Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 194


رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ
Rabbanaa waaatinaa maa wa’adtanaa ‘ala rusulika walaa tukhzinaa yaumal qiyaamati innaka laa tukhliful mii’aad(a);

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau.
Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji”.
―QS. 3:194
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Kebenaran hari penghimpunan ▪ Ayat yang dinaskh
3:194, 3 194, 3-194, Ali Imran 194, AliImran 194, Al Imran 194
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 194. Oleh Kementrian Agama RI

Ya Tuhan kami! Kami telah menyesuaikan diri dengan segala perintah Mu.
Kami selalu mengingat dan mengenang-Mu setiap waktu dan setiap keadaan.
Kami telah memenuhi seruan Rasul-Mu.
Oleh karena itu.
ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami apa-apa yang telah Engkau janjikan dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau telah menjanjikan kekuasaan di dunia ini dengan firman Engkau:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh.
bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.

(Q.S.
An Nur: 55)

Engkau telah menjanjikan kemenangan dan pertolongan bagi orang yang taat dan menjunjung tinggi agama Engkau, dengan firman Engkau:

"Jika kamu menolong (agama) Allah.
niscaya Dia akan menolongmu"

(Q.S.
Muhammad: 7)

kemudian dalam ayat yang lain Allah berfirman:

"Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin, lelaki dan perempuan (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai"
(Q.S.
At Taubah: 72)

Hal-hal tersebut di atas merupakan kebahagiaan dunia dan akhirat yang sangat kami harapkan dan jangan sekali-kali Engkau hinakan kami di hari kiamat sesuai dengan firman Engkau:

Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia.
(Q.S.
At Tahrim: 8)

Semuanya ini kami mohon dengan segala kerendahan hati, untuk menetapkan pengalaman kami atas segala perintah-Mu, karena dengan demikian kami akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, dan bukan sekali-kali tidak ragu atas segala janji-Mu, karena kami percaya dengan penuh keyakinan bahwa Engkau tidak akan menyalahi janji sedikitpun.

Ali Imran (3) ayat 194 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 194 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 194 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Zat yang menciptakan, mengendalikan segala urusan dan yang memelihara kami.
Berikanlah kepada kami janji yang telah Engkau sampaikan kepada rasul-rasul-Mu.
Yaitu pertolongan dan dukungan di dunia.
Janganlah Engkau masukkan kami ke dalam api neraka, sehingga kami menjadi terhina di hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak pernah melanggar janji.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Wahai Tuhan kami! Berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami) (atas) artinya dengan perantaraan (para rasul-Mu) berupa nikmat dan karunia serta apa-apa yang mereka mohonkan walaupun janji Allah itu tidak bertentangan dengan permohonan orang yang meminta agar ia termasuk dalam golongan orang-orang yang diberi karunia disebabkan ia belum beroleh kepastian bahwa permohonannya itu akan dikabulkan.
Mengenai disebutnya 'Wahai Tuhan kami' secara berulang-ulang maka itu menyatakan ketundukan dan kerendahan hati yang sedalam-dalamnya.
(Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat, sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.") yaitu janji dengan kebangkitan dan pembalasan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan lewat lisan utusan-utusan-Mu berupa kemenangan, kekuasaan, taufik dan hidayah, janganlah permalukan kami dengan dosa-dosa kami di Hari Kiamat kelak.Sesungguhnya Engkau Maha Pemurah, dan tidak akan menyelisihi janji yang telah Engkau janjikan kepada hamba-hamba-Mu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau.

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami.
sebagai balasan atas iman kepada rasul-rasul-Mu".
Menurut pendapat yang lainnya lagi, maksudnya adalah "apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui lisan rasul-rasul-Mu'.
Makna yang kedua ini lebih kuat dan lebih jelas.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, dari Anir ibnu Muhammad, dari Abu Iqal, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Ada dua golongan manusia yang menjadi pusat perhatian manusia, Allah membangkitkan salah satunya kelak di hari kiamat sebanyak tujuh puluh ribu orang yang tidak ada hisab atas diri mereka.
Darinya Allah membangkitkan sebanyak lima puluh ribu orang syuhada, mereka adalah delegasi-delegasi yang menghadap kepada Allah.
Di antara mereka yang lima puluh ribu orang itu terdapat barisan para syuhada yang kepala mereka dalam keadaan terpotong dan berada di tangannya masing-masing, sedangkan wajah mereka berlumuran dengan darah seraya mengucapkan: 'Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau.
Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.' (Ali Imran:194) Maka berfirmanlah Allah subhanahu wa ta'ala 'Benarlah hamba-hamba-Ku, mandikanlah mereka di dalam sungai putih.' Akhirnya mereka keluar dari sungai itu dalam keadaan bersih lagi putih, lalu mereka berjalan-jalan di dalam surga menurut apa yang disukainya."

Hadis ini termasuk hadis garib yang ada di dalam kitab musnad.
Di antara mereka ada yang menilainya sebagai hadis maudu'.

Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat.

Yakni di hadapan mata semua makhluk.

Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.

Sudah merupakan kepastian adanya hari yang dijanjikan yang Engkau beritakan melalui rasul-rasul-Mu, yaitu hari kiamat.
hari di mana semua makhluk berdiri di hadapan-Mu.

Telah disebutkan di dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah ﷺ acapkali membaca sepuluh ayat dari akhir surat Ali Imran ini apabila bangkit di sebagian malam hari untuk tahajudnya.
Untuk itu Imam Bukhari mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepadaku Syarik ibnu Abdullah ibnu Abu Namir, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas r.a.
yang menceritakan bahwa ia tidur di rumah bibinya (yaitu Siti Maimunah).
Lalu Rasulullah ﷺ bercakap-cakap dengan istrinya selama sesaat.
kemudian beliau tidur.
Ketika malam hari tinggal sepertiganya lagi, beliau bangun dan duduk, lalu memandang ke arah langit seraya mengucapkan: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
(Ali Imran:190), hingga beberapa ayat selanjutnya.
Setelah itu beliau bangkit dan melakukan wudu.
Setelah bersiwak, beliau melakukan salat sebanyak sebelas rakaat.
Kemudian Bilal menyerukan azannya, maka beliau ﷺ salat dua rakaat, lalu keluar dan salat Subuh menjadi imam orang-orang.

Imam Bukhari meriwayatkannya pula melalui berbagai jalur dari Malik, dari Makhramah ibnu Sulaiman, dari Kuraib, bahwa Ibnu Abbas pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah menginap di rumah Siti Maimunah, istri Nabi ﷺ yang juga bibinya.
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa ia tidur pada bagian dari bantal yang melebar, sedangkan Rasulullah ﷺ bersama istrinya (Siti Maimunah) tidur pada bagian yang memanjang dari bantal itu.
Rasulullah ﷺ tidur hingga tengah malam, atau sedikit sebelumnya atau sedikit sesudahnya.
Rasulullah ﷺ bangun dari tidurnya, lalu mengusap wajah dengan tangannya untuk mengusir rasa kantuk.
Setelah itu beliau membaca sepuluh ayat yang mengakhiri surat Ali Imran.
Lalu bangkit menuju arah tempat air yang digantungkan, mengambil air wudu darinya, dan melakukan wudu dengan baik.
Sesudah itu beliau berdiri mengerjakan salat.
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, "Maka aku berdiri dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya.
Setelah itu aku menuju kepadanya dan berdiri di sebelahnya.
Maka Rasulullah ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku dan memegang telinga kananku, lalu menjewernya (yakni memindahkan Ibnu Abbas dari sebelah kiri ke sebelah kanannya).
Beliau melakukan salat dua rakaat, lalu dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, kemudian witir.
Sesudah itu beliau berbaring hingga juru azan datang kepadanya.
Kemudian beliau bangkit dan melakukan salat dua rakaat secara ringan, lalu keluar (menuju masjid) dan salat Subuh (sebagai imam semua orang)."

Demikianlah hal yang diketengahkan oleh Jamaah lainnya melalui berbagai jalur dari Malik dengan lafaz yang sama.

Imam Muslim meriwayatkannya pula —juga Imam Abu Daud— melalui berbagai jalur dari Makhramah ibnu Sulaiman dengan lafaz yang sama.

Jalur lain diriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan hadis ini oleh Abu Bakar ibnu Murdawaih.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya.
dari Abu Mai-sarah, telah menceritakan kepada kami Khallad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Abi Ishaq, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas, dari Abdullah ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Al-Abbas memerintahkan kepadaku untuk menginap di rumah keluarga Rasulullah ﷺ untuk menghafalkan cara salat (malam hari)nya.
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya,- bahwa Rasulullah ﷺ melakukan salat Isya bersama orang banyak.
Setelah di dalam masjid tidak terdapat seorang pun selain diriku, maka beliau berdiri dan lewat di hadapanku.
Beliau bertanya, "Siapakah ini?
Abdullah bukan?"
Aku menjawab, "Ya." Rasulullah ﷺ bertanya, "Mengapa masih di sini?"
Aku menjawab, "Al-Abbas (ayahku) telah memerintahkan aku untuk menginap di rumahmu malam ini." Rasulullah ﷺ bersabda, "Mari masuk, mari masuk." Setelah masuk ke dalam rumah, beliau ﷺ bersabda, "Mau memakai kasur, Abdullah?"
Beliau ﷺ mengambil sebuah bantal yang berlapiskan kain bulu.
Rasulullah ﷺ tidur memakai bantal itu hingga aku mendengar dengkurannya.
setelah itu beliau duduk tegak di atas kasurnya dan mengarahkan pandangannya ke langit, lalu mengucapkan: Subhanal Malikil Quddus (Mahasuci Raja Yang Mahasuci).
sebanyak tiga kali, lalu membacakan ayat-ayat yang berada di akhir surat Ali Imran hingga akhir surat Ali Imran.

Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Nasai meriwayatkan melalui hadis Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas, dari ayahnya sebuah hadis mengenai hal yang sama.

Jalur lain diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui hadis Asim ibnu Bahdalah, dari salah seorang muridnya, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa di suatu malam Rasulullah ﷺ keluar sesudah sebagian malam hari telah berlalu.
Lalu beliau memandang ke arah langit dan membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
(Ali Imran:190), hingga akhir surat.

Sesudah itu beliau ﷺ berdoa:

Ya Allah, jadikanlah di dalam kalbuku nur (cahaya), di dalam pendengaranku nur, di dalam pandanganku nur, di sebelah kananku nur, di sebelah kiriku nur, di hadapanku nur, di belakangku nur, di atasku nur, di bawahku nur, dan besarkanlah nur bagiku kelak di hari kiamat.

Doa ini ditetapkan pada sebagian jalur-jalur yang sahih melalui riwayat Kuraib, dari Ibnu Abbas r.a.

Kemudian ibnu Murdawaih dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui hadis Ja'far ibnu Abul Mugirah.
dari Sa’id ibnu Jubair.
dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa orang-orang Quraisy datang kepada orang-orang Yahudi, Lalu mereka bertanya, "Mukjizat-mukjizat apakah yang dibawa oleh Musa kepada kalian?"
Orang-orang Yahudi menjawab, "Tongkatnya dan tangannya yang kelihatan putih bagi orang-orang yang memandangnya." Orang-orang Quraisy datang kepada orang-orang Nasrani.
Lalu mereka bertanya, "Bagaimanakah yang dilakukan oleh Isa di antara kalian?"
Orang-orang Nasrani menjawab.”Dia dapat menyembuhkan orang buta, orang berpenyakit supak.
dan dapat menghidupkan orang-orang mati." Mereka datang kepada Nabi ﷺ, Lalu berkata, "Mintakanlah buat kami kepada Tuhanmu agar Dia menjadikan Bukit Safa ini emas." Maka Nabi ﷺ berdoa kepada Tuhannya, Lalu turunlah firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
(Ali Imran:190) Dengan kata lain, hendaklah mereka merenungkan semuanya itu.

Lafaz hadis ini berdasarkan riwayat Ibnu Murdawaih.
Hadis ini disebutkan dalam permulaan pembahasan ayat melalui riwayat Imam Tabrani.
Berdasarkan keterangan ini dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat ini adalah Makkiyyah.

Tetapi menurut pendapat yang masyhur, ayat-ayat ini adalah Madaniyah, sebagai dalilnya ialah hadis lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ali Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Syuja' ibnu Asyras, telah menceritakan kepada kami Hasyraj ibnu Nabatah Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Abu Makram, dari Al-Kalbi (yaitu Ibnu Junab), dari Ata yang menceritakan, "Aku dan Ibnu Umar serta Ubaid ibnu Umair berangkat menuju rumah Siti Aisyah r.a.
Lalu kami masuk ke dalam rumahnya dan menjumpainya, sedangkan antara kami dengan dia terdapat hijab." Siti Aisyah bertanya, "Hai Ubaid, apakah yang menghalang-halangi dirimu untuk berkunjung kepadaku?"
Ubaid menjawab, "Perkataan seorang penyair yang mengatakan, 'Jarang-jaranglah berkunjung, niscaya menambah rasa kangen'." Ibnu Umar memotong pembicaraan, "Biarkanlah kami, ceritakanlah kepada kami hal yang paling mengagumkan yang pernah engkau lihat dari Rasulullah ﷺ" Siti Aisyah menangis dan mengatakan bahwa semua perkara Nabi ﷺ adalah mengagumkan, "Beliau mendatangiku di malam giliranku hingga kulit beliau bersentuhan dengan kulitku.
Setelah itu beliau bersabda, 'Biarkanlah aku menyembah Tuhanku.' Maka aku berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya aku suka berada di dekatmu, dan sesungguhnya aku suka menyembah Tuhanmu'." Nabi ﷺ bangkit menuju qirbah (tempat air dari kulit), lalu berwudu tanpa banyak mengucurkan air.
Setelah itu beliau berdiri mengerjakan salat, dan beliau menangis sehingga jenggotnya basah oleh air mata.
Lalu sujud dan menangis pula hingga air matanya membasahi tanah.
Kemudian berbaring pada lambungnya dan menangis lagi.
Ketika Bilal datang memberitahukan kepadanya waktu salat Subuh, seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang menyebabkan engkau menangis, padahal Allah telah memberikan ampunan kepadamu terhadap dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?"
Nabi ﷺ menjawab, "Celakalah kamu, hai Bilal, apakah yang menghalang-halangiku menangis, sedangkan Allah telah menurunkan kepadaku malam ini ayat berikut: 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang hari terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ali Imran:190)." Kemudian Nabi ﷺ bersabda pula, 'Celakalah bagi orang yang membacanya, lalu ia tidak merenungkan semuanya itu."

Abdu ibnu Humaid meriwayatkannya di dalam kitab tafsir, dari Ja'far ibnu Auf Al-Kalbi, dari Abu Hubab (yaitu Ata) yang menceritakan bahwa ia dan Abdullah ibnu Umar serta Ubaid ibnu Umair masuk ke dalam rumah Siti Aisyah Ummul Mukminin r.a.
yang saat itu berada di dalam rumah (kemah)nya.
Maka kami mengucapkan salam penghormatan kepadanya, dan ia bertanya, "Siapakah mereka?"
Kami menjawab, "Abdullah ibnu Umar dan Ubaid ibnu Umair."' Siti Aisyah berkata, "Hai Ubaid ibnu Umair, apakah yang menghalang-halangi dirimu untuk berkunjung kepadaku?"
Ubaid ibnu Umair mengucapkan kata-kata tadi yang telah disebutkan di atas, yaitu: Jarang-jaranglah berkunjung, niscaya akan bertambah kangen.
Siti Aisyah berkata, "Sesungguhnya aku senang bila dikunjungi olehmu dan berbincang-bincang denganmu." Abdullah ibnu Umar berkata, "Bebaskanlah kami dari obrolan kamu berdua yang ini.
Sekarang ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkan yang pernah engkau lihat dari Rasulullah ﷺ" Siti Aisyah menangis, kemudian berkata, "Semua perkara Nabi ﷺ adalah menakjubkan belaka.
Beliau datang kepadaku di malam giliranku hingga masuk bersama dan merebahkan diri di atas tempat tidurku hingga kulit beliau bersentuhan dengan kulitku.
Kemudian beliau bersabda, 'Hai Aisyah, izinkanlah aku, sekarang aku akan menyembah Tuhanku'." Siti Aisyah berkata, "Sesungguhnya aku suka berada di dekatmu dan aku suka apa yang engkau suka." Rasulullah ﷺ bangkit menuju qirbah (wadah air) yang ada di dalam rumah.
dan dalam wudunya itu beliau menghemat air.
Lalu berdiri dan membaca Al-Qur'an seraya menangis sehingga aku melihat air matanya sampai mengenai kedua sisi pinggangnya.
Setelah itu beliau ﷺ duduk, lalu membaca hamdalah dan memuji Allah subhanahu wa ta'ala, kemudian menangis lagi sehingga aku melihat air matanya sampai membasahi pangkuannya.
Kemudian beliau merebahkan diri pada lambung sebelah kanannya dan meletakkan lengan kanannya pada pipinya, lalu beliau menangis lagi sehingga aku melihat air matanya sampai membasahi tanah.
Lalu masuklah Bilal memberitahukan kepadanya bahwa waktu salat Subuh telah masuk.
Untuk itu Bilal berkata, "Wahai Rasulullah, sekarang waktu salat." Tetapi ketika Bilal melihat Rasulullah ﷺ menangis, maka ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau menangis, padahal Allah telah memberikan ampunan-Nya bagimu atas semua dosamu yang telah lalu dan yang kemudian?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Hai Bilal, bukankah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?
Mengapa aku tidak menangis, sedangkan malam ini telah diturunkan kepadaku firman-Nya: 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal' (Ali Imran:190).
sampai dengan firman-Nya: 'Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka' (Ali Imran:191)." Kemudian beliau ﷺ bersabda: Celakalah bagi orang yang membaca ayat-ayat ini, lalu ia tidak merenungkannya.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya, dari Imran ibnu Musa, dari Usman ibnu Abu Syaibah, dari Yahya ibnu Zakaria, dari Ibrahim ibnu Suwaid An-Nakha'i, dari Abdul Malik ibnu Abu Sulaiman, dari Ata yang menceritakan bahwa dia dan Ubaid ibnu Umair masuk ke dalam rumah Siti Aisyah, dan seterusnya hingga akhir hadis.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abud Dunia di dalam kitab At-Tafakkur wal I'tibar, dari Syuja" ibnu Asyras.
Selanjutnya disebutkan bahwa telah menceritakan kepadaku Al-Hasan ibnu Abdul Aziz, ia pernah mendengar Sunaid menceritakan dari Sufyan As-Sauri yang me-rafa'-kannya.
bahwa barang siapa yang membaca akhir surat Ali Imran, lalu ia tidak memikirkan maknanya, celakalah dia.
Ia mengatakan demikian seraya menghitung dengan jari-jarinya sebanyak sepuluh buah (yakni sepuhih ayat terakhir dari surat Ali Imran).

Al-Hasan ibnu Abdul Aziz mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ubaid ibnus Saib yang menceritakan bahwa pernah dikatakan kepada Al-Auza'i, "Apakah yang dimaksud dengan pengertian memikirkan ayat-ayat tersebut?"
Al-Auza'i menjawab, "Membacanya seraya merenungkan maknanya."

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat "Ali 'lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali 'lmran karena memuat kisah keluarga 'lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam 'alaihis salam, kenabian dan beberapa mu'jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'lmran, ibu dari Nabi 'Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali 'lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga 'lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.

QS 3 Ali-Imran (192-194) - Indonesian - Dimas Setowardana
QS 3 Ali-Imran (192-194) - Arabic - Dimas Setowardana


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 194 *beta

Surah Ali Imran Ayat 194



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah 3
Nama Surah Ali Imran
Arab آل عمران
Arti Keluarga 'Imran
Nama lain Al-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 89
Juz Juz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 200
Jumlah kata 200
Jumlah huruf 200
Surah sebelumnya Surah Al-Baqarah
Surah selanjutnya Surah An-Nisa'
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (28 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku