Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 188


لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ یَفۡرَحُوۡنَ بِمَاۤ اَتَوۡا وَّ یُحِبُّوۡنَ اَنۡ یُّحۡمَدُوۡا بِمَا لَمۡ یَفۡعَلُوۡا فَلَا تَحۡسَبَنَّہُمۡ بِمَفَازَۃٍ مِّنَ الۡعَذَابِ ۚ وَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ
Laa tahsabannal-ladziina yafrahuuna bimaa atau wayuhibbuuna an yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu falaa tahsabannahum bimafaazatin minal ‘adzaabi walahum ‘adzaabun aliimun;

Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.
―QS. 3:188
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Menyeru pada ketakwaan
3:188, 3 188, 3-188, Ali Imran 188, AliImran 188, Al Imran 188
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 188. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan sifat mereka yang lain yang oleh orang mukmin wajib dihindari yaitu mereka selalu bergembira atas penyelewengan dan pengkhianatan yang dilakukannya.
Mereka merasa bangga karena menganggap dirinya adalah tokoh-tokoh masyarakat din pemimpin-pemimpin yang ditaati.
Mereka senang dipuji-puji bahwa mereka mengetahui secara mendalam semua isi Kitab, dan ahli dalam menafsirkannya padahal mereka itu bukanlah ahlinya.

Mereka berbuat demikian untuk mengalihkan perhatian orang-orang banyak dari kebenaran kepada apa yang dikehendaki pembesar-pembesar mereka dan orang awamnya walaupun salah.

Janganlah kaum muslimin menyangka bahwa Ahli Kitab yang perbuatannya jelek dan mengelabui itu, akan terlepas dari siksaan.
bahkan mereka merasakan azab yang pedih.

Ali Imran (3) ayat 188 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 188 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 188 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Janganlah kamu menduga bahwa mereka yang selalu merasa senang dengan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka kerjakan dan merasa senang dengan sanjungan atas apa yang tidak mereka lakukan, akan selamat dari siksa.
Karena, dengan perbuatan itu mereka telah menutup pintu hati mereka bagi keimanan dan kebenaran seperti orang-orang Yahudi.
Bagi merekalah siksa yang pedih di hari kiamat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Janganlah sekali-kali kamu kira) dengan memakai ‘ta’ dan ‘ya’ (bahwa orang-orang yang merasa gembira dengan apa yang telah mereka lakukan) yakni dengan apa yang telah mereka perbuat yaitu menyesatkan manusia (dan mereka ingin supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan) yakni berpegang kepada kebenaran padahal mereka dalam kesesatan (janganlah kamu menyangka mereka) merupakan taukid atau pengukuhan dengan kedua versinya, memakai ‘ta’ dan ‘ya’ (terlepas) artinya berada di suatu tempat yang bebas (dari siksa) di akhirat tetapi mereka berada di suatu tempat di mana mereka akan menerima siksa yaitu di neraka Jahanam (dan bagi mereka siksa yang pedih) menyakitkan.
Kedua maf’ul yahsabu yang pertama terkandung di dalam kedua maf’ul yahsabu yang kedua berdasarkan qiraat yahsabu sedangkan menurut qiraat tahsabu hanya maf’ul kedualah yang dibuang.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Janganlah orang-orang yang berbangga dengan apa yang mereka kerjakan berupa perbuatan-perbuatan buruk dari kalangan orang-orang Yahudi, munafik dan lainnya, dan mereka suka disanjung dengan apa yang tidak mereka kerjakan, janganlah mereka menyangka bahwa mereka akan selamat dari adzab Alllah di dunia, sementara di akhirat mereka mendapatkan adzab yang menyakitkan.
Ayat ini merupakan ancaman serius terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan buruk dan membanggakannya, dan orang-orang yang membanggakan sesuatu yang tidak dilakukannya agar orang-orang menyanjung dan memujinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan., hingga akhir ayat.

Yang dimaksud oleh ayat ini ialah orang-orang yang suka pamer yang ingin dipuji dengan apa yang tidak pernah mereka berikan (lakukan).
Seperti pengertian yang ada di dalam kitab Sahihain, dari Nabi ﷺ, yaitu:

Barang siapa yang mengucapkan suatu pengakuan secara dusta dengan tujuan ingin dipuji karenanya, maka Allah tidak menambahkan kepadanya melainkan kekurangan.

Di dalam hadis Sahihain disebutkan pula dengan keterangan yang lebih jelas, yaitu:

Orang yang ingin terpuji dengan apa yang tidak pernah ia berikan sama saja dengan orang yang memakai pakaian dusta dua lapis.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajah, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah, Humaid ibnu Abdur Rahman ibnu Auf pernah menceritakan kepadanya bahwa Marwan pernah berkata kepada Rafi’ (yaitu pengawal pribadinya), “Berangkatlah kamu kepada Ibnu Abbas dan katakanlah, ‘Jika setiap orang dari kita disiksa karena merasa gembira dengan apa yang telah ia kerjakan dan suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum ia kerjakan, niscaya kita semua akan disiksa’.” Maka Ibnu Abbas menjawab, “Mengapa kamu berpemahaman demikian terhadap ayat ini?
Sesungguhnya ayat ini diturunkan hanya berkenaan dengan orang-orang Ahli Kitab.” Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kalian menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit.
Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.
Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.
(Ali Imran:187-188), hingga akhir ayat.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah menanyakan sesuatu kepada mereka (Ahli Kitab) dan mereka menyembunyikannya serta memberitahukan hal yang lain kepadanya.
Setelah itu mereka keluar dengan perasaan bahwa mereka telah memperlihatkan kepada beliau bahwa mereka telah menceritakan kepada beliau apa yang beliau tanyakan kepada mereka.
Mereka ingin dipuji dengan perbuatan tersebut serta merasa gembira karena perbuatan mereka menurut mereka berhasil mengelabuinya dengan memberikan jawaban lain dan menyembunyikan jawaban yang sebenarnya dari Nabi ﷺ

Hal ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab tafsirnya, Imam Muslim dan Imam Turmuzi serta Imam Nasai di dalam kitab tafsirnya masing-masing, juga Ibnu Abu Hatim, Ibnu Khuzaimah, Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya, dan Ibnu Murdawaih.
Semua meriwayatkannya melalui hadis Abdul Malik ibnu Juraij dengan lafaz yang semisal.

Imam Bukhari meriwayatkannya pula melalui hadis Ibnu Juraij, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Alqamah ibnu Waqqas, bahwa Marwan pernah berkata kepada pengawal pribadinya, “Hai Rafi’, berangkatlah kamu kepada Ibnu Abbas,” lalu Imam Bukhari menuturkannya hingga akhir hadis.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa sejum-lah kaum lelaki dari kalangan orang-orang munafik di masa Rasulullah ﷺ apabila Rasulullah ﷺ berangkat ke suatu medan perang, maka mereka tidak mau ikut dan tetap tinggal di Madinah, mereka merasa gembira dengan ketidakikutsertaan mereka yang bertentangan dengan prinsip Rasulullah ﷺ Tetapi apabila Rasulullah ﷺ tiba dari medan perang, mereka meminta maaf kepadanya dan bersumpah untuk memperkuat alasan mereka.
Mereka merasa gembira dengan apa yang tidak pernah mereka kerjakan.
Lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.
(Ali Imran:188), hingga akhir ayat.

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Al-Lais ibnu Sa’d, dari Hisyam ibnu Sa”d, dari Zaid ibnu Aslam yang mengatakan bahwa Abu Sa’id, Rafi’ ibnu Khadij, dan Zaid ibnu Sabit semuanya pernah menceritakan, “Ketika kami berada di majelis Marwan, lalu Marwan berkata, ‘Hai Abu Sa’id, bagaimanakah pendapatmu dengan firman-Nya: Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.
(Ali Imran:188), sedangkan kami gembira dengan apa yang telah kami kerjakan dan suka bila dipuji terhadap perbuatan yang belum kami kerjakan?’.” Abu Sa’id menjawab, “Makna ayat ini tidaklah seperti itu.
Sesungguhnya hal tersebut ditujukan kepada sejumlah orang dari kalangan kaum munafik.
Mereka tidak ikut apabila Rasulullah ﷺ mengirimkan pasukannya.
Jika pasukan Rasulullah ﷺ mendapat musibah, mereka merasa gembira karena ketidakikutsertaan mereka.
Tetapi jika pasukan kaum muslim beroleh pertolongan dari Allah dan kemenangan, maka mereka mengadakan perjanjian pakta pertahanan bersama kaum muslim, dengan maksud mengambil hati kaum muslim agar kaum muslim memuji mereka karena simpati mereka kepada kemenangan yang dicapai oleh kaum muslim.” Marwan berkata, “Mengapa pengertiannya demikian?”
Abu Sa’id berkata, “Orang ini mengetahui hal tersebut.” Marwan berkata, “Apakah memang demikian, hai Zaid?”
Zaid menjawab, “Ya, benarlah apa yang dikatakan oleh Abu Sa’id.” Kemudian Abu Sa’id berkata, “Orang ini pun mengetahui hal tersebut, (yang dimaksud ialah Rafi’ ibnu Khadij), tetapi ia khawatir jika menceritakannya kepadamu maka kamu nanti akan mencabut bagian sedekah untanya.” Ketika mereka telah keluar dari tempat Marwan, maka Zaid berkata kepada Abu Sa’id Al-Khudri, “Mengapa engkau tidak memuji diriku yang telah mempersaksikan untukmu?”
Abu Sa’id berkata kepadanya, “Engkau telah mempersaksikan perkara yang hak.” Zaid ibnu Sabit berkata, “Mengapa engkau tidak memujiku yang telah melakukan kesaksian perkara hak bagimu?”

Kemudian Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula melalui hadis Malik, dari Zaid ibnu Aslam, dari Rafi’ ibnu Khadij, bahwa ia dan Zaid ibnu Sabit pernah berada di tempat Marwan ibnul Hakam yang menjabat sebagai amir kota Madinah.
Marwan berkata, “Hai Rafi’, sehubungan dengan peristiwa apakah ayat ini diturunkan?”
Lalu Ibnu Murdawaih mengetengahkan hadis yang sama seperti apa yang diriwayatkannya dari Abu Sa’id r.a.
Sesudah peristiwa itu Marwan ibnul Hakam mengutus seseorang kepada sahabat Ibnu Abbas untuk menanyakan hal tersebut, seperti yang telah disebutkan di atas.
Lalu Ibnu Abbas menjawab seperti apa yang telah kami terangkan di atas.

Tidak ada perbedaan antara apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dengan apa yang dikatakan oleh mereka, mengingat ayat bermakna umum mencakup semua apa yang telah disebutkan.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula melalui hadis Muhammad ibnu Atiq dan Musa ibnu Uqbah, dari Az-Zuhri, dari Muhammad ibnu Sabit Al-Ansari atau Sabit ibnu Qais Al-Ansari yang telah berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah aku merasa khawatir bila menjadi orang yang binasa.” Nabi ﷺ bertanya, “Mengapa?”
ia mengatakan, “Allah telah melarang seseorang suka bila dipuji terhadap apa yang tidak dikerjakannya, sedangkan diriku ini suka dengan pujian.
Allah telah melarang berbuat sombong sedangkan diriku ini suka keindahan (menghias diri).
Allah melarang kami mengangkat suara lebih dari suaramu, sedangkan aku ini adalah orang yang keras suaranya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidakkah engkau suka bila kamu hidup terpuji, gugur dalam keadaan syahid, dan masuk surga?”
ia menjawab, “Tentu saja mau, wahai Rasulullah.” Maka ia hidup terpuji dan gugur sebagai syahid dalam perang melawan Musailamah Al-Kazzab.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa.

Lafaz tahsabannahum dibaca dengan memakai huruf ta menunjukkan makna lawan bicara hanya satu orang, dapat pula dibaca dengan memakai huruf ya dengan makna menceritakan keadaan mereka.

Dengan kata lain, janganlah kamu mengira bahwa mereka selamat dari siksa Kami, bahkan mereka pasti terkena siksa Kami.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam firman berikutnya:

…dan bagi mereka siksa yang pedih.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Ali Imran (3) ayat 188
Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Harun bin Abdullah-dan lafadh ini milik Zuhair- mereka berdua berkata,
telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Malikah bahwasanya Humaid bin Abdurrahman bin Auf mengabarkan kepadanya bahwasanya Marwan berkata,
Wahai Abu Rafi’, katakan kepada kepada penjaga pintu agar dia pergi menemui Ibnu Abbas, tanyakan kepadanya, Apabila setiap orang dari kita yang merasa senang dengan apa yang dia kerjakan dan yang menyukai untuk dipuji terhadap apa yang belum dia kerjakan akan di adzab, dengan demikian berarti kita semua akan di adzab? Ibnu Abbas berkata,
Apa hubungannya kalian dengan ayat ini? Ayat ini hanya di turunkan mengenai Ahlu kitab. Lalu Ibnu Abbas membaca ayat, Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi (yaitu), Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi kitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya. (QS. Ali Imran 187) Dan Ibnu Abbas membaca ayat, Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. (QS. Ali’Imran 188) Ibnu Abbas berkata,
Yaitu ketika nabi shallallahu alaihi wasallam menanyakan kepada mereka tentang sesuatu, namun mereka menyembunyikannya dan mengabarkan hal yang lain. Lalu mereka keluar. Sungguh aku melihat beliau diberitahu tentang yang beliau tanyakan kepada mereka hingga mereka ingin dipuji dengan apa yang telah mereka kabarkan itu dan mereka senang dengan apa yang telah mereka kerjakan dari menyembunyikan sesuatu yang beliau tanyakan.

Shahih Muslim, Kitab Sifat Munafik dan Hukumnya – Nomor Hadits: 4982

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 188

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan dan lain-lain, yang bersumber dari Hamid bin ‘Abdirrahman bin ‘Auf.
Bahwa Marwan berkata kepada juru pintunya: “Hai Rafi’, berangkatlah menemui Ibnu ‘Abbas, dan katakan kepadanya bahwa sekiranya orang akan disiksa karena merasa gembira dengan apa yang telah diperolehnya dan ingin dipuji atas perbuatan yang tidak mereka kerjakan, pasti kita semua akan disiksa.” Maka berkatalah Ibnu ‘Abbas: “Apa yang menjadi masalah kalian tentang ayat ini (Ali ‘Imraan: 188)?
Turunnya ayat ini berkenaan dengan ahli kitab.
Ketika Nabi ﷺ bertanya kepada mereka tentang sesuatu, mereka menutupinya dengan memberikan jawaban yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan itu.
Kemudian mereka keluar dan memberitahukan kepada teman-temannya dengan gembira bahwa mereka telah dapat menjawab pertanyaan Rasul dengan jawaban yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan beliau.
Dengan cara itu mereka berharap mendapat pujian atas perbuatannya.”

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) yang bersumber dari Abu Sa’id al Khudri bahwa apabila Rasulullah ﷺ pergi berjihad, beberapa orang munafik meninggalkan diri dan bergembira karena bisa tetap melaksanakan kesibukan sehari-hari, tanpa ikut jihad bersama Rasulullah.
Akan tetapi apabila Rasulullah ﷺ telah tiba kembali dari jihad dengan membawa kemenangan, mereka meminta maaf dengan mengemukakan berbagai alasan sambil bersumpah dengan harapan perbuatan itu terpuji tanpa ikut serta berjihad.
Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imraan: 188).

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq di dalam Tafsir-nya, yang bersumber dari Zaid bin Aslam.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari beberapa tabiin.
Bahwa ketika Rafi’ bin Khadij dan Zaid bin Tsabit sedang duduk-duduk bersama Marwan, berkatalah Marwan: “Tentang apakah turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 188)?” Rafi’ menjawab:
”Turunnya ayat ini bekenaan dengan sebagian orang-orang munafik.
Apabila Rasul ﷺ akan berangkat berjihad, mereka meminta izin karena berhalangan, dengan mengemukakan bahwa mereka sesungguhnya ingin ikut serta berjihad bersama Rasul, akan tetapi kesibukan sehari-hari tak dapat ditinggalkan.
Maka turunlah ayat tersebut berkenaandengan mereka.” Marwan seolah-olah tidak percaya kepada Rafi’ sehingga Rafi’ pun merasa kaget dan gelisah.
Maka berkatalah Rafi’ kepada Zaid bin Tsabit: “Demi Allah, saya bertanya kepada engkau, apakah engkau mengetahui kejadian yang aku katakan tadi?” Zaid menjawab:
“Ya.”

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, berdasarkan kedua hadits tersebut di atas, atas dasar tariiqatul jam’i, dapat disimpulkan bahwa turunnya ayat di atas (Ali ‘Imraan: 188) berkenaan dengan kedua peristiwa yang hampir bersamaan kejadiannya.

Selanjutnya Ibnu Hajar mengemukakan bahwa al-Farra’ menceritakan tentang turunnya ayat ini berkenaan dengan kaum Yahudi yang tidak mengakui Muhammad sebagai Rasul, dengan berkata: “Kami ahli kitab yang pertama, bersembahyang dan taat.”

Dijelaskan pula oleh Ibnu Jarir bahwa turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 188) berkenaan dengan semua kejadian tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 188 *beta

Surah Ali Imran Ayat 188



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (12 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku