Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 121


وَ اِذۡ غَدَوۡتَ مِنۡ اَہۡلِکَ تُبَوِّیُٔ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مَقَاعِدَ لِلۡقِتَالِ ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ
Wa-idz ghadauta min ahlika tubau-wi-ul mu’miniina maqaa’ida lilqitaali wallahu samii’un ‘aliimun;

Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang.
Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,
―QS. 3:121
Topik ▪ Hikmah penurunan kitab-kitab samawi
3:121, 3 121, 3-121, Ali Imran 121, AliImran 121, Al Imran 121
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 121. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang munafik telah menghasut kaum muslimin supaya jangan ikut berperang.
Dalam perjalanan ke medan pertempuran mereka berhasil dan mereka dapat membawa kembali ke Madinah sepertiga dari tentara yang dipersiapkan untuk menghadapi kaum musyrikin.
Tak ada yang menyelamatkan kaum muslimin dalam Perang Uhud itu, karena banyaknya musuh yang di hadapi, kecuali pertolongan Allah.
Berkat pertolongan Allah.
ketabahan hati dan kesabaran menghadapi segala percobaan dan taat serta patuh menjalankan perintah Rasulullah ﷺ kaum muslimin dapat terhindar dari kehancuran.

Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan perang Uhud
Pada perang Badar kaum musyrikin menderita kekalahan total dan banyak pemimpin mereka mati sehingga mereka terpaksa kembali ke Mekah dalam keadaan yang menyedihkan dan sangat memalukan.
Tetapi mereka tidak tinggal diam dengan pimpinan Abu Sofyan dan orang-orang terkemuka di kalangan kaum Quraisy mereka menyiapkan kekuatan yang lebih besar untuk balas atas kekalahan mereka pada perang Badar itu.
Akhirnya mereka dapat mengumpulkan 3.000 orang tentara terbagi atas 700 orang tentara berbaju besi.
200 orang tentara berkuda dan selebihnya tentara biasa dengan persenjataan yang lengkap.
Di samping itu mereka membawa pula beberapa orang wanita untuk membangkitkan semangat bertempur di kalangan mereka, dipimpin oleh Hindun istri Sofyan sendiri.

Pada mulanya Rasulullah ﷺ ingin bertahan saja di Madinah, tetapi kebanyakan para sahabat berpendapat bahwa sebaiknya kaum muslimin menghadapi serangan kaum musyrikin itu di luar kota.
Akhirnya Rasulullah ﷺ menerima pendapat mereka dan keluarlah beliau memimpin 1.000 orang tentara untuk menghadapi 3.000 tentara kaum musyrikin yang berkobar-kobar semangatnya.
Di tengah jalan atas hasutan Abdullah bin Ubay bin Salul, 300 orang tidak ikut berperang dan kembali ke Madinah.
Jadi yang tinggal hanya 700 orang saja lagi, di antaranya 100 orang berbaju besi dan 2 orang berkuda.

Rasulullah ﷺ memilih tempat di kaki bukit Uhud dan menyiapkan 50 orang pemanah di sebelah atas bukit itu serta memerintahkan kepada mereka supaya jangan meninggalkan tempat itu walau dalam keadaan bagaimanapun.
Kewajiban mereka ialah memanah pasukan kuda musuh yang hendak maju menyerang karena kuda tidak tahan terhadap tusukan panah.

Demikianlah, tentara yang hanya berjumlah 700 orang itu oleh Rasulullah ﷺ ditempatkan pada tempat-tempat yang strategis untuk menghadapi musuh yang banyaknya 3.000 yang dipersenjatai dengan senjata yang lengkap.

Ali Imran (3) ayat 121 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 121 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 121 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Renungkanlah, wahai Nabi, ketika kamu bertolak dari rumah keluargamu menuju suatu tempat di Uhud dengan maksud menempatkan orang-orang Mukmin di pos-pos peperangan.
Allah Maha Mendengar perkataan dan Maha Mengetahui niat kamu sekalian.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah hai Muhammad (ketika kamu berangkat di pagi hari dari keluargamu) yakni dari Madinah (untuk menempatkan orang-orang beriman pada beberapa tempat) atau markas di mana mereka bertahan (untuk berperang.
Dan Allah Maha Mendengar) akan ucapanmu (lagi Maha Mengetahui) peri keadaanmu.
Peristiwa ini terjadi pada waktu perang Uhud.
Nabi ﷺ keluar dengan membawa 1000 atau 950 orang tentara sedangkan kaum musyrikin berjumlah sebanyak 3000 orang.
Nabi ﷺ menduduki posisinya di lereng bukit Uhud pada hari Sabtu tanggal 7 Syawal tahun ketiga Hijriah.
Punggung beliau dan punggung tentaranya menghadap ke arah bukit Uhud lalu mengatur barisan mereka dan menempatkan pasukan panah yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubair di puncak bukit seraya bersabda, "Hujani mereka dengan anak panah dari sini agar mereka tidak menyerang dari belakang dan jangan tinggalkan tempat ini biar sekali pun tidak kalah atau pun menang!"

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah wahai Rasul saat kamu keluar dari rumahmu dengan memakai perlengkapan perang, kamu menata barisan sahabat-sahabat-mu, masing-masing dari mereka telah kamu tetapkan posisinya dalam melawan orang-orang musyrikin di Uhud.
Allah Maha Mendengar perkataan kalian lagi Maha Mengetahui perbuatan kalian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Peperangan yang disebutkan di dalam ayat ini menurut pendapat jumhur ulama adalah Perang Uhud.
Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Al-Hasan, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri bahwa peperangan yang disebut dalam ayat ini adalah Perang Ahzab.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir, tetapi pendapat ini garib dan tidak dapat dijadikan sebagai rujukan.

Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu, bulan Syawwal, tahun ketiga Hijriah.
Menurut Qatadah, terjadi pada tanggal sebelas bulan Syawwal.
Sedangkan menurut Ikrirnah, Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu pertengahan bulan Syawwal.

Penyebab utama meletusnya Perang Uhud ialah setelah banyaknya orang-orang terhormat kaum musyrik yang terbunuh dalam Perang Badar, sedangkan kafilah perniagaan mereka yang dipimpin oleh Abu Sufyan selamat dengan membawa keuntungan yang banyak.
Maka anak-anak orang-orang yang gugur dalam Perang Badar dan pemimpin-pemimpin lainnya yang masih hidup berkata kepada Abu Sufyan, "Aku menunggu-nunggu hasil perniagaan ini untuk memerangi Muhammad, maka belanjakanlah oleh kalian untuk tujuan tersebut!"

Kemudian mereka menghimpun semua golongan dan orang-orang Habsyah, lalu mereka berangkat dengan pasukan yang terdiri atas tiga ribu personel, hingga mereka turun istirahat di suatu tempat dekat Bukit Uhud yang menghadap ke arah kota Madinah.

Rasulullah ﷺ salat pada hari Jumat.
Setelah selesai dari salat Jumatnya, maka beliau menyalati seorang lelaki dari kalangan Bani Najjar yang dikenal dengan nama Malik ibnu Amr (yakni menyalati jenazahnya).
Lalu Rasulullah ﷺ melakukan musyawarah dengan orang-orang untuk mengambil keputusan, apakah beliau berangkat menghadapi mereka ataukah tetap tinggal di Madinah menunggu penyerangan mereka.

Lalu Abdullah ibnu Ubay mengemukakan pendapatnya, bahwa sebaiknya tetap tinggal di Madinah.
Jika mereka (pasukan kaum musyrik) menunggu kedatangan pasukan kaum muslim, berarti mereka menunggu yang tak kunjung tiba.
Jika mereka memasuki Madinah, mereka akan dihadapi oleh kaum laki-lakinya dan akan dilempari oleh kaum wanita dan anak-anak dengan batu-batuan dari atas mereka.
Jika mereka kembali, niscaya mereka kembali dalam keadaan kecewa.

Orang-orang lain dari kalangan sahabat yang tidak ikut dalam Perang Badar mengisyaratkan untuk berangkat menghadapi mereka.

Lalu Rasulullah ﷺ masuk dan memakai baju besinya, kemudian keluar menemui mereka, sedangkan sebagian dari kalangan mereka merasa menyesal, dan mengatakan, "Barangkali kami memaksa Rasulullah ﷺ" Lalu mereka berkata, "Wahai Rasulullah, jika engkau suka untuk tetap tinggal, kami setuju." Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

Tidak layak bagi seorang nabi, bila telah memakai baju besinya mundur kembali, sebelum Allah memberikan keputusan baginya.

Lalu Rasulullah ﷺ berangkat bersama seribu orang sahabatnya.
Ketika mereka berada di Asy-Syaut, maka kembalilah Abdullah ibnu Ubay dengan sepertiga pasukan dalam keadaan marah karena pendapatnya tidak dipakai.
Lalu dia dan teman-temannya berkata, "Sekiranya kami mengetahui pada hari ini akan terjadi peperangan, pastilah kami akan mengikuti kalian.
Tetapi kami tidak menduga bahwa kalian akan berperang (sehingga kami tidak membuat persiapan)."

Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya hingga turun istirahat di lereng Bukit Uhud, yaitu pada lembahnya.
Dan beliau menjadikan posisi punggungnya —juga pasukannya— membelakangi Bukit Uhud.
Lalu beliau bersabda:

Jangan sekali-kali seseorang memulai berperang sebelum kami memerintahkannya untuk perang.

Rasulullah ﷺ mengatur barisannya untuk menghadapi peperangan, jumlah pasukan beliau terdiri atas tujuh ratus orang sahabatnya.
Beliau ﷺ mengangkat Abdullah ibnu Jubair (saudara lelaki Bani Amr ibnu Auf) untuk memimpin pasukan pemanah.
Saat itu pasukan pemanah terdiri atas lima puluh personel, lalu beliau ﷺ bersabda kepada mereka:

Bendunglah pasukan berkuda (musuh) dari kami (dengan anak panah kalian), dan jangan sekali-kali kalian biarkan kami diserang dari belakang.
Dan tetaplah kalian pada posisi kalian, baik kami mengalami kemenangan alau kami terpukul mundur, dan sekalipun kalian melihat kami disambar oleh burung-burung, maka janganlah kalian meninggalkan posisi kalian.

Rasulullah ﷺ muncul dengan memakai dua lapis baju besi, dan memberikan panji kepada Mus'ab ibnu Umair (saudara lelaki Bani Abdud Dar).
Pada hari itu Rasulullah ﷺ memperbolehkan ikut berperang sebagian anak remaja dan menangguhkan sebagian yang lainnya, hingga beliau memperbolehkan mereka ikut semua dalam Perang Khandaq sesudah kejadian tersebut, yakni kurang lebih dua tahun kemudian.

Pasukan Quraisy yang terdiri atas tiga ribu personel yang antara lain terdiri atas seratus orang pasukan berkuda yang posisinya agak dijauhkan dari medan perang.
Mereka menjadikan pasukan sayap kanan berkuda di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid, sedangkan pada sayap kirinya di bawah pimpinan Ikrimah ibnu Abu Jahal, lalu mereka menyerahkan panjinya kepada Bani Abdud Dar.

Kemudian mengenai hal yang terjadi di antara kedua belah pihak, Insya Allah akan diterangkan pada tempatnya.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan (ingatlah) ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang.

Yakni kamu atur mereka pada posisinya masing-masing, ada yang di sayap kanan dan ada pula yang di sayap kiri, serta posisi yang lainnya menurut perintahmu.

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Yaitu Maha mendengar semua apa yang kalian katakan, dan Maha Mengetahui semua isi hati kalian.

Ibnu Jarir sehubungan dengan pembahasan ini mengajukan sebuah pertanyaan yang kesimpulannya mengatakan: Mengapa kamu mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ berangkat ke medan Perang Uhud pada hari Jumat, yaitu sesudah menunaikan salat Jumat.
Padahal Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

Dan (ingatlah) ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang., hingga akhir ayat.
Kemudian jawaban yang dikemukakan darinya menyatakan bahwa keberangkatan Nabi ﷺ pada pagi harinya untuk menempatkan mereka pada posisinya masing-masing, tiada lain hal tersebul terjadi pada hari Sabtu pada permulaan siang hari.

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 121

QITAAL
قِتَال

Lafaz ini adalah ism mashdar dari kata kerja qatala. Ia bermakna peperangan, permusuhan, pertempuran dan sebagainya.

Ia disebut 13 kali di dalam Al Qur'an, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 216, 217, 217, 246, 246;
-Ali Imran (3), ayat 121, 167;
-An Nisaa' (4), ayat 77 (dua kali);
-Al Anfaal (8), ayat 16, 65;
-Al Ahzab (33), ayat 25;
-Muhammad (47), ayat 20.

Lafaz qitaal yang terdapat dalam surah-surah di atas adalah perintah yang berkaitan dengan orang mukmin sebagaimana terdapat dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 216, 217;
-Ali 'Imran (3), ayat 121;
-Al Anfaal, ayat 16, 65;
-Al Ahzab (33 );

Atau berkaitan dengan orang munafik dan orang yang enggan berperang sebagaimana dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 167;
-An Nisaa, ayat 77;
-Muhammad (47), ayat 20;

Atau berkaitan dengan orang Yahudi (Bani Isra'il), sebagaimana terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 246

Berperang yang berkaitan dengan orang mukmin adalah perintah dan keharusan, yaitu perintah untuk memerangi orang musyrik dan pertanyaan mereka tentang berperang pada bulan-bulan haram.

At Tabari berkata,
"telah diwajibkan ke atasmu memerangi orang musyrik."

Muhammad Rasyid Rida berkata,
"Surah Al Baqarah (2), ayat 216 adalah ayat pertama yang mewajibkan berperang yaitu pada tahun kedua dari Hijrah. Berperang dilarang sebelumnya, lalu diizinkan berperang setelah hijrah berdasarkan ayat Allah dalam surah Al Hajj (22), ayat 39, lalu diwajibkan pada tahun ini." Kemudian ia tidak diwajibkan kepada keseluruhannya apabila ada orang yang mewakilinya seperti shalat jenazah dan sebagainya." Hal ini berdasarkan ayat Allah dalam surah Al Nisaa'(4), ayat 95.

Sedangkan dalam surah Ali Imran, ayat 121, beperang atau al qitaal disini bermakna Perang Uhud. Tafsirannya, "Ingatlah wahai Muhammad ketika engkau keluar ke Uhud dari rumahmu dan orang mukmin juga turun memerangi musuh mereka,"

Apabila turun ayat-ayat yang mengandung perintah untuk berperang, maka orang munafik akan melihatmu (wahai Rasulullah) dengan mata terbelalak seakan-akan mati menimpa mereka disebabkan takut menyelubungi perasaan mereka dan disebabkan kecenderungan mereka kepada kekufuran. Hal ini dijelaskan dalam surah Ali Imran, 167 di mana ketika hari bertemunya dua pasukan, orang mukmin mengajak mereka berperang, mereka berkata,
"Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan tentulah kami mengikuti kamu" Jawaban ini menunjukkan sempurnanya kemunafikan mereka, karena maksud sebenarnya dari jawaban mereka itu adalah sebuah olokan dan sendaan serta permainan kata-kata yang tidak bersumber dari hati, karena hati mereka lebih dekat kepada kekufuran.

Sementara dalam surah An Nisaa' (4), Sa'id Hawwa berkata,
"Muslim Makkah pada permulaan Islam diperintahkan shalat, zakat, meninggalkan perang dan sebagainya. Ketika mereka diperintahkan memerangi orang musyrik setelah mereka berada di Madinah, maka sebahagian mereka gentar dan takut"

Asy Syaikh Abu Mansur berkata,
"Ketakutan mereka adalah tabiat naluriah manusia biasa dan bukan karena mereka benci hukum Allah dan perintahnya secara iktikad karena ayat berikutnya menggambarkan mereka bertanya tentang hikmah dalam kewajipan berperang dan bukan menolak hukumnya. Terbukti dalam saran mereka supaya ianya ditangguhkan karena suka kepada dunia, menjauhkan diri dari pertumpahan darah serta menjadikan anak-anak, yatim piatu dan isteri-isteri menjadi janda."

Ketakutan orang munafik dan mereka berpaling dari peperangan adalah seperti ketakutan orang Yahudi dan mereka berpaling dari peperangan ketika diajak berperang. Hal ini tergambar dalam surah Al Baqarah (2), ayat 246.

Ibn Kathir berkata,
"Bani Isra'il meminta mengirimkan seorang raja yang memimpin mereka untuk memerangi musuh dan ketika seorang nabi berkata kepada mereka, "adakah mereka akan berperang bersamanya jika peperangan diwajibkan ?" Mereka berkata,
"ya" karena musuh mereka menjajah negeri mereka dan membunuh anak-anak mereka. Ketika perang diwajibkan, kebanyakan mereka tidak menepati janji yang diucapkan bahkan berpaling dari jihad.

Kesimpulannya, al qitaal di dalam Al Qur'an bermakna berperang di jalan Allah melawan musuh.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:489-490

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat "Ali 'lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali 'lmran karena memuat kisah keluarga 'lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam 'alaihis salam, kenabian dan beberapa mu'jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'lmran, ibu dari Nabi 'Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali 'lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga 'lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 121 *beta

Surah Ali Imran Ayat 121



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.9
Rating Pembaca: 4.7 (15 votes)
Sending







✔ kosa kata surat al imran ayat 121 dan 122, QS ali imran 3:121