Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 58


وَ اِذَا نَادَیۡتُمۡ اِلَی الصَّلٰوۃِ اتَّخَذُوۡہَا ہُزُوًا وَّ لَعِبًا ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَوۡمٌ لَّا یَعۡقِلُوۡنَ
Wa-idzaa naadaitum ilash-shalaatiit-takhadzuuhaa huzuwan wala’iban dzalika biannahum qaumun laa ya’qiluun(a);

Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan.
Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.
―QS. 5:58
Topik ▪ Pahala Iman
5:58, 5 58, 5-58, Al Maa’idah 58, AlMaaidah 58, Al Maidah 58, AlMaidah 58, Al-Ma’idah 58
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa'idah (5) : 58. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan sebagian dari ejekan dan permainan orang-orang kafir terhadap agama Islam, yaitu apabila orang-orang Islam mengajak mereka untuk salat, maka orang-orang kafir itu menjadikan ajakan itu bahan ejekan dan permainan sambil menertawakan mereka.

Menurut riwayat Ibnu Jarir dari As-Suddi, ia menceritakan, bahwa ada seorang laki-laki Nasrani di Madinah, apabila ia mendengar ucapan orang berazan "asyhadu anna muhammadar rasulullah" (saya mengaku bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah), ia berkata, "Haraqal Kazzaabu (semoga terbakarlah pembohong itu)." Kemudian pada suatu malam, pembantu rumah tangganya datang masuk membawa api dan jatuhlah butiran kecil dari api yang dibawanya itu sehingga menyebabkan rumah itu terbakar semuanya dan terbakar pulalah laki-laki Nasrani tersebut beserta keluarganya ketika sedang tidur.

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa perbuatan orang-orang kafir yang demikian, disebabkan karena mereka adalah kaum yang tidak mau mempergunakan akal dan tidak mau tahu tentang hakikat agama Allah yang mewajibkan mereka mengagungkan dan memuja-Nya.

Andaikata mereka mempergunakan akal secara wajar, tanpa dipengaruhi oleh rasa benci dan permusuhan, maka hati mereka akan tertekun khusyuk apabila mereka mendengar azan dari suara yang merdu, apalagi jika mereka mengerti dan memahami azan itu yang dimulai dengan kata-kata yang mengagungkan Allah.

Al Maa'idah (5) ayat 58 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 58 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 58 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara hinaan mereka terhadap kalian adalah bahwa apabila kalian mengajak salat dengan azan, mereka mengejek, menertawakan salat dan mempermainkannya.
Hal itu disebabkan karena mereka adalah kaum yang tidak berakal, tidak mengetahui perbedaan antara petunjuk dan kesesatan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) orang-orang yang (apabila kamu menyeru) atau memanggil mereka (untuk salat) yaitu dengan azan (mereka menjadikannya) salat itu (sebagai bahan olok-olok dan permainan) yakni dengan mempermainkan dan menertawakannya.
(Demikian itu) maksudnya sikap mereka itu (adalah karena mereka) disebabkan oleh karena mereka (kaum yang tak mau berpikir).
Ayat berikut ini diturunkan ketika orang-orang Yahudi menanyakan kepada Nabi ﷺ, "Kepada rasul-rasul yang manakah kamu beriman?"
Jawabnya, "Kepada Allah dan kepada apa-apa yang diturunkan kepada kami...
sampai akhir ayat." Ketika Nabi ﷺ menyebut nama Isa, mereka berkata, "Sepengetahuan kami tak ada agama yang lebih buruk dari agamamu!"

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bila muadzin kalian wahai orang-orang Mukmin mengumandangkan adzan untuk shalat, maka orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrikin mengejek dan memperolok-olok ajakan kalian kepadanya.
Hal itu disebabkan kebodohan mereka kepada Rabb mereka, dan bahwa mereka tidak mengerti hakikat ibadah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan apabila kalian menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) salat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan.

Yakni demikian pula jika kalian menyerukan azan untuk salat yang merupakan amal yang paling afdal bagi orang yang berpikir dan berpengetahuan dari kalangan orang-orang yang berakal, maka orang-orang kafir itu menjadikannya sebagai bahan ejekan dan permainan mereka.

Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.

Yakni tidak mengerti akan makna beribadah kepada Allah dan tidak memahami syariat-syariat-Nya.
Yang demikian itu merupakan sifat para pengikut setan.
Apabila mendengar azan, ia berlari menjauh seraya terkentut-kentut, hingga suara azan tidak terdengar lagi olehnya, apabila azan telah selesai, ia datang lagi.

Apabila salat diiqamahkan, ia berlari menjauh lagi, dan apabila iqamah sudah selesai, ia datang lagi dan memasukkan bisikannya ke dalam hati seseorang, lalu berkata, "Ingatlah ini dan itu," yang sebelum­nya tidak terpikirkan oleh orang yang bersangkutan, sehingga orang yang bersangkutan tidak mengetahui lagi berapa rakaat salat yang telah dilakukannya.
Apabila seseorang di antara kalian mengalami hal tersebut, hendaklah ia melakukan sujud sebanyak dua kali (sujud sahwi) sebelum salamnya.
Demikianlah menurut makna hadis yang muitafaq 'alaih.

Az-Zuhri mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala.
telah menyebutkan masalah azan dalam Al-Qur'an, yaitu melalui firman-Nya: Dan apabila kalian menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) salat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan.
Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.
(Al Maidah:58).
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Asbat telah meriwayatkan dari As-Saddi sehubungan dengan firman-Nya: Dan apabila kalian menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) salat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan.
(Al Maidah:58), Seorang lelaki dari kalangan Nasrani di Madinah, apabila mendengar seruan untuk salat yang mengatakan, "Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah," ia berkata, "Semoga si pendusta itu terbakar." Maka di suatu malam seorang pelayan wanitanya masuk ke dalam rumahnya dengan membawa api, saat itu ia sedang tidur,- begitu pula ke­luarganya.
Lalu ada percikan api yang jatuh dari api yang dibawa di tangannya, kemudian rumahnya terbakar sehingga dia beserta keluarganya terbakar pula.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar menyebutkan di dalam kitab Sirah-nya bahwa pada hari kemenangan atas kota Mekah Rasulullah ﷺ masuk ke dalam Ka'bah ditemani oleh sahabat Bilal.
Lalu Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk menyerukan azan, sedangkan saat itu terdapat Abu Sufyan ibnu Harb, Attab ibnu Usaid, dan Al-Haris ibnu Hisyam yang sedang duduk di halaman Ka'bah.
Maka Attab ibnu Usaid berkata, "Sesungguhnya Allah telah memuliakan Usaid bila dia tidak mendengar seruan ini, karena dia akan mendengar hal yang membuatnya marah (tidak suka)." Al-Haris ibnu Hisyam berkata pula, "Ingatlah, demi Allah, seandainya aku mengetahui bahwa dia benar, niscaya aku benar-benar mengikutinya," Sedangkan Abu Sufyan berkata, "Aku tidak akan mengatakan sesuatu pun.
Seandainya aku berkata (berkomentar), niscaya batu-batu kerikil ini akan menceritakan apa yang kukatakan." Lalu Nabi ﷺ keluar menemui Abu Sufyan Ibnu Harb dan bersabda, "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang telah kalian katakan." Kemudian Abu Sufyan menyampaikan hal itu kepada mereka berdua, lalu Al-Haris dan Attab berkata, "Kami bersaksi bahwa engkau adalah Rasul, tiada seorang pun yang bersama kita mengetahui pembicaraan ini, lalu dia menyampaikannya kepadamu."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnu Ubadah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abdul Malik ibnu Abu Mahzurah, bahwa Abdullah ibnu Muhairiz pernah menceritakan kepadanya hadis berikut, sedangkan dia dahulu adalah seorang yatim yang berada di dalam pemeliharaan Abu Mahzurah.
Dia berkata, "Aku pernah berkata kepada Abu Mahzurah, 'Hai paman, sesungguhnya aku akan berangkat ke negeri Syam, dan aku merasa enggan untuk bertanya kepadamu tentang peristiwa azan yang dilakukan olehmu'." Abdullah ibnu Muhairiz melanjutkan kisahnya: Abu Mahzurah menjawabnya dengan jawaban yang positif, lalu ia menceritakan bahwa ia pernah mengadakan suatu perjalanan dengan sejumlah orang, dan ketika dia bersama teman-temannya berada di tengah jalan yang menuju ke Hunain, saat itu Rasulullah ﷺ dalam perjalanan pulang dari Hunain.
Kemudian kami (Abu Mahzurah dan kawan-kawannya) bersua dengan Rasulullah ﷺ di tengah jalan.
Kemudian juru azan Rasulullah ﷺ menyerukan azan untuk salat di dekat Rasulullah ﷺ Dan kami mendengar suara azan itu saat kami mulai menjauh darinya, lalu kami berseru dengan suara keras meniru suara azan dengan maksud memper-olok-olokkan suara azan itu.
Ternyata Rasulullah ﷺ mendengar suara kami, lalu beliau mengirimkan seorang utusan kepada kami, dan akhirnya kami dihadapkan ke hadapannya.
Maka Rasulullah ﷺ bertanya, "Siapakah di antara kalian yang suaranya tadi terdengar keras olehku?"
Maka kaum yang bersama Abu Mahzurah mengisyaratkan kepadanya dan mereka memang benar.
Nabi ﷺ melepaskan semua­nya, sedangkan Abu Mahzurah ditahannya, lalu beliau bersabda, "Berdi­rilah dan serukanlah azan!" Abu Mahzurah berkata, "Maka aku terpaksa berdiri.
Saat itu tiada yang aku segani selain Rasulullah ﷺ dan apa yang beliau perintahkan kepadaku.
Lalu aku berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan kepadaku kalimat azan, yaitu: Allah Mahabesar, Allah Mahabesar.
Aku bersaksi bahwa tidakada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain.
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah Marilah salat, marilah salat, marilah kepada keberuntungan, marilah kepada keberuntungan.
Allah Mahabesar.
Allah Mahabesar, tidak ada Tuhan selain Allah.
Setelah aku selesai menyerukan azan, Nabi ﷺ memanggilku dan memberiku sebuah kantong yang berisi sejumlah mata uang perak." Kemudian beliau meletakkan tangannya ke atas ubun-ubun Abu Mahzurah, lalu mengusapkannya sampai ke wajahnya, lalu turun ke kedua sisi dadanya, ulu hatinya, hingga tangan Rasulullah ﷺ sampai kepada pusar Abu Mahzurah.
Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda, "Semoga Allah memberkati dirimu, dan semoga Allah memberkati perbuatanmu." Lalu aku (Abu Mahzurah) berkata, "Wahai Rasulullah, perintahkanlah aku untuk menjadi juru azan di Mekah." Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku telah perintahkan engkau untuk mengemban tugas ini." Sejak saat itu lenyaplah semua kebenciannya terhadap Rasulullah ﷺ dan kejadi­an tersebut membuatnya menjadi berubah, seluruh jiwa raganya sangat mencintai Rasulullah ﷺ Kemudian ia datang kepada Attab ibnu Usaid, Amil Rasulullah ﷺ (di Mekah), lalu ia menjadi juru azan salat bersama Attab ibnu Usaid atas perintah dari Rasulullah ﷺ Abdul Aziz ibnu Abdul Malik berkata, telah bercerita kepadanya hal yang sama.” Semua orang yang sempat aku jumpai dari keluarga­ku yang pernah menjumpai masa Abu Mahzurah menceritakan kisah yang sama seperti apa yang diceritakan oleh Abdullah ibnu Muhairiz kepadaku."

Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad.

Imam Muslim di dalam kitab Sahihnya dan Ahlus Sunan yang empat orang telah meriwayatkannya melalui jalur Abdullah ibnu Muhairiz, dari Abu Mahzurah yang namanya adalah Samurah ibnu Mu'ir ibnu Luzan, salah seorang dari empat orang muazin Rasulullah ﷺ Dia adalah muazin Mekah dalam waktu yang cukup lama.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 58

HUZUWAA
هُزُوًا

Asal lafaz huzuwaa adalah huz'an, yaitu berdasarkan qira'at ulama Kufah. Sedangkan Hafsah membacanya dengan huzuwan dengan menjadikan al zay berbaris depan dan menukar al hamzah kepada al waw, seperti lafaz kuf'an menjadi kufuwan. Kata ini bisa dalam bentuk mudhaf ilayh (sandaran kepadanya) dengan menghilangkan mudhaf (sandarannya) yaitu mawdhu' atau makaan huz'in (tempat untuk diperolok, dipersenda atau diejek), dan bisa dalam bentuk mashdar (kata dasar/terbitan) yang bermakna ism maf''ul yaitu mahzu'an ( orang yang dipermainkan dan direndahkan)

Lafaz ini disebut 11 kali di dalam Al Qur'an, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 67, 231;
-Al Maa'idah (5), ayat 57, 58;
-Al Kahfi (18), ayat 56, 106;
-Al Anbiyaa' (21), ayat 36;
-Al Furqaan (25), ayat 41;
-Luqman (31), ayat 6;
-Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35.

Pada surah Al Baqarah (2), ayat 67 lafaz huzuwaa dikaitkan dengan perkataan adanya tuduhan Bani Isra'il kepada Musa, "Adakah engkau wahai Nabi Musa menjadikan kami tempat untuk diperolok-olok dan engkau mau jadikan kami orang yang dipersendakan dan dipermainkan."

Pada ayat ini, suruhan Musa kepada mereka supaya menyembelih sapi (baqarah) sebagaimana yang diwahyukan kepadanya untuk mengetahui pembunuh seseorang yang berlaku di antara mereka dianggap sebagai huzuwa atau bahan olok-olok. Awalnya mereka berkeinginan supaya Musa berdoa kepada Allah untuk mengetahui si pembunuh itu. Namun, apa yang mereka minta lain yang disampaikan oleh Musa. Oleh karena itu mereka berkata demikian. Padahal mereka enggan melaksanakan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Musa.

Al Qurtubi rnenerangkan, "Kata- kata ini memberikan isyarat tentang larangan mempermainkan dan mempersenda agama Allah dan orang Islam karena perbuatan itu adalah tanda kejahilan dan yang melakukannya akan mendapat azab dan balasan, sebagaimana yang di jelaskan dalam surah Al Jaatsiyah (45), ayat 9

Pada ayat-ayat yang lain, lafaz huzuwaa mencakup beberapa keadaan, yaitu:

Pertama, larangan menjadikan bahan huzuwaa atau mainan dan olok-olokkan pada apa yang datang dari Allah berupa kitab, ayat-ayat Nya, rasul-rasul Nya, agama Nya dan sebagainya. Sebagaimana terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 231.

Kedua, larangan bagi orang yang beriman mengikuti orang yang menjadikan agama Allah sebagai bahan persendaan dan gurauan dari Ahli Kitab dan orang kafir (Al Maa 'idah (5), ayat 57). Seperti ketika kumandang azan untuk mendirikan shalat, maka mereka mempersendanya dan memperolok-oloknya (Al Maa' idah (5), ayat 58).

Diriwayatkan dari As Suddi, seseorang lelaki dari orang Nasrani di Madinah, tatkala ia mendengar kumandang azan maka ia berkata,
"Bakarlah pendusta ini" Pada suatu malam pembantunya masuk dengan membawa api, sedang ia dan keluarganya dalam keadaan tidur, lalu api itu jatuh dan rumah pun terbakar, maka ia dan keluarganya turut terbakar.

Seperti mempersenda dan mendustakan hujah, dalil dan mukjizat yang didatangkan Allah kepada rasul-rasul Nya (Al Kahfi (18), ayat 56).

Seperti mendustakan dan mempersenda kerasulan Muhammad dari kalangan kafir Quraisy seperti Abu Jahl (Al Anbiya' (21), ayat 36), (Al Furqan (25), ayat 41).

Seperti menjadikan jalan Allah atau ayat-ayat Allah bahan permainan dan olok-olokkan (Luqman (31), ayat 6), (Al Jaatsiyah ( 45), ayat 9 dan 35).

Ketiga, perkhabaran tentang siksaan yang menimpa ke atas orang yang menjadikan ayat-ayat Allah dan apa saja yang datang darinya sebagai bahan ejekan, sendaan dan olok-olokkan. Seperti bagi mereka 'adzaab muhiin yaitu siksaan yang berterusan, selamanya dan menghinakan di hari kiamat. (Luqman (31), ayat 6) dan (Al Jaatsiyah (45), ayat 9)

Seperti menggugurkan amalan-amalan mereka yang mereka sangka baik dan betul dan tidak memberi sebarang timbangan untuk menilai amal mereka, maka mereka menjadi penghuni neraka jahanam di hari akhirat. (Al Kahfi (18), ayat 104-106).
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Abu Hurairah dari Rasulullah dimana Rasulullah bersabda, pada hari kiamat, didatangkan seorang lelaki yang tegap, gemuk, tinggi dan besar. Namun, Allah tidak menimbang sebarang amalnya walau sebelah sayap seekor nyamuk.

Kesimpulannya, kata huzuwan atau huzuwa mencakup makna sesuatu dijadikan bahan persendaan, ejekan, permainan, sendaan dan yang sinonim dengannya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:644-646

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa'

Surat ini dinamakan "Al Maa-idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi 'Isa 'alaihis salam meminta kepada Nabi 'Isa 'alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi 'Isa 'alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi'ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi 'Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu'min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka'bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 58 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 58



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah 5
Nama Surah Al Maa'idah
Arab المائدة
Arti Jamuan (hidangan makanan)
Nama lain Al-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 112
Juz Juz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 120
Jumlah kata 2842
Jumlah huruf 12207
Surah sebelumnya Surah An-Nisa'
Surah selanjutnya Surah Al-An'am
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (20 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku