Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 49


وَ اَنِ احۡکُمۡ بَیۡنَہُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ وَ لَا تَتَّبِعۡ اَہۡوَآءَہُمۡ وَ احۡذَرۡہُمۡ اَنۡ یَّفۡتِنُوۡکَ عَنۡۢ بَعۡضِ مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ ؕ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاعۡلَمۡ اَنَّمَا یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّصِیۡبَہُمۡ بِبَعۡضِ ذُنُوۡبِہِمۡ ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ لَفٰسِقُوۡنَ
Wa-aniihkum bainahum bimaa anzalallahu walaa tattabi’ ahwaa-ahum waahdzarhum an yaftinuuka ‘an ba’dhi maa anzalallahu ilaika fa-in tawallau faa’lam annamaa yuriidullahu an yushiibahum biba’dhi dzunuubihim wa-inna katsiiran minannaasi lafaasiquun(a);

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.
Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.
Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka.
Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
―QS. 5:49
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Keutamaan kalam Allah ▪ Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya
5:49, 5 49, 5-49, Al Maa’idah 49, AlMaaidah 49, Al Maidah 49, AlMaidah 49, Al-Ma’idah 49
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa'idah (5) : 49. Oleh Kementrian Agama RI

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Al Baihaqy dari Ibnu Abbas ia berkata, berkata, "Kaab bin Asad, Abdullah bin Suriya, Wisyas bin Qais dari orang-orang Yahudi, 'Mari kita pergi kepada Muhammad, mudah-mudahan kita dapat menyesatkannya'."
Maka pergilah mereka dan berkata kepada Rasulullah ﷺ:

Hai Muhammad! Kamu telah mengetahui bahwa kami ini adalah Pendeta orang-orang Yahudi para pembesar dan pemimpinnya.
Kalau kami mengikuti kamu orang-orang Yahudi pasti mengikuti kami dan tidak ada di antara mereka yang berani menentang.
Di antara kami dan kaum kami ada sengketa Persengketaan itu akan kami bawa kepadamu maka hendaklah engkau memenangkan kami terhadap mereka dan kami akan beriman dan akan membenarkan kamu.
Maka Rasulullah enggan (mengikuti kehendak mereka) itu dan Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat tentang perkara mereka".

Nabi ﷺ.
menolak permintaan mereka itu, maka turunlah ayat ini.
Sekali lagi Allah subhanahu wa ta'ala menekankan agar junjungan kita Nabi Besar Muhammad ﷺ.
memutuskan perkara orang-orang Yahudi yang dimajukan kepadanya sesuai dengan apa yang telah diturunkan Allah subhanahu wa ta'ala dan jangan sekali-sekali menuruti keinginan dan kehendak hawa nafsu mereka.

Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan kepada Nabi ﷺ.
supaya berhati-hati menghadapi siasat mereka, jangan sampai terjebak oleh tipu daya mereka yang ingin menyelewengkan beliau dari sebahagian hukum yang telah diturunkan dan digariskan Allah kepadanya.

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta'ala menambahkan bahwa kalau mereka masih juga berpaling dan tidak mau menerima keputusan yang berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah subhanahu wa ta'ala karena memang maksud mereka meminta kepada Nabi untuk memutuskan perkaranya sekadar untuk memancing dan menjebaknya, kalau-kalau bisa berpaling dari hukum Allah, ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah karena Allah subhanahu wa ta'ala menghendaki akan menimpakan azab kepada mereka di dunia, akibat dosa-dosanya dan akan disempurnakan nanti di akhirat, siksaan yang amat pedih.

Memang kebanyakan manusia adalah fasik, bersifat seperti orang-orang kafir, senang meninggalkan hukum-hukum Allah dan syariat yang telah dipilihkan untuk mereka.

Al Maa'idah (5) ayat 49 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 49 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 49 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami telah memerintahkan kepadamu, wahai Rasulullah, untuk memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.
Jangan kau ikuti hawa nafsu mereka dalam menentukan keputusan.
Berhati-hatilah, supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepadamu.
Jika mereka barpaling dari hukum Allah dan menginginkan yang lainnya, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan menimpakan kerusakan dalam urusan-urusan mereka di dunia, karena jiwa mereka yang rusak oleh sebab dosa-dosa yang mereka perbuat dengan melanggar hukum dan syariat Allah.
Sedang di akhirat kelak, Allah akan memberikan ganjaran atas segala perbuatan mereka.
[1] Sesungguhnya kebanyakan manusia menentang hukum-hukum Allah.

[1] Ayat ini menunjukkan bahwa Al Quran menetapkan asas teritorial hukum, dalam artian bahwa syariat Islam diterapkan pada penduduk di wilayah-wilayah Islam.
Belakangan asas ini baru dikenal dalam hukum modern.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan hendaklah kamu putuskan perkara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu mereka dan berhati-hatilah terhadap mereka) agar (supaya mereka) tidak (memfitnahmu) artinya menyesatkanmu (dari sebagian yang telah diturunkan Allah kepadamu.
Jika mereka berpaling) dari hukum yang diturunkan dan bermaksud mengubahnya (maka ketahuilah bahwasanya Allah menghendaki akan menimpakan kepada mereka musibah) hukuman di dunia (disebabkan sebagian dosa-dosa mereka) yang mereka perbuat di antaranya berpaling itu.
Dan akan membalas semua dosa itu di akhirat kelak.
(Dan sesungguhnya banyak di antara manusia itu orang-orang yang fasik.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tetapkanlah hukum wahai Rasul di antara orang-orang Yahudi dengan apa yang Allah turunkan di dalam al-Qur an, dan jangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak berkenan berhakim kepadamu.
Berhati-hatilah dari mereka sehingga mereka tidak menghalang-halangimu dari sebagian apa yang diturunkan oleh Allah kepadamu sehingga kamu tidak mengamalkannya.
Bila orang-orang itu berpaling dari hukum yang kamu tetapkan, maka ketahuilah bahwa Allah ingin memalingkan mereka dari hidayah disebabkan oleh dosa-dosa yang mereka lakukan sebelumnya.
Sesungguhnya kebanyakan manusia menyimpang dari ketaatan kepada Rabb mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.,

...maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.

Ayat ini mengukuhkan apa yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu perintah yang menganjurkan hal tersebut dan larangan berbuat kebalikan­nya.

Yakni waspadalah terhadap musuh orang-orang Yahudi itu, jangan biarkan mereka memalsukan perkara yang hak melalui berbagai macam perkara yang mereka ajukan kepadamu, janganlah kamu teperdaya oleh mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang pendusta, kafir lagi penghianat.

Jika mereka berpaling.

Yaitu berpaling dari perkara hak yang telah kamu putuskan di antara mereka, lalu mereka menentang syariat Allah.

...maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka.

Yakni ketahuilah bahwa hal itu telah direncanakan oleh takdir Allah dan kebijaksanaan-Nya terhadap mereka, yaitu Dia hendak memalingkan mereka dari jalan hidayah disebabkan dosa-dosa mereka yang terdahulu yang berakibat kesesatan dan pembangkangan mereka.

Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
(Al Maidah:49)

Yaitu sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar keluar dari ketaatan kepada Tuhan mereka dan menentang perkara yang hak serta berpaling darinya.
Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu Firman-Nya:

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.
(Yusuf:103)

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
(Al An'am:116), hingga akhir ayat.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad maula Zaid ibnu Sabit, telah menceritakan kepadaku Sa'id ibnu Jubair atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Ka'b ibnu Asad, Ibnu Saluba, Abdullah ibnu Suria, dan Syas ibnu Qais, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Marilah kita berangkat kepada Muhammad, barangkali saja kita dapat memalingkan dia dari agama­nya." Lalu mereka datang kepada Nabi Muhammad dan berkata, "Hai Muhammad, sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa kami ada­lah rahib-rahib Yahudi, orang-orang terhormat, dan pemuka-pemuka mereka.
Dan sesungguhnya jika kami mengikutimu, niscaya orang-orang Yahudi akan mengikutimu dan tidak akan menentang kami.
Seka­rang telah terjadi suatu perselisihan antara kami dan kaum kami, maka kami serahkan keputusan kami dan mereka kepadamu, dan engkau putuskan untuk kemenangan kami atas mereka, lalu kami mau beriman kepadamu dan membenarkanmu." Tetapi Rasulullah ﷺ menolak tawaran itu, dan Allah subhanahu wa ta'ala menu­runkan firman-Nya berkenaan dengan peristiwa mereka itu, yakni firman-Nya: dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.
Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepadamu.
(Al Maidah:49) sampai dengan firman-Nya: bagi orang-orang yang yakin.
(Al Maidah:50)

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Maa'idah (5) Ayat 49

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Ka’b bin Usaid mengajak ‘Abdullah bin Shuriya dan Syas bin Qais pergi menghadap Nabi Muhammad untuk mencoba memalingkan beliau dari agamanya dengan berkata: “Hai Muhammad.
Engkau tahu bahwa kami pendeta-pendeta Yahudi, pembesar dan tokoh mereka, sedang mereka tidak akan menyalahi kehendak kami.
Kebetulan antara kami dengan mereka terdapat percekcokan.
Kami mengharapkan agar engkau mengadilinya dan memenangkan kami dalam perkara ini.
Dengan begiitu kami akan beriman kepadamu.” Nabi ﷺ menolak permintaan mereka, dan turunlah ayat tersebut di atas (al-Maa-idah: 49-50) yang mengingatkan untuk tetap bepegang pada hukum Allah dan berhati-hati terhadap kaum Yahudi.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 49

AHWAA
أَهْوَآء

Lafaz ini adalah jamak dari al hawa yang berarti kerinduan (al-'isyq) dan kemauan baik itu dalam kebaikan ataupun kejahatan, kemauan diri dan kecenderungannya kepada apa yang mengasyikkannya. Ia juga bermakna kasih sayang dan kecenderungan diri kepada syahwat. Dikatakan seperti itu bagi jiwa atau diri yang cenderung kepada syahwat sebagaimana Allah menyatakan, walaa tat tabi'ul hawaa (Dan janganlah engkau mengikuti hawa [kecenderungan diri kepada syahwat]).

Oleh karena itu, seseorang yang disebut mengikut hawanya berarti mengikut keaiban atau kehinaannya. Seseorang ahlal ahwa' dikatakan sebagai orang yang sesat dari jalan yang patut diteladani atau ia termasuk ahli bidaah. Dan orang seperti itu dicela Allah

Lafaz ahwaa' disebut sebanyak 17 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah
-Al Baqarah (2), ayat 120, 145;
-Al Maa'idah (5), ayat 48, 49, 77;
-Al An'aam (6), ayat 56, 119, 150;
-Ar Ra'd (13), ayat 37;
-Al Mu'minuun (23), ayat 71;
-Al­ Qashash (28), ayat 50;
-Ar Rum (30), ayat 29;
-Asy Syuura (42), ayat 15;
-Al Jatsiyah (45), ayat 18;
-Muhammad (47), ayat 14, 16;
-Al Qamar (54), ayat 3.

Al Qurtubi mengatakan lafaz ahwaa', bentuk jamak dari al hawa, apabila disandarkan kepada individu yang beragama memiliki maksud nafsu atau syahwatnya. Oleh karena itu, beliau menafsirkan al hawa dalam surah Muhammad, ayat 14 dengan isytaha (kemahuan mereka atau hawa nafsu).

Al­ Fayruz Abadi berkata,
penggunaan lafaz jamak ahwaa' di dalam Al Qur'an bertujuan mengingatkan setiap individu memiliki kemauan yang berbeda dengan kemauan yang lain. Namun, kemauan setiap individu itu tidak ada penghujungnya. Apabila nabi mengikuti kemahuan mereka, natijahnya adalah kesesatan dan keraguan.

Kesimpulannya, al ahwaa bermakna ke­mauan dan hawa nafsu yang membawa kepada kesesatan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:33-34

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa'

Surat ini dinamakan "Al Maa-idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi 'Isa 'alaihis salam meminta kepada Nabi 'Isa 'alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi 'Isa 'alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi'ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi 'Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu'min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka'bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 49 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 49



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah 5
Nama Surah Al Maa'idah
Arab المائدة
Arti Jamuan (hidangan makanan)
Nama lain Al-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 112
Juz Juz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 120
Jumlah kata 2842
Jumlah huruf 12207
Surah sebelumnya Surah An-Nisa'
Surah selanjutnya Surah Al-An'am
4.7
Rating Pembaca: 4.7 (11 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku