QS. Al Mulk (Kerajaan) – surah 67 ayat 15 [QS. 67:15]

ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَ لَکُمُ الۡاَرۡضَ ذَلُوۡلًا فَامۡشُوۡا فِیۡ مَنَاکِبِہَا وَ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِہٖ ؕ وَ اِلَیۡہِ النُّشُوۡرُ
Huwal-ladzii ja’ala lakumul ardha dzaluulaa faamsyuu fii manaakibihaa wakuluu min rizqihi wa-ilaihinnusyuur(u);

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.
Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
―QS. 67:15
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Kebenaran hari penghimpunan ▪ Penghimpunan manusia dan keadaan mereka
67:15, 67 15, 67-15, Al Mulk 15, AlMulk 15, Al-Mulk 15

Tafsir surah Al Mulk (67) ayat 15

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Mulk (67) : 15. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan nikmat Allah yang tiada terhingga yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia, dengan menyatakan bahwa Allah telah menciptakan bumi dan memudahkannya untuk mereka, sehingga mereka dapat mengambil manfaat yang tidak terhingga untuk kepentingan hidup mereka.
Dia menciptakan bumi itu bundar dan melayang-layang di angkasa luas.
Manusia tinggal di atasnya seperti berada di tempat yang datar terhampar, tenang, dan tidak bergoyang.
Dengan perputaran bumi terjadilah malam dan siang, sehingga manusia dapat berusaha pada siang hari dan beristirahat pada malam hari.

Bumi memancarkan sumber-sumber mata air, yang mengalirkan air untuk diminum manusia dan binatang ternak peliharaannya.
Dengan air itu pula manusia mengairi kebun-kebun dan sawah-sawah mereka, demikian pula kolam-kolam tempat mereka memelihara ikan.
Dengan air itu pula mereka mandi membersihkan badan mereka yang telah kotor, sehingga mereka merasa segar dan nyaman.
Diciptakan-Nya pula bukit-bukit, lembah-lembah, gunung-gunung yang menghijau yang menyejukkan hati orang yang memandangnya.
Dari celah-celah bukit itu mengalirlah sungai-sungai dan di antara bukit-bukit dan lembah-lembah itu manusia membuat jalan-jalan yang menghubungkan suatu negeri dengan negeri yang lain.

Alangkah banyaknya nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada manusia.
Seandainya Allah menahan suatu nikmat saja kepada manusia, misalnya tidak memberikan udara yang akan dihirup, manusia akan mengalami penderitaan yang sangat.
Siapakah yang dapat mengingkari nikmat Allah yang demikian banyaknya itu?

Menurut para saintis, bumi yang diseliputi atmosfer sangat dinamis.
Proses-proses geologi yang mencakup dari proses erosi, pengendapan, naik-turun muka laut, gempa bumi, pergerakan magma, sampai ke letusan gunung api dalam rentang waktu jutaan tahun telah memungkinkan terjadinya cebakan-cebakan mineral maupun energi.
Di bagian lain, laut dan atmosfer pun tak kalah dinamisnya.
Interaksinya dengan daratan dan perjalanannya bersama bulan mengitari matahari membentuk iklim dan musim.
Proses-proses dinamis yang melibatkan daratan-laut dan atmosfer tersebut memungkinkan terjadinya siklus hidrologi yang pada gilirannya menurunkan hujan dan menyebabkan kesuburan tanah serta terbentuknya cadangan air baik di danau, sungai maupun dalam tanah.
Oksigen dan air yang merupakan kebutuhan vital manusia tersedia melimpah dan amat mudah didapatkannya.

Ayat ini menyatakan bahwa dengan sifat rahman-Nya kepada seluruh umat manusia, maka Allah bukan saja telah menyediakan seluruh sarana dan prasarana bagi manusia.
Ia juga telah memudahkan manusia untuk hidup di permukaan bumi.
Manusia diperintahkan Allah untuk berjalan di permukaan bumi untuk mengenali baik tempatnya, penghuninya, manusianya, hewan dan tumbuhannya.
Manusia tidak saja diberi udara, tumbuhan, hewan, dan cuaca yang menyenangkan, tapi juga diberi perlengkapan dan kenyamanan untuk mencari rezeki di bumi dengan segala yang ada di atasnya maupun terkandung di dalamnya.

Setelah Allah menerangkan bahwa alam ini diciptakan untuk manusia dan memudahkannya untuk keperluan mereka, maka Dia memerintahkan agar mereka berjalan di muka bumi, untuk memperhatikan keindahan alam, berusaha mengolah alam yang mudah ini, berdagang, beternak, bercocok tanam dan mencari rezeki yang halal.
Sebab, semua yang disediakan Allah itu harus diolah dan diusahakan lebih dahulu sebelum dimanfaatkan bagi keperluan hidup manusia.
Dengan memahami ayat ini, dapat dikemukakan hal-hal yang berikut:

1.
Allah memerintahkan agar manusia berusaha dan mengolah alam untuk kepentingan mereka guna memperoleh rezeki yang halal.
Hal ini berarti bahwa tidak mau berusaha dan bersifat pemalas bertentangan dengan perintah Allah.
2.
Karena berusaha dan mencari rezeki itu termasuk melaksanakan perintah Allah, maka orang yang berusaha dan mencari rezeki adalah orang yang menaati Allah, dan hal itu termasuk ibadah.
Dengan perkataan lain bahwa berusaha dan mencari rezeki itu bukan mengurangi ibadah, tetapi memperkuat dan memperbanyak ibadah itu sendiri.

Diriwayatkan oleh Ahmad dari ‘Umar bin al-Khaththab, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah bersabda: Jika kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana Allah memberikan rezeki-Nya kepada burung.
Pergi mencari rezeki dengan perut yang kosong, dan petang hari ia kembali ke sarangnya dengan perut yang berisi penuh.
(Riwayat At-Tirmidzi, Ahmad, Baihaqi, dan Abu Dawud dari ‘Umar bin al-Khaththab)

Hadis ini menunjukkan bahwa waktu sejak pagi hari sampai petang adalah waktu untuk mencari rezeki, seperti yang telah dilakukan burung.
Jika manusia benar-benar mau berusaha sejak pagi sampai petang pasti Allah memberinya rezeki.
Mereka tidak akan kelaparan.

Dari hadis ini juga dapat dipahami bahwa orang yang tidak mau berusaha tidak akan diberi rezeki oleh Allah.

Diriwayatkan oleh al-hakim dan At-Tirmidzi dari Mu’awiyah bin Qurrah, ia berkata, “Pada suatu hari ‘Umar bin Khaththab lewat di perkampungan suatu kaum, lalu beliau bertanya kepada kaum itu, “Siapakah kamu?”
Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal kepada Allah.” Umar berkata, “Kamu bukanlah orang-orang yang bertawakal kepada Allah, melainkan orang-orang yang telah dimakan karat.
Adapun orang yang bertawakal kepada Allah ialah orang yang menanamkan benih ke dalam tanah, lalu ia bertawakal kepada Allah.” Dalam mencari rezeki ajaran Islam memberikan beberapa pedoman:

1.
Agar setiap manusia berusaha mencukupkan keperluan dirinya dan keluarganya.
Oleh karena itu, orang yang berangkat dari rumahnya pagi hari untuk mencari rezeki, termasuk orang yang didoakan oleh Nabi Muhammad agar diberkahi Allah.
Bahwa Nabi Muhammad ﷺ berkata, “Wahai Allah, berkatilah umatku yang berangkat berusaha pagi-pagi.”
(Riwayat At-Tirmidzi dari sakhr bin al-Gamidi)

2.
Dalam berusaha itu hendaklah mencari yang halal.
Maksudnya ialah mencari rezeki dengan cara-cara yang halal, tidak dengan mencuri, menipu, korupsi, dan sebagainya.
Rezeki yang dicari itu adalah rezeki yang halal, bukan yang haram, seperti khamar, bangkai, dan sebagainya, sesuai dengan hadis:

Dari Ali bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya, dalam mencari yang halal.”
(Riwayat ath-thabrani)

Hadis yang lain menerangkan:

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Mencari rezeki yang halal wajib bagi setiap orang muslim.”
(Riwayat ath-thabrani)

Pada akhir ayat, Allah memberi peringatan kepada manusia bahwa semua makhluk akan kembali kepada-Nya pada hari Kiamat, dan pada waktu itu akan ditimbang semua perbuatan manusia.
Amal baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, sedangkan perbuatan buruk akan dibalas dengan azab neraka.
Oleh karena itu, hendaklah manusia selalu mawas diri, berusaha melaksanakan amal saleh sebanyak mungkin dan menilai serta meneliti perbuatan-perbuatan yang akan dikerjakan, berusaha memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang telanjur dilakukan atau yang tanpa disadari bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan yang dilarang Allah.

Maka setiap muslim seyogyanya mencari rezeki yang halal saja, jangan sekali-kali memakan rezeki yang diperoleh dengan cara yang haram atau bendanya sendiri adalah benda yang haram.
Ingatlah bahwa semua makhluk tanpa ada kecualinya akan kembali kepada-Nya.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dialah yang telah menundukkan bumi sehingga memudahkan kalian.
Maka, jelajahilah di seluruh pelosoknya dan makanlah dari rezeki yang dikeluarkan dari bumi itu untuk kalian.
Hanya kepada-Nyalah kalian akan dibangkitkan untuk diberi balasan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian) mudah untuk dipakai berjalan di atas permukaannya (maka berjalanlah di segala penjurunya) pada semua arahnya (dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya) yang sengaja diciptakan buat kalian.

(Dan hanya kepada-Nyalah kalian dibangkitkan) dari kubur untuk mendapatkan pembalasan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya.
(Q.S. Al-Mulk [67]: 15)

Maksudnya, berjalanlah kalian ke mana pun yang kamu kehendaki di berbagai kawasannya, serta lakukanlah perjalanan mengelilingi semua daerah dan kawasannya untuk keperluan mata pencaharian dan perniagaan.
Dan ketahuilah bahwa upaya kalian tidak dapat memberi manfaat sesuatu pun bagi kalian kecuali bila Allah memudahkannya bagi kalian.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.
(Q.S. Al-Mulk [67]: 15)

Maka berupaya dengan menempuh sarananya tidaklah bertentangan dengan citra tawakal kepada Allah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepadaku Bakar ibnu Amr; ia pernah mendengar Abdullah ibnu Hubairah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abus Sahm Al-Habsyani mengatakan bahwa ia pernah mendengar Umar ibnul Khattab mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; burung pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di petang hari dalam keadaan perut kenyang.

Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkannya melalui hadis Ibnu Hubairah; Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Maka di dalam hadis ini dikukuhkan adanya keberangkatan di petang dan pagi hari untuk mencari rezeki disertai dengan rasa tawakalnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena Dialah Yang Menundukkan, Yang Memperjalankan, dan Yang Menjadikan penyebab adanya rezeki itu.

Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
(Q.S. Al-Mulk [67]: 15)

Yakni dikembalikan kelak di hari kiamat.
Ibnu Abbas, Mujahid, As-Saddi, dan Qatadah mengatakan bahwa manakibuha artinya daerah-daerah yang jauh, daerah-daerah pedalamannya, dan seluruh kawasannya.
Ibnu Abbas dan Qatadah mengatakan pula bahwa manakibuha artinya gunung-gunungnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Hakkam Al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah, dari Yunus ibnu Jubair, dari Basyir ibnu Ka’b, bahwa ia membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: maka berjalanlah di segala penjurunya.
(Q.S. Al-Mulk [67]: 15) Lalu ia berkata kepada budak perempuan yang telah melahirkan anak darinya, “Jika engkau mengetahui makna manakibuha, berarti engkau merdeka.” Lalu budak perempuannya itu menjawab, “Manakibuha artinya pegunungannya.” Lalu Basyir ibnu Ka’b bertanya kepada Abu Darda mengenai maknanya, maka Abu Darda menjawab, “Manakibuha artinya daerah pegunungannya.”


Kata Pilihan Dalam Surah Al Mulk (67) Ayat 15

DZALUUL
ذَلُول

Dzaluul adalah mufrad, jamaknya dzulul. Berasal dari kata adz dzillah atau dzalla-yadzullu yang berarti rendah, hina, tunduk, patuh, belas kasihan, mudah dan sebagainya.

Al Husain bin Muhammad Ad­ Damaaghani mengatakan asal lafaz ini dengan berbagai perubahannya di dalam Al Qur’an mengandung beberapa makna, yaitu sedikit, tawaddu’, lemah lembut, kehinaan, terbentang dan tersedia, terbelenggu, yang menurut dan patuh, ka’bah atau kedudukan.

Disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 71;
-Al Mulk (67), ayat 15.

Lafaz dzaluul yang terdapat dalam kedua ayat ini berbeda maknamenurut subjek perbincangan.

1. Dalam surah Al Baqarah, lafaz dzaluul dikaitkan dengan Al Baqarah yaitu sapi betina, Allah berfirman:

نَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُولٌ تُثِيرُ ٱلْأَرْضَ وَلَا تَسْقِى ٱلْحَرْثَ

Ibn Qutaibah berkata,
Daaban dzaluul ialah hewan yang jinak. Baqaratul laa dzaluul ialah sapi betina yang tidak jinak.”

Dalam Tafsir Asy Sya’rawi, al baqarah adz dzaluul ialah sapi betina yang sudah terlatih mengerja­kan kewajibannya tanpa rasa susah.

Dalam ayat ini, sifat pertama bagi sapi itu adalah ia tidak terlatih, tidak ada yang mengendalikannya dan tidak digunakan untuk bekerja, ia berkeliaran secara alami tanpa ada penunggunya.”

Dalam Tafsir Al Misbah, makna baqaratul laa dzaluul adalah sapi yang tidak jinak, maknanya belum pernah ada yang menuntun atau membebaninya dengan pekerjaan tertentu.

Kesimpulannya, dzaluul bermakna yang menurut dan jinak, sedangkan makna baqaratul laa dzaluul adalah sapi yang tidak jinak.

2. Dalam surah Al Mulk, lafaz dzaluul disandarkan kepada al ardh (bumi), Allah berfirman:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا

Dalam Safwah Al Tafasir, dzaluul pada ayat ini bermakna lunak dan mudah dijadikan tempat berjalan.”

Az Zujjaj berkata,
makna dzaluul adalah mudah, artinya Allah menjadikan bumi satu kemudahan bagi kamu berjalan di bukitnya, apabila kamu bisa ber­jalan di atas bukitnya, ia lebih mudah darinya (berjalan).

Dalam Tafsir Al Azhar, dzaluul diartikan dengan rendah, maknanya bumi rendah di bawah kaki manusia atau di bawah pijakan manusia. Bagaimana tingginya gunung, apabila manusia mendakinya, namun puncak gunung itu terletak di bawah kaki manusia juga.

Kesimpulannya, maksud dzaluul dalam ayat ini bermakna bumi yang rendah dan mudah dijadikan tempat ber­jalan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:239

Informasi Surah Al Mulk (الملك)
Surat ini terdiri atas 30 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ath Thuur.

Nama “Al Mulk” diambil dari kata “Al Mulk” yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya kerajaan atau kekuasaan.

Dinamai pula surat ini dengan ” Tabaarak” (Maha Suci).

Keimanan:

Hidup dan mati ujian bagi manusia
Allah menciptakan langit berlapis-lapis dan semua ciptaan-Nya mempunyai keseimbangan
perintah Allah untuk memperhatikan isi alam semesta
azab yang diancamkan kepada orang-orang kafir
dan janji Allah kepada orang-orang mu’min
Allah menjadikan bumi sedemikian rupa hingga mudah bagi manusia untuk mencari rezki
peringatan Allah kepada manusia tentang sedikitnya mereka yang bersyukur kepada ni’mat Allah.

Ayat-ayat dalam Surah Al Mulk (30 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Mulk (67) ayat 15 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Mulk (67) ayat 15 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Mulk (67) ayat 15 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Mulk (67) ayat 1-30 - Archie Wirija (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Mulk (67) ayat 1-30 - Archie Wirija (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Mulk - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 30 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 67:15
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mulk.

Surah Al-Mulk (Arab: الملك ,"Kerajaan") adalah surah ke-67 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surat Makkiyah, terdiri atas 30 ayat.
Dinamakan Al Mulk yang berarti Kerajaan di ambil dari kata Al Mulk yang yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Surat ini disebut juga dengan At Tabaarak yang berarti Maha Suci.

Nomor Surah 67
Nama Surah Al Mulk
Arab الملك
Arti Kerajaan
Nama lain Al-Mani’ah” (yang mencegah), Al-Waqiyah” (yang menahan), Al-Munjiyah, (yang menyelamatkan), Al-Mann’ah (yang sangat menahan). Tabarak (Maha Suci)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 77
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 30
Jumlah kata -
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah At-Tahrim
Surah selanjutnya Surah Al-Qalam
4.9
Ratingmu: 4.9 (13 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs al mulk 67 ]: 15

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta