Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Mujaadilah (Wanita yang mengajukan gugatan) – surah 58 ayat 4 [QS. 58:4]

فَمَنۡ لَّمۡ یَجِدۡ فَصِیَامُ شَہۡرَیۡنِ مُتَتَابِعَیۡنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّتَمَآسَّا ۚ فَمَنۡ لَّمۡ یَسۡتَطِعۡ فَاِطۡعَامُ سِتِّیۡنَ مِسۡکِیۡنًا ؕ ذٰلِکَ لِتُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ؕ وَ تِلۡکَ حُدُوۡدُ اللّٰہِ ؕ وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ
Faman lam yajid fashiyaamu syahraini mutataabi’aini min qabli an yatamaassaa faman lam yastathi’ fa-ith’aamu sittiina miskiinan dzalika litu’minuu billahi warasuulihi watilka huduudullahi walilkaafiriina ‘adzaabun aliimun;
Maka barangsiapa tidak dapat (memerdekakan hamba sahaya), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur.
Tetapi barangsiapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin.
Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.

―QS. Al Mujaadilah [58]: 4

Daftar isi

And he who does not find (a slave) – then a fast for two months consecutively before they touch one another;
and he who is unable – then the feeding of sixty poor persons.
That is for you to believe (completely) in Allah and His Messenger;
and those are the limits (set by) Allah.
And for the disbelievers is a painful punishment.
― Chapter 58. Surah Al Mujaadilah [verse 4]

فَمَن maka barang siapa

Then whoever
لَّمْ tidak

(does) not
يَجِدْ mendapatkan

find,
فَصِيَامُ maka berpuasalah

then fasting
شَهْرَيْنِ dua bulan

(for) two months
مُتَتَابِعَيْنِ berturut-turut

consecutively
مِن dari

before *[meaning includes next or prev. word]
قَبْلِ sebelum

before *[meaning includes next or prev. word]
أَن bahwa

[that]
يَتَمَآسَّا keduanya bercampur

they both touch each other.
فَمَن maka barang siapa

But (he) who
لَّمْ tidak

not
يَسْتَطِعْ kuasa

is able
فَإِطْعَامُ maka memberi makan

then (the) feeding
سِتِّينَ enam puluh

(of) sixty
مِسْكِينًا orang miskin

needy one(s).
ذَٰلِكَ demikian itu

That –
لِتُؤْمِنُوا۟ supaya kamu beriman

so that you may believe
بِٱللَّهِ kepada Allah

in Allah
وَرَسُولِهِۦ dan rasulnya

and His Messenger,
وَتِلْكَ dan itulah

and these
حُدُودُ batas/batas/hukumhukum

(are the) limits
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah,
وَلِلْكَٰفِرِينَ dan orang-orang kafir

and for the disbelievers
عَذَابٌ azab

(is) a punishment
أَلِيمٌ pedih

painful.

Tafsir

Alquran

Surah Al Mujaadilah
58:4

Tafsir QS. Al Mujaadilah (58) : 4. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat-ayat ini diterangkan syaratsyarat bagi suami-istri agar dapat bercampur atau melaksanakan perkawinan kembali jika mereka telah bercerai, yaitu pihak suami wajib membayar kafarat.
Kewajiban membayar kafarat itu disebabkan telah terjadinya zihar dan adanya kehendak suami mencampuri istrinya (‘aud).


Dalam ayat ini diterangkan tiga tahap kafarat zihar.
Tahap pertama harus diupayakan melaksanakannya.

Kalau tahap pertama tidak sanggup dilaksanakan, boleh menjalankan tahap kedua.
Bila tahap kedua juga tidak sanggup melaksanakannya, wajib dijalankan tahap ketiga.

Tahap-tahap itu ialah:


1. Memerdekakan seorang budak sebelum melaksanakan persetubuhan kembali.

Ini adalah ketetapan Allah yang ditetapkan bagi seluruh orang yang beriman, agar mereka berhati-hati terhadap perbuatan mungkar dan membayar kafarat itu sebagai penghapus dosa perbuatan mungkar.
Allah memperhatikan dan mengetahui semua perbuatan hamba-Nya, dan akan mengampuni semua hamba-Nya yang mau menghentikan perbuatan mungkar dan melaksanakan hukumhukum Allah.

Pada saat ini perbudakan telah hapus dari permukaan bumi, karena itu kafarat tingkat pertama ini tidak mungkin dilaksanakan lagi.
Memerdekakan budak sebagai kafarat, termasuk salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yang pernah membudaya di kalangan bangsa-bangsa di dunia, seperti yang terjadi di Amerika, Eropa, dan lain-lain.

Oleh karena itu, agama Islam adalah agama yang berusaha menghapus perbudakan dan menetapkan cara-cara untuk melenyapkannya dengan segera.


2. Jika yang pertama tidak dapat dilakukan, hendaklah puasa dua bulan berturut-turut.
Berturut-turut merupakan salah satu syarat dari puasa yang akan dilakukan itu.
Hal ini berarti jika ada hari-hari puasa yang tidak terlaksana seperti puasa sehari atau lebih kemudian tidak puasa pada hari yang lain dalam masa dua bulan itu, maka puasa itu tidak dapat dijadikan kafarat, walaupun tidak berpuasa itu disebabkan perjalanan jauh (safar) atau sakit.
Puasa itu harus dilakukan sebelum melakukan persetubuhan suami istri.


3. Jika yang kedua tidak juga dapat dilaksanakan, maka dilakukan tahap ketiga, yaitu memberi makan enam puluh orang miskin.


Zihar adalah semacam sumpah, yaitu sumpah suami yang menyatakan bahwa istrinya haram dicampuri seperti haramnya mencampuri ibunya.
Oleh karena itu, yang wajib membayar kafarat ialah suami yang melakukan zihar saja, karena dialah yang bersumpah, sedang istri yang tidak pernah melakukan zihar tidak wajib membayar kafarat.


Jumlah atau bentuk kafarat zihar yang ditetapkan itu adalah jumlah atau bentuk yang sangat tinggi, apalagi jika diingat bahwa hukum itu berlaku bagi seluruh kaum Muslimin, baik yang kaya atau yang miskin.
Bagi seorang yang kaya tidak ada kesulitan membayar kafarat itu, tetapi merupakan hal yang sulit dan berat membayarnya bagi orang-orang miskin.


Menghadapi masalah yang seperti ini, syariat Islam mempunyai prinsip-prinsip yang dapat meringankan suatu beban yang dipikulkan Allah kepada kaum Muslimin, yaitu prinsip,
"Kesukaran itu menimbulkan kemudahan,"
asal saja kesukaran itu benar-benar suatu kesukaran yang tidak dapat diatasi, disertai dengan keinginan di dalam hati untuk mencari keridaan Allah.


Sehubungan dengan ini, pada kelanjutan hadis Khuwailah binti Malik yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dikatakan:


Maka Rasulullah ﷺ berkata,
"Hendaklah ia memerdekakan seorang budak."
Khaulah berkata,
"Ia tidak sanggup mengusahakannya."
Nabi berkata,
"(Kalau demikian) maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut."
Khaulah berkata,
"Ya Rasulullah, sesungguhnya ia (suamiku) adalah seorang yang telah tua bangka, tidak sanggup lagi berpuasa."
Nabi berkata,
"Maka hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin."
Khaulah berkata,
"Ia tidak mempunyai sesuatu pun yang akan disedekahkannya."
Rasulullah ﷺ Berkata,
"(Kalau demikian) maka sesungguhnya aku akan membantunya dengan segantang tamar."
Khaulah berkata,
"Dan aku akan membantunya pula dengan segantang tamar."
Berkata Rasulullah ﷺ,
"Engkau benar-benar baik, pergilah, maka beritahukanlah atas namanya, beri makanlah dengan tamar ini enam puluh orang fakir-miskin."
(Riwayat Abu Dawud)


Pada riwayat yang lain diterangkan bahwa Khaulah mengatakan kepada Rasulullah ﷺ bahwa orang yang paling miskin di negeri ini adalah keluarganya.
Maka Rasulullah ﷺ menyuruh Khaulah membawa kurma sebagai kafarat itu pulang ke rumahnya untuk dimakan keluarganya sendiri.


Pada dasarnya agama Islam tidak menyetujui adanya zihar itu, bahkan memandangnya sebagai perbuatan mungkar dan dosa, karena perbuatan zihar itu adalah perbuatan yang tidak mempunyai dasar, mengatakan sesuatu yang bukan-bukan.
Akan tetapi, karena zihar itu adalah suatu kebiasaan bangsa Arab Jahiliah, sedang untuk menghapus kebiasaan itu dalam waktu yang singkat akan menimbulkan kegoncangan pada masyarakat Islam yang baru tumbuh, sedang masyarakat itu berasal dari orang-orang Arab masa Jahiliah, maka agama Islam tidak langsung menghapuskan kebiasaan tersebut.
Agama Islam menghilangkan semua akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan zihar itu dengan menetapkan waktu menunggu empat bulan.
Dalam masa itu, suami boleh menceraikan istrinya atau membayar kafarat bagi yang ingin mencampuri istrinya kembali, yakni mencabut kembali ucapan zihar yang telah diucapkannya.
Jadi zihar itu berasal dari hukum Arab masa Jahiliah yang telah dihapuskan oleh Islam.
Oleh karena itu, bagi negara-negara atau umat Islam yang tidak mengenal zihar tersebut, tidak perlu mencantumkan hukum itu apabila mereka membuat suatu undang-undang perkawinan.


Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa Allah menerangkan kewajiban membayar kafarat itu bagi suami yang telah menzihar istrinya adalah untuk memperdalam jiwa tauhid, mempercayai Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul Allah, dan agar berhati-hati mengucapkan suatu perkataan, sehingga tidak mengadakan kedustaan dan mengatakan yang bukan-bukan.
Dengan demikian, tertanamlah dalam hati setiap orang yang beriman keinginan melaksanakan semua hukumhukum Allah dengan sebaik-baiknya.
Tertanam juga dalam hati mereka bahwa mengingkari hukumhukum Allah itu akan menimbulkan kesengsaraan di dunia maupun di akhirat nanti.

Tafsir QS. Al Mujaadilah (58) : 4. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sedangkan bagi orang yang tidak menemukan seorang hamba sahaya, maka ia harus melakukan puasa dua bulan berturut-turut sebelum melakukan hubungan suami istri.
Jika tidak mampu juga, maka ia harus memberi makan enam puluh orang miskin.


Hal itu Kami syariatkan agar kalian beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian berbuat atas dasar keimanan itu.
Itu semua adalah aturan Allah, maka jangan kalian langgar! Orang-orang kafir akan mendapatkan siksa yang sangat menyakitkan.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Barang siapa yang tidak mendapatkan hamba sahaya untuk dimerdekakan, maka wajib baginya berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum dia menggauli istrinya.
Barang siapa yang tidak mampu berpuasa karena alasan syar’i, maka wajib baginya memberi makan enam puluh orang miskin.


Demikianlah Kami jelaskan kepada kalian hukumhukum zihar supaya kamu beriman kepada Allah, mengikuti rasul-Nya, mengamalkan syariat-Nya, dan meninggalkan semua kebiasaan kalian pada zaman jahiliyah.
Itulah hukum dan batasan-batasan yang telah Allah tetapkan.


Oleh karena itu, janganlah kalian langgar.
Siapa saja yang menentangnya maka baginyalah azab yang pedih.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka barang siapa yang tidak mendapatkan) budak


(maka wajib atasnya berpuasa dua bulan berturut-turut, sebelum keduanya bercampur.
Maka siapa yang tidak mampu) melakukan puasa


(memberi makan enam puluh orang miskin) diwajibkan atasnya, yakni sebelum keduanya bercampur kembali sebagai suami istri, untuk tiap-tiap orang miskin satu mudd makanan pokok negeri orang yang bersangkutan.
Kesimpulan hukum ini berdasarkan pemahaman menyamakan pengertian yang mutlak dengan yang muqayyad.


(Demikianlah) keringanan ini dengan memakai kifarat


(supaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dan itulah) yakni hukumhukum tersebut


(batasan-batasan Allah, dan bagi orang-orang yang ingkar) kepada batasan-batasan atau hukumhukum Allah itu


(azab yang sangat pedih) atau siksaan yang amat menyakitkan.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur.
Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 4)

Dalam penjelasan yang lalu telah dikemukakan hadishadis yang memerintahkan hal ini secara tertib, sebagaimana telah ditetapkan di dalam kitab Sahihain mengenai kisah seorang lelaki yang menyetubuhi istrinya dalam bulan Ramadan.

Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul­-Nya.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 4)

Artinya, Kami perintahkan demikian itu agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan itulah hukumhukum Allah.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 4)

Yakni batasan-batasan yang diharamkan-Nya, maka janganlah kamu melanggarnya.

dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.
(QS. Al-Mujadilah [58]: 4)

Yaitu orang-orang yang tidak beriman dan tidak mau menetapi hukumhukum syariat ini serta tidak meyakini bahwa mereka akan selamat dari musibah.
Keadaan yang sebenarnya tidaklah seperti apa yang diduga oleh mereka, bahkan bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat nanti.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Mujaadilah (58) Ayat 4

SITTIIN
سِتِّين

Lafaz sittiin dalah puluhan dari enam yaitu sittah, atau enam sebanyak sepuluh kali atau dengan kata lain, enam puluh.
Ia digunakan untuk mudzakkar dan muannats, contohnya sittun rajulan (enam puluh lelaki) dan sittun imra’atan (enam puluh wanita).
Ia disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Mujadalah (58), ayat 4.

Lafaz ini dikaitkan dengan itha’aam yaitu memberi makan dan "miskiin" yaitu orang miskin.
Apabila di gabungkan, maksudnya "memberi makan 60 orang miskin".
Perkara ini adalah hukuman bagi lelaki yang menziharkan isterinya dan berbalik dari apa yang mereka ucapkan (bahawa isterinya itu haram baginya) serta apabila mereka ingin menggaulinya, maka mereka tidak boleh menggaulinya kecuali harus menunaikan kafarah (denda).

Oleh karena itu, zihar lelaki kepada isterinya menjadikan isterinya haram baginya untuk digauli dan tidak terangkat hukum haram itu kecuali dengan menunaikan salah satu dari tiga kafarah apakah memerdekakan seorang hamba, berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:301

Unsur Pokok Surah Al Mujaadilah (المجادلة)

Surat Al-Mujadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al-Munafiqun.

Surat ini dinamai "Al Mujaadilah (wanita yang mengajukan gugatan) karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bemama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah ﷺ dan dia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.

Dinamai juga surah "Al Mujaadalah" yang berarti "perbantahan".

Keimanan:

Hukum zhihar dan sangsi-sangsi bagi orang yang melakukannya bila ia menarik kembali perkataannya.
▪ Larangan menjadikan musuh Allah sebagai teman.

Lain-lain:

▪ Menjaga Rasulullah ﷺ

Ayat-ayat dalam Surah Al Mujaadilah (22 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Lihat surah lainnya

Audio

QS. Al-Mujaadilah (58) : 1-22 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 22 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Mujaadilah (58) : 1-22 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 22

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Mujaadilah ayat 4 - Gambar 1 Surah Al Mujaadilah ayat 4 - Gambar 2
Statistik QS. 58:4
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Mujaadilah.

Surah Al-Mujadilah (Arab: المجادلة, “Wanita Yang Mengajukan Gugatan”) adalah surah ke-58 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 22 ayat.
Dinamakan Al-Mujadilah yang berarti wanita yang mengajukan gugatan karena pada awal surah ini disebutkan bantahan seorang perempuan yang menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya.
Hal ini diadukan kepada Rasulullah dan ia menuntut supaya dia memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.
Dinamai juga Al-Mujadalah yang berarti Perbantahan.

Surah ini mempunyai ciri berbeda dari surah lain dalam Alquran.
Dalam setiap ayat dalam surah ini, selalu terdapat lafaz Jalallah (lafaz ALLAH).
Ada dalam satu ayat hanya terdiri dari satu lafaz, ada yang dua, atau tiga, dan bahkan ada yang lima lafaz, seperti pada ayat 22 dalam surah ini.

Nomor Surah 58
Nama Surah Al Mujaadilah
Arab المجادلة
Arti Wanita yang mengajukan gugatan
Nama lain al-Mujadalah (Perbantahan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 105
Juz Juz 28
Jumlah ruku’ 3 ruku’
Jumlah ayat 22
Jumlah kata 475
Jumlah huruf 2046
Surah sebelumnya Surah Al-Hadid
Surah selanjutnya Surah Al-Hasyr
Sending
User Review
4.5 (29 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

58:4, 58 4, 58-4, Surah Al Mujaadilah 4, Tafsir surat AlMujaadilah 4, Quran AlMujadilah 4, Al Mujadilah 4, Al-Mujadilah 4, Surah Al Mujadilah ayat 4

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Mujaadilah

۞ QS. 58:1 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 58:2 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 58:3 • Keluasan ilmu Allah • Al Khabir (Maha Waspada) • Toleransi Islam

۞ QS. 58:4 • Toleransi Islam • Maksiat dan dosa

۞ QS. 58:5 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 58:6 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 58:7 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 58:8 • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 58:9 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 58:10 • Kekuasaan Allah • Kebenaran dan hakikat takdir • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 58:11 Al Khabir (Maha Waspada) • Menghitung amal kebaikan • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 58:12 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam

۞ QS. 58:13 Al Khabir (Maha Waspada) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 58:14 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 58:15 • Siksaan Allah sangat pedih • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:16 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:17 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:18 • Manusia dibangkitkan dari kubur • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 58:19 • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Wali Allah dan wali syetan • Sifat orang munafik

۞ QS. 58:20 • Azab orang kafir

۞ QS. 58:21 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminHukum alam • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat) • Penentuan takdir sebelum penciptaan

۞ QS. 58:22 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Wali Allah dan wali syetan

Ayat Pilihan

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan ...

Benar! Kurang tepat!

Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang ...

Benar! Kurang tepat!

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Lawan kata dari jujur u200bu200badalah ...

Benar! Kurang tepat!

Orang yang suka berbohong adalah orang ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #5
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #5 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #5 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada … Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama …

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Pendidikan Agama Islam #15

Mujahadah berasal dari bahasa Arab, yang berasal dari kata jahada, yang berarti …َبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaituSalah satu tokoh dalam kisah umat masa lalu yang dapat dipetik pelajaran sebagai teladan yang baik … Tujuan utama diturunkannya Alquran kepada umat manusia adalah …

Kamus

Janah

Di mana itu Janah? Jannah (bahasa Arab: جنّة‎‎) adalah konsep surga dalam ajaran agama Islam. Di dalam eskatologi Islam, setelah kematian seseorang akan tetap di dalam alam kubur (barzakh) sam...

tasyahud

Apa itu tasyahud? ta.sya.hud pembacaan tahiat pada waktu salat … •

Abu Muhammad al-Baghawi

Siapa itu Abu Muhammad al-Baghawi? Al-Baghawi atau Imam Baghawi adalah seorang ahli tafsir, ahli hadits dan ulama fiqih dari mazhab Syafi’i yang terkenal dengan karya besarnya sebuah tafsir Al-Q...