Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 128


لَیۡسَ لَکَ مِنَ الۡاَمۡرِ شَیۡءٌ اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ اَوۡ یُعَذِّبَہُمۡ فَاِنَّہُمۡ ظٰلِمُوۡنَ
Laisa laka minal amri syayun au yatuuba ‘alaihim au yu’adz-dzibahum fa-innahum zhaalimuun(a);

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.
―QS. 3:128
Topik ▪ Hisab ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi ▪ Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup
3:128, 3 128, 3-128, Ali Imran 128, AliImran 128, Al Imran 128
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 128. Oleh Kementrian Agama RI

Pada pertempuran kedua kaum muslimin menderita kekalahan berat, sehingga ada 70 orang di antara mereka gugur sebagai Syuhada' dan Nabipun mendapat luka-luka.
Hal ini amat menyedihkan hati kaum muslimin dan hati Nabi sendiri.

Ali Imran (3) ayat 128 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 128 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 128 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kamu tidak mempunyai kewenangan apa-apa dalam urusan manusia.
Semua itu adalah urusan Allah.
Dia bebas memberi ampunan kepada mereka karena mereka adalah orang-orang Mukmin.
Sebaliknya, Dia juga bebas menyiksa mereka dengan mematikan, menimpakan kehinaan, atau menyiksanya di hari kiamat.
Yang disebut terakhir, itu karena mereka adalah orang-orang yang lalim.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tak ada sedikit pun hakmu untuk campur tangan dalam urusan mereka itu) tetapi semua itu urusan Allah, maka hendaklah kamu bersabar (apakah) artinya hingga (Allah menerima tobat mereka) dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam (atau menyiksa mereka, karena sesungguhnya mereka orang-orang yang aniaya) disebabkan kekafiran mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Engkau wahai Rasul tidak memiliki urusan manusia sedikitpun, karena segala urusan adalah milik Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Bisa jadi di antara orang-orang yang memerangimu itu dilapangkan dadanya oleh Allah kepada Islam sehingga mereka masuk Islam maka Allah akan mengampuni mereka.
Barangsiapa yang tetap di atas kekufurannya, maka Allah akan menyiksanya di dunia dan di akhirat di sebabkan kezhaliman dan pelanggarannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala mengalihkan khitab-Nya yang isinya menunjukkan bahwa kekuasaan di dunia dan akhirat hanya milik Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka.

Yakni bahkan semua urusan itu hanyalah kembali kepada-Ku.
Seperti yang diungkapkan dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab mereka.
(Ar Ra'du:40)

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.
(Al Baqarah:272)

Serta firman-Nya:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.
(Al Qashash:56)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka.
Yakni tidak ada sedikit pun keputusanmu tentang hamba-hamba-Ku kecuali apa yang Aku perintahkan kepadamu terhadap mereka.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan bagian yang lainnya.

Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

...atau Allah menerima tobat mereka.

Yakni mengampuni kekufuran mereka dengan cara memberi mereka petunjuk sesudah mereka sesat.

...atau mengazab mereka.

Yakni di dunia dan akhirat karena kekufuran dan dosa-dosa mereka.
Karena itulah dalam penutup ayat disebutkan oleh firman-Nya:

...karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

Yakni mereka berhak untuk mendapatkannya.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hibban ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Salim, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengucapkan doa berikut ketika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk pada rakaat yang kedua dari salat Subuh: Ya Allah, laknatilah si Fulan dan si Fulan.
Nabi ﷺ mengucapkan doa tersebut sesudah membaca: Semoga Allah mendengar (memperkenankan) bagi orang yang memuji-Nya.
Ya Tuhan kami, bagi-Mulah segala puji.
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.
(Ali Imran:128), hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abu Aqil (Abdullah ibnu Aqil yang hadisnya baik lagi siqah), telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Hamzah, dari Salim, dari ayahnya, bahwa ia telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Ya Allah, laknatilah si Fulan dan si Fulan.
Ya Allah, laknatilah Al-Haris ibnu Hisyam.
Ya Allah, laknatilah Suhail ibnu Amr.
Ya Allah, laknatilah Safwan ibnu Umayyah.
Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:

Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim. Pada akhimya Allah menerima tobat mereka semua.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah Al-Ala-i, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ajlan, dari Nafi', dari Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ sering mengucapkan doa untuk kebinasaan empat orang.
Maka setelah itu Allah menurunkan firman-Nya: Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.
(Ali Imran:128), hingga akhir ayat.
Dan pada akhimya Allah memberi mereka petunjuk kepada agama Islam, maka masuk Islamlah mereka.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Muhammad ibnu Ajlan meriwayatkan dari Nafi', dari ibnu Amr r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ melaknat (mendoakan untuk kebinasaan) beberapa orang dari kaum musyrik yang beliau sebut nama-nama mereka satu per satu, hingga Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan ayat berikut ini:

Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa'd, dari Ibnu Syihab, dari Sa'id ibnul Musayyah dan Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bila hendak mendoakan untuk kebinasaan seseorang atau mendoakan untuk kebaikan seseorang, beliau melakukan qunut sesudah rukuk.
Adakalanya Abu Hurairah r.a.
mengatakan bahwa apabila beliau ﷺ usai mengucapkan doa berikut: Semoga Allah memperkenankan bagi orang yang memuji kepada-Nya.
Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mulah segala puji.
Maka beliau mengiringinya dengan bacaan berikut: Ya Allah, selamatkanlah Al-Walid ibnul Walid, Salamah ibnu Hisyam, dan Iyasy ibnu Abu Rabi 'ah serta orang-orang yang lemah dari kaum mukmin.
Ya Allah, keraskanlah tekanan-Mu rerhadap Mudar, dan jadikanlah tekanan-Mu terhadap mereka berupa paceklik seperti pacekliknya Nabi Yusuf.
Rasulullah ﷺ membaca doa tersebut dengan mengeraskan bacaannya.
Tersebutlah bahwa Rasulullah ﷺ dalam sebagian salat Subuh sering mengucapkan doa berikut, yaitu: "Ya Allah, laknatilah si Fulan dan si Fulan," ditujukan kepada beberapa kabilah dari kalangan orang-orang Arab, hingga Allah menurunkan firman-Nya: Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.
(Ali Tmran: 128), hingga akhir ayat.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Humaid ibnu Sabit meriwayatkan dari Anas ibnu Malik, bahwa Nabi ﷺ terluka pada wajahnya dalam Perang Uhud, lalu beliau bersabda: Bagaimana memperoleh keberuntungan suatu kaum yang berani melukai wajah nabi mereka?
Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya:

Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.

Hadis ini sanadnya mu’alaq dalam shahih Al Bukhari.

Al Bukhari mengatakan dalam Bab "Perang Uhud":

telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah As-Sulami, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Salim ibnu Abdullah, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengucapkan doa berikut sesudah mengangkat kepalanya dari rukuk pada rakaat terakhir dari salat Subuhnya, yaitu: Ya Allah, laknatilah si Fulan dan si Fulan serta si Fulan.
Hal ini diucapkannya sesudah mengucapkan: Semoga Allah memperkenankan bagi orang yang memuji kepada-Nya, wahai Tuhan kami, dan hanya bagi-Mulah segala puji.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya:

Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu..., hingga akhir ayat.

Diriwayatkan dari Hanzalah ibnu Abu Sufyan yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Salim ibnu Abdullah mengatakan, "Rasulullah ﷺ pernah mendoakan kebinasaan yang ditujukan kepada Safwan ibnu Umayyah, Suhail ibnu Amr, dan Al-Haris ibnu Hisyam.
Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya:
Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim."

Demikianlah tambahan yang disebut oleh Imam Bukhari secara mu'allaqah dan mursalah.
Hadis ini disebut secara musannadah lagi muttasilah dalam Musnad Imam Ahmad tadi.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas r.a., bahwa gigi seri Nabi ﷺ pernah rontok dalam Perang Uhud dan wajahnya terluka, hingga darah membasahi wajah beliau.
Maka beliau bersabda: Bagaimana mendapai keberuntungan suatu kaum yang berani melakukan perbuatan ini kepada nabi mereka, padahal nabi mereka menyeru mereka untuk menyembah Tuhan mereka.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

Riwayat ini hanya diketengahkan oleh Imam Muslim sendiri.
Dia meriwayatkannya dari Al-Qa'nabi, dari Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas, lalu ia menuturkan hadis ini.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Wadih, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Waqid, dari Matar, dari Qatadah yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah mengalami luka dalam Perang Uhud hingga gigi serinya rontok dan alisnya terluka, lalu beliau terjatuh yang saat itu beliau memakai baju besi dua lapis, sedangkan darah mengalir dari lukanya.
Maka Salim maula Abu Huzaifah menghampirinya dan mendudukkannya serta mengusap wajahnya.
Lalu Nabi ﷺ sadar dan bangkit seraya mengucapkan: Bagaimana akan memperoleh keberuntungan suaiu kaum yang berani melakukan ini terhadap nabi mereka?
Nabi ﷺ mengucapkan demikian seraya mendoakan untuk kebinasaan mereka kepada Allah subhanahu wa ta'ala Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya:
Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu..., hingga akhir ayat.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Ali Imran (3) ayat 128
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdullah As Sulami telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri telah menceritakan kepadaku Salim dari Ayahnya bahwa dia mendengar saat Rasulullah ﷺ mengangkat kepalanya dari rukuk di rakaat terakhir shalat shubuh, beliau mengucapkan: Ya Allah, laknatlah fulan, fulan dan fulan, yaitu setelah beliau mengucapkan: Sami'allahu liman hamidah, rabbanaa walakalhamdu. Setelah itu Allah menurunkan ayat: Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu -hingga firmanNya- Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim (Qs. Ali Imran: 128). Dan dari Hanzhalah bin Abu Sufyan aku mendengar Salim bin Abdullah berkata,
Rasulullah ﷺ pernah mendo'akan (kejelekkan) kepada Shofwan bin Umayyah, Suhail bin 'Amru dan Harits bin Hisyam, lalu turunlah ayat: Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu -hingga firmanNya- Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim (Qs. Ali Imran: 128).

Shahih Bukhari, Kitab Peperangan - Nomor Hadits: 3762

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 128

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la, yang bersumber dari al-Miswar bin Mikhramah, bahwa al-Miswar bin Mikhramah berkata kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf: “Coba ceritakan kepadaku kisah peperangan Uhud.” Ia menjawab:
“Bacalah surah Ali ‘Imraan setelah ayat 120, di sana akan saudara dapatkan kisah kami.” Selanjutnya Abdurrahman menjelaskan yang dimaksud denga,…thaa-ifataan….(…dua golonga…) dalam surah Ali ‘Imran ayat 122 itu ialah mereka yang segan menghadapi musuh, bahkan ingin mengadakan gencatan senjata dengan kaum musyrikin.
Selanjutnya ia menjelaskan bahwa surah Ali ‘Imran ayat 143 menerangkan peringatan Allah kepada kaum Mukminin yang ingin bertemu dengan musuh, yang pada waktu itu sudah dihadapinya.
Sedangkan surah Ali ‘Imran ayat 144 menerangkan bahwa Allah menentramkan kaum Mukminin, ketika tersiar berita yang bersumber dari teriakan setan bahwa Rasulullah telah terbunuh.
‘Abdurrahman bin Auf selanjutnya menjelaskan bahwa penggalan….amanatan nu’aasaa…(…keamanan [berupa] kantuk…) dalam surah Ali ‘Imran ayat 154 merupakan pertolongan Allah kepada kaum Mukminin dengan menjadikan mereka mengantuk dan tertidur.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa yang dimaksud dengan ….thaa-ifataani mingkum…(…dua golongan daripadamu…) dalam surah Ali ‘Imran ayat 122 adalah bani Salamah dan bani Haritsah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab al-Mushannaf dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari asy-Syu’bi bahwa pada perang Badr kaum Muslimin mendengar kabar bahwa Karz bin Jabir al-Muharibi memberikan bantuan kepada kaum musyrikin, sehingga membimbangkan mereka.
Maka Allah menurunkan ayat ini (Ali ‘Imran: 124-125) sebagai penjelasan bahwa Allah memberikan bantuan berupa para malaikat.
Ketika Karz mendengar berita kekalahan kaum musyrikin, ia membatalkan bantuannya.
Demikian pula Allah membatalkan bantuan dengan lima ribu malaikat.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim yang bersumber dari Anas bahwa pada perang Uhud gigi Nabi ﷺ yang keempat patah dan berlumuran darah karena luka di mukanya.
Beliau bersabda: “Bagaimana bisa bahagia suatu kaum yang berbuat demikian kepada Nabinya, yang mengajak mereka kepada Rabb-nya.” Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imran: 128).

Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bukhari, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.
Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari yang bersumber dari Abu Hurairah.
Bahwa Ibnu ‘Umar mendengar Rasulullah ﷺ berdoa: “Ya Allah, semoga Engkau melaknat si fulan; ya Allah semoga Engkau melaknat al-Harits bin Hisyam; ya Allah, semoga Engkau melaknat Suhail bin ‘Amr; ya Allah, semoga Engkau melaknat Shafwan bin Umayyah.” Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imraan: 128) sebagai teguran kepada Rasulullah ﷺ atas doanya itu.
Kemudian mereka semua dimaafkan.

Keterangan:
Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, berdasarkan kedua hadits tersebut, atas dasar thariiqatul jam’i (jalan tengah) dapat disimpulkan bahwa:
1.
Nabi ﷺ mendoakan kecelakaan di dalam shalatnya bagi orang-orang itu setelah peristiwa yang disebut dalam Hadits pertama dalam perang Uhud.
2.
Turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 128) berkenaan dengan peristiwa yang disebut dalam hadits pertama dan yang timbul akibat peristiwa itu (yang disebut dalam hadits kedua).
Akan tetapi setelah meneliti hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah, timbullah kesulitan dalam menetapkan sebab turunnya ayat ini.
Hadits itu mengemukakan, pada suatu waktu Rasulullah ﷺ berdoa setiap kali shalat shubuh: “Ya Allah, semoga Engkau melaknat kaum Ri’i, Dzakwan, dan ‘Ushayyah”, sampai Allah menurunkan ayat ini (Ali ‘Imraan: 128).
Adapun kesulitan dalam menetapkan sebab turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 128) ialah, dua hadits pertama mengemukakan ayat itu (Ali ‘Imraan: 128) turun pada peristiwa perang Uhud.
Sedang peristiwa Ri’i dan Dzakwan yang disebut dalam hadits Muslim terjadi sesudahnya.
Selanjutnya Ibnu Hajar mengemukakan bahwa hadits riwayat Muslim ini ma’luul (hadits yang ada cacatnya yang tersembunyi setelah diperiksa dengan teliti), dan dalam pemberitahuannya mudraj (hadits yang diberi sisipan, baik pada matan maupun sanadnya).
Dan kata-kata, “sampai Allah menurunkan ayat” adalah munqathi’, karena dalam hadits Muslim tersebut, rawi yang menyampaikan dari az-Zuhri kepada Muslim, ada yang tidak disebut namanya.
Riwayat seperti ini tidak sah.
Akan tetapi dapat saja terjadi ayat ini (Ali ‘Imraan: 128) lambat turunnya, sehingga mencakup keseluruhan peristiwa yang disebut dalam ketiga hadits di atas.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Tarikh-nya dan Ibnu Ishaq, yang bersumber dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar.
Hadits ini gharib.
Bahwa seorang laki-laki Quraisy datang kepada Nabi ﷺ, dan dengan sinis berkata: “Engkau melarang mencaci-maki?” sambil membalik dan menungging hingga terlihat kemaluannya.
Nabi ﷺ mengutuk dan mendoakan buruk kepadanya.
Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imraan: 128) yang menegaskan bahwa orang itu zalim.
Beberapa lama kemudian orang itu masuk Islam, dan menjadi shaleh.

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat "Ali 'lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali 'lmran karena memuat kisah keluarga 'lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam 'alaihis salam, kenabian dan beberapa mu'jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'lmran, ibu dari Nabi 'Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali 'lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga 'lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 128 *beta

Surah Ali Imran Ayat 128



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (8 votes)
Sending







✔ al imran 128-129, Kajian surat Al Imran ayat 128, tafsir ibnu katsir surah ali imran ayat 128