Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 172


اَلَّذِیۡنَ اسۡتَجَابُوۡا لِلّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ اَصَابَہُمُ الۡقَرۡحُ ؕۛ لِلَّذِیۡنَ اَحۡسَنُوۡا مِنۡہُمۡ وَ اتَّقَوۡا اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ
Al-ladziina-astajaabuu lillahi warrasuuli min ba’di maa ashaabahumul qarhu lil-ladziina ahsanuu minhum waattaqau ajrun ‘azhiimun;

(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud).
Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.
―QS. 3:172
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan
3:172, 3 172, 3-172, Ali Imran 172, AliImran 172, Al Imran 172
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 172. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang mukmin memenuhi seruan Allah dan Rasul Nya untuk tetap berada di jalan Allah meskipun mereka telah mendapat luka.
Mereka yang berbuat baik dan takwa akan memperoleh pahala yang besar.

Ali Imran (3) ayat 172 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 172 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 172 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka adalah orang-orang yang memenuhi seruan Rasul untuk memulai kembali perjuangan setelah luka dalam yang menimpa mereka pada perang Uhud.
Dengan begitu, mereka telah berbuat baik dan menghindari melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya.
Oleh sebab itu, mereka berhak mendapatkan pahala yang besar di surga, tempat yang penuh kenikmatan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Orang-orang) menjadi subjek atau mubtada (yang memenuhi panggilan Allah dan rasul-Nya) agar keluar untuk berperang, yakni sewaktu Abu Sufyan dan kawan-kawannya hendak mengulangi peperangan dan berjanji dengan Nabi ﷺ serta para sahabat akan bertemu kembali di pasar Badar setahun setelah perang Uhud (setelah mereka mendapat luka) yakni di Uhud, sedangkan yang menjadi predikat atau khabar mubtadanya ialah:
(bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka) dengan menaati-Nya (dan menjaga diri) dari menyalahi-Nya (tersedia pahala besar) yaitu surga.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang merespon panggilan Allah dan Rasul-Nya dan keluar untuk melawan orang-orang musyrikin di Hamraul Asad setelah kekalahan mereka di perang Uhud sekalipun saat itu mereka sedang dalam keadaan sedih dan terluka, akan tetapi mereka tetap mengeluarkan usaha maksimal dan memegang petunjuk Nabi mereka, dan orang-orang yang berbuat baik dan bertakwa dari mereka akan mendapatkan pahala yang besar.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud).

Hal ini terjadi dalam Perang Hamra-ul Asad.
Pada mulanya setelah kaum musyrik beroleh kemenangan atas kaum muslim (dalam Perang Uhud) dan mereka kembali ke negeri tempat tinggal mereka, maka ketika mereka sampai di pertengahan jalan, mereka merasa menyesal, mengapa mereka tidak meneruskan pengejaran sampai ke Madinah, kemudian segala sesuatunya diselesaikan sehingga tidak ada masalah lagi bagi mereka?
Ketika Rasulullah ﷺ mendengar berita tersebut, beliau menyerukan kepada semua kaum muslim untuk berangkat mengejar mereka (kaum musyrik) guna menakut-nakuti mereka dan sekaligus memperlihatkan kepada mereka bahwa kaum muslim masih memiliki kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi mereka.
Kali ini Rasulullah ﷺ tidak memberi izin untuk tidak berangkat kepada seseorang pun di antara mereka yang mengikuti Perang Uhud selain Jabir ibnu Abdullah r.a.
karena alasan yang akan kami terangkan kemudian.
Maka kaum muslim pun bersiap-siap.
Sekalipun di antara mereka ada yang luka dan keberatan, tetapi demi taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka berangkat pula.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr, dari Ikrimah yang menceritakan bahwa ketika kaum musyrik kembali dari Perang Uhud, mereka mengatakan, “Muhammad tidak sempat kalian bunuh, dan kaki tangannya tidak kalian tawan.
Alangkah buruknya apa yang telah kalian lakukan itu, sekarang kembalilah kalian.” Ketika Rasulullah ﷺ mendengar berita tersebut, maka beliau menyerukan kepada kaum muslim untuk siap berperang lagi, lalu mereka bersiap-siap dan berangkat.
Ketika sampai di Hamra-ul Asad atau di Bi-r Abu Uyaynah (ragu dari pihak Sufyan), maka kaum musyrik berkata (kepada sesama mereka), “Kita kembali lagi tahun depan saja.” Maka Rasulullah ﷺ kembali pula ke Madinah.
Peristiwa ini dianggap sebagai suatu peperangan (perang urat syaraf, pent.).
Sehubungan dengan peristiwa ini Allah menurunkan firman-Nya:

(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud).
Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui hadis Muhammad ibnu Mansur, dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, lalu ibnu Murdawaih menuturkan hadis ini.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu pertengahan bulan Syawwal.
Pada keesokan harinya —yaitu pada hari Ahad, tanggal enam belas bulan Syawwal— Rasulullah ﷺ menyerukan melalui juru serunya kepada kaum muslim agar bersiap-siap mengejar musuh.
Juru seru Rasulullah ﷺ mengumumkan, “Tidak boleh ada yang berangkat bersama kami seseorang pun kecuali orang-orang yang ikut bersama kami kemarin (dalam Perang Uhud).
Lalu Jabir ibnu Abdullah ibnu Amr ibnu Haram meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak ikut.
Untuk itu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah meninggalkan di belakangku tujuh orang saudara perempuanku.” Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai anakku, tidak layak bagiku dan bagimu juga bila meninggalkan wanita-wanita tersebut tanpa laki-laki di antara mereka yang menjaganya.
Aku bukanlah orang yang lebih mementingkan kamu untuk berjihad bersama Rasulullah ﷺ ketimbang diriku sendiri.
Sekarang engkau boleh tetap tinggal menjaga saudara-saudara perempuanmu.” Maka ia tetap tinggal di Madinah menjaga saudara-saudara perempuannya.
Nabi ﷺ memberikan izin kepada Jabir untuk tidak ikut, sedangkan beliau ﷺ berangkat bersama mereka.
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ kali ini berangkat hanya semata-mata untuk menakut-nakuti musuh, agar sampai kepada mereka bahwa beliau ﷺ berangkat untuk mengejar mereka, hingga mereka mengira bahwa Nabi ﷺ masih memiliki kekuatan, bahwa apa yang dialami oleh kaum muslim dalam Perang Uhud tidak membuat mereka lemah dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Kharijah ibnu Zaid ibnu Sabit, dari Abus Saib maula Aisyah binti Usman, bahwa seorang lelaki dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ dari kalangan Bani Abdul Asyhal pernah mengikuti Perang Uhud, ia menceritakan bahwa kami ikut dalam Perang Uhud bersama Rasulullah ﷺ”Dalam peperangan Uhud, aku dan saudara laki-lakiku mengalami luka-luka.
Ketika juru seru Rasulullah ﷺ mengumumkan berangkat lagi mengejar musuh, aku berkata kepada saudaraku, atau saudaraku berkata kepadaku, ‘Apakah peperangan bersama Rasulullah ﷺ kali ini akan terlewatkan oleh kami?’ Demi Allah, kala itu kami tidak mempunyai seekor unta kendaraan pun, sedangkan kami dalam keadaan luka berat.
Tetapi pada akhirnya kami tetap bertekad berangkat bersama Rasulullah ﷺ Keadaanku saat itu lebih ringan lukanya ketimbang saudaraku.
Di tengah jalan saudaraku jatuh pingsan atau lemas digendong oleh Uqbah, hingga kami pun sampai di tempat pasukan kaum muslim sampai (yaitu Hamra-ul Asad).”

Imam Bukhari mengatakan: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salam.
telah menceritakan kepada kami Ahu Mu’awiyah, dari Hisyam, dari ayahnya.
dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya:
(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya., hingga akhir ayat.
Aku (Siti Aisyah) berkata kepada Urwah.”Hai anak lelaki saudara perempuanku, ayahmu termasuk salah seorang di antara mereka, yaitu Az-Zubair, juga Abu Bakar r.a.
Ketika Nabi ﷺ mengalami musibah dalam Perang Uhud dan pasukan kaum musyrik pulang meninggalkan beliau ﷺ, maka beliau ﷺ merasa khawatir bila mereka kembali lagi menyerang.
Lalu beliau ﷺ bersabda, “Siapakah yang mau mengejar mereka?
” Maka beliau memilih tujuh puluh orang lelaki, di antara mereka terdapat Abu Bakar dan Az-Zubair.

Imam Hakim meriwayatkannya pula melalui hadis Ismail ibnu Abu Khalid, dari At-Taimi, dari Urwah yang menceritakan bahwa Siti Aisyah r.a.
pernah berkata kepadanya: Sesungguhnya ayahmu termasuk di antara orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud).

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far dari pokok kitabnya, telah menceritakan kepada kami Samuwaih, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Zubair, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya: Sesungguhnya kedua orang tuamu benar-benar termasuk orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka, yaitu Abu Bakar dan Az-Zubair.

Predikat marfu’ hadis ini merupakan suatu kekeliruan yang besar bila ditinjau dari segi sanadnya, karena sanadnya bertentangan dengan riwayat orang-orang yang siqah yang menyatakan bahwa hadis ini mauquf hanya sampai kepada Siti Aisyah r.a.
(dan tidak sampai kepada Nabi ﷺ), seperti yang disebutkan di atas.
Bila ditinjau dari segi’ maknanya, sesungguhnya Az-Zubair bukan merupakan orang tua Siti Aisyah.
Sesungguhnya yang mengatakan demikian tiada lain adalah Aisyah, kepada Urwah ibnuz Zubair yang merupakan anak lelaki saudara perempuannya, Asma binti Abu Bakar r.a.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa’d, telah menceritakan kepadaku pamanku, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menanamkan ke dalam hati Abu Sufyan rasa takut dalam Perang Uhud sesudah ia berhasil meraih kemenangan yang diperolehnya.
Karena itu, ia kembali ke Mekah.
Dan Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya Abu Sufyan telah memperoleh suatu kemenangan dari kalian, dan sekarang ia pulang karena Allah menanamkan rasa takut dalam hatinya.
Perang Uhud terjadi dalam bulan Syawwal, sedangkan pada waktu itu merupakan kebiasaan setahun sekali para pedagang datang ke Madinah pada bulan Zul Qa’dah, lalu mereka menggelarkan dagangannya di Badar Sugra.
Mereka tiba (di Madinah) sesudah peperangan Uhud.
Saat itu kaum muslim mendapat luka dari Perang Uhud, lalu mereka mengadu kepada Nabi ﷺ dan mereka merasa berat dengan luka yang baru mereka alami itu.
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ menyerukan kepada orang-orang agar berangkat bersamanya, sekalipun keadaan mereka tidak mendorong mereka untuk mengikutinya.
Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya mereka sekarang berangkat (pulang ke Mekah) untuk menunaikan hajinya.
dan mereka tidak akan mampu melakukan semisal dengan apa yang mereka lakukan dalam peperangan Uhud kecuali tahun depan nanti.” Akan tetapi, setan menakut-nakuti kekasih-kekasih Allah.
ia mengatakan, “Sesungguhnya manusia (kaum musyrik) telah menghimpun kekuatannya untuk menyerang kalian.” Maka orang-orang tidak mau mengikuti Nabi ﷺ Kemudian Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku tetap akan berangkat, sekalipun tidak ada seorang pun yang mengikutiku untuk menggerakkan orang-orang yang mau ikut.” Maka ikutlah bersamanya Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Az-Zubair, Sa’d, Talhah, Abdur Rahman ibnu Auf, Abdullah ibnu Mas’ud, Huzaifah ibnul Yaman.
dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah bersama tujuh puluh orang, lalu mereka berangkat hingga sampai di As-Safra, dan Allah menurunkan firman-Nya: (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka.
(Ali Imran:172), hingga akhir ayat.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ akhirnya berangkat hingga sampai di Hamra-ul Asad yang jauhnya kurang lebih delapan mil dari Madinah.

Ibnu Hisyam menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengangkat Ibnu Ummi Maktum menjadi amir di Madinah (selama kepergian Rasulullah ﷺ).
Nabi ﷺ tinggal selama tiga hari di Hamra-ul Asad, yaitu pada hari Senin, Selasa, dan Rabu, setelah itu kembali ke Madinah – Menurut apa yang diceritakan kepadaku oleh Abdullah ibnu Abu Bakar – Nabi ﷺ bersua dengan Ma’bad ibnu Abu Ma’bad Al-Khuza’i.
Kabilah Khuza’ah, baik yang muslim maupun yang masih musyrik, bersikap netral.
Mereka mempunyai hubungan erat dengan Rasulullah ﷺ sejak mereka melakukan transaksi perdagangan dengan beliau di Tihamah, dan mereka tidak pernah menyembunyikan sesuatu pun darinya.
Ma’bad saat itu masih musyrik: ketika bersua dengan Nabi ﷺ, ia mengatakan, “Hai Muhammad, demi Allah, kami berbelasungkawa atas musibah yang menimpa dirimu sehubungan dengan luka yang dialami oleh sahabat-sahabatmu, dan kami berharap mudah-mudahan Allah menyelamatkan engkau bersama mereka.” Kemudian Ma’bad melanjutkan perjalanannya, sedangkan Rasulullah ﷺ tetap berada di Hamra-ul Asad, hingga Ma’bad bersua dengan Abu Sufyan ibnu Harb bersama pasukannya di Rauha.
Saat itu mereka sepakat kembali memerangi Rasulullah ﷺ dan sahabat-sahabatnya.
Mereka mengatakan, “Kita telah mengalami kemenangan atas Muhammad dan sahabat-sahabatnya, juga para pemimpin dan orang-orang terhormat kaum muslim, apakah kita kembali sebelum memberantas mereka?
Kita benar-benar harus kembali untuk mengikis habis sisa-sisa kekuatan mereka hingga kita benar-benar aman dari mereka.” Ketika Abu Sufyan melihat Ma’bad, ia bertanya.”Hai Ma’bad.
apakah yang ada di belakangmu?”
Ma’bad menjawab.”Muhammad dan sahabat-sahabatnya sedang memburu kalian bersama sejumlah pasukan yang belum pernah kulihat sebanyak itu.
Mereka benar-benar merasa dendam terhadap kalian.
Telah bergabung bersamanya orang-orang yang tadinya tidak ikut berperang, dan mereka menyesal atas ketidakberangkatan mereka.
Mereka benar-benar merasa dendam terhadap kalian sehingga membawa pasukan yang kekuatannya tidak pernah aku lihat sebelumnya.” Abu Sufyan berkata, “Celakalah kamu ini, apa maksudmu dengan kata-katamu itu?”
Ma’bad berkata, “Demi Allah, menurutku engkau masih belum pulang sebelum engkau melihat pasukan berkuda mereka.” Abu Sufyan berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kami sepakat kembali menyerang mereka guna mengikis habis sisa-sisa kekuatan mereka.” Ma’bad menjawab, “Sesungguhnya aku melarangmu melakukan hal tersebut.
Demi Allah, sesungguhnya telah mendorongku untuk mengatakan beberapa bait syair yang menggambarkan kekuatan mereka (kaum muslim) sesudah aku melihatnya.” Abu Sufyan bertanya, “Apakah yang engkau katakan itu?”
Ma’bad menjawab, “Rahilah (pelana) untaku hampir jatuh karena getaran ketika kuda-kuda Ababil mengalir bergerak di bumi membawa para pendekar yang gagah berani lagi pantang mundur dalam peperangan dan tidak pernah mundur barang setapak pun.
Maka aku memacu kendaraanku karena aku mengira bahwa bumi ini seakan-akan berguncang, mereka berada di bawah pimpinan seorang pemimpin yang tidak pernah terhina.
Maka aku katakan, ‘Celakalah, hai Ibnu Harb, bila bersua dengan kalian,’ mengingat Lembah Batha bergetar karena pasukan berkuda.
Sesungguhnya aku memberikan peringatan kepada penduduk lembah, janganlah mereka mengorbankan nyawanya, yaitu kepada setiap orang yang ragu dan memakai akal pikirannya di antara mereka.
Hati-hatilah kalian terhadap pasukan Ahmad yang tidak terkalahkan itu.
Apa yang aku peringatkan ini bukan berdasarkan berita (melainkan aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri).” Maka Abu Sufyan dan orang-orang yang bersamanya merasa berterima kasih kepada Ma’bad atas berita itu.
Lalu Abu Sufyan berpapasan dengan kafilah dari Abdul Qais.
Abu Sufyan bertanya, “Hendak ke manakah kalian?”
Mereka menjawab, “Kami hendak ke Madinah.” Abu Sufyan bertanya, “Untuk apa?”
Mereka menjawab, “Kami hendak mencari makanan.” Abu Sufyan berkata, “Maukah kalian menyampaikan pesanku kepada Muhammad melalui surat yang akan kukirimkan melalui kalian?
Sebagai imbalannya aku akan membawakan barang ini buat kalian (yakni zabib) di Ukaz bila kalian bersua dengan kami nanti.” Mereka menjawab, “Ya.” Abu Sufyan berkata, “Apabila kalian bertemu dengan Muhammad, ‘sampaikanlah kepadanya bahwa kami telah bersiap-siap untuk menyerang dia dan sahabat-sahabatnya dan mengikis habis sisa-sisa kekuatan mereka.” Lalu rombongan kafilah Abdul Qais itu bersua dengan Rasulullah ﷺ di Hamra-ul Asad, kemudian mereka menceritakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Abu Sufyan dan teman-temannya.
Maka Nabi dan para sahabatnya berkata, “Cukuplah Allah sebagai Penolong kami, Dia sebaik-baik Pelindung.”

Ibnu Hisyam meriwayatkan melalui Abu Ubaidah yang pernah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda ketika disampaikan kepadanya berita yang mengatakan bahwa pasukan kaum musyrik kembali datang menyerang:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku telah memberi tanda buat mereka pada sebuah batu.
Seandainya mereka pada pagi harinya berada di situ, niscaya keadaan mereka seperti kemarin yang telah lalu.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud).
(Ali Imran:172) Bahwa Abu Sufyan dan teman-temannya berhasil memperoleh kemenangan atas pasukan kaum muslim, lalu mereka kembali.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Abu Sufyan kembali (ke Mekah), sedangkan Allah telah menanamkan rasa takut di dalam hatinya.
Maka siapakah yang mau ikut mengejarnya?
Ternyata yang mau melakukannya adalah Nabi ﷺ sendiri, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan sejumlah sahabat Rasulullah ﷺ, lalu mereka berangkat mengejar Abu Sufyan dan pasukannya.
Ketika sampai berita kepada Abu Sufyan bahwa Nabi ﷺ sedang mengejarnya dan ia bersua dengan suatu iringan kafilah pedagang, maka ia berkata (kepada mereka), “Kembalikanlah Muhammad, nanti kalian akan kuberi persen sekian, dan sampaikanlah kepadanya bahwa aku telah menghimpun sejumlah besar pasukan, dan aku akan kembali memerangi mereka.” Ketika rombongan pedagang itu datang dan menyampaikan berita tersebut kepada Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ bersabda: Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah sebaik-baik Pelindung.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat ini.

Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, semuanya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa Hamra-ul Asad.

Menurut pendapat lain, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Perang Badar yang dijanjikan, tetapi pendapat yang benar adalah pendapat pertama.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Ali Imran (3) ayat 172
Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Hisyam dari Ayahnya dari Aisyah radliallahu anha mengenai ayat: (yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar (Qs. Ali Imran: 172). Aisyah berkata kepada Urwah, “Wahai keponakanku, sesungguhnya ayahmu termasuk dari mereka (yang diterangkan dalam ayat), yaitu Az Zubair dan Abu Bakr. Ketika Rasulullah Shallallahu alahi wasallam terluka pada perang Uhud, disaat beliau khawatir kaum Musyrikin yang telah pergi akan kembali, beliau bersabda:
Siapakah yang akan mengintai mereka?, lalu beliau memilih tujuh puluh orang. Perawi berkata,
Termasuk diantara mereka adalah Abu Bakr dan Az Zubair.”

Shahih Bukhari, Kitab Peperangan – Nomor Hadits: 3769

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 172

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menanamkan rasa takut di hati Abu Sufyan pada perang Uhud, setelah mampu mencerai-beraikan pasukan Islam.
Kemudian ia pulang ke Mekah.
Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Abu Sufyan terpukul mentalnya, ia pulang, dan Allah menanamkan rasa takut di dalam hatinya.”

Perang Uhud itu terjadi pada bulan syawal.
Sebulan kemudian, yaitu pada bulan Zulkaidah, para pedagang Quraisy menuju ke Madinah dan berhenti di Badr Shugra.
Di saat itu kaum Muslimin sedang menderita akibat luka-luka perang Uhud.
Rasulullah ﷺ menyeru para shahabatnya untuk berangkat menuju ke tempat mereka.
Maka datanglah setan menakut-nakuti kekasih Allah (para shahabat) dengan berkata: “Sesungguhnya musuh telah siap sedia dengan bala tentara dan bekalnya untuk memerangimu.” Sehingga para shahabat enggan mengikuti Rasul.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku akan berangkat walau tak ada seorangpun yang ikut denganku.” Maka berdirilah Abu Bakr yang diikuti ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Zubair, Sa’d, Thalhah, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah bin al-Yaman, dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, sehingga mencapai jumlah tujuh puluh orang.
Mereka berangkat mencari Abu Sufyan hingga sampai ke ash-Shafra’.
Maka Allah menurunkan ayat ini (Ali ‘Imraan: 172) sebagai pujian terhadap orang yang menyambut seruan Allah dan Rasulullah ﷺ

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 172 *beta

Surah Ali Imran Ayat 172



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (10 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku