Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Mujaadilah (Wanita yang mengajukan gugatan) – surah 58 ayat 8 [QS. 58:8]

اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡنَ نُہُوۡا عَنِ النَّجۡوٰی ثُمَّ یَعُوۡدُوۡنَ لِمَا نُہُوۡا عَنۡہُ وَ یَتَنٰجَوۡنَ بِالۡاِثۡمِ وَ الۡعُدۡوَانِ وَ مَعۡصِیَتِ الرَّسُوۡلِ ۫ وَ اِذَا جَآءُوۡکَ حَیَّوۡکَ بِمَا لَمۡ یُحَیِّکَ بِہِ اللّٰہُ ۙ وَ یَقُوۡلُوۡنَ فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ لَوۡ لَا یُعَذِّبُنَا اللّٰہُ بِمَا نَقُوۡلُ ؕ حَسۡبُہُمۡ جَہَنَّمُ ۚ یَصۡلَوۡنَہَا ۚ فَبِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ
Alam tara ilaal-ladziina nuhuu ‘aninnajwa tsumma ya’uuduuna limaa nuhuu ‘anhu wayatanaajauna bil-itsmi wal ‘udwaani wama’shiyatirrasuuli wa-idzaa jaa-uuka hai-yauka bimaa lam yuhai-yika bihillahu wayaquuluuna fii anfusihim laulaa yu’adz-dzibunaallahu bimaa naquulu hasbuhum jahannamu yashlaunahaa fabi-asal mashiir(u);
Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul.
Dan apabila mereka datang kepadamu (Muhammad), mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan seperti yang ditentukan Allah untukmu.
Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri,
“Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?”
Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki.
Maka neraka itu seburuk-buruk tempat kembali.

―QS. Al Mujaadilah [58]: 8

Daftar isi

Have you not considered those who were forbidden from private conversation, then they return to that which they were forbidden and converse among themselves about sin and aggression and disobedience to the Messenger?
And when they come to you, they greet you with that (word) by which Allah does not greet you and say among themselves,
"Why does Allah not punish us for what we say?"
Sufficient for them is Hell, which they will (enter to) burn, and wretched is the destination.
― Chapter 58. Surah Al Mujaadilah [verse 8]

أَلَمْ tidaklah

Do not
تَرَ kamu lihat

you see
إِلَى atas

[to]
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
نُهُوا۟ (mereka) dilarang

were forbidden
عَنِ dari

from
ٱلنَّجْوَىٰ pembicaraan rahasia

secret counsels,
ثُمَّ kemudian

then
يَعُودُونَ mereka kembali

they return
لِمَا kepada apa

to what
نُهُوا۟ mereka dilarang

they were forbidden
عَنْهُ dari padanya

from [it],
وَيَتَنَٰجَوْنَ dan mereka berbicara rahasia

and they hold secret counsels
بِٱلْإِثْمِ untuk berbuat dosa

for sin
وَٱلْعُدْوَٰنِ dan permungsuhan

and aggression
وَمَعْصِيَتِ dan mendurhakai

and disobedience
ٱلرَّسُولِ rasul

(to) the Messenger?
وَإِذَا dan apabila

And when
جَآءُوكَ mereka datang kepadamu

they come to you,
حَيَّوْكَ mereka mengucapkan salam kehormatan kepadamu

they greet you
بِمَا dengan apa-apa

with what
لَمْ tidak

not
يُحَيِّكَ menurut salam kehormatan kepadamu

greets you
بِهِ dengannya

therewith
ٱللَّهُ Allah

Allah,
وَيَقُولُونَ dan mereka mengatakan

and they say
فِىٓ pada

among
أَنفُسِهِمْ diri mereka sendiri

themselves,
لَوْلَا mengapa tidak

"Why (does) not
يُعَذِّبُنَا menyiksa kita

Allah punish us *[meaning includes next or prev. word]

Tafsir

Alquran

Surah Al Mujaadilah
58:8

Tafsir QS. Al Mujaadilah (58) : 8. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini mencela perbuatan yang dilakukan orang Yahudi yang melakukan tindakan yang memancing perselisihan dan permusuhan antara mereka dan kaum Muslimin, padahal telah diadakan perjanjian damai antara mereka dan kaum Muslimin.
Rasulullah ﷺ memperingatkan sikap mereka itu, tetapi mereka tidak mengindahkannya.


Pembicaraan mereka dengan berbisik-bisik itu sebenarnya dapat memperbesar dosa mereka kepada Allah.
Dosa itu karena mereka telah melanggar perjanjian damai yang mereka adakan dengan Rasulullah, bahwa mereka dengan kaum Muslimin akan memelihara ketenteraman dan berusaha menciptakan suasana damai di kota Madinah.

Mereka bersalah karena setiap saat mencari-cari kesempatan untuk menghancurkan kaum Muslimin dan menggagalkan dakwah Nabi Muhammad.


Orang-orang Yahudi itu jika mereka bertemu atau datang kepada Rasulullah ﷺ mereka mengucapkan salam, tetapi isinya menghina Rasulullah ﷺ.

Aisyah menjawab dengan jawaban yang lebih kasar, karena sikap dan tindakan orang-orang Yahudi itu melampaui batas, baik ditinjau dari segi rasa kesopanan dalam pergaulan maupun ditinjau dari segi adat kebiasaan yang berlaku waktu itu.


Ditinjau dari segi agama Islam, maka tindakan orang-orang Yahudi itu benar-benar telah melampaui batas, karena Muhammad ﷺ adalah seorang nabi dan rasul Allah, di mana setiap kaum Muslimin mendoakan keselamatan dan kebaikan untuknya.

Allah ﷻ berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi.
Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.
(al-Ahzab [33]: 56)


Dari ayat di atas dan sebab-sebab turunnya dapat diambil pengertian bahwa hendaklah kita berlaku sabar terhadap ucapan-ucapan keji yang dilontarkan kepada kita.
Jangan langsung membalas seperti yang mereka lakukan, karena di sanalah letak perbedaan antara orang Muslim dan orang kafir.

Dengan bersabar mereka akan sadar dan insaf bahwa mereka telah melakukan kesalahan.


Setelah orang-orang Yahudi itu mengucapkan salam penghinaan kepada Rasulullah sebagaimana tersebut di atas, mereka berkata kepada sesamanya,
"Kenapa Allah tidak menimpakan azab kepada kita sebagai akibat jawaban Muhammad.
Seandainya Muhammad benar-benar seorang nabi dan rasul yang diutus Allah, tentulah kita telah ditimpa azab."
Sangkaan mereka yang demikian terhadap Allah, yaitu Allah akan langsung mengazab setiap orang yang durhaka kepada-Nya, adalah sangkaan yang salah.
Benar Dia akan mengazab setiap orang yang durhaka kepada-Nya, tetapi kapan datangnya azab itu, adalah urusan-Nya.
Dia akan menimpakan azab itu bila dikehendaki-Nya.
Tetapi jika azab itu telah datang, maka tidak seorang pun yang dapat menghindarkan diri daripadanya.


Dalam hal menjawab salam terhadap non muslim, para ulama berbeda pendapat.
Ibnu ‘Abbas, asy-Sya’bi, dan Qatadah menyatakan bahwa menjawab salam terhadap non muslim hukumnya wajib, sama halnya dengan menjawab salam terhadap sesama muslim.
Sedangkan Imam Malik dan Syafi’i menyatakan bahwa hal tersebut tidak wajib, dalam arti hanya boleh saja.
Bila mereka mengucapkan salam, maka bagi kita cukup menjawabnya dengan
"’alaika."



Pada akhir ayat ini, Allah membantah anggapan mereka dengan tegas bahwa mereka pasti akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam.
Mereka akan terbakar hangus di dalamnya.
Jahanam itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali yang disediakan bagi orang-orang kafir.

Tafsir QS. Al Mujaadilah (58) : 8. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Apakah kamu, wahai Rasulullah, tidak mengetahui orang-orang yang dilarang mengadakan pembicaraan rahasia di antara mereka mengenai hal-hal yang menimbulkan keragu-raguan di dalam hati orang-orang Mukmin, lalu kembali melakukan hal-hal yang dilarang, melakukan pembicaraan tentang dosa yang akan mereka lakukan secara rahasia, permusuhan yang mereka inginkan dan mendurhakai utusan Allah?
Bila datang kepadamu, mereka mengucapkan salam dengan kata yang
"dipelesetkan"
yang tidak digunakan oleh Allah dalam menyambutmu.
Di dalam hati mereka mengatakan,
"Mengapa Allah tidak menyiksa kita jika ia benar-benar seorang rasul?"
Cukuplah bagi mereka neraka jahanam yang akan mereka masuki.


Mereka akan terbakar.
Tempat kembali yang paling buruk adalah tempat kembali mereka.
[1]


[1] Suatu ketika, antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi di Madinah terjadi perjanjian damai.
Salah satu kebiasaan orang-orang Yahudi adalah bahwa jika ada seorang Muslim yang akan lewat di hadapan mereka, mereka saling berbisik satu sama lain sehingga orang Muslim itu menyangka bahwa mereka berencana hendak membunuh atau menyakitinya.


Akhirnya orang Muslim itu membatalkan rencananya berjalan melewati tempat itu.
Kebiasaan orang-orang Yahudi itu kemudian dilarang oleh Rasulullah ﷺ.
, tetapi mereka tidak mengindahkan larangan itu.
Mereka bahkan mengucapkan doa buruk (umpatan dan sebagainya) ketika berjumpa Rasulullah yang dikemas dalam bentuk salam.


Dengan latar belakang itu turunlah ayat ini.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Rasul, tidakkah kamu memperhatikan orang-orang Yahudi yang dilarang melakukan pembicaraan yang bisa mengakibatkan keragu-raguan pada hati orang-orang beriman?, kemudian mereka kembali melakukan apa yang dilarang dan melakukan pembicaraan rahasia berupa dosa, permusuhan, dan penentangan terhadap perintah Rasulullah?
Wahai Rasul, apabila orang-orang Yahudi itu datang kepadamu untuk suatu urusan, mereka akan menyampaikan hormat kepadamu dengan penghormatan yang tidak diajarkan Allah sebagai penghormatan bagimu.
Mereka akan berkata,
"As-Saamu ‘alaika,"
artinya adalah kematian hanya untukmu.


Mereka saling berkata,
"Mengapakah Allah tidan menurunkan hukuman kepada kita atas apa yang kita ucapkan kepada Muhammad jika dia memang benar seorang rasul?"
Cukuplah neraka Jahanam bagi mereka, neraka yang sangat panas dan seburuk-buruknya tempat kembali.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Apakah tidak kamu perhatikan) apakah tidak kamu lihat


(orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali mengerjakan larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada rasul) mereka adalah orang-orang Yahudi, Nabi ﷺ telah melarang mereka dari pembicaraan rahasia yang dahulu sering mereka lakukan.
Pembicaraan rahasia mereka itu dalam rangka merencanakan tindakan sabotase terhadap kaum mukminin, dimaksud supaya mereka dapat menanamkan keraguan dalam hati kaum mukminin.


(Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu) hai nabi


(dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu) yaitu perkataan mereka,
"As-Sammu ‘alaika,"
yakni kematian atasmu.


(Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri,
"Mengapa tidak) kenapa tidak


(diturunkan azab atas kami oleh Allah disebabkan apa yang kita katakan itu?") Yakni salam penghinaan yang kami katakan itu, kalau begitu dia bukanlah seorang nabi, sekalipun dia adalah nabi.


(Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki Dan seburuk-buruk tempat kembali itu) adalah neraka Jahanam.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:
Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)
Bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang Yahudi;
hal yang sama telah dikatakan oleh Muqatil dan Ibnu Hayyan.


Disebutkan bahwa dahulu antara Nabi ﷺ dan orang-orang Yahudi telah diadakan perjanjian perdamaian.
Dan tersebutlah bahwa mereka apabila melihat seseorang dari sahabat Nabi ﷺ lewat di hadapan mereka, maka mereka duduk dan saling berbisik-bisik di antara sesama mereka, hingga orang mukmin itu mengira bahwa mereka berbisik untuk merencanakan suatu makar guna membunuhnya, atau merencanakan suatu hal yang tidak disukai oleh orang mukmin itu.
Apabila orang mukmin itu melihat mereka berbuat demikian, maka dia merasa takut kepada mereka, akhirnya dia tidak jadi melewati mereka.
Maka Nabi ﷺ melarang mereka mengadakan pembicaraan rahasia;
tetapi mereka membandel dan kembali melakukan perbuatannya, maka barulah Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Munzir Al-Hizami, telah menceritakan kepadaku Sufyan ibnu Hamzah, dari Kasir, dari Zaid, dari Rabih ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Sa’id Al-Khudri, dari ayahnya, dari kakeknya yang menceritakan bahwa dahulu kami bergiliran menjaga Rasulullah ﷺ dan menginap di dekat rumah beliau, karena bila ada suatu urusan di malam hari menyangkut beliau atau beliau memerlukan suatu kebutuhan.
Di suatu malam orang-orang yang berjaga dengan suka rela semakin banyak jumlahnya, hingga kami membentuk kelompok-kelompok dan kami pun asyik berbincang-bincang di antara kami.
Maka keluarlah Rasulullah ﷺ dan bertanya,
"Rahasia apakah yang kalian bicarakan, bukankah kalian dilarang melakukan pembicaraan rahasia?"
Kami menjawab,
"Kami bertobat kepada Allah.
Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sedang membicarakan tentang Al-Masih (Dajjal) karena kami takut kepadanya."
Nabi ﷺ bersabda;
"Maukah aku beritakan kepada kalian tentang sesuatu hal yang paling aku khawatirkan akan menimpa kalian?"
Kami menjawab,
"Tentu saja kami mau, wahai Rasulullah."
Maka beliau ﷺ bersabda:
Syirik yang tersembunyi, yaitu bila seseorang bangkit beramal karena kedudukan seseorang lainnya.

Sanad hadis garib dan di dalamnya terdapat sebagian perawi yang berpredikat daif.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)

Mereka membicarakan perbuatan dosa di antara sesama mereka yang khusus hanya menyangkut diri mereka.

dan permusuhan.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)

Yakni yang berkaitan dengan orang lain, dan termasuk ke dalam pengertian ini ialah perbuatan durhaka kepada Rasul dan menentangnya.
Mereka bertekad untuk mengerjakannya dan saling memerintahkan di antara sesama mereka untuk itu.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir, dari Al-A’masy, dari Masruq, dari Aisyah yang mengatakan bahwa pernah orang-orang Yahudi masuk menemui Rasulullah ﷺ, lalu mereka mengucapkan,
"Ass’amu ‘alaika (semoga kebinasaan menimpa dirimu), hai Abul Qasim."
Maka Aisyah menjawab,
"Wa ‘alaikumus s’am (semoga kamulah yang tertimpa kebinasaan)."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
"Hai Aisyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai kata-kata yang keji dan perbuatan yang keji."
Aisyah r.a. berkata,
"Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka katakan?
Mereka mengatakan, ‘Ass’amu ‘alaika’"
Rasulullah ﷺ balik bertanya,
"Tidakkah engkau mendengar apa yang kukatakan kepada mereka?
Aku katakan kepada mereka, ‘Wa’alaikum’ (semoga kamulah yang demikian itu)."
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)

Menurut riwayat yang lain, Aisyah berkata kepada mereka,
"Semoga kalianlah yang tertimpa kebinasaan, celaan, dan laknat,"
dan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya diperkenankanlah bagi kita terhadap mereka, dan tidak diperkenankanlah bagi mereka terhadap kita.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, dari Anas ibnu Malik, bahwa ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya, tiba-tiba datanglah seorang Yahudi kepada mereka, lalu mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka menjawab salamnya.
Maka Nabi Allah subhanahu wa ta’ala bertanya,
"Tahukah kalian, apa yang telah dikatakan olehnya?"
Mereka menjawab,
"Itu salam, wahai Rasulullah."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidak, bahkan dia mengatakan, ‘Samun ‘alaikum, ‘yakni mereka mengharapkan kebinasaan bagi agama kalian.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda,
"Jawablah dia dengan yang serupa."
Maka mereka menjawabnya, dan Rasulullah ﷺ bertanya,
"Apakah kamu telah mengatakan, ‘Samun ‘alaikum?’ Lelaki Yahudi itu menjawab,
"Ya."
Rasulullah ﷺ bersabda:

Apabila ada Ahli Kitab yang mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah olehmu dengan kalimat ‘"Alaika".

Artinya, semoga kamulah yang tertimpa apa yang kamu katakan itu.


Asal hadis Anas diketengahkan di dalam kitab sahih.
Hadis ini di dalam kitab sahih diriwayatkan melalui Aisyah r.a. dengan lafaz yang semisal.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri,
"Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?"
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)

Yakni apa yang mereka lakukan dan yang mereka katakan itu berupa melipat kata-kata dan memberikan prakira kepada lawan bicara seakan-akan kata-kata itu adalah salam.
Padahal sesungguhnya kata-kata itu sebenarnya merupakan cacian.
Selain dari itu mereka mengatakan dalam dirinya sendiri bahwa seandainya orang ini (maksudnya Nabi ﷺ) adalah seorang nabi, niscaya Allah akan mengazab kami karena perkataan yang kami tujukan terhadapnya yang batinnya mengandung cacian.
Allah Maha Mengetahui apa yang kita sembunyikan (rahasiakan);
sekiranya dia benar seorang nabi, pastilah dalam waktu dekat Allah akan menyegerakan siksaan-Nya di dunia ini atas diri kita.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menjawab ucapan mereka itu melalui firman-Nya:

Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)


Maksudnya, neraka Jahanam, sudah cukup untuk mereka di hari kemudian.

yang akan mereka masuki.
Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hammad, bahwa Ata ibnus Sa’ib telah meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah ibnu Amr, bahwa dahulu orang-orang Yahudi sering mengucapkan kata-kata samun ‘alaika’ kepada Rasulullah.
Dan mereka berkata dalam dirinya sendiri bahwa mengapa Allah tidak menyiksa kami karena perkataan yang kami ucapkan?
Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:
Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah kepadamu.
Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri,
"Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?"
Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki.
Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)

Sanadnya cukup baik, tetapi mereka tidak mengetengahkannya.


Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)
Bahwa dahulu orang-orang munafik apabila memberi salam kepada Rasulullah ﷺ, mereka mengatakan,
"Samun ‘alaika."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki.
Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 8)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Mujaadilah (58) Ayat 8

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil bin Hayyan bahwa antara Nabi dan kaum Yahudi terdapat perjanjian untuk tidak saling bermusuhan.
Dalam situasi itu, apabila seorang shahabat Nabi ﷺ lewat di hadapan kaum Yahudi, mereka suka berbisik-bisik dengan kawannya, sehingga sahabat yang lewat itu mengira bahwa mereka merundingkan untuk membunuhnya atau menggunjingnya.
Karena itu Rasulullah ﷺ melarang berbisik-bisik di hadapan orang lain.
Namun, larangan tersebut tidak diindahkan.
Ayat ini (al-Mujadalah: 8) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai ancaman terhadap orang-orang yang tidak menghentikan perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar, dan ath-Thabarani dengan sanad yang kuat, yang bersumber dari ‘Abdullah bin ‘Amr.
Sejalan dengan riwayat ini, ada pula riwayat yang bersumber dari Anas dan ‘Aisyah, bahwa kaum Yahudi memberi salam kepada Rasulullah ﷺ dengan ucapan saamun ‘alaikum (mudah-mudahan kamu mati).
Kemudian mereka mengatakan dalam hati, mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?
Ayat ini (al-Mujadalah: 8) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, dan mengancam mereka dengan siksa neraka jahanam.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Mujaadilah (المجادلة)

Surat Al-Mujadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-Munafiqun.

Surat ini dinamai "Al Mujaadilah (wanita yang mengajukan gugatan) karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bemama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah ﷺ dan dia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.

Dinamai juga surah "Al Mujaadalah" yang berarti "perbantahan".

Keimanan:

Hukum zhihar dan sangsi-sangsi bagi orang yang melakukannya bila ia menarik kembali perkataannya.
▪ Larangan menjadikan musuh Allah sebagai teman.

Lain-lain:

▪ Menjaga Rasulullah ﷺ

Ayat-ayat dalam Surah Al Mujaadilah (22 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Lihat surah lainnya

Audio

QS. Al-Mujaadilah (58) : 1-22 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 22 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Mujaadilah (58) : 1-22 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 22

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Mujaadilah ayat 8 - Gambar 1 Surah Al Mujaadilah ayat 8 - Gambar 2
Statistik QS. 58:8
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mujaadilah.

Surah Al-Mujadilah (Arab: المجادلة, “Wanita Yang Mengajukan Gugatan”) adalah surah ke-58 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 22 ayat.
Dinamakan Al-Mujadilah yang berarti wanita yang mengajukan gugatan karena pada awal surah ini disebutkan bantahan seorang perempuan yang menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah dan ia menuntut supaya dia memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.
Dinamai juga Al-Mujadalah yang berarti Perbantahan.

Surah ini mempunyai ciri berbeda dari surah lain dalam Alquran.
Dalam setiap ayat dalam surah ini, selalu terdapat lafaz Jalallah (lafaz ALLAH).
Ada dalam satu ayat hanya terdiri dari satu lafaz, ada yang dua, atau tiga, dan bahkan ada yang lima lafaz, seperti pada ayat 22 dalam surah ini.

Nomor Surah 58
Nama Surah Al Mujaadilah
Arab المجادلة
Arti Wanita yang mengajukan gugatan
Nama lain al-Mujadalah (Perbantahan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 105
Juz Juz 28
Jumlah ruku’ 3 ruku’
Jumlah ayat 22
Jumlah kata 475
Jumlah huruf 2046
Surah sebelumnya Surah Al-Hadid
Surah selanjutnya Surah Al-Hasyr
Sending
User Review
4.9 (9 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

58:8, 58 8, 58-8, Surah Al Mujaadilah 8, Tafsir surat AlMujaadilah 8, Quran AlMujadilah 8, Al Mujadilah 8, Al-Mujadilah 8, Surah Al Mujadilah ayat 8

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Mujaadilah

۞ QS. 58:1 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 58:2 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 58:3 • Keluasan ilmu Allah • Al Khabir (Maha Waspada) • Toleransi Islam

۞ QS. 58:4 • Toleransi Islam • Maksiat dan dosa

۞ QS. 58:5 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 58:6 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 58:7 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 58:8 • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 58:9 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 58:10 • Kekuasaan Allah • Kebenaran dan hakikat takdir • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 58:11 Al Khabir (Maha Waspada) • Menghitung amal kebaikan • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 58:12 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam

۞ QS. 58:13 Al Khabir (Maha Waspada) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 58:14 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 58:15 • Siksaan Allah sangat pedih • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:16 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:17 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:18 • Manusia dibangkitkan dari kubur • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:19 • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Wali Allah dan wali syetan • Sifat orang munafik

۞ QS. 58:20 • Azab orang kafir

۞ QS. 58:21 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminHukum alam • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat) • Penentuan takdir sebelum penciptaan

۞ QS. 58:22 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Wali Allah dan wali syetan

Ayat Pilihan

Siapa beriman kepada Allah & kerjakan amal saleh niscaya Allah akan masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.
QS. At-Talaq [65]: 11

Ya Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya.
Dan sekiranya Engkau tak beri ampun kepadaku,
dan (tidak) menaruh belas kasihan padaku,
niscaya aku termasuk orang yang merugi
QS. Hud [11]: 47

Sungguh orang-orang yang beriman & mengerjakan amal saleh,
mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga A’adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
QS. Al-Bayyinah [98]: 7-8

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Berikut adalah hadits yang rusak, kecuali ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Hadis Muu2019allaq adalah bila sanad sebuah hadits terputus pada penutur 5 hingga penutur 1, alias tidak ada sanadnya.
Contoh:

'Seorang pencatat hadis mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan....'

tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah.

Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Orang yang menceritakan hadits disebut ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Hukum penggunaan hadis sebagai dasar hukum adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Sumber kedua hukum dalam menetapkan Hukum tentang Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #8
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #8 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #8 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? … Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam? … Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama? … Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah … Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? …

Pendidikan Agama Islam #17

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah …Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah …اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- …وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah …Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah …

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … Al Falaq artinya … Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … … Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui …

Kamus

An-Nas

Apa itu An-Nas? Surah An-Nas (bahasa Arab:النَّاسِ, “Manusia”) adalah surah penutup (ke-114) dalam Alquran. Nama An-Nas diambil dari kata An-Nas yang berulang kali disebut dalam su...

Bulan Muharram

Apa itu Bulan Muharram? Bulan awal dalam kalender Hijriah adalah Muharram. Tanggal 1 Muharram diperingati oleh islam sebagai tahun baru. Dalam bulan ini terdiri dari 30 hari. Arti kata Muharram sendir...

Sa’id bin Zaid

Siapa itu Sa’id bin Zaid? Sa’id bin Zaid (bahasa Arab: سعيد بن زيد‎; wafat 51 H (671)) adalah seorang sahabat nabi dari golongan Muhajirin. Nama lengkapnya adalah Sa’id bi...