QS. Al Mu’minuun (Orang-orang mukmin) – surah 23 ayat 53 [QS. 23:53]

فَتَقَطَّعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ بَیۡنَہُمۡ زُبُرًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ
Fataqath-tha’uu amrahum bainahum zuburan kullu hizbin bimaa ladaihim farihuun(a);

Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan.
Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).
―QS. 23:53
Topik ▪ Istighfar para Nabi as.
23:53, 23 53, 23-53, Al Mu’minuun 53, AlMuminuun 53, Al Mukminun 53, Al-Mu’minun 53

Tafsir surah Al Mu'minuun (23) ayat 53

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu’minuun (23) : 53. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian pada ayat ini Allah menerangkan bahwa umat para Rasul itu telah menyeleweng dari ajaran mereka sehingga mereka terpecah belah menjadi beberapa golongan, masing-masing golongan menganggap bahwa golongannyalah yang benar, sedang golongan yang lain adalah salah.
Memang demikianlah didapat dalam sejarah agama agama samawi yang dibawa para Nabi dan Rasul.
Pada mulanya agama-agama itu tetap suci dan murni tak sedikitpun dimasuki oleh dasar-dasar syirik, tetapi dengan berangsur-angsur sedikit demi sedikit paham tauhid yang murni itu telah dimasuki oleh paham-paham lain yang berbau syirik atau telah menyimpang sama sekali dari dasar tauhid sehingga jatuhlah manusia ke jurang kesesatan bahkan ada di antara manusia yang menyembah manusia, menyembah binatang dan benda-benda seperti patung dan berhala.
Namun demikian kita dapat mengetahui suci dan murninya suatu agama dengan berpegang teguh kepada norma yang pasti yaitu paham tauhid.
Bila dalam agama itu tidak terdapat sedikitpun penyimpangan dari dasar tauhid maka agama itu, pastilah agama yang asli dan murni.
Tetapi bila terdapat di dalamnya paham yang menyimpang dari dasar itu, yakinilah bahwa agama itu telah tidak murni lagi dan telah kemasukan paham-paham yang sesat.
Paham-paham yang sesat inilah yang tetah dianut oleh kaum musyrikin Mekah sekalipun mereka mendakwakan bahwa mereka adalah pengikut Nabi Ibrahim.
Mereka telah jauh tersesat dari ajaran Nabi Ibrahim, tetapi mereka tetap membanggakan bahwa agama merekalah yang benar walaupun yang mereka sembah adalah benda-benda mati yang tidak bermanfaat sedikitpun dan tidak pula berdaya menolak suatu kemudaratan.
Maka mereka menentang dengan keras ajaran tauhid yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ dan mengancam akan bertindak tegas terhadap siapa saja yang menentang mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Umat manusia kemudian memutus kesatuan agama itu.
Mereka ada yang mendapat petunjuk, ada juga yang tersesat, yang mengikuti kecenderungan hawa nafsu.
Akibatnya, mereka terpecah belah menjadi beberapa kelompok yang saling bermusuhan.
Masing-masing kelompok merasa senang dan puas dengan apa yang ada padanya, dan menyangka bahwa hanya dialah yang benar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian mereka memecah belah) para pengikut Rasul itu (perkara mereka) yakni agama mereka (menjadi beberapa pecahan di antara mereka) lafal Zuburan ini menjadi Hal dari Fa’ilnya lafal Taqaththa’uu, artinya, menjadi sekte-sekte yang bertentangan, seperti yang terjadi di kalangan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani serta lain-lainnya.

(Tiap-tiap golongan terhadap apa yang ada pada sisi mereka) agama yang mereka pegang (merasa bangga) merasa puas dan gembira.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian pengikut-pengikut agama para Rasul itu menjadi beberapa golongan dan kelompok.
Mereka menjadikan agama terpecah belah menjadi beberapa aliran padahal mereka diperintahkan untuk bersatu.
Tiap-tiap kelompok merasa bangga dengan pendapatnya dan menyangka dirinya berada di atas kebenaran, sedangkan yang lain di dalam kesalahan.
Di dalam ayat ini terkandung ancaman keras dari berkelompok-kelompok dan berpecah belah di dalam agama.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa golongan.

Yakni umat para nabi yang diutus itu terpecah belah.

Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).

Maksudnya, merasa bangga dengan kesesatannya karena mereka menduga bahwa diri mereka berada dalam petunjuk.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Mu'minuun (23) Ayat 53

HIZB
حِزْب

Lafaz hizb adalah bentuk tunggal yang bentuk jamaknya adalah ahzaab.

Dalam bahasa Arab ia digunakan untuk menunjukkan beberapa makna yaitu:
(1) Sekumpulan manusia yang hatinya bersatu dan tingkah lakunya sama meskipun antara mereka tidak saling bertemu;
(2) Wirid atau bacaan seperti bacaan Al Qur’an dan shalawat yang dibaca seseorang secara rutin dinamakan al hizbu.
(3) Bahagian,
(4) Aliran air.

Di dalam Al Qur’an, lafaz ini dalam bentuk tunggal (mufrad) diulang sebanyak delapan kali yaitu dalam surah:
-Al Maa’idah (5), ayat 56;
-Al Mu’minuun (23), ayat 53;
-Ar Rum (30), ayat 32;
-Faathir (35), ayat 6;
Al Mujaadalah (58), ayat 19 (dua kali), ayat 22 (dua kali).

Dalam bentuk ganda (mutshanna) jizbain diulang hanya sekali saja yaitu dalam surah Al Kahfi (18), ayat 12.

Dan dalam bentuk jamak diulang 11 kali yaitu dalam surah:
-Hud (11), ayat 17;
-Ar Ra’d (13), ayat 36;
-Maryam (19), ayat 37;
-Al Ahzab (33), ayat 20 (dua kali), ayat 22;
-Shad (38), ayat 11, ayat 13;
-Al Mu’min (40), ayat 5, ayat 30;
-Az Zukhruuf (43), ayat 65.

Sedangkan makna hizbu syaithaan ialah kelompok orang yang mengikuti kehendak syaitan yaitu orang kafir dan munafik. Dalam ayal-ayat itu diterangkan beberapa sifat hizbu syaithaan yaitu orang yang dilalaikan oleh dunia sehingga tidak mau mengingati Allah; menentang Allah dan rasul Nya, suka berkasih-sayang dengan orang yang me­nentang Allah dan rasul Nya. Kelompok orang seperti ini ditetapkan sebagai orang yang rugi karena mereka diperdaya oleh bujuk rayu syaitan yang mengajak mereka masuk ke dalam neraka.

Bentuk ganda (mutsanna) yang ada dalam surah Al Kahfi (18), ayat 12 bermakna kaum Ashabul Kahfi yang terpecah menjadi dua kelompok dan saling berdebat dalam menentukan lamanya mereka tidur di dalam gua. Diantara mereka ada yang mendapat petunjuk dengan kejadian yang dahsyat ini dan ada juga yang tersesat dari kebenaran.

Sedangkan lafaz al ahzaab dalam bentuk jamak digunakan untuk menunjukkan ke­lompok orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah, mendustakan dan memerangi para nabi, baik nabi-nabi terdahulu maupun Nabi Muhammad. Kesemua ke­lompok ini mempunyai nasib yang sama yaitu mereka dikalahkan, baik kalah dalam pe­perangan atau hancur binasa karena azab dan di akhirat nanti mereka semua akan disiksa di neraka.

Dalam surah Shad (38), ayat 13 dan surah Al Mu’min (40), ayat 5, 30, lafaz al ahzaab digunakan untuk menunjukkan kaum kafir terdahulu yaitu kaum Nuh, ‘Ad, Fir’aun, Tsamud, Luth dan Ashabul Aikah. Mereka semua adalah kaum yang menentang kebenaran, mendustakan dan memerangi para rasul yang diutus kepada mereka. Akhirnya, mereka semua diazab oleh Allah dengan berbagai jenis azab yang dahsyat dan pedih.

Sedangkan lafaz al ahzaab dalam surah Maryam (19), ayat 37 dan surah Az Zukhruuf (43), ayat 65 merujuk kepada kelompok yang berbeda pendapat mengenai kedudukan Nabi ‘Isa seperti kelompok dalam agama Yahudi dan Nasrani. Sebahagian dari mereka mengatakan ‘Isa adalah Allah, sebahagian yang lain mengatakan beliau adalah anak Allah, ada juga yang mengatakan ‘Isa ada­lah salah satu dari tiga kesatuan (triniti), malah ada yang mengatakan ‘Isa adalah anak hasil zina. Mereka semua akan mendapatkan kecelakaan yang besar karena di akhirat nanti mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.

Lafaz al ahzaab dalam surah Hud (11) ayat 17 dan surah Ar Ra’d (13) ayat 36 merujuk kepada kelompok orang yang tidak beriman kepada Al Qur’an.

Ketika men­afsirkan surah Hud (11), ayat 17, Imam Ibn Katsir berkata,
“Maksudnya adalah semua penduduk bumi yang mengenal Al Qur’an, namun mereka tidak mau mempercayainya baik mereka adalah orang musyrik, kafir, Ahli Kitab maupun keturunan anak Adam lainnya dari berbagai jenis warna kulit dan rupa.”

Ketika mentafsirkan surah Ar­ Ra’d (13), ayat 36, beliau berkata,
“Diantara kelompok manusia ada yang mendustakan sebahagian wahyu yang turun kepadamu (Muhammad).

Imam Mujahid mengata­kan mereka adalah sebahagian Yahudi dan Nasrani yang tidak mempercayai kebenaran yang datang kepadamu (Muhammad). Imam Qatadah dan Imam ‘Abdur aRahman bin Zaid bin Aslam juga berpendapat demikian” Dalam ayat itu ditegaskan, Allah berjanji memasuk­kan mereka ke dalam neraka.

Sedangkan al ahzaab dalam surah Al­ Ahzab (33), ayat 20, 22 dan surah Shad (38), ayat 11 maksudnya kelompok yang bersekutu untuk menyerang dan menghancurkan umat Islam sewaktu Perang Ahzab atau Khandaq. Mereka begitu kuat dan jumlahnya banyak. Mereka terdiri dari Bani Ghatafan yang dipimpin oleh Malik bin ‘Auf dan ‘Uyainah bin Hisan Al Fazari, Bani Asad yang dipimpin oleh Tulaihah bin Khuwailid; penduduk Makkah dan kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan, Yazid bin Khalf dan Al-A’war Al­ Sulami dan juga kaum Yahudi Bani Quraizah yang dipimpin oleh Hayi bin Akhtab. Mereka semua mengepung bala tentara muslimin yang berada di Madinah dari berbagai arah.

Para sahabat yang kuat imannya meng­hadapi peperangan ini dengan penuh keyakinan, sedangkan orang munafik mencari alasan untuk menghindarkan diri dari peperangan. Akhirnya, musuh Islam yang kuat dan banyak itu tidak berhasil karena Allah mengirim angin besar yang memporak­ poranda dan menghancurkan kekuatan mereka sehingga mereka pulang dengan hampa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:197-200

Informasi Surah Al Mu'minuun (المؤمنون)
Surat Al Mu ‘minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamai “Al Mu’minuun”,
karena permulaan surat ini menerangkan bagaimana seharus­nya sifat-sifat orang mu’min yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan keten­ teraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad ﷺ

Keimanan:

Kepastian hari berbangkit dan hal-hal yang terjadi pada hari kiamat
Allah tidak memerlukan anak atau sekutu.

Hukum:

Manusia dibebani sesuai dengan kesanggupannya
rasul-rasul semuanya menyuruh manusia memakan makanan yang halal lagi baik
pokok-pokok agama yang dibawa para nabi adalah sama, hanya syariatnya yang berbeda

Kisah:

Kisah Nuh a.s.
kisah Hud a.s.
kisah Musa a.s. dan Harun a.s.
kisah Isa a.s.

Lain-lain:

Tujuh perkara yang harus dipenuhi oleh seorang mu’min yang ingin mendapat keberuntungan hidup di dunia maupun di akhirat
proses kejadian manusia
tanda­-tanda orang yang bersegera kepada kebaikan
ni’mat Allah yang dianugerahkan kepada manusia wajib disyukuri.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Mu'minuun (23) ayat 53 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Mu'minuun (23) ayat 53 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Mu'minuun (23) ayat 53 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Mu'minuun - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 118 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 23:53
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mu'minuun.

Surah Al-Mu'minun (Arab: المؤمنون‎, "Orang-Orang Yang Beriman") adalah surah ke-23 dari al-Qur'an, surah ini terdiri atas 118 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Mu'minun, karena permulaan ayat ini menerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia.
Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.

Nomor Surah 23
Nama Surah Al Mu'minuun
Arab المؤمنون
Arti Orang-orang mukmin
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 74
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 118
Jumlah kata 1055
Jumlah huruf 4486
Surah sebelumnya Surah Al-Hajj
Surah selanjutnya Surah An-Nur
4.5
Ratingmu: 4.7 (27 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta