Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 167


وَ لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ نَافَقُوۡا ۚۖ وَ قِیۡلَ لَہُمۡ تَعَالَوۡا قَاتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَوِ ادۡفَعُوۡا ؕ قَالُوۡا لَوۡ نَعۡلَمُ قِتَالًا لَّا تَّبَعۡنٰکُمۡ ؕ ہُمۡ لِلۡکُفۡرِ یَوۡمَئِذٍ اَقۡرَبُ مِنۡہُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ ۚ یَقُوۡلُوۡنَ بِاَفۡوَاہِہِمۡ مَّا لَیۡسَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ وَ اللّٰہُ اَعۡلَمُ بِمَا یَکۡتُمُوۡنَ
Waliya’lamal-ladziina naafaquu waqiila lahum ta’aalau qaatiluu fii sabiilillahi awiidfa’uu qaaluuu lau na’lamu qitaaalan laattaba’naakum hum lilkufri yauma-idzin aqrabu minhum lila-iimaani yaquuluuna biafuuhihim maa laisa fii quluubihim wallahu a’lamu bimaa yaktumuun(a);

Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik.
Kepada mereka dikatakan:
“Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”.
Mereka berkata:
“Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu”.
Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan.
Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya.
Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya.
Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
―QS. 3:167
Topik ▪ Sikap bangsa Yahudi terhadap Islam
3:167, 3 167, 3-167, Ali Imran 167, AliImran 167, Al Imran 167
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 167. Oleh Kementrian Agama RI

Demikian juga agar orang-orang munafik dapat diketahui kemunafikannya dengan nyata.
Pada waktu perang Uhud jumlah tentara Islam 1.000 orang, kemudian di tengah jalan 300 orang yang tergolong munafikin di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay telah kembali ke Madinah.
Maka perang Uhud merupakan pemisah antara tentara yang benar-benar beriman dan yang setengah-setengah imannya, yakni golongan munafik.

Kaum munafik pada waktu diajak berperang fi sabilillah menegakkan agama Allah, mempertahankan hak dan keadilan dan menolak kebatilan dan kemungkaran guna mencari rida Allah atau berperang untuk menjaga diri dan mempertahankan tanah tumpah darahnya, mereka menjawab: Jika kami mengetahui bahwa kita dapat dan mampu berperang pasti kami mengikuti.
Tetapi mereka menilai bahwa kaum muslimin berperang pada waktu itu semata-mata menjerumuskan diri dalam kebinasaan.
Sebenarnya mereka lebih cenderung kepada kekafiran dari pada keimanan dan apa yang mereka katakan bukan sebenarnya apa yang ada dalam hati mereka.
Allah mengetahui kemunafikan yang mereka sembunyikan dalam hati mereka.

Ali Imran (3) ayat 167 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 167 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 167 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di samping itu, juga untuk menunjukkan kemunafikan orang-orang munafik.
Yaitu orang-orang yang lari dari peperangan pada peristiwa Uhud yang, ketika diseru, “Kemarilah kalian semua untuk berperang, demi ketaatan kepada Allah atau untuk membela diri,” menjawab, “Kalau kami tahu bahwa kalian akan menghadapi suatu peperangan, kami pasti pergi bersama kalian!” Ketika mengatakan itu mereka lebih dekat kepada kekufuran daripada keimanan.
Mereka lalu mengatakan pula, “Tidak akan ada perang!” Padahal, di dalam hati, mereka yakin bahwa perang pasti terjadi.
Allah lebih tahu tentang kemunafikan yang mereka sembunyikan, karena Dia mengetahui akibat dari rahasia-rahasia mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan supaya diketahui-Nya orang-orang yang munafik dan) orang-orang yang (dikatakan kepada mereka) ketika mereka berpaling dari peperangan, yaitu Abdullah bin Ubai dan anak buahnya (“Marilah kita berperang di jalan Allah) dengan musuh-musuh-Nya (atau usirlah mereka”) dari kami dengan memperbanyak anggotamu jika kamu tidak hendak berperang! (Jawab mereka, “Sekiranya kami tahu) maksudnya pandai (berperang, tentulah kami akan mengikuti kamu”) firman Allah mendustakan mereka, (“Pada hari itu mereka lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan) dengan sikap mereka yang terang-terangan mengkhianati kaum Muslimin sedangkan sebelumnya mereka pada lahirnya lebih dekat kepada keimanan.
(Mereka mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak terdapat di dalam hati mereka) karena seandainya mereka pandai berperang, mereka juga tidak akan mengikutimu! (Dan Allah lebih mengetahui apa-apa yang mereka sembunyikan”) berupa kemunafikan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Agar orang-orang munafik dapat diketahui, di mana Allah membeberkan apa yang ada di dalam hati mereka saat orang-orang mukmin berkata kepada mereka :
Kemarilah, berperanglah bersama kami di jalan Allah.
Jadilah kalian pendukung kami dengan memperbanyak jumlah kami.
Maka mereka menjawab :
Seandainya kalian mengetahui bahwa kalian akan berperang melawan seseorang, niscaya kami akan bersama kalian untuk melawan mereka.
Pada hari itu mereka lebih dekat kepada kekufuran daripada iman, karena mereka mengucapkan dengan lisan mereka apa yang tidak diyakini oleh hati mereka.
Allah lebih mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan agar Dia menyatakan siapa orang-orang yang munafik.
Kepada mereka dikatakan, “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (diri kalian).” Mereka berkata, “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian.”

Mereka yang mengatakan demikian adalah teman-teman Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, yaitu mereka yang kembali ke Madinah bersamanya sesudah menempuh setengah perjalanan.
Kemudian mereka dikejar oleh banyak lelaki dari kalangan kaum mukmin dengan maksud menyuruh mereka agar kembali bergabung bersama pasukan yang akan bertempur dan maju ke medan peperangan serta saling membantu.
Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya:

…atau pertahankanlah diri kalian.

Ibnu Abbas, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Ad-Dahhak, Abu Saleh, Al-Hasan, dan As-Saddi mengatakan bahwa dengan keikutsertaan mereka, maka pasukan kaum muslim menjadi bertambah banyak.

Al-Hasan ibnu Saleh mengatakan, makna yang dimaksud ialah pertahankanlah diri kalian dengan berdoa.
Sedangkan selain mereka mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bersiap siagalah kalian.
Tetapi mereka mengemukakan alasannya seraya berkata, yang perkataan mereka disitir oleh firman-Nya:

Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian.

Menurut Mujahid, mereka bermaksud ‘sekiranya kami mengetahui bahwa kalian akan menghadapi peperangan, niscaya kami datang kepada kalian untuk membantu, tetapi ternyata kalian tidak menghadapi suatu peperangan pun’.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muslim ibnu Syihab Az-Zuhri dan Muhammad ibnu Yahya ibnu Hayyan, Asim ibnu Umar ibnu Qatadah, Al-Husain ibnu Abdur Rahman ibnu Amr ibnu Sa’d ibnu Mu’az serta lain-lain-nya dari kalangan ulama kami, semuanya menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ membawa kami turut serta berangkat, yakni ketika beliau berangkat menuju medan Uhud bersama seribu orang sahabatnya.
Ketika beliau sampai di Asy-Syaut yang terletak di antara Uhud dan Madinah, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul memisahkan diri dari Nabi ﷺ bersama sepertiga pasukan (kembali ke Madinah).
Ia berkata, “Dia (yakni Nabi ﷺ) menuruti pendapat mereka (kaum muslim) dan menentang pendapatku.”Demi Allah, kita tidak mengetahui untuk apakah kita membunuh diri kita sendiri di sini, hai orang-orang.” Lalu ia kembali ke Madinah bersama sejumlah orang dari kaumnya, yaitu ahli nifaq dan yang berada dalam keraguan.
Kemudian mereka dikejar oleh Abdullah ibnu Amr ibnu Haram (saudara lelaki Bani Salamah), lalu ia mengatakan (kepada mereka yang kembali itu), “Hai kaum, aku perintahkan kalian akan Allah subhanahu wa ta’ala, janganlah kalian merendahkan Nabi dan kaum kalian manakala beliau tiba dari musuh kalian nanti!” Mereka menjawab, “Sekiranya kami mengetahui akan terjadinya peperangan, niscaya kami tidak akan membiarkan kalian.
Tetapi kami berpendapat bahwa tidak akan terjadi peperangan.” Ketika mereka membangkang, tidak mau menuruti kata-katanya, dan mereka bertekad bulat untuk kembali ke Madinah, maka Abdullah ibnu Amr ibnu Haram mengatakan kepada mereka, “Semoga Allah menjauhkan kalian (dari rahmat-Nya), hai musuh-musuh Allah.
Allah Mahakaya dari kalian.” Lalu Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.

Mereka mengambil dalil dari ayat ini, bahwa keadaan iman seseorang itu naik turun grafiknya, dalam suatu keadaan adakalanya ia lebih dekat kepada kekufuran, dan dalam keadaan yang lain lebih dekat kepada keimanan, karena berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini:
Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada terkandung dalam hatinya.

Yakni mereka mengatakan hal-hal yang tidak mereka yakini kebenar-annya.
Sama maknanya dengan firman sebelumnya, yaitu:
Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian.

Karena sesungguhnya mereka merasa pasti bahwa pasukan kaum musyrik sedang bergerak.
Mereka datang dari kota yang jauh dengan dendam yang membakar hati mereka terhadap kaum muslim karena musibah yang menimpa orang-orang terhormat mereka dalam Perang Badar.
Jumlah mereka beberapa kali lipat jumlah pasukan kaum muslim, dan pasti akan terjadi peperangan di antara kedua belah pihak.
Karena itulah maka dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 167

AFWAAH
أَفْوَٰه

Lafaz afwaah adalah bentuk jamak dari al faah. Ia berarti terbukanya sesuatu, mu’annats-nya adalah yang bermakna mulut. Kata terbitan dari adalah al fawaah yang bermakna mulut yang luas.

Menurut ahli tatabahasa Arab, asal kata al jam adalah faah.

Kata afwaah disebut 12 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 118, 167;
-Al Maa’idah (5), ayat 41;
-At Taubah (9), ayat 8, 30, 32;
-Ibrahim (14), ayat 9;
-Al Kahfi (18), ayat 5;
-An Nuur (24), ayat 15;
-Al Ahzab (33), ayat 4;
-Yaa Siin (36), ayat 65;
-Ash Shaff (61), ayat 8.

Dalam ayat 118, surah Ali Imran, makna kata afwaah adalah alsinah yaitu lisan atau mulut, di mana penafsiran ayat itu adalah “nampak tanda-tanda permusuhan pada kamu melalui afwaah (lisan-lisan) mereka dan mereka tidak cukup memusuhi kamu dengan hati mereka saja, sehingga mereka berterus terang dengan mulut mereka.”

Begitu juga makna afwaah dalam ayat 167, apabila orang munafik seperti Ubai bin Salul dan pengikutnya pergi bersama Rasulullah pada Perang Uhud, namun mereka balik dan mengatakan, “Sekiranya kami tahu, pasti kami berperang bersama kamu,” sedangkan mereka sebenarnya mengatakan dengan lisan mereka ucapan yang bertentangan dengan hati mereka.

Sedangkan kata afwaah dalam surah Al Maa’idah ayat 41, penafsirannya adalah mereka menampakkan keimanan dengan afwaah (lidah atau mulut) mereka sedangkan hati mereka rusak dan kosong daripadanya, mereka itu adalah orang munafik.

Kesimpulannya, makna dan maksud dari kata afwaah pada keseluruhan ayat Al Qur’an ialah lisan atau mulut.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:24

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 167 *beta

Surah Ali Imran Ayat 167



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (29 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku