Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ali Imran (Keluarga ‘Imran) – surah 3 ayat 188 [QS. 3:188]

لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ یَفۡرَحُوۡنَ بِمَاۤ اَتَوۡا وَّ یُحِبُّوۡنَ اَنۡ یُّحۡمَدُوۡا بِمَا لَمۡ یَفۡعَلُوۡا فَلَا تَحۡسَبَنَّہُمۡ بِمَفَازَۃٍ مِّنَ الۡعَذَابِ ۚ وَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ
Laa tahsabannal-ladziina yafrahuuna bimaa atau wayuhibbuuna an yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu falaa tahsabannahum bimafaazatin minal ‘adzaabi walahum ‘adzaabun aliimun;
Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab.
Mereka akan mendapat azab yang pedih.
―QS. Ali Imran [3]: 188

Daftar isi

And never think that those who rejoice in what they have perpetrated and like to be praised for what they did not do – never think them (to be) in safety from the punishment, and for them is a painful punishment.
― Chapter 3. Surah Ali Imran [verse 188]

لَا jangan

(Do) not
تَحْسَبَنَّ kamu mengira

think
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

(that) those who
يَفْرَحُونَ (mereka) bergembira

rejoice
بِمَآ dengan apa

in what
أَتَوا۟ mereka datangkan/kerjakan

(they have) brought
وَّيُحِبُّونَ dan mereka menyukai

and they love
أَن bahwa

that
يُحْمَدُوا۟ mereka dipuji

they be praised
بِمَا dengan/terhadap apa

for what
لَمْ tidak/belum

not
يَفْعَلُوا۟ mereka kerjakan

they do –
فَلَا maka jangan

so (do) not
تَحْسَبَنَّهُم kamu menyangka

think (that) they
بِمَفَازَةٍ dengan terlepas

(will) escape
مِّنَ dari

from
ٱلْعَذَابِ azab/siksa

the punishment;
وَلَهُمْ dan bagi mereka

and for them
عَذَابٌ azab/siksa

(is a) punishment
أَلِيمٌ yang pedih

painful.

Tafsir

Alquran

Surah Ali Imran
3:188

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 188. Oleh Kementrian Agama RI


Sifat orang-orang Yahudi dan Nasrani yang oleh orang mukmin wajib dihindari, yaitu mereka selalu bergembira atas penyelewengan dan pengkhianatan yang dilakukannya.
Mereka merasa bangga karena menganggap dirinya adalah tokoh-tokoh masyarakat dan pemimpin-pemimpin yang ditaati.

Mereka senang dipuji-puji bahwa mereka mengetahui secara mendalam semua isi Kitab, dan ahli dalam menafsirkannya, padahal mereka itu bukanlah ahlinya.
Mereka berbuat demikian untuk mengalihkan perhatian orang-orang banyak dari kebenaran kepada apa yang dikehendaki pembesar-pembesar mereka dan orang awam walaupun salah.



Janganlah kaum Muslimin menyangka bahwa Ahli Kitab yang perbuatannya jelek dan mengelabui itu akan terlepas dari siksaan, bahkan mereka merasakan azab yang pedih.
Kaum mukminin tidak perlu merasa sedih dan cemas atas penyelewengan mereka, tetapi hendaklah tetap menjelaskan yang hak dan jangan sekali-kali menyembunyikannya sedikit pun.

Allah akan memenuhi apa yang menjadi keinginan kaum Muslimin dan melenyapkan hal-hal yang mungkar yang telah dilarang itu.


Tafsir QS. Ali Imran (3) : 188. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Janganlah kamu menduga bahwa mereka yang selalu merasa senang dengan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka kerjakan dan merasa senang dengan sanjungan atas apa yang tidak mereka lakukan, akan selamat dari siksa.
Karena, dengan perbuatan itu mereka telah menutup pintu hati mereka bagi keimanan dan kebenaran seperti orang-orang Yahudi.


Bagi merekalah siksa yang pedih di hari kiamat.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Janganlah orang-orang yang berbangga dengan apa yang mereka kerjakan berupa perbuatan-perbuatan buruk dari kalangan orang-orang Yahudi, munafik dan lainnya, dan mereka suka disanjung dengan apa yang tidak mereka kerjakan, janganlah mereka menyangka bahwa mereka akan selamat dari azab Alllah di dunia, sementara di akhirat mereka mendapatkan azab yang menyakitkan.
Ayat ini merupakan ancaman serius terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan buruk dan membanggakannya, dan orang-orang yang membanggakan sesuatu yang tidak dilakukannya agar orang-orang menyanjung dan memujinya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Janganlah sekali-kali kamu kira) dengan memakai ‘ta’ dan ‘ya’


(bahwa orang-orang yang merasa gembira dengan apa yang telah mereka lakukan) yakni dengan apa yang telah mereka perbuat yaitu menyesatkan manusia


(dan mereka ingin supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan) yakni berpegang kepada kebenaran padahal mereka dalam kesesatan


(janganlah kamu menyangka mereka) merupakan taukid atau pengukuhan dengan kedua versinya, memakai ‘ta’ dan ‘ya’


(terlepas) artinya berada di suatu tempat yang bebas


(dari siksa) di akhirat tetapi mereka berada di suatu tempat di mana mereka akan menerima siksa yaitu di neraka Jahanam


(dan bagi mereka siksa yang pedih) menyakitkan.
Kedua maf’ul yahsabu yang pertama terkandung di dalam kedua maf’ul yahsabu yang kedua berdasarkan qiraat yahsabu sedangkan menurut qiraat tahsabu hanya maf’ul kedualah yang dibuang.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan., hingga akhir ayat.

Yang dimaksud oleh ayat ini ialah orang-orang yang suka pamer yang ingin dipuji dengan apa yang tidak pernah mereka berikan (lakukan).
Seperti pengertian yang ada di dalam kitab Sahihain, dari Nabi ﷺ, yaitu:

Barang siapa yang mengucapkan suatu pengakuan secara dusta dengan tujuan ingin dipuji karenanya, maka Allah tidak menambahkan kepadanya melainkan kekurangan.

Di dalam hadis Sahihain disebutkan pula dengan keterangan yang lebih jelas, yaitu:

Orang yang ingin terpuji dengan apa yang tidak pernah ia berikan sama saja dengan orang yang memakai pakaian dusta dua lapis.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajah, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah, Humaid ibnu Abdur Rahman ibnu Auf pernah menceritakan kepadanya bahwa Marwan pernah berkata kepada Rafi’ (yaitu pengawal pribadinya),
"Berangkatlah kamu kepada Ibnu Abbas dan katakanlah, ‘Jika setiap orang dari kita disiksa karena merasa gembira dengan apa yang telah ia kerjakan dan suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum ia kerjakan, niscaya kita semua akan disiksa’."
Maka Ibnu Abbas menjawab,
"Mengapa kamu berpemahaman demikian terhadap ayat ini?
Sesungguhnya ayat ini diturunkan hanya berkenaan dengan orang-orang Ahli Kitab."
Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya:
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu),
"Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kalian menyembunyikannya,"
lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit.
Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.
Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 187-188), hingga akhir ayat.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah menanyakan sesuatu kepada mereka (Ahli Kitab) dan mereka menyembunyikannya serta memberitahukan hal yang lain kepadanya.
Setelah itu mereka keluar dengan perasaan bahwa mereka telah memperlihatkan kepada beliau bahwa mereka telah menceritakan kepada beliau apa yang beliau tanyakan kepada mereka.
Mereka ingin dipuji dengan perbuatan tersebut serta merasa gembira karena perbuatan mereka menurut mereka berhasil mengelabuinya dengan memberikan jawaban lain dan menyembunyikan jawaban yang sebenarnya dari Nabi ﷺ

Hal ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab tafsirnya, Imam Muslim dan Imam Turmuzi serta Imam Nasai di dalam kitab tafsirnya masing-masing, juga Ibnu Abu Hatim, Ibnu Khuzaimah, Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya, dan Ibnu Murdawaih.
Semua meriwayatkannya melalui hadis Abdul Malik ibnu Juraij dengan lafaz yang semisal.

Imam Bukhari meriwayatkannya pula melalui hadis Ibnu Juraij, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Alqamah ibnu Waqqas, bahwa Marwan pernah berkata kepada pengawal pribadinya,
"Hai Rafi’, berangkatlah kamu kepada Ibnu Abbas,"
lalu Imam Bukhari menuturkannya hingga akhir hadis.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa sejum-lah kaum lelaki dari kalangan orang-orang munafik di masa Rasulullah ﷺ apabila Rasulullah ﷺ berangkat ke suatu medan perang, maka mereka tidak mau ikut dan tetap tinggal di Madinah, mereka merasa gembira dengan ketidakikutsertaan mereka yang bertentangan dengan prinsip Rasulullah ﷺ Tetapi apabila Rasulullah ﷺ tiba dari medan perang, mereka meminta maaf kepadanya dan bersumpah untuk memperkuat alasan mereka.
Mereka merasa gembira dengan apa yang tidak pernah mereka kerjakan.
Lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 188), hingga akhir ayat.

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Al-Lais ibnu Sa’d, dari Hisyam ibnu Sa"d, dari Zaid ibnu Aslam yang mengatakan bahwa Abu Sa’id, Rafi’ ibnu Khadij, dan Zaid ibnu Sabit semuanya pernah menceritakan,
"Ketika kami berada di majelis Marwan, lalu Marwan berkata, ‘Hai Abu Sa’id, bagaimanakah pendapatmu dengan firman-Nya:
Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 188), sedangkan kami gembira dengan apa yang telah kami kerjakan dan suka bila dipuji terhadap perbuatan yang belum kami kerjakan?’."
Abu Sa’id menjawab,
"Makna ayat ini tidaklah seperti itu.
Sesungguhnya hal tersebut ditujukan kepada sejumlah orang dari kalangan kaum munafik.
Mereka tidak ikut apabila Rasulullah ﷺ mengirimkan pasukannya.
Jika pasukan Rasulullah ﷺ mendapat musibah, mereka merasa gembira karena ketidakikutsertaan mereka.
Tetapi jika pasukan kaum muslim beroleh pertolongan dari Allah dan kemenangan, maka mereka mengadakan perjanjian pakta pertahanan bersama kaum muslim, dengan maksud mengambil hati kaum muslim agar kaum muslim memuji mereka karena simpati mereka kepada kemenangan yang dicapai oleh kaum muslim."
Marwan berkata,
"Mengapa pengertiannya demikian?"
Abu Sa’id berkata,
"Orang ini mengetahui hal tersebut."
Marwan berkata,
"Apakah memang demikian, hai Zaid?"
Zaid menjawab,
"Ya, benarlah apa yang dikatakan oleh Abu Sa’id."
Kemudian Abu Sa’id berkata,
"Orang ini pun mengetahui hal tersebut, (yang dimaksud ialah Rafi’ ibnu Khadij), tetapi ia khawatir jika menceritakannya kepadamu maka kamu nanti akan mencabut bagian sedekah untanya."
Ketika mereka telah keluar dari tempat Marwan, maka Zaid berkata kepada Abu Sa’id Al-Khudri,
"Mengapa engkau tidak memuji diriku yang telah mempersaksikan untukmu?"
Abu Sa’id berkata kepadanya,
"Engkau telah mempersaksikan perkara yang hak."
Zaid ibnu Sabit berkata,
"Mengapa engkau tidak memujiku yang telah melakukan kesaksian perkara hak bagimu?"

Kemudian Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula melalui hadis Malik, dari Zaid ibnu Aslam, dari Rafi’ ibnu Khadij, bahwa ia dan Zaid ibnu Sabit pernah berada di tempat Marwan ibnul Hakam yang menjabat sebagai amir kota Madinah.
Marwan berkata,
"Hai Rafi’, sehubungan dengan peristiwa apakah ayat ini diturunkan?"
Lalu Ibnu Murdawaih mengetengahkan hadis yang sama seperti apa yang diriwayatkannya dari Abu Sa’id r.a. Sesudah peristiwa itu Marwan ibnul Hakam mengutus seseorang kepada sahabat Ibnu Abbas untuk menanyakan hal tersebut, seperti yang telah disebutkan di atas.
Lalu Ibnu Abbas menjawab seperti apa yang telah kami terangkan di atas.

Tidak ada perbedaan antara apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dengan apa yang dikatakan oleh mereka, mengingat ayat bermakna umum mencakup semua apa yang telah disebutkan.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula melalui hadis Muhammad ibnu Atiq dan Musa ibnu Uqbah, dari Az-Zuhri, dari Muhammad ibnu Sabit Al-Ansari atau Sabit ibnu Qais Al-Ansari yang telah berkata,
"Wahai Rasulullah, demi Allah aku merasa khawatir bila menjadi orang yang binasa."
Nabi ﷺ bertanya,
"Mengapa?"
ia mengatakan,
"Allah telah melarang seseorang suka bila dipuji terhadap apa yang tidak dikerjakannya, sedangkan diriku ini suka dengan pujian.
Allah telah melarang berbuat sombong sedangkan diriku ini suka keindahan (menghias diri).
Allah melarang kami mengangkat suara lebih dari suaramu, sedangkan aku ini adalah orang yang keras suaranya."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidakkah engkau suka bila kamu hidup terpuji, gugur dalam keadaan syahid, dan masuk surga?"
ia menjawab,
"Tentu saja mau, wahai Rasulullah."
Maka ia hidup terpuji dan gugur sebagai syahid dalam perang melawan Musailamah Al-Kazzab.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa.

Lafaz tahsabannahum dibaca dengan memakai huruf ta menunjukkan makna lawan bicara hanya satu orang, dapat pula dibaca dengan memakai huruf ya dengan makna menceritakan keadaan mereka.

Dengan kata lain, janganlah kamu mengira bahwa mereka selamat dari siksa Kami, bahkan mereka pasti terkena siksa Kami.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam firman berikutnya:


…dan bagi mereka siksa yang pedih.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 188

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan dan lain-lain, yang bersumber dari Hamid bin ‘Abdirrahman bin ‘Auf.
Bahwa Marwan berkata kepada juru pintunya: “Hai Rafi’, berangkatlah menemui Ibnu ‘Abbas, dan katakan kepadanya bahwa sekiranya orang akan disiksa karena merasa gembira dengan apa yang telah diperolehnya dan ingin dipuji atas perbuatan yang tidak mereka kerjakan, pasti kita semua akan disiksa.”

Maka berkatalah Ibnu ‘Abbas: “Apa yang menjadi masalah kalian tentang ayat ini (Ali ‘Imraan: 188)?
Turunnya ayat ini berkenaan dengan ahli kitab.
Ketika Nabi ﷺ bertanya kepada mereka tentang sesuatu, mereka menutupinya dengan memberikan jawaban yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan itu.
Kemudian mereka keluar dan memberitahukan kepada teman-temannya dengan gembira bahwa mereka telah dapat menjawab pertanyaan Rasul dengan jawaban yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan beliau.
Dengan cara itu mereka berharap mendapat pujian atas perbuatannya.”

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) yang bersumber dari Abu Sa’id al Khudri bahwa apabila Rasulullah ﷺ pergi berjihad, beberapa orang munafik meninggalkan diri dan bergembira karena bisa tetap melaksanakan kesibukan sehari-hari, tanpa ikut jihad bersama Rasulullah.
Akan tetapi apabila Rasulullah ﷺ telah tiba kembali dari jihad dengan membawa kemenangan, mereka meminta maaf dengan mengemukakan berbagai alasan sambil bersumpah dengan harapan perbuatan itu terpuji tanpa ikut serta berjihad.
Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imraan: 188).

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq di dalam Tafsir-nya, yang bersumber dari Zaid bin Aslam.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari beberapa tabiin.
Bahwa ketika Rafi’ bin Khadij dan Zaid bin Tsabit sedang duduk-duduk bersama Marwan, berkatalah Marwan: “Tentang apakah turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 188)?”

Rafi’ menjawab:
”Turunnya ayat ini bekenaan dengan sebagian orang-orang munafik.
Apabila Rasul ﷺ akan berangkat berjihad, mereka meminta izin karena berhalangan, dengan mengemukakan bahwa mereka sesungguhnya ingin ikut serta berjihad bersama Rasul, akan tetapi kesibukan sehari-hari tak dapat ditinggalkan.
Maka turunlah ayat tersebut berkenaandengan mereka.”

Marwan seolah-olah tidak percaya kepada Rafi’ sehingga Rafi’ pun merasa kaget dan gelisah.
Maka berkatalah Rafi’ kepada Zaid bin Tsabit: “Demi Allah, saya bertanya kepada engkau, apakah engkau mengetahui kejadian yang aku katakan tadi?” Zaid menjawab:
“Ya.”

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, berdasarkan kedua hadits tersebut di atas, atas dasar tariiqatul jam’i, dapat disimpulkan bahwa turunnya ayat di atas (Ali ‘Imraan: 188) berkenaan dengan kedua peristiwa yang hampir bersamaan kejadiannya.

Selanjutnya Ibnu Hajar mengemukakan bahwa al-Farra’ menceritakan tentang turunnya ayat ini berkenaan dengan kaum Yahudi yang tidak mengakui Muhammad sebagai Rasul, dengan berkata: “Kami ahli kitab yang pertama, bersembahyang dan taat.”

Dijelaskan pula oleh Ibnu Jarir bahwa turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 188) berkenaan dengan semua kejadian tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Ali Imran (3) ayat 188

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Harun bin Abdullah-dan lafadh ini milik Zuhair- mereka berdua berkata,
telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Malikah bahwasanya Humaid bin Abdurrahman bin Auf mengabarkan kepadanya bahwasanya Marwan berkata,
Wahai Abu Rafi’, katakan kepada kepada penjaga pintu agar dia pergi menemui Ibnu Abbas, tanyakan kepadanya, Apabila setiap orang dari kita yang merasa senang dengan apa yang dia kerjakan dan yang menyukai untuk dipuji terhadap apa yang belum dia kerjakan akan di adzab, dengan demikian berarti kita semua akan di adzab? Ibnu Abbas berkata,
Apa hubungannya kalian dengan ayat ini? Ayat ini hanya di turunkan mengenai Ahlu kitab. Lalu Ibnu Abbas membaca ayat, Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi (yaitu), Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi kitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya. (QS. Ali Imran 187) Dan Ibnu Abbas membaca ayat, Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. (QS. Ali‘Imran 188) Ibnu Abbas berkata,
Yaitu ketika nabi shallallahu alaihi wasallam menanyakan kepada mereka tentang sesuatu, namun mereka menyembunyikannya dan mengabarkan hal yang lain. Lalu mereka keluar. Sungguh aku melihat beliau diberitahu tentang yang beliau tanyakan kepada mereka hingga mereka ingin dipuji dengan apa yang telah mereka kabarkan itu dan mereka senang dengan apa yang telah mereka kerjakan dari menyembunyikan sesuatu yang beliau tanyakan.

Shahih Muslim, Kitab Sifat Munafik dan Hukumnya – Nomor Hadits: 4982

Unsur Pokok Surah Ali Imran (آل عمران)

Surat "Ali ‘lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mukjizat-nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

▪ Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

▪ Musyawarah.
▪ Bermubahalah.
▪ Larangan melakukan riba.

Kisah:

▪ Kisah keluarga ‘lmran.
▪ Perang Badar dan perang Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya.

Lain-lain:

▪ Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat.
▪ Sifat sifat Allah.
▪ Sifat orang-orang yang bertakwa.
▪ Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah.
▪ Kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan.
▪ Pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
▪ Peringatan-peringatan terhadap Ahli Kitab.
▪ Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya.
▪ Faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.

Audio

QS. Ali-Imran (3) : 1-200 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 200 + Terjemahan Indonesia



QS. Ali-Imran (3) : 1-200 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 200

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ali Imran ayat 188 - Gambar 1 Surah Ali Imran ayat 188 - Gambar 2
Statistik QS. 3:188
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Ali Imran.

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl ‘Imrān berarti “Keluarga ‘Imran”) adalah surah ke-3 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-‘Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-‘Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Alquran disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang “Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab.”

Nomor Surah 3
Nama Surah Ali Imran
Arab آل عمران
Arti Keluarga ‘Imran
Nama lain Al-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 89
Juz Juz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 200
Jumlah kata 200
Jumlah huruf 200
Surah sebelumnya Surah Al-Baqarah
Surah selanjutnya Surah An-Nisa’
Sending
User Review
4.2 (12 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

3:188, 3 188, 3-188, Surah Ali Imran 188, Tafsir surat AliImran 188, Quran Al Imran 188, Surah Ali Imran ayat 188

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Ali Imran

۞ QS. 3:2 Tauhid UluhiyyahAl Hayy (Maha Hidup) • Al Qayyum (Maha Berdiri sendiri)

۞ QS. 3:3 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 3:4 Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Muntaqim (Maha Pembalas dosa) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Azab orang kafir

۞ QS. 3:5 • Allah memiliki kunci alam ghaib

۞ QS. 3:6 Tauhid Uluhiyyah • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 3:7 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 3:8 • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Al Wahhab (Maha Pemberi) • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 3:9 Ar Rabb (Tuhan) • Al Jami’ (Yang mengumpulkan manusia di akhirat) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Kebenaran hari penghimpunan •

۞ QS. 3:10 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 3:11 • Siksaan Allah sangat pedih • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 3:12 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 3:13 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminSifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 3:14 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Macam-macam fitnah • Kebaikan yang ada di alam akhirat

۞ QS. 3:15 Ar Rabb (Tuhan) • Al Bashir (Maha Melihat) • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat wanita penghuni surga

۞ QS. 3:16 Ar Rabb (Tuhan) • Memohon ampun

۞ QS. 3:18 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 3:19 • Sikap manusia terhadap kitab samawiIslam agama yang diterima di sisi Allah • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:20 Al Bashir (Maha Melihat) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:21 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:22 • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 3:23 • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 3:24 • Mendustai Allah

۞ QS. 3:25 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Kebenaran hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 3:26 • Segala sesuatu milik Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Meminta dengan menyebut nama Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Malikul Mulk (Maha Pemilik kerajaan)

۞ QS. 3:27 • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 3:28 • Kebenaran hari penghimpunan • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrik • Peringatan Allah terhadap hambaNya

۞ QS. 3:29 • Keluasan ilmu Allah • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 3:30 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Kebenaran hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan • Lembaran catatan amal perbuatan

۞ QS. 3:31 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 3:32 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Azab orang kafir • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 3:34 Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 3:35 Ar Rabb (Tuhan) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Ikhlas dalam berbuat •

۞ QS. 3:36 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 3:37 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki) • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 3:38 Ar Rabb (Tuhan) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 3:39 • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 3:40 • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 3:41 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 3:42 • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 3:43 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 3:45 • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 3:47 • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Sifat Iradah (berkeinginan) • Ar Rabb (Tuhan) • Ketentuan Allah tak dapat dihindari

۞ QS. 3:49 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 3:50 Ar Rabb (Tuhan) • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kewajiban patuh kepada Rasul

۞ QS. 3:51 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 3:52 Islam agama para nabi

۞ QS. 3:53 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 3:55 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Kebenaran hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 3:56 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:57 • Pahala iman • Keadilan Allah dalam menghakimi • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 3:59 Sifat Iradah (berkeinginan) • Ketentuan Allah tak dapat dihindari

۞ QS. 3:61 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:62 Tauhid UluhiyyahAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 3:63 Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 3:64 Tauhid UluhiyyahIslam agama para nabi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 3:65 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 3:66 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 3:67 Tauhid UluhiyyahIslam agama para nabi

۞ QS. 3:68 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Al Wali (Maha Pelindung) • Wali Allah dan wali syetan • Islam agama para nabi •

۞ QS. 3:73 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Hadi (Maha Pemberi petunjuk)

۞ QS. 3:74 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 3:75 • Mendustai Allah

۞ QS. 3:76 • Cinta Allah pada hamba yang shaleh

۞ QS. 3:77 • Orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kebangkitan • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:78 • Mendustai Allah • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 3:79 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak

۞ QS. 3:80 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Islam agama para nabi

۞ QS. 3:81 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 3:82 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:83 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’alaTauhid Uluhiyyah • Kebenaran hari penghimpunan • Islam agama yang diterima di sisi Allah • Islam agama para nabi

۞ QS. 3:84 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Tiada pengutamaan antara para nabi

۞ QS. 3:85 Islam agama yang diterima di sisi Allah • Islam agama para nabi • Azab orang kafir • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:86 • Azab orang kafir • Kembali kufurHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 3:87 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:88 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:89 Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 3:90 • Azab orang kafir • Kembali kufur • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 3:91 • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Azab orang kafir • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 3:92 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 3:93 • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi

۞ QS. 3:94 • Mendustai Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:95 Islam agama fitrah

۞ QS. 3:97 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Al Ghaniy (Maha Kaya) • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 3:98 Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 3:99 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 3:101 • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Abad terbaik umat Islam

۞ QS. 3:102 Islam agama yang diterima di sisi Allah • Kewajiban hamba pada Allah • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 3:103 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Perintah untuk selalu bersatu • Perbuatan yang menghalangi api neraka

۞ QS. 3:105 • Perintah untuk selalu bersatu • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:106 • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Azab orang kafir • Siksa orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:107 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Kasih sayang Allah yang luas • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Keabadian surga •

۞ QS. 3:108 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 3:109 • Segala sesuatu milik Allah • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 3:110 Tauhid Uluhiyyah • Keutamaan umat nabi Muhammad • Abad terbaik umat Islam • Keutamaan iman •

۞ QS. 3:111 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 3:112 • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:114 Tauhid Uluhiyyah • Kewajiban beriman pada hari akhir • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Bersegera dalam melakukan kebaikan •

۞ QS. 3:115 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 3:116 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 3:117 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 3:118 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 3:119 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:120 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Muhith (Maha Mengetahui) • Sifat orang munafik

۞ QS. 3:121 • Keluasan ilmu Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Melihat sebab akibat •

۞ QS. 3:122 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Wali (Maha Pelindung)

۞ QS. 3:123 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 3:124 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 3:125 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Keikutsertaan malaikat dalam peperangan

۞ QS. 3:126 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 3:127 • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:128 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Ketentuan Allah tak dapat dihindari • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 3:129 • Segala sesuatu milik Allah • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 3:131 • Azab orang kafir

۞ QS. 3:132 • Kewajiban patuh kepada Rasul

۞ QS. 3:133 • Ampunan Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Bersegera dalam melakukan kebaikan

۞ QS. 3:135 • Ampunan Allah yang luas • Tidak ingin terus menerus berbuat maksiat • Memohon ampun • Ampunan Allah dan rahmatNya • Lemah iman

۞ QS. 3:136 • Ampunan Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 3:137 • Azab orang kafir

۞ QS. 3:138 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 3:139 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keutamaan iman

۞ QS. 3:141 • Azab orang kafir

۞ QS. 3:145 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Perbuatan dan niat • Ikhlas dalam berbuat •

۞ QS. 3:147 Ar Rabb (Tuhan) • Memohon ampun

۞ QS. 3:148 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Pahala iman • Kebaikan yang ada di alam akhirat

۞ QS. 3:149 • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 3:150 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Al Maula (Maha Penolong)

۞ QS. 3:151 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 3:152 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kasih sayang Allah yang luas • Allah menepati janji • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf)

۞ QS. 3:153 Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 3:154 • Berbaik sangka terhadap Allah • Segala sesuatu milik Allah • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kebenaran dan hakikat takdir

۞ QS. 3:155 Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Sifat iblis dan pembantunya • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 3:156 Al Bashir (Maha Melihat) • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Kebenaran dan hakikat takdir • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 3:157 • Ampunan Allah yang luas

۞ QS. 3:158 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 3:159 • Kasih sayang Allah yang luas

۞ QS. 3:160 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin

۞ QS. 3:161 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Sifat orang munafik

۞ QS. 3:162 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 3:163 Al Bashir (Maha Melihat) • Perbedaan derajat manusia sesuai dengan amalnya

۞ QS. 3:164 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 3:165 Al Qadiir (Maha Penguasa) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 3:166 • Kebenaran dan hakikat takdir

۞ QS. 3:167 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Lemah iman •

۞ QS. 3:168 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 3:169 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 3:170 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 3:171 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 3:172 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 3:173 Al Wakil (Maha Penolong) • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 3:174 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 3:175 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Wali Allah dan wali syetan •

۞ QS. 3:176 Sifat Iradah (berkeinginan) • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:177 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:178 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:179 • Pahala iman • Allah memiliki kunci alam ghaib • Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 3:180 • Segala sesuatu milik Allah • Al Khabir (Maha Waspada) • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 3:181 • Mendustai Allah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:182 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 3:183 • Mendustai Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 3:184 • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 3:185 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Mempersiapkan diri menghadapi kematian • Keadilan Allah dalam menghakimi •

۞ QS. 3:186 • Hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)

۞ QS. 3:188 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 3:189 • Segala sesuatu milik Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 3:191 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 3:192 Ar Rabb (Tuhan) • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Memasuki neraka •

۞ QS. 3:193 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan) • Islam agama para nabi • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Memohon ampun

۞ QS. 3:194 • Allah menepati janji • Ar Rabb (Tuhan) • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 3:195 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Kebaikan yang ada di alam akhirat

۞ QS. 3:196 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 3:197 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 3:198 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan yang menghalangi api neraka

۞ QS. 3:199 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 3:200 • Kontinuitas dalam bekerja

Ayat Pilihan

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu.
Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.
QS. Az-Zukhruf [43]: 43

Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan & takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa & pelanggaran.
Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
QS. Al-Ma’idah [5]: 2

Tak ada yang dapat beri syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia tahu apa yang di hadapan mereka & apa yang di belakang mereka, dan mereka tak tahu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit & bumi
QS. Al-Baqarah [2]: 255

dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,

QS. An-Najm [53]: 39

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ

lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Alquran Surah Ad-Dhuha Ayat 6:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ

Arti:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ
'dan demi malam apabila telah sunyi,'
--QS. As-Duha [93] : 2

Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah ...

Benar! Kurang tepat!

Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Ad-Duha (الضحى) adalah surah ke-93 dalam Alquran dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr.
Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya 'waktu matahari sepenggalahan naik'.

Pendidikan Agama Islam #17
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #17 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #17 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #30

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan … بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً Arti dari hadist diatas adalah …Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali …كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا Arti dari kalimat di atas adalah …Siapakah ilmuan muslim yang pertama menjadi penemu Al-Jabar?

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … Al Falaq artinya … Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … … Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui …

Kamus

kafir muahid

Apa itu kafir muahid? orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tidak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku … •

Washi

Apa itu Washi? Washi artinya orang yang diberi kuasa melaksanakan suatu pesan yang dilakukan setelah orang yang berpesan itu meninggal dunia. Syarat orang yang menjadi washi adalah: 1. Baligh 2. Isla...

tahajud

Apa itu tahajud? ta.ha.jud tidur sambil berjaga agar siap melakukan salat tengah malam atau membaca Alquran; (2) n (huruf awal ditulis dengan kapital) salat sunah pada tengah malam, seusai tidur ۞...