Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 95


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَقۡتُلُوا الصَّیۡدَ وَ اَنۡتُمۡ حُرُمٌ ؕ وَ مَنۡ قَتَلَہٗ مِنۡکُمۡ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآءٌ مِّثۡلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ یَحۡکُمُ بِہٖ ذَوَا عَدۡلٍ مِّنۡکُمۡ ہَدۡیًۢا بٰلِغَ الۡکَعۡبَۃِ اَوۡ کَفَّارَۃٌ طَعَامُ مَسٰکِیۡنَ اَوۡ عَدۡلُ ذٰلِکَ صِیَامًا لِّیَذُوۡقَ وَبَالَ اَمۡرِہٖ ؕ عَفَا اللّٰہُ عَمَّا سَلَفَ ؕ وَ مَنۡ عَادَ فَیَنۡتَقِمُ اللّٰہُ مِنۡہُ ؕ وَ اللّٰہُ عَزِیۡزٌ ذُو انۡتِقَامٍ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa taqtuluush-shaida wa-antum hurumun waman qatalahu minkum muta’ammidan fajazaa-un mitslu maa qatala minanna’ami yahkumu bihi dzawaa ‘adlin minkum hadyan baalighal ka’bati au kaffaaratun tha’aamu masaakiina au ‘adlu dzalika shiyaaman liyadzuuqa wabaala amrihi ‘afaallahu ‘ammaa salafa waman ‘aada fayantaqimullahu minhu wallahu ‘aziizun dzuuuntiqaamin;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram.
Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya.
Allah telah memaafkan apa yang telah lalu.
Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.
Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.
―QS. 5:95
Topik ▪ Takwa ▪ Perbuatan dan niat ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
5:95, 5 95, 5-95, Al Maa’idah 95, AlMaaidah 95, Al Maidah 95, AlMaidah 95, Al-Ma’idah 95
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 95. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menegaskan larangan Allah kepada orang-orang mukmin agar mereka jangan membunuh binatang buruan yang biasanya ditangkap kemudian disembelih untuk dimakan dagingnya.
Larangan ini pun dihadapkan kepada mereka yang sedang melaksanakan ihram baik ihram dalam ibadah haji maupun ibadah umrah.

Kemudian Allah menjelaskan hukuman denda yang dikenakan kepada orang-orang mukmin yang melanggar larangan itu, yakni orang yang membunuh binatang buruan itu dengan sengaja, padahal ia ingat akan larangan itu.
Dendanya ialah menunaikan salah satu dari hal-hal sebagai berikut:

a.
Mengganti binatang buruan yang dibunuhnya itu dengan binatang ternak yang seimbang dengan yang telah dibunuhnya, berdasarkan putusan dua orang yang adil.
Binatang pengganti itu harus dibawa ke Kakbah atau ke daerah haram, kemudian disembelih di sana dan dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin yang berada di tempat itu.

b.
Atau denda kafarat yang berupa memberi makan fakir miskin, dengan makanan yang nilainya seimbang dengan binatang pengganti yang tersebut di atas.

c.
Atau berpuasa pada hari-hari yang jumlahnya seimbang dengan jumlah takaran (mud) makan yang harus diberikan kepada fakir miskin, dengan pengertian bahwa setiap fakir miskin memperoleh satu mud, kira-kira sama dengan 6 1/4 ons, setiap satu mud sama dengan puasa satu hari.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa hukuman yang ditetapkan itu adalah bertujuan agar orang-orang yang melanggar larangan itu dapat merasakan akibat perbuatannya itu.

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa Dia memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah lalu, yaitu membunuh binatang buruan ketika mereka sedang berihram dan dilakukan sebelum turunnya ayat ini.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan ancaman-Nya kepada orang-orang yang masih melanggar larangan itu setelah turunnya ayat ini, yaitu bahwa Dia akan menyiksa mereka.
Dan Allah Maha Kuasa lagi mempunyai kekuasaan untuk menyiksa setiap makhluk yang bersalah.

Al Maa'idah (5) ayat 95 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 95 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 95 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang yang beriman, jika kalian telah berniat melaksanakan ibadah haji dan umrah, janganlah kalian membunuh binatang buruan.
Barangsiapa di antara kalian membunuhnya dengan sengaja, maka ia harus membayar denda yang setara dengan binatang yang dibunuh, yaitu dengan mengeluarkan unta, sapi atau kambing.
Hewan pengganti yang setara itu harus diketahui oleh dua orang yang adil untuk memutuskannya.
Daging hewan-hewan tersebut dibagikan kepada fakir miskin yang tinggal di sekitar Ka’bah.
Bisa juga dengan membayar kepada mereka seharga hewan pengganti.
Atau dengan memberi makan kepada fakir miskin–masing-masing memperoleh bagian yang cukup untuk sehari–sebesar harga hewan pengganti binatang yang dibunuhnya.
Hal itu dimaksudkan untuk menebus dosa yang dilanggar akibat berburu.
Selain itu, denda dapat pula dilakukan dengan puasa beberapa hari sejumlah fakir miskin yang berhak menerima makanan.
Ketetapan itu telah ditentukan agar orang yang melanggar merasakan dampak kejahatannya dan keburukan akibatnya.
Allah memaafkan pelanggaran-pelanggaran yang telah lalu sebelum ketentuan ini ditetapkan.
Barangsiapa kembali melanggar setelah mengetahui pengharamannya, maka sesungguhnya Allah akan menghukum kejahatan yang diperbuat.
Allah Mahakuasa dan hukuman-Nya amat keras bagi siapa yang terus menerus berbuat dosa.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang berihram) melakukan ihram haji dan ihram umrah.
(Siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya) lafal yang sesudahnya dibaca secara tanwin dan rafa`, artinya ia harus membayar denda yang (sama dengan hewan yang telah dibunuhnya) artinya hewan yang sama bentuknya, dan di dalam suatu qiraat lafal jazaaun diidhafatkan kepada lafal yang sesudahnya sehingga dibaca wa jazaau mitsli (menurut keputusan) artinya mengenai perimbangan dua orang lelaki (dua orang yang adil di antara kamu) yang keduanya mempunyai kecerdasan dalam membedakan dan menyesuaikan hal-hal yang serupa.
Ibnu Abbas, Umar dan Ali telah memutuskan denda seekor unta sebagai imbangan buruan seekor burung unta.
Kemudian Ibnu Abbas dan Abu Ubaidah telah memutuskan mengganti sapi liar dan keledai liar dengan seekor sapi.
Ibnu Umar dan Ibnu Auf mengganti seekor kijang dengan seekor kambing sebagai kafaratnya, kemudian Ibnu Abbas dan Umar serta selain keduanya telah memutuskan hal yang sama dalam kasus perburuan rusa sebab ia mirip dengan kambing dalam masalah besarnya (sebagai hadya) sebagai hal dari lafal jazaa (yang dibawa sampai ke Kakbah) artinya kurban itu dibawa sampai ke tanah suci lalu disembelih sesampainya di sana, lalu dagingnya disedekahkan kepada para penduduknya yang miskin, dan hewan hadya itu tidak boleh disembelih di tempat perburuan terjadi.
Lafal balighal ka`bati dibaca nashab karena menjadi sifat dari lafal yang sebelumnya yaitu hadya, sekalipun ia diidhafatkan karena idhafatnya itu hanya bersifat lafzi.
Jadi tidak memberikan pengertian makrifat.
Apabila binatang buruan itu sangat sulit untuk ditemukan yang sepadan dengannya, seperti burung cicit dan belalang, maka pelakunya wajib membayar harganya saja (atau) ia harus membayar (kafarat) yang tidak sepadan sekalipun hewan yang sepadan memang ada, yaitu (memberi makan orang-orang miskin) berupa makanan pokok yang biasa dimakan oleh penduduk setempat dalam jumlah yang sesuai dengan harga denda untuk dibagikan kepada setiap orang miskin satu mud.
Menurut suatu qiraat dengan mengidhafatkan lafal kaffarah kepada lafal yang sesudahnya dengan pengertian memperjelas (atau) ia harus membayarnya (dengan yang seimbang) seperti (jumlah itu) dalam bentuk makanan (berupa puasa) yang ia lakukan untuk setiap harinya sebagai ganti dari satu mud makanan, dan jika ia menemukan makanan, maka yang wajib baginya ialah membayarnya dengan makanan (supaya ia merasakan akibat) yang berat bagi pembalasan (perbuatannya) yang telah ia lakukan.
(Allah telah memaafkan apa yang telah lalu) yaitu dari perbuatan membunuh binatang buruan sewaktu ihram sebelum diharamkan.
(Dan siapa yang kembali mengerjakan)nya (niscaya Allah akan membalasnya.
Allah Maha Perkasa) Maha Menang dalam segala perkara-Nya (lagi Yang Mempunyai pembalasan) terhadap orang yang berbuat durhaka kepada-Nya dan kemudian disamakan dengan membunuh secara sengaja, yaitu membunuh secara kesalahan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, jangan membunuh hewan buruan darat saat kalian sedang berihram haji atau umrah, atau kalian berada di wilayah haram.
Barangsiapa yang membunuh hewan buruan darat apa pun dengan sengaja, maka hukumannya adalah hendaknya dia menyembelih hewan ternak yang mirip dengan hewan buruan tersebut, unta, sapi atau kambing atas dasar keputusan dua orang yang adil, lalu membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin di Haram.
Atau membeli dengan harganya makanan yang diberikan kepada fakir miskin di Haram, masing-masing miskin mendapatkan setengah sha, atau berpuasa satu hari untuk menggantikan setengah sha makanan tersebut.
Allah menetapkan hukuman ini agar pelakunya memikul akibat dari perbuatannya.
Siapa yang melakukan sebagian darinya sebelum pengharaman, maka Allah memaafkan mereka.
Namun, siapa yang mengulang penyelisihan dengan sengaja, maka dia beresiko mendapatkan hukuman dari Allah.
Allah Mahaperkasa, kuat dan kokoh kerajaan-Nya.
Di antara bukti keperkasaanNya adalah bahwa dia membalas siapa yang mendurhakai-Nya bila Dua berkehendak, karena tidak ada yang bisa menghalangi-Nya untuk melakukan hal itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Hal ini merupakan pengharaman dan larangan dari Allah subhanahu wa ta’ala.
untuk membunuh dan memakan binatang buruan dalam keadaan ihram.
Dan hal ini tiada lain menyangkut binatang yang boleh dimakan dagingnya, bila ditinjau dari segi maknanya, sekalipun hewan yang dilahirkan dari campuran antara binatang yang halal dimakan dan binatang lainnya.

Mengenai binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya dari kalangan hewan darat, menurut Imam Syafii, orang yang sedang ihram diperbolehkan membunuhnya.

Lain halnya dengan jumhur ulama, mereka tetap mengharamkannya pula, dan tiada yang dikecualikan kecuali apa yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui jalur Az-Zuhri, dari Urwah, dari Siti Aisyah Ummul Mu’minin, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Ada lima hewan jahat yang boleh dibunuh, baik di tanah halal maupun di tanah suci, yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking (scorpion), tikus, dan anjing gila.

Imam Malik telah meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Ada lima macam hewan yang tiada dosa bagi orang yang sedang ihram membunuhnya, yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus dan anjing gila.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkannya pula.
Ayyub telah meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar hal yang semisal, dan Ayyub mengatakan, “Aku bertanya kepada Nafi’ mengenai ular, maka Nafi’ menjawab, ‘Masalah ular tidak diragukan lagi, dan tiada yang memperselisihkan kebolehan membunuhnya’.”

Di antara ulama seperti Imam Malik dan Imam Ahmad terdapat orang-orang yang menyamakan dengan anjing gila yaitu serigala, hewan pemangsa, macan tutul dan harimau, karena hewan-hewan tersebut lebih berbahaya daripada anjing gila.

Zaid ibnu Aslam dan Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan bahwa pengertian anjing gila mencakup semua jenis hewan liar pemangsa.

Orang yang mengatakan demikian menyimpulkan dalil dari sebuah riwayat yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ mendoakan kebinasaan terhadap Atabah ibnu Abu Lahab, dalam doanya beliau mengucapkan:

Ya Allah, kuasakanlah atas dirinya.
anjing-Mu yang ada di negeri Syam.

Ternyata Atabah dimangsa oleh hewan pemangsa di Zarqa.

Jumhur ulama mengatakan, jika seseorang membunuh selain hewan-hewan yang disebutkan dalam hadis, maka ia harus membayar dendanya, misalnya dia membunuh dubuk, musang, dan berang-berang serta lain-lainnya yang semisal.

Imam Malik mengatakan bahwa dikecualikan pula dari hal tersebut anak-anak dari kelima hewan yang disebutkan dalam nas hadis serta anak-anak hewan pemangsa yang disamakan dengan hewan-hewan tersebut.

Imam Syafii mengatakan, orang yang sedang ihram diperbolehkan membunuh semua hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya.
Dalam hal ini tidak ada bedanya antara yang masih kecil dan yang sudah besar.
Dan Imam Syafii menilai bahwa ‘illat jami’ah yang membolehkannya diperlakukan demikian karena dagingnya tidak boleh dimakan.

Imam Abu Hanifah mengatakan, orang yang sedang ihram boleh membunuh anjing gila dan serigala, mengingat serigala adalah anjing liar.
Dan jika seseorang membunuh selain keduanya, maka ia harus menebusnya, kecuali jika hewan yang selain keduanya itu menyerang­nya, maka barulah ia boleh membunuhnya, dan tidak ada kewajiban menebusnya.
Hal ini merupakan pendapat Al-Auza’i dan Al-Hasan ibnu Saleh ibnu Huyay.
Sedangkan menurut Zufar ibnul Huzail, orang yang bersangkutan tetap dikenakan tebusan, sekalipun binatang yang selain itu datang menyerangnya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan burung gagak (al-gurab) dalam hadis ini ialah burung gagak yang berwarna abqa’, yaitu yang pada punggungnya dan bagian bawah perutnya terdapat bulu yang berwarna putih (belang).
Lain halnya dengan burung gagak adra’ yakni yang bulunya berwarna hitam mulus, juga burung asam, yakni burung gagak yang berwarna putih.

Hal ini berdasarkan kepada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasai:

dari Amr ibnu Ali Al-Fallas, dari Yahya Al-Qattan.
dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Sa’id ibnul Musayyab.
dari Siti Aisyah.
dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Ada lima jenis hewan yang boleh dibunuh oleh orang yang sedang ihram,: yaitu ular, tikus, burung elang, burung gagak belang, dan anjing gila.

Jumhur ulama berpendapat bahwa makna yang dimaksud lebih umum dari itu, karena menurut hadis yang ada di dalam kitab Sahihain disebutkan lafaz al-gurab secara mutlak tanpa ikatan (al-abqa’).

Imam Malik rahimahulldh mengatakan bahwa orang yang sedang ihram tidak boleh membunuh burung gagak, kecuali jika burung gagak itu menyerang dan mengganggunya.
Sedangkan menurut Mujahid ibnu Jabr dan segolongan ulama, ia tidak boleh membunuhnya melainkan hanya melemparnya.
Dan telah diriwayatkan hal yang semisal dari Ali r.a.

Hasyim telah meriwayatkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abu Ziyad, dari Abdur Rahman ibnu Abu Nu’m, dari Abu Sa’id, dari Nabi ﷺ Beliau pernah ditanya mengenai hewan yang boleh dibunuh oleh orang yang sedang ihram.
Maka beliau ﷺ menjawab: Ular, kalajengking, tikus, dan burung gagak tidak boleh dibunuh, tetapi dilempar (diusir), (begitu pula) anjing gila, elang serta hewan pemangsa yang menyerang.

Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Hambal, dan Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Mani’, keduanya dari Hasyim.
Sedangkan Ibnu Majah dari Abu Kuraib dan Muhammad ibnu Fudail, keduanya dari Yazid ibnu Abu Ziyad, sedangkan dia orang­nya daif.
Tetapi menurut Imam Turmuzi, hadis ini berpredikat hasan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Barang siapa di antara kalian membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Ayyub yang menceritakan bahwa ia mendapat berita dari Tawus yang mengatakan, “Orang yang membunuh binatang buruan karena tersalah tidak dijatuhi sanksi, melainkan yang dijatuhi sanksi ialah orang yang membunuhnya dengan sengaja.” Hal ini merupakan mazhab (pendapat) yang aneh, bersumber dari Tawus, dia hanya berpegang kepada lahiriah makna ayat.

Mujahid ibnu Jabr mengatakan, yang dimaksud dengan makna muta’ammid dalam ayat ini ialah orang yang sengaja membunuh binatang buruan, sedangkan dia dalam keadaan lupa terhadap ihram yang sedang di jalaninya.
Adapun orang yang sengaja membunuh binatang buruan, padahal ia ingat akan ihramnya, maka perkaranya lebih berat daripada hanya dikenai sanksi membayar kifarat, dan ihramnya batal.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, bersumber dari Mujahid ibnu Jabr melalui jalur Ibnu Abu Nujaih, Lais ibnu Salim, dan lain-lainnya.
Pendapat ini pun aneh.

Adapun menurut jumhur ulama, orang yang sengaja dan orang yang lupa dalam melakukannya sama saja, diwajibkan membayar tebusan (denda).
Az-Zuhri mengatakan bahwa Al-Qur’an menunjukkan kepada orang yang sengaja, sedangkan sunnah menunjukkan kepada orang yang lupa (tidak sengaja).
Dengan kata lain, Al-Qur’an menunjukkan bahwa orang yang sengaja diwajibkan membayar denda, dan bahwa perbuatannya itu berdosa.
Hal ini diungkapkan melalui firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya.
Allah telah memaafkan apa yang telah lalu.
Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.

Sedangkan yang ditunjukkan oleh sunnah, yaitu dari keputusan-keputusan Nabi ﷺ dan keputusan-keputusan sahabatnya, wajib membayar denda dalam kasus perburuan secara tersalah.
Perihalnya sama dengan kewajiban membayar denda dalam kasus sengaja.
Lagi pula membunuh binatang buruan termasuk perbuatan merusak,dan merusak itu dikenai sanksi ganti rugi, baik dalam kasus sengaja ataupun tidak sengaja, tetapi orang yang melakukannya dengan sengaja berdosa, sedangkan orang yang keliru dimaafkan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya.

Sebagian dari ulama membacanya dengan idafah, yakni fajazau’ misli.
Sedangkan yang lainnya membacanya dengan meng-ataf-kannya, yaitu:

…maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya.

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud membacanya fajazauhu mislu (dengan memakai damir).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya.

Menurut masing-masing dari dua qiraah di atas terkandung dalil yang dijadikan pegangan oleh pendapat Imam Malik dan Imam Syafii serta Imam Ahmad dan jumhur ulama, semuanya mengatakan wajib membayar denda berupa binatang ternak yang seimbang dengan binatang yang dibunuh oleh orang yang sedang ihram tersebut, jika binatang itu ada persamaannya dengan binatang yang jinak.
Lain halnya dengan Imam Abu Hanifah rahimahullah, karena ia hanya mewajibkan harganya saja, baik binatang buruan yang terbunuh itu termasuk binatang yang ada persamaannya dengan binatang yang jinak ataupun bukan binatang yang mempunyai persamaan.
Imam Abu Hanifah mengatakan, orang yang bersangkutan disuruh memilih, ia boleh menyedekahkan harganya, boleh pula harganya dibelikan hadya (hewan kurban).

Tetapi keputusan yang telah ditetapkan oleh para sahabat yang menyatakan denda dibayar dengan binatang yang seimbang merupakan pendapat yang lebih utama untuk diikuti.
Mereka memutuskan bahwa membunuh burung unta dendanya ialah seekor unta, membunuh sapi liar dendanya ialah seekor sapi, membunuh kijang dendanya ialah domba.
Peradilan yang ditetapkan oleh para sahabat berikut sandaran-sandaran-nya disebutkan di dalam kitab-kitab fiqih.

Adapun jika binatang buruan bukan termasuk binatang yang ada imbangannya dari binatang yang jinak, maka Ibnu Abbas telah memutuskan dendanya, yaitu membayar harganya, lalu dibawa ke Mekah.
Demikianlah menurut riwayat Imam Baihaqi.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…menurut putusan dua orang yang adil di antara kalian.

Mengenai ketetapan bayar denda dalam kasus binatang yang berstandar atau harganya dalam kasus membunuh binatang buruan yang tidak mempunyai standar dari binatang yang jinak, diputuskan oleh dua orang yang adil dari kalangan kaum muslim.

Para ulama berselisih pendapat sehubungan dengan diri si pelaku perburuan, apakah dia boleh dijadikan sebagai salah seorang dari dua hakim yang memutuskan sanksi dendanya, ada dua pendapat mengenainya.
Salah satunya mengatakan tidak boleh, karena keputusan sanksi terhadap dirinya sendiri perlu dicurigai.
Demikianlah menurut mazhab Imam Malik.

Pendapat yang kedua mengatakan boleh, karena mengingat keumuman makna ayat.
Pendapat ini merupakan mazhab Imam Syafii dan Imam Ahmad.
Pendapat yang pertama beralasan bahwa seorang hakim tidak boleh merangkap menjadi mahkum ‘alaih (yang dijatuhi sanksi) dalam waktu yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im Al-Fadl ibnu Dakin, telah menceritakan kepada kami Ja’far (yaitu Ibnu Barqan), dari Maimun ibnu Mahran, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Khalifah Abu Bakar, lalu lelaki Badui itu berkata, “Aku telah membunuh binatang buruan, sedangkan aku dalam keadaan berihram.
Maka bagaimanakah menurut pendapatmu, denda apakah yang harus kubayar?”
Maka Khalifah Abu Bakar r.a.
bertanya kepada Ubay ibnu Ka’b yang sedang duduk di sisinya, “Bagaimanakah kasus ini menurutmu?”
Tetapi orang Badui itu menyangkal, “Aku datang kepadamu, dan kamu adalah khalifah Rasulullah.
Aku hanya bertanya kepadamu, tetapi ternyata kamu menanyakan kepada orang lain.” Abu Bakar r.a.
menjawab, “Apakah yang kamu protes, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman: maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kalian.
(Al Maidah:95) Maka aku bermusyawarah dengan temanku untuk mengambil suatu kesepakatan mengenai kasusmu itu.
Apabila kami telah sepakat atas suatu keputusan, maka barulah kami akan menjatuhkannya kepadamu untuk dilakukan.”

Sanad asar ini jayyid (baik), tetapi munqati (ada yang terputus) antara Maimun dan As-Siddiq.
Dalam kasus seperti ini barangkali sanksi yang dijatuhkan adalah hewan yang seimbang.
Khalifah Abu Bakar As-Siddiq menjelaskan kepada orang Badui itu keputusan hukumnya dengan lemah lembut dan hati-hati, mengingat ia memandang bahwa orang Badui itu tidak mengerti.
Dan sesungguhnya penawar atau obat bagi ketidak­mengertian hanyalah diberi pelajaran.

Jika orang yang menyangkal dikenal sebagai orang yang berilmu, kasusnya seperti yang disebutkan oleh Ibnu Jarir.
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Hannad dan Abu Hisyam Ar-Rifa’i.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’ ibnul Jarrah, dari Al-Mas’udi, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Qubaisah ibnu Jabir yang menceritakan, “Kami berangkat melakukan ibadah haji.
Apabila memasuki waktu tengah hari, kami tuntun kendaraan kami dan kami berjalan seraya berbincang-bincang.

Pada suatu siang hari ketika kami dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ada seekor kijang menyeberang di hadapan kami dari sisi kanan ke sisi kiri atau dari sisi kiri ke sisi kanan kami.
Maka seorang lelaki di antara kami melemparnya dengan batu, dan ternyata lemparannya itu tepat mengenai bagian perutnya, lalu lelaki itu menaiki hewan kendaraan­nya dan meninggalkan kijang itu dalam keadaan mati.
Dan kami meng­anggapnya telah melakukan suatu kesalahan yang besar.

Ketika kami tiba di Mekah, aku keluar bersamanya hingga sampai kepada Khalifah Umar ibnul Khattab r.a.
Lalu lelaki itu menceritakan kepadanya kisah tersebut.
Saat itu di sebelah Khalifah Umar terdapat seorang lelaki yang wajahnya putih bersih bagaikan perak, dia adalah Abdur Rahman ibnu Auf.
Lalu Umar menoleh kepadanya dan berbicara dengannya, setelah itu Umar memandang kepada lelaki itu dan bertanya, “Apakah kamu sengaja membunuhnya, ataukah tersalah?’ Lelaki itu menjawab, ‘Sesungguhnya aku sengaja melemparnya dengan batu, tetapi aku tidak sengaja membunuhnya’ (maksudnya hanya menghardiknya).

Khalifah Umar berkata, ‘Menurut pendapatku, perbuatan yang kamu lakukan itu merupakan gabungan dari unsur sengaja dan unsur keliru, maka carilah seekor kambing, kemudian sembelihlah dan sedekahkanlah dagingnya, tetapi biarkanlah kulitnya.’

Maka kami bangkit pergi dari Khalifah Umar dan aku (Qubaisah) berkata kepada temanku (si lelaki yang membunuh kijang tersebut), ‘Hai kamu, sebaiknya kamu agungkan syiar-syiar Allah, Amirul Mu’minin tidak mengetahui apa yang harus ia fatwakan kepadamu sehingga ia bertanya kepada temannya (yakni Abdur Rahman ibnu Auf).
Sekarang pergilah ke untamu, lalu sembelihlah untamu, maka mudah-mudahan hal itu mencukupimu’.”

Qubaisah mengatakan bahwa saat itu dirinya dalam keadaan tidak ingat akan ayat dari surat Al-Maidah yang mengatakan:
Menurut putusan dua orang yang adil di antara kalian.

Qubaisah melanjutkan, “Dan ternyata ucapanku itu sampai kepada Khalifah Umar.
Maka tiada sesuatu yang mengejutkan kami melainkan dia datang dengan membawa cambuk, lalu ia memukul temanku itu dengan cambuknya seraya berkata, ‘Apakah kamu berani membunuh hewan buruan di tanah suci dan meremehkan keputusan hukum yang telah ditetapkan?’

Kemudian Khalifah Umar datang kepadaku, maka aku berkata, ‘Wahai Amirul Mu’minin, aku tidak akan menghalalkan bagimu hari ini sesuatu pun yang diharamkan bagimu atas diriku.’ Maka Khalifah Umar r.a.
berkata, ‘Hai Qubaisah ibnu Jabir, sesungguhnya aku melihat­mu berusia muda, lapang dada, dan memiliki lisan yang jelas.
Dan sesungguhnya dalam diri seorang pemuda itu terdapat sembilan macam akhlak yang baik dan satu akhlak yang buruk, tetapi akhlak yang buruk itu dapat merusak semua akhlak yang baik.
Karena itu, jauhilah olehmu hal-hal yang dapat menggelincirkan seorang pemuda’.”

Hasyim meriwayatkan kisah ini dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Qubaisah dengan lafaz yang semisal.
Ia meriwayatkannya pula dari Husain, dari Asy-Sya’bi, dari Qubaisah dengan lafaz yang semisal.
Dan ia mengetengahkannya secara mursal melalui Umar ibnu Bakar ibnu Abdullah Al-Muzanni dan Muhammad ibnu Sirin dengan lafaz yang semisal.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Mansur, dari Abu Wail, telah menceritakan kepadaku Ibnu Jarir Al-Bajali, bahwa ia pernah membunuh seekor kijang, sedangkan dia dalam keadaan ihram.
Lalu ia menceritakan hal itu kepada Khalifah Umar.
Maka Khalifah Umar berkata, “Datangkanlah dua orang lelaki dari kalangan saudara-saudaramu, lalu hendaklah keduanya memutuskan perkaramu itu.”

Maka aku (Ibnu Jarir Al-Bajali) datang kepada Abdur Rahman dan Sa’d, lalu keduanya memberikan keputusan terhadap diriku agar membayar denda berupa seekor domba jantan berbulu kelabu.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Mukhariq, dari Tariq yang menceritakan bahwa Arbad menginjak seekor kijang hingga mem­bunuhnya, sedangkan ia dalam keadaan ihram.
Lalu Arbad datang kepada Khalifah Umar untuk meminta keputusan perkaranya.
Maka Khalifah Umar berkata kepadanya, “Ikutlah kamu dalam keputusan ini bersamaku (memusyawarahkannya).” Maka keduanya memutuskan denda berupa seekor kambing yang telah dapat minum dan memakan daun pepohonan.
Kemudian Khalifah Umar membacakan firman-Nya:
menurut putusan dua orang yang adil di antara kalian.

Di dalam asar ini terkandung dalil yang menunjukkan boleh menjadikan orang yang terlibat sebagai salah satu dari dua orang hakim yang menangani kasusnya.
Seperti apa yang telah dikatakan oleh Imam Syafii dan Imam Ahmad.

Mereka berselisih pendapat, apakah diperlukan adanya keputusan baru atas setiap perbuatan pelanggaran yang dilakukan oleh orang yang berihram (yang membunuh binatang buruan)?
Karena itu, diwajibkan mengadakan keputusan hukum baru yang dilakukan oleh dua orang yang adil, sekalipun kasus yang semisal telah dilakukan keputusannya oleh para sahabat, ataukah keputusannya cukup mengikut kepada keputusan sahabat yang terdahulu?

Ada dua pendapat mengenainya.
Imam Syafii dan Imam Ahmad mengatakan bahwa dalam menangani kasus yang serupa, keputusan hukumnya mengikut kepada apa yang telah diputuskan oleh para sahabat.
Keduanya menganggap bahwa keputusan sahabat itu merupakan syariat yang telah ditetapkan dan tidak boleh berpaling darinya.
Sedangkan kasus-kasus yang keputusannya belum pernah dilakukan oleh para sahabat, maka keputusannya merujuk kepada pendapat dua orang hakim yang adil.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan, diwajibkan melakukan keputusan hukum baru terhadap setiap kasus pelanggaran, baik jenis pelanggaran itu hukumnya pernah diputuskan oleh sahabat ataukah belum, karena Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:
menurut putusan dua orang yang adil di antara kalian.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sebagai hadya yang dibawa sampai ke Ka’bah.

Yakni dibawa sampai ke Tanah Suci, lalu disembelih di sana, dan dagingnya dibagi-bagikan kepada kaum fakir miskin Tanah Suci.
Hal ini merupakan suatu perkara yang telah disepakati oleh semuanya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…atau (dendanya) membayar kifarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu.

Yakni apabila orang yang berihram tersebut tidak menemukan hewan yang seimbang dengan binatang buruan yang telah dibunuhnya, atau karena memang binatang buruan yang dibunuhnya bukan termasuk binatang yang mempunyai standar perimbangan.

Huruf au dalam ayat ini menurut hemat kami bermakna takhyir, yakni boleh memilih salah satu di antara membayar denda yang seimbang dengan binatang yang dibunuhnya, atau memberi makan, atau puasa, seperti pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad ibnul Hasan, dan salah satu dari dua pendapat Imam Syafii serta pendapat yang terkenal dari Imam Ahmad.
Dengan alasan bahwa makna lahiriah huruf au dalam ayat ini menunjukkan makna takhyir.

Pendapat lain mengatakan bahwa huruf au dalam ayat ini menunjukkan makna tartib (berurutan).
Sebagai gambarannya ialah hendaklah orang yang bersangkutan beralih kepada nilai.
Untuk itu, binatang buruan yang dibunuhnya ditaksir harganya.
Demikianlah menurut pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah serta semua muridnya, begitu pula menurut Hammad serta Ibrahim.

Imam Syafii mengatakan, harga ternak yang semisal ditaksir seandainya ada, kemudian harganya dibelikan makanan, lalu makanan itu disedekahkan.
Setiap orang miskin mendapat satu mud menurut Imam Syafii, Imam Malik, dan ulama fiqih Hijaz.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya mengatakan, orang yang bersangkutan memberi makan setiap orang miskin sebanyak dua mud, pendapat inilah yang dikatakan oleh Mujahid.
Sedangkan menurut Imam Ahmad adalah satu mud gandum atau dua mud makanan lainnya.

Jika orang yang bersangkutan tidak menemukan makanan —atau kita katakan menurut pendapat yang mengartikan takhyir— maka orang yang bersangkutan melakukan puasa sebagai ganti memberi makanan setiap orang miskin, yaitu setiap orang diganti menjadi puasa sehari.
Ibnu Jarir mengatakan, ulama yang lain mengatakan bahwa orang yang bersangkutan melakukan puasa sehari untuk mengganti se­tiap sa makanan, perihalnya sama dengan kifarat dalam kasus pelanggar­an melakukan pencukuran dan lain-lainnya.
Karena sesungguhnya Nabi ﷺ telah memerintahkan Ka’b ibnul Ujrah untuk membagi-bagikan satu faraq makanan di antara enam orang miskin atau puasa tiga hari, satu faraq isinya tiga sa’.

Para ulama berselisih pendapat mengenai tempat pembagian makanan ini.
Menurut Imam Syafii, makanan harus dibagikan di Tanah Suci, seperti apa yang dikatakan oleh Ata.
Imam Malik mengatakan, makanan dibagikan di tempat orang yang bersangkutan membunuh binatang buruannya, atau di tempat-tempat yang berdekatan dengan tempat perburuannya itu.

Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, jika orang yang bersangkut­an ingin membagi-bagikan makanannya di Tanah Suci, ia boleh melaku­kannya, dan jika ingin membagi-bagikannya di tempat lain, ia boleh pula melakukannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnul Mugirah, telah mencerita­kan kepada kami Jarir, dari Mansur, dari Al-Hakam, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan binatang buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kalian sebagai hadyayang dibawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kifarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu.{Al-Maidah: 95) Apabila seseorang yang sedang ihram membunuh binatang buruan, maka ia dikenakan sanksi membayar denda berupa hewan ternak (yang sebanding).
Jika ia tidak dapat menemukan hewan ternak yang sebanding, maka dipertimbangkan nilai binatang buruan itu, kemudian dihargakan, dan harganya dibelikan makanan, dan (kalau) puasa, untuk setiap setengah sa’ diganti dengan puasa satu hari.

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman: atau (dendanya) membayar kifarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu.
(Al Maidah:95) Ibnu Abbas mengatakan bahwa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan sanksi memberi makan dan puasa ialah apabila orang yang bersangkutan menemukan makanan, berarti ia telah menemukan pembayaran dendanya.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui jalur Jarir.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubung­an dengan makna firman-Nya: Sebagai hadya yang dibawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kifarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu.
(Al Maidah:95) Apabila seseorang yang sedang ihram membunuh seekor binatang buru­an, maka ia dikenakan denda akibat perbuatannya itu.
Jika ia membunuh seekor kijang atau yang sejenis dengannya, dendanya ialah seekor kambing yang kemudian disembelih di Mekah, jika tidak menemukan­nya, dendanya ialah memberi makan enam orang miskin.
Dan jika tidak menemukannya, dendanya ialah melakukan puasa sebanyak tiga hari.

Jika ia membunuh kijang jantan atau yang sejenis dengannya, dendanya ialah seekor sapi betina, jika tidak menemukannya, dendanya memberi makan sepuluh orang miskin, jika tidak menemukannya, maka dendanya ialah berpuasa selama dua puluh hari.
Jika ia membunuh seekor burung unta atau keledai atau zebra atau yang sejenis dengannya, dendanya ialah seekor unta, jika tidak menemukannya, dendanya ialah memberi makan tiga puluh orang miskin, dan jika tidak menemukannya, dendanya ialah melakukan puasa selama satu bulan (tiga puluh hari).
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir yang menambahkan bahwa makanan diberikan kepada tiap orang sebanyak satu mud yang dapat mengenyangkan mereka.

Jabir Al-Ju’fi telah meriwayatkan dari Amri Asy-Sya’bi dan Ata serta Mujahid sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.: atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu.
(Al Maidah:95) Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya makanan itu diberikan sebanyak satu mud untuk setiap orang miskin, hanya berlaku bagi orang yang dendanya masih belum mencapai hadyu.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Juraij, dari Mujahid, dan Asbat, dari As-Saddi, bahwa makna atau dalam ayat ini menunjukkan pengertian tertib (berurutan).

Ata, Ikrimah, dan Mujahid dalam riwayat Ad-Dahhak, Ibrahim An-Nakha’ i mengatakan, makna atau dalam ayat ini menunj ukkan pengertian takhyir.
Pendapat ini merupakan riwayat Al-Lais, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dan hal inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya.

Yakni kita tetapkan atas si pelanggar untuk membayar kifarat supaya dia merasakan hukuman dari perbuatannya yang melanggar peraturan itu.

Allah telah memaafkan apa yang telah lalu.

Yakni pada masa Jahiliah bagi orang yang berbuat baik dalam Islam dan mengikuti syariat Allah dan tidak melakukan perbuatan maksiat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.

Yakni barang siapa yang melakukannya sesudah diharamkan dalam Is­lam dan hukum syariat telah sampai kepadanya.

niscaya Allah akan menyiksanya.
Allah Mahakuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.
(Al Maidah:95)

Ibnu Juraij mengatakan, ia pernah bertanya kepada Ata mengenai apa yang dimaksudkan dalam firman-Nya: Allah telah memaafkan apa yang telah lalu.
(Al Maidah:95) Maka Ata menjawab, “Yang dimaksud ialah Allah memaafkan apa yang telah terjadi di masa Jahiliah.” Kemudian Ibnu Juraij bertanya lagi kepadanya mengenai makna firman-Nya:

Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya
Ata mengatakan, “Barang siapa dalam masa Islam kembali melakukan­nya, maka Allah akan menyiksanya, selain itu ia dikenakan membayar kifarat dari perbuatannya.” Ibnu Juraij bertanya, “Apakah pengertian kembali ini mempunyai batasan yang kamu ketahui?”
Ata menjawab, “Tidak.” Ibnu Juraij berta­nya, “Kalau demikian, engkau pasti berpandangan bahwa imam diwajib­kan menghukum pelakunya?”
Ata menjawab, “Tidak, hal itu merupakan suatu dosa yang dilakukannya antara dia dan Allah subhanahu wa ta’ala., tetapi ia harus membayar dendanya.” Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah bahwa Allah akan membalas pelakunya, yaitu dengan mengenakan hukuman wajib membayar denda kifarat terhadapnya.
Demikianlah menurut Sa’id ibnu Jubair dan Ata.

Kemudian kebanyakan ulama Salaf dan Khalaf mengatakan, “Manakala seseorang yang sedang ihram membunuh binatang buruan, maka ia diwajibkan membayar denda, tidak ada perbedaan antara pelang­garan pertama dengan yang kedua dan ketiganya, dan sekalipun pelang­garannya itu dilakukan berulang-ulang, baik ia lakukan secara keliru ataupun sengaja, semuanya sama.”

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan, “Barang siapa membunuh seekor binatang buruan secara keliru, sedangkan ia dalam keadaan berihram, maka ia dikenakan sanksi membayar dendanya setiap kali ia membunuhnya.
Jika ia membunuh binatang buruan dengan sengaja, maka ia dikenakan sanksi membayar dendanya sekali, dan jika ia mengulangi lagi perbuatannya, maka Allah akan balas menyiksanya, seperti apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam firman-Nya.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id dan Ibnu Abu Addi, kedua-duanya dari Hisyam (yakni Ibnu Hassan), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan seorang muhrim yang membunuh binatang buruan, bahwa pelakunya dikenakan sanksi membayar denda.
Kemudian jika ia mengulangi lagi perbuatannya, ia tidak dikenakan sanksi membayar denda, tetapi Allah-lah yang akan balas menyiksanya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Syuraih, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair,

Al-Hasan Al-Basri, dan Ibrahim An-Nakha’i.
Semuanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, kemudian Ibnu Jarir memilih pendapat yang pertama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Yazid Al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman, dari Zaid Abul Ma’la, dari Al-Hasan Al-Basri, bahwa seorang lelaki membunuh binatang buruan, lalu ia dimaafkan, kemudian lelaki itu mengulangi lagi perbuatannya, ia membunuh binatang buruan lagi, maka turunlah api dari langit dan membakar lelaki itu.
Hal inilah yang dimaksudkan dengan firman-Nya:
Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.

Ibnu Jarir telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah Mahakuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.
(Al Maidah:95) Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman bahwa Diri-Nya Mahaperkasa dalam kekuasaan­Nya, tiada seorang pun yang dapat memaksa-Nya, tiada yang dapat menghalangi pembalasan yang Dia timpakan terhadap orang yang hendak dibalas-Nya, dan tiada seorang pun yang dapat menghalangi siksaan yang hendak Dia kenakan terhadap orang yang dikehendaki-Nya, karena semuanya adalah makhluk-Nya, dan hanya Dialah yang berhak memerin­tah, bagi-Nya segala keagungan dan keperkasaan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

Yakni Dia berhak menyiksa orang yang durhaka terhadap-Mya, karena perbuatan maksiatnya terhadap Allah subhanahu wa ta’ala.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 95

KA’BAH
كَعْبَة

Lafaz ini dalam bentuk mufrad, jamaknya ka’abat, maknanya setiap rumah dalam bentuk segi empat, arah dan sebagainya.

Dalam Kamus Dewan, Ka’bah ialah bangunan suci berbentuk kubus yang terletak di tengah-tengah kota Makkah yang menjadi kiblat shalat dan tempat umat Islam bertawaf ketika menunaikan ibadah haji dan umrah.

Al Fairuz berkata,
ia juga dinamakan sebagai Baitul Haram yang dimuliakan Allah.”

Disebutkan dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Maa’idah (5), ayat 95 dan 97. Ia dinamakan Ka’bah karena ia muka’ab yaitu berbentuk kubus.

Mujahid dan Ikrimah menyatakan ia disebut Ka’bah karena ia berbentuk murabba’ yaitu segi empat, sedangkan kebanyakan rumah orang Arab yang berada di sekelilingnya berbentuk bulat.

Ia juga dinamakan Ka’bah karena terletak di atas tanah bertingkat dan juga dinamakan Baytul ‘Atiq karena Allah membebaskannya dari pengawasan orang yang zalim seperti yang terdapat dalam riwayat dari Ibn Zubair. Rasulullah bersabda, “Tempat ini disebut Baitul ‘Atiq karena Allah membebaskannya dari orang yang zalim dan tidak pernah orang zalim menguasai bangunan itu”

Dalam surah Al Maa’idah (5) ayat 95, Ka’bah disandarkan kepada hadya yaitu hewan yang dijadikan kurban. Allah berfirman,

يَحْكُمُ بِهِۦ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ هَدْيًۢا بَٰلِغَ ٱلْكَعْبَةِ

Al Qurtubi menyatakan, bukanlah yang dimaksudkan dalam ayat ini Ka’bah itu karena al hady tidak dilaksanakan di dalamnya karena ia berada di dalam masjid, yang dimaknakan Ka’bah di sini adalah al haram yaitu tanah haram keseluruhannya.

Sedangkan dalam ayat 97 ia disandarkan kepada Baitul Haram, Allah befirman,

جَعَلَ ٱللَّهُ ٱلْكَعْبَةَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ قِيَٰمًا لِّلنَّاسِ

Ka’bah dinamakan al bait karena ia mempunyai atap dan dinding yang menggambarkan rumah sebenarnya walaupun tidak ada penghuni di dalamnya. Allah menamakannya al haraam karena Dia mengharamkan berburu dan membunuh di dalamnya atau menyucikannya. Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya Makkah diharamkan dan disucikan Allah, dan ia tidak disucikan oleh manusia,”

Menurut sejumlah riwayat, Ka’bah ada sebelum Nabi Adam diciptakan, yang berada di atas air dan didirikan oleh para malaikat. Sedangkan pembinaannya di dunia, menurut sejumlah riwayat, Ka’bah didirikan oleh Nabi Adam. Sepeninggalannya, ia didirikan kembali oleh puteranya yang bernama Nabi Syis. Dasar-dasar Ka’bah yang ada sekarang ini dibangunkan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya, Ismail.

Beberapa tahun sebelum Al Qur’an diwahyukan, Ka’bah dibangunkan kembali oleh Qusayy bin Qilab yang berjawatan sebagai pimpinan tertinggi suku Quraisy di Makkah. Pada saat itu, menurut keterangan ahli sejarah Azraqi, bangunan Ka’bah yang tidak beratap ini adalah setinggi 4,5 meter. Pada setiap tepinya terdapat batu yang dimuliakan.

18 tahun sebelum Hijrah, Ka’bah diperbaiki kembali. Kapal Bizantium yang terdampar di pelabuhan Syu’aibah di Makkah, kayunya dijadikan sebagai bahan pelengkap Kabah, yang dikerjakan oleh tukang kayu keturunan Kopti bernama Baqum. Umar adalah orang pertama yang membina pagar di sekitar Ka’bah, lebih kurang setinggi manusia, dengan sejumlah pintu gerbang dan Iampu, sedangkan Usman membangunkan serambi beratap bagi me-lindungi orang yang sedang shalat.

Pada tahun 64 Hijrah atau 684 Masihi, ketika dalam pendudukan Abdullah bin Zubair, Makkah dikepung oleh pasukan Yazid. Sebuah mata panah yang berapi menyebabkan kebakaran pada Kabah, sehingga mengalami kerusakan parah dan Hajarul Aswad retak menjadi tiga bahagian. Untuk mengembalikan keaslian Ka’bah yang hancur ini, Abdullah bin Zubair menyimpulkan Ka’bah mencakup pagar di sekitarnya dan termasuk makam Ismail dan Hajar. Oleh sebab itu, Abdullah mendirikannya kembali sehingga menjadi lebih luas.

Panjangnya dinaikkan dari 18 hasta menjadi 26 hasta; ketinggiannya dinaikkan dari 18 hasta menjadi 27 hasta, dan didirikan dari batu yang dilengkapi dengan dua pintu. Menurut sejumlah keterangan, Abdullah bin Zubair menutupi Ka’bah dengan kain berwarna hitam dari jenis sutera. Pembangunan berikutnya adalah pada masa khalifah Al Mahdi, Mutamid dan Mu’tadid. Al Mahdi memperluaskan mathaf (kawasan tawaf) dan menambahkan tiga baris tiang dan dia sendiri turut melakukan kerjakerja pembangunan itu. Sejak itu, bangunan Ka’bah bertahan sampai sekarang.

Pada tahun 1030 Masehi, terjadi banjir besar yang menghanyutkan sebahagian lampu dan dinding-dinding Ka’bah. Sultan Murad memerintahkan pembangunan sekaligus perluasan Ka’bah. Semenjak tahun 1375- /1955, projek perluasan Masjidil Haram secara besar-besaran dijalankan pada masa pemerintahan Raja Arab Saudi, yaitu Raja Faisal. Pada tahun 1377/1957, Ka’bah mengalami keretakan. Perbaikan terhadapnya adalah perbaikan pertama sejak tahun 1039/1629.

Di tepi-tepi Ka’bah sekarang ini adalah dinding sebelah timur laut 12,63 meter, dinding sebelah timur 11,22 meter, dinding sebelah barat 13,10 meter dan sebelah barat laut 11,03 meter. Sedangkan ketinggiannya 13 meter. Pintu di sisi utara setinggi 2 meter dari dasar dan luasnya 1,7 meter. Setiap tahun, kiswah (kain penutup) diganti dengan yang baru. Ia terbuat dari kain berwarna hitam dengan sejumlah kaligrafi yang disulam. Di atasnya terdapat tulisan Al Qur’an yang melingkar sebelum kiswah yang baru dipasangkan, sementara waktu Ka’bah ditutup dengan kiswah putih.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:503-505

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 95 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 95



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.5
Rating Pembaca: 4.5 (15 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku