Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 154


ثُمَّ اَنۡزَلَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ الۡغَمِّ اَمَنَۃً نُّعَاسًا یَّغۡشٰی طَآئِفَۃً مِّنۡکُمۡ ۙ وَ طَآئِفَۃٌ قَدۡ اَہَمَّتۡہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ یَظُنُّوۡنَ بِاللّٰہِ غَیۡرَ الۡحَقِّ ظَنَّ الۡجَاہِلِیَّۃِ ؕ یَقُوۡلُوۡنَ ہَلۡ لَّنَا مِنَ الۡاَمۡرِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ قُلۡ اِنَّ الۡاَمۡرَ کُلَّہٗ لِلّٰہِ ؕ یُخۡفُوۡنَ فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ مَّا لَا یُبۡدُوۡنَ لَکَ ؕ یَقُوۡلُوۡنَ لَوۡ کَانَ لَنَا مِنَ الۡاَمۡرِ شَیۡءٌ مَّا قُتِلۡنَا ہٰہُنَا ؕ قُلۡ لَّوۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ بُیُوۡتِکُمۡ لَبَرَزَ الَّذِیۡنَ کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقَتۡلُ اِلٰی مَضَاجِعِہِمۡ ۚ وَ لِیَبۡتَلِیَ اللّٰہُ مَا فِیۡ صُدُوۡرِکُمۡ وَ لِیُمَحِّصَ مَا فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ
Tsumma anzala ‘alaikum min ba’dil ghammi amanatan nu’aasan yaghsya thaa-ifatan minkum wathaa-ifatun qad ahammathum anfusuhum yazhunnuuna billahi ghairal haqqi zhannal jaahilii-yati yaquuluuna hal lanaa minal amri min syai-in qul innal amra kullahu lillahi yukhfuuna fii anfusihim maa laa yubduuna laka yaquuluuna lau kaana lanaa minal amri syayun maa qutilnaa haa hunaa qul lau kuntum fii buyuutikum labarazal-ladziina kutiba ‘alaihimul qatlu ila madhaaji’ihim waliyabtaliyallahu maa fii shuduurikum waliyumahhisha maa fii quluubikum wallahu ‘aliimun bidzaatish-shuduur(i);

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah.
Mereka berkata:
“Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”.
Katakanlah:
“Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”.
Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu, mereka berkata:
“Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”.
Katakanlah:
“Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”.
Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu.
Allah Maha Mengetahui isi hati.
―QS. 3:154
Topik ▪ Takdir ▪ Kebenaran dan hakikat takdir ▪ Balasan dan pahala dari Allah
3:154, 3 154, 3-154, Ali Imran 154, AliImran 154, Al Imran 154
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 154. Oleh Kementrian Agama RI

Lanjutan peristiwa setelah mereka mengalami kesulitan pada peperangan Uhud dan menderita kekalahan, maka Allah memberikan kepada segolongan mereka yang kuat iman dan kesabarannya perasaan kantuk untuk menenangkan mereka dari rasa ketakutan lelah dan kegelisahan, dengan demikian dapatlah mereka mengumpulkan kembali kekuatan mereka yang telah berkurang karena sengitnya pertempuran dan kehilangan semangat akibat kekalahan.
Sedang segolongan lainnya tidak menerima nikmat kantuk ini, yaitu golongan yang lemah imannya bahkan mereka tetap merasa takut dan gelisah.
Ayat ini mengutarakan bahwa pengikut-pengikut Nabi setelah selesai peperangan terbagi atas dua golongan:

Pertama: golongan yang menyadari bahwa kekalahan mereka pada perang Uhud adalah disebabkan kekeliruan mereka berupa kekurangan disiplin terhadap komando Rasul selaku komandan pertempuran dan mereka tetap yakin dan percaya pertolongan Allah berupa kemenangan bagi orang-orang yang beriman karena meskipun pada kali ini mereka mengalami kekalahan namun Allah tetap akan membela orang-orang yang beriman.
Golongan inilah yang memperoleh nikmat kantuk itu.

Kedua: golongan yang lemah imannya karena diliputi rasa kekuatiran disebabkan mereka belum begitu yakin kepada komando Rasul karena kemunafikan yang telah bersarang di hati mereka.
Golongan kedua inilah yang menyangka yang bukan-bukan terhadap Allah dan Muhammad seperti sangkaan orang-orang jahiliah, antara lain mereka menyangka kalau Muhammad benar-benar seorang Nabi dan Rasul, tentu ia dan sahabatnya tidak akan kalah.
dalam peperangan Uhud itu Mereka berkata untuk melepaskankan tanggung-jawab “Apakah kita ada hak campur tangan dalam urusan ini?”
Katakanlah hai Muhammad: “Semua urusan ini adalah di tangan Allah”.

Mereka banyak menyembunyikan hal-hal yang tidak mereka lahirkan kepadamu, mereka berkata “Sekiranya ada hak campur tangan pada kita, niscaya kita tidak akan dikalahkan di sini”.
Tetapi katakanlah kepada mereka bahwa andaikata berada di dalam rumah mereka masing-masing dengan tidak ikut berperang, akan tetapi kalau sudah ditakdirkan akan mati di luar rumah, maka mereka pasti akan mati juga di tempat yang sudah ditentukan.
Semua kejadian ini adalah untuk menguji apa yang tersimpan di dalam dada kaum muslimin dan untuk membersihkan hati mereka dari keraguan yang dibisikkan oleh setan, sehingga bertambah kuatlah keimanan dalam hati mereka.
Allah Maha Mengetahui isi hati mereka.

Ali Imran (3) ayat 154 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 154 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 154 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setelah kesedihan itu, Allah memberi kalian nikmat ketenangan, berupa rasa kantuk yang menyelimuti golongan yang tulus iman dan penyerahan dirinya kepada Allah.
Adapun golongan yang lain, hanya memikirkan diri sendiri.
Oleh karena itu, mereka berprasangka buruk kepada Allah seperti prasangka jahiliah.
Dengan tidak percaya, mereka berkata, “Apakah kita mempunyai peran mengenai soal kemenangan yang dijanjikan Allah kepada kita?”
Katakan, wahai Nabi, “Semua urusan mengenai kemenangan dan kekalahan itu adalah wewenang Allah.
Dia yang akan mengatur hal itu pada hamba-hamba-Nya, apakah mereka mengerjakan faktor-faktor kemenangan atau sebaliknya.” Sebenarnya, ketika mengatakan hal itu, dalam hati mereka ada hal yang tidak terungkap.
Dalam hati, mereka berkata, “Kalau kita mempunyai kebebasan, kita tidak akan pergi berperang sehingga tidak akan menderita kalah.” Katakan kepada mereka, “Kalaupun kalian berada di rumah, kemudian di antara kalian ada yang sudah ditentukan akan terbunuh di medan perang, maka mereka pasti akan keluar menuju tempat kematian itu.” Allah melakukan semua yang telah terjadi pada perang Uhud demi kemaslahatan yang banyak.
Di antaranya, untuk menguji keikhlasan yang ada di dalam dada kalian, dan juga untuk membersihkan hati kalian.
Allah Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi di dalam hati.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian Allah menurunkan kepada kamu setelah kesedihan itu keamanan berupa kantuk) menjadi badal (yang meliputi) ada yang membaca dengan ya dan ada pula dengan ta (segolongan dari kamu) yakni orang-orang beriman, mereka tertidur lelap di balik tameng sehingga pedang-pedang pun tergelincir dan jatuh ke sisi mereka (sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri) maksudnya mereka merasa cemas memikirkan nasib mereka hingga mereka tak ada kemauan selain menyelamatkan diri tanpa mempedulikan Nabi ﷺ dan para sahabatnya.
Mereka tidak dapat tidur dan mereka adalah orang-orang munafik.
(Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah) maksudnya seperti sangkaan (jahiliah) yang berkeyakinan bahwa Nabi itu benar-benar telah terbunuh atau kalau tidak, maka ia takkan dapat dikalahkan.
(Kata mereka, “Apakah) maksudnya tak ada (bagi kita terhadap urusan ini) maksudnya mengenai kemenangan yang telah Kami janjikan itu (dari) merupakan tambahan (sesuatu.”).
(Katakanlah) kepada mereka (“Sesungguhnya urusan ini seluruhnya) manshub sebagai taukid dapat pula marfu` sebagai mubtada sedangkan khabarnya ialah:
(bagi Allah.”) maksudnya ketentuan berada di tangan-Nya.
Ia berbuat apa yang dikehendaki-Nya (Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu, maka mereka mengatakan) ini menjadi keterangan bagi ‘apa’ yang sebelumnya (“Sekiranya bagi kami terhadap urusan ini ada sesuatu tidaklah kami terbunuh di sini) maksudnya jika kita mempunyai campur tangan dalam urusan ini kita dapat saja tidak keluar sehingga tidak terbunuh tetapi apa daya kita karena kita ini dipaksa keluar.” (Katakanlah) kepada mereka (“Sekiranya kamu berada di rumahmu) sedangkan di antaramu ada orang yang telah ditetapkan Allah akan menemui ajalnya (niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan terbunuh itu akan keluar juga ke tempat pembunuhan mereka.”) sehingga mereka akan mati terbunuh, dan tidak akan tertolong oleh ikhtiar atau usaha mereka itu karena kada Allah tetap berlaku tanpa sesuatu pun dapat menolaknya.
(Dan) hal itu dilakukan-Nya (agar Allah menguji apa yang terdapat dalam dadamu) dalam hatimu berupa keikhlasan atau kemunafikan (dan untuk membersihkan isi hatimu.
Dan Allah Maha Mengetahui akan sisi hati) semua itu tak ada yang tersembunyi bagi-Nya tetapi maksud-Nya agar dengan ujian itu tampaklah pula bagi manusia keikhlasan dan kemunafikan di antara kalian.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian di antara rahmat Allah kepada orang-orang beriman yang ikhlas adalah bahwa Dia menancapkan ketenangan dan keyakinan terhadap janji Allah ke dalam hati mereka setelah diterpa kesedihan dan kegundahan.
Di antara pengaruhnya adalah kantuk yang menyerang sebagian dari mereka, yakni orang-orang yang ikhlas dan yakin.
Sementara sekelompok orang yang lain hanya memikirkan keselamatan diri mereka sendiri, tekad mereka melemah dan sibuk dengan diri mereka sendiri, mereka juga sudah berburuk sangka kepada Tuhan mereka, agama dan Nabi-Nya.
Mereka mengira bahwa Allah tidak akan menyempurnakan dakwah Rasul-Nya dan bahwa Islam sudah tidak akan bisa berdiri kembali dengan kokoh.
Oleh karena itu kamu melihat mereka menyesal karena telah keluar.
Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain :
Apakah kami mempunyai pilihan untuk keluar berperang?
Katakan kepada mereka wahai Rasul :
Sesungguhnya seluruh urusan di tangan Allah, Dia-lah yang mentakdirkan kalian keluar sehingga terjadi pada kalian apa yang terjadi.
Mereka menyembunyikan dalam jiwa mereka sesuatu yang tidak mereka katakan kepadamu, yaitu penyesalan mereka karena telah keluar berperang.
Mereka berkata :
Seandainya kami memiliki sedikit pilihan, niscaya kami tidak akan dibunuh disini.
Katakan kepada mereka :
Sesungguhnya ajal itu di tangan Allah sekalipun kalian berada di rumah kalian dan Allah mentakdirkan kalian untuk mati, niscaya orang-orang yang sudah ditetapkan untuk mati itu akan keluar menyongsong kematian mereka di tempat di mana mereka akan terbunuh.
Allah tidak menjadikan hal itu kecuali untuk menguji apa yang ada di hati kalian berupa keraguan dan kemunafikan, memilah antara yang buruk dengan yang baik.
Dia menampakkan bagi manusia perkara orang mukmin dari perkara orang munafik dalam perkataan maupun perbuatan.
Allah Maha mengetahui apa yang ada di dalam dada makhluk-Nya, tidak ada sesuatu perkara pun yang samar bagi-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menyebutkan apa yang pernah Dia turunkan kepada hamba-hamba-Nya berupa ketenangan dan rasa aman, yaitu kantuk yang meliputi mereka, sedangkan mereka masih tetap dalam keadaan menyandang senjatanya.
Hal tersebut terjadi di saat mereka dalam keadaan sedih dan susah.

Rasa kantuk dalam keadaan seperti itu menunjukkan situasi telah aman, seperti halnya disebutkan di dalam surat Al-Anfal dalam kisah Perang Badar melalui firman-Nya:

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kalian mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya.
(Al Anfaal:11), hingga akhir ayat.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im dan Waki’, dari Sufyan, dari Asim, dari Abu Razin, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa rasa kantuk dalam peperangan dari Allah, sedangkan rasa kantuk dalam salat dari setan.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Khalifah pernah menceritakan kepadanya, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zura’i, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, dari Anas, dari Abu Talhah yang mengatakan: Aku termasuk orang-orang yang diliputi rasa kantuk dalam Perang Uhud, hingga pedangku terjatuh dari tanganku berkali-kali, ia terjatuh, lalu aku ambil dan jatuh lagi, kemudian aku ambil lagi.

Hal yang sama diriwayatkan pula di dalam kitab Al-Magazi secara ta’liq.

Imam Bukhari meriwayatkannya di dalam kitab tafsir secara musnad dari Syaiban, dari Qatadah, dari Anas, dari Abu Talhah yang menceritakan: Kantuk menimpa kami dalam Perang Uhud, padahal kami berada dalam barisan kami.
Abu Talhah melanjutkan kisahnya, “Maka pedangku terlepas dari tanganku, lalu aku mengambilnya, tetapi terlepas lagi, dan kuambil lagi.”

Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Hakim meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas, dari Abu Talhah yang menceritakan: Aku mengangkat kepalaku dalam Perang Uhud, lalu aku melihat-lihat, ternyata tidak ada seorang pun dari kalangan mereka (pasukan kaum muslim) pada hari itu.
melainkan ia menyandarkan tubuhnya pada tamengnya (perisainya) karena kantuk.

Lafaz hadis ini berdasarkan riwayat Imam Turmuzi, dan ia mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan sahih.

Imam Nasai meriwayatkannya pula dari Muhammad ibnul Musanna, dari Khalid ibnul Haris, dari Abu Qutaibah, dari Ibnu Abu Addi, keduanya dari Humaid, dari Anas yang menceritakan bahwa Abu Talhah pernah mengatakan: Aku termasuk orang-orang yang terkena rasa kantuk.
hingga akhir hadis.
Hal yang sama diriwayatkan dari Az-Zubair dan Abdur Rahman ibnu Auf.

Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepadaku Abul Husain Muhammad ibnu Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq As-Saqafi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnul Mubarak Al-Makhzumi, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Qatadah, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Malik, bahwa Abu Talhah pernah menceritakan, “Kami tertimpa rasa kantuk dalam Perang Uhud, sedangkan kami berada dalam barisan kami.
Maka pedangku terlepas dari tanganku, lalu aku memungutnya, dan terjatuh lagi, lalu aku pungut kembali.” Abu Talhah melanjutkan kisahnya, bahwa ada segolongan lain, yaitu orang-orang munafik, mereka tidak mementingkan kecuali hanya diri mereka sendiri.
Mereka adalah orang-orang yang sangat pengecut, penakut, dan paling melecehkan perkara hak.
mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan Jahiliah.
(Ali Imran:154) Yakni sesungguhnya mereka tiada lain adalah orang-orang yang bimbang dan ragu terhadap Allah subhanahu wa ta’ala

Demikianlah dengan tambahan ini, dia meriwayatkannya, seakan-akan kalimat ini adalah perkataan Qatadah.

Memang apa yang dikatakannya itu benar, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Kemudian setelah kalian berduka cita, Allah menurunkan kepada kalian keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kalian.

Artinya, mereka yang mengalami kantuk ini adalah ahli iman, percaya dan teguh dalam pertempuran, bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
Mereka adalah orang-orang yang merasa pasti bahwa Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan membantu dan menolong Rasul-Nya dan melaksanakan baginya apa yang dicita-citakannya.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

…sedangkan segolongan lagi dicemaskan oleh diri mereka sendiri.

Yakni mereka tidak terkena kantuk karena hati mereka diliputi oleh rasa khawatir, gusar, dan takut.

mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan Jahiliah.

Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:

Tetapi kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya.
(Al Fath:12), hingga akhir ayat.

Demikian pula halnya mereka (orang-orang munafik), mereka berkeyakinan ketika kaum musyrik beroleh kemenangan saat itu, bahwa saat itu merupakan saat penentuan, dan bahwa Islam beserta para pemeluknya telah lenyap.
Demikian perihal orang-orang yang ragu, jika terjadi suatu peristiwa yang buruk, timbul dugaan yang jelek seperti itu.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan perihal mereka yang munafik itu melalui firman-Nya:

Mereka berkata.

Yakni dalam keadaan seperti itu.

“Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”

Maka dijawab oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

Katakanlah, “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan (kekuasaan) Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu.

Kemudian apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka itu dibeberkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

Mereka berkata, “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.”

Maksudnya, mereka menyembunyikan ucapan ini dari pengetahuan Rasulullah ﷺ

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya Ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari ayahnya, dari Abdullah ibnuz Zubair yang menceritakan bahwa Az-Zubair pernah menceritakan hadis berikut: Ketika aku sedang bersama Rasulullah ﷺ, yaitu di saat rasa takut sangat mencekam kami, maka Allah mengirimkan kantuk yang meliputi diri kami.
Maka tidak ada seorang lelaki pun dari kami melainkan dagunya menempel pada dadanya (karena tertidur).
Az-Zubair melanjutkan kisahnya, “Demi Allah, aku benar-benar mendengar suara Mu’tib ibnu Qusyair yang suaranya kudengar seperti hanya dalam mimpi.
ia mengatakan: ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Kata-kata itu selalu kuingat.” Sehubungan dengan hal tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Mereka berkata, ‘”Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” (Ali Imran:154) karena perkataan Mu’tib itu.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Katakanlah, “Sekiranya kalian berada di rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.”

Yakni hal ini merupakan takdir yang ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala Dan merupakan keputusan-Nya yang tidak dapat dielakkan lagi darinya dan tidak ada jalan selamat baginya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dada kalian dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kalian.

Yaitu menguji kalian melalui apa yang terjadi pada diri kalian agar dapat dibedakan antara yang buruk dan yang baik, dan akan tampak nyata perbedaan antara orang mukmin dan orang munafik di mata orang-orang, baik dalam ucapan maupun perbuatannya.

Allah mengetahui isi hati.

Yakni mengetahui semua yang tersimpan di dalam hati berupa rahasia dan hal-hal yang terpendam padanya.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 154

Diriwayatkan oleh Ibnu Rahawaih yang bersumber dari Zubair.
Bahwa Zubair berkata: “Aku yakin benar bahwa pada hari perang Uhud kami merasakan ketakutan yang luar biasa.
Kemudian Allah mengirimkan rasa kantuk, sehingga kami semua terlelap (kepala terkulai di dada).
Demi Allah, aku mendengar, seakan-akan dalam mimpi, ucapan Mu’tib bin Qusyair: “Sekiranya kita punya hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan terkalahkan di tempat ini.” Aku hafalkan kata-kata itu.
Kemudian Allah menurunkan ayat tentang kejadian tersebut (Ali ‘Imraan: 154).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 154

JAAHILIYYAH
جَٰهِلِيَّة

Arti lafaz jaahiliyyah adalah keadaan manusia sebelum datangnya hidayah dan nabi. Kata dasarnya al jahlu yang berarti tidak tahu atau bodoh.

Menurut Isfahaani al jahlu ada tiga bentuk yaitu :
(1) Tiada ilmu;
(2) Meyakini sesuatu tetapi kenyataannya berbeda dengan apa yang diyakini;
(3) Melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan baik itu ketika melakukan­nya dia mempunyai keyakinan yang benar atau salah contohnya orang yang meninggal­kan shalat dengan sengaja.

Kata jaahiliyyah diulang empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 154;
-Al Maa’idah (5), ayat 50;
-Al Ahzab (33), ayat 33;
-Al Fath (48), ayat 26.

Di dalam Al Qur’an, perkara-perkara yang dikaitkan dengan jaahiliyyah selalunya teruk sehingga tidak boleh dilakukan atau di­ikuti dan mesti dijauhi. Perkara-perkara itu adalah:

Sangkaan jahiliyyah (dhzannal jaahiliyyah)
Maksudnya ialah keraguan kepada Allah. Keraguan inilah yang dialami orang munafik setelah tentara muslim kalah dalam Perang Uhud. Selesai perang, mereka tidak dapat menikmati rasa mengantuk seperti yang dirasakan oleh orang yang kuat imannya karena mereka bingung, cemas, kuatir dan berburuk sangka pada Allah, malah mereka yakin kemenangan kaum musyrik dalam Perang Uhud me­nunjukkan agama Islam sudah ber­akhir. Mereka adalah orang yang ragu-ragu. Ketika terjadi peristiwa yang tidak menyenangkan, muncul sangkaan-sangkaan buruk kepada Allah. Inilah yang diterangkan dalam surah Ali Imran (3), ayat 154.

Hukum jahiliyyah (hukmal jaahiliyyah)
Maksudnya ialah hukum-hukum selain yang ditetapkan oleh Allah. Imam Ibnu Katsir menafsirkan surah Al Maa’idah (5), ayat 50 dengan berkata,
“(Pada ayat ini), Allah mengingkari orang yang tidak mau mengikuti hukum Nya yang jelas (muhkam), yang meliputi semua bentuk kebajikan dan melarang semua bentuk keburukan, kemudian orang itu malahan berpindah mengikuti pendapat yang dibuat oleh manusia, mentaati keinginan-keinginan dan juga istilah-istilahnya yang tidak ber­ sandarkan kepada syariat Allah seperti hukum-hukum buatan orang jahiliyah yang penuh dengan kesesatan dan kebodohan karena mereka membuatnya berdasarkan pendapat dan keinginan pribadi mereka.
Sebagaimana hukum-hukum yang di­pakai oleh kaum Tatar dalam masalah politik kerajaan yang dibuat oleh Jengis Khan, dimana dia membuat kitab undang-undang yang bernama Yasiq. Di dalamnya terdapat aturan-aturan campuran yang diambil dari hukum-hukum yang beragama seperti hukum Yahudi, Nasrani, Islam dan lainnya. Di dalamnya juga terdapat banyak hukum yang diambil dari pendapat dan keinginan Jengis Khan, kemudian hukum-hukum itu men­jadi pegangan rakyat dan mereka lebih mengutamakan hukum-hukum itu daripada berhukum dengan Kitab Allah dan sunnah Rasulullah. Sesiapa yang melakukan perbuatan itu, maka dia adalah orang kafir yang wajib di­ perangi hingga dia kembali kepada hukum Allah dan rasul Nya hingga dia tidak mau lagi berhukum dengan se­lain dua perkara itu baik itu sedikit maupun banyak.”

Perhiasan dan tingkah laku perempuan jahiliyyah (tabarrujul jaahiliyyah)
Yaitu perilaku perempuan yang memamerkan per­hiasan dan keindahan tubuhnya yang dapat menyebabkan syahwat lelaki te­rangsang. Perhiasan dan keindahan tubuh harus ditutupi. Meskipun ada perbedaan pendapat dalam menetap­kan masa jahiliyyah yang dimaksud­kan dalam ayat ini, namun Imam Ibnu Atiyah menegaskan dengan mempertimbangkan konteks ayat, masa jahiliyyah yang dimaksudkan pada ayat itu adalah masa jahiliyyah yang pernah dijumpai oleh para isteri nabi ketika ajaran Islam belum tersebar hingga menyebabkan wanita berkelakuan buruk karena kafir.

Ada banyak perilaku negatif wanita yang termasuk “tabarrujul jaahiliyyah”. Imam Mujahid dan Qatadah menyatakan, termasuk tabarruj apabila wanita keluar rumah dan berjalan lenggak- lenggok di hadapan kaum lelaki. Imam Muqatil bin Hayyan menyebutkan ter­masuk sikap tabarruj adalah meletak­ kan tudung di atas kepala, tetapi tidak mengikatnya sehingga rantai, anting­-anting dan lehernya terdedah. Imam Mubarrad pula menerangkan wanita­-wanita jahiliyyah suka memamerkan bahagian tubuh yang tidak patut di­pamer hingga perempuan itu ter­biasa duduk bersama dengan suami dan juga kawan lelaki (suami)nya. Kawan lelaki (suami)nya bermain dengan tubuh wanita bahagi­an atas kain, sedangkan suaminya ber­main dengan tubuh wanita yang be­rada pada bahagian bawah kain, malah lelaki itu kadang-kadang meminta bertukar isteri.” Intinya “tabarrujul jaahiliyyah” adalah sikap tidak ada rasa malu dan tidak ada rasa cemburu pada isteri.

Kesombongan jahiliyyah (hamiyyatal jaahiliyyah)
Adalah perasaan bangga diri yang tinggi sehingga tidak mau me­nerima kebenaran. Sikap seperti ini­lah yang tertanam kuat di hati orang musyrik Makkah, sehingga semasa Perjanjian (Sulh) Hudaibiyah, mereka menolak kalimat Basmalah untuk me­ngawali surat perjanjian dan juga me­nolak kata Rasulullah sebagai sifat Muhammad yang menyetujui perjanji­an itu. Inilah yang diterangkan dalam surah Al Fath (48), ayat 26.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:133-134

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 154 *beta

Surah Ali Imran Ayat 154



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.6
Rating Pembaca: 4.8 (20 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku