Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Qiyaamah (Kiamat) – surah 75 ayat 36 [QS. 75:36]

اَیَحۡسَبُ الۡاِنۡسَانُ اَنۡ یُّتۡرَکَ سُدًی
Ayahsabu-insaanu an yutraka sudan;
Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
―QS. Al Qiyaamah [75]: 36

Daftar isi

Does man think that he will be left neglected?
― Chapter 75. Surah Al Qiyaamah [verse 36]

أَيَحْسَبُ apakah mengira

Does think
ٱلْإِنسَٰنُ manusia

man
أَن bahwa

that
يُتْرَكَ ia ditinggalkan

he will be left
سُدًى begitu saja

neglected?

Tafsir Quran

Surah Al Qiyaamah
75:36

Tafsir QS. Al-Qiyamah (75) : 36. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini mengemukakan dalil tentang kebenaran hari kebangkitan dengan menggunakan kalimat pertanyaan, yaitu apakah manusia dijadikan percuma begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
Apakah manusia diciptakan kemudian dibiarkan hidup seenaknya, tanpa ada perintah dan larangan dari Allah yang harus ditaatinya?
Apakah setelah ia mati, Allah tidak meminta pertanggungjawaban hidupnya, di alam kubur dan di Padang Mahsyar kelak?
Allah ﷻ berfirman:

اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى

Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. (Thaa haa [20]: 15)

Firman Allah lainnya:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.

Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Shad [38]: 27)

Dalil yang terdapat di balik pengertian ayat ini adalah meyakinkan kepada manusia yang ragu tentang adanya hari kebangkitan, dan menolak atau membantah dengan keras orang yang mengingkarinya, baik karena kecerobohan, sikap keras kepala, atau hanya karena ingin mempermainkan ayat-ayat suci.

Tafsir QS. Al Qiyaamah (75) : 36. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Apakah manusia yang mengingkari hari kebangkitan itu mengira akan dibiarkan begitu saja–hidup, mati dan selesai–tanpa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya?

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Apakah manusia yang mengingkari kebangkitan ini mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja, tidak diperintah dan tidak dilarang, tidak dihisab dan tidak disiksa?
Bukankah manusia ini dahulu hanya setetes air mani yang hina yang ditumpahkan ke dalam rahim, kemudian air mani itu menjadi segumpal darah, lalu dengan kekuasaan Allah diciptakanlah dan disempurnakanlah ia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Dia menjadikannya sepasang, yaitu laki-laki dan perempuan.


Bukankah Tuhan yang menciptakan yang demikian ini berkuasa pula mengembalikan ciptaan setelah hancur?
Tentu, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahakuasa atas hal itu.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Apakah manusia mengira) menduga


(bahwa ia akan dibiarkan begitu saja) tanpa dibebani dengan syariat-syariat, janganlah ia menduga seperti itu.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
(QS. Al-Qiyamah [75]: 36)

As-Saddi mengatakan, makna yang dimaksud ialah apakah manusia mengira bahwa dirinya tidak dibangkitkan hidup kembali?
Menurut Mujahid, Imam Syafii, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, maknanya apakah manusia mengira bahwa dia tidak dikenakan perintah dan larangan?
Tetapi makna lahiriah ayat menunjukkan pengertian umum yang mencakup kedua keadaan tersebut.
Dengan kata Lain, dapat disebutkan bahwa tidaklah ia dibiarkan begitu saja di dunia ini tanpa dikenakan perintah dan larangan, dan tidak dibiarkan pula di dalam kuburnya dengan sia-sia tanpa dibangkitkan kembali;
bahkan dia dikenai perintah dan larangan di dunia ini, lalu digiring kembali kepada Allah di hari kemudian setelah dibangkitkan.

Makna yang dimaksud ialah menguatkan adanya hari berbangkit dan sekaligus menyanggah pendapat orang yang mengingkarinya dari kalangan orang-orang yang sesat, bodoh, lagi pengingkar kebenaran.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan hal yang menunjukkan adanya hari berbangkit itu melalui penciptaan manusia dari permulaannya:

Bukankah dia dahulu setetes mani (nutfah) yang ditumpahkan (ke dalam rahim)?
(QS. Al-Qiyamah [75]: 37)

Artinya, tidakkah manusia ingat bahwa asal dirinya adalah nutfah yang lemah berupa air mani yang dipancarkan dari sulbi ke dalam rahim.

kemudian nutfah itu menjadi ‘alaqah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya.
(QS. Al-Qiyamah [75]: 38)

Yakni lalu jadilah ia ‘alaqah, kemudian diberi bentuk, lalu ditiupkan roh ke dalam tubuhnya sehingga jadilah ia makhluk lain yang sempurna dan memiliki anggota tubuh yang lengkap, apakah dia laki-laki atau perempuan dengan seizin Allah dan takdirnya.
Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.
(QS. Al-Qiyamah [75]: 39)

Lalu disebutkan pula dalam firman berikutnya:

Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyamah [75]: 40)

Yaitu bukankah Tuhan yang menciptakan makhluk yang sempurna ini dari nutfah yang lemah berkuasa pula untuk mengembalikannya hidup seperti semula ketika Dia menciptakannya?

Kekuasaan mengembalikan hidup seperti semula ini adakalanya tersimpulkan melalui analogi prima bila dikaitkan dengan permuiaan penciptaan, atau adakalanya melalui analogi sepadan.
Ada dua pendapat mengenainya, yang tersimpulkan dari makna firman-Nya:

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikannya (menghidupkannya) kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.
(QS. Ar-Rum [30]: 27)

Tetapi pendapat pertamalah yang lebih terkenal, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam tafsir surat Ar-Rum keterangannya dengan lengkap;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Syababah, dari Syu’bah, dari Musa ibnu Abu Aisyah, dari seseorang, bahwa dia berada di atas puncak rumah membaca Alquran dengan suara yang keras.
Manakala bacaannya sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyamah [75]: 40)
Maka ia mengucapkan,
"Mahasuci Engkau, ya Allah, bukan demikian."
Ketika ia ditanya mengenai hal itu, maka ia menjawab bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengucapkan demikian.

Abu Daud rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Musa ibnu Abu Aisyah yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki salat di atas rumahnya, dan manakala ia membaca firman-Nya:
Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyamah [75]: 40)
Lalu ia berkata,
"Mahasuci Engkau, bukan demikian."
Kemudian mereka bertanya kepadanya tentang hal tersebut.
Ia menjawab, bahwa dirinya telah mendengar Rasulullah ﷺ mengatakannya.


Hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Imam Abu Daud, dan mengenai nama sahabat yang tidak disebutkan tidak menjadi masalah bagi hadis ini (sebab semua sahabat dinilai adil).

Imam Abu Daud mengatakan pula:


telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Muhammad Az-Zuhri, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Umayyah;
bahwa ia mendengar seorang Badui mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,
"Barang siapa dari kamu membaca surat At-Tin, lalu bacaannya sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
‘Bukankah Allah adalah Hakim yang seadil-adilnya?
‘ (QS. At-Tin [95]: 8)
Hendaklah ia menjawab:
‘Bukan demikian yang sebenarnya, dan aku termasuk orang-orang yang menyaksikan hal tersebut.’ Dan barang siapa yang membaca firman-Nya:
‘Aku bersumpah dengan hari kiamat (QS. Al-Qiyamah [75]: 1).
Lalu bacaannya sampai pada firman-Nya:
‘Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?’ (QS. Al-Qiyamah [75]: 40)
Hendaklah ia mengucapkan, ‘Bukan demikian sebenarnya.’ Dan barang siapa yang membaca surat Al-Mursalat, lalu bacaannya sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
‘Maka kepada perkataan apakah selain Alquran ini mereka beriman?’ (QS. Al-Mursalat [77]: 50)
Hendaklah iamengucapkan:
‘Kami beriman kepada Allah’."

Imam Ahmad meriwayatkan ini dari Sufyan ibnu Uyaynah, dan Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Ibnu Abu Umar ibnu Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.
Syu’bah telah meriwayatkannya dari Ismail ibnu Umayyah yang mengatakan bahwa aku bertanya kepada Ismail,
"Siapakah yang menceritakan ini kepadamu?"
Ia menjawab,
"Seorang lelaki yang jujur, dari Abu Hurairah."

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:
Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyamah [75]: 40)
Telah diceritakan kepada kami, bahwa Rasulullah ﷺ apabila membaca ayat ini selalu mengucapkan:
Bukan demikian sebenarnya, Mahasuci Engkau.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Muslim Al-Batin.
dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa bacaannya pernah sampai pada firman-Nya:
Bukankah (Allah yang berbuat) demikian
"berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al-Qiyamah [75]: 40)
Lalu Ibnu Abbas mengucapkan,
"Mahasuci Engkau, hal yang sebenarnya bukan demikian."

Unsur Pokok Surah Al Qiyaamah (القيامة)

Surat Al Qiyaamah terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Qari’ah.

Dinamai "Al Qiyaamah" (hari kiamat) diambil dari perkataan "Al Qiyaamah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

▪ Kepastian terjadinya hari kiamat dan huru-hara yang terjadi padanya.
▪ Jaminan Allah terhadap ayat-ayat Alquran dalam dada Nabi sehingga Nabi tidak lupa tentang urutan arti dan pembacaannya.
▪ Celaan Allah kepada orang-orang musyrik yang lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat.
▪ Keadaan manusia di waktu sakaratul maut.

Ayat-ayat dalam Surah Al Qiyaamah (40 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Qiyaamah (75) : 1-40 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 40 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Qiyaamah (75) : 1-40 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 40

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Qiyaamah ayat 36 - Gambar 1 Surah Al Qiyaamah ayat 36 - Gambar 2
Statistik QS. 75:36
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qiyaamah.

Surah Al-Qiyamah (Arab: القيمة , “Hari Kiamat”) adalah surah ke-75 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 40 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-Qari’ah.
Kata Al-Qiyamah (hari kiamat) diambil dari perkataan Al-Qiyamah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 75
Nama Surah Al Qiyaamah
Arab القيامة
Arti Kiamat
Nama lain La uqsimu bi yaumil qiyamah
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 31
Juz Juz 29
Jumlah ruku’ 2 ruku’
Jumlah ayat 40
Jumlah kata 144
Jumlah huruf 676
Surah sebelumnya Surah Al-Muddassir
Surah selanjutnya Surah Al-Insan
Sending
User Review
5 (1 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

75:36, 75 36, 75-36, Surah Al Qiyaamah 36, Tafsir surat AlQiyaamah 36, Quran Al Qiyamah 36, Al-Qiyamah 36, Surah Al Qiyamah ayat 36

Video Surah

75:36


Load More

Kandungan Surah Al Qiyaamah

۞ QS. 75:3 • Cobaan kubur • Mengingkari hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 75:4 • Kekuasaan Allah • Al Qaadir (Maha Kuasa)

۞ QS. 75:5 • Mengingkari hari kebangkitan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:6 • Mengingkari hari kebangkitan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:7 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:8 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:9 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:10 • Kedahsyatan hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 75:11 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 75:12 • Ar Rabb (Tuhan) • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 75:13 • Sifat hari penghitungan • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 75:14 • Manusia bersaksi atas dirinya • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 75:15 • Manusia bersaksi atas dirinya • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 75:19 • Al Qur’an terpelihara dari penyelewengan

۞ QS. 75:21 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 75:22 • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Sifat ahli surga

۞ QS. 75:23 • Melihat Allah di surga • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 75:24 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 75:25 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan

۞ QS. 75:26 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:27 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:28 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:29 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Saat kematian seorang mukmin • Saat kematian orang kafir

۞ QS. 75:30 • Ar Rabb (Tuhan) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Masa cepat berlalu

۞ QS. 75:31 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:32 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:33 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 75:34 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 75:35 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 75:36 • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 75:40 • Kekuasaan Allah • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

Ayat Pilihan

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan.
Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka & juga kepadamu.
Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.
QS. Al-Isra’ [17]: 31

Dengan keterangan yang jelas itu,
Kami menerangkan bukti-bukti yang bermacam-macam,
agar menjadi tampak jalan kebenaran yang dilalui oleh orang-orang Mukmin & menjadi jelas jalan kebatilan yang dilalui oleh orang-orang kafir.
QS. Al-An’am [6]: 55

Ibrahim berkata:
“Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya,
kecuali orang-orang yang sesat”.
QS. Al-Hijr [15]: 56

Berilah keputusan (perkara) manusia dengan adil & jangan kamu ikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.
Sungguh orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan
QS. Sad [38]: 26

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan ...

Correct! Wrong!

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut?

Correct! Wrong!

Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah ...

Correct! Wrong!

+

Array

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
u0623u064eu0641u0652u0636u064eu0644u064f u0627u0644u0652u062cu0650u0647u064eu0627u062fu0650 u0623u064eu0646u0652 u064au064fu062cu064eu0627u0647u064eu062fu064e u0627u0644u0631u0651u064eu062cu064fu0644u064f u0646u064eu0641u0652u0633u064eu0647u064e u0648u064e u0647u064eu0648u064eu0627u0647u064f

(Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya),
Hadits ini derajatnya shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dan Ad-Dailami. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami'ush-Shaghu00eer, no 1099, dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam Silsilah Ash-Shu00e2hihah, no. 1496.

Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #14
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #14 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #14 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah terdiri dari … ayat.Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal … أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti …وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat …Surah Al-Insyirah turun sesudah surah …

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Kamus Istilah Islam

Junaid al-Baghdadi

Siapa itu Junaid al-Baghdadi? Al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaid Abu Qasim al-Qawariri al-Khazzaz al-Nahawandî al-Baghdadi al-Syafi’i, atau lebih dikenal dengan Al-Junaid al-Baghdadî, lahir di Nihawand, Persia, tetapi keluarganya bermukim di Baghdad, tempat ia belajar hukum Islam mazhab Imam Syafi’i, dan akhirnya menjadi qadi kepala di Baghdad. Dia mempelajari ilmu fiqih kepa … • Junaid, Al-Junaid, Sayyid at-Taifa

Yahya `alaihis salam

Siapa itu Yahya `alaihis salam? Yahya bin Zakariyya adalah salah satu Nabi Islam yang disebutkan dalam Al-Qur’an yang berarti hidup. Diyakini bahwa Yahya hidup selama 30 tahun.. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 28 M dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 4 kali di dalam Al-Quran dan dimakamkan di Dama … • Yahya

Ta’ashub

Apa itu Ta’ashub? Ta’ashub adalah istilah dalam Islam yang artinya fanatik buta. Ta’ashub bukanlah sebuah kenikmatan ataupun sebuah keagungan melainkan sebuah penyakit yang secara sadar atau tidak sadar mampu menginfeksi siapa saja. Penyakit ini termasuk penyakit yang berbahaya dan memiliki kemampuan untuk merusak tatanan syariat Islam. Makna etimologi Kata … •