QS. Al Muzzammil (Orang yang berselimut) – surah 73 ayat 10 [QS. 73:10]

وَ اصۡبِرۡ عَلٰی مَا یَقُوۡلُوۡنَ وَ اہۡجُرۡہُمۡ ہَجۡرًا جَمِیۡلًا
Waashbir ‘ala maa yaquuluuna waahjurhum hajran jamiilaa;

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
―QS. 73:10
Topik ▪ Memuji Allah atas nikmat-nikmatNya
73:10, 73 10, 73-10, Al Muzzammil 10, AlMuzzammil 10, Al Muzammil 10, Al Muzamil 10, Al-Muzzammil 10

Tafsir surah Al Muzzammil (73) ayat 10

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Muzzammil (73) : 10. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya sabar dan menahan diri menghadapi orang-orang musyrik yang melontarkan kata-kata yang tidak senonoh terhadap dirinya dan Tuhannya, karena kesabaran membawa kepada tercapainya cita-cita.
Allah juga memerintahkan supaya Muhammad ﷺ memutuskan pergaulan dengan orang-orang yang seperti itu dengan bijaksana tanpa melontarkan cercaan terhadap mereka.
Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain.
(Q.S. Al-An’am [6]: 68)

Dan firman-Nya:

Maka tinggalkanlah (Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia hanya menginginkan kehidupan dunia.
(Q.S. An-Najm [53]: 29)

Allah juga berfirman:

Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 63)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan bersabarlah atas segala kebatilan yang mereka ucapkan.
Palingkanlah hatimu dari mereka dan janganlah kamu mengikuti perilaku-perilaku mereka.
Biarkanlah mereka, dan janganlah berniat membalas perlakuan buruk mereka kepadamu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan) bersabarlah kamu di dalam menghadapi gangguan orang-orang kafir Mekah (dan jauhilah mereka dengan cara yang baik) tanpa keluh-kesah, ayat ini diturunkan sebelum ada perintah memerangi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk bersabar terhadap ucapan orang-orang yang mendustakannya dari kalangan orang-orang yang kurang akalnya dari kaumnya, dan hendaklah dia menjauhi mereka dengan cara yang baik, yaitu dengan cara yang tidak tercela.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya yang isinya mengandung ancaman terhadap orang-orang kafir dari kalangan kaumnya, dan Dia adalah Tuhan Yang Mahabesar, tiada sesuatu pun yang dapat bertahan terhadap murka-Nya:

Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 11)

Yakni biarkanlah Aku saja yang akan bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, padahal mereka adalah orang-orang yang hidup mewah dan mempunyai harta yang banyak.
Seharusnya mereka lebih taat ketimbang orang lain, mengingat mereka mempunyai semua sarananya dan dapat menunaikan hak-hak yang tidak dimiliki oleh selain mereka.

dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 11)

Yakni barang sedikit waktu.
Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.
(Q.S. Luqman [31]: 24)

Karena itulah disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

Karena Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 12)

Yang dimaksud dengan ankalan ialah belenggu-belenggu, menurut Ibnu Abbas, Ikrimah,Tawus, Muhammad ibnu Ka’b, Abdullah ibnu Buraidah, Abu Imran Al-Juni, Abu Mijiaz, Ad-Dahhak, Hammad ibnu Abu Sulaiman, Qatadah, As-Saddi, Ibnul Mubarak, dan As-Sauri serta selain mereka.

dan neraka yang bernyala-nyala.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 12)

Yaitu yang apinya menyala-nyala dengan hebatnya.

dan makanan yang menyumbat di tenggorokan.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 13)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah makanan yang tertahan di tenggorokan, tidak dapat masuk, dan tidak dapat pula keluar.

dan azab yang pedih.
Pada hari bumi dan gunung-gunung berguncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 13-14)

Bumi dan gunung-gunung mengalami gempa yang amat dahsyat sehingga jadilah gunung-gunung itu seperti tumpukan-tumpukan pasir, yang sebelumnya berupa batu-batu besar.
Setelah itu gunung-gunung itu diledakkan dengan ledakan yang sedahsyat-dahsyatnya, sehingga tiada sesuatu pun darinya melainkan lenyap.
Lalu bumi menjadi datar sama sekali, tidak ada sedikit pun padanya tempat yang tinggi dan tidak pula tempat yang rendah; semuanya rata, tiada bukit dan tiada lembah.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ditujukan kepada kaum kafir Quraisy, tetapi makna yang dimaksud terhadap seluruh manusia:

Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 15)

Yakni terhadap amal perbuatanmu.

sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Fir’aun.
Maka Fir’aun mendurhakai rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 15-16)

Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, As-Saddi, dan As-Sauri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dengan siksaan yang berat.
(Q.S. Al-Muzzammil [73]: 16)

Maksudnya, siksaan yang keras.
Maka hati-hatilah kamu, jangan mendustakan rasul ini yang akibatnya kamu akan ditimpa azab seperti azab yang menimpa Fir’aun, yang telah disiksa oleh Allah dengan siksaan dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.
(Q.S. An-Nazi’at [79]: 25)

Dan kalian lebih utama untuk mendapat kebinasaan dan kehancuran bila mendustakan rasul kalian, karena rasul kalian adalah rasul yang paling mulia dan lebih besar daripada Musa ibnu Imran.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Muzzammil (73) Ayat 10

JAMIIL
جَمِيل

Lafaz jamiil artinya ialah perkara baik.

Me­nurut Imam Al Isfahani, perkara baik pada diri manusia ada dua:

Pertama, perkara baik yang ada pada diri manusia seperti pada jiwa, angota badan atau pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan manfaat secara langsung kepada orang lain.

Kedua, perkara baik yang dimiliki manusia dan bermanfaat kepada orang lain.

Lafaz jamiil diulang tujuh kali dalam Al­ Quran yaitu dalam surah:
-Yusuf (12): 18, 83;
-Al Hijr (15): 85;
-A Ahzab (33): 28, 49;
-Al Ma’aarij (70): 5;
-Al­ Muzammil (73): 10.

Sikap-sikap yang dikait­kan dengan lafaz jamiil dalam Al Qur’an ada empat, yaitu :

1. Kesabaran;
Surah Yusuf (12), ayat 18 dan 83 menerangkan tentang ke­ sabaran Nabi Ya’qub dalam meng­hadapi putera-puteranya yang durhaka dan sabarnya dalam me­nanggung rindu pada putera tercinta, Yusuf. Kesabaran beliau bukan ke­sabaran yang biasa. Ia digambarkan di dalam Al Qur’an dengan shabrun jamiil yang berarti kesabaran yang indah.

Menurut Imam Al Qurtubi, makna shabrun jamiil adalah kesabaran yang tidak disertai dengan rasa sedih atau putus asa pada rahmat Allah dan tidak diikuti dengan keluhan-keluhan yang diutarakan kepada sesama manusia. Kesabaran seperti ini diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad sewaktu menghadapi kaum musyrikin yang selalu menghina dan me­nentangnya sebagaimana ditegaskan dalam surah Al-Ma’aarij (70), ayat 5,

2. Memaafkan dan berlapang dada;
Selain diperintahkan bersabar menghadapi kaum kafir, Nabi Muhammad juga diperintahkan ber­lapang dada dengan cara yang baik fashbir shabran jamiil (surah Al Hijr (15), ayat 85).
Maksud ayat fashfahish shafhan jamiil ialah memaafkan kesalahan­ kesalahan musuh tanpa mencela atau mencerca dan tanpa ada keinginan membalas dendam serta ber­muamalah bersama mereka dengan penuh kerelaan, lapang dada dan kasih sayang.

3. Menjauh atau meninggalkan;
Bukan sekadar itu saja. Semasa menghadapi cemoohan dan tantang­an kaum kafir, Nabi Muhammad tidak disuruh bersabar saja dan memaafkan mereka, namun beliau juga diperintahkan men­jauhi mereka dengan cara yang baik. wahjurhum hajran jamiil (surah Al­ Muzammil (73), ayat 10).

Imam Al­ Qurtubi dan Al Alusi menerangkan, maksud wahjurhum hajran jamiil ialah menjauhi mereka. Namun, tetap membujuk mereka dengan cara yang halus atau lembut tidak mencabar dan tidak berusaha membalas kejahatan yang mereka lakukan serta menyerahkan urusan mereka kepada Allah dan berdoa kepada Nya.

4. Melepaskan isteri;
Dalam surah Al Ahzab (33), ayat 28, nabi di­ perintahkan Allah supaya melepas­kan isterinya dengan cara yang baik apabila ada isterinya yang lebih mengutamakan nikmat dan keindahan dunia. Perbuatan me­lepaskan isteri dengan baik itu diistilahkan dalam Al Qur’an dengan saraahan jamiil. Maksud saraahan jamiil ialah melepaskan isteri dengan disertai kata-kata yang baik, tidak menyakiti hati dan tubuh dan juga tidak menghalangnya mendapatkan haknya.

Begitu juga dengan umat Islam yang lain apabila mereka mau melepaskan isteri selepas ditalak, hendaklah mereka melepaskannya dengan cara yang baik yaitu saraahan jamiil (surah Al­ Ahzab (33), ayat 49).

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:142-143

Informasi Surah Al Muzzammil (المزمل)
Surat Al Muzzammil terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qalam.

Dinamai “Al Muzzammil” (orang yang berselimut) diambil dari perkataan “Al Muzzammil” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dirnaksud dengan “orang yang berkemul” ialah Nabi Muhammad ﷺ

Keimanan:

Petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan oleh Rasulullah ﷺ untuk menguatkan rohani guna persiapan menerima wahyu, yaitu dengan bangun di malam hari untuk shalat tahajjud, membaca Al Qur’an dengan tartil
bertasbih dan bertahmid
perintah bersabar terhadap celaan orang-orang yang mendustakan Rasul.
Akhirnya kepada umat Islam diperintahkan untuk shalat tahajjud, berjihad di jalan Allah, membaca Al Qur’an, mendirikan shalat, menunaikan zakat, membelanjakan harta di jalan Allah dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Ayat-ayat dalam Surah Al Muzzammil (20 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Muzzammil (73) ayat 10 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Muzzammil (73) ayat 10 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Muzzammil (73) ayat 10 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Muzzammil - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 20 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 73:10
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Muzzammil.

Surah Al-Muzzammil (Arab: المزمّل ,"Orang Yang Berselimut") adalah surah ke-73 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 20 ayat.
Dinamakan Al Muzzammil yang berarti "Orang yang berselimut" di ambil dari kata Al Muzzammil yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan orang yang berselimut ialah Nabi Muhammad S.A.W.

Nomor Surah 73
Nama Surah Al Muzzammil
Arab المزمل
Arti Orang yang berselimut
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 3
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 20
Jumlah kata 300
Jumlah huruf 853
Surah sebelumnya Surah Al-Jinn
Surah selanjutnya Surah Al-Muddassir
4.4
Ratingmu: 4.6 (28 orang)
Sending







Pembahasan ▪ surat al-muzzamil 73:10 ▪ qs 73 : 10 ▪ qs muzammil 10 ▪ qs muzzammil 10

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta