Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 28


لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ
Laa yattakhidzil mu’minuunal kaafiriina auliyaa-a min duunil mu’miniina waman yaf’al dzalika falaisa minallahi fii syai-in ilaa an tattaquu minhum tuqaatan wayuhadz-dzirukumullahu nafsahu wa-ilallahil mashiir(u);

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.
Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.
Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya.
Dan hanya kepada Allah kembali(mu).
―QS. 3:28
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Kebenaran hari penghimpunan ▪ Allah memiliki Sifat Masyi’ah (berkehendak)
3:28, 3 28, 3-28, Ali Imran 28, AliImran 28, Al Imran 28
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 28. Oleh Kementrian Agama RI

Kaum Muslimin dilarang menjadikan orang kafir sebagai kawan yang akrab, pemimpin atau penolong, karena yang demikian ini akan merugikan mereka sendiri baik dalam urusan agama maupun dalam kepentingan umat, apalagi jika dalam hal ini kepentingan orang kafir lebih didahulukan daripada kepentingan kaum Muslimin sendiri, hal itu akan membantu tersebarluasnya kekafiran.
Ini sangat dilarang oleh agama.

Orang mukmin dilarang mengadakan hubungan akrab dengan orang-orang kafir, baik disebabkan oleh kekerabatan, kawan lama waktu zaman jahiliah, atau pun karena bertetangga.
Larangan itu tidak lain hanyalah untuk menjaga dan memelihara kemaslahatan agama, serta agar kaum Muslimin tidak terganggu dalam usahanya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh agamanya.

Adapun bentuk-bentuk persahabatan dan persetujuan kerja sama, yang kiranya dapat menjamin kemaslahatan orang-orang Islam tidaklah terlarang.
Nabi sendiri pernah mengadakan perjanjian persahabatan dengan Bani Khuza'ah sedang mereka itu masih dalam kemusyrikan.
Kemudian dinyatakan bahwa barang siapa menjadikan orang kafir sebagai penolongnya, dengan meninggalkan orang mukmin, dalam hal-hal yang memberi mudarat kepada agama, berarti dia telah melepaskan diri dari perwalian Allah, tidak taat kepada Allah dan tidak menolong agamanya.
Ini berarti pula bahwa imannya kepada Allah telah terputus, dan dia telah termasuk golongan orang-orang kafir.
Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka (Al-Ma'idah: 51)

Orang mukmin boleh mengadakan hubungan akrab dengan orang kafir, dalam keadaan takut mendapat kemudaratan atau untuk memberikan kemanfaatan bagi Muslimin.
Tidak terlarang bagi suatu pemerintahan Islam, untuk mengadakan perjanjian persahabatan dengan pemerintahan yarg bukan Islam; dengan maksud untuk menolak kemudaratan, atau untuk mendapatkan kemanfaatan.
Kebolehan mengadakan persahabatan ini tidak khusus hanya dalam keadaan lemah saja tetapi boleh juga dalam sembarang waktu, sesuai dengan kaidah: Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan ke-maslahatan.
Berdasarkan kaidah ini, para ulama membolehkan "taqiyah",
yaitu mengatakan atau mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran untuk menolak bencana dari musuh atau untuk keselamatan jiwa atau untuk memelihara kehormatan dan harta benda.
Maka barang siapa mengucapkan kata-kata kufur karena dipaksa, sedang hati (jiwanya) tetap beriman, karena untuk memelihara diri dari kebinasaan, maka dia tidak menjadi kafir.
Sebagaimana yang telah dilakukan oleh 'Ammar bin Yasir yang dipaksa oleh Quraisy untuk menjadi kafir, sedang hatinya tetap beriman.

Allah berfirman:

Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar.
(An-Nahl: 106)

Sebagaimana telah terjadi pada seorang sahabat yang terdesak ketika menjawab pertanyaan Musailamah, "Apakah engkau mengakui bahwa aku ini rasul Allah?
Jawabnya, "Ya".
Karena itu sahabat tadi dibiarkan dan tidak dibunuh.
Kemudian seorang sahabat lainnya sewaktu ditanya dengan pertanyaan yang sama, ia menjawab, "Saya ini tuli" (tiga kali), maka sahabat tersebut ditangkap dan dibunuh.
Setelah berita ini sampai kepada Rasulullah ﷺ beliau bersabda: "Orang yang telah dibunuh itu kembali kepada Allah dengan keyakinan dan kejujurannya, adapun yang lainnya, maka dia telah mempergunakan kelonggaran yang diberikan Allah, sebab itu tidak ada tuntutan atasnya".
Kelonggaran itu disebabkan keadaan darurat yang dihadapi, dan bukan menyangkut pokok-pokok agama yang harus selalu ditaati.
Dalam hal ini diwajibkan bagi Muslim hijrah dari tempat ia tidak dapat menjalankan perintah agama dan terpaksa di tempat itu melakukan "taqiyyah".
Adalah termasuk tanda kesempurnaan iman bila seseorang tidak merasa takut kepada cercaan di dalam menjalankan agama Allah.

Allah berfirman:

..karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman (Ali 'Imran: 175)

Allah berfirman:

...
Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.
(Al-Ma'idah: 44).

Termasuk dalam "taqiyah",
berlaku baik, lemah lembut kepada orang kafir, orang zalim, orang fasik, dan memberi harta kepada mereka untuk menolak gangguan mereka.
Hal ini bukan persahabatan akrab yang dilarang, melainkan cara itu sesuai dengan tuntunan peraturan: "Suatu tindakan yang dapat memelihara kehormatan seorang mukmin, adalah termasuk sedekah".
(Riwayat ath-thabrani).

Dalam hadis lain dari Aisyah r.a.: Seseorang datang meminta izin menemui Rasulullah dan ketika itu aku berada di sampingnya.
Lalu Rasulullah berkata, "(Dia adalah) seburuk-buruk warga kaum ini".
Kemudian Rasulullah mengizinkannya untuk menghadap, lalu beliau berbicara dengan orang tersebut dengan ramah- tamah dan lemah-lembut.
Rasulullah berkata, "Hai, 'Aisyah sesungguhnya di antara orang yang paling buruk adalah orang yang ditinggalkan oleh orang lain karena takut kepada kejahatannya." (Riwayat al-Bukhari)

Terhadap mereka yang melanggar larangan Allah di atas, Allah memperingatkan mereka dengan siksaan yang langsung dari sisi-Nya dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya.
Akhirnya kepada Allah tempat kembali segala makhluk.
Semua akan mendapatkan balasan sesuai dengan amal perbuatannya.

Ali Imran (3) ayat 28 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 28 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 28 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalau hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang memiliki kerajaan, meninggikan dan merendahkan siapa saja, dan hanya pada-Nya pula segala bentuk kebaikan, penciptaan dan rezeki, maka orang-orang Mukmin tidak dibenarkan mempercayakan kekuasaan kepada orang lain untuk mengatur, apalagi dengan mengabaikan kepentingan orang-orang Mukmin.
Sebab, hal itu berarti merendahkan agama dan pemeluknya di samping akan melemahkan kekuasaan Islam.
Orang yang menempuh jalan ini, berarti tidak mengakui kekuasaan Allah.
Seorang Mukmin hendaknya tidak rela menerima kekuasaan orang lain kecuali jika terpaksa.
Oleh karena itu, hendaknya ia menghindari kekejaman yang mungkin timbul dari penguasa non Mukmin itu dengan menunjukkan ketundukannya.
Orang-orang Mukmin hendaknya selalu berada dalam kekuasaan Islam, yaitu kekuasaan Allah.
Hendaknya mereka mawas diri jangan sampai keluar dari kekuasaan Allah.
Hal itu akan berakibat bahwa Allah menangani sendiri hukumannya, yaitu dengan merendahkannya setelah sebelumnya tinggi.
Hanya kepada-Nyalah tempat kembali.
Tidak ada jalan untuk lari dari kekuasaan-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin) yang akan mengendalikan mereka (dengan meninggalkan orang-orang beriman.
Barang siapa melakukan demikian) artinya mengambil mereka sebagai pemimpin (maka tidaklah termasuk dalam) agama (Allah sedikit pun kecuali jika menjaga sesuatu yang kamu takuti dari mereka) maksudnya jika ada yang kamu takuti, kamu boleh berhubungan erat dengan mereka, tetapi hanya di mulut dan bukan di hati.
Ini hanyalah sebelum kuatnya agama Islam dan berlaku di suatu negeri di mana mereka merupakan golongan minoritas (dan Allah memperingatkanmu terhadap diri-Nya) maksudnya kemarahan-Nya jika kamu mengambil mereka itu sebagai pemimpin (dan hanya kepada Allah tempat kamu kembali) hingga kamu akan beroleh balasan dari-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah melarang orang-orang mukmin untuk mengangkat orang-orang kafir sebagai wakil-wakil dengan memberikan kecintaan dan dukungan kepada mereka dengan meninggalkan orang-orang mukmin.
Barangsiapa yang melakukan itu, maka dia telah berlepas dari Allah dan Allah juga berlepas darinya, kecuali bila kalian dalam keadaan lemah dan takut.
Dalam kondisi tersebut Allah memberikan keringanan kepada kalian dalam melakukan perdamaian dengan mereka demi menghindari keburukan mereka sampai kalian memiliki kekuatan.
Allah memperingatkan kalian terhadap diri-Nya, maka bertakwalah kepada-Nya dan takutlah kepada-Nya, hanya kepada Allah semata kembalinya seluruh makhluk untuk menghadapi hisab dan mendapatkan balasan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin berpihak kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka teman yang setia dengan menyampaikan kepada mereka berita-berita rahasia karena kasih sayang kepada mereka dengan meninggalkan orang-orang mukmin.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala mengancam perbuatan tersebut melalui firman-Nya:

Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.

Dengan kata lain, barang siapa yang melakukan hal tersebut yang dilarang oleh Allah, maka sesungguhnya ia telah melepaskan ikatan dirinya dengan Allah.
Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang.
(Al Mumtahanah:1) sampai dengan firman-Nya: Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.
(Al Mumtahanah:1)

Demikian pula dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.
Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)?
(An Nisaa:144)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian), sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.
Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
(Al Maidah:51), hingga akhir ayat.

Dan Allah subhanahu wa ta'ala berfirman sesudah menyebutkan masalah kasih sayang dan hubungan yang intim di antara orang-orang mukmin dari kalangan kaum Muhajirin, kaum Ansar, dan orang-orang Arab, yaitu:

Adapun orang-orang kafir, sebagian dari mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain.
Jika kalian (hai kaum muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.
(Al Anfaal:73)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.

Dengan kata lain, kecuali bagi orang mukmin penduduk salah satu negeri atau berada di dalam waktu tertentu yang merasa khawatir akan kejahatan mereka (orang-orang kafir).
Maka diperbolehkan baginya bersiasat untuk melindungi dirinya hanya dengan lahiriahnya saja, tidak dengan batin dan niat.
Seperti apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Darda yang mengatakan:

Sesungguhnya kami benar-benar tersenyum di hadapan banyak kaum (di masa lalu), sedangkan hati kami (para sahabat) melaknat mereka (orang-orang musyrik).

As-Sauri mengatakan bahwa sahabat Ibnu Abbas pernah mengatakan taqiyyah (sikap diplomasi) bukan dengan amal perbuatan, melainkan hanya dengan lisan saja.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, yaitu bahwa sesungguhnya taqiyyah itu hanya dilakukan dengan lisan.
Hal yang sama dikatakan oleh Abul Aliyah, Abusy Sya'sa, Ad-Dahhak, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.
Pendapat mereka dikuatkan oleh firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).
(An Nahl:106), hingga akhir ayat.

Imam Bukhari mengatakan, Al-Hasan pernah berkata bahwa taqiyyah (terus berlangsung) sampai hari kiamat.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-Nya.

Yakni Allah memperingatkan kalian terhadap pembalasan-Nya bila Dia ditentang dalam perintah-Nya, dan siksa serta azab Allah akan menimpa orang yang memihak kepada musuh-Nya dan memusuhi kekasih-kekasih-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan hanya kepada Allah kembali (kalian).

Maksudnya, hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan, karena Dia akan membalas tiap-tiap diri sesuai dengan amal perbuatan yang telah dilakukannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Sa'id, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid, dari Ibnu Abu Husain, dari Abdur Rahman ibnu Sabit, dari Maimun ibnu Mihran yang menceritakan, "Sahabat Mu'az pernah berdiri di antara kami, lalu ia mengatakan, 'Hai Bani Aud, sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah kepada kalian.
Kalian mengetahui bahwa tempat kembali hanyalah kepada Allah, yaitu ke surga atau ke neraka'."

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 28

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bresumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Al-Hajjaj bin ‘Amr yang mewakili Ka’b bin al-Asyraf, Ibnu Abil Haqiq, serta Qais bin Zaid (tokoh-tokoh Yahudi) telah memikat segolongan kaum Anshar untuk memalingkan mereka dari agamanya.
Rifa’ah bin al-Mundzir, ‘Abdullah bin Jubair serta Sa’d bin Hatsamah memperingatkan orang-orang Anshar tersebut dengan berkata: “Hati-hatilah kalian dari pikatan mereka, dan janganlah terpaling dari agama kalian.” Mereka menolak peringatan tersebut.
Maka Allah menurunkan ayat ini (Ali ‘Imraan: 28) sebagai peringatan agar tidak mmenjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung kaum Mukminin.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 28

AWLIYAA
أَوْلِيَآء

Lafaz ini adalah jamak dari al waliy yang mengandung makna setiap yang menguruskan urusan, penolong, yang dicintai, sahabat, jiran, pengikut, penolong, pembebas hamba, yang taat. Ungkapan Allah waliyyuka bermakna Allah menjaga dan mengawasi kamu.

Perkataan Al mu'min waliy Allah, memiliki maksud "yang taat kepada Nya."

Waliyyal 'ahd artinya putera mahkota,

Waliyy al mar'ah artinya yang mewakilkan ikatan pernikahan ke atasnya dan tidak batal akad itu sekiranya ketiadaannya,

Waliyy al yatim bermaksud pengasuh anak yatim,

Awliyy al amr ialah para penguasa.

Al waliyy juga bermakna lawan kepada musuh dan setiap orang yang mendekati kamu.

Lafaz awliyaa' disebut 42 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 28, 175;
-An Nisaa (4), ayat 76, 89, 139, 144;
-Al Maa'idah (5), ayat 51, 51, 57, 81;
-Al An'aam (6), ayat 121, 128;
-Al A'raaf (7), ayat 3, 27, 30;
-Al Anfaal (8), ayat: 34, 34, 72, 73;
-At Taubah (9), ayat 23, 71;
-Yunus (10), ayat 62;
-Hud (11), ayat 20, 113;
-Ar Ra'd (13), ayat 16;
-Al Kahfi (18), ayat 50, 102;
-Al Furqaan (25), ayat 18;
-Al Ankaabut (29), ayat 41;
-Al Ahzab (33), ayat 6;
-Az Zumar (39), ayat 3;
-Fushshilat (41), ayat 31;
-Asy Syura (42), ayat 6, 9, 46;;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 10, 19;
-Al Ahqaf (46), ayat 32;
-Al Mumtahanah (60), ayat 1;
-Al Jumu'ah (62), ayat 6.

Di dalam Al Qur'an, lafaz awliyaa' dapat dikategorikan kepada empat golongan berdasarkan sandaran dan hubungannya dengan kalimat lain.

Pertama, dihubungkan kepada Allah seperti dalam surah Yunus, ayat 62.

Kedua, dihubungkan kepada orang kafir, musyrik dan Yahudi seperti ayat 28 surah Ali Imran dan surah Al Maa'idah, ayat 57;

Ketiga, disandarkan kepada syaitan seperti dalam surah An Nisaa, ayat 76.

Keempat, disandarkan kepada Mukmin seperti dalam surah Al Anfaal, ayat 72.

Diriwayatkan oleh Ad Dahhak dari Ibn Abbas, ayat 28 surah Ali Imran turun kepada Ubadah bin Shamit Al Ansari. Beliau adalah sahabat yang turut serta dalam Perang Badar. Beliau memiliki perjanjian persahabatan dengan orang Yahudi. Ketika Nabi Muhammad keluar pada Perang Ahzab, Ubadah berkata,
"Wahai Rasulullah! Sesungguhnya bersamaku 500 lelaki dari Yahudi dan aku melihat mereka mau keluar bersamaku dan membantu menghadapi musuh, lalu Allah menurunkan ayat ini.

Dalam ayat 72 surah Al Anfaal, Asy Syawkani berkata,
"Makna awliyaa' di sini ialah sesama muslim menjadi saudara atau sahabat yang saling membantu dan menolong"

Dalam Tafsir Al Jalalain, lafaz awliyaa' dalam surah An Nisaa, ayat 76, bermakna penolong-penolong agamanya (yang batil) yaitu orang kafir.

Ibn Katsir berkata,
"Sesungguhnya wali-­wali Allah ialah orang yang beriman dan bertakwa, setiap orang yang bertakwa adalah wali bagi Allah."

Ibn Mas'ud dan Ibn 'Abbas keduanya berkata,
awliyaa' Allah ialah orang yang apabila dia memandang pasti ingat Allah.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah berkata,
"Sesungguhnya di kalangan hamba Allah, ada yang diinginkan seperti mereka oleh para nabi dan syuhada. Dikatakan, "Siapa mereka, wahai Rasulullah? Kami berharap supaya kami dapat mencintai mereka," Rasulullah berkata,
"Mereka ialah golongan yang saling mencintai karena Allah, jauh dari harta keduniaan dan juga nasab, wajah-wajah mereka bercahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut ketika manusia takut dan tidak bersedih apabila manusia bersedih " Lalu beliau membaca ayat di atas."

Kesimpulannya, maksud umum lafaz awliya' ialah penolong, sahabat dan pengikut.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:87-88

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat "Ali 'lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali 'lmran karena memuat kisah keluarga 'lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam 'alaihis salam, kenabian dan beberapa mu'jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'lmran, ibu dari Nabi 'Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali 'lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga 'lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 28 *beta

Surah Ali Imran Ayat 28



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (20 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ surah ali imron ayat 3 : 28, auliya dalam surah ali imran ayat 28, munasabah q s ali-imran ayat 28, surat al Imran ayat 28 juz 3