Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 60


قُلۡ ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ بِشَرٍّ مِّنۡ ذٰلِکَ مَثُوۡبَۃً عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ مَنۡ لَّعَنَہُ اللّٰہُ وَ غَضِبَ عَلَیۡہِ وَ جَعَلَ مِنۡہُمُ الۡقِرَدَۃَ وَ الۡخَنَازِیۡرَ وَ عَبَدَ الطَّاغُوۡتَ ؕ اُولٰٓئِکَ شَرٌّ مَّکَانًا وَّ اَضَلُّ عَنۡ سَوَآءِ السَّبِیۡلِ
Qul hal unabbi-ukum bisyarrin min dzalika matsuubatan ‘indallahi man la’anahullahu waghadhiba ‘alaihi waja’ala minhumul qiradata wal khanaaziira wa’abadath-thaaghuuta uula-ika syarrun makaanan wa-adhallu ‘an sawaa-issabiil(i);

Katakanlah:
“Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?”.
Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.
―QS. 5:60
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Pengharaman yang dihalalkan Allah
5:60, 5 60, 5-60, Al Maa’idah 60, AlMaaidah 60, Al Maidah 60, AlMaidah 60, Al-Ma’idah 60
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 60. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini dalam rangkaian petunjuk Allah kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ.
untuk memberikan bantahan kepada orang-orang kafir (ahli kitab) sebagaimana yang diuraikan pada ayat 59.

Menurut riwayat At-Tabrani, ia menceritakan, bahwa orang-orang ahli kitab berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ.
yang maksudnya, “Tidak ada agama yang kami ketahui lebih buruk dari agamamu.” Maka turunlah ayat ini untuk membantahnya.

Pada ayat ini Allah menyuruh Nabi Muhammad supaya berkata sebagai berikut, “Apakah perlu aku beritakan kepada kamu, hai orang-orang yang mengejek agama dan azan kami, sesuatu yang lebih buruk balasannya di sisi Allah dari pekerjaan (fasik) yang kamu lakukan ini, ialah bahwa kamu dijadikan kera dan babi.”

Riwayat Ibnu Abbas menceritakan, bahwa peristiwa pelanggaran kehormatan hari Sabtu itu telah terjadi dua macam kejadian.
Kejadian pertama ialah orang-orang muda berubah menjadi kera, yang kedua orang-orang tua menjadi babi.

Selanjutnya Allah menyuruh Rasul-Nya untuk menyampaikan bahwa mereka inilah yang lebih buruk tempatnya di akhirat dan sesat dari jalan yang benar.

Al Maa'idah (5) ayat 60 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan kepada mereka, “Maukah kalian aku beritahukan perbuatan yang paling jelek balasannya di sisi Allah?
Itulah perbuatan kalian, wahai orang-orang yang dijauhkan dari rahmat Allah dan dimurkai karena keingkaran dan kemaksiatan, dikunci mata hatinya sehingga mereka bagaikan kera dan babi, menyembah setan dan mengikuti kesesatan! Kejahatan mereka adalah yang paling besar karena mereka adalah orang-orang yang paling jauh dari jalan kebenaran.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah, “Apakah akan kukabarkan kepadamu) kuberitakan (orang-orang yang lebih buruk) lagi daripada warga (demikian) yang kamu salahkan itu (mengenai pembalasannya) asal artinya ialah pahalanya (di sisi Allah) yaitu (orang yang dikutuk oleh Allah) artinya dijauhkan dari rahmat-Nya (dan dimurkai-Nya serta di antara mereka ada yang dijadikan-Nya kera dan babi) dengan merubah bentuknya (dan) orang (yang menyembah tagut) yakni setan dengan jalan menaatinya.
Pada minhum ditekankan arti man pada lafal sebelumnya yang dimaksud ialah orang-orang Yahudi.
Menurut satu qiraat dibaca `abuda dengan diidhafatkan kepada yang sesudahnya sebagai isim jamak dari `abd dan dinashabkan karena ma`thuf kepada qiradah.
(Mereka itu lebih buruk tempatnya) karena mereka menempati neraka berfungsi sebagai tamyiz (dan lebih tersesat lagi dari jalan yang lurus) dari jalan yang benar.
Sawaa` arti asalnya ialah pertengahan.
Disebutkan buruk dan lebih tersesat untuk mengimbangi ucapan mereka, ‘Sepengetahuan kami tak ada agama yang lebih buruk dari agamamu.'”

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah wahai Nabi kepada orang-orang Mukmin :
Maukah kalian aku beritahu orang-orang yang dibalas di Hari Kiamat dengan pembalasan yang lebih berat daripada balasan yang diberikan kepada orang-orang fasik tersebut?
Mereka adalah para pendahulu mereka yang Allah usir dari rahmat-Nya dan mendapatkan murka dari-Nya.
Allah merubah wujud penciptaan mereka dengan menjadikan mereka sebagai kera dan babi akibat kedurhakaan, kebohongan dan kesombongan mereka.
Sebagaimana di antara mereka ada yang menjadi penghamba kepada thaghut, yaitu siapa yang disembah selain Allah dan dia rela.
Tempat mereka benar-benar buruk di akhirat, usaha mereka di dunia menyimpang dari jalan yang lurus.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Katakanlah, “Apakah akan aku beri tahukan kepada kalian tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya daripada (orang-orang fasik) itu di sisi Allah?”
(Al Maidah:60)

Yakni apakah harus aku ceritakan kepada kalian pembalasan yang lebih buruk daripada apa yang kalian duga terhadap kami kelak di hari kiamat di sisi Allah?
Yang melakukan demikian itu adalah kalian sendiri, karena semua sifat yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman-Nya ada pada kalian, yaitu:

…yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah.

Dikutuk artinya “dijauhkan dari rahmat-Nya”,
dan dimurkai artinya “Allah murka kepada mereka dengan murka yang tidak akan reda sesu­dahnya untuk selama-lamanya.

…di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi.

Seperti yang telah disebutkan di dalam surat Al-Baqarah dan seperti yang akan diterangkan nanti dalam tafsir surat Al-A’raf.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Alqamah ibnu Marsad, dari Al-Mugirah ibnu Abdullah, dari Al-Ma’rur ibnu Suwaid, dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai kera dan babi, apakah kedua binatang itu berasal dari kutukan Allah.
Maka beliau ﷺ menjawab: Sesungguhnya Allah tidak pernah membinasakan suatu kaum —atau beliau mengatakan bahwa Allah belum pernah mengutuk suatu kaum— lalu menjadikan bagi mereka keturunan dan anak cucunya.
Dan sesungguhnya kera dan babi telah ada sebelum peristiwa kutukan itu.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dan Mis’ar, keduanya dari Mugirah ibnu Abdullah Al-Yasykuri dengan lafaz yang sama.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abul Furat, dari Muhammad ibnu Zaid, dari Abul A’yan Al-Ma’badi, dari Abul Ahwas, dari Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa kami pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kera dan babi, apakah kera dan babi yang ada sekarang merupakan keturunan dari orang-orang Yahudi yang dikutuk Allah subhanahu wa ta’ala.
Maka Rasulullah ﷺ menjawab: Tidak, sesungguhnya Allah sama sekali belum pernah mengutuk suatu kaum, lalu membiarkan mereka berketurunan.
Tetapi kera dan babi yang ada merupakan makhluk yang telah ada sebelumnya.
Dan ketika Allah murka terhadap orang-orang Yahudi, maka Dia mengutuk mereka dan menjadikan mereka seperti kera dan babi.

Imam Ahmad meriwayatkannya melalui hadis Daud ibnu Abul Furat dengan lafaz yang sama

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan (orang-orang yang) menyembah tagut.

Dibaca abadat tagut karena berupa fi’il madi, sedangkan lafaz tagut di-nasab-kan olehnya, yakni “dan Allah menjadikan di antara mereka orang yang menyembah tagut”.
Dibaca ‘abdat tagut dengan di-­mudaf-kan artinya adalah “dan Allah menjadikan di antara mereka orang-orang yang mengabdi kepada tagut, yakni pengabdi dan budak tagut”.
Ada pula yang membacanya ‘ubadat tagut dalam bentuk Jam’ul jami’, bentuk tunggalnya adalah ‘abdun, bentuk jamaknya adalah tabidun, sedangkan bentuk jam’ul jami’-nya adalah ‘ubudun, perihal­nya sama dengan lafaz simarun yang bentuk jam’ul jami ‘-nya adalah sumurun.
Demikianlah menurut Riwayat Ibnu Jarir dan Al A’masy.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Al-A’masy, diriwayatkan dari Buraidah Al-Aslami bahwa ia membacanya wa ‘abidat tagut.
Sedangkan menurut qiraah dari Ubay dan Ibnu Mas’ud disebutkan wa abadu.
Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Abu Ja’far Al-Qari’ bahwa dia membaca­nya walubidat tagut dengan anggapan sebagai maf’ul dari fi’il yang tidak disebutkan fail-nya, tetapi bacaan ini dinilai oleh Ibnu Jarir jauh dari makna.
Padahal menurut makna lahiriahnya hal ini tidak jauh dari makna yang dimaksud, mengingat ungkapan ini termasuk ke dalam Bab “Ta’rid (Sindiran)” terhadap mereka.
Dengan kata lain, telah disembah tagut di kalangan kalian, dan kalianlah orang-orang yang melakukannya

Semua qiraah yang telah disebutkan di atas mempunyai kesimpulan makna yang menyatakan bahwa sesungguhnya kalian, hai Ahli Kitab, yang mencela agama kami, yaitu agama yang menauhidkan dan mengesakan Allah dalam menyembah-Nya tanpa ada selain-Nya, maka mengapa timbul dari kalian sikap seperti itu, padahal semua yang telah disebutkan ada pada diri kalian.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Mereka itu lebih buruk tempatnya.

Yakni lebih buruk daripada apa yang kalian duga dan kalian tuduhkan terhadap kami.

…dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

Ungkapan, ini termasuk ke dalam Bab “Pemakaian Af’al Tafdil Tanpa Menyebutkan Pembanding pada Sisi yang Lainnya”,
perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam firman lainnya, yaitu:

Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggal­nya dan paling indah tempat istirahatnya.
(Al Furqaan:24)

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 60

THAAGHUT
لطَّٰغُوت

Lafaz ini boleh digunakan bagi mufrad dan jamak, mudzakkar dan mu’annats. Asal lafaz ini sudah dijelaskan sebelum ini dan di dalam Al Qur’an ia mengandung dua makna yaitu Al hissi, yaitu thughyaanal ma’ yang berarti banjir; dan Al maknawi yaitu tughyaanal thughaah yang berarti orang kafir.

Ia mengandung makna setiap sembahan selain Allah, syaitan, ahli sihir atau seseorang yang menjadi kepala dalam kesesatan.

Lafaz ini disebut delapan kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 256, 257;
-An Nisaa (4), ayat 51, 60, 76;
-Al Maa’idah (5), ayat 60;
-An Nahl (16), ayat 36;
-Az Zumar (39), ayat 17.

Al Jauhari berkata,
“Ia adalah seorang kahin dan syaitan.” Al Isfahani berkata,
thaaghuut ialah ungkapan bagi setiap yang disembah selain Allah.”

Mr. Lane membuat kajian dalam Layal Al ‘Arab atau Kehidupan Malam Orang Arab (Arabian Nights), nama ini digunakan untuk mengungkapkan kejahatan, terutamanya berhala dan pujaan yang terlampau disanjung.”

Dalam Ensiklopedia Islam dijelaskan thaaghuut ialah syaitan, atau apa saja yang disembah selain Allah. Perkataan ini diletakkan bersama perkataan al jibt yang berarti objek yang disembah selain Allah, atau syaitan yang menghasut manusia supaya melakukan kejahatan.

Seorang sarjana Muslim zaman moden, Abu Al A’laa Al Mawdudi, menerusi Tafsir Al Qur’an menyatakan thaaghuut merupakan makhluk yang melampaui batas dan menganggap dirinya sebagai tuan atau tuhan; makhluk begini bukan saja menentang kekuasaan Allah, tetapi juga menggunakan kekuasaan dirinya ke atas orang lain tanpa menghiraukan kekuasaan Allah.

Dalam ajaran Syi’ah, thaaghuut merujuk kepada mereka yang menentang imam yang sah, seperti Husain ‘Ali Muntaziri, dan mereka ini biasanya ditujukan kepada pihak berkuasa Sunni.

Cendekiawan Syi’ah moden, Muhammad Husain Tabataba’i misalnya, dalam tafsir Al Qur’an hasil tulisan beliau yang diberi judul Mizan Al Haqq, bersama definisi biasa bagi berhala, syaitan dan jin, beliau mentakritkan thaaghuut sebagai pemimpin yang menyesatkan manusia dan dipatuhi walaupun Allah murka pada mereka.

Di Iran, perkataan ini banyak digunakan sewaktu dan setelah Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini menentang Shah Iran. Dalam fahaman Syi’ah siapa yang merampas hak imam digelar taghut.

Kesimpulannya, lafaz thaaghuut di dalam Al Qur’an berarti berhala, syaitan dan segala sesuatu yang membawa dan mengajak kepada kejahatan serta kekufuran.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:336-337

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 60 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 60



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (8 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku