Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 54 [QS. 5:54]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu man yartadda minkum ‘an diinihi fasaufa ya’tiillahu biqaumin yuhibbuhum wayuhibbuunahu adzillatin ‘alal mu’miniina a’izzatin ‘alal kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillahi walaa yakhaafuuna laumata laa-imin dzalika fadhlullahi yu’tiihi man yasyaa-u wallahu waasi’un ‘aliimun;
Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.
―QS. Al Maa’idah [5]: 54

Daftar isi

O you who have believed, whoever of you should revert from his religion – Allah will bring forth (in place of them) a people He will love and who will love Him (who are) humble toward the believers, powerful against the disbelievers;
they strive in the cause of Allah and do not fear the blame of a critic.
That is the favor of Allah;
He bestows it upon whom He wills.
And Allah is all-Encompassing and Knowing.
― Chapter 5. Surah Al Maa’idah [verse 54]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O you
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

who
ءَامَنُوا۟ beriman

believe!
مَن barang siapa

Whoever
يَرْتَدَّ murtad

turns back
مِنكُمْ diantara kamu

among you
عَن dari

from
دِينِهِۦ agamanya

his religion,
فَسَوْفَ maka bakal/akan

then soon
يَأْتِى mendatangkan

(will be) brought
ٱللَّهُ Allah

(by) Allah
بِقَوْمٍ dengan suatu kaum

a people
يُحِبُّهُمْ Dia mencintai mereka

whom He loves
وَيُحِبُّونَهُۥٓ mereka mencintaiNya

and they love Him,
أَذِلَّةٍ lemah-lembut

humble
عَلَى atas

towards
ٱلْمُؤْمِنِينَ orang-orang mukmin

the believers
أَعِزَّةٍ keras

(and) stern
عَلَى atas

towards
ٱلْكَٰفِرِينَ orang-orang kafir

the disbelievers;
يُجَٰهِدُونَ mereka berjihad

striving
فِى pada

in
سَبِيلِ jalan

(the) way
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah
وَلَا dan tidak

and not
يَخَافُونَ mereka takut

fearing
لَوْمَةَ celaan

the blame
لَآئِمٍ orang-orang mencela

(of) a critic.
ذَٰلِكَ demikian itu

That
فَضْلُ karunia

(is the) Grace

Tafsir

Alquran

Surah Al Maa’idah
5:54

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 54. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini terkandung berita tantangan yang akan terjadi, yaitu akan murtadnya sebagian orang mukmin.
Mereka akan keluar dari Islam dengan terang-terangan.

Keluarnya mereka dari Islam, tidaklah akan membahayakan orang mukmin, tetapi sebaliknya yang akan terjadi, yaitu Allah akan menggantinya dengan orang-orang yang lebih kuat imannya dan Iebih baik amal perbuatannya, sebagai pengganti mereka yang murtad itu.


Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, diceritakan bahwa setelah ayat ini diturunkan, beberapa kelompok manusia akan murtad, keluar dari agama Islam.

Peristiwa itu kemudian benar-benar terjadi, ketika Nabi Muhammad ﷺ.
berpulang ke rahmatullah, murtadlah sebagian orang Islam, terkecuali dari tiga tempat, yaitu penduduk Madinah, penduduk Mekah dan penduduk Bahrain.

Di antara tanda-tanda murtad mereka ialah bahwa mereka tidak mau lagi mengeluarkan zakat.
Mereka mengatakan:
"Kami akan tetap salat, tetapi kami tidak mau mengeluarkan zakat.

Demi Allah, harta kami tidak boleh dirampas."
Maka Khalifah Abu Bakar ketika itu terpaksa mengambil tindakan keras.

Orang-orang yang murtad itu diperangi, sehingga di antara mereka ada yang mati, ada yang terbakar dan ada pula yang ditangkap, dan akhirnya mereka kembali bersedia membayar zakat.


Peristiwa terjadinya kemurtadan ini banyak sekali.

Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa Nabi Muhammad ﷺ.
masih hidup telah terjadi tiga kali peristiwa murtad, yaitu:


1. Golongan Yaman, dia dibunuh oleh salah seorang dari Muslimin.


2. Golongan Nabi Muhammad ﷺ.
mengajak beliau untuk membagi dua kekuasaan di negeri Arab.
Dia memerintah separuh negeri dan Nabi Muhammad ﷺ.
memerintah sisanya.
Nabi Muhammad ﷺ.
membalas suratnya dengan mengatakan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah dan Allah akan mempusakakan bumi ini kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-Nya dan bahwa kemenangan terakhir akan berada pada orang yang bertakwa kepada-Nya.
Akhirnya Musailimah diperangi oleh Khalifah Abu Bakar dan ia mati dibunuh oleh Wahsyi yang dulu pernah membunuh Hamzah, paman Nabi dalam Perang Uhud.


3. Golongan Abu Bakar memeranginya dengan memerintahkan Khalid bin Walid untuk membunuhnya.
Dia mundur dan lari ke Muslim yang baik.


Sesudah Nabi Muhammad ﷺ.
meninggal, pada masa Khalifah Abu Bakar, banyak terjadi golongan-golongan yang murtad terdiri dari 7 golongan, yaitu:
(1) Gatafan, (2) Khuza’ah, (3) Bani Tamim, (6) Kindah, dan (7) Orang-orang yang menggantikan orang-orang murtad itu selalu mengatakan kebenaran dan membantu perjuangan Islam, ditandai oleh Allah dengan enam sifat yang penting, yaitu:


1. Allah mencintai mereka, karena keimanan dan keyakinan mereka dalam berjuang.


2. Mereka cinta kepada Allah, karena perintah Allah lebih diutamakan dari urusan-urusan yang lain,


3. Mereka bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin,


4. Mereka bersikap keras dan tegas terhadap orang kafir.


5. Berjihad fi sabilillah, yaitu bersungguh-sungguh dalam menegakkan agama Allah, mau berkorban dengan harta dan dirinya dan tidak takut berperang menghadapi musuh agama,


6. Mereka tidak takut terhadap cacian dan celaan, tidak takut kepada gertakan dan ancaman.
Sebab mereka senantiasa dalam beramal, berjuang, bukan mencari pujian dan sanjungan manusia, bukan juga mencari pangkat dan kedudukan dan bukan pula mencari nama dan pengaruh.
Yang mereka cari hanyalah keridaan Allah semata.


Sifat-sifat yang tersebut di atas adalah karunia Allah kepada hamba-Nya yang dikehendaki.
Dengan sifat-sifat itulah derajat seseorang menjadi tinggi dan mulia di hadapan manusia, dan lebih-lebih di hadapan Allah yang mempunyai karunia yang besar.
Semuanya itu akan dapat diperoleh dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah serta memperbanyak ibadah dan bersyukur.

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 54. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian kembali kepada kekafiran setelah sebelumnya beriman, mereka tidak akan mendatangkan mudarat sedikit pun bagi Allah dengan kekufurannya itu.
Allah Mahasuci dari itu semua.


Allah akan mendatangkan suatu kaum yang lebih baik sebagai pengganti mereka.
Mereka dicintai oleh Allah sehingga mereka diberikan petunjuk dan ketaatan.


Sebaliknya, mereka pun mencintai Allah dan taat kepada-Nya.
Mereka bersikap merendah dan saling menyayangi sesama Mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjuang di jalan Allah dan tidak merasa takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela.


Itulah karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki untuk menjadi baik.
Karunia Allah amat luas dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang berhak menerimanya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, barangsiapa diantara kalian yang meninggalkan agamanya, menggantinya dengan Yahudi atau Nasrani atau selainnya, maka mereka tidak akan merugikan Allah sedikitpun.
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang lebih baik dari mereka, Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah, penuh kasih saying kepada orang-orang mukmin namun bersikap keras terhadap orang-orang kafir.


Mereka berjihad melawan musuh-musuh Allah, dan tidak takut kepada siapapun di jalan Allah.
Nikmat tersebut merupakan karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.


Allah Mahaluas karunia-Nya, Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkannya dari hamba-hamba-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai orang-orang yang beriman! Siapa yang murtad) yartadda pakai idgam atau tidak, artinya murtad atau berbalik


(di antara kamu dari agamanya) artinya berbalik kafir, ini merupakan pemberitahuan dari Allah subhanahu wa ta’ala tentang berita gaib yang akan terjadi yang telah terlebih dahulu diketahui-Nya.
Buktinya setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat segolongan umat keluar dari agama Islam


(maka Allah akan mendatangkan) sebagai ganti mereka


(suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai-Nya) sabda Nabi ﷺ,
"Mereka itu ialah kaum orang ini,"
sambil menunjuk kepada Abu Musa Al-Asyari, riwayat Hakim dalam sahihnya


(bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap keras) atau tegas


(terhadap orang-orang kafir.
Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela) dalam hal itu sebagaimana takutnya orang-orang munafik akan celaan orang-orang kafir.


(Demikian itu) yakni sifat-sifat yang disebutkan tadi


(adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas) karunia-Nya


(lagi Maha Mengetahui) akan yang patut menerimanya.
Ayat ini turun ketika Ibnu Salam mengadu kepada Rasulullah,
"Wahai Rasulullah! Kaum kami telah mengucilkan kami!"

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman menceritakan tentang kekuasaan-Nya Yang Mahabesar, bahwa barang siapa yang memalingkan diri tidak mau menolong agama Allah dan menegakkan syariat-Nya, sesungguhnya Allah akan menggantikannya dengan kaum yang lebih baik daripadanya, lebih keras pertahanannya serta lebih lurus jalannya.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain, yaitu firmanfirman-Nya berikut ini:

dan jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian (ini).
(QS. Muhammad [47]: 38)

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kalian, wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai pengganti kalian).
(QS. An-Nisa’ [4]: 133)

Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kalian dan mengganti (kalian) dengan makhluk yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.
(QS. Ibrahim [14]: 19-20)

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya.


Yakni meninggalkan perkara yang hak dan kembali kepada kebatilan.
Muhammad ibnu Ka’b mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan para pemimpin orang-orang Quraisy.
Menurut Al-Hasan Al-Basri, ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang murtad yang baru kelihatan kemurtadannya di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.

…maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.

Al-Hasan Al-Basri menyebutkan bahwa demi Allah, yang dimaksud adalah Abu Bakar dan sahabat-sahabatnya.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Abu Bakar ibnu Abu Syaibah mengatakan, ia pernah mendengar Abu Bakar ibnu Ayyasy berkata sehubungan dengan firman-Nya:
maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 54), Mereka adalah penduduk Qadisiyah.
Sedangkan menurut Lais ibnu Abu Sulaim, dari Mujahid, mereka adalah suatu kaum dari negeri Saba.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Ajlah, dari Muhammad ibnu Amr, dari Salim, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 54)
Yang dimaksud adalah segolongan orang-orang dari penduduk negeri Yaman, Kindah, dan-As-Sukun.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad (yakni Ibnu Abdul Waris), telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sammak, ia pernah mendengar Iyad menceritakan hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala :
maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 54)
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Mereka adalah dari kaum orang ini (seraya mengisyaratkan kepada Abu Musa Al-Asy’ari, yakni dari penduduk Yaman, pent.).

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Syu’bah dengan Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang
mukmin yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.

Demikianlah sifat orang mukmin yang sempurna, yaitu selalu bersikap rendah diri terhadap saudara dan teman sejawatnya, dan bersikap keras terhadap musuh dan seterunya, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam ayat yang lain, yaitu:

Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.
(QS. Al-Fath [48]: 29)

Di dalam gambaran tentang sifat Rasulullah ﷺ disebutkan bahwa beliau ﷺ adalah orang yang banyak senyum lagi banyak berperang.
Dengan kata lain, beliau selalu bersikap kasih sayang dan lemah lembut kepada kekasih-kekasihnya dan sangat keras terhadap musuh-musuhnya.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Yakni mereka tidak pernah mundur setapak pun dari prinsipnya, yaitu taat kepada Allah, menegakkan batasan-batasan-Nya, memerangi musuh-musuh-Nya, dan melakukan amar ma’ruf serta Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Salam Abul Munzir, dari Muhammad ibnu Wasi’, dari Abdullah ibnus Samit, dari Abu Zar yang menceritakan:
Kekasihku (yakni Nabi ﷺ) telah memerintahkan kepadaku melakukan tujuh perkara, yaitu:
Beliau memerintahkan kepadaku agar menyayangi orang-orang miskin dan dekat dengan mereka.
Beliau memerintahkan kepadaku agar memandang kepada orang yang sebawahku dan jangan memandang kepada orang yang seatasku.
Beliau memerintahkan kepadaku agar menghubungkan silaturahmi, sekalipun hatiku tidak suka.
Beliau memerintahkan kepadaku agar jangan meminta sesuatu pun kepada orang lain.
Beliau memerintahkan kepadaku agar mengucapkan hal yang hak, sekalipun itu pahit.
Beliau memerintahkan kepadaku agar jangan takut kepada celaan orang yang mencela dalam membela (agama) Allah.
Dan beliau memerintahkan kepadaku agar memperbanyak ucapan,
"La haula wala auwwata illa billah (Tidak ada daya untuk menghindar dari maksiat dan tidak ada kekuatan untuk mengerjakan ibadah kecuali berkat pertolongan Allah),"
karena sesungguhnya kalimah ini merupakan suatu perbendaharaan yang tersimpan di bawah ‘Arasy.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan, dari Abul Musanna, bahwa Abu Zar r.a. pernah menceritakan,
"Rasulullah ﷺ membaiat diriku atas lima perkara dan mengikat diriku dengan tujuh perkara.
Dan aku bersaksi kepada Allah bahwa aku tidak akan takut terhadap celaan orang yang mencela demi membela (agama) Allah."
Abu Zar melanjutkan kisahnya,
"Lalu Rasulullah ﷺ memanggil­ku dan bersabda, ‘Maukah engkau berbaiat, sedangkan bagimu nanti surga?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku mengulurkan tanganku, maka Nabi ﷺ bersabda seraya mensyaratkan kepadaku, ‘Janganlah kamu meminta kepada orang lain barang sesuatu pun.’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Nabi ﷺ bersabda:
Dan jangan pula kamu meminta kepada orang lain untuk memungut cambukmu, sekalipun cambukmu terjatuh dari tanganmu.
Yakni beliau ﷺ memerintahkan kepadaku agar memungut sendiri cambukku, jangan minta pertolongan kepada orang lain untuk mengambilkannya."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Ja’far, dari Al-Ma’la Al-Firdausi, dari Al-Hasan.
dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Ingatlah, jangan sekali-kali seseorang di antara kalian merasa takut terhadap orang lain untuk mengatakan perkara yang benar, jika dia melihat atau menyaksikannya.
Karena sesungguhnya tidak dapat memendekkan ajal dan tidak pula menjauhkan rezeki bila seseorang mengatakan perkara yang hak atau menceritakan hal yang berat diutarakan.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (menyendiri).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Zubaid, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Buhturi, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian merendahkan dirinya bila ia melihat suatu perkara menyangkut (agama) Allah yang harus ia utarakan, lalu ia tidak mau mengatakannya.
Maka akan dikata­kan kepadanya pada hari kiamat,
"Apakah yang mencegah dirimu untuk mengatakan anu dan anu?"
Lalu ia menjawab,
"Karena takut kepada manusia"
Maka dijawab,
"Sebenarnya yang harus kamu takuti hanyalah Aku."

Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Al-A’masy, dari Amr ibnu Murrah, dengan Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan melalui hadis Abdullah ibnu Abdur Rahman Abu Tuwalah, dari Nahar ibnu Abdul lah Al-Abdi Al-Madani, dari Abu Sa’id Al-Khudri.
dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Sesungguhnya Allah benar-benar akan menanyai hamba-Nya di hari kiamat, hingga Dia benar-benar menanyainya, dengan pertanyaan,
"Hai hamba-Ku, bukankah engkau pernah melihat perkara yang mungkar, lalu mengapa engkau tidak mencegahnya?"
Maka apabila Allah telah mengajarkan kepada seseorang hamba hujah (alasan) yang dikatakannya, maka si hamba berkata,
"Ya Tuhanku, saya percaya kepada-Mu, tetapi saya takut kepada manusia."

Telah disebutkan pula di dalam sebuah hadis sahih:

Tidak layak bagi seorang mukmin menghinakan dirinya sendiri.
Ketika mereka (para sahabat) bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan menghinakan dirinya sendiri?"
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Menanggung bencana (akibat) yang tidak kuat disanggahnya.

Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Yakni orang-orang yang menyandang sifat-sifat tersebut, tiada lain berkat karunia dan taufik Allah kepada mereka.

…dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Yaitu Dia Mahaluas karunia-Nya kepada orang yang berhak menerima karunia itu, dan Maha Mengetahui terhadap siapa yang tidak berhak mendapat karunia-Nya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa’idah (5) Ayat 54

ADZILLAH
أَذِلَّة

jamak dari dzalil dan dzaluul. Al Kafawi berkata,
adz dzalul adalah untuk hewan ternak, maksudnya hewan yang penurut dan jinak.
Sedangkan adz dzaaa adalah untuk manusia yang berarti manusia yang fakir, penurut, rendah atau hina"

Al Fayruz Abadi juga berkata mengenai perbedaan antara adz dzalil dan adz dzalul.
Adz dzalil
adalah perkara setelah kepayahan dengan paksaan (dengan lemah lembut) dan ia adalah lawan dari al ‘aziz, sedangkan adz dzalul perkara setelah kepayahan tanpa ada unsur paksaan.

Ali Imran (3), ayat 123,
• Al Maa’idah (5), ayat 54
• Al Naml (27), ayat 34 dan 37.
Ali Imran.

Dalam Tafsir Al Munir menyatakan, adzillah pada ayat ini jamak dari dzalil yang bermakna yang tiada daya dan kekuatan.
Maksudnya bilangan dan senjata muslim pada Perang Badar sedikit.
Begitu juga dalam Tafsir Al Jalalain dan Tafsir Al Manar yang menyatakan makna adzillah dalam surah ini ialah sedikit bilangan muslim dan senjata mereka.

Kedua, bermakna lemah lembut.
Makna ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.
Az Zamakhsyari berkata,
"Makna adzillah pada ayat ini terbagi kepada dua makna.

Pertama, lemah lembut dan tunduk.
Maksudnya, mereka mengasihi dan berlemah lembut sesama mereka dengan rasa hormat dan tawaduk.

Kedua, dengan kemuliaan dan kedudukan mereka yang tinggi antara mukmin, mereka saling berlapang dada sesama mereka dan ini sebagaimana Allah menyatakan dalam surah Al Fath, ayat 29.
Ketiga, bermakna menjadi hina sebagaimana yang terdapat dalam surah An Naml.
Asy Syawkani berkata,
"Makna adzillah ialah pembesar-pembesar menghinakan penduduk mereka (sabar) dan merendahkan martabat mereka sehingga pada masa itu mereka menjadi hina.
Mereka berbuat demikian supaya mereka patuh dan tunduk serta tertanam dalam diri mereka kehebatan dan keagungan.

At Tabari berkata,
"Maksud ayat surah An Naml ialah membuat diri mereka yang merdeka menjadi hamba atau memperhambakan mereka baginya serta menjadikan orang yang mengirim kamu dari negeri mereka menjadi hina.
Mereka akan menjadi tawanan apabila tidak datang kepadaku dengan memeluk Islam."

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:19-20

Unsur Pokok Surah Al Maa’idah (المائدة)

Surat Al-Ma’idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’.

Surat ini dinamakan "Al Maa’idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isaalaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isaalaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).

Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isaalaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

▪ Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Hukum:

▪ Keharusan memenuhi perjanjian.
Hukum melanggar syiar Allah.
▪ Makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan.
Hukum mengawini wanita ahli kitab.
Tayammum.
▪ Mandi.
Hukum membunuh orang.
Hukum mengacau dan mengganggu keamanan.
Hukum qishas.
Hukum melanggar sumpah dan kafarat-nya.
Hukum khamar (minuman yang memabukkan).
▪ Berjudi.
▪ Berkorban untuk berhala.
▪ Mengundi nasib.
Hukum membunuh binatang waktu ihram.
Hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

▪ Kisah-kisah Nabi Musa `alaihis salam menyuruh kaumnya memasuki Palestina.
▪ Kisah Habil dan Qabil.
▪ Kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
▪ Penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Keharusan jujur dan berlaku adil.
▪ Sikap dalam menghadapi berita-berita bohong.
▪ Akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim.
▪ Kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan agama.
▪ Sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam.
▪ Ka’bah sokoguru kehidupan manusia.
▪ Peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah.
▪ Larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 120 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 120

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'idah ayat 54 - Gambar 1 Surah Al Maa'idah ayat 54 - Gambar 2
Statistik QS. 5:54
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.

Surah Al-Ma’idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā’idah, “Jamuan Hidangan”) adalah surah ke-5 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada’.
Surah ini dinamakan Al-Ma’idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma’idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah 5
Nama Surah Al Maa’idah
Arab المائدة
Arti Jamuan (hidangan makanan)
Nama lain Al-‘Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 112
Juz Juz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 120
Jumlah kata 2842
Jumlah huruf 12207
Surah sebelumnya Surah An-Nisa’
Surah selanjutnya Surah Al-An’am
Sending
User Review
4.4 (16 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

5:54, 5 54, 5-54, Surah Al Maa'idah 54, Tafsir surat AlMaaidah 54, Quran Al Maidah 54, AlMaidah 54, Al-Ma'idah 54, Surah Al Maidah ayat 54

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Maa’idah

۞ QS. 5:1 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 5:2 • Siksaan Allah sangat pedih • Ar Rabb (Tuhan) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:3 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Keistimewaan IslamIslam agama yang diterima di sisi Allah

۞ QS. 5:5 • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:6 Sifat Iradah (berkeinginan) • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 5:7 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 5:8 • Keluasan ilmu Allah • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 5:9 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 5:10 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 5:11 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 5:12 • Kewajiban beriman pada para rasul • Sifat surga dan kenikmatannya • Kembali kufur • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:13 • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 5:14 • Keluasan ilmu Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:16 Hikmah penurunan kitab-kitab samawiHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:17 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:18 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 5:19 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:20 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:23 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Melihat sebab akibat

۞ QS. 5:24 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:25 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:26 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 5:27 • Perbuatan dan niat

۞ QS. 5:28 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:29 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar

۞ QS. 5:32 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 5:33 • Nama-nama hari kiamat • Bersikap keras terhadap orang kafir • Dosa-dosa besar • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:34 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar

۞ QS. 5:35 • Bersegera dalam melakukan kebaikan • Mengharap wasilah (kedudukan)

۞ QS. 5:36 • Siksaan Allah sangat pedih • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Azab orang kafir • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:37 • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 5:38 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 5:39 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 5:40 • Segala sesuatu milik Allah • Ampunan Allah yang luas • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:41 • Nama-nama hari kiamat • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 5:42 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 5:44 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:46 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 5:47 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:48 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kebenaran hari penghimpunan • Bersegera dalam melakukan kebaikan •

۞ QS. 5:49 Sifat Iradah (berkeinginan) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 5:51 • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrikHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:52 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:53 • Siksa orang munafik • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 5:54 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 5:55 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Wali (Maha Pelindung) • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 5:56 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keutamaan iman

۞ QS. 5:57 • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir

۞ QS. 5:59 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:60 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:61 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 5:64 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Mendustai Allah • Sifat Kamal (sempurna) • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:65 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Perbuatan yang menghalangi api neraka • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 5:66 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:67 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAr Rabb (Tuhan) • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 5:68 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:69 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Nama-nama hari kiamat • Islamnya ahli kitab • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 5:71 • Keluasan ilmu Allah • Al Bashir (Maha Melihat) • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 5:72 Tauhid Rububiyyah • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Syirik adalah dosa terbesar

۞ QS. 5:73 Tauhid Uluhiyyah • Mendustai Allah • Siksaan Allah sangat pedih • Al Wahid (Maha Esa) • Syirik adalah dosa terbesar

۞ QS. 5:74 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 5:76 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 5:78 • Azab orang kafir

۞ QS. 5:80 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:81 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:82 • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam

۞ QS. 5:83 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:84 Ar Rabb (Tuhan) • Keutamaan iman

۞ QS. 5:85 • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman

۞ QS. 5:86 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:89 • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 5:90 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Meramal nasib mengakibatkan kekufuran • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 5:91 • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah • Menjaga diri dari syetan • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 5:92 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Peringatan Allah terhadap hambaNya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:93 • Keistimewaan Islam • Ajakan masuk Islam • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbuatan dan niat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 5:94 • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:95 Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Muntaqim (Maha Pembalas dosa) • Toleransi IslamIslam menghapus dosa masa lalu

۞ QS. 5:96 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 5:97 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 5:98 • Siksaan Allah sangat pedih • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:99 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 5:101 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 5:102 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:103 • Mendustai Allah

۞ QS. 5:104 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:105 • Sikap orang mukmin terhadap fitnah • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 5:106 • Wasiat mayit

۞ QS. 5:108 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:109 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib) • Kebenaran hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan

۞ QS. 5:110 • Peranan dan tugas Jibril

۞ QS. 5:111 • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 5:112 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:114 • Meminta dengan menyebut nama Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki)

۞ QS. 5:115 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:116 • Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib)

۞ QS. 5:117 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan) • Al Raqib (Maha Pengawas) • Al Syahid (Maha Menyaksikan) •

۞ QS. 5:118 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 5:119 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 5:120 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) •

Ayat Pilihan

Bila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari & diperolok-olokkan (oleh orang kafir), maka jangan kamu duduk beserta mereka sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain.
Karena (kalau kamu berbuat demikian), tentu kamu serupa dengan mereka
QS. An-Nisa’ [4]: 140

Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati,
maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.
QS. Al-Baqarah [2]: 158

Janganlah kamu makan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan bathil & jangan membawa (urusan) harta itu kepada hakim,
supaya kamu dapat memakan harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui
QS. Al-Baqarah [2]: 188

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
QS. Qaf [50]: 18

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Sifat adil Allah berlaku untuk ...

Benar! Kurang tepat!

Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al 'Adl, yang berarti bahwa Allah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #2
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #2 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #2 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #17

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah …Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah …اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- …وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah …Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah …

Pendidikan Agama Islam #20

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan. Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna …Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu … Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut … Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu …

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada … Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama …

Kamus

Ka’ab bin al-Asyraf

Siapa itu Ka’ab bin al-Asyraf? Ka’ab bin Al Asyraf adalah salah seorang pemimpin Yahudi yang memusuhi Nabi Muhammad dan kaum Muslimin. Dulunya ia pernah menjalin suatu perjanjian bertetang...

Qiyas

Apa itu Qiyas? Qiyas adalah menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum atau suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, ...

menapaktilasi

Apa itu menapaktilasi? me.na.pak.ti.lasi menyusuri jejak yang pernah dilalui bekas pejuang atau para wali; di samping pergelaran kebudayaan Islam, kami pun ingin mencoba menapaktilasi jejak-jejak sej...