Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Maa’un (Barang-barang yang berguna) – surah 107 ayat 4 [QS. 107:4]

فَوَیۡلٌ لِّلۡمُصَلِّیۡنَ ۙ
Fawailul(n)-lilmushalliin(a);
Maka celakalah orang yang salat,
―QS. Al Maa’un [107]: 4

Daftar isi

So woe to those who pray
― Chapter 107. Surah Al Maa’un [verse 4]

فَوَيْلٌ maka celakalah

So woe
لِّلْمُصَلِّينَ orang yang sholat

to those who pray,

Tafsir Quran

Surah Al Maa’un
107:4

Tafsir QS. Al-Ma’un (107) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat-ayat ini, Allah mengungkapkan satu ancaman yaitu celakalah orang-orang yang mengerjakan salat dengan tubuh dan lidahnya, tidak sampai ke hatinya.
Dia lalai dan tidak menyadari apa yang diucapkan lidahnya dan yang dikerjakan oleh anggota tubuhnya.

Ia rukuk dan sujud dalam keadaan lalai, ia mengucapkan takbir tetapi tidak menyadari apa yang diucapkannya.
Semua itu adalah hanya gerak biasa dan kata-kata hafalan semata-mata yang tidak mempengaruhi apa-apa, tidak ubahnya seperti robot.

Perilaku tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mendustakan agama, yaitu orang munafik.
Ancaman itu tidak ditujukan kepada orang-orang muslim yang awam, tidak mengerti bahasa Arab, dan tidak tahu tentang arti dari apa yang dibacanya.

Jadi orang-orang awam yang tidak memahami makna dari apa yang dibacanya dalam salat tidak termasuk orang-orang yang lalai seperti yang disebut dalam ayat ini.

Tafsir QS. Al Maa’un (107) : 4. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Maka kehancuran bagi orang yang melakukan salat tetapi mempunyai sifat seperti itu.
Yaitu mereka yang lalai dalam salatnya dan tidak dapat mengambil manfaat apa-apa dari salatnya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Azab yang keras bagi orang-orang yang shalat.
Yaitu, orang-orang yang lalai dari shalat mereka.


Demikianlah, mereka tidak melaksanakannya sebagaimana mestinya, dan tidak pula melaksanakannya tepat pada waktunya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat.)

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

(1-6)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, bahwa tahukah engkau, hai Muhammad, orang yang mendustakan hari pembalasan?

Itulah orang yang menghardik anak yatim.
(QS. Al-Ma’un [107]: 2)

Yakni dialah orang yang berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, menganiaya haknya dan tidak memberinya makan serta tidak memperlakukannya dengan perlakuan yang baik.


dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
(QS. Al-Ma’un [107]: 3)

Semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Sekali-kali tidak (demikian).
sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim, dan kalian tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.
(QS. Al-Fajr [89]: 17-18)

Makna yang dimaksud ialah orang fakir yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk menutupi kebutuhan dan kecukupannya.
Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.
(QS. Al-Ma’un [107]: 4-5)

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah orang-orang munafik yang mengerjakan salatnya terang-terangan, sedangkan dalam kesendiriannya mereka tidak salat.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
bagi orang-orang yang salat.
(QS. Al-Ma’un [107]: 4)
Yaitu mereka yang sudah berkewajiban mengerjakan salat dan menetapinya, kemudian mereka melalaikannya.


Hal ini adakalanya mengandung pengertian tidak mengerjakannya sama sekali, menurut pendapat Ibnu Abbas, atau mengerjakannya bukan pada waktu yang telah ditetapkan baginya menurut syara’;
bahkan mengerjakannya di luar waktunya, sebagaimana yang dikatakan oleh Masruq dan Abud Duha.

Ata ibnu Dinar mengatakan bahwa segala puji bagi Allah yang telah mengatakan dalam firman-Nya:
yang lalai dari salatnya.
(QS. Al-Ma’un [107]: 5)
Dan tidak disebutkan
"yang lalai dalam salatnya".
Adakalanya pula karena tidak menunaikannya di awal waktunya, melainkan menangguhkannya sampai akhir waktunya secara terus-menerus atau sebagian besar kebiasaannya.
Dan adakalanya karena dalam menunaikannya tidak memenuhi rukun-rukun dan persyaratannya sesuai dengan apa yang diperintahkan.
Dan adakalanya saat mengerjakannya tidak khusyuk dan tidak merenungkan maknanya.
Maka pengertian ayat mencakup semuanya itu.
Tetapi orang yang menyandang sesuatu dari sifat-sifat tersebut berarti dia mendapat bagian dari apa yang diancamkan oleh ayat ini.
Dan barang siapa yang menyandang semua sifat tersebut, berarti telah sempurnalah baginya bagiannya dan jadilah dia seorang munafik dalam amal perbuatannya.


Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik.
Dia duduk menunggu matahari;
dan manakala matahari telah berada di antara kedua tanduk setan (yakni akan tenggelam), maka bangkitlah ia (untuk salat) dan mematuk (salat dengan cepat) sebanyak empat kali, tanpa menyebut Allah di dalamnya melainkan hanya sedikit.

Ini merupakan gambaran salat Asar di waktu yang terakhirnya, salat Asar sebagaimana yang disebutkan dalam nas hadis lain disebut salat wusta, dan yang digambarkan oleh hadis adalah batas terakhir waktunya, yaitu waktu yang dimakruhkan.
Kemudian seseorang mengerjakan salatnya di waktu itu dan mematuk sebagaimana burung gagak mematuk, maksudnya ia mengerjakan salatnya tanpa tumaninah dan tanpa khusyuk.
Karena itulah maka dikecam oleh Nabi ﷺ bahwa orang tersebut tidak menyebut Allah dalam salatnya, melainkan hanya sedikit (sebentar).
Barangkali hal yang mendorongnya melakukan salat tiada lain pamer kepada orang lain, dan bukan karena mengharap rida Allah.
Orang yang seperti itu sama kedudukannya dengan orang yang tidak mengerjakan salat sama sekali.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas.
Mereka bermaksud riya (dengan salat) di Hadapan manusia.
Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
(QS. An-Nisa’ [4]: 142)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

orang-orang yang berbuat ria.
(QS. Al-Ma’un [107]: 6)

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Abdu Rabbih Al-Bagdadi, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu Ata;
dari Yunus, dari Al-Hasan, dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Sesungguhnya di dalam neraka Jahanam benar-benar terdapat sebuah lembah yang neraka Jahanam sendiri meminta perlindungan kepada Allah dari (keganasan) lembah itu setiap harinya sebanyak empat ratus kali.
Lembah itu disediakan bagi orang-orang yang riya (pamer)dari kalangan umat Muhammad yang hafal Kitabullah dan suka bersedekah, tetapi bukan karena Zat Allah, dan juga bagi orang yang berhaji ke Baitullah dan orang yang keluar untuk berjihad(tetapi bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na’ im, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Amr ibnu Murrah yang mengatakan bahwa ketika kami sedang duduk di majelis Abu Ubaidah, lalu mereka berbincang-bincang tentang masalah riya.
Maka berkatalah seorang lelaki yang dikenal dengan julukan Abu Yazid, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Arnr mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Barang siapa yang pamer kepada orang lain dengan perbuatannya, maka Allah akan memamerkannya di hadapan makhluk-Nya dan menjadikannya terhina dan direndahkan.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula dari Gundar dan Yahya Al-Qattan, dari Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah, dari seorang lelaki, dari Abdullah ibnu Amr, dari Nabi ﷺ, lalu disebutkan hal yang semisal.


Dan termasuk hal yang berkaitan dengan makna firman-Nya:
orang-orang yang berbuat ria.
(QS. Al-Ma’un [107]: 6)
ialah bahwa barang siapa yang melakukan suatu perbuatan karena Allah, lalu orang lain melihatnya dan membuatnya merasa takjub dengan perbuatannya, maka sesungguhnya hal ini bukan termasuk perbuatan riya.


Dalil yang membuktikan hal ini ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab musnadnya, bahwa:


telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma’ruf, telah inenceritakan kepada kami Makhlad ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Basyir, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy;
dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa ketika aku sedang salat, tiba-tiba masuklah seorang lelaki menemuiku, maka aku merasa kagum dengan perbuatanku.
Lalu aku.ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau ﷺ bersabda:
Dicatatkan bagimu dua pahala, pahala sembunyi-sembunyi dan pahala terang-terangan.

Abu Ali alias Harun ibnu Ma’ruf mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Ibnul Mubarak pernah mengatakan bahwa hadis ini adalah sebaik-baik hadis bagi orang-orang yang riya.
Bila ditinjau dari segi jalurnya hadis ini garib’, dan Sa’id ibnu Basyir orangnya pertengahan, dan riwayatnya dari Al-A’masy jarang, tetapi selain dia ada yang meriwayat-kan hadis ini dari Al-A’masy.

Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Abu Sinan, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa pernah seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
"Wahai Rasulullah, seorang lelaki melakukan suatu amal kebaikan yang ia sembunyikan.
Tetapi bila ada yang melihatnya, ia merasa kagum dengan amalnya."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Dia mendapat dua pahala, pahala sembunyi-sembunyi dan pahala terang-terangan.

Imam Turmuzi telah meriwayatkannya dari Muhammad ibnul Musanna dan Ibnu Majah, dari Bandar, keduanya dari Abu Daud At-Tayalisi, dari Abu Sinan Asy-Syaibani yang namanya Dirar ibnu Murrah.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib.
Al-A’masy telah meriwayatkannya dan juga yang lainnya, dari Habib, dari Abu Saleh secara mursal.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Hisyam, dari Syaiban An-Nahwi, dari Jabir Al-Ju’fi, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki, dari Abu Barzah Al-Aslami yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya:
(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.
(QS. Al-Ma’un [107]: 5)
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Allahu Akbar (AllahMahabesar), ini lebih baik bagi kalian daripada sekiranya tiap-tiap orang dari kalian diberi hal yang semisal dengan dunia dan seisinya.
Dia adalah orang yang jika salat tidak dapat diharapkan kebaikan dari salatnya, dan jika meninggalkannya dia tidak takut kepada Tuhannya.

Di dalam sanad hadis ini terdapat Jabir Al-Ju’fi, sedangkan dia orangnya daif dan gurunya tidak dikenal lagi tidak disebutkan namanya;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Zakaria ibnu Aban Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Tariq, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepadaku Abdul Malik ibnu Umair, dari Mus’ab ibnu Sa’d, dari Sa’d ibnu Abu Waqqas yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang orang-orang yang lalai dari salatnya.
Maka beliau ﷺ menjawab:
Mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan salat dari waktunya.

Menurut hemat saya, pengertian mengakhirkan salat dari waktunya mengandung makna meninggalkan salat secara keseluruhan, juga mengandung makna mengerjakannya di luar waktu syar’i-nya, atau mengakhirkannya dari awal waktunya.


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la, dari Syaiban ibnu Farukh, dari Ikrimah ibnu Ibrahim dengan sanad yang sama.
Kemudian ia meriwayatkannya dari Ar-Rabi’, dari Jabir, dari Asim, dari Mus’ab, dari ayahnya secara mauquf, bahwa karena lalai dari salatnya hingga waktunya terbuang.
Hal ini lebih sahih sanadnya.
Imam Baihaqi menilai daif predikat marfu’-nya dan menilai sahih predikat mauquf-nya, demikian pula yang dikatakan oleh Imam Hakim.

Unsur Pokok Surah Al Maa’un (الماعون)

Surat ini terdiri atas 7 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat At Takaatsur.

Nama "Al Maa’uun" diambil dari kata "Al Maa’uun" yang terdapat pada ayat 7, artinya barang-barang yang berguna.

Keimanan:

▪ Beberapa sifat manusia yang dipandang sebagai mendustakan agama.
▪ Ancaman terhadap orang-orang yang melakukan shalat dengan lalai dan riya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Maa’un (7 ayat)

1 2 3 4 5 6 7

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Maa'un (107) : 1-7 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 7 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Maa'un (107) : 1-7 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 7

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'un ayat 4 - Gambar 1 Surah Al Maa'un ayat 4 - Gambar 2
Statistik QS. 107:4
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’un.

Surah Al-Ma’un (bahasa Arab:الْمَاعُونَ, “Hal-Hal Berguna”) adalah surah ke-107 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 7 ayat.
Kata Al Maa’uun sendiri berarti bantuan penting atau hal-hal berguna, diambil dari ayat terakhir dari surah ini.
Pokok isi surah menjelaskan ancaman terhadap mereka yang tergolong menodai agama yakni mereka yang menindas anak yatim, tidak menolong orang yang meminta-meminta, riya’ (ingin dipuji sesama manusia) dalam salatnya, serta enggan menolong dengan barang-barang yang berguna.

Nomor Surah 107
Nama Surah Al Maa’un
Arab الماعون
Arti Barang-barang yang berguna
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 17
Juz Juz 30
Jumlah ruku’ 1 ruku’
Jumlah ayat 7
Jumlah kata 25
Jumlah huruf 112
Surah sebelumnya Surah Quraisy
Surah selanjutnya Surah Al-Kausar
Sending
User Review
4.2 (20 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

107:4, 107 4, 107-4, Surah Al Maa'un 4, Tafsir surat AlMaaun 4, Quran AlMaun 4, Al Maun 4, Al-Ma'un 4, Surah Al Maun ayat 4

Video Surah

107:4


Load More

Ayat Pilihan

Kami siksa dengan kesengsaraan & kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.
Maka mengapa mereka tak memohon dengan tunduk merendah ketika datang siksaan Kami pada mereka, bahkan hati mereka telah keras
QS. Al-An’am [6]: 42-43

Ceritakan juga,
wahai Muhammad,
kisah Ayyûb.
Tatkala menderita sakit,
ia berdoa kepada Tuhannya seraya berkata,

“Ya Tuhanku,
aku terserang penyakit yang membahayakan,
dan Engkau adalah Zat Yang Paling Pengasih.”
QS. Al-Anbiya [21]: 83

[ DOA MEMOHON AMPUNAN BAGI KEDUA ORANG TUA & KAUM MUKMININ ] …
Ya rabb kami,
ampunilah aku & kedua Ibu Bapakku & semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (hari kiamat).
QS. Ibrahim [14]: 41


dan hendaklah kamu berlaku adil,
sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
QS. Al-Hujurat [49]: 9

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
Arti dari hadist diatas adalah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Rasulullah Shallalhu'alaihi wa sallam bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

'Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat.'
(HR. Bukhari no. 3461)

Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali ...

Correct! Wrong!

Siapakah ilmuan muslim yang pertama menjadi penemu Al-Jabar?

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Muhammad bin Musa al-Khawarizmi adalah seorang ahli dalam bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwarizm dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad.

+

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا
Arti dari kalimat di atas adalah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

'Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran'
--HR. Imam al-Baihaqi dalam kitab 'Syu’abul Iman' (no. 6612). Hadits ini adalah hadits yang lemah.

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Dalam hadits shahih disebutkan.

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.'
[HR. Muslim dalam Al-Iman (49)]

Pendidikan Agama Islam #30
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #30 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #30 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #29

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah … Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali … potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah … Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu … Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta?

Pendidikan Agama Islam #28

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam? … Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam? … Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama? … Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah … Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? …

Pendidikan Agama Islam #5

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah … Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … Lawan kata dari jujur ??adalah … Orang yang suka berbohong adalah orang … Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang …

Kamus Istilah Islam

siratalmustakim

Apa itu siratalmustakim? si.ra.tal.mus.ta.kim jalan yang lurus; jalan yang benar; titian di neraka sebesar rambut dibelah tujuh dan tajam sekali … •

hajib

Apa itu hajib? ha.jib Ar penjaga pintu; keluarga orang mati yang menghalangi keluarga lain yang sekerabat sehingga warisan keluarga orang yang mati itu tidak terbagikan ke luar … •

Bulan Rajab

Apa itu Bulan Rajab? Bulan ketujuh pada kalender Hijriah ini terdiri dari 30 hari. Rajab di sini memiliki arti mulia dan juga menahan diri. Pada awalnya orang Arab memasukan bulan ini sebagai bulan suci tapi sekarang hal ini sudah jarang dilakukan. Sebagai info tambahan pada tanggal 27 Rajab, sebagian umat Islam merayakan hari Isra’ Mi’raj. Hari raya ini merayakan Nabi … • Rajab