QS. Al Mu’minuun (Orang-orang mukmin) – surah 23 ayat 78 [QS. 23:78]

وَ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡشَاَ لَکُمُ السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَشۡکُرُوۡنَ
Wahuwal-ladzii ansyaa lakumussam’a wal abshaara wal af-idata qaliilaa maa tasykuruun(a);

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati.
Amat sedikitlah kamu bersyukur.
―QS. 23:78
Topik ▪ Cobaan yang dihadapi nabi Nuh as.
23:78, 23 78, 23-78, Al Mu’minuun 78, AlMuminuun 78, Al Mukminun 78, Al-Mu’minun 78

Tafsir surah Al Mu'minuun (23) ayat 78

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu’minuun (23) : 78. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada manusia pendengaran, penglihatan dan hati.
Sekiranya manusia mau memperhatikan dan memikirkan karunia Allah yang tiga macam itu saja yaitu mata, telinga dan hati, niscaya dia akan mengakui betapa besarnya nilai nikmat yang amat ajaib itu, betapa teliti dan halusnya ciptaan-Nya.
Telinga menurut susunan yang amat sederhana kelihatannya itu dapat menangkap berbagai macam suara yang berbeda-beda.
Suara binatang, burung-burung suara yang terjadi pada alam sekitar seperti suara angin yang menderu, suara petir yang mengguntur dan beraneka ragam suara yang ditimbulkan oleh peradaban manusia seperti surra kendaraan dan mesin-mesin, suara musik yang mengalun dan suara nyanyian yang merdu.
Segala macam suara itu dapat dibedakannya satu persatu dan dapatlah dia menentukan sikap terhadap apa yang didengarnya.
Mata dapat menangkap cahaya dan bentuk sesuatu, dapat membedakan berbagai macam warna, dapat melihat keindahan alam, dapat menyelidiki mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya.
Kemudian hati yang dapat merasakan berbagai macam perasaan dan meneliti setiap kejadian serta mengambil kesimpulan darinya, seterusnya menentukan sikap terhadapnya.
Kalau benar-benar manusia mempergunakan alat-alat itu sebaik-baiknya tentulah dia akan mendapat manfaat yang banyak sekali dan akhirnya sampailah kepada suatu kesimpulan bahwa pemberi nikmat dan karunia itu adalah Maha Luas ilmunya.
Maha kuasa atas segala sesuatu, Dia patut dipuji dan disyukuri atas segala anugerah-Nya itu.
Tetapi ternyata sedikit sekali manusia yang sampai kepada derajat itu.
Seperti yang difirmankan Allah:

Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.
(Q.S.
Al Ahqaf: 26)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Bagaimana kalian dapat mengingkari Allah padahal Dialah yang menciptakan pendengaran agar kalian dapat mendengar kebenaran, menciptakan penglihatan agar kalian dapat memperhatikan dan mengamati alam raya dengan segala isinya, dan menciptakan pikiran agar kalian dapat mengetahui kemahaagungan- Nya, sehingga kalian beriman?
Kalian benar-benar tidak mensyukuri Sang Penciptanya dengan beriman dan taat kepada-Nya, kecuali sangat sedikit.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Dialah Yang menciptakan) yang menjadikan (bagi kamu sekalian pendengaran) lafal As Sam’u maknanya Al Asmaa’, dalam bentuk jamak (penglihatan dan kalbu) hati.

(Amat sedikitlah) lafal Maa mengukuhkan makna yang terkandung dalam lafal Qaliilan (kalian bersyukur).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dia-lah yang telah menciptakan untuk kalian pendengaran agar bisa mendengar, menciptakan penglihatan agar bisa melihat dan hati agar kalian bisa berfikir.
Namun, rasa syukur kalian terhadap kenikmatan-kenikmatan tersebut amat sedikit sekali.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Amat sedikitlah kalian bersyukur.

Artinya alangkah sedikitnya syukur kalian kepada Allah atas semua nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada kalian.
Sama pengertiannya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain:

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.
(Yusuf:103)

Kemudian Allah §wt.
menyebutkan tentang kekuasaan-Nya Yang Maha­besar dan pengaruh-Nya Yang Mahaperkasa terhadap makhluk-Nya, bahwa Dialah yang telah menciptakan mereka dan menyebarkan mereka ke segala penjuru dunia dengan berbagai macam bangsa, bahasa, dan sifat-sifat mereka.
Kemudian pada hari kiamat Dia akan menghimpunkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian dari mereka di suatu tempat yang telah dimaklumi pada hari yang tertentu.
Maka tiada seorang pun dari mereka yang tertinggal, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang laki-laki maupun perempuan, baik yang terhormat maupun yang hina, semuanya dihidupkan kembali sebagaimana penciptaan semula.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Mu'minuun (23) Ayat 78

AF’IDAH
أَفْـِٔدَة

Lafaz ini berbentuk jamak dan mufradnya adalah al fuad yang berarti al qalb yaitu hati atau jantung.

Menurut Al Lihyani, lafaz ini adalah mudzakkar dan tidak ada mu’annats, al qalb berada di dalam diri manusia dan makhluk lainnya seperti hewan yang memiliki jantung atau hati. Al fuad berada di relung hati (lubuknya), dikatakan al fu’aad bermakna penutup hati dan ia menjadi sanubarinya.

Dalam sebuah hadis dijelaskan:
“Akan datang kepada kamu ahli Yaman dimana halus sanubari mereka dan lembut hati mereka”

Ia juga bermakna jantung dan lelaki maf’ud artinya lelaki penakut yang lemah jantungnya seperti orang kurus dan lemah.

Dalam Kamus Al Munjid, kata al fu’aad digunakan juga untuk menunjukkan akal.

Kata af’idah disebut sebanyak 11 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 110, 113;
-Ibrahim (14), ayat 37, 43;
-An Nahl (16), ayat 78;
-Al Mu’minuun (23), ayat 78;
-As Sajadah (32), ayat 9;
-Al Ahqaaf (46), ayat 26;
-Al Mulk (67), ayat 23;
-Al Humazah (104), ayat 7.

Sa’id Hawwa menukilkan dari An Nasafi dalam menafsirkan ayat 7 dari surah Al Humazah, api yang dinyalakan itu masuk ke dalam diri mereka sehingga masuk ke dada-dada mereka dan naik menjulang ke fuad mereka. Fuaad itu adalah relung hati, tidak ada sesuatu yang paling lembut dalam badan manusia selain daripada fuad dan tidak ada yang paling dahsyat sakitnya selain daripada fu’ad ketika ditimpa penyakit. Maka, bagaimana apabila api neraka naik menjulang ke atasnya dan membakarnya.

Dikatakan, dikhususkan af’idah di sini karena ia adalah tempat tertanam kekufuran dan akidah yang rusak. Az Zamakhsyari menafsirkan ayat 110 dari surah Al­ An’aam, Sedangkan pada ayat 113 dari surah yang sama, beliau menafsirkan af’idah dengan hati orang kafir.

Al Qurtubi menafsirkan kata af’idah pada ayat 37 dari surah Ibrahim dengan hati karena diungkapkan tentang hati sebelumnya dengan menggunakan kata fu’aad dan dikaitkan pula af’idah disini dengan kata kerja tahwi yang bermakna cenderung dan mau. Sedangkan dalam ayat 43, beliau menukilkan pandangan Ibn Abbas yang mengatakan makna af’idatuhum hawaa’ adalah hati sanubari mereka itu kosong dari kebaikan.

Kesimpulannya, kata af’idah dalam bentuk jamak pada ayat-ayat ini lebih banyak dikaitkan dengan penglihatan dan pendengaran dan disudahi setiap ayat dengan menerangkan manusia kebanyakannya kufur dan ingkar. Semua pendapat ulama saling berkaitan. Af’idah bermakna lubuk hati atau sanubari. Ia adalah tempat tertanamnya keimanan dan kekufuran.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:22-23

Informasi Surah Al Mu'minuun (المؤمنون)
Surat Al Mu ‘minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamai “Al Mu’minuun”,
karena permulaan surat ini menerangkan bagaimana seharus­nya sifat-sifat orang mu’min yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan keten­ teraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad ﷺ

Keimanan:

Kepastian hari berbangkit dan hal-hal yang terjadi pada hari kiamat
Allah tidak memerlukan anak atau sekutu.

Hukum:

Manusia dibebani sesuai dengan kesanggupannya
rasul-rasul semuanya menyuruh manusia memakan makanan yang halal lagi baik
pokok-pokok agama yang dibawa para nabi adalah sama, hanya syariatnya yang berbeda

Kisah:

Kisah Nuh a.s.
kisah Hud a.s.
kisah Musa a.s. dan Harun a.s.
kisah Isa a.s.

Lain-lain:

Tujuh perkara yang harus dipenuhi oleh seorang mu’min yang ingin mendapat keberuntungan hidup di dunia maupun di akhirat
proses kejadian manusia
tanda­-tanda orang yang bersegera kepada kebaikan
ni’mat Allah yang dianugerahkan kepada manusia wajib disyukuri.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Mu'minuun (23) ayat 78 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Mu'minuun (23) ayat 78 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Mu'minuun (23) ayat 78 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Mu'minuun - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 118 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 23:78
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mu'minuun.

Surah Al-Mu'minun (Arab: المؤمنون‎, "Orang-Orang Yang Beriman") adalah surah ke-23 dari al-Qur'an, surah ini terdiri atas 118 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Mu'minun, karena permulaan ayat ini menerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.

Nomor Surah23
Nama SurahAl Mu'minuun
Arabالمؤمنون
ArtiOrang-orang mukmin
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu74
JuzJuz 18
Jumlah ruku'6 ruku'
Jumlah ayat118
Jumlah kata1055
Jumlah huruf4486
Surah sebelumnyaSurah Al-Hajj
Surah selanjutnyaSurah An-Nur
4.6
Ratingmu: 4.8 (14 orang)
Sending







Pembahasan ▪ Makna keterangan almukminun ayat 78 ▪ qs 23:78

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta