QS. Al Munafiquun (Orang-orang yang munafik) – surah 63 ayat 10 [QS. 63:10]

وَ اَنۡفِقُوۡا مِنۡ مَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ اَحَدَکُمُ الۡمَوۡتُ فَیَقُوۡلَ رَبِّ لَوۡ لَاۤ اَخَّرۡتَنِیۡۤ اِلٰۤی اَجَلٍ قَرِیۡبٍ ۙ فَاَصَّدَّقَ وَ اَکُنۡ مِّنَ الصّٰلِحِیۡنَ
Wa-anfiquu min maa razaqnaakum min qabli an ya’tiya ahadakumul mautu fayaquula rabbi laulaa akh-khartanii ila ajalin qariibin fa-ash-shaddaqa wa-akun minash-shaalihiin(a);

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata:
“Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”
―QS. 63:10
Topik ▪ Mengingat kematian ▪ Mempersiapkan diri menghadapi kematian ▪ Kekuasaan Allah
63:10, 63 10, 63-10, Al Munafiquun 10, AlMunafiquun 10, Al Munafiqun 10, AlMunafiqun 10, Al-Munafiqun 10

Tafsir surah Al Munafiquun (63) ayat 10

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Munafiquun (63) : 10. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah menganjurkan agar orang-orang mukmin membelanjakan sebagian rezeki yang telah dikaruniakan kepadanya, sebagai tanda syukur atas nikmat-Nya.
Hal itu bisa berupa menyantuni anak-anak yatim, orang-orang fakir miskin, dan sebagainya.
Hal ini merupakan bekal untuk akhirat untuk dinikmati di hari kemudian.

Janganlah kekayaan itu hanya ditumpuk untuk diwarisi oleh para ahli waris yang belum tentu akan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya serta mendatangkan kegembiraan, atau untuk disia-siakan yang akan mengakibatkan kekecewaan.
Kekayaan yang ada pada seseorang, bagaimanapun banyaknya, hanya tiga macam yang menjadi miliknya, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: Mutharrif bin Syu’bah meriwayatkan dari ayahnya berkata, “Aku mendatangi Nabi ﷺ, sedangkan beliau sedang membaca ayat ‘alhakumut-takatsur.” Lalu Nabi ﷺ bersabda, “(Ada seorang) manusia mengatakan ‘hartaku-hartaku.”

Nabi ﷺ bersabda lagi, “Wahai manusia, kamu tidaklah memiliki harta (yang kamu kumpulkan), melainkan apa yang kamu makan maka telah habis, apa yang kamu pakai maka telah lusuh, dan apa yang kamu sedekahkan maka telah berlalu.” (Riwayat Muslim)

Membelanjakan harta benda untuk kemanfaataan dunia dan akhirat, janganlah ditunda-tunda sampai datang sakaratul maut.
Dan jangan berandai-andai kalau-kalau umurnya masih bisa diperpanjang atau kematiannya masih bisa ditunda.
Ia harus membelanjakan harta bendanya kepada yang diridai Allah, dan beramal baik sehingga ia dapat digolongkan bersama orang-orang yang saleh sebelum ajal tiba, karena apabila ajal telah sampai pada batasnya, tak dapat lagi diubah, dimajukan, atau ditangguhkan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang Mukmin, infakkanlah dengan segera sebagian harta yang telah Kami berikan, sebelum kematian menjemput salah seorang dari kalian.
Saat itu, ia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku dapat menjadi orang-orang yang beramal saleh.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan belanjakanlah) dalam berzakat (sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, “Ya Rabbku! Mengapa tidak) lafal laula di sini bermakna halla, yakni kenapa tidak.

Atau huruf la dianggap sebagai huruf zaidah dan huruf lau bermakna tamanni, yakni seandainya (Engkau menangguhkan aku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah) bentuk asli lafal ashshaddaqa adalah atashaddaqa, kemudian huruf ta diidghamkan ke dalam huruf shad sehingga jadilah ashshaddaqa, yakni supaya aku dapat membayar zakatku (dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”) seumpamanya aku akan menunaikan ibadah haji.

Ibnu Abbas r.a.

telah memberikan penafsirannya, bahwa tiada seseorang pun yang melalaikan untuk membayar zakat dan melakukan ibadah haji, melainkan ia meminta supaya kematiannya ditangguhkan di saat ia menjelang ajalnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan mereka untuk berinfak dijalan ketaatan kepada-Nya.
Untuk itu Allah berfirman:

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.S. Al-Munafiqun [63]: 10)

Setiap orang yang melalaikan kewajiban pasti akan merasa menyesal di saat meregang nyawanya, dan meminta agar usianya diperpanjang sekalipun hanya sebentar untuk bertobat dan menyusul semua amal yang dilewatkannya.
Tetapi alangkah jauhnya, karena nasi telah menjadi bubur, masing-masing orang akan menyesali kelalaiannya.
Adapun terhadap orang-orang kafir, keadaan mereka adalah sebagaimana disebutkan oleh firman-Nya:

Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim, “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan), “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (Q.S. Ibrahim [14]: 44)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.
Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.
(Q.S. Al-Mu’minun [23]: 99-100)


Kata Pilihan Dalam Surah Al Munafiquun (63) Ayat 10

AJAL
أَجَل

Ajal bermakna akhir tempoh pada kematian atau saat kematian, batas waktu membayar hutang atau tempoh sesuatu.

Menurut Ibn Faris, ajal bermakna batas waktu membayar hutang dan yang lainnya, kata ajal bagi jawaban adalah termasuk pada bab ini, seakan-akan dia mau sesuatu itu berakhir dan tiba masanya atau sampai tujuannya. Bentuk jamak ajal adalah ajaal. Sedangakan al­ ajil atau al ajilah bermakna “yang ditangguhkan atau ditunda” Ia adalah lawan al ajil atau al ajilah bermakna yang” didahulukan atau dipercepatkan.

Lafaz ajal disebut sebanyak 51 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 231, 232, 234, 235, 282, 282;
-An Nisaa (4), ayat 77,
-Al An’aam (6), ayat 2, 2, 60, 128;
-Al A’raaf (7), ayat 34, 34, 135, 185;
-Yunus (10), ayat 11, 49, 49;
-Hud (11), ayat 3, 104,
-Ar Ra’d (13), ayat 2, 38,
-Ibrahim (14), ayat 10, 44;
-Al Hijr (15), ayat 5;
-An Nahl (16), ayat 61, 61;
-Al Israa (17), ayat 99;
-Tha Ha (29), ayat 129,
-Al Hajj (22), ayat 5, 33;
-Al Mu’minuun (23), ayat 43,
-Al Qashash (28), ayat 29,
-Al ‘Ankaabut (29), ayat 5, 53;
-Ar Rum (30), ayat 8;
-Luqman (31), ayat 29;
-Faathir (35), ayat 13, 45, 45;
-Az Zumar (39), ayat 5, 42;
-Al Mu’min (40), ayat 67;
-Asy Syuara (42), ayat 14;
-Al Ahqaaf (46), ayat 3;
-Al Munaafiquun (63), ayat 10, 11;
-Ath Thalaaq (65), ayat 2, 4;
-Nuh (71), ayat 4.

Dalam kitab-kitab tafsir, ajal mengandung beberapa pengertian.

Pertama, ia bermakna tempoh hidup dan matinya seseorang ditetapkan oleh Allah di Lauh Mahfuz.

Menurut para ulama, manusia mempunyai dua ajal.
-Pertama, ajal dari masa dilahirkan ke dunia hingga dimatikan.
-Kedua, ajal dari masa dimatikan hingga dibangkitkan dari kubur pada hari Ba’ts (kebangkitan), yaitu di alam barzakh.

Ada pula yang mengatakan, dua ajal itu adalah ajal di dunia dan ajal di akhirat.

Kedua, ia bermakna tempoh ‘iddah perempuan, sebagaimana dalam surah Al Baqarah, ayat 231, 234, 235.

Ketiga, ia bermakna tempoh atau masa tibanya membayar hutang.

Keempat, ia bermaksud berakhirnya tempoh atau masa di mana seseorang itu mengatakan janjinya, sebagaimana tentang kisah Nabi Musa yang berkhidmat kepada Syuaib 10 tahun atau lebih, untuk menikah dengan anaknya yang terdapat dalam surah Al Qashash, ayat 27

Kesimpulannya, makna umum lafaz ajal ialah batas tempoh atau masa sesuatu perkara berupa batas kematian, hutang, janji dan lain-lain.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:36-37

Informasi Surah Al Munafiquun (المنافقون)
Surat ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Hajj.

Surat ini dinamai Al Munaafiquun yang artinya orang-orang munafiq, karena surat ini mengungkapkan sifat-sifat orang-orang munafiq.

Keimanan:

Keterangan tentang orang-orang munafiq dan sifat-sifat mereka yang buruk di antaranya ialah pendusta, suka bersumpah palsu, sombong, kikir dan tidak menepati janji
peringatan kepada orang-orang mu’min supaya harta benda dan anak­anaknya tidak melalaikan mereka
insyaf kepada Allah dan anjuran supaya menafkahkan sebagian dari rezki yang diperoleh,

Ayat-ayat dalam Surah Al Munafiquun (11 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Munafiquun (63) ayat 10 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Munafiquun (63) ayat 10 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Munafiquun (63) ayat 10 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Munafiquun - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 11 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 63:10
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Munafiquun.

Surah Al-Munafiqun (bahasa Arab:المنافقون) adalah surah ke-63 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah, terdiri atas 11 ayat.
Dinamakan Al Munaafiqun yang berarti Orang-orang yang munafik karena surat ini mengungkapkan sifat-sifat orang-orang munafik.

Nomor Surah 63
Nama Surah Al Munafiquun
Arab المنافقون
Arti Orang-orang yang munafik
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 104
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 11
Jumlah kata 180
Jumlah huruf 800
Surah sebelumnya Surah Al-Jumu’ah
Surah selanjutnya Surah At-Tagabun
4.5
Ratingmu: 4.7 (11 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs 63:9 10 11

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta