QS. Al Mu’min (Orang yang Beriman) – surah 40 ayat 51 [QS. 40:51]

اِنَّا لَنَنۡصُرُ رُسُلَنَا وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ یَوۡمَ یَقُوۡمُ الۡاَشۡہَادُ
Innaa lananshuru rusulanaa waal-ladziina aamanuu fiil hayaatiddunyaa wayauma yaquumul asyhaad(u);

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),
―QS. 40:51
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala
40:51, 40 51, 40-51, Al Mu’min 51, AlMumin 51, Al Mukmin 51, AlMukmin 51, Al-Mu’min 51

Tafsir surah Al Mu'min (40) ayat 51

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mu’min (40) : 51. Oleh Kementrian Agama RI

Mohon maaf.
Tafsir belum tersedia

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya Kami pasti akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang Mukmin dengan memberikan balasan kepada musuh-musuh mereka dan menguatkan alasan terhadap mereka, di dunia dan pada hari kiamat.
Suatu hari ketika para saksi akan memberikan persaksiannya bahwa rasul-rasul itu telah menyampaikan misi tablignya dan bahwa orang-orang kafir itu mendustakan para rasul.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi) yaitu hari kiamat.

Lafal Al-Asyhaad adalah bentuk jamak dari lafal Syaahidun, para saksi tersebut adalah malaikat-malaikat yang memberikan kesaksian bagi para rasul, bahwasanya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-Nya dan mereka mendustakan orang-orang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Abu Ja’far ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah pertanyaan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia.
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 50) Yaitu bahwa telah dimaklumi sebagian dari para nabi itu telah dibunuh oleh kaumnya, seperti Nabi Yahya, Nabi Zakaria, dan Nabi Sya’ya; ada pula yang diusir oleh kaumnya keluar dari kalangan mereka; adakalanya hijrah ke negeri lain, seperti Nabi Ibrahim; dan adakalanya diangkat ke langit, seperti Isa.
Lalu manakah yang dimaksud dengan pertolongan yang dijanjikan oleh ayat ini dalam kehidupan dunia?

Untuk menjawab per­tanyaan ini, ada dua jawaban, seperti yang akan dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, berita yang menyatakan terbunuhnya sebagian nabi itu me­rupakan pengecualian dari hal yang umum, karena kejadiannya hanya menimpa sebagian kecil saja.
Dan hal ini diperbolehkan menurut kaidah bahasa.

Kedua, yang dimaksud dengan ‘pertolongan’ ialah menimpakan pembalasan bagi mereka dari orang-orang yang menyakiti mereka, apakah pembalasan ini terjadi saat mereka ada di tempat, ataukah saat mereka telah pergi atau sesudah mereka mati, seperti yang dilakukan terhadap para pembunuh Nabi Yahya, Nabi Zakaria, dan Nabi Sya’ya.
Allah menguasakan diri mereka kepada orang-orang yang menghina dan mengalirkan darah mereka dari kalangan musuh-musuh mereka.
Telah disebutkan pula bahwa Raja Namrud diazab oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan azab yang datang dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.
Sedangkan orang-orang yang menjerumuskan Al-Masih untuk disalib dari kalangan orang-orang Yahudi, Allah menguasakan diri mereka kepada bangsa Romawi, maka bangsa Romawi menindas mereka dan menjadikan mereka hina serta menjadikan musuh mereka menang atas diri mereka.

Kemudian sebelum hari kiamat Isa akan turun sebagai pemimpin dan hakim yang adil.
Maka Al-Masih membunuh Dajjal dan bala tentaranya dari kalangan orang-orang Yahudi, lalu dibunuhnya semua babi, semua salib dia hancurkan, dan upeti (pajak) ditiadakan, maka ia tidak mau menerima selain Islam.

Ini merupakan pertolongan yang besar, dan demikianlah sunnah Allah pada makhluk-Nya sejak masa dahulu hingga sekarang.
Yaitu bahwa Dia akan menolong hamba-hamba-Nya yang beriman di dunia dan menjadikan mereka senang atas pembalasan yang telah menimpa orang-orang yang telah menyakiti mereka.

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan sebuah hadis melalui Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Barang siapa yang memusuhi kekasih-Ku, berarti dia terang-terangan menantang-Ku untuk perang.”

Di dalam hadis yang lain disebutkan:

Sesungguhnya Aku benar-benar akan membalaskan buat kekasih-kekasih-Ku sebagaimana singa medan perang membalas dendam.

Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala membinasakan kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, para pemilik sumur Rass, kaum Lut, dan penduduk negeri Madyan serta orang-orang yang semisal dengan mereka dari kalangan orang-orang yang mendustakan para rasul dan menentang kebenaran.
Dan Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kaum mukmin dari kalangan mereka, sehingga tiada seorang pun dari kaum mukmin yang binasa, sedangkan Dia mengazab semua orang kafir sampai ke akar-akarnya tanpa ada seorang pun dari mereka yang luput.

As-Saddi mengatakan bahwa tidak sekali-kali Allah mengutus seorang rasul kepada suatu kaum, lalu kaum ini membunuhnya —atau ada suatu kaum mukmin yang menyeru kepada perkara yang hak, lalu kaumnya membunuh mereka hingga mereka semuanya binasa— melainkan Allah akan membangkitkan bagi mereka orang-orang yang membalaskan dendam mereka.
Kemudian orang-orang yang dibangkitkan oleh Allah itu menuntut darah mereka dari orang-orang yang telah membunuh mereka, yang hal ini terjadi dalam kehidupan dunia.

As-Saddi melanjutkan bahwa para nabi dan kaum mukmin banyak yang dibunuh di dunia, dan mereka mendapat pertolongan (dari Allah) padanya (di dunia).
Demikian pulalah Allah subhanahu wa ta’ala menolong rasul-Nya (Nabi Muhammad ﷺ) dan para sahabatnya dalam menghadapi orang-orang yang menentangnya, menghalang-halanginya, mendustakannya, dan memusuhinya.
Kemudian Allah menjadikan kalimahnya adalah yang tertinggi dan agamanya muncul di atas agama yang lainnya.
Lalu Allah memerintahkan kepadanya untuk hijrah dari kalangan kaum musyrik ke Madinah.
Dan Allah menjadikan baginya di dalam kota Madinah orang-orang yang menolongnya dan mendukungnya secara penuh.
Kemudian Allah menganugerahkan kepadanya pasukan kaum musyrik pada hari Perang Badar, maka Allah memenangkannya atas mereka dan mengalahkan mereka, membunuh para pemimpinnya dan menawan kaum hartawannya, lalu mereka digiring (ke Madinah) dalam keadaan terbelenggu.
Sesudah itu Rasulullah ﷺ menganugerahkan kepada mereka pembebasan dengan tebusan yang harus dibayar oleh mereka.

Selang beberapa tahun kemudian Allah menaklukkan untuknya kota Mekah, sehingga senanglah hatinya karena kota kelahirannya (yaitu tanah suci) telah jatuh ke tangannya, dan Allah menyelamatkan kota suci dari kekufuran dan kemusyrikan yang telah membudaya sebelumnya.
Sesudah itu Allah menaklukkan negeri Yaman dan tunduklah semua Jazirah Arabia kepadanya, dan manusia mulai memasuki agama Allah secara berbondong-bondong.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkannya untuk kembali ke sisi-Nya karena ia mempunyai kedudukan yang terhormat di sisi-Nya.
Lalu Allah menjadikan para sahabatnya sebagai khalifahnya sepeninggalnya, dan mereka menyampaikan agama Allah kepada manusia sebagai ganti beliau, dan menyeru manusia untuk menyembah Allah subhanahu wa ta’ala Mereka telah berhasil membuka banyak negeri dan daerah-daerah, kawasan-kawasan serta kota-kota besar, sehingga dakwah Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia, belahan timur dan belahan baratnya.

Selanjutnya agama Islam ini tetap tegak dalam keadaan diberi pertolongan oleh Allah dan dimenangkan sampai hari kiamat terjadi.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 51) Yakni kelak pada hari kiamat kemenangan yang diperoleh akan lebih besar dan lebih agung serta lebih mulia.

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan asyhad ialah para malaikat.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Mu'min (40) Ayat 51

ASYHAAD
أَشْهَٰد

Lafaz ini adalah jamak asy syahid seperti kata nashir jamaknya anshar, sahib jamaknya ashab maknanya malaikat yang menyampaikan apa yang disaksikan. Ia juga bermakna lidah sebagaimana ungkapan:

maa lahuu ra’yu walaa syahiid

Maksudnya, “dia tidak mempunyai pandangan dan tidak pula punya Iisan.” la juga bermakna sesiapa yang melaksanakan penyaksian atau dalil. Salat asy ­syaahid adalah shalat Maghrib karena ia adalah shalat yang dikerjakan ketika bintang-bintang muncul dan shalat fajr karena seorang musafir menunaikannya seakan-akan seperti orang tempatan (syahid) yang tidak boleh mengqasarkannya.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah
-Hud (11 ), ayat 18;
-Al Mu’min (40), ayat 51.

Ibn Manzur berkata,
“Lafaz asyhaad dalam ayat itu bermakna para malaikat.”

Pendapat lain mengatakan ia adalah para nabi dan orang yang beriman yang menjadi saksi ke atas pendusta-pendusta Muhammad.

Dalam surah Al Mu’min, asyhaad bermakna malaikat sebagaimana yang diriwayatkan dari Mujahid.

Rasyid Rida berpendapat, penafsiran asyhaad dalam surah Al Mu’min adalah orang yang melaksanakan perintahnya dari kalangan malaikat, para nabi dan rasul serta orang beriman supaya menyaksikan atau menjadi saksi ke atas mereka (orang kafir).

Begitu juga dengan penafsiran Az Zamakhsyari, ia bermakna penjaga-­penjaga dari kalangan para malaikat, para nabi dan orang beriman dari umat Muhammad yang bertugas sebagai orang yang memberi keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah)

Kesimpulannya, lafaz asyhaad bermakna para malaikat, nabi dan orang beriman sebagai saksi atas orang kafir.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:77

Informasi Surah Al Mu'min (المؤمن)
Surat Al Mu’min terdiri atas 85 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturun­ kan sesudah surat Az Zumar.

Dinamai “Al Mu’min” (Orang yang beriman), berhubung dengan perkataan “mu’min” yang terdapat pada ayat 28 surat ini.
Pada ayat 28 diterangkan bahwa salah seorang dari kaum Fir ‘aun telah beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dengan menyembunyikan imannya kepada kaumnya, setelah mendengar keterangan dan melihat mu’jizat yang dikemukakan oleh Nabi Musa ‘alaihis salam hati kecil orang ini mencela Fir’aun dan kaumnya yang tidak mau beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, sekalipun telah dikemukakan keterangan dan mu ‘jizat yang diminta mereka.

Dinamakan pula “Ghafir” (yang mengampuni), karena ada hubungannya dengan kalimat “Ghafir” yang terdapat pada ayat 3 surat ini.

Ayat ini mengingatkan bahwa ”Maha Pengampun” dan ”Maha Penerima Taubat” adalah sebagian dari sifat-sifat Allah, karena itu hamba-hamba Allah tidak usah khawatir terhadap perbuatan-perbuatan dosa yang telah terlanjur mereka la­kukan, semuanya itu akan diampuni Allah asal benar-benar memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dan berjanji tidak akan mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa itu lagi.

Dan surat ini dinamai “Dzit Thaul” (Yang Mempunyai Kurnia) karena perkataan tersebut ter­ dapat pada ayat 3.

Keimanan:

Sifat-sifat malaikat yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekitarnya
dalil-dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah
sifat-sifat Allah yang menunjukkan kebesar­an dan keagungan-Nya
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu
bukti-bukti yang menunjukkan adanya hari berbangkit.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Musa a.s dengan Fir’aun

Lain-lain:

Al Qur’anul karim dan sikap orang-orang mu’min dan orang-orang kafir terhadap­nya
permohonan orang-orang kafir supaya dikeluarkan dari neraka
peringatan kepada orang-orang musyrik tentang kedahsyatan hari kiarnat
anjuran bersabar dalam menghadapi kaum musyrikin
ni’mat-ni’mat Allah yang terdapat di daratan dan lautan
janji Rasulullah ﷺ bahwa orang-orang mu’min akan menang ter­hadap musuhnya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Mu'min (85 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 51 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 51 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Mu'min (40) ayat 51 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Mu'min - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 85 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 40:51
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mu'min.

Surah Al-Mu'min (Arab: المؤمن ,"Orang Yang Beriman") atau Surah Ghafir (Arab: غافر ) adalah surah ke-40 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 85 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan setelah surah Az-Zumar dan memiliki 3 nama yaitu Al-Mu'min, Ghafir, dan At-Tawl.

Nomor Surah 40
Nama Surah Al Mu'min
Arab المؤمن
Arti Orang yang Beriman
Nama lain Mukmin, Thaul, Ha Mim, Ghafir, At-Tawl atau Zit Tawl, Ha Mim al-Mu'min
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 60
Juz Juz 24
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 85
Jumlah kata 1228
Jumlah huruf 5109
Surah sebelumnya Surah Az-Zumar
Surah selanjutnya Surah Fussilat
4.5
Ratingmu: 4.9 (29 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs ghafir 23 24

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim