainkan karena Maryam telah yatim.
Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa kaum Bani Israil di suatu waktu mengalami musim paceklik dan kekeringan, maka Zakaria memelihara Maryam sebagai ayah angkatnya karena faktor tersebut.
Pada intinya kedua pendapat tersebut tidak bertentangan.

Sesungguhnya Allah telah menakdirkan Zakaria sebagai pemeliharanya tiada lain hanyalah untuk kebahagiaan Maryam sendiri, agar Maryam dapat menimba darinya ilmu pengetahuan yang banyak lagi bermanfaat serta amal yang saleh.
Juga karena Zakaria sendiri adalah suami bibinya, menurut apa yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir serta lain-lainnya.

Menurut pendapat yang lain, Zakaria adalah suami saudara perempuan Maryam.
Seperti yang disebut di dalam sebuah hadis sahih, yaitu:

tiba-tiba Nabi ﷺ bersua dengan Yahya dan Isa, keduanya adalah anak laki-laki bibi (saudara sepupu).

Akan tetapi, adakalanya dapat diselaraskan dengan pengertian apa yang telah dikatakan oleh Ibnu Ishaq dalam pengertian yang lebih luas.
Atas dasar ini berarti Maryam berada di dalam asuhan dan pemeliharaan bibinya.

Disebutkan di dalam sebuah hadis sahih bahwa Rasulullah ﷺ pernah memutuskan dalam kasus Imarah binti Hamzah bahwa Imarah diserahkan ke dalam pemeliharaan bibinya yang menjadi istri Ja'far ibnu Abu Talib, dan beliau bersabda:

Bibi sama kedudukannya dengan ibu.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan perihal kemuliaan dan keteguhan-nya dalam tempat ibadahnya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya (Maryam).

Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Abusy Sya'sa, Ibrahim An-Nakha'i, Ad-Dahhak, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, Atiyyah Al-'Aufi, dan As-Saddi mengatakan, makna yang dimaksud ialah Zakaria menjumpai di sisi Maryam buah-buahan musim panas di saat musim dingin, dan buah-buahan musim dingin di saat musim panas.

Disebutkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: ia menjumpai makanan di sisinya.
(Ali Imran:37).
Bahwa yang dimaksud dengan rizqan bukan makanan, melainkan ilmu atau suhuf (lembaran-lembaran) yang di dalamnya terkandung ilmu.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Akan tetapi, pendapat pertama (yang mengatakan makanan atau buah-buahan) adalah pendapat yang lebih sahih.
Di dalamnya terkandung pengertian yang menunjukkan adanya karamah para wali Allah, dan di dalam sunnah terdapat banyak hal yang semisal.

Ketika Zakaria melihat makanan tersebut berada di sisi Maryam, maka ia bertanya:
Zakaria berkata, "Hai Maryam, dari manakah kamu memperoleh (makanan) ini?"

Lalu dalam firman selanjutnya disebutkan:

Maryam menjawab, "Makanan ini dari sisi Allah." Sesungguh-ya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab."

Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Zanjilah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Luhai'ah, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir, bahwa Rasulullah ﷺ pernah tinggal selama beberapa hari tanpa makan sesuap makanan pun hingga kelihatan beliau sangat berat.
Lalu beliau berkeliling ke rumah istri-istrinya, tetapi tidak menemukan sesuap makanan pun pada seseorang di antara mereka.
Maka beliau ﷺ datang ke rumah Fatimah (putrinya), lalu bersabda, "Hai anakku, apakah engkau mempunyai sesuatu makanan yang dapat kumakan?
Karena sesungguhnya aku sedang lapar." Fatimah menjawab, "Tidak, demi Allah." Ketika Nabi ﷺ pergi dari rumahnya, tiba-tiba Siti Fatimah mendapat kiriman dua buah roti dan sepotong daging dari tetangga wanitanya, lalu Fatimah mengambil sebagian darinya dan diletakkan di dalam sebuah panci miliknya, dan ia berkata kepada dirinya sendiri, "Demi Allah, aku benar-benar akan mendahulukan Rasulullah ﷺ dengan makanan ini daripada diriku sendiri dan orang-orang yang ada di dalam rumahku," padahal mereka semua memerlukan makanan yang cukup.
Kemudian Fatimah menyuruh Hasan atau Husain untuk mengundang Rasulullah ﷺ Ketika Rasulullah ﷺ datang kepadanya, maka ia berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah memberikan suatu makanan, lalu aku sembunyikan buatmu." Nabi ﷺ bersabda, "Cepat berikanlah kepadaku, hai anakku." Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menyuguhkan panci tersebut dan membukanya.
Tiba-tiba panci itu telah penuh berisikan roti dan daging.
Ketika Fatimah melihat ke arah panci itu, maka ia merasa kaget dan sadar bahwa hal itu adalah berkah dari Allah subhanahu wa ta'ala Karena itu, ia memuji kepada Allah dan mengucapkan salawat buat Nabi-Nya.
Lalu Fatimah menyuguhkan makanan tersebut kepada Rasulullah ﷺ Ketika beliau ﷺ melihatnya, maka beliau memuji kepada Allah dan bertanya, "Dari manakah makanan ini, hai anakku?"
Fatimah menjawab bahwa makanan tersebut dari sisi Allah, seraya menyitir firman-Nya: Makanan itu dari sisi Allah.
Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
Maka Nabi ﷺ memuji kepada Allah dan bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dirimu, hai anakku, mirip dengan penghulu kaum wanita Bani Israil, karena sesungguhnya dia bila diberi rezeki sesuatu (makanan) oleh Allah, lalu ditanya mengenai asal makanan itu, ia selalu menjawab, "Makanan itu dari sisi Allah.
Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." Kemudian Rasulullah ﷺ memanggil Ali, lalu makan bersama Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain serta semua istri dan keluarga ahli bait-nya, hingga semuanya merasa kenyang dari makanan itu.
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa makanan dalam panci itu masih utuh seperti sediakala, lalu sisanya dapat dikirimkan kepada semua tetangganya.
Allah telah menjadikan keberkahan dan kcbaikan yang banyak dalam makanan itu.

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 37

MIHRAAB
مِحْرَاب

Dalam bahasa Arab, lafaz mihraab digunakan untuk menunjukkan beberapa arti yaitu;

(1) Bahagian hadapan rumah;
(2) Bahagian yang paling mulia dari suatu tempat;
(3) Bangunan yang tinggi;
(4) Ruangan;
(5) Istana;
(6) Tempat khusus bagi seorang raja yang digunakan untuk menyendiri dan menjauhkan diri dari orang ramai.

Bentuk jamak dari lafaz mihraab adalah maharibmahaariib.

Ar Raghib Al Isfahani menyatakan, bahagian depan suatu masjid dinamakan dengan mihraab karena ia adalah tempat untuk memerangimuhaarabah syaitan dan hawa nafsu.

Lafaz ini dalam bentuk tunggal diulang sebanyak empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 37, 39;
-Maryam (19), ayat 11;
-Shad (38), ayat 21.

Sedangkan dalam bentuk jamak ia disebut sekali saja yaitu dalam surah Saba' (34), ayat 13.

Lafazmihraab dan mahaariib dalam Al Qur'an selalunya dikaitkan dengan kisah para Nabi.

Dalam surah Ali Imran (3), ayat 37, 39; dan surah Maryam (19), ayat 11, lafaz ini dikaitkan dengan kisah Nabi Zakariyya.

Sedangkan dalam surah Shad (38), ayat 21, lafaz mihraab dikaitkan dengan kisah Nabi Daud, dan dalam surah Saba' (34), ayat 13 dikaitkan dengan kisah Nabi Sulaiman, Namun, makna lafaz mihraab menunjukkan arti yang berbeda-beda.

Lafaz mihraab yang berada dalam ayat ke 37 surah Ali Imran adalah ruangan tinggi yang untuk sampai kepadanya perlu menggunakan tangga. Ruangan ini dibuat oleh Nabi Zakarryya, khusus untuk mengasuh Maryam sehingga beliau dewasa.

Kata mihraab yang terdapat dalam surah Ali Imran (3), ayat 39 dan surah Maryam (19), ayat 11 artinya adalah tempat shalat Nabi Zakariyya, di mana di tempat itu ketika beliau beribadah, beliau diberi khabar gembira oleh malaikat, beliau akan dianugerahkan seorang putera bernama Yahya.

Sedangkan lafaz mihraab dalam surah Shad (38), ayat 21 ialah ruangan milik Nabi Daud. Ibn Al Arabi berkata,
"Ruangan milik Nabi Daud adalah tinggi dan sukar dimasuki, tidak ada orang yang mungkin menaikinya kecuali dalam beberapa hari hingga satu bulan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dan itu pun memerlukan bantuan dan alat yang banyak dan beragam.

Lafaz mihraab dalam surah Saba' (34), ayat 13 artinya bangunan-bangunan dan istana-istana yang besar dan tinggi. Bangunan dan istana ini dibangunkan oleh para jin atas perintah dan arahan Nabi Sulaiman.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:567-568

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat "Ali 'lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali 'lmran karena memuat kisah keluarga 'lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam 'alaihis salam, kenabian dan beberapa mu'jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'lmran, ibu dari Nabi 'Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali 'lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga 'lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 37 *beta

Surah Ali Imran Ayat 37



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (15 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ al imran 3:37, surat ali imron 37, Surat Ali imran ayat 37, surat ali imran 37, surat al imran 37 tentang kesuburan wanita, surah ali imron ayat 37, innallaha yarzuqu man yasyaa zakariyya surat ?, Asbabun nuzul surah ali imran ayat 37, al imron ayat 37, al imran ayat 37, surat ali imron ayat 37