Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 130


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡکُلُوا الرِّبٰۤوا اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَۃً ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa ta’kuluurribaa adh’aafan mudhaa’afatan waattaquullaha la’allakum tuflihuun(a);

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
―QS. 3:130
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Sebab dan syarat kemenangan
3:130, 3 130, 3-130, Ali Imran 130, AliImran 130, Al Imran 130
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 130. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini adalah yang pertama-tama diturunkan tentang haramnya riba.
Ayat-ayat mengenai haramnya riba dalam surat M-Baqarah yaitu ayat-ayat 275, 276, 279 diturunkan sesudah ini.
Yang dimaksud dengan riba dalam ayat ini, ialah riba jahiliah yang biasa dilakukan orang-orang di masa itu.

Berkata Ibnu Jarir: "Yang dimaksud Allah dalam ayat ini ialah : Hai, orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya, janganlah kamu memakan riba berlipat ganda, sebagaimana kamu lakukan di masa jahiliah sesudah kamu masuk Islam, padahal kamu telah diberi petunjuk oleh-Nya."

Di masa itu bila seseorang meminjam uang sebagaimana di-sepakati waktu meminjam.
maka orang yang punya uang menuntut supaya utang itu dilunasi menurut waktu yang dijanjikan.
Orang yang berutang (karena belum ada uang untuk membayar) meminta tangguh dan menjanjikan akan membayar nanti dengan tambahan yang ditentukan.
Setiap kali pembayaran tertunda ditambah lagi bunganya.
Inilah yang dinamakan riba berlipat ganda, dan Allah melarang kaum muslimin melakukan hal yang seperti itu".

Al Rani memberikan penjelasan sebagai berikut: "Bila seseorang berutang kepada orang lain dan telah tiba waktu membayar utang itu sedang orang yang berutang belum sanggup membayarnya, maka orang yang berpiutang membolehkan penangguhan pembayaran utang itu asal saja yang berutang itu mau menjadikan utangnya menjadi dua ratus dirham.
Kemudian apabila tiba pula waktu pembayaran tersebut dan yang berutang belum juga sanggup membayarnya, maka pembayaran itu dapat ditangguhkan dengan ketentuan utangnya dilipat gandakan lagi, dan demikianlah seterusnya sehingga utang itu menjadi bertumpuk-tumpuk.
Inilah yang dimaksud dengan kata "berlipat ganda" dalam firman Allah: Riba semacam ini dinamakan juga riba Nasi-ah karena adanya penangguhan dalam pembayaran bukan tunai.

Selain riba Nasi-ah ada pula riba yang dinamakan riba fadal yaitu: menukar barang dengan barang yang sejenis sedang mutunya berlainan, umpamanya menukar I liter beras yang mutunya tinggi dengan 1.1/2 liter beras bermutu rendah.
Haramnya riba fadal ini.
didasarkan pada hadis-hadis Rasul.
dan hanya berlaku pada emas, perak dan makanan-makanan pokok.
Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa riba nasi-ah itu haramnya adalah karena zatnya, disebabkan riba itu sendiri adalah besar bahayanya.
Adapun riba fadal haramnya ^ bukan karena zat-nya, tetap karena sebab lain yaitu karena riba fadl itu membawa kepada riba nasiah.

Karena beratnya hukum riba ini dan amat besar bahayanya maka Allah memerintahkan kepada kaum muslimin supaya menjauhi riba itu dan selalu memelihara diri dan bertakwa kepada Allah agar jangan terperosok ke dalamnya dan supaya mereka dapat hidup berbahagia dan beruntung di dunia dan di akhirat.

Ali Imran (3) ayat 130 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 130 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 130 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menarik piutang yang kalian pinjamkan kecuali pokoknya saja.
Jangan sampai kalian memungut bunga yang terus bertambah dari tahun ke tahun hingga berlipat ganda, dan takutlah kepada Allah.
Juga, jangan mengambil atau memakan harta orang lain dengan jalan yang tidak dibenarkan.
Karena kamu sekalian akan bisa berhasil dan beruntung hanya bila menjahui riba, banyak maupun sedikit.[1]

[1] Pada ayat ini, riba diberi sifat 'berlipat-ganda', hingga membuat kita perlu untuk membicarakannya dari segi ekonomi.
Ada dua macam riba:
nasi'ah dan fadll.
Yang pertama, riba al-nasi'ah, adalah yang secara tegas diharamkan oleh teks Al Quran.
Batasannya adalah suatu pinjaman yang mendatangkan keuntungan kepada si pemilik modal sebagai imbalan penundaan pembayaran.
Sama saja apakah keuntungan itu banyak atau sedikit, berupa uang atau barang.
Tidak seperti hukum positif yang membolehkan riba bila tidak lebih dari 6%, misalnya.
Sedang riba al-fadll adalah suatu bentuk tukar-menukar dua barang sejenis yang tidak sama kwantitasnya.
Contoh:
penukaran 50 ton gandum dengan 50,5 ton gandum atas kesepakatan kedua belah pihak.
Tukar-menukar itu bisa terjadi pada bahan makanan yang wajib dikeluarkan zakatnya ataupun pada uang.
Adapun yang menjadi dasar pengharaman riba jenis ini adalah hadis Nabi yang disebut sebelumnya dan dikuatkan dengan hadis riwayat Ibn 'Umar sebagai berikut.
Nabi bersabda, "Janganlah kalian semua menukar emas dengan emas kecuali dengan yang semisalnya juga jangan menukar wariq (mata uang yang terbuat dari perak) kecuali dengan yang semisal dan sama persis jumlahnya, karena sungguh aku mengkhawatirkan kalian terjerumus dalam rima' yaitu riba!" Tetapi sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa riba yang pertama sajalah yang dengan tegas diharamkan oleh teks Al Quran.
Karena riba ini adalah laba ganda yang bila dimakan akan terwujud praktek memakan riba berlipat-lipat seperti yang tersebut dalam ayat, sesuatu hal yang tidak terjadi pada riba al-fadll, maka tidak diharamkan.
Pengharamannya pun, menurut sebagian ulama ini, tidak langsung didasarkan pada hadis itu sendiri.
Tetapi didasarkan pada kaidah sadd al-dzara'i' (mencegah suatu perbuatan yang bisa membawa kepada yang perbuatan haram).
Hal itu karena praktek riba al-fadll bisa menggiring orang untuk melakukan riba al-nasi'ah yang telah jelas haram, walau terkadang masih dapat dibolehkan dalam keadaan darurat.
Adapun dari sisi ekonomi, riba merupakan cara pengumpulan harta yang membahayakan karena riba merupakan cara penimbunan harta tanpa bekerja.
Sebab harta dapat diperoleh hanya dengan memperjual-belikan uang, suatu benda yang pada dasarnya diciptakan untuk alat tukar-menukar dan pemberian nilai untuk suatu barang.
Agama Yahudi pun mengharamkan praktik riba ini.
Hanya saja, anehnya, pengharaman itu hanya belaku di kalangan mereka sendiri.
Sedangkan praktik riba dengan orang lain dibolehkan.
Tujuan mereka adalah untuk menyengsarakan orang lain dan untuk memegang kendali perekonomian dunia.
Alangkah jeleknya perbuatan mereka ini!

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda) bacaannya ada yang memakai alif dan ada pula yang tidak, maksudnya ialah memberikan tambahan pada harta yang diutang yang ditangguhkan pembayarannya dari tempo yang telah ditetapkan (dan bertakwalah kamu kepada Allah) dengan menghindarinya (supaya kamu beroleh keberuntungan) atau hasil yang gemilang.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, waspadailah riba dengan berbagai macamnya, jangan mengambil tambahan di atas harta pokok kalian dalam hutang sedikitpun.
Lalu bagaimana bila tambahan tersebut berlipat ganda seiring dengan hadirnya waktu pelunasan hutang?
Bertakwalah kepada Allah dengan berpegang kepada syariat-Nya agar kalian beruntung di dunia dan di akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin memberlakukan riba dan memakan riba yang berlipat ganda, seperti yang dahulu biasa mereka lakukan bila telah tiba masa pelunasan utang, maka jalan keluar adakalanya si pengutang melunasi utangnya atau membayar bunga ribanya.
Jika ia membayar, maka tidak ada masalah, tetapi jika ia tidak dapat membayar utangnya, dia harus menambah bayarannya sebagai ganti dari penangguhan masa pelunasannya.
Demikianlah seterusnya sepanjang tahun, adakalanya utang sedikit menjadi bertambah banyak dan berlipat-lipat dari utang yang sebenarnya.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 130

Diriwayatkan oleh al-Faryabi yang bersumber dari Mujahid, bahwa ada orang-orang yang berjual beli dengan kredit (dengan bayaran berjangka waktu).
Apabila telah tiba waktu pembayaran, tetapi tidak membayar, bertambahlah bunganya, dan bertambah pula jangka waktu pembayarannya.
Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imraan: 130) sebagai larangan atas perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh al-Faryabi yang bersumber dari ‘Atha’.
Bahwa di zaman jahiliyah, Tsaqif berhutang kepada bani Nadlir.
Ketika tiba waktu membayara, Tsaqif berkata: “Kami bayar bunganya dan undurkan waktu pembayarannya.” Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imraan: 130) sebagai larangan atas perbuatan seperti itu.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat "Ali 'lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali 'lmran karena memuat kisah keluarga 'lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam 'alaihis salam, kenabian dan beberapa mu'jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'lmran, ibu dari Nabi 'Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali 'lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga 'lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.

QS 3 Ali-Imran (130-135) - Indonesian - Toni Heryanto
QS 3 Ali-Imran (130-135) - Arabic - Toni Heryanto


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 130 *beta

Surah Ali Imran Ayat 130



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.6
Rating Pembaca: 4.8 (10 votes)
Sending







✔ surat al imron ayat 130 beserta artinya, Dalil Qs Ali Imron (3) : 130, isi kandungan surah ali imran ayat 130, kandungan surah ali imran ayat 130, surat al imran ayat 130, surat al imron ayat 130