Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 54


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu man yartadda minkum ‘an diinihi fasaufa ya’tiillahu biqaumin yuhibbuhum wayuhibbuunahu adzillatin ‘alal mu’miniina a’izzatin ‘alal kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillahi walaa yakhaafuuna laumata laa-imin dzalika fadhlullahi yu’tiihi man yasyaa-u wallahu waasi’un ‘aliimun;

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
―QS. 5:54
Topik ▪ Keingkaran dan sifat keras kepala bangsa Yahudi
5:54, 5 54, 5-54, Al Maa’idah 54, AlMaaidah 54, Al Maidah 54, AlMaidah 54, Al-Ma’idah 54
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 54. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat itu terkandung berita tantangan yang akan terjadi, yaitu akan murtadnya nanti sebahagian orang mukmin.
Mereka akan keluar dari Islam dengan terang-terangan.
Keluarnya mereka dari Islam tidaklah akan membahayakan orang mukmin, tetapi sebaliknyalah yang akan terjadi, yaitu Allah akan menggantinya dengan orang-orang yang lebih kuat imannya dan lebih baik amal perbuatannya sebagai pengganti mereka yang murtad itu.

Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, dia menceritakan bahwa setelah Allah menurunkan ayat ini, diketahuilah bahwa akan terjadi beberapa kelompok manusia akan murtad, yaitu keluar dari agama Islam.
Peristiwa itu kemudian benar-benar terjadi, ketika Nabi Muhammad ﷺ.
berpulang ke rahmatullah, maka pada waktu itu murtadlah sebagian orang dari Islam, terkecuali dari tiga tempat, yaitu penduduk Madinah, penduduk Mekah dan penduduk Bahrain.
Di antara tanda-tanda murtad mereka ialah bahwa mereka tidak mau lagi mengeluarkan zakat.
Mereka mengatakan, “Kami akan tetap bersalat, tetapi kami tidak mau mengeluarkan zakat.
Demi Allah, tidak boleh dirampas harta kami.” Maka khalifah Abu Bakar ketika itu terpaksa mengambil tindakan keras.
Orang-orang yang murtad itu diperangi, sehingga di antara mereka ada yang mati, ada yang terbakar dan ada pula yang ditangkap, sehingga akhirnya mereka kembali bersedia membayar zakat.

Peristiwa terjadinya orang-orang murtad ini sudah banyak sekali.
Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa Nabi Muhammad ﷺ.
masih hidup telah terjadi tiga kali peristiwa orang-orang murtad, yaitu:

1.
Golongan Bani Mudhij yang dipelopori oleh Zulkhimar, yaitu Al-Aswad Al-Ansy seorang tukang tenung.
Dia mengaku sebagai nabi di negeri Yaman, akhirnya dia dihancurkan Allah, dibunuh oleh Fairuz Ad-Dailami.

2.
Golongan Bani Hanifah, yaitu kaum Musailamah Al-Kazzab.
Musailamah mengaku dirinya sebagai nabi.
Pernah dia berkirim surat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
mengajak beliau untuk membagi dua kekuasaan di negeri Arab.
Dia memerintah separoh negeri dan Nabi Muhammad ﷺ.
memerintah yang separoh lagi.
Nabi Muhammad ﷺ.
membalas suratnya itu dengan mengatakan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah dan Allah akan mempusakakan bumi ini kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-Nya dan bahwa kemenangan terakhir akan berada pada orang yang bertakwa kepada-Nya.
Akhirnya Musailamah diperangi oleh Khalifah Abu Bakar dan ia mati dibunuh oleh Wahsyi yang dulu pernah membunuh Hamzah, paman Nabi pada perang Uhud.

3.
Golongan Bani Asad, pemimpinnya bernama Tulaihah bin Khuwailid, dia juga mengaku dirinya menjadi nabi, maka Aba Bakar memerangi dengan memberitahukan Khalid bin Walid untuk membunuhnya.
Dia mundur dan lari ke negeri Syam dan akhirnya dia kembali menjadi seorang muslim yang baik.

Sesudah Nabi Muhammad ﷺ.
meninggal, yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar, banyak benar terjadi golongan-golongan yang murtad terdiri dari 7 golongan, yaitu:

1.
Ghathafan
2.
Bani Khuza`ah
3.
Bani Salim
4.
Bani Yarbu’
5.
Sebagian Bani Tamim
6.
Kindah
7.
Bani Bakr

Orang-orang yang menggantikan orang-orang murtad itu, selalu mengatakan kebenaran dan membantu perjuangan Islam, ditandai oleh Allah dengan enam sifat yang penting, yaitu:

1.
Allah mencintai mereka karena keimanan dan keyakinan mereka dalam berjuang.
2.
Mereka cinta kepada Allah karena perintah Allah lebih diutamakan dari urusan-urusan yang lain.
3.
Mereka bersikap lemah-lembut terhadap orang mukmin.
4.
Terhadap orang kafir mereka bersikap keras dan tegas.
5.
Berjihad fisabilillah, yaitu bersungguh-sungguh dalam menegakkan agama Allah, mau berkorban dengan harta dan dirinya dan tidak takut berperang menghadapi musuh agama.
6.
Mereka tidak takut terhadap cacian dan celaan, tidak takut kepada gertakan dan ancaman.
Sebab mereka senantiasa dalam beramal, berjuang, buka mencari pujian dan sanjungan manusia, bukan juga mencari pangkat dan kedudukan dan bukan pula mencari nama dan tuah.
Yang mereka cari hanyalah keridaan Allah semata.

Sifat-sifat yang tersebut itu adalah karunia Allah kepada hamba-Nya yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki.
Dengan sifat-sifat itulah derajat seseorang menjadi tinggi dan mulia di hadapan manusia, dan lebih-lebih di hadapan Allah yang mempunyai karunia yang besar.
Semuanya itu akan dapat diperoleh dengan jalan mendekatkan diri kepada-Nya serta memperbanyak ibadah dan bersyukur.

Al Maa'idah (5) ayat 54 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 54 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 54 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian kembali kepada kekafiran setelah sebelumnya beriman, mereka tidak akan mendatangkan mudarat sedikit pun bagi Allah dengan kekufurannya itu.
Allah Mahasuci dari itu semua.
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang lebih baik sebagai pengganti mereka.
Mereka dicintai oleh Allah sehingga mereka diberikan petunjuk dan ketaatan.
Sebaliknya, mereka pun mencintai Allah dan taat kepada-Nya.
Mereka bersikap merendah dan saling menyayangi sesama Mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjuang di jalan Allah dan tidak merasa takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela.
Itulah karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki untuk menjadi baik.
Karunia Allah amat luas dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang berhak menerimanya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman! Siapa yang murtad) yartadda pakai idgam atau tidak, artinya murtad atau berbalik (di antara kamu dari agamanya) artinya berbalik kafir, ini merupakan pemberitahuan dari Allah subhanahu wa ta’ala tentang berita gaib yang akan terjadi yang telah terlebih dahulu diketahui-Nya.
Buktinya setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat segolongan umat keluar dari agama Islam (maka Allah akan mendatangkan) sebagai ganti mereka (suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai-Nya) sabda Nabi ﷺ, “Mereka itu ialah kaum orang ini,” sambil menunjuk kepada Abu Musa Al-Asyari, riwayat Hakim dalam sahihnya (bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap keras) atau tegas (terhadap orang-orang kafir.
Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela) dalam hal itu sebagaimana takutnya orang-orang munafik akan celaan orang-orang kafir.
(Demikian itu) yakni sifat-sifat yang disebutkan tadi (adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas) karunia-Nya (lagi Maha Mengetahui) akan yang patut menerimanya.
Ayat ini turun ketika Ibnu Salam mengadu kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Kaum kami telah mengucilkan kami!”

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, barangsiapa diantara kalian yang meninggalkan agamanya, menggantinya dengan Yahudi atau Nasrani atau selainnya, maka mereka tidak akan merugikan Allah sedikitpun.
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang lebih baik dari mereka, Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah, penuh kasih saying kepada orang-orang mukmin namun bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
Mereka berjihad melawan musuh-musuh Allah, dan tidak takut kepada siapapun di jalan Allah.
Nikmat tersebut merupakan karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Allah Mahaluas karunia-Nya, Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkannya dari hamba-hamba-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman menceritakan tentang kekuasaan-Nya Yang Mahabesar, bahwa barang siapa yang memalingkan diri tidak mau menolong agama Allah dan menegakkan syariat-Nya, sesungguhnya Allah akan menggantikannya dengan kaum yang lebih baik daripadanya, lebih keras pertahanannya serta lebih lurus jalannya.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain, yaitu firman-firman-Nya berikut ini:

dan jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian (ini).
(Muhammad:38)

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kalian, wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai pengganti kalian).
(An Nisaa:133)

Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kalian dan mengganti (kalian) dengan makhluk yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.
(Ibrahim:19-20)

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya.

Yakni meninggalkan perkara yang hak dan kembali kepada kebatilan.
Muhammad ibnu Ka’b mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan para pemimpin orang-orang Quraisy.
Menurut Al-Hasan Al-Basri, ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang murtad yang baru kelihatan kemurtadannya di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.

…maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.

Al-Hasan Al-Basri menyebutkan bahwa demi Allah, yang dimaksud adalah Abu Bakar dan sahabat-sahabatnya.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Abu Bakar ibnu Abu Syaibah mengatakan, ia pernah mendengar Abu Bakar ibnu Ayyasy berkata sehubungan dengan firman-Nya: maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.
(Al Maidah:54), Mereka adalah penduduk Qadisiyah.
Sedangkan menurut Lais ibnu Abu Sulaim, dari Mujahid, mereka adalah suatu kaum dari negeri Saba.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Ajlah, dari Muhammad ibnu Amr, dari Salim, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.
(Al Maidah:54) Yang dimaksud adalah segolongan orang-orang dari penduduk negeri Yaman, Kindah, dan-As-Sukun.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad (yakni Ibnu Abdul Waris), telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sammak, ia pernah mendengar Iyad menceritakan hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala.: maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.
(Al Maidah:54) Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Mereka adalah dari kaum orang ini (seraya mengisyaratkan kepada Abu Musa Al-Asy’ari, yakni dari penduduk Yaman, pent.).

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Syu’bah dengan lafaz yang semisal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.

Demikianlah sifat orang mukmin yang sempurna, yaitu selalu bersikap rendah diri terhadap saudara dan teman sejawatnya, dan bersikap keras terhadap musuh dan seterunya, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam ayat yang lain, yaitu:

Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.
(Al Fath:29)

Di dalam gambaran tentang sifat Rasulullah ﷺ disebutkan bahwa beliau ﷺ adalah orang yang banyak senyum lagi banyak berperang.
Dengan kata lain, beliau selalu bersikap kasih sayang dan lemah lembut kepada kekasih-kekasihnya dan sangat keras terhadap musuh-musuhnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Yakni mereka tidak pernah mundur setapak pun dari prinsipnya, yaitu taat kepada Allah, menegakkan batasan-batasan-Nya, memerangi musuh-musuh-Nya, dan melakukan amar ma’ruf serta nahi munkar.
Mereka sama sekali tidak pernah surut dari hal tersebut tiada seorangpun yang dapat menghalang-halangi mereka, dan tidak pernah takut terhadap celaan orang-orang yang mencela dan mengkritiknya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Salam Abul Munzir, dari Muhammad ibnu Wasi’, dari Abdullah ibnus Samit, dari Abu Zar yang menceritakan: Kekasihku (yakni Nabi ﷺ) telah memerintahkan kepadaku melakukan tujuh perkara, yaitu: Beliau memerintahkan kepadaku agar menyayangi orang-orang miskin dan dekat dengan mereka.
Beliau memerintahkan kepadaku agar memandang kepada orang yang sebawahku dan jangan memandang kepada orang yang seatasku.
Beliau memerintahkan kepadaku agar menghubungkan silaturahmi, sekalipun hatiku tidak suka.
Beliau memerintahkan kepadaku agar jangan meminta sesuatu pun kepada orang lain.
Beliau memerintahkan kepadaku agar mengucapkan hal yang hak, sekalipun itu pahit.
Beliau memerintahkan kepadaku agar jangan takut kepada celaan orang yang mencela dalam membela (agama) Allah.
Dan beliau memerintahkan kepadaku agar memperbanyak ucapan, “La haula wala auwwata illa billah (Tidak ada daya untuk menghindar dari maksiat dan tidak ada kekuatan untuk mengerjakan ibadah kecuali berkat pertolongan Allah),” karena sesungguhnya kalimah ini merupakan suatu perbendaharaan yang tersimpan di bawah ‘Arasy.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan, dari Abul Musanna, bahwa Abu Zar r.a.
pernah menceritakan, “Rasulullah ﷺ membaiat diriku atas lima perkara dan mengikat diriku dengan tujuh perkara.
Dan aku bersaksi kepada Allah bahwa aku tidak akan takut terhadap celaan orang yang mencela demi membela (agama) Allah.” Abu Zar melanjutkan kisahnya, “Lalu Rasulullah ﷺ memanggil­ku dan bersabda, ‘Maukah engkau berbaiat, sedangkan bagimu nanti surga?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku mengulurkan tanganku, maka Nabi ﷺ bersabda seraya mensyaratkan kepadaku, ‘Janganlah kamu meminta kepada orang lain barang sesuatu pun.’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Nabi ﷺ bersabda: Dan jangan pula kamu meminta kepada orang lain untuk memungut cambukmu, sekalipun cambukmu terjatuh dari tanganmu.
Yakni beliau ﷺ memerintahkan kepadaku agar memungut sendiri cambukku, jangan minta pertolongan kepada orang lain untuk mengambilkannya.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Ja’far, dari Al-Ma’la Al-Firdausi, dari Al-Hasan.
dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ingatlah, jangan sekali-kali seseorang di antara kalian merasa takut terhadap orang lain untuk mengatakan perkara yang benar, jika dia melihat atau menyaksikannya.
Karena sesungguhnya tidak dapat memendekkan ajal dan tidak pula menjauhkan rezeki bila seseorang mengatakan perkara yang hak atau menceritakan hal yang berat diutarakan.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (menyendiri).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Zubaid, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Buhturi, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian merendahkan dirinya bila ia melihat suatu perkara menyangkut (agama) Allah yang harus ia utarakan, lalu ia tidak mau mengatakannya.
Maka akan dikata­kan kepadanya pada hari kiamat, “Apakah yang mencegah dirimu untuk mengatakan anu dan anu?” Lalu ia menjawab, “Karena takut kepada manusia” Maka dijawab, “Sebenarnya yang harus kamu takuti hanyalah Aku.”

Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Al-A’masy, dari Amr ibnu Murrah, dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan melalui hadis Abdullah ibnu Abdur Rahman Abu Tuwalah, dari Nahar ibnu Abdul lah Al-Abdi Al-Madani, dari Abu Sa’id Al-Khudri.
dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah benar-benar akan menanyai hamba-Nya di hari kiamat, hingga Dia benar-benar menanyainya, dengan pertanyaan, “Hai hamba-Ku, bukankah engkau pernah melihat perkara yang mungkar, lalu mengapa engkau tidak mencegahnya?” Maka apabila Allah telah mengajarkan kepada seseorang hamba hujah (alasan) yang dikatakannya, maka si hamba berkata, “Ya Tuhanku, saya percaya kepada-Mu, tetapi saya takut kepada manusia.”

Telah disebutkan pula di dalam sebuah hadis sahih:

Tidak layak bagi seorang mukmin menghinakan dirinya sendiri.
Ketika mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan menghinakan dirinya sendiri?”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Menanggung bencana (akibat) yang tidak kuat disanggahnya.

Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Yakni orang-orang yang menyandang sifat-sifat tersebut, tiada lain berkat karunia dan taufik Allah kepada mereka.

…dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Yaitu Dia Mahaluas karunia-Nya kepada orang yang berhak menerima karunia itu, dan Maha Mengetahui terhadap siapa yang tidak berhak mendapat karunia-Nya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 54

ADZILLAH
أَذِلَّة

Lafaz ini adalah jamak dari dzalil dan dzaluul. Lafaz dzalil berasal dari adz-dzull dan lafaz dzalul berasal dari adz-dzill. Dzalil bermakna yang lembut yaitu lawan kepayahan, berjalan dengan ringan, lemah, mudah atau rendah. Bayt dzalil bermakna atap rumah dekat dengan bumi atau lantai.

Dzalul bermakna penurut dan patuh, dzalul at tariq bermakna jalan yang dilalui orang.

Ibn Al Kafawi berkata,
adz dzalul adalah untuk hewan ternak, maksudnya hewan yang penurut dan jinak. Sedangkan adz dzaaa adalah untuk manusia yang berarti manusia yang fakir, penurut, rendah atau hina”

Al Fayruz Abadi juga berkata mengenai perbedaan antara adz dzalil dan adz dzalul. Adz dzalil adalah perkara setelah kepayahan dengan paksaan (dengan lemah lembut) dan ia adalah lawan dari al­ ‘aziz, sedangkan adz dzalul perkara setelah kepayahan tanpa ada unsur paksaan.

Lafaz adzillah disebut empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 123,
-Al Maa’idah (5), ayat 54
-Al­ Naml (27), ayat 34 dan 37.

Lafaz adzhillah pada ayat-ayat di atas mengandung makna.

Pertama, bermakna yang lemah atau sedikit sebagaimana dalam surah Ali Imran.

Dalam Tafsir Al Munir menyatakan, adzillah pada ayat ini jamak dari dzalil yang bermakna yang tiada daya dan kekuatan. Maksudnya bilangan dan senjata muslim pada Perang Badar sedikit. Begitu juga dalam Tafsir Al Jalalain dan Tafsir Al Manar yang menyatakan makna adzillah dalam surah ini ialah sedikit bilangan muslim dan senjata mereka.

Kedua, bermakna lemah lembut. Makna ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.
Az­ Zamakhsyari berkata,
“Makna adzillah pada ayat ini terbagi kepada dua makna.

Pertama, lemah lembut dan tunduk. Maksudnya, mereka mengasihi dan berlemah lembut sesama mereka dengan rasa hormat dan tawaduk.

Kedua, dengan kemuliaan dan kedudukan mereka yang tinggi antara mukmin, mereka saling berlapang dada sesama mereka dan ini sebagaimana Allah menyatakan dalam surah Al Fath, ayat 29.

Ketiga, bermakna menjadi hina se­bagaimana yang terdapat dalam surah An­ Naml. Asy Syawkani berkata,
“Makna adzillah ialah pembesar-pembesar menghinakan penduduk mereka (sabar) dan merendahkan martabat mereka sehingga pada masa itu mereka menjadi hina. Mereka berbuat demikian supaya mereka patuh dan tunduk serta tertanam dalam diri mereka kehebatan dan keagungan.

At Tabari berkata,
“Maksud ayat surah An Naml ialah membuat diri mereka yang merdeka menjadi hamba atau memperhambakan mereka baginya serta menjadikan orang yang mengirim kamu dari negeri mereka menjadi hina. Mereka akan menjadi tawanan apabila tidak datang kepadaku dengan memeluk Islam.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:19-20

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 54 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 54



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.6
Rating Pembaca: 4.4 (16 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku