QS. Al Qadr (Kemuliaan) – surah 97 ayat 1 [QS. 97:1]

اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ فِیۡ لَیۡلَۃِ الۡقَدۡرِ ۚ
Innaa anzalnaahu fii lailatil qadr(i);

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
―QS. 97:1
Topik
97:1, 97 1, 97-1, Al Qadr 1, AlQadr 1, Al-Qadr 1

Tafsir surah Al Qadr (97) ayat 1

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Qadr (97) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Terdapat empat tempat dalam Alquran yang menerangkan tentang masanya turun Alquran kepada Nabi ﷺ.
yaitu:
1.
Dalam surah Al Qadr ini.
2.
Dalam surah Ad Dukhan, yaitu pada firman-Nya:

Ha Mim.
Demi Kitab (Alquran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami.
Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 1-6)

3.
Dalam surah Al Baqarah, yaitu pada firman-Nya:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dengan yang batil)”.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 186)

4.
Dalam surah Al Anfal, yaitu pada firman-Nya:

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu di hari pertemuannya dua pasukan.
Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu).

(Q.S. Al-Anfal [8]: 41)

Ayat surah Al-Qadr menyatakan bahwa turunnya Alquran jelas pada malam Lailatulkadar, ayat surah Ad Dukhan menguatkan turunnya Alquran pada malam yang diberkati, ayat surah Al Baqarah menunjukkan turunnya Alquran pada bulan Ramadan dan ayat surah Al Anfal menerangkan bahwa turunnya Alquran bertepatan pada malam hari terjadinya pertempuran antara tentara Islam dengan tentara musyrikin dalam peperangan Badar, yang membedakan antara yang hak dengan yang batil dan memberi kemenangan kepada tentara Islam atas tentara kafir.
Dengan demikian pastilah bahwa malam tersebut adalah malam Jumat 17 Ramadan.

Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa Dia menurunkan Alquran pertama kali kepada Nabi ﷺ.
pada malam yang mulia kemudian terus-menerus turunnya secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam jangka waktu dua puluh dua tahun lebih sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti.

Karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa manusia sangat memerlukannya sebagai pedoman yang menjelaskan sesuatu yang mereka ragukan yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan atau masalah-masalah duniawi mereka serta menerangkan kepada mereka kejadian manusia dan kejadian yang akan datang ketika datangnya hari berbangkit.

Mereka memerlukan pegangan tersebut karena mereka tidak dapat memahami tentang prinsip-prinsip kemaslahatan yang sebenarnya.
sehingga mereka dapat membentuk peraturan-peraturan dan undang-undang yang terlepas sama sekali dari petunjuk-petunjuk dan ketentuan-ketentuan agama.

Oleh sebab itu benarlah pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama dan petunjuk rohani yang menentukan ukuran dan nilai sesuatu setelah mereka mengetahui secara ilmiah keadaan-keadaan dan khasiat-khasiat sesuatu itu; sebagaimana mereka memerlukan kekuatan batin yang tidak dapat diguncangkan oleh bahaya dan percobaan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran pada malam kemuliaan (lailatulkadar, laylat al-qadr) dan kehormatan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Kami telah menurunkannya) yaitu menurunkan Alquran seluruhnya secara sekali turun dari lohmahfuz hingga ke langit yang paling bawah (pada malam kemuliaan) yaitu malam Lailatulkadar, malam yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 3)

Yaitu Lailatul Qadaryangterletakdi dalam bulan Ramadan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)Al-Qur’an.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 185)

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit yang terdekat.
Kemudian diturunkan secara terpisah-pisah sesuai dengan kejadian-kejadian dalam masa dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah ﷺ

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang dikhususkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai malam diturunkan-Nya Al-Qur’an di dalamnya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
(Q.S. Al-Qadr [97]: 2-3)

Abu Isa At-Turmuzi sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mahmud ibnu Gailan, telah menceritakan kepada kami Abu Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnul Fadl Al-Haddani, dari Yusuf ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa seorang lelaki bangkit menuju kepada Al-Hasan ibnu Ali sesudah membaiat Mu’awiyah.
Lalu lelaki itu berkata, “Engkau telah mencoreng muka kaum mukmin,” atau, “Hai orang yang mencoreng muka kaum mukmin.”

Maka Al-Hasan ibnu Ali menjawab, “Janganlah engkau mencelaku, semoga Allah merahmatimu, karena sesungguhnya Nabi ﷺ pernah diperlihatkan kepadanya Bani Umayyah berada di atas mimbarnya, hal itu membuat diri beliau merasa berdukacita.
Maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar’ (Q.S. Al-Kausar [108]: 1)

hai Muhammad, yakni sebuah sungai (teiaga) di dalam surga.
Dan turunlah pula firman Allah subhanahu wa ta’ala:

‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan’ (Q.S. Al-Qadr [97]: 1-3).

yang akan dimilikkan sesudahmu kepada Bani Umayyah, hai Muhammad.” Al-Qasim mengatakan bahwa lalu kami menghitung-hitungnya, dan ternyata masa pemerintahan Bani Umayyah adalah seribu bulan, tidak lebih dan tidak kurang barang sehari pun.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui jalur ini, yaitu melalui hadis Al-Qasim ibnul Fadl.
Dia adalah seorang yang berpredikat siqah, dinilai siqah oleh Yahya Al-Qattan dan Abdur Rahman ibnu Mahdi.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa gurunya bernama Yusuf ibnu Sa’d yang dikenal dengan nama Yusuf ibnu Mazin, dia adalah seorang yang tidak dikenal.
Dan hadis dengan lafaz yang seperti ini tidaklah dikenal melainkan hanya melalui jalur ini.

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al-Qasim ibnul Fadl, dari Yusuf ibnu Mazin dengan sanad yang sama.
Dan mengenai perkataan (penilaian) Imam Turmuzi yang menyebutkan bahwa Yusuf ibnu Sa’d seorang yang tidak dikenal, masih perlu diteliti.
Karena sesungguhnya telah meriwayatkan darinya sejumiah ulama yang antara lain ialah Hammad ibnu Salamah, Khalid Al-Hazza dan Yunus ibnu Ubaid.
Yahya ibnu Mu’in menilainya sebagai seorang yang masyhur (terkenal).
Dan menurut suatu riwayat dari Ibnu Mu’in, Yusuf ibnu Sa’d adalah seorang yang siqah (dipercaya).

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al-Qasim ibnul Fadl, dari Yusuf ibnu Mazin, demikianlah menurutnya, dan ini menimbulkan idtirab dalam hadis ini; hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Kemudian hadis ini dengan hipotesis apa pun berpredikat munkar sekali.
Guru kami Imam Al-Hafiz Al-Hujjah Abul Hajjaj Al-Maziy mengatakan bahwa hadis ini berpredikat munkar.

Menurut hemat kami, ucapan Al-Qasim ibnul Fadl Al-Haddani yang menyebutkan bahwa ia menghitung-hitung masa pemerintahan Bani Umayyah, maka ternyata ia menjumpainya seribu bulan, tidak lebih dan tidak kurang barang sehari pun, pendapat ini tidaklah benar.
Karena sesungguhnya Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan r.a.
baru memegang tampuk pemerintahan saat Al-Hasan ibnu Ali menyerahkannya kepada dia pada tahun empat puluh Hijriah, lalu semua baiat sepakat ‘tertuju kepada Mu’awiyah, maka tahun itu dinamakan dengan tahun Jama’ah.

Kemudian Bani Umayyah terus-menerus memegang kendali pemerintahan berturut-turut di negeri Syam dan negeri lainnya.
Tiada suatu kawasan pun yang memberontak terhadap mereka kecuali hanya di masa pemerintahan Abdullah ibnuz Zubair di kedua tanah suci (Mekah dan Madinah), dan Al-Ahwaz serta negeri-negeri yang terdekat selama sembilan tahun.
Akan tetapi, kesatuan dan persatuan mereka tetap berada di bawah pemerintahan Bani Umayyah secara keseluruhan terkecuali hanya pada sebagian kawasan yang tertentu.
Hingga pada akhirnya kekhalifahan direbut dari tangan mereka oleh Banil Abbas pada tahun seratus tiga puluh dua.

Dengan demikran, berarti jumlah masa pemerintahan Bani Umayyah seluruhnya adalah sembilan puluh dua tahun, dan ini berarti lebih dari seribu bulan, yang kalau dijumlahkan berarti hanya delapan puluh tiga tahun lebih empat bulan.

Kalau begitu, berarti Al-Qasim ibnul Fadl menggugurkan masa pemerintahan mereka di masa-masa Ibnuz Zubair (yang hanya sembilan tahun itu).
Jika demikian, berarti jumlah ini mendekati kebenaran dari apa yang dikatakannya; hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui.

Bukti lain yang menunjukkan ke-daif-an hadis ini ialah karena hadis ini sengaja diutarakan hanya untuk mencela pemerintahan Bani Umayyah.
Seandainya dimaksudkan untuk mencela mereka, tentulah bukan dengan konteks seperti itu.
Mengingat keutamaan LailatuI Qadar di masa-masa pemerintahan mereka bukanlah menunjukkan tercelanya hari-hari mereka.
Sesungguhnya malam LailatuI Qadar itu sangat mulia, dan surat yang mulia ini diturunkan hanya semata-mata memuji malam LailatuI Qadar.
Lalu mengapa ayat ini memuji keutamaannya di masa-masa pemerintahan Bani Umayyah yang dinilai oleh hadis ini tercela.

Kemudian bila-dipahami dari ayat ini bahwa seribu bulan yang disebutkan dalam ayat menunjukkan masa pemerintahan Bani Umayyah, sedangkan suratnya sendiri adalah Makkiyyah.
Lalu bagaimana bisa dibelokkan dengan pengertian seribu bulan masa pemerintahan Bani Umayyah, padahal baik lafaz maupun makna ayat tidak menunjukkan kepada pengertian itu.
Dan lagi mimbar itu hanyalah baru dibuat di Madinah sesudah hijrah.
Semua bukti tersebut menunjukkan kelemahan dan kemungkaran hadis di atas; hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, bahwa Nabi ﷺ menceritakan tentang seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang menyandang senjatanya selama seribu bulan dalam berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala Maka kaum muslim merasa kagum dengan perihal lelaki Bani Israil itu.
Mujahid melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
(Q.S. Al-Qadr [97]: 1-3) Maksudnya, lebih baik daripada lelaki itu menyandang senjatanya selama seribu bulan dalam berjihad di jalan Allah.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Hakkam ibnu Muslim, dari Al-Musanna ibnus Sabbah, dari Mujahid yang meHgatakan bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang lelaki yang malam harinya melakukan qiyam hingga pagi hari, kemudian di siang harinya ia berjihad di jalan Allah hingga petang hari.
Dia mengerjakan amalan ini selama seribu bulan, maka Allah menurunkan firman-Nya: Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
(Q.S. Al-Qadr [97]: 3) Yakni melakukan qiyam di malam kemuliaan itu lebih baik daripada amalan laki-laki Bani Israil itu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Maslamah ibnu Ali, dari Ali ibnu Urwah yang mengatakan bahwa di suatu hari Rasulullah ﷺ menceritakan tentang kisah empat orang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil (di masa lalu); mereka menyembah Allah selama delapan puluh tahun tanpa melakukan kedurhakaan kepada-Nya barang sekejap mata pun.
Beliau ﷺ menyebutkan nama mereka, yaitu Ayyub, Zakaria, Hizkil ibnul Ajuz, dan Yusya’ ibnu Nun.

Ali ibnu Urwah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu para sahabat Rasulullah ﷺ merasa kagum dengan amalan mereka.
Maka datanglah Jibril kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Hai Muhammad, umatmu merasa kagum dengan ibadah mereka selama delapan puluh tahun itu tanpa berbuat durhaka barang sekejap mata pun.
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan hal yang lebih baik daripada itu.”

Kemudian Malaikat Jibril ‘alaihis salam membacakan kepadanya firman Allah subhanahu wa ta’ala: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
(Q.S. Al-Qadr [97]: 1 -3)

Ini lebih baik daripada apa yang engkau dan umatmu kagumi.
Maka bergembiralah karenanya Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang bersamanya saat itu.

Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa telah sampai kepadaku dari Mujahid sehubungan dengan malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan.
Bahwa amalan, puasa, dan qiyamnya lebih baik daripada melakukan hal yang sama dalam seribu bulan.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang mengatakan bahwa malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan yang di dalam bulan-bulannya tidak terdapat malam Lailatul Qadar.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah ibnu Di’amah dan Imam Syafii serta yang lainnya yang bukan hanya seorang.
Amr ibnu Qais Al-Mala’i telah mengatakan bahwa melakukan suatu amalan di malam kemuliaan lebih baik daripada melakukan amalan selama seribu bulan.

Dan pendapat yang menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar itu lebih afdal daripada melakukan ibadah selama seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar, merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, dan pendapat inilah yang benar, bukan yang lainnya.

Pengertian ini sama dengan apa yang disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:

Berjaga-jaga selama semalam di jalan Allah (jihad) lebih baik daripada seribu malam di tempat-tempat yang lainnya.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Sebagaimana pula yang disebutkan berkenaan dengan keutamaan seseorang yang datang ke salat Jumat dengan penampilan yang baik dan niat yang saleh, bahwa dicatatkan baginya amal selama satu tahun, berikut pahala puasa dan qiyamnya.
Dan masih banyak lagi nas-nas lainnya yang semakna.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah r.a.
yang menceritakan bahwa ketika Ramadan tiba, Rasulullah ﷺ bersabda: Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkati, Allah telah memfardukan bagimu melakukan puasa padanya.
Di dalamnya dibukakan semua pintu surga dan ditutup rapat-rapat semua pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.
Di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Barang siapa yang terhalang dari kebaikannya, berarti dia telah terhalang (dari semua kebaikan).

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Ayyub dengan sanad yang sama.

Mengingat melakukan ibadah di dalam malam Lailatul Qadar sebanding pahalanya dengan melakukan ibadah selama seribu bulan, telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Barang siapa yang melakukan qiyam (salat sunat) di malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala dan ridaAllah, maka diampunilah baginya semua dosanya yang terdahulu.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Qadr (97) Ayat 1

QADR
قَدْر

Lafaz ini adalah ism masdar dari kata kerja qadara, jamaknya aqdaar, bermakna kadar, jumlah, persamaan sesuatu tanpa ditambah atau dikurangkan, kehormatan dan kewibawaan, pangkat, derajat, kemampuan, kekuatan, kedudukan dalam masyarakat dan sebagainya.

Lafaz qadr disebut sebanyak 4 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Qadr (97), ayat 1, 2, 3;
-Ath Thalaaq (65), ayat 3;

Tiga kali dengan menggunakan kata ganti al ha yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 91;
-Al Haj (22), ayat 74;
-Az Zumar (39), ayat 67.

Lafaz qadr di dalam Al Qur’an mengandung tiga makna:
Lafaz qadr dikaitkan dengan lailah atau malam sehingga menjadi lailatul qadr.

Mujahid berkata,
Lailatul qadr adalah lailatul hukm (malam penetapan), maknanya lailatul taqdir (malam penentuan), ia dinamakan demikian karena Allah mentakdirkan suatu perkara mengikut kehendak Nya sehingga ke tahun yang akan datang; dari perkara mati, ajal, rezeki dan lainnya, memberikan pengurusan perkara itu kepada empat malaikat, yaitu: Israfil, Izra’il, Mika’il dan Jibril.

Az Zuhri mengatakan ia dinamakan demikian karena keagungannya, kemuliaannya dan kedudukannya.

Abu Bakar Al Warraq berkata,
“Ia dinamakan demikian karena siapa yang tidak mempunyai kedudukan dan kemuliaan maka ia menjadi mulia dan agung jika menghidupkannya.

Ada juga yang mengatakan ia dinamakan demikian karena di dalamnya diturunkan kitab yang mulia, kepada rasul yang agung dan kepada umat yang mulia atau karena Allah menurunkan di dalamnya kebaikan, keberkahan dan ampunan atau karena ketaatan di dalamnya begitu besar pahalanya.

Terdapat tiga kelebihan yang terkandung dalam lailatul qadr, yaitu:

1. Al Qur’an diturunkan di dalam malam yang penuh keberkahan sebagaimana dalam ayat Allah yang artinya,

Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an pada satu malam yang diberkahi
(Al Dukhan (44), ayat 3)

dan pada bulan Ramadan sebagaimana dalam ayat Allah yang artinya,

Bulan Ramadan, bulan yang diturunkan (permulaan) Al Qur’an,
(Al Baqarah (2), ayat 185).

Penurunan Al Qur’an pada malam ini secara keseluruhan ke langit dunia (samaa’ad dunyaa) dari Lauh Mahfuz dan kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun.

2. Ia lebih baik dari seribu bulan, yaitu lebih dari 80 tahun. Mayoritas ulama tafsir mengatakan beramal di dalamnya lebih baik dari beramal seribu bulan yang tidak terdapat di dalamnya lailatul qadr.

Ada yang mengatakan seribu bulan bermakna keseluruhan zaman karena orang Arab menyebutkan seribu adalah untuk sesuatu yang melampau dan ketinggiannya.

3. Para malaikat ramai yang turun pada malam ini disebabkan banyak keberkahannya. Mereka turun membawa keberkahan dan rahmat, begitu juga dengan malaikat Jibrail yang mendoakan manusia sehingga waktu fajar.

Qatadah berkata,
“Ia adalah kebaikan yang sempurna, tidak ada kejahatan di dalamnya sehingga waktu fajar”

Ubadah bin Samit meriwayatkan Rasulullah berkata,
“Malam lailatul qadr terdapat pada 10 malam terakhir (pada bulan Ramadan). Siapa yang menghidupkannya dengan penuh harapan dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang dan ia dalam malam yang ganjil, sembilan atau tujuh atau lima atau tiga atau malam terakhir.”

Qadr bermakna kadar atau batasan tertentu sebagaimana yang terdapat dalam surah Ath Thalaaq.

Masruq berkata,
Qadr bermakna ajal, muntaha (batas terakhir).”

As Suddi memberikannya makna batasan haid dan ‘iddah.

Asy Syawkani berkata,
“Ia bermakna ketetapan, masa dan kadar.”

Tafsirannya, ”Allah menjadikan sesuatu kesusahan batas dan masa yang akan berakhir serta bagi kesenangan batas dan masa yang akan berakhir juga.” Pengetahuan, sifat dan kadar sebenarnya, sebagaimana yang terdapat dalam surah Al An’aam, Al Hajj dan Az Zumar.

Az Zamaksyari berkata,
Wa ma qadarullaaha haqqa qadrihi bermakna mereka tidak tahu dengan sebenar-benarnya pengetahuan pada pemberian rahmat kepada hamba Nya dan kasih kepada mereka ketika mereka ingkar perutusan rasul-rasul dan wahyu yang diturunkan kepada mereka. Ini adalah karena keagungannya dan ketinggian nikmat Nya.

Al Fayruz berkata,
“Maknanya, mereka tidak tahu kadar atau ketetapan Nya, Ini adalah peringatan bagaimana mereka dapat mengetahui kadar dan sifat Nya.” Oleh karena itu Ibn Qutaybah menafsirkannya dengan “mereka tidak dapat menyifatkan Nya dengan sebenar-benar sifat Nya dan tidak mengetahui Nya dengan sebenar-benar pengetahuan.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:450

Informasi Surah Al Qadr (القدرِ)
Surat Al Qadr terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan se­ sudah surat ‘Abasa.

Surat ini dinamai “Al Qadr” (kemuliaan), diambil dari perkataan “Al Qadr” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

Al Qur’an mulai diturunkan pada malam Lailatul Qadr, yang nilainya lebih dari seribu bulan
para malaikat dan Jibril turun ke dunia pada malam Lailatul Qadr untuk mengatur segala urusan.

Lain-lain:

Al Qur’an mulai diturunkan pada malam Lailatul Qadr, yang nilainya lebih dari seribu bulan
para malaikat dan Jibril turun ke dunia pada malam Lailatul Qadr untuk mengatur segala urusan.

Ayat-ayat dalam Surah Al Qadr (5 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Qadr (97) ayat 1 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Qadr (97) ayat 1 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Qadr (97) ayat 1 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Qadr (97) ayat 1-5 - Aditya Anugrah (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Qadr (97) ayat 1-5 - Aditya Anugrah (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Qadr - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 5 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 97:1
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Qadr.

Surah Al-Qadr (bahasa Arab:الْقَدْرِ) adalah surah ke-97 dalam al-Qur'an yang terdiri atas 5 ayat dan termasuk golongan Makkiyah.
Surah ini diturunkan setelah surah 'Abasa dan dinamai al-Qadr (Kemuliaan) yang diambil dari kata al-Qadr yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Nomor Surah 97
Nama Surah Al Qadr
Arab القدرِ
Arti Kemuliaan
Nama lain Inna Anzalna
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 25
Juz Juz 30
Jumlah ruku' 1 ruku'
Jumlah ayat 5
Jumlah kata 30
Jumlah huruf 114
Surah sebelumnya Surah Al-'Alaq
Surah selanjutnya Surah Al-Bayyinah
4.9
Ratingmu: 4.7 (15 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/97-1







Pembahasan ▪ al qadar 97:1

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta