QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 82 [QS. 5:82]

لَتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَۃً لِّلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الۡیَہُوۡدَ وَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا ۚ وَ لَتَجِدَنَّ اَقۡرَبَہُمۡ مَّوَدَّۃً لِّلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ قَالُوۡۤا اِنَّا نَصٰرٰی ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّ مِنۡہُمۡ قِسِّیۡسِیۡنَ وَ رُہۡبَانًا وَّ اَنَّہُمۡ لَا یَسۡتَکۡبِرُوۡنَ
Latajidanna asyaddannaasi ‘adaawatal(n)-lil-ladziina aamanuul yahuuda waal-ladziina asyrakuu walatajidanna aqrabahum mawaddatal(n)-lil-ladziina aamanuul-ladziina qaaluuu innaa nashaara dzalika bianna minhum qissiisiina waruhbaanan wa-annahum laa yastakbiruun(a);

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata:
“Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”.
Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.
―QS. 5:82
Topik ▪ Ilmu manusia sedikit
5:82, 5 82, 5-82, Al Maa’idah 82, AlMaaidah 82, Al Maidah 82, AlMaidah 82, Al-Ma’idah 82

Tafsir surah Al Maa'idah (5) ayat 82

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 82. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah memberitahukan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
bahwa dia akan menemukan manusia yang paling memusuhi dan menyakiti orang-orang mukmin.
Manusia itu adalah orang-orang Yahudi Madinah dan orang-orang musyrik Arab dari kalangan penyembah berhala.
Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik Arab sama-sama menentang ajaran Muhammad.
Persamaan inilah yang mengikat kedua golongan ini, meskipun masing-masing mempunyai sifat-sifat kepribadian yang berlawanan.
Sifat orang Yahudi adalah sombong, penganiaya, mementingkan kebendaan, kasar dalam pergaulan, kejam dan fanatik kesukuan.
Sedangkan sifat orang-orang musyrik Arab adalah sopan santun, pemurah dan bebas berpikir.
Meskipun demikian kedua golongan tersebut dapat bersatu demi memusuhi dan menyakiti Nabi Muhammad beserta orang-orang mukmin.

Selanjutnya ayat ini memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa dia akan menyampaikan kepada manusia yang paling dekat dan menyukai orang-orang mukmin.
Manusia itu adalah orang-orang Nasrani.
Sebabnya ialah di antara mereka ada golongan yang memperhatikan pelajaran agama dan budi pekerti yaitu golongan tasawuf yang anti terhadap duniawi.
Mereka bertakwa dan banyak bersemedi untuk beribadah.
Tentunya kedua golongan ini orang-orang yang bersifat tawaduk (merendah diri) karena agama mereka mengajak mencintai musuh dan memberikan pipi yang kiri kepada orang yang memukul pipi kanannya.
Kebaikan orang-orang Nasrani itu telah dibuktikan oleh sejarah, yaitu sambutan Raja Habasyah (Ethiopia) yang bernama Najasyi yang memeluk agama Nasrani.
Dia berserta sahabat-sahabatnya melindungi orang-orang Islam yang pertama kali melakukan hijrah dari Mekah ke Habasyah karena takut dari gangguan dan fitnahan yang dilakukan oleh kaum musyrik Arab secara kejam.
Raja Romawi Timur di Syam yaitu Hiraklius, ketika menerima surat Nabi Muhammad menyambutnya dengan sambutan baik berusaha memberikan penjelasan kepada rakyatnya, supaya dapat menerima ajakan Nabi Muhammad meskipun rakyat belum sependapat dengannya karena masih berpegang dengan kefanatikan.
Raja Makaukis yang menguasai Mesir, juga menyambut surat Nabi dengan sambutan yang baik dan meskipun beliau belum bersedia untuk menerima ajakan Nabi kepada Islam, namun beliau menjawab surat Nabi serta mengirim hadiah berharga, antara lain berupa seorang jariah yang bernama Mariah Al-Qibtiyah.

Demikan sambutan orang Nasrani pada masa Nabi yang dijumpai dan ditemui oleh Nabi Muhammad, berlainan sekali halnya dengan orang Yahudi.
Meskipun mereka secara terpaksa menyatakan sikap simpatik terhadap orang-orang mukmin, namun di dalam hati mereka tersembunyi pikiran tipu muslihat untuk memperdayakan orang-orang mukmin.
Karena ajaran-ajaran pemimpin-pemimpin Yahudi menanamkan pada mereka fanatisme kebangsaan dan pendirian bahwa Bani Israil adalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Allah.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami tegaskan kepadamu, wahai Rasulullah, bahwa kamu akan mendapati para penganut Yahudi dan mereka yang menyekutukan Allah sebagai orang-orang yang paling keras kedengkian dan kebenciannya kepadamu dan kepada orang-orang yang beriman kepadamu.
Dan kamu akan mendapati pengikut Nabi ‘Isa yang menyebut dirinya Nasrani sebagai orang-orang yang paling dekat kasih sayang dan kecintaannya kepadamu.
Hal itu disebabkan karena di antara mereka terdapat pendeta-pendeta yang mengerti agama, dan rahib-rahib yang selalu takut kepada Tuhannya.
Selain itu, juga karena mereka tidak menyombongkan diri bila mendengar kebenaran.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya kamu dapati) wahai Muhammad (orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik) dari kalangan penduduk Mekah oleh sebab menebalnya kekafiran mereka, kebodohan mereka dan tenggelamnya mereka dalam hawa nafsu (dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu) maksudnya kecintaan mereka begitu dekat terhadap orang-orang mukmin (disebabkan karena) oleh karena (di antara mereka/orang-orang Nasrani terdapat pendeta-pendeta) ulama-ulama agama Nasrani (dan rahib-rahib) orang-orang ahli ibadah Nasrani (juga karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri) untuk mengikuti barang yang hak tidak sebagaimana orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin penduduk Mekah yang menyombongkan diri.

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan utusan raja Najasyi yang datang dari negeri Habasyah untuk menemui kaum Muslimin.

Kemudian Nabi ﷺ membacakan surah Yasin kepada mereka setelah itu mereka menangis dan masuk Islam semuanya seraya mengatakan, “Alangkah miripnya bacaan ini dengan apa yang telah diturunkan kepada Nabi Isa.” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kamu wahai Rasul akan menemukan manusia yang paling kuat permusuhannya kepada orang-orang yang membenarkanmu, beriman dan mengikutimu, mereka adalah orang-orang Yahudi, karena mereka mengingkari dan tidak mau mengakui serta menutup mata dari kebenaran dan orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, seperti para penyembah berhala dan lainnya.
Dan kamu akan menemukan orang-orang yang lebih dekat kecintaannya kepada kaum muslimin, yaitu orang-orang yang berkata :
Kami adalah orang-orang Nasrani.
Hal itu karena di antara mereka terdapat para ulama di bidang agama mereka, ahli zuhud dan ahli ibadah dalam tempat-tempat ibadah mereka, bahwa mereka adalah orang-orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri untuk menerima kebenaran.
Mereka adalah orang-orang yang menerima risalah Muhammad dan beriman kepadanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan An-Najasyi dan teman-temannya, yaitu ketika Ja’far ibnu Abu Talib membacakan Al-Qur’an kepada mereka di negeri Habsyah (Etiopia), maka mereka menangis karena mendengarnya hingga membasahi janggut mereka.
Akan tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat ayat ini Madaniyah, sedangkan kisah Ja’far ibnu Abu Talib terjadi sebelum hijrah (yakni dalam masa Makkiyyah).

Said ibnu Jubair dan As-Saddi serta selain keduanya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi Raja Najasyi yang diutus kepada Nabi ﷺ untuk mendengarkan ucapan Nabi ﷺ dan melihat sifat-sifatnya.
Tatkala mereka melihat Nabi ﷺ dan Nabi ﷺ membacakan Al-Qur’an kepada mereka, maka mereka masuk Islam seraya menangis dan dengan penuh rasa khusyuk (tunduk patuh).
Sesudah itu mereka pulang dengan Raja Najasyi dan menceritakan apa yang mereka alami kepadanya.

Menurut As-Saddi, Raja Najasyi berangkat berhijrah (bergabung dengan Nabi ﷺ di Madinah), tetapi ia meninggal dunia di tengah perjalanan.
Hal ini merupakan riwayat yang hanya dikemukakan oleh As-Saddi sendiri, karena sesungguhnya Raja Najasyi meninggal dunia dalam keadaan sebagai Raja Habsyah.
Nabi ﷺ beserta para sahabatnya menyalatkannya di hari kewafatannya, dan Nabi ﷺ memberitahukan bahwa Raja Najasyi meninggal dunia di tanah Habsyah.

Para ulama berbeda pendapat mengenai bilangan delegasi Raja Najasyi.
Menurut suatu pendapat, jumlah mereka ada dua belas orang, tujuh orang di antara mereka adalah pendeta, sedangkan yang lima orang lainnya adalah rahib.
Tetapi pendapat yang lain mengatakan sebaliknya.
Menurut pendapat lain, jumlah mereka ada lima puluh orang, dikatakan pula ada enam puluh orang lebih, dan dikatakan lagi ada tujuh puluh orang laki-laki.

Ata ibnu Abu Rabah mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum dari negeri Habsyah, mereka masuk Islam setelah kaum muslim yang berhijrah tiba di negeri Habsyah.

Qatadah mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum yang memeluk agama Isa ibnu Maryam.
Ketika mereka melihat kaum muslim dan mendengarkan Al-Qur’an, maka dengan spontan mereka masuk Islam tanpa ditangguh-tangguhkan lagi.

Sedangkan Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan banyak kaum yang mem­punyai ciri khas dan sifat tersebut, baik mereka dari kalangan bangsa Habsyah ataupun dari bangsa lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Hal itu tiada lain karena kekufuran orang-orang Yahudi didasari oleh pembangkangan, keingkaran, dan kesombongannya terhadap perkara yang benar serta meremehkan orang lain dan merendahkan kedudukan para penyanggah ilmu.
Karena itulah mereka banyak membunuh nabi-nabi mereka, sehingga Rasulullah ﷺ tak luput dari percobaan pembunuhan yang direncanakan oleh mereka berkali-kali.
Mereka meracuni Nabi ﷺ dan menyihirnya, dan mereka mendapat dukungan dari orang-orang musyrik yang sependapat dengan mereka, semoga laknat Allah terus-menerus menimpa mereka sampai hari kiamat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.”

Yakni orang-orang yang mengakui dirinya sebagai orang-orang Nasrani, yaitu pengikut Al-Masih dan berpegang kepada kitab Injilnya.
Di kalangan mereka secara globalnya terdapat rasa persahabatan kepada Islam dan para pemeluknya.
Hal itu tiada lain karena apa yang telah tertanam di hati mereka, mengingat mereka pemeluk agama Al-Masih yang mengajarkan kepada lemah lembut dan kasih sayang, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang serta rahbaniyah.
(Q.S. Al-Hadid [57]: 27)

Di dalam kitab mereka tertera bahwa barang siapa yang memukul pipi kananmu, maka berikanlah kepadanya pipi kirimu, dan perang tidak disyariatkan di dalam agama mereka.
Karena itulah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman-Nya:

Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.

Yakni didapati di kalangan mereka para pendeta, yaitu juru khotbah dan ulama mereka, bentuk tunggalnya adalah qasisun dan qissun, adakalanya dijamakkan dalam bentuk qususun.
Ar-rauhban adalah bentuk jamak dari rahib yang artinya ahli ibadah, diambil dari akar kata rahbah yang artinya takut, se-wazan dengan lafaz rahib yang jamaknya rukban, dan lafaz faris yang jamaknya fursan.
Ibnu Jarir mengatakan, adakalanya lafaz ruhban ini merupakan bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah rahabin, semisal dengan lafaz qurban yang bentuk jamaknya qarabin, dan lafaz jar’zan (tikus) yang_bentuk jamaknya jarazin.
Adakalanya dijamakkan dalam bentuk rahabinah.
Termasuk dalil yang menunjukkan bahwa lafaz rahban bermakna tunggal di kalangan orang-orang Arab ialah perkataan seorang penyair mereka yang mengatakan:

Seandainya aku saksikan ada rahib gereja di puncak itu, niscaya rahib itu akan keluar dan berjalan menuruni (puncak tersebut).

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Nasir ibnu Abul Asy’as, telah menceritakan kepadaku As-Sak Ad-Dahhan, dari Jasiman ibnu Riab yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Salman mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib
Maka Salman berkata, “Biarkanlah para pendeta itu tinggal di dalam gereja-gereja dan reruntuhannya, karena Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadaku bahwa yang demikian itu disebabkan di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat orang-orang yang percaya dan rahib-rahib.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Hammani, dari Nadir ibnu Ziyad At-Ta-i, dari Silt Ad-Dahhan, dari Jasimah ibnu Ri-ab, dari Salman dengan lafaz yang semisal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, ayahnya pernah menceritakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Khani, telah menceritakan kepada kami Nadir ibnu Ziyad At-Ta-i, telah menceritakan kepada kami Silt Ad-Dahhan, dari Jasimah ibnu Ri-ab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Salman ditanya mengenai firman-Nya: Yang demikian itu disebabkan di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rdhib.
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 82) Maka Salman berkata bahwa mereka adalah para rahib yang tinggal di dalam gereja-gereja dan bekas-bekas peninggalan di masa lalu, biarkanlah mereka tinggal di dalamnya.
Salman mengatakan, dia pernah membacakan kepada Nabi ﷺ firman-Nya:

Yang demikian itu disebabkan di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat pendeta-pendeta.

Maka Nabi ﷺ membacakannya kepadaku dengan qiraah seperti berikut:

Yang demikian itu karena di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat orang-orang yang percaya (kepada Allah) dan rahib-rahib.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Yang demikian itu karena di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.
(juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.

Ayat ini mengandung penjelasan mengenai sifat mereka, bahwa di kalangan mereka terdapat ilmu, dan mereka adalah ahli ibadah serta orang-orang yang rendah diri.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 82

QISSIISIIN
قِسِّيسِين

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya qissis, artinya pemimpin dari kalangan pemimpin dalam agama Nasrani, yang cerdik, yang alim, pendeta atau paderi.

Ia disebut sekali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah Al Maa’idah (5), ayat 82.

Al Kafawi berkata,
Al qissiis adalah pemimpin Nasrani dalam bidang ilmu dan dia berada di antara Al Asqaf (Uskup) yaitu paderi agung dan Al Syammasy (Koster).”

Dalam Tafsir Al Manar dijelaskan al qissiisiin adalah para ulama yang menguruskan pengajaran dan pendidikan agama.

Ibn Katsir berkata,
Al qissiisiin bermakna ulama-ulama Kristian yang berpidato di hadapan mereka.”

Asy Syawkani berkata,
Al qissiisiin bermaksud orang alim atau pemimpin agama Kristian di dalam bidang dan ilmu” Menurut beliau, al qissiisiin di dalam Al Qur’an bermakna pengikut bagi ulama dan orang abid, baik a’jam yang bercampur dengan orang Arab atau orang Arab tulen.

Kesimpulannya, lafaz qissiisiin bermakna ulama orang Nasrani yang berkhutbah di hadapan mereka atau dikenali juga dengan Pendeta atau Pastor.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:488

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Maa'idah (5) ayat 82 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Maa'idah (5) ayat 82 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Maa'idah (5) ayat 82 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Maa'idah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 120 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 5:82
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa'idah.

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah 5
Nama Surah Al Maa'idah
Arab المائدة
Arti Jamuan (hidangan makanan)
Nama lain Al-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 112
Juz Juz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 120
Jumlah kata 2842
Jumlah huruf 12207
Surah sebelumnya Surah An-Nisa'
Surah selanjutnya Surah Al-An'am
4.4
Ratingmu: 4.8 (16 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/5-82









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta