QS. Al Muddatstsir (Orang yang berkemul) – surah 74 ayat 1 [QS. 74:1]

یٰۤاَیُّہَا الۡمُدَّثِّرُ ۙ
Yaa ai-yuhaal muddats-tsir(u);

Hai orang yang berkemul (berselimut),
―QS. 74:1
Topik ▪ Malaikat ▪ Pertemuan Jibril dan Nabi ▪ Ayat yang pertama diturunkan
74:1, 74 1, 74-1, Al Muddatstsir 1, AlMuddatstsir 1, Al-Mudatsir 1, Al-Muddatstsir 1, Al Mudasir 1, Al-Muddassir 1

Tafsir surah Al Muddatstsir (74) ayat 1

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Muddatstsir (74) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat 1-2 disebutkan bahwa Nabi Muhammad sedang berselubung dengan selimut karena diliputi perasaan takut melihat rupa Malaikat Jibril, lalu turunlah wahyu yang memerintahkan agar segera bangun dan memperingatkan umat yang masih sesat itu supaya mereka mengenal jalan yang benar.

Perkataan “qum” (bangunlah) menunjukkan bahwa seorang rasul harus rajin, ulet, dan tidak mengenal putus asa karena ejekan orang yang tidak senang menerima seruannya.
Rasul tidak boleh malas dan berpangku tangan.
Semenjak ayat ini turun, Nabi Muhammad tidak pernah berhenti melaksanakan tugas dakwah.
Sepanjang hidupnya diisi dengan berbagai macam kegiatan yang berguna bagi kepentingan umat dan penyiaran agama Islam.
Peringatan-peringatan yang beliau sampaikan kepada penduduk Mekah yang masih musyrik pada waktu itu, berupa kedahsyatan siksaan Allah di hari Kiamat kelak.
Untuk menyelamatkan diri dari azab tersebut, manusia hendaknya mengenal Allah dan patuh mengikuti perintah Rasulullah ﷺ.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang yang melipat diri dengan selimut, bangunlah dari tidurmu.
Peringatkanlah umat manusia tentang azab Allah yang akan ditimpakan bagi mereka yang tidak beriman.
Agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah pakaianmu dari kotoran dengan menggunakan air.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang yang berselimut!) yakni Nabi ﷺ Bentuk asal lafal al-muddatstsir ialah al-mutadatstsir, kemudian huruf ta diidgamkan kepada huruf dal sehingga jadilah al-Muddatstsir, artinya orang yang menyelimuti dirinya dengan pakaiannya sewaktu wahyu turun kepadanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui hadis Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salamah, dari Jabir; ia pernah mengatakan bahwa ayat Al-Qur’an yang mula-mula diturunkan adalah firman-Nya: Hai orang yang berkemul (berselimut).
(Q.S. Al-Muddatstsir: 1)

Tetapi jumhur ulama berbeda.
Mereka berpendapat bahwa Al-Qur’an yang mula-mula diturunkan adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
(Q.S. Al-‘Alaq [96]: 1)

Sebagaimana yang akan diterangkan di tempatnya, insya Allah.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ali ibnul Mubarak, dari Yahya ibnu Abu Kasiryang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Salamah ibnu Abdur Rahman tentang ayat Al-Qur’an yang mula-mula diturunkan.
Maka Abu Salamah menjawab dengan membaca firman-Nya: Hai orang yang berkemul (berselimut).
(Q.S. Al-Muddatstsir: 1) Aku berkata, bahwa orang-orang menyebutnya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
(Q.S. Al-‘Alaq [96]: 1) Maka Abu Salamah menjawab, bahwa ia pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah tentang masalah ini, dan kukatakan kepadanya apa yang telah kamu katakan kepadaku.
Lalu ia menjawab, bahwa ia tidak sekali-kali menceritakan hadis kepadaku melainkan apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah ﷺ kepadanya.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku ber-tahannus di Gua Hira.
Setelah aku menyelesaikan tahannus-ku, lalu aku turun, dan tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggilku.
Aku menoleh ke arah kanan dan ternyata tidak melihat apa pun; dan aku menoleh ke arah kiriku, tetapi ternyata tidak kulihat sesuatu pun; dan aku memandang ke arah depanku, ternyata tidak ada apa-apa; begitu pula sewaktu aku memandang ke arah belakangku.
Lalu aku mengarahkan pandanganku ke langit, dan ternyata kulihat sesuatu (yang menakutkan, karena Jibril menampakkan dirinya dalam rupa aslinya).
Maka aku pulang ke rumah Khadijah dan kukatakan kepadanya, ‘Selimutilah aku, dan tuangkanlah air dingin ke kepalaku (kompreslah aku)’.” Nabi ﷺ melanjutkan kisahnya, bahwa lalu mereka (keluarga beliau) menyelimuti diriku dan mengompres kepalaku, maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah.
(Q.S. Al-Muddatstsir: 1-3)

Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari melalui jalur ini.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui jalur Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang masa terhentinya wahyu.
Antara lain disebutkan, bahwa ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, maka aku melihat ke arah langit.
Tiba-tiba malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira datang kepadaku duduk di atas sebuah kursi di antara langit dan bumi, maka aku merasa takut dengannya hingga aku terjatuh ke tanah.
Kemudian aku pulang ke rumah keluargaku dan kukatakan, “Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku,” maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! (Q.S. Al-Muddatstsir: 1-2) sampai dengan firman-Nya: dan perbuatan dosa, tinggalkanlah.
(Q.S. Al-Muddatstsir: 5)

Abu Salamah mengatakan bahwa ar-rijzu artinya penyembahan berhala, setelah itu wahyu sering datang dan berturut-turut.
Konteks hadis inilah yang dikenal, dan ini memberikan pengertian bahwa sesungguhnya pernah turun wahyu sebelum itu, karena sabda Nabi ﷺ yang mengatakan: maka kulihat malaikat yang pernah mendatangiku di Hira.
Dia adalah Malaikat Jibril yang saat itu datang kepadanya membawa firman Allah subhanahu wa ta’ala: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq.
Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Q.S. Al-‘Alaq [96]: 1-5)

Sesudah itu terjadi masa fatrah dari wahyu, lalu malaikat itu turun lagi kepadanya setelah masa fatrah.

Pengertian gabungan kedua hadis tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut, bahwa wahyu yang mula-mula diturunkan sesudah beberapa lama wahyu tidak turun adalah surat ini (Q.S. Al-Muzzammil).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Lais, telah menceritakan kepada kami Aqil, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Salamah ibnu Abdur Rahman mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Jabir ibnu Abdullah, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Kemudian wahyu mengalami fatrah dariku selama satu masa, Dan ketika aku sedang berjalan, kudengar suara dari langit (memanggilku), maka aku mengarahkan pandanganku ke langit.
Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah datang kepadaku sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka tubuhku gemetar karenanya hingga aku terjatuh ke tanah.
Lalu aku pulang ke rumah keluargaku dan kukatakan kepada mereka, “Selimutilah aku, selimutilah aku, selimutilah aku.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya, “Hai orang yang berkemul, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agangkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (Q.S. Al-Muddatstsir: 1 -5).
Kemudian wahyu datang lagi dengan berturut-turut.

Bukhari dan Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Syu’aib As-Simsar, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Bisyr Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’afa ibnu Imran, dari Ibrahim ibnu Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan, bahwa sesungguhnya Al-Walid ibnul Mugirah membuat jamuan makan untuk orang-orang Quraisy.
Maka setelah mereka menyantap jamuan itu Al-Walid bertanya kepada mereka, “Bagaimanakah pendapat kalian dengan lelaki ini (maksudnya Nabi ﷺ)?”
Sebagian dari mereka mengatakan seorang penyihir, sebagian yang lain mengatakan bukan seorang penyihir.
Dan sebagian yang lainnya lagi mengatakan seorang tukang tenung, maka sebagian yang lainnya menjawab bukan seorang tukang tenung.
Sebagian dari mereka ada yang mengatakan seorang penyair, dan sebagian yang lainnya menjawabnya bukan seorang penyair.
Lalu sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa bahkan dia adalah seorang penyihir yang belajar (dari orang-orang dahulu).
Akhirnya mereka sepakat menyebutnya sebagai seorang penyihir yang belajar dari orang-orang dahulu.
Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ, maka hati beliau berduka cita dan menundukkan kepalanya serta menyelimuti dirinya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah.
(Q.S. Al-Muddatstsir: 1-7)


Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Muddatstsir (74) ayat 1
Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Al Laits berkata telah bercerita kepadaku Uqail dari Ibnu Syihab berkata aku mendengar Abu Salamah berkata telah mengabarkan kepadaku Jabir bin Abdullah ra. bahwa dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Kemudian wahyu berhenti turun kepadaku pada masa tertentu hingga ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit. Maka aku mengarahkan pandanganku menghadap langit yang ternyata ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira sedang duduk di atas Kursiy antara langit dan bumi. Aku menjadi sangat takut karenanya hingga aku ingin lepas dari bumi. Lalu aku mendatangi keluargaku sambil mengatakan, Selimuti aku, selimuti aku. Maka kemudian Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya (QS al-Mudatstsir ayat 1 – 5) yang artinya Wahai orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan) hingga frman-Nya (Dan perbuatan dosa jauhilah. Abu Salanah berkata,
ar-Rujza artinya berhala-berhala.

Shahih Bukhari, Kitab Permulaan Penciptaan Makhluq – Nomor Hadits: 2999

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Muddatstsir (74) Ayat 1

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhoon (al-Bukhori dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika aku telah selesai uzlah-selama sebulan di gua Hira-, aku turun ke lembah.
Sesampainya ke tengah lembah, ada yang memanggilku, tetapi aku tidak melihat seorangpun di sana.
Aku menengadahkan kepala ke langit.
Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira.
Aku cepat-cepat pulang dan berkata (kepada orang rumah): “Selimuti aku ! Selimuti aku !” Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-2) sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani dengan sanad yang daif, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa al-Walid bin al-Mughirah membuat makanan untuk kaum Quraisy.
Ketika mereka makan-makan, al Walid berkata kepada teman-temannya: “Nama apa yang pantas kalian berikan kepada orang seperti ini (Muhammad) ?” sebagian mereka berkata “Saahir (tukang sihir).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan tukang sihir.” Sebagian mereka berkata :”Kaahin (tukang tenung)” Yang lainnya berkata : “Dia bukan tukang tenung.” Sebagian mereka berkata: “Syaa’ir (tukang syair).” Yang lainnya berkata: “Dia bukan tukang syair.” Yang lainnya berkata lagi: “Dia mempunyai sihir yang membekas (kepada orang lain).” Semua pembicaraan itu sampai kepada Nabi ﷺ sehingga beliaupun merasa sedih.
Beliau mengikat kepalanya serta berselimut.
Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-7) sebagai perintah untuk menyingsingkan baju dan berdakwah.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Muddatstsir (المدثر)
Surat Al Muddaststsir terdiri atas 56 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Muzzammil.

Dinamai “Al Muddatstsir” (orang yang berkemul) diambil dari perkataan “Al Muddatstsir” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

Perintah untuk mulai berda’wah mengagungkan Allah,
membersihkan pakaian,
menjauhi ma’siat,
memberikan sesuatu dengan ikhlas dan bersabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah
Allah akan mengazab orang-orang yang menentang Nabi Muhammad ﷺ dan mendustakan Al Qur’an
tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang telah ia usahakan.

Ayat-ayat dalam Surah Al Muddatstsir (56 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Muddatstsir (74) ayat 1 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Muddatstsir (74) ayat 1 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Muddatstsir (74) ayat 1 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Muddatstsir - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 56 & Terjemahan


Gambar

no images were found



Statistik Q.S. 74:1
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Muddatstsir.

Surah Al-Muddassir (bahasa Arab:المدشّر) adalah surah ke-74 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah terdiri atas 56 ayat, diturunkan setelah surat Al Muzzammil.
Dinamai Al Muddatstsir (Orang yang berkemul) diambil dari perkataan Al Muddatstsir yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 74
Nama Surah Al Muddatstsir
Arab المدثر
Arti Orang yang berkemul
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 4
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 56
Jumlah kata 256
Jumlah huruf 1036
Surah sebelumnya Surah Al-Muzzammil
Surah selanjutnya Surah Al-Qiyamah
4.9
Ratingmu: 4.9 (15 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/74-1







Pembahasan ▪ Apa arti berkemul ▪ tafsir almisbah tentang almudatsir 1-7

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta