Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 64


وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ یَدُ اللّٰہِ مَغۡلُوۡلَۃٌ ؕ غُلَّتۡ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ لُعِنُوۡا بِمَا قَالُوۡا ۘ بَلۡ یَدٰہُ مَبۡسُوۡطَتٰنِ ۙ یُنۡفِقُ کَیۡفَ یَشَآءُ ؕ وَ لَیَزِیۡدَنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ مَّاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ طُغۡیَانًا وَّ کُفۡرًا ؕ وَ اَلۡقَیۡنَا بَیۡنَہُمُ الۡعَدَاوَۃَ وَ الۡبَغۡضَآءَ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ ؕ کُلَّمَاۤ اَوۡقَدُوۡا نَارًا لِّلۡحَرۡبِ اَطۡفَاَہَا اللّٰہُ ۙ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا ؕ وَ اللّٰہُ لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ
Waqaalatil yahuudu yadullahi maghluulatun ghullat aidiihim walu’inuu bimaa qaaluuu bal yadaahu mabsuuthataani yunfiqu kaifa yasyaa-u walayaziidanna katsiiran minhum maa unzila ilaika min rabbika thughyaanan wakufran waalqainaa bainahumul ‘adaawata wal baghdhaa-a ila yaumil qiyaamati kullamaa auqaduu naaral(n)-lilharbi athfaahaallahu wayas’auna fiil ardhi fasaadan wallahu laa yuhibbul mufsidiin(a);

Orang-orang Yahudi berkata:
“Tangan Allah terbelenggu”,
sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.
(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.
Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka.
Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.
Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.
―QS. 5:64
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah ▪ Permusuhan antara syetan dan manusia
5:64, 5 64, 5-64, Al Maa’idah 64, AlMaaidah 64, Al Maidah 64, AlMaidah 64, Al-Ma’idah 64
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa'idah (5) : 64. Oleh Kementrian Agama RI

Menurut riwayat Ibnu Ishak dan Tabrani dari Ibnu Abbas dia berkata: Berkata seorang lelaki dari kaum Yahudi yang bernama Nabbasy bin Qais kepada Nabi Muhammad ﷺ.
bahwa Tuhan engkau kikir, tidak suka memberi.
Maka ayat ini, meskipun yang mengatakan kepada Nabi itu hanya seorang dari kalangan Yahudi namun dapat dianggap menggambarkan pendirian secara keseluruhan dari kaumnya.

Ayat ini menceritakan bahwa orang Yahudi itu berkata, "Tangan Allah terbelenggu." Dan Allah menegaskan bahwa yang terbelenggu itu adalah tangan mereka sendiri dan dengan demikian mereka akan dilaknat Allah.

Perkataan orang Yahudi bahwa tangan Allah terbelenggu adalah tidak masuk akal sebab mereka mengakui bahwa Allah adalah nama bagi zat yang pasti ada dan Maha Kuasa, Dia pencipta alam semesta.
Hal ini menunjukkan bahwa tangan Allah tidak terbelenggu dan kekuasaan-Nya tidak terbatas karena jika demikian maka tentulah Dia tidak dapat memelihara dan mengatur alam ini.
Maka apakah yang mendorong mereka mengucapkan kata-kata demikian?
Sebagian ahli tafsir mengemukakan bahwa dorongan tersebut adalah sebagai berikut:

1.
Mungkin mereka mendengar ayat:

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak.
Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

(Q.S.
Al-Baqarah: 245)

Setelah mendengar ayat ini mereka mengatakan bahwa tangan Allah itu terbelenggu dengan arti kikir karena Allah tidak mampu sehingga memerlukan pinjaman.

2.
Mereka mengucapkan ucapan tersebut dengan mengejek kaum Muslimin ketika mereka melihat sahabat nabi yang sedang berada dalam kesempitan dan kesulitan keuangan.

3.
Orang-orang Yahudi adalah orang-orang kaya.
Ketika Nabi Muhammad diutus menjadi rasul mereka menentangnya, oleh karenanya mereka banyak mengeluarkan harta benda untuk pembiayaan guna menggagalkan dakwahnya sehingga orang-orang kaya dari kalangan mereka banyak yang menjadi miskin.
Maka karena Allah tidak melapangkan rezeki lagi bagi mereka yang telah miskin itu mereka mengeluarkan ucapan "tangan Allah terbelenggu" dengan maksud Allah itu kikir karena tidak menolong mereka.

Pernyataan Allah dalam ayat ini bahwa "tangan orang Yahudi itulah yang terbelenggu dan mereka mendapat laknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu",
adalah suatu pernyataan terhadap kekikiran mereka itu, yakni merekalah yang kikir, terbelenggu tangannya, tidak mau memberi bantuan.
Ternyata memang mereka adalah umat yang terkikir, mereka baru mau memberikan bantuan jika dilihatnya harapan akan mendapat keuntungan yang besar.
Dan mereka pada hari kemudian pasti menerima kutukan Allah sebagai balasan atas perbuatan mereka.

Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala Maha Pemurah, Dia memberi sebagaimana yang Dia kehendaki.

Perkataan tangan dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, yaitu:

1.
Salah satu dari anggota tubuh manusia
2.
Kekuatan
3.
Kepunyaan (milik)
4.
Nikmat, karunia.

Pengertian yang keempat inilah yang dimaksud dengan perkataan tangan yang disandarkan kepada Allah pada ayat ini.
Demikianlah para ulama khalaf mengartikan tangan dalam ayat ini.
Dengan demikian hendaklah diartikan perkataan kedua tangan Allah terbuka dengan makna nikmat karunia Allah terbentang luas, nikmat karunia itu diberikan kepada siapa-siapa yang dikehendaki-Nya.
Adapun golongan yang tidak menerima nikmat karunia Allah janganlah menganggap bahwa Allah itu kikir atau fakir.

Adanya perbedaan tingkatan manusia di dalam menerima rezeki dari Allah adalah termasuk sunatullah.
Allah berfirman:

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?
Kami telah menentukan antara mereka kehidupan mereka dalam kehidupan dunia.
Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.
Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari yang mereka kumpulkan.

(Q.S.
Az Zukhruf: 32)

Ahli tafsir dalam menafsirkan ayat ini ada dua pendapat yaitu:

Pertama, yang terkenal dengan Ahli Takwil yaitu yang menakwilkan (menafsirkan pengertian kalimat-kalimat menurut pengertian majazi (kiasan), umpamanya ayat:

Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
(Q.S.
Ar Rahman: 27)

Maka golongan ini menakwil perkataan "wajah" umpamanya pada kalimat "aku tidak melihat wajah Si Anu",
dimaksudkan adalah diri atau zat Si Anu.
Jadi samalah kalimat itu dengan "aku tidak melihat Si Anu" (tanpa menyebutkan kata "wajah").

Kedua, golongan Ahli Tafwid yaitu menyerahkan maksud kalimat atau perkataan seperti demikian itu kepada Allah.
Mereka mengartikan tangan dengan arti hakikinya.
Jadi ia mengartikan perkataan "wajah" pada ayat surat Ar-Rahman tersebut menurut arti hakiki, yaitu "muka".
Tentang bagaimanakah keadaan "Muka Tuhan" itu mereka menyerahkan juga kepada Tuhan dan dalam hal ini mereka berpegang pada ayat:

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.
(Q.S.
Asy Syu'ara: 11)

Jadi golongan ini menetapkan Tuhan itu bermuka tetapi tidak seperti muka manusia umpamanya.

Kemudian pada ayat ini Allah mengutarakan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
bahwa apa yang diturunkan kepadanya benar-benar akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara kaum Yahudi dan menerangkan bahwa ayat yang diturunkan itu mengandung pengetahuan yang tidak diketahui oleh orang-orang Yahudi yang semasa dengan Nabi Muhammad ﷺ.
Karena jika tidak demikian halnya tentulah Muhammad tidak mengetahui semua itu sebab dia adalah ummi tidak tahu tulis baca.
Akan tetapi karena kedengkian dan kefanatikan orang-orang Yahudi itu semakin jauh dari beriman kepada Nabi Muhammad meskipun kenabian Muhammad telah ditulis di dalam buku mereka.

Ayat ini juga menerangkan bahwa Allah akan menimbulkan permusuhan di antara sesama Ahli Kitab (Yahudi/Nasrani).
Permusuhan itu tidak akan berakhir sampai hari kiamat.
Watak orang Yahudi memang suka menyalakan api peperangan, fitnah dan keonaran.
Watak seperti itu telah tercatat dalam sejarah dan membuktikan bahwa mereka selalu berusaha memperdayakan Nabi Muhammad dan orang-orang beriman baik secara langsung maupun dengan cara membujuk orang musyrik atau orang-orang Nasrani untuk memerangi Nabi Muhammad dan orang-orang yang beriman.

Watak seperti itu membawa mereka senang berbuat dan melihat kerusakan di bumi.
Tetapi setiap kali mereka menyalakan api peperangan, fitnah dan keonaran, serta mencoba membuat kerusakan, Allah tetap memadamkannya karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan oleh karenanya usaha-usaha mereka untuk membuat kerusakan dan bencana di atas bumi ini selalu mengalami kegagalan.

Al Maa'idah (5) ayat 64 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 64 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 64 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang Yahudi berkata, "Tangan Allah terbelenggu, tidak terulur untuk memberi." Semoga Allah membelenggu tangan mereka dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya.
Allah Mahakaya dan Maha Pemurah:
memberikan apa saja kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Kebanyakan mereka--karena terpukau pada kesesatan--bertambah kekafiran dan kezaliman dengan diturunkannya Al Quran kepadamu akibat rasa iri dan dengki.
Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat.
Setiap mereka menyalakan api peperangan melawan Rasulullah dan orang-orang Mukmin, Allah memadamkan api itu dengan kekalahan mereka dan kemenangan Rasulullah dan para pengikutnya.
Mereka bersungguh-sungguh dalam menyebarkan kerusakan di muka bumi dengan tipu daya, fitnah dan menimbulkan peperangan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Orang-orang Yahudi berkata) setelah mereka ditimpa kesusahan disebabkan mendustakan Nabi ﷺ padahal selama ini mereka adalah orang-orang yang paling mampu dan paling banyak harta.
("Tangan Allah terbelenggu.") artinya dikatup hingga terhalang untuk menyebarkan rezeki kepada kita.
Ucapan itu merupakan sindiran terhadap kikirnya Allah subhanahu wa ta'ala buat melimpahkan rezeki.
Firman Allah subhanahu wa ta'ala:
("Tangan merekalah yang dibelenggu.") dari berbuat kebaikan hingga tak mau melakukannya.
Ini sebagai doa terhadap mereka (dan mereka dikutuk disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.
Bahkan kedua tangan-Nya terbuka lebar) merupakan simbol tentang kiasan tentang sifat Allah Yang Maha Pemurah.
Pujian kepada tangan ini untuk menunjukkan banyak dan melimpah-ruah karena segala sesuatu yang diberikan oleh seorang dermawan berupa harta melalui tangannya.
(Dia memberi nafkah sebagaimana dikehendaki-Nya) apakah akan diperlapang ataukah akan dipersempit-Nya, tidak satu pun dapat menghalangi-Nya.
(Dan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, berarti akan menambah banyak kedurhakaan dan kekafiran mereka) karena kekafiran mereka kepadanya.
(Dan Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat) hingga setiap golongan menentang dan memusuhi lainnya.
(Setiap mereka menyalakan api peperangan) maksudnya untuk memerangi Nabi Muhammad ﷺ (dipadamkannya oleh Allah) artinya setiap mereka bermaksud, maka ditolak oleh Allah (dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi) maksudnya menghancurkannya dengan berbuat maksiat (dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah membuka untuk Nabi-Nya sebagian dosa-dosa orang Yahudi (dimana hal itu mereka rahasiakan di antara mereka), bahwa mereka berkata :
Tangan Allah tertahan sehingga tidak bisa melakukan kebaikan, Allah kikir kepada kami sehingga Dia tidak mau melapangkan rizki kepada kami.
Mereka mengucapkannya saat mereka ditimpa kesulitan dan kekeringan.
Tidak demikian, justru tangan mereka-lah yang tertahan, yakni tertahan sehingga mereka tidak bisa melakukan kebaikan-kebaikan dan Allah mengusir mereka dari rahmat-Nya disebabkan oleh ucapan mereka.
Perkaranya tidak sebagaimana yang mereka katakana secara dusta atas Rabb mereka.
Akan tetapi kedua tangan Allah terbuka dan tidak ada yang bisa menghalang-halangi-Nya, tidak ada pencegah yang bisa menghalangi-Nya untuk member.
Karena Allah Maha Pemurah lagi Maha Pemberi, member sesuai dengan hikmah dan kemaslahatan hamba-hamba-Nya.
Ayat ini menetapkan sifat al-Yadain (dua tangan) bagi Allah sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa tasybih (menyerupakan) dan takyif (membagaikannya dengan makhluk).
Kekufuran dan pelanggaran orang-orang Yahudi tersebut semakin meningkat disebabkan oleh kedengkian dan hasad mereka, karena Allah telah mengangkatmu sebagai Rasul-Nya.
Allah mengabarkan bahwa beberapa orang Yahudi akan terus bermusuhan di antara mereka sampai Hari Kiamat, sebagian membelakangi sebagian yang lain.
Sebagaimana mereka tidak pernah mau berhenti menyusun rencana jahat terhadap kaum muslimin dengan menyulut fitnah, menyalakan api peperangan dan Allah akan membatalkan rencana jahat mereka dan mencerai-beraikan persatuan mereka.
Orang-orang Yahudi tersebut terus bermaksiat kepada Allah yang menimbulkan kerusakan dan kekacauan di muka bumi.
Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
menceritakan perihal orang-orang Yahudi —semoga laknat Allah menimpa mereka secara berturut-turut sampai hari kiamat—bahwa melalui lisannya mereka menyifati Allah subhanahu wa ta'ala.
dengan sifat yang sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar dari apa yang mereka sifatkan itu, bahwa Allah itu kikir.
Mereka pun menyifati-Nya miskin, sedangkan mereka sendiri kaya.
Mereka ungkapkan sifat kikir ini melalui ucapan mereka yang disitir oleh firman-Nya:

Tangan (kekuasaan) Allah terbelenggu (tergenggam alias kikir).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar Al-Adani, telah menceritakan kepada kami Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa menurut Ibnu Abbas yang dimaksud dengan maglulah ialah kikir.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehu­bungan dengan firman-Nya: Orang-orang Yahudi berkata, "Tangan (kekuasaan) Allah terbelenggu'.' (Al Maidah:64) Bahwa mereka tidak bermaksud mengatakan tangan Allah terikat.
Yang mereka maksudkan ialah Allah itu kikir.
Dengan kata lain, Allah meng­genggam apa yang ada di sisi-Nya karena kikir.
Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan itu dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Qatadah.
As-Saddi, dan Ad-Dahhak, dan dibacakan firman-Nya:

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.
(Al-Isra:29), Yakni Allah melarang bersifat kikir dan berfoya-foya yang artinya membelanjakan harta bukan pada tempatnya dalam jumlah yang berlebihan.

Dan Allah mengungkapkan sifat kikir dengan ungkapan seperti yang disebutkan firman-Nya: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu.(Al-Isra:29)

Pengertian inilah yang dimaksudkan oleh orang-orang Yahudi yang terkutuk itu.

Ikrimah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Fanhas seorang Yahudi, semoga Allah melaknatnya.
Dalam pembahasan yang terdahulu telah disebutkan bahwa Fanhaslah yang mengatakan:

Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya (Ali Imran:181), Lalu ia dipukul oleh sahabat Abu Bakar As-Siddiq r.a.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Sa'id atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa lelaki dari kalangan orang-orang Yahudi yang dikenal dengan nama Syas ibnu Qais telah mengata­kan (kepada Nabi ﷺ), "Sesungguhnya Tuhanmu kikir, tidak mau ber­infak." Maka Allah menurunkan firman-Nya: Orang-orang Yahudi berkata, "Tangan (kekuasaan) Allah terbelenggu, "sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.
(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan (kekuasaan) Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.
(Al Maidah:64)

Allah subhanahu wa ta'ala.
menjawab perkataan mereka dan membuka kedok sandiwa­ra mereka serta semua kedustaan dan buat-buatan mereka.
Untuk itu, Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

...sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.

Dan memang demikianlah yang terjadi pada mereka, sesungguhnya kekikiran, kedengkian, dan kelicikan serta kehinaan yang ada pada mereka sangat besar.
Seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
melalui firman-Nya:

Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan)?
Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan) kepada manusia, ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepada manusia itu?
(An Nisaa:53-54), hingga akhir ayat.

Lalu ditimpakan kepada mereka nista.
(Al Baqarah:61), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.

Yakni tidaklah demikian, bahkan Dia Mahaluas karunia-Nya lagi berlimpah pemberian-Nya.
Sebenarnya tiada sesuatu pun kecuali perbendaharaan-Nya ada di sisi-Nya.
Dialah yang memberikan nikmat kepada semua makhluk-Nya, hanya Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan Dialah yang mencintakan semua apa yang kita perlukan di malam hari, di siang hari, di perjalanan kita, di tempat menetap kita, dan di semua keadaan kita.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh ayat lain melalui firman-Nya:

Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepadanya.
Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghitungnya Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah.
(Ibrahim:34)

Ayat-ayat yang mengatakan demikian cukup banyak jumlahnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan, "Inilah apa yang telah diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya tangan kanan (kekuasaan) Allah sangat penuh, tidak akan kosong karena dibelanjakan dengan berlimpah sepanjang siang dan malam.
Tidakkah kalian perhatikan apa yang telah Dia belanjakan sejak menciptakan langit dan bumi.
Karena sesungguh­nya tidak akan kering apa yang ada di tangan kanan (kekuasaan)-Nya.
Selanjutnya disebutkan bahwa 'Arasy-Nya berada di atas air, sedang­kan di tangan (kekuasaan) lainnya terdapat al-faid atau al-qabdu yang dengan tangan kekuasaan ini Allah meninggikan dan merendahkan.
Dan Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman: Berinfaklah, maka Aku akan membalas infakmu.

Hadis ini diketengahkan oleh Syaikhain di dalam kitab Sahihain, Imam Bukhari di dalam Bab "Tauhid",
dari Ali ibnul Madini, sedangkan Imam Muslim dari Muhammad ibnu Rafi'.
Keduanya (Ali ibnul Madini dan Muhammad ibnu Rafi’) dari Abdur Razzaq dengan sanad yang sama.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka.

Yakni apa (Al-Qur'an) yang diturunkan oleh Allah kepadamu sebagai nikmat justru menjadi kebalikannya menurut tanggapan musuh-musuhmu dari kalangan orang-orang Yahudi dan semua orang yang menyerupai mereka.
Hal itu pun menambah percaya kaum mukmin dan menambah amal saleh serta ilmu yang bermanfaat bagi mereka, maka hal itu menambah kedengkian dan iri hati orang-orang kafir terhadapmu dan umatmu.

Tugyan artinya berlebihan dan melampaui batas dalam segala sesuatu.
Yang dimaksud dengan kufran dalam ayat ini ialah kedustaan.

Perihalnya sama dengan makna yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Katakanlah, "Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.
Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh." (Al Fushilat:44)

Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (Al Isra : 82)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan Kami telah timpakan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.

Maksudnya adalah hati mereka tidak akan bersatu, bahkan permusuhan selalu terjadi di kalangan sekte-sekte mereka, sebagian dari mereka me­musuhi sebagian yang lain selama-lamanya.
Demikian itu karena mereka tidak pernah sepakat dalam perkara yang hak, dan mereka telah menen­tang dan mendustakanmu.

Ibrahim An-Nakha'i mengatakan, makna yang dimaksud dari firman-Nya, "Dan Kami telah timpakan permusuhan dan kebencian di antara mereka," ialah permusuhan dan perdebatan dalam masalah agamanya.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya (Al Maidah:64)

Yaitu setiap kali mereka merencanakan berbagai perangkap untuk menjebakmu dan setiap kali mereka mengadakan kesepakatan di antara sesamanya untuk memerangimu, maka Allah membatalkannya dan membalikkan tipu muslihat itu terhadap diri mereka sendiri menjadi 'senjata makan tuan’, sebagaimana mereka membuat lubang, maka mereka sendirilah yang terjerumus ke dalamnya.

...dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

Yakni termasuk watak mereka ialah selalu berjalan di muka bumi seraya menimbulkan kerusakan padanya, sedangkan Allah tidak menyukai orang yang bersifat demikian.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 64

HARB
حَرْب

Arti lafaz harb ialah perang, pembunuhan dan kekacauan, lawan bagi lafaz damai. Bentuk jamaknya adalah huruub. Lafaz harb juga diartikan sebagai musuh, contohnya, "ana harbun liman haarabanii" yaitu saya adalah musuh bagi orang yang memusuhiku atau "fulaanun harbun lii" yaitu si fulan adalah musuhku.

Di dalam Al Qur'an lafaz harb dalam bentuk tunggal di­ ulang sebanyak empat kali yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 279;
-Al Maa'idah (5), ayat 64;
-Al Anfaal (8):, ayat 57;
-Muhammad (47), ayat 4.
Sedangkan dalam bentuk jamak tidak disebut.

Dalam surah Al Maa'idah (5), ayat 64, di­ terangkan setiap kali kaum Yahudi menyala­kan api peperangan, Allah memadamkannya. Dalam surah Al Anfaal (8), ayat 57, Allah me­nerangkan ketika berperang, kaum beriman hendaklah menghancurkan dan memporak­ perandakan kaum kafir yang melanggar perjanjian damai supaya hal itu menjadi pelajaran bagi orang setelahnya.

Abdur Rahman bin Nasir As Sa'di menyata­kan, lafaz harb dalam ayat ini me­nunjukkan membunuh dan menghancurkan orang kafir hanya boleh dilakukan dalam kondisi perang. Apabila mereka mengadakan perjanjian damai dengan kaum mu'minin, kaum mu'minin tidak boleh meng­khianatinya dan mereka tidak boleh diserang walaupun kaum kafir itu sering melakukan pengkhianatan.

Dalam surah Muhammad (47), ayat 4 di­ jelaskan perintah membunuh kaum kafir dan juga menawan mereka selama terjadi perang saja. Apabila tidak dalam kondisi perang atau perang sudah berhenti karena kesepakatan damai, membunuh dan menahan orang kafir sebagai tawanan tidak dibenarkan. Dalam surah Al Baqarah (2), ayat 279, orang yang tidak mau meninggalkan riba ber­arti dia menyatakan dirinya memerangi Allah dan rasul Nya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:187

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa'

Surat ini dinamakan "Al Maa-idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi 'Isa 'alaihis salam meminta kepada Nabi 'Isa 'alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi 'Isa 'alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi'ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi 'Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu'min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka'bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 64 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 64



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (12 votes)
Sending







✔ qs al maidah 64