Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 5


اَلۡیَوۡمَ اُحِلَّ لَکُمُ الطَّیِّبٰتُ ؕ وَ طَعَامُ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ حِلٌّ لَّکُمۡ ۪ وَ طَعَامُکُمۡ حِلٌّ لَّہُمۡ ۫ وَ الۡمُحۡصَنٰتُ مِنَ الۡمُؤۡمِنٰتِ وَ الۡمُحۡصَنٰتُ مِنَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ اِذَاۤ اٰتَیۡتُمُوۡہُنَّ اُجُوۡرَہُنَّ مُحۡصِنِیۡنَ غَیۡرَ مُسٰفِحِیۡنَ وَ لَا مُتَّخِذِیۡۤ اَخۡدَانٍ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالۡاِیۡمَانِ فَقَدۡ حَبِطَ عَمَلُہٗ ۫ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ
Al-yauma uhilla lakumuth-thai-yibaatu watha’aamul-ladziina uutuul kitaaba hillun lakum watha’aamukum hillun lahum wal muhshanaatu minal mu’minaati wal muhshanaatu minal-ladziina uutuul kitaaba min qablikum idzaa aataitumuuhunna ujuurahunna muhshiniina ghaira musaafihiina walaa muttakhidzii akhdaanin waman yakfur bil-iimaani faqad habitha ‘amaluhu wahuwa fii-aakhirati minal khaasiriin(a);

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik.
Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.
(Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.
―QS. 5:5
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
5:5, 5 5, 5-5, Al Maa’idah 5, AlMaaidah 5, Al Maidah 5, AlMaidah 5, Al-Ma’idah 5
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 5. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan tiga macam hal yang halal bagi orang mukmin, yaitu :

1.
Makanan yang baik-baik, seperti dimaksud pada ayat keempat.
Kemudian disebutkan kembali pada ayat ini untuk menguatkan arti baik itu dan menerangkan bahwa diperbolehkannya memakan makanan yang baik-baik itu tidak berubah.

2.
Makanan Ahli Kitab.
Makanan di sini menurut jumhur ulama ialah sembelihan orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka pada waktu itu mempunyai kepercayaan bahwa haram hukumnya memakan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.
Selama mereka masih mempunyai kepercayaan seperti itu, maka sembelihan mereka tetap halal.
Sedangkan makanan lainnya seperti buah-buahan, dan sebagainya dikembalikan saja hukumnya kepada jenis yang pertama yaitu tayyibat, apabila termasuk golongan makanan yang baik-baik boleh dimakan, kalau tidak (khabais), haram dimakan.
Adapun sembelihan orang kafir yang bukan Ahli Kitab haram dimakan.

3.
Mengawini perempuan-perempuan merdeka (bukan budak) dan perempuan-perempuan mukmin dan perempuan Ahli Kitab hukumnya halal.

Menurut sebagian mufasir yang dimaksud al-muhsanat ialah perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan dirinya.
Laki-laki boleh mengawini perempuan-perempuan tersebut dengan kewajiban memberi nafkah, asalkan tidak ada maksud-maksud lain yang terkandung dalam hati seperti mengambil mereka untuk berzina dan tidak pula untuk dijadikan gundik.
Ringkasnya laki-laki mukmin boleh mengawini perempuan-perempuan Ahli Kitab dengan syarat-syarat seperti tersebut di atas.
Tetapi perempuan-perempuan Islam tidak boleh kawin dengan laki-laki Ahli Kitab apalagi dengan laki-laki kafir yang bukan Ahlil Kitab.

Kemudian akhir ayat kelima ini memperingatkan, bahwa barang siapa yang kafir sesudah beriman, maka semua amal baik yang pernah dikerjakannya akan hapus semuanya dan di akhirat termasuk orang yang rugi.

Al Maa'idah (5) ayat 5 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 5 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 5 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pada hari ini–hari diturunkannya ayat–Allah telah menghalalkan segala yang baik menurut selera yang sehat, makanan dan sembelihan Ahl al-Kitab selama tidak ada ketentuan baru yang mengharamkannya.
Selain itu, Allah juga menghalalkan makanan kalian untuk mereka dan membolehkan kalian mengawini wanita-wanita yang menjaga kehormatannya di antara wanita-wanita Ahl al-Kitab yang beriman, bila kalian membayar maskawin mereka dengan maksud mengawininya, dan bukan untuk melegalkan hubungan yang tidak sah (zina), atau menjadikan mereka sebagai wanita simpanan.
Barangsiapa mengingkari agama, maka hilanglah pahala amal perbuatannya yang semula dikira sebagai usaha pendekatan diri kepada Allah.
Di akhirat kelak, ia akan termasuk orang-orang yang binasa.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik) artinya yang enak-enak (Dan makanan-makanan orang-orang yang diberi kitab) maksudnya sembelihan orang-orang Yahudi dan Nasrani (halal bagi kamu dan makananmu) yang kamu sajikan kepada mereka (halal pula bagi mereka.
Dan wanita-wanita yang merdeka di antara wanita-wanita mukmin serta wanita-wanita merdeka dari kalangan orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu) halal pula kamu kawini (apabila kamu telah membayar maskawin mereka) atau mahar (dengan maksud mengawini mereka) sehingga terpelihara kehormatan (bukan dengan maksud berzina) dengan mereka secara terang-terangan (dan bukan pula untuk mengambil mereka sebagai gundik) atau melakukan perzinaan dengan mereka secara sembunyi-sembunyi.
(Dan siapa yang kafir terhadap iman) artinya murtad (maka sungguh telah hapuslah amalnya) amal saleh sebelum itu hingga tidak dianggap diberi pahala (dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi) yakni jika ia meninggal dalam keadaan demikian itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di antara sempurnanya nikmat Allah kepada kalian wahai orang-orang yang beriman adalah bahwa Dia menghalalkan makanan yang baik-baik bagi kalian.
Adapun sembelihan orang-orang Yahudi dan Nasrani bila mereka menyembelihnya menurut syariat mereka adalah halal bagi kalian, dan sembelihan kalian juga halal bagi mereka.
Dihalalkan pula untuk kalian wahai orang-orang mukmin menikahi wanita-wanita muhsan, yaitu wanita-wanita merdeka yang beriman yang jauh dari zina.
Demikian pula halal menikahi wanita-wanita merdeka yang baik dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani bila kalian menunaikan mahar mereka kepada mereka, sementara kalian sendiri adalah orang-orang yang bersih dan jauh dari zina, dan tidak menyimpan kekasih-kekasih gelap serta kalian merasa aman dari pengaruh mereka.
Barangsiapa yang ingkar kepada syariat-syariat iman maka amalnya telah batal, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan hal-hal kotor yang diharamkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin, juga setelah menyebutkan hal-hal yang baik-baik yang dihalalkan untuk mereka, sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

pada hari ini dihalalkan bagi kalian yang baik-baik.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan hukum sembelihan dua Ahli Ki­tab.
Yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, melalui fir­man-Nya:

Dan makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu dihalalkan bagi kalian.

Ibnu Abbas, Abu Umamah, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Ikrimah, Ata, Al-Hasan, Mak-hul, Ibrahim An-Nakha’i, As-Saddi, dan Muqatil ibnu Hayyan mengatakan, yang dimaksud dengan makanan di sini adalah sembelihan mereka (orang-orang Ahli Kitab).

Masalah ini telah disepakati di kalangan para ulama, bahwa se­sungguhnya sembelihan Ahli Kitab itu halal bagi kaum muslim, kare­na mereka pun mengharamkan sembelihan yang diperuntukkan bukan selain Allah dan dalam sembelihan mereka tidak disebutkan kecuali hanya nama Allah, sekalipun mereka berkeyakinan terhadap Allah hal-hal yang Allah subhanahu wa ta’ala.
Mahasuci lagi Mahaagung dari apa yang mereka katakan.

Telah disebutkan di dalam kitab sahih, dari Abdullah ibnu Mugaffal yang menceritakan bahwa dia memenuhi timba dengan lemak pada hari Perang Khaibar, lalu lemak itu ia bawa sendiri seraya ber­kata, “Pada hari ini aku tidak akan memberi seorang pun lemak ini.” Lalu ia menoleh dan ternyata ada Nabi ﷺ yang memandangnya se­raya tersenyum.

Dari hadis ini ulama fiqih menyimpulkan, boleh mengambil ma­kanan dan sejenisnya yang diperlukan dari kumpulan ganimah sebe­lum dibagikan, tetapi sebatas yang diperlukan secara wajar.
Hal ini masalahnya jelas.

Tetapi ulama fiqih dari kalangan mazhab Hanafi, mazhab Syafii, dan mazhab Hambali menyimpulkan dalil dari hadis ini sebagai ban­tahan terhadap mazhab Maliki yang melarang memakan apa yang me­nurut keyakinan orang-orang Yahudi haram dari sembelihan mereka, seperti lemak dan lain-lainnya yang diharamkan atas mereka.
Mazhab Maliki mengharamkan kaum muslim memakannya dengan berdalilkan firman-Nya:

Dan makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian.

Mereka (mazhab Maliki) mengatakan bahwa lemak dan sejenisnya bukan termasuk makanan mereka (Ahli Kitab).
Sedangkan jumhur ulama membantah pendapat mereka (mazhab Maliki) dengan berdalilkan hadis di atas.
Akan tetapi, hal ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat masalahnya berkaitan dengan masalah ‘ain (barang), ka­rena barangkali lemak tersebut merupakan lemak dari bagian yang diyakini oleh mereka (Ahli Kitab) halal, seperti lemak yang ada pada bagian punggung dan usus serta lain-lainnya.

Dalil lain yang lebih baik daripada ini ialah sebuah hadis yang disebutkan di dalam kitab sahih, bahwa penduduk Khaibar mengirim­kan seekor kambing panggang kepada Rasulullah ﷺ, sedangkan mereka telah membubuhi racun pada kakinya.
Nabi ﷺ menyukai kaki kambing, maka Nabi ﷺ memakan sebagian darinya sekali suap.
Tetapi kaki kambing itu memberitahukan kepada Nabi ﷺ bahwa ia telah diracuni.
Maka Nabi ﷺ memuntahkannya kembali.
Tetapi tak urung hal tersebut mempunyai pengaruh pada gigi seri dan urat nadi jantung beliau.
Pada saat itu yang ikut makan bersama beliau adalah Bisyr ibnul Barra ibnu Ma’rur, tetapi ia tidak tertolong lagi dan meninggal dunia.
Maka wanita Yahudi yang membubuhkan racun itu dibunuh.
Ia bernama Zainab.

Segi pengambilan dalil dari hadis ini ialah bahwa Nabi Saw, dan orang yang menemaninya bertekad untuk memakan kiriman tersebut, tanpa bertanya apakah mereka membuang darinya hal-hal yang menu­rut keyakinan mereka diharamkan, berupa lemak atau tidak?

Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ dijamu oleh seorang Yahudi yang menyuguhkan makanan kepadanya berupa roti yang terbuat dari tepung jewawut dan lemak.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan bahwa pernah dibacakan kepada Al-Abbas ibnul Walid ibnu Mazyad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syu’aib, telah menceritakan kepadaku An-Nu’man ibnul Munzir, dari Mak-hul yang mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala.
me­nurunkan firman-Nya:

Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak di­sebut nama Allah ketika menyembelihnya.
(Al An’am:121)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
me-nasakh-nya karena belas kasihan kepada kaum muslim.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Pada hari ini dihalalkan bagi kalian yang baik-baik.
Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian.

Dengan demikian, ayat ini me-nasakh ayat tersebut dan makanan (sembelihan) orang-orang Ahli Kitab dihalalkan.
Apa yang dikatakan oleh Mak-hul ini masih perlu dipertimbangkan.
Karena sesungguhnya dibolehkan-Nya sembelihan Ahli Kitab bukan berarti memastikan bo­lehnya memakan sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah atas­nya, mengingat mereka (Ahli Kitab) selalu menyebut nama Allah atas sembelihan mereka, juga atas kurban-kurbannya, sedangkan mereka menganggap hal ini sebagai sesuatu yang ritual.
Karena itulah dila­rang memakan sembelihan selain mereka (Ahli Kitab) dari kalangan orang-orang musyrik dan orang-orang yang serupa dengan ahli musy­rik.
Mengingat ahli musyrik tidak menyebut nama Allah atas sem­belihan mereka, bahkan dalam memakan daging yang biasa mereka makan tidak bergantung sama sekali kepada hasil sembelihan.
Bahkan mereka biasa memakan bangkai, lain halnya dengan selain mereka dan orang-orang yang serupanya dari kalangan orang-orang Samirah dan Sabi-ah serta orang-orang yang mengakui dirinya memegang aga­ma Nabi Ibrahim, Nabi Syis, dan nabi-nabi lainnya, menurut salah sa­tu pendapat di antara dua pendapat yang dikatakan oleh para ulama.
Lain pula halnya dengan sembelihan orang-orang Nasrani Arab, se­perti Bani Taglab, Bani Tanukh, Bani Buhra, Bani Juzam, Bani Lukhm dan Bani Amilah, serta lain-lainnya yang serupa, sembelihan mereka tidak boleh dimakan, menurut jumhur ulama.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada ka­mi Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Ayyub, dari Muhammad ibnu Ubaidah yang menceritakan bahwa sahabat Ali r.a.
pernah mengatakan, “Janganlah kalian mema­kan sembelihan Bani Taglab, karena sesungguhnya mereka meme­gang agama Nasrani hanya kepada masalah meminum khamrnya saja.” Hal yang sama dikatakan oleh ulama Khalaf dan ulama Salaf yang bukan hanya seorang.

Sa’id ibnu Abu Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Sa’id ibnul Musayyab dan Al-Hasan, bahwa keduanya berpandangan mem­bolehkan memakan hasil sembelihan orang-orang Nasrani Bani Tag­lab.

Mengenai orang-orang Majusi, sekalipun dipungut jizyah dari mereka karena disamakan kedudukannya dengan Ahli Kitab, tetapi sesungguhnya hasil sembelihan mereka tidak boleh dimakan dan kaum wanita mereka tidak boleh dinikahi.
Lain halnya dengan pen­dapat Abu Saur Ibrahim ibnu Khalid Al-Kalbi, salah seorang ulama fiqih pengikut mazhab Imam Syafii dan Imam Ahmad ibnu Hambal.
Ketika Abu Saur mengatakan pendapatnya ini dan dikenal sebagai su­atu pendapat darinya, maka ulama fiqih mendebatnya, sehingga Imam Ahmad yang dijuluki dengan sebutan Abu Saur —juga sama dengan namanya— mengatakan sehubungan dengan masalah sembelihan ahli Majusi, seakan-akan Ibrahim ibnu Khalid berpegang kepada ke­umuman makna hadis yang diriwayatkan secara mursal dari Nabi ﷺ yang mengatakan:

Perlakukanlah mereka (orang-orang Majusi) sama dengan perlakuan terhadap Ahli Kitab.

Akan tetapi.
hadis dengan lafaz ini masih belum terbukti kekuatannya.
mengingat yang terdapat di dalam kitab Sahih Bukhari dari Abdur Rahman ibnu Auf hanya disebutkan seperti berikut:

Bahwa Rasulullah ﷺ memungut jizyah dari orang-orang Ma­jusi tanah Hajar.

Sekiranya kesahihan hadis ini dapat dipertanggungjawabkan, maka pengertian umumnya di-takhsis oleh pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

Dan makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian.

Mafhum mukhalafah dari ayat ini jelas menunjukkan bahwa makanan atau sembelihan selain Ahli Kitab dari kalangan pemeluk agama lain­nya tidak halal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

dan makanan kalian dihalalkan (pula) bagi mereka.

Artinya, dihalalkan bagi kalian memberi mereka makan dari hasil sembelihan kalian.
Hal ini bukan merupakan berita mengenai hukum untuk mereka, kecuali bila dipandang dari segi makna sebagai berita tentang apa yang pernah diperintahkan kepada mereka, yaitu harus memakan sembelihan yang disebutkan nama Allah atasnya, baik dari kalangan mereka sendiri ataupun dari kalangan agama lain.

Akan tetapi, makna yang pertama lebih kuat, yang mengatakan bahwa kalian diperbolehkan memberi mereka makan dari hasil sem­belihan kalian, sebagaimana kalian pun boleh memakan hasil sembe­lihan mereka.
Hal ini termasuk ke dalam Bab ‘Timbal Balik dan Sa­ling Memberi”.
Perihalnya sama dengan masalah ketika Nabi ﷺ memberikan pakaiannya kepada Abdullah ibnu Ubai ibnu Abu Salul (seorang munafik militan) ketika mati, lalu baju Nabi ﷺ dipakai­kan kepadanya sebagai kain kafannya.
Mereka mengatakan bahwa da­hulu Abu Salul pernah memberi pakaian kepada Al-Abbas (paman Nabi ﷺ) ketika tiba di Madinah dengan pakaiannya, maka Nabi ﷺ membalas kebaikannya itu dengan kebaikan lagi.

Mengenai sebuah hadis yang disebutkan di dalamnya hal berikut, yaitu:

Janganlah kamu berteman kecuali orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.

Maka makna hadis ini diinterpretasikan sebagai anjuran dan sesuatu yang disunatkan, bukan perintah wajib.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan (dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehor­matannya di antara wanita-wanita yang beriman.

Yakni dihalalkan untuk kalian menikahi wanita-wanita merdeka yang memelihara kehormatannya dari kalangan wanita-wanita yang ber­iman.
Ayat ini merupakan pendahuluan bagi firman Selanjutnya, yaitu firman-Nya:

…dan wanita-wanita yang menjaga kehormatannya di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian.

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan al-muhsanat ialah wanita-wanita merdeka, bukan budak belian.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Mujahid, bahwa sesung­guhnya yang dimaksud Mujahid dengan istilah muhsanat adalah wanita-wanita merdeka.
Dengan demikian, berarti barangkali yang di­maksud oleh Ibnu Jarir ialah apa yang dia riwayatkan darinya (Muja­hid).
Dapat pula diinterpretasikan bahwa yang dimaksud dengan al-hurrah (wanita merdeka) ialah wanita yang menjaga kehormatannya, seperti yang disebutkan di dalam riwayat lainnya yang bersumber dari Mujahid.
Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama dan pendapat yang lebih mendekati kebenaran.
Karena dengan pengertian demikian akan terhindarlah gabungan pengertian yang menunjukkan kepada wanita zimmi, sedangkan dia tidak memelihara kehormatannya.
Se­hingga keadaannya rusak sama sekali dan mengawininya berarti akan terjadi hal seperti yang disebut di dalam peribahasa “dapat kurma buruk dan takaran yang rusak”.

Menurut makna lahiriah ayat, makna yang dimaksud dengan muhsanat ialah wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari per­buatan zina.
Sama halnya dengan makna yang terdapat pada ayat lain, yaitu firman-Nya:

sedangkan mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri, bu­kan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki se­bagai piaraannya.
(An Nisaa:25)

Kemudian para ulama dan ahli tafsir berselisih pendapat mengenai makna yang dimaksud dengan firman-Nya:
…dan wanita-wanita yang menjaga kehormatannya di antara orang-orang yang diberi Al-Kltab sebelum kalian.

Apakah yang dimaksud adalah mencakup semua wanita Ahli Kitab yang memelihara kehormatannya, baik yang merdeka ataupun budak?
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari ka­langan ulama Salaf yang menafsirkan muhsanah dengan pengertian wanita yang memelihara kehormatannya.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan Ahli Kitab adalah wanita-wanita israiliyat, seperti yang dikatakan oleh mazhab Syafii.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, yang dimaksud dengan wanita Ahli Kitab yang muhsanah ialah yang zimmi, bukan yang harbi, karena berdasarkan firman-Nya yang mengatakan:

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan ti­dak (pula) kepada hari kemudian.
(At Taubah:29), hingga akhir ayat.

Sesungguhnya Ibnu Umar berpendapat, tidak boleh mengawini wanita Nasrani, dan ia mengatakan, “Aku tidak mengetahui suatu kemusyrik­an yang lebih besar daripada wanita yang mengatakan bahwa Tuhan­nya adalah Isa.
Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:

‘Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman’ (Al Baqarah:221).”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayah­ku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Hatim ibnu Su­laiman Al-Muaddib, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Malik (yakni Al-Muzanni), telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Sami’, dari Abu Malik Al-Gifari, dari Ibnu Abbas yang menga­takan bahwa diturunkan firman-Nya: Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
(Al Baqarah:221) Maka orang-orang menahan dirinya dari mereka hingga turunlah ayat berikutnya dalam surat Al-Maidah, yaitu firman-Nya: dam wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian.
(Al Maidah:5) Maka orang-orang mulai menikahi wanita-wanita Ahli Kitab.

Sesung­guhnya ada segolongan di antara sahabat yang menikahi wanita-wani­ta Nasrani dan mereka memandangnya diperbolehkan karena ber­dasarkan firman-Nya:

…dan wanita-wanita yang memelihara kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian

Mereka menilai ayat ini mentakhsis pengertian yang terkandung di dalam ayat surat Al-Baqarah, yaitu firman-Nya: Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
(Al Baqarah:221) sekalipun bila dikatakan bahwa wanita kitabiyah termasuk ke dalam pengertian umum makna yang dikandungnya, bila tidak, berarti tidak ada pertentangan antara ayat ini dan ayat yang sebelumnya.

Orang-orang Ahli Kitab disebutkan secara terpisah dari orang-orang musyrik dalam berbagai tempat, seperti yang disebutkan di da­lam firman-Nya:

Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agama­nya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.
(Al-Bayyinah: 1)

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kalian (mau) ma­suk Islam?”
Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka te­lah mendapat petunjuk.
(Ali Imran:20), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…bila kalian telah membayar maskawin mereka.

Yaitu maskawin mereka.
Dengan kata lain, sebagaimana mereka menjaga kehormatannya, maka berikanlah kepada mereka maskawin­nya dengan senang hati.

Jabir ibnu Abdullah, Amir Asy-Sya’bi, Ibrahim An-Nakha’i, dan Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa seorang lelaki bila menikahi seorang wanita, lalu wanita itu berbuat zina sebelum digaulinya, maka keduanya harus dipisahkan, dan pihak wanita diharuskan mengem­balikan maskawin yang telah diberikan oleh pihak laki-laki kepada pi­hak laki-laki.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir, dari mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.

Sebagaimana disyaratkan ihsan, yakni menjaga diri dari perbuatan zi­na pada pihak wanita, hal yang sama disyaratkan pula pada pihak la­ki-laki, yaitu hendaknya pihak laki-laki pun menjaga kehormatannya dari perbuatan zina.
Karena itulah disebutkan ‘tidak dengan maksud berzina’ dengan kata musafihina yang artinya laki-laki tukang zina yang tidak pernah kapok melakukan maksiat dan tidak pernah meno­lak terhadap wanita yang datang kepadanya.

Tidak pula menjadikannya gundik-gundik, yakni para kekasih hidup bagaikan suami istri tanpa ikatan nikah.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan di dalam surat An-Nisa.
Karena itulah Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahuliah berpendapat bahwa tidak sah menikahi wanita pelacur sebelum ia bertobat dari perbuatannya.
Bilamana wanita itu masih tetap sebagai pelacur, tidak sah dikawini oleh lelaki yang menjaga kehormatannya.
Dikatakan tidak sah pula menurut Imam Ahmad bila seorang lelaki pezina melakukan akad ni­kah kepada seorang wanita yang memelihara kehormatannya, sebe­lum lelaki yang bersangkutan bertobat dan menghentikan perbuatan zinanya, karena berdasarkan ayat ini.
Juga berdasarkan sebuah hadis yang mengatakan:

Lelaki pezina yang telah dihukum dera tidak boleh kawin kecuali dengan orang (wanita) yang semisal dengannya (yakni pezina lagi).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, dari Qatadah, dari Al-Ha­san yang telah menceritakan bahwa Umar ibnul Khattab r.a.
pernah mengatakan, “Sesungguhnya aku berniat tidak akan membiarkan se­seorang yang pernah berbuat zina dalam Islam menikahi wanita yang menjaga kehormatannya.” Maka Ubay ibnu Ka’b r.a.
berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mu’minin, syirik lebih besar (dosanya) daripada perbuatan itu, tetapi terkadang diterima bila ia bertobat.”

Hal ini akan dibahas secara rinci pada tafsir firman-Nya:

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzi­na atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharam­kan atas orang-orang yang mukmin.
(An Nuur:3)

Karena itulah dalam surat ini Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hu­kum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya, dan ia di hari ki­amat termasuk orang-orang merugi

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 5

AKHDAAN
أَخْدَان

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya adalah al khidn dan al khadin yang bermakna sahabat atau kawan. Ia juga bermakna siapa yang menjadikan kamu teman atau sahabat sehingga ia bersamamu pada setiap perkara zahir maupun batin. Lafaz ini digunakan bagi mudzakkar dan muannats”

Khidn al-jariyah bermakna menjadikan hamba sahaya teman bercakap. Pada masa jahiliah, mereka tidak melarang menjadikan hamba sahaya sebagai sahabat atau teman bercakap dan lain-lain. Kemudian Islam datang dan menghapuskannya.

Lafaz akhdaan disebut dua kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah
-An Nisaa (4), ayat 25
-Al Maa’idah (5), ayat 5.

Ibn Katsir memberikan makna akhdaan dengan akhillaa’, yaitu sahabat-sahabat karib, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Mujahid, Asy Sya’bi, Ad-Dahhak, ‘Ata’ Al Khurasani, Yahya bin Abi Katsir, Muqatil bin Hayyan dan As Suddi, mereka berpendapat akhdaan bermakna ahkillaa’, yaitu sahabat­ sahabat karib. Sedangkan pendapat Al Hasan Al Basri, akhdaan ialah as-sadiq, yaitu teman.

Muhammad Rasyid Rida menyatakan, zina pada masa jahiliah terbahagi kepada dua makna.

Pertama, ia dilakukan secara sembunyi dan khusus. Zina tersembunyi dan khusus adalah di mana ada teman bagi seorang perempuan berzina dengannya secara sembunyi-sembunyi dan dia tidak menyerahkan dirinya kepada setiap individu.

Kedua, adalah zina umum dan terang-terangan yaitu pelacur yang menjual tubuhnya bagi setiap lelaki, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibn ‘Abbas” yaitu perempuan-perempuan jalang atau pelacur. Oleh karena itu, Sa’id Hawwa menafsirkan ayat muttakhidzii akhdaan dengan penzina-penzina secara tersembunyi.

Kesimpulannya, makna lafaz akhdaan ialah sahabat atau teman bagi wanita-wanita atau penzina-penzina.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:39-40

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 5 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 5



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.5
Rating Pembaca: 4.3 (9 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku