QS. Ali Imran (Keluarga ‘Imran) – surah 3 ayat 20 [QS. 3:20]

فَاِنۡ حَآجُّوۡکَ فَقُلۡ اَسۡلَمۡتُ وَجۡہِیَ لِلّٰہِ وَ مَنِ اتَّبَعَنِ ؕ وَ قُلۡ لِّلَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ وَ الۡاُمِّیّٖنَ ءَاَسۡلَمۡتُمۡ ؕ فَاِنۡ اَسۡلَمُوۡا فَقَدِ اہۡتَدَوۡا ۚ وَ اِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّمَا عَلَیۡکَ الۡبَلٰغُ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ بِالۡعِبَادِ
Fa-in haajjuuka faqul aslamtu wajhiya lillahi wamaniittaba’ani waqul lil-ladziina uutuul kitaaba wal ammii-yiina aaslamtum fa-in aslamuu faqadi ihtadau wa-in tawallau fa-innamaa ‘alaikal balaaghu wallahu bashiirun bil ‘ibaad(i);

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah:
“Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”.
Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi:
“Apakah kamu (mau) masuk Islam”.
Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah).
Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
―QS. 3:20
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Keluasan ilmu Allah
3:20, 3 20, 3-20, Ali Imran 20, AliImran 20, Al Imran 20

Tafsir surah Ali Imran (3) ayat 20

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 20. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menerangkan bagaimana semestinya Nabi Muhammad ﷺ menghadapi sikap ahil kitab yang menentang agama Islam itu.

Dalam menghadapai mereka itu, Nabi Muhammad ﷺ, diperintahkan untuk menjawab, bilamana mereka mengemukakan bantahan dengan mengatakan kepada mereka bahwa beliau hanya berserah diri kepada Allah demikian pula orang-orang yang mengikutinya.
Jawaban demikian adalah untuk menghindari perdebatan-perdebatan yang tidak berfaedah, karena bukti-bukti kekeliruan mereka sudah jelas.

Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Nya untuk mengatakan kepada orang Yahudi, Nasrani dan kaum musyrikin Arab yang sedang dihadapinya: “Apakah kamu (mau) masuk agama Islam?”.
Maksudnya apakah kamu mau menerima agama Islam sehingga kamu berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala Pertanyaan itu disampaikan Nabi sesudah beliau berulang kali menunjukkan bukti-bukti kebenarannya, dan sebenarnya suduh pula dimengerti oleh mereka.
Ataukah sebenarnya mereka masih ingin meneruskan kekafiran dan perlawanan mereka.
Secara tidak langsung ungkapan pertanyaan Nabi itu menunjukkan kebodohan dan ketumpulan otak mereka serta mencela sikap keras dari mereka itu.

“Sesungguhnya jika mereka itu masuk Islam mereka mendapat petunjuk”.
Masuk agama Islam berarti berserah diri secara mutlak kepada ke Esaan Allah subhanahu wa ta’ala Di sinilah letak jiwa segala agama yang dibawa oleh para rasul, yakni berserah diri kepada Allah Yang Maha Esa.
Mereka pasti akan memperoleh keuntungan besar dan selamat dari jurang kesengsaraan.
Karena penyerahan diri mereka kepada Allah Yang Maha Esa akan mendorong mereka mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ.

Tetapi jika mereka menolak ajaran Nabi Muhammad ﷺ, maka hal itu tidak menjadi tanggung jawab beliau, sebab tugas beliau hanyalah menyampaikan ajaran Allah.

“Allah Maha Melihat akan hamba-hamba Nya”,
Allah Maha Mengetahui hati siapa yang tertutup di antara hamba-hamba Nya, mata siapa yang buta melihat kebenaran, dan siapa pula yang putus asa mencari petunjuk Ilahi.
Allah Maha Mengetahui siapa-siapa di antara hamba Nya yang dapat menerima taufik dan hidayah dari pada Nya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalau mereka masih menentangmu mengenai agama itu setelah kau jelaskan bukti dan alasan, jangan lagi kau teruskan melayani perdebatan itu.
Katakan, “Aku dan orang-orang Mukmin yang mengikuti ajaranku hanya menyembah kepada Allah dengan penuh ikhlas.” Katakan pula kepada orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik Arab, “Bukti telah jelas buat kalian, maka berserah dirilah.” Apabila mereka berserah diri, berarti mereka telah mengerti dan mengikuti jalan hidayah.
Tetapi, jika mereka berpaling, kamu tidak perlu bertanggung jawab.
Kamu hanya berkewajiban menyampaikan risalah Allah.
Allah Maha Mengetahui hamba-hamba-Nya, dan bagi-Nya tak ada satu pun ihwal dan perbuatan mereka yang tersembunyi.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Jika mereka menyanggah kamu) hai Muhammad dalam soal agama (maka katakanlah) kepada mereka (“Kuserahkan wajahku kepada Allah) artinya aku tunduk dan patuh kepada-Nya, aku (dan orang-orang yang mengikutiku.”) wajah disebutkan secara khusus, karena kedudukannya yang mulia, maka yang lainnya lebih utama untuk berserah diri.

(Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberi Alkitab) yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani (serta orang-orang yang tidak tahu baca tulis) yaitu orang-orang Arab musyrik (“Apakah kamu mau masuk Islam?”) Maksudnya masuk Islamlah kamu! (Jika mereka masuk Islam, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk) dari kesesatan (dan jika mereka berpaling) dari agama Islam (maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan) risalah yang diamanatkan kepadamu (dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya) lalu diberi-Nya balasan atas amal perbuatan mereka.

Ayat berikut ini sebelum turunnya perintah untuk berperang:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bila ahli kitab mendebatmu wahai Rasul setalah hujjah Allah ditegakkan atas mereka, maka katakanlah kepada mereka :
Sesungguhnya aku telah mengikhlaskan diri kepada Allah semata, aku tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu.
Demikian pula dengan orang-orang mukmin yang mengikutiku, mereka juga mengikhlaskan diri mereka kepada Allah dan tunduk kepada-Nya.
Katakanlah kepada mereka, kepada orang-orang musyrikin Arab dan selain mereka :
Bila kalian masuk Islam maka kalian berjalan diatas jalan yang lurus, hidayah dan kebenaran, namun bila kalian berpaling maka hisab kalian kembali kepada Allah, tugasku hanyalah menyampaikan dan aku telah menyampaikan kepada kalian dan menegakkan hujjah atas kalian.
Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya, tidak ada sesuatu pun dari perkara mereka yang samar bagi Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Kemudian jika mereka mendebat kamu.

Yaitu mendebatmu tentang masalah tauhid.

maka katakanlah, “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.”

Yakni katakanlah bahwa aku memurnikan ibadahku hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, tidak beranak, dan tidak beristri.

Yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang mengikutiku’ ialah orang-orang yang berada dalam agamaku akan mengatakan hal yang sama dengan ucapanku ini.
Seperti yang disebutkan di dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Allah dengan hujah yang nyata.” (Yusuf:108), hingga akhir ayat.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada hamba dan rasul-Nya (yaitu Nabi Muhammad ﷺ) untuk menyeru orang-orang Ahli Kitab dari kalangan dua agama (Yahudi dan Nasrani) serta orang-orang ummi (buta huruf) dari kalangan kaum musyrik, agar mereka mengikuti jalannya, memasuki agamanya, serta mengamalkan syariatnya dan apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya.

Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kalian (mau) masuk Islam?”
Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah).
(Ali Imran:20)

Yakni Allah-lah yang menghisab mereka karena hanya kepada-Nyalah mereka kembali.
Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya milik-Nyalah hikmah yang tepat dan hujah yang benar.
Karena itu, dalam akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

Yaitu Allah Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan siapa yang berhak mendapat kesesatan.
Dia berhak untuk melakukan itu, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.
(Al Anbiyaa:23)

Hal tersebut tiada lain karena hikmah dan rahmat-Nya.
Ayat ini dan yang semisal dengannya merupakan dalil yang paling jelas yang menunjukkan keumuman risalah Nabi Muhammad ﷺ kepada semua makhluk, seperti yang telah dimaklumi dari pokok-pokok agamanya, dan seperti apa yang telah ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an dan sunnah dalam banyak ayat dan hadis.
Antara lain ialah firman-Nya:

Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (Al A’raf:158)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.
(Al Furqaan:1)

Di dalam hadis Sahihain dan lain-lainnya disebutkan melalui hadis yang mutawatir dalam berbagai peristiwa, bahwa Nabi ﷺ mengirimkan surat-suratnya kepada semua raja dan pemimpin kabilah, baik yang Arab maupun yang ‘ajam, baik mereka yang mengerti baca dan tulis maupun yang ummi, sebagai pengamalan dari perintah Allah subhanahu wa ta’ala Beliau ﷺ dalam surat-suratnya itu mengajak mereka untuk menyembah kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang bersabda:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiada seorang pun yang telah mendengarku dari kalangan umat ini, baik yang Yahudi ataupun yang Nasrani, lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, melainkan ia termasuk ahli neraka.
(Riwayat Imam Muslim)

Nabi ﷺ telah bersabda:

Aku diutus untuk kulit merah dan kulit hitam.

Dan Nabi ﷺ telah bersabda pula:

Dahulu seorang nabi diutus khusus untuk umatnya, sedangkan aku diutus untuk umat manusia seluruhnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muammal, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas r.a.
yang mengatakan bahwa ada seorang anak Yahudi yang biasa menyuguhkan air wudu buat Nabi ﷺ dan mempersiapkan sepasang terompahnya.
Lalu anak itu sakit keras, dan Nabi ﷺ datang kepadanya, lalu masuk menemuinya, sedangkan kedua orang tua si anak berada di dekat kepalanya.
Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: Hai Fulan, katakanlah, “Tidak ada Tuhan selain Allah!” Lalu anak itu memandang kepada ayahnya, dan si ayah diam.
Lalu Nabi ﷺ mengulangi perintahnya itu, dan si anak kembali memandang kepada ayahnya.
Akhirnya si ayah berkata, “Turutilah kemauan Abul Qasim!” Maka si anak berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah.
Maka Nabi ﷺ keluar seraya bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka melalui aku.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya.
Masih banyak ayat serta hadis yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ diutus untuk segenap umat manusia.


Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ali-Imran (3) ayat 20 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ali-Imran (3) ayat 20 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ali-Imran (3) ayat 20 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ali-Imran - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 200 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 3:20
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ali Imran.

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.4
Ratingmu: 4.2 (12 orang)
Sending







Pembahasan ▪ surat al imran 20 dan tafsirnya

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta