Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Mumtahanah (Wanita yang diuji) – surah 60 ayat 4 [QS. 60:4]

قَدۡ کَانَتۡ لَکُمۡ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ فِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗ ۚ اِذۡ قَالُوۡا لِقَوۡمِہِمۡ اِنَّا بُرَءٰٓؤُا مِنۡکُمۡ وَ مِمَّا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ۫ کَفَرۡنَا بِکُمۡ وَ بَدَا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمُ الۡعَدَاوَۃُ وَ الۡبَغۡضَآءُ اَبَدًا حَتّٰی تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَحۡدَہٗۤ اِلَّا قَوۡلَ اِبۡرٰہِیۡمَ لِاَبِیۡہِ لَاَسۡتَغۡفِرَنَّ لَکَ وَ مَاۤ اَمۡلِکُ لَکَ مِنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ رَبَّنَا عَلَیۡکَ تَوَکَّلۡنَا وَ اِلَیۡکَ اَنَبۡنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ
Qad kaanat lakum uswatun hasanatun fii ibraahiima waal-ladziina ma’ahu idz qaaluuu liqaumihim innaa buraaa-u minkum wamimmaa ta’buduuna min duunillahi kafarnaa bikum wabadaa bainanaa wabainakumul ‘adaawatu wal baghdhaa-u abadan hatta tu’minuu billahi wahdahu ilaa qaula ibraahiima abiihi astaghfiranna laka wamaa amliku laka minallahi min syai-in rabbanaa ‘alaika tawakkalnaa wa-ilaika anabnaa wa-ilaikal mashiir(u);
Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya,
“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,”
kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, “Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.”
(Ibrahim berkata),
“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,
―QS. Al Mumtahanah [60]: 4

There has already been for you an excellent pattern in Abraham and those with him, when they said to their people,
"Indeed, we are disassociated from you and from whatever you worship other than Allah.
We have denied you, and there has appeared between us and you animosity and hatred forever until you believe in Allah alone"
except for the saying of Abraham to his father,
"I will surely ask forgiveness for you, but I have not (power to do) for you anything against Allah.
Our Lord, upon You we have relied, and to You we have returned, and to You is the destination.
― Chapter 60. Surah Al Mumtahanah [verse 4]

قَدْ sesungguhnya

Indeed,
كَانَتْ telah ada

(there) is
لَكُمْ bagi kalian

for you
أُسْوَةٌ suri tauladan

an example
حَسَنَةٌ yang baik

good
فِىٓ pada

in
إِبْرَٰهِيمَ Ibrahim

وَٱلَّذِينَ dan orang-orang yang

and those
مَعَهُۥٓ bersamanya

with him,
إِذْ apabila

when
قَالُوا۟ mereka mengatakan

they said
لِقَوْمِهِمْ kepada kaumnya

to their people,
إِنَّا sesungguhnya

"Indeed, we
بُرَءَٰٓؤُا۟ berlepas diri

(are) disassociated
مِنكُمْ dari kamu

from you
وَمِمَّا dan dari apa

and from what
تَعْبُدُونَ kamu sembah

you worship
مِن dari

from
دُونِ selain

besides
ٱللَّهِ Allah

Allah.
كَفَرْنَا kami kafir/ingkar

We have denied
بِكُمْ dengan/untuk kalian

you,
وَبَدَا dan nyata

and has appeared
بَيْنَنَا antara kami

between us
وَبَيْنَكُمُ dan antara kamu

and between you
ٱلْعَدَٰوَةُ permungsuhan

enmity
وَٱلْبَغْضَآءُ dan kebencian

and hatred
أَبَدًا selama-lamanya

forever
حَتَّىٰ hingga

until
تُؤْمِنُوا۟ kamu beriman

you believe

Tafsir

Alquran

Surah Al Mumtahanah
60:4

Tafsir QS. Al Mumtahanah (60) : 4. Oleh Kementrian Agama RI


Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk mencontoh Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman besertanya, ketika ia berkata kepada kaumnya yang kafir dan menyembah berhala,
"Hai kaumku, sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu semua, dan dari apa yang kamu sembah selain Allah."


Kemudian diterangkan bahwa yang dimaksud Ibrahim dengan berlepas diri itu ialah:


1. Nabi Ibrahim mengingkari kaumnya, tidak mengacuhkan tuhan-tuhan mereka, dan tidak membenarkan perbuatan mereka yang menyembah patung-patung yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat kepada siapa pun.
Allah ﷻ berfirman:


يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ وَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ

Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan.

Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.
Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu.

Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. (al-Hajj [22]: 73)


2. Nabi Ibrahim mengatakan bahwa antara dia dengan kaumnya yang ingkar telah terjadi permusuhan dan saling membenci selamanya.
Ibrahim menyatakan akan tetap menentang kaumnya sampai mereka meninggalkan perbuatan syirik.

Jika mereka telah beriman, permusuhan itu baru akan berakhir.


Terhadap ayahnya yang masih kafir, ia tidak mengambil sikap yang tegas seperti sikapnya terhadap kaumnya.

Ia berjanji akan mendoakan agar Allah mengampuni dosa-dosa ayahnya.
Dalam hal ini, Allah melarang kaum Muslimin mencontoh Ibrahim, sekalipun ia akhirnya berlepas tangan pula terhadap ayahnya, setelah nyata baginya keingkaran bapaknya itu.


Benar ada di antara orang yang beriman mendoakan ayah-ayah mereka yang meninggal dalam keadaan musyrik.
Mereka beralasan mencontoh perbuatan Ibrahim itu.
Maka Allah membantah perbuatan mereka:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ .
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ اِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَآ اِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗٓ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُ اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَاَوَّاهٌ حَلِيْمٌ

Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam.
Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya.
Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya.
Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.
(at-Taubah [9]: 113-114)


Selanjutnya Nabi Ibrahim berkata kepada ayahnya bahwa dia tidak mampu menolongnya.
Ia hanya bisa berdoa agar Allah memberi taufik berupa iman kepadanya.

Tafsir QS. Al Mumtahanah (60) : 4. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kalian benar-benar telah mendapatkan teladan baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya, pada saat berkata kepada kaumnya,
"Kami benar-benar putus hubungan dengan kalian dan tuhan-tuhan selain Allah yang kalian sembah.
Kami ingkar kepada kalian.


Antara kita telah terjadi saling bermusuhan dan saling benci, dan tidak akan hilang kecuali jika kalian beriman kepada Allah semata."
Tetapi perkataan Ibrahim kepada bapaknya,
"Aku pasti akan memintakan ampunan untukmu walaupun tidak mempunyai kekuasaan apa-apa atas hal-hal yang akan Allah lakukan,"
tidak termasuk dalam hal yang harus diteladani.


Sebab, Ibrahim mengatakan itu sebelum tahu bahwa ayahnya tetap bersikeras memusuhi Allah.
Setelah Ibrahim tahu hal itu, ia lepas tangan dari ayahnya.


Katakan, wahai orang-orang Mukmin,
"Ya Tuhan kami, hanya kepada-Mu kami bersandar, kembali, dan berpulang di akhirat kelak!"

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Sesungguhnya, telah ada untuk kalian (wahai orang-orang mukmin) suri teladan yang baik pada diri Ibrahim as dan orang-orang mukmin yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada orang-orang yang kafir kepada Allah,
"Sesungguhnya, kami berlepas diri dari kalian dan dari yang kalian sembah selain Allah.
Kami menolak kekafiran kalian dan terlihat betul bahwa antara kami dan kalian ada permusuhan dan kebencian untuk selamanya selama kalian kafir hingga beriman kepada Allah."
Akan tetapi, bukanlah merupakan teladan ketika Ibrahim memintakan ampunan kepada Allah untuk ayahnya, yaitu ketika ia belum mengetahui bahwa bapaknya termasuk musuh Allah.
Ketika telah jelas bahwa ia adalah musuh Allah, Ibrahim pun berlepas diri darinya,
"Ya Allah, kami bersandar hanya kepada-Mu, kami bertobat kepada-Mu, dan hanya kepada-Mu tempat kembali pada hari Kiamat.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Sesungguhnya telah ada suri teladan bagi kalian) lafal uswatun dapat pula dibaca iswatun, artinya teladan atau panutan


(yang baik pada Ibrahim) yakni pada diri Nabi Ibrahim, baik perkataan maupun perbuatannya


(dan pada orang-orang yang bersama dia) dari kalangan orang-orang yang beriman


(ketika mereka berkata kepada kaum mereka,
"Sesungguhnya kami berlepas diri) lafal bura-aa-u adalah bentuk jamak dari lafal barii’un, wazannya sama dengan lafal zharifun yang jamaknya zhurafaa’u


(dari kalian apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkar kepada kekafiran kalian) kami membenci kekafiran kalian


(dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya) lafal wal baghdhaa’u abadan dapat dibaca secara tahqiq dan dapat pula dibaca secara tashil, yakni mengganti huruf hamzah yang kedua menjadi wau


(sampai kalian beriman kepada Allah semata."
Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya,
"Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu) perkataan ini merupakan perkataan yang dikecualikan daripada pengertian suri teladan tadi.
Maka sekali-kali kalian tidak boleh mengucapkan kata penyesalan seperti itu, seumpamanya kalian memohonkan ampunan buat orang-orang kafir.
Dan juga perkataan Nabi Ibrahim berikut ini


(dan aku tiada dapat melindungimu dari Allah) dari siksaan dan pahala-Nya


(barang sedikit pun.") Nabi Ibrahim mengungkapkan kata-kata ini sebagai kiasan, bahwasanya dia tidak memiliki buatnya selain dari memohonkan ampun.
Perkataan ini pun termasuk di antara hal yang dikecualikan untuk tidak boleh diikuti, karena sekalipun pengertian lahiriahnya sebagai ungkapan penyesalan, akan tetapi maksudnya berkaitan dengan pengertian kalimat yang pertama.
Pengertian lahiriah kalimat yang kedua ini sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,
"
Katakanlah! ‘Maka siapakah gerangan yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagi kamu.’"
―QS. Al-Fath [48]: 11―
Permohonan ampun Nabi Ibrahim buat bapaknya ini sebelum jelas bagi Nabi Ibrahim, bahwa bapaknya itu adalah benar-benar musuh Allah, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam surah Al-Bara‘ah atau surah At-Taubah.


("Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.") Kalimat ini termasuk doa yang selalu diucapkan oleh Al-Khalil atau Nabi Ibrahim dan orang-orang beriman yang bersamanya, yakni, mereka mengucapkan kata-kata tersebut.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada hamba-hamba-Nya yang beriman yang telah Dia perintahkan agar mereka memusuhi orang-orang kafir, memerangi mereka, menjauhi mereka, dan berlepas diri dari mereka.

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Yakni para pengikutnya yang beriman kepadanya.

ketika mereka berkata kepada kaum mereka,
"Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu."
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Maksudnya, kami adalah orang-orang yang berlepas diri dari kalian.

dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Yaitu kami ingkari agama dan cara kalian.

dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Artinya, telah diperintahkan adanya permusuhan dan kebencian mulai dari sekarang antara kami dan kalian, selama kalian masih tetap dalam kekafiran kalian.
Maka selamanya kami berlepas diri dari kalian dan benci kepada kalian.

sampai kamu beriman kepada Allah saja.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Yakni sampai kamu mengesakan Allah dan menyembah-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya;
dan kalian tinggalkan semua berhala dan sekutu yang kamu sembah selain Dia.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya,
"Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu."
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Yaitu bagi kamu terdapat suri teladan yang baik pada Ibrahim dan kaumnya yang dapat kalian ikuti, kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya.

Karena sesungguhnya hal itu hanyalah semata-mata karena Ibrahim telah berjanji kepada bapaknya akan memohonkan ampunan baginya kepada Allah.
Tetapi setelah jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka berlepas dirilah ia dari perbuatan bapaknya.

Demikian itu karena pada asal mulanya ada sebagian kaum mukmin yang mendoakan bagi bapak-bapak mereka yang telah mati dalam kemusyrikannya.
Dalam doanya itu mereka memohonkan ampunan bagi bapak-bapak mereka, dengan alasan bahwa Nabi Ibrahim pun pernah memohonkan ampunan bagi bapaknya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman meminta­kan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.
Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu.
Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya.
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.
(QS. At-Taubah [9]: 113-114)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

sampai dengan firman-Nya:

Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya,
"Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah."
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Yakni dalam hal ini tiada suri teladan bagi kamu, yaitu memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, dan Ad-Dahhak serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang perkataan Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia saat mereka memisahkan diri dari kaumnya dan berlepas diri dari mereka, lalu mereka berlindung kepada Allah dan memohon kepada-Nya dengan penuh rendah diri.
Sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:

Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Yakni Kami bertawakal kepada Engkau dalam semua urusan kami, dan kami serahkan kepada Engkau semua urusan kami dan kami berserah diri kepada Engkau dalam semua urusan kami.

dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)


Maksudnya, dikembalikan kelak di negeri akhirat.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir.
(QS. Al-Mumtahanah [60]: 5)

Mujahid mengatakan bahwa makna ayat ialah janganlah Engkau menyiksa kami melalui tangan mereka, jangan pula dengan siksaan dari sisi Engkau.
Karena pada akhirnya mereka (orang-orang kafir) akan mengatakan,
"Seandainya kami berada dalam kebenaran, tentulah kami tidak akan tertimpa siksaan itu."
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak.

Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah Engkau biarkan mereka menang atas kami, karena akibatnya mereka akan memfitnah kami, dan mereka akan berpandangan bahwa sesungguhnya diri mereka menang atas kami hanyalah karena mereka berada dalam kebenaran.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.


Lain halnya menurut riwayat Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah Engkau menjadikan mereka berkuasa atas kami, akibatnya mereka akan memfitnah kami.

Unsur Pokok Surah Al Mumtahanah (الممتحنة)

Surat Al-Mumtahanah terdiri atas 13 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-Ahzab.

Dinamai "Al Mumtahanah" (wanita yang diuji), diambil dari kata "Famtahinuuhunna" yang berarti "maka ujilah rnereka",
yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Hukum:

▪ Larangan mengadakan hubungan persahabatan dengan orang-orang kafir yang memusuhi Islam, sedang dengan orang-orang kafir yang tidak memusuhi Islam boleh mengadakan persahabatan.
Hukum perkawinan bagi orang-orang yang pindah agama.

Kisah:

▪ Kisah Ibrahim `alaihis salam bersama kaumnya sebagai contoh dan teladan bagi orang-orang mukmin.

Audio

QS. Al-Mumtahanah (60) : 1-13 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 13 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Mumtahanah (60) : 1-13 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 13

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Mumtahanah ayat 4 - Gambar 1 Surah Al Mumtahanah ayat 4 - Gambar 2
Statistik QS. 60:4
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mumtahanah.

Surah Al-Mumtahanah (bahasa Arab:الممتحنة, “Perempuan Yang Diuji”) adalah surah ke-60 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 13 ayat.
Dinamakan Al Mumtahanah yang berarti Wanita yang diuji di ambil dari kata “Famtahinuuhunna” yang berarti maka ujilah mereka, yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Nomor Surah60
Nama SurahAl Mumtahanah
Arabالممتحنة
ArtiWanita yang diuji
Nama lainAl-Imtihān, Al-Mawaddah
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu91
JuzJuz 28
Jumlah ruku’2 ruku’
Jumlah ayat13
Jumlah kata325
Jumlah huruf1560
Surah sebelumnyaSurah Al-Hasyr
Surah selanjutnyaSurah As-Saff
Sending
User Review
4.3 (9 votes)
Tags:

60:4, 60 4, 60-4, Surah Al Mumtahanah 4, Tafsir surat AlMumtahanah 4, Quran Al-Mumtahanah 4, Surah Al Mumtahanah ayat 4

▪ tafsir QS 60:4
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Waaqi’ah (Hari Kiamat) – surah 56 ayat 13 [QS. 56:13]

13-16. Ayat-ayat ini menerangkan kenikmatan yang akan mereka terima di surga tersebut. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu beriman kepada Allah dan segolongan kecil dari orang-orang yang … 56:13, 56 13, 56-13, Surah Al Waaqi’ah 13, Tafsir surat AlWaaqiah 13, Quran Al Waqiah 13, AlWaqiah 13, Al-Waqi’ah 13, Surah Al Waqiah ayat 13

QS. Al Waaqi’ah (Hari Kiamat) – surah 56 ayat 59 [QS. 56:59]

58-59. Maka adakah kamu perhatikan, wahai manusia yang ingkar, tentang benih manusia yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya untuk kemudian menjadi manusia utuh, atau Kami yang menciptakannya … 56:59, 56 59, 56-59, Surah Al Waaqi’ah 59, Tafsir surat AlWaaqiah 59, Quran Al Waqiah 59, AlWaqiah 59, Al-Waqi’ah 59, Surah Al Waqiah ayat 59

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam?

Benar! Kurang tepat!

Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.'
--QS. At Taubah [9] : 122

Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama?

Benar! Kurang tepat!

+

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
1. Cerdas.
2. inginan yang kuat.
3. Sabar.
4. Bekal
5. Petunjuk guru.
6. Waktu yang lama.

Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa 'Alaihissalam?

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #28
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #28 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #28 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #12

Nama Ibu susuan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … Anisah Khadijah Raihanah Halimatus Sa’diyah Ummu Salamah Benar! Kurang

Pendidikan Agama Islam #22

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh … qada qadar ketetapan

Pendidikan Agama Islam #15

Tujuan utama diturunkannya Alquran kepada umat manusia adalah … agar manusia selamat dunia dan akhirat agar manusia tahu cara mencari

Instagram